Bagaimana Rasulullah SAW Menderita Sakit Hingga Wafat?

Dialog Seri 10: 81

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW setelah kembali dari perang Tabuk?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW dan pasukannya kembali ke Madinah dari perang Tabuk. Ketika mendekati kota Madinah, Rasulullah SAW lalu menjelaskan kepada para sahabat beliau sebagai berikut:

 

Dari Abu Khumaid, katanya: Kami telah menghadap ke­pada Rasulullah SAW dari perang Tabuk. Sehingga pada waktu sudah dekat dengan kota Madinah, Rasulullah SAW bersabda: Tanah ini adalah tanah yang baik dan ini adalah gunung Uhud dimana ia telah menyintai kami dan kami juga menyintainya.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW kembali dari Perang Tabuk dengan unta gemuk dari Madinah. Kemudian Rasulul­lah SAW bersabda: Bahwa di Madinah ada beberapa kaum. Kalian tidak berjalan dengan satu perjalanan. Dan kalian tidak dapat melewati sebuah jurang kecuali mereka berada bersama kalian. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, mereka berada di Madinah? Rasulullah SAW menjawab: Mereka berada di Madinah, alasan yang telah mencegah mereka.” (HR Bukhari)

 

Kaum yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW di atas yaitu orang-orang munafik yang tidak mau ikut berperang bersama beliau ke Tabuk. Rasulullah SAW dan pasukannya sampai di kota Madinah seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Saib, ia berkata: Saya ingat bahwasanya saya keluar bersarna anakanak kecil ke Tsaniyatul Wada yaitu tempat kedatangan Rasulullah SAW dari perang Tabuk, kami berjurnpa Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW setelah di Madinah?”

 

Mudariszi: “Setelah beberapa hari di Madinah, Rasulullah SAW menderita sakit, itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Zuhri, ia berkata: Urwah berkata: Aisyah berkata: “Rasulullah SAW berada dalam keadaan sakit dimana beliau meninggal dunia dalam sakit­nya itu.” Beliau berkata: Hai Aisyah, saya tidak henti-hentinya menemui tidak enaknya makanan yang telah saya makan di tanah Khaibar. Ini waktu saya menemui keelokan saya rasa panas yang begini.” (HR Bukhari)

 

Rasa tidak enak makan Rasulullah SAW itu akibat dari beliau pernah makan daging kambing yang diberi racun ketika beliau berperang menaklukkan Khaibar. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika Khaibar telah ditakluk­kan, Rasulullah SAW diberi hadiah (daging) kambing yang diracun.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Siapa yang merawat Rasulullah SAW ketika beliau sakit?”

 

