Apakah Abu Bakar Menjadi Khalifah Rasulullah?

Dialog Seri 10: 82

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menetapkan ada pemimpin dalam negara atau pemerintahan Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abu Hazim, dia berkata: Selama lima tahun aku berkawan dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengar dia menceritakan suatu hadits dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Orang-­orang Bani Israil