Mudariszi: “Ketika sakit Rasululah SAW bertambah buruk, beliau minta kepada isteri-isterinya untuk tinggal di rumah Aisyah dan dirawat olehnya. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW konon bertanya pada sakit yang menyebabkan beliau meninggal, sabdanya: Dimana saya besok, dimana saya besok, beliau memaksudkan hari gilirannya Aisyah, lalu istri-istrinya memberi izin kepada beliau untuk menempat dimana beliau kehendaki, sehingga akhirnya beliau berada di rumah Aisyah sam­pai beliau meninggal di sisinya. (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Syihab, katanya: Saya mendapatkan berita dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Masud bahwasanya Aisyah isteri Rasulullah SAW telah berkata: Ketika sakit Rasulullah SAW telah sampai pada puncaknya, maka beliau minta izin kepada isteri-isterinya untuk menjalani sakitnya di rumahku, lantas mereka memberi izin kepada beliau, lalu beliau keluar di dampingi dua orang laki-laki yang mengapitnya berjalan di atas tanah di antara Abbas bin Abdul Muththalib dan antara lelaki yang lain.” Ubaidillah berkata: Lantas saya khabarkan kepada Abdullah sesuatu yang telah dikatakan oleh Aisyah, lantas Abdullah bin Abbas berkata kepadaku: Apakah engkau tahu siapa laki-laki lain yang tidak disebutkan oleh Aisyah itu? Saya menjawab: Tidak tahu. Ibnu Abbas berkata: Dia adalah Ali.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berobat ketika sakit?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menolak untuk berobat, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, katanya: Kami mengobati Rasulullah SAW dalam sakitnya, maka beliau mengisyaratkan kepada kami: Janganlah kalian mengobatiku.” Lalu kami berkata: Tidak sukanya orang yang sakit dengan obat.” Ketika beliau sadar, beliau bersabda: Bukankah aku melarang kamu dari mengobatiku? Kami berkata: Tidak sukanya orang yang sakit dengan obat.” Lalu beliau bersabda: “Seseorang di rumahnya ada obat dan aku melihatnya selain Abbas, sesungguhnya ia tidak menyaksikan padamu.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW tetap menjalankan shalat di mesjid ketika sakit?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW masih tetap mengimami shalat di mesjid sekalipun dalam keadaan sakit. Bahkan beliau juga berpidato, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Syihab, katanya: Saya mendapatkan berita dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Masud bahwasanya Aisyah isteri Rasulullah SAW bercerita bahwa Rasulullah SAW ketika masuk ke rumahku dan sakitnya semakin ber­tambah hebat, beliau berkata: Tuangkanlah air kepadaku dari tujuh qirbah (bejana air) yang mana seperdua tahil dari tujuh qirbah itu tidak dilepas tali pengikatnya barangkali saya bisa berjanji kepada orang banyak. Lalu kami mendudukkan beliau di tempat mandi Khafshah isteri Rasulullah SAW, kemudian hampir saja kami menuangkan air dari qirbah-qirbah itu se­hingga hampir saja beliau memberi isyarat kepada kami dengan tangannya bahwa mereka benar-benar telah melakukannya. Aisyah berkata: Kemudian beliau keluar menuju orang banyak, lantas beliau shalat bersamasama mereka lalu berpidato kepadanya.” (HR Bukhari)

 

Ketika keadaan Rasulullah SAW makin memburuk, beliau tidak lagi ke mesjid. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Ummul Fadhel binti Haris, katanya: Saya telah mende­ngar Rasulullah SAW pada waktu shalat Maghrib dimana beliau membaca surat Al Mursalat. Kemudian beliau shalat bersama kami sesudah shalat Maghrib sehingga Allah mencabut nyawa mereka.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW lalu menetapkan Abu Bakar sebagai imam shalat menggantikan beliau, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Syihab, katanya: Anas bin Malik bercerita kepada­ku bahwasanya orang-orang muslim ketika mereka melakukan shalat Shubuh pada hari Senin sedangkan Abu Bakar menjadi imamnya. Me­reka tidak terkejut kecuali Rasulullah SAW benar-benar telah membuka tabir kamarnya Aisyah, lantas beliau memandang mereka se­dangkan mereka berada dalam barisan-barisan shalat, kemudian beliau tersenyum sambil tertawa. Lalu Abu Bakar mundur untuk mencapai shaf (barisan yang berada di belakangnya), dan dia berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW hendak keluar melakukan shalat. Maka Anas berkata: Hampir saja orang-orang Islam terkecoh dalam shalatnya karena ung­kapan gembira yang tertuju kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW memberi isyarat kepada mereka dengan tangannya agar kalian menyem­purnakan shalat, kemudian beliau masuk ke kamar lalu menutup tabir.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW dikunjungi oleh keluarga, saudara dan sahabat beliau ketika sakit?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW dikunjungi oleh puterinya yaitu Fatimah, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas, katanya: Ketika Rasulullah SAW sakitnya sudah keras (kritis) maka beliau jatuh pingsan. Lalu Fatimah berkata: Aduh, sulitnya ayahku? Maka beliau berkata kepadanya: Sudah tidak ada lagi kesulitan lagi bagi Ayahmu setelah hari ini.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya: “Rasulullah SAW memanggil Fatimah pa­da waktu sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia, lantas beliau membisikkan sesuatu kepadanya lantas Fatimah menangis, kemudian be­liau membisikkan sesuatu kepadanya lantas dia tertawa, lalu kami ber­tanya tentang itu, lantas Fatimah menjawab: “Rasulullah SAW berbisik kepadaku bahwa beliau akan meninggal dunia dalam sakit yang ia derita seka­rang, lalu saya menangis, kemudian beliau berbisik kepadaku, lalu beliau berikan khabar aku bahwa saya adalah keluarga yang pertama kali mengikutinya, lantas saya tertawa.” (HR Bukhari)

 

Kerabat Rasulullah juga mengunjungi beliau seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Ibnu Abbas, bahwasannya Ali bin Abi Thalib ke­luar dari sisi Rasulullah SAW dalam sakit yang menyebabkan beliau wa­fat. Orang-orang berkata: Wahai Ayah Hasan, bagaimana Rasulullah SAW masuk waktu pagi? Ia berkata: Beliau masuk waktu pagi Alhamdulillah dalam keadaan sembuh.” Lalu Abbas bin Abdul Muththalib mengambil (memegang) tangannya dan berkata kepadanya: Demi Allah, kamu sesudah tiga hari adalah hamba tongkat, dan sesungguhnya saya demi Allah sungguh melihat Rasulullah SAW bakal meninggal dunia dari sakitnya ini, sesungguhnya saya faham benar dengan wajah-wajahnya ke­turunan Abdul Muththalib ketika menjelang mati. Pergilah bersama kami kepada Rasulullah SAW lantas kita tanyakan kepadanya: Ada pada siapa urusan ini, jika ada pada kami, maka kami bisa memaklumi hal itu dan ji­ka ada pada selain kita, maka kita juga bisa mengetahuinya, lalu beliau berwasiat kepada kami.” Ali menjawab: Demi Allah, sesungguhnya jika kita menanyakannya kepada Rasulullah SAW, maka beliau enggan kepada kami niscaya orang yang tidak memberikannya kepada kita setelah itu. Sesungguhnya demi Allah saya tidak menanyakannya kepada Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)

 

Para sahabat juga mengunjungi beliau, bahkan beliau berpesan kepada mereka sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW telah mengirim satu utusan dan menjadikan Usamah sebagai pemim­pinnya lantas orang banyak mengecam kepemimpinannya, lantas Ra­sulullah SAW berdiri sambil bekata: Jika kalian mengecam kepemim­pinannya, maka kalian benar-benar telah mengecam kepemimpinan Ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar tercipta sebagai pemimpin, dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai, dan sesungguhnya orang ini benar-benar termasuk orang yang paling aku cintai sesudahnya.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW meninggalkan wasiat?”

 

Mudariszi: “Ada beberapa perkara yang Rasulullah SAW sampaikan kepada para sahabat ketika beliau sakit. Dan Rasulullah SAW hanya berwasiat dengan Al Qur’an, kitab Allah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Said bin Jabir, katanya: Ibnu Abbas telah berkata: Pada hari kamis dan selain hari kamis sakit Rasulullah parah, maka Rasulullah SAW berkata: “Datanglah kalian kepada saya. Saya akan menulis sebuah surat untuk kalian. Kalian tidak akan sesat selamanya. Ke­mudian para sahabat bertengkar (berbeda pendapat). Tidak patut perbedaan pendapat yang timbul dari satu Nabi. Maka mereka berkata: “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW, apakah beliau diam? Mintalah penjelasan kepadanya. Mereka pergi kembali kepada Rasulullah SAW, lantas beliau bersabda: Tinggal­kanlah aku, perkara yang sedang saya lakukan lebih baik dari apa yang kamu ajak aku kepadanya, dan beliau berwasiat kepada mereka tiga per­kara: 1. Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. 2. Kirimkanlah delegasi sebagaimana saya telah mengirimkan delegasi. Dan beliau tidak mengucapkan (diam) dari perkara yang nomor tiga atau perawi berkata: “Lantas saya lupa dengannya.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Ketika Rasulullah SAW hampir wafat sedangkan di rumahnya terdapat beberapa orang lelaki, maka beliau bersabda: Kemarilah, tulislah untuk kalian sebuah kitab (catatan) dimana kalian tidak bakal tersesat sesudahnya.” Sebagian mereka berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW benar-benar telah sakit, sedangkan di sisi kalian terdapat Al Quran, cukuplah bagi kita Kitabullah, maka ahlul Bait (keluarga Nabi) lantas berbeda pendapat, di antara mereka berkata: Mendekatlah, tulislah untuk kalian sebuah kitab yang tidak bakal kalian tersesat sesudahnya.” Dan di antara mereka berkata: Tidak seperti itu.” Maka ketika mereka telah banyak melakukan perkara yang tidak berguna dan perbedaan pendapat, Rasulullah SAW bersabda: Berdirilah.” (HR Bukhari)

 

Dari Thalhah, katanya: Saya bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa: Apakah Rasulullah SAW telah berwasiat? Lalu dia menjawab: Tidak.” Lalu saya bertanya: Bagaimana wasiat itu bisa ditulis oleh orang banyak atau mereka diperintah untuk berwasiat? Dia menjawab: “Rasulullah SAWi hanya berwasiat dengan Kitabullah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah tidak ada lagi ayat-ayat Al Qur’an yang turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau sakit?”

 

Mudariszi: “Pada waktu Rasulullah SAW sakit, tidak ada lagi ayat-ayat Al Qur’an yang turun kepada beliau. Itu menunjukkan Al Qur’an yang terdiri dari surat-surat dan ayat-ayat telah sempurna diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Barra, ia bekata: Surah yang terakhir turun dengan sempurna (lengkap) ialah surah Baraah (surah At Taubah), sedang ayat yang terakhir turun ialah akhir surah An Nisaa’ yaitu: “Mereka meminta fatwa kepadamu. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, yakni seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak …..” (surat An Nisaa’ ayat 176). (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ucapan Rasulullah SAW yang terakhir?”

 

Mudariszi: “Aisyah isteri Rasulullah SAW menjelaskan keadaan Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, katanya: Bahwasanya Rasulullah SAW apabila mengadu, beliau tiupkan kepada dirinya sendiri dengan muawwidzat (surat-surat Al Quran yang isinya memohon perlindungan dari gangguan syetan dan sakit) dan beliau mengusap dirinya dengan tangannya. Ketika beliau menderita sakit yang menyebabkan wafatnya, mulailah saya tiup­kan kepadanya dengan muawwidzat yang mana beliau biasa mengguna­kan, dan saya usap diri beliau dengan tangan beliau.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya: Adalah salah seorang di antara kami (Rasulullah SAW dan Aisyah) bertaawudz (minta perlindungan) dengan satu doa apabila ia sakit. Maka saya pergi meminta­kan perlindungan kepada-Nya.” (HR Bukhari)

 

Ketika itu masuk saudara Aisyah dan dia berkata kepada saudaranya tersebut sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, katanya: Abdurrahman bin Abu Bakar masuk padaku dan di ta­ngannya terdapat siwak, sedangkan saya sedang menyandarkan Rasulullah SAW. Lalu saya melihat beliau memandang kepadanya dan saya mengetahui bahwa beliau senang siwak. Lalu saya berkata: Saya ambil untuk engkau.” Maka beliau mengisyaratkan dengan kepalanya bahwa: Ya.” Lalu saya mengambilnya namun hal itu terasa keras oleh beliau. Saya berkata: Apakah saya lunakkan untuk engkau? Beliau meng­isyaratkan dengan kepalanya: Ya.” Lalu saya lunakkan, namun menjadi­kan beliau merasa pahit dan di depan beliau terdapat tabung yang berisi air. Maka beliau memasukkan tangannya dan mengusapkan keduanya ke wajahnya sambil bersabda: Tidak ada Tuhan melainkan Allah. Sungguh mati itu ada sekaratnya (kesengsaraannya).” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, sesungguhnya dia berkata: Saya melihat Rasulullah SAW ketika menjelang wafatnya, di sampingnya ada gelas berisi air dan beliau memasukkan tangannya ke gelas itu dan mengusap mukanya dengan air, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Tolonglah saya atas kesengsaraan mati dan payahnya mati. (HR Tirmidzi)

 

Dari Aisyah, katanya: Abdurrahman bin Abu Bakar lewat sedangkan di tangannya tergenggam siwak. Rasulullah SAW memandang kepadanya. Maka aku menduga bahwa beliau membutuh­kannya lantas saya mengambilnya, kemudian saya mengunyah ujungnya dan aku mengunyahkannya lalu aku memberikan kepada beliau. Beliau siwakan dengannya sebaik siwakan yang telah beliau lakukan. Kemudian beliau menyerahkannya kepadaku. Maka tangan beliau jatuh atau siwak basah yang jatuh dari tangannya. Allah telah mengumpulkan anta­ra ludahku dan ludah beliau pada hari akhir dari dunia dan permulaan dari hari akhirat.” (HR Bukhari)

 

Ketika Rasulullah SAW dalam keadaan itu, Aisyah mendengar beliau mengatakan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, katanya: “Rasulullah SAW lalu mengangkat kepalanya ke langit dan katanya: Menuju kepada Teman Yang Maha Tinggi, menuju kepa­da Teman Yang Maha Tinggi.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya:Lalu saya mendengar Rasulullah SAW bersabda dalam sakit­nya yang mana beliau wafat (dari) padanya (sakitnya itu) dan beliau sudah parau dengan mengucapkan: (Bersama orang-orang yang telah diberi nimat oleh Allah atas mereka). Dan saya menduga bahwa beliau disuruh memilih.” (HR Bukhari)

 

Aisyah lalu menduga bahwa Rasulullah SAW disuruh memilih, karena dia pernah mendengar beliau menjelaskan kepadanya (ketika sebelum sakit), sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, katanya: Saya mendengar bahwasannya se­orang Nabi tidaklah meninggal dunia sehingga disuruh memilih antara dunia dan akhirat. (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya: Rasulullah SAW dalam keadaan sehat bersabda: Bahwasanya tidak pernah seorang Nabi meninggal dunia se­hingga ia memilih tempat duduknya di surga, kemudian ia diserahi urus­an itu atau disuruh memilih. Ketika beliau mengaduh (sakit) dan hampir meninggal dan kepada (kepala) beliau berada di atas paha saya, beliau pingsan. Ketika beliau sadar, memandang ke atas ke arah atap rumah, kemudian mengucapkan: Wahai Allah, Teman Tertinggi, lalu saya ber­kata: Jika demikian beliau tidak memilih kami.” Lalu saya mengetahui bahwa itulah hadits beliau yang beliau ceritakan kepada kami di kala beliau sehat.” (HR Bukhari)

 

Az Zuhri berkata: Said bin Musayyab memberi khabar kepadaku tentang beberapa tokoh ahli ilmu, bahwa Aisyah berkata: Adalah Rasulullah SAW pernah bersabda semasa beliau sehat, bahwasanya seorang Nabi tidaklah akan dicabut nyawanya sehingga dia melihat tempat duduknya di surga, kemudian ia disuruh memilih. Maka ketika hal itu sudah turun sedangkan kepalanya berada di atas pahaku, beliau pingsan. Ke­mudian beliau siuman, lalu mengarahkan pandangannya ke atap rumah. Kemudian beliau bersabda: Ya Allah, Teman Yang Maha Tinggi.” Lalu saya berkata: Jika demikian, beliau sudah tidak memlih kepada kita, dan saya jadi tahu bahwa itu merupakan ucapan yang senantiasa beliau sampaikan ketika masih sehat.” Aisyah berkata: Ucapan itu (Ar Rafiq Ala) merupakan kalimat terakhir yang beliau ucapkan: “Allahumma Ar Rafiiqal A’la.” (HR Bukhari)

 

Dan setelah itu Rasulullah SAW wafat, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Maka tiada lain setelah Rasulullah SAW menyelesaikan siwakannya, beliau mengangkat tangannya atau mengangkat jari-jarinya kemudian Rasulullah SAW ber­sabda: Menuju kepada Teman Yang Maha Tinggi (Allah)”, tiga kali, kemudian Allah mengambilnya (mencabut nyawanya). (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya: Kemudian Rasulullah SAW menegak­kan kedua tangannya dan beliau mulai berucap: Wahai Allah, Teman Yang Maha Tinggi, sehingga beliau wafat dan miringlah tangan beliau.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Rasulullah SAW wafat dalam pelukan Aisyah isteri beliau?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia berada di antara perut dan antara dagu saya.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya: Sesungguhnya termasuk kenikmatan Allah yang dilimpahkan kepadaku adalah bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahku dan pada hariku, antara paru-paru dan dadaku sebelah atas. Se­sungguhnya Allah mengumpulkan antara percikan air liurku dan percikan air liur beliau ketika beliau wafat. HR Bukhari)

 

Percikan air liur Aisyah dan percikan air liur Rasulullah SAW dalam sunnah Rasulullah di atas yaitu siwak yang dilunakkan oleh Aisyah yang lalu digunakan oleh Rasulullah SAW ketika bersiwak sebelum wafatnya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana keadaan di Madinah setelah mengetahui Rasulullah SAW wafat?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab, katanya: Abu Salamah memberi khabar ke­padaku bahwa Aisyah telah memberi khabar kepadanya bahwasanya Abu Bakar menjemput di atas kuda dari rumahnya dengan perhiasan hingga ia turun lalu masuk masjid. Abu Bakar tidak bicara dengan orang banyak, lalu ia masuk pada Aisyah selanjutnya mentayamumkan Rasulul­lah SAW, sedangkan beliau ditutup dengan pakaian kuning. Abu Bakar mulai membukanya dari bagian wajahnya (Nabi), kemudian ia menutup lagi lalu mengecupnya dan iapun menangis lalu berkata: Demi Ayahku, Engkau dan Ibuku, Demi Allah, tidaklah Allah mengumpulkan engkau atas dua kematian. Adapun kematian yang telah digariskan atasmu, maka sungguh engkau telah menjalaninya. Az Zuhri berkata: Saya mendapat­kan hadits dari Abu Salamah dari Abdullah bin Abbas bahwasanya Abu Bakar keluar sedangkan Umar sedang berbicara dengan orang banyak, lantas Abu Bakar berkata: Duduklah hai Umar, namun Umar tidak mau duduk. Lalu orang banyak menghadap kepadanya dan mereka mening­galkan Umar. Abu Bakar berkata: Amma badu. Barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad benar-benar telah meninggal dunia, dan barangsiapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Hidup tidak mati. Allah Ta’ala telah berfirman: Muhammad tidak lain hanyalah se­orang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah ji­ka dia wafat atau terbunuh kamu berbalik (murtad). Barangsiapa yang murtad, maka ia tidaklah bisa mendatangkan mudharat kepada Allah se­dikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (surat Ali Imran ayat 144). Abdullah bin Abbas berkata: Demi Allah, sungguh orang banyak tidak mengetahui bahwa Allah menurunkan ayat ini sehingga Abu Bakar mem­bacanya. Maka keseluruhan manusia menemukan ayat ini dari Abu Ba­kar. Aku tidak mendengar seorangpun manusia kecuali mereka membacanya. Said bin Musayyab memberi khabar kepadaku bahwasanya Umar berkata: Demi Allah, Rasulullah SAW tidaklah mati kecuali aku mendengar Abu Bakar membacanya lalu aku kaget sehingga kedua kakiku sedikit demi sedikit bergerak sehingga saya jatuh ke tanah ketika saya men­dengar Abu Bakar membacanya bahwa Rasulullah SAW telah meninggal dunia.” (HR Bukhari)

 

Setelah Rasulullah SAW dimakamkan, Fatimah puteri beliau mengatakan sebagai berikut:

 

Dari Anas, katanya:Maka ketika Rasulullah SAW sudah meninggal dunia, Fatirnah berkata: Duh Ayahku, engkau telah memenuhi panggilan Tuhan, duh Ayahku, siapa yang menempati surga Firdaus, duh Ayahku, ke­pada malaikat Jibril kita memberi khabar kematian.” Ketika Rasulullah telah dimakamkan, maka Fatimah berkata: Hai Anas, apakah jiwamu menjadi baik bila menaburkan debu kepada Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW meninggalkan harta?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Amr bin Harits, katanya: Rasulullah SAW tidaklah meninggalkan uang dinar maupun uang dirham, dan tidak pula budak lelaki maupun budak perempuan, kecuali seekor bighal putihnya yang senan­tiasa beliau tunggangi dan senjatanya dan sebidang tanah yang telah beliau berikan kepada Ibnu Sabil sebagai shadaqah.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, katanya: “Rasulullah SAW meninggal dunia sedangkan baju perangnya (dari besi) masih digadaikan pada orang Yahudi senilai tiga puluh.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Berapa lama Rasulullah SAW tinggal di Madinah dalam menyampaikan Al Qur’an dan berapa kali beliau ikut berperang menegakkan agama Islam?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW tinggal di kota Makkah selama sepuluh tahun dimana Al Qur’an diturunkan dan di kota Madinah selama sepuluh tahun. (HR Bukhari)

 

Dari Abi Ishak, katanya: Saya telah bertanya kepada Zaid bin Arqam: Berapa kalikah engkau berghozwah (berperang) bersama Rasulullah SAW? Ia menjawab: “Tujuh belas kali.” Saya bertanya: Berapa kali Rasulullah SAW melakukan perang (Ghozwah)? Ia menjawab: “Sembilan belas kali.” (HR Bukhari)

 

Dari Abi Ishak, kami mendapatkan hadits dari Al Barra, katanya: Saya berperang bersama Rasulullah SAW lima belas kali.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Buraidah dari ayahnya, katanya: Dia telah melakukan perang bersama Rasulullah SAW enam belas kali peperangan.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah umat Islam di Jazirah Arab mengetahui wafatnya Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Beberapa hari setelah Rasulullah SAW wafat, penduduk di Jazirah Arab mengetahui beliau telah wafat, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Jarir, ia berkata: Saya berada di Yaman, lalu saya bertemu dua orang laki-laki penduduk Yaman, yakni Dzul Kala dan Dzu Amr, lalu saya bercerita kepada mereka tentang Rasulullah SAW. Maka Dzu Amr berkata kepadanya (Jarir): Sungguh, seandainya apa yang ka­mu tuturkan tentang perihal temanmu, maka sesungguhnya ia telah me­lewati ajalnya sejak tiga hari.” (HR Bukhari)

 

Dari Shunabihi, bahwasanya ia berkata: Ada seseorang bertanya kepadanya: Sejak kapan engkau berhijrah? Dia menjawab: Kami keluar dari Yaman dalam keadaan berhijrah, lantas kami datang ke Juhfah. Ada seorang penunggang kuda menghadap, lalu saya katakan kepadanya, khabar. Maka ia berkata: Kami telah memakamkan Rasulullah SAW sejak lima (hari).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada pengganti Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam?”

 

Mudariszi: “Pengganti Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam adalah Abu Bakar, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Jarir, ia berkata: Dua orang laki-laki itu pergi bersamaku, sehingga ketika kami berada di sebahagian perjalanan, maka tampak oleh kami gerombolan penunggang unta dari arah Madinah. Kami bertanya kepada mereka, lalu mereka berkata: Rasulullah SAW telah wafat dan Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah, sedangkan orang-orang baik-baik semua.” Lalu kedua orang laki-laki itu bekata: Beritahukanlah kepada temanmu bahwasanya kami telah datang dan insya Allah kami akan kem­bali lagi.” Dan kedua orang itu kembali ke Yaman, lalu saya memberitahukan kisah mereka kepada Abu Bakar. Ia berkata: Tidakkah kamu datang dengan mereka? Kemudian setelah itu Dzu Amr berkata kepa­daku: Wahai Jarir, sesungguhnya kamu mempunyai kemuliaan atas diri­ku, dan sesungguhnya saya hendak memberitahukan suatu berita kepadamu: Wahai golongan orang-orang Arab, sesungguhnya kamu senantiasa dalam kebaikan selagi kamu ada. Ketika seorang pemimpin telah mening­gal, maka kamu mengangkat yang lain sebagai pemimpin. Apabila kepemimpinan harus dengan pedang (paksaan), maka mereka menjadi Raja (Khalifah) yang marah bagaikan marahnya para Raja dan ridha bagaikan ridhanya para Raja. (HR Bukhari)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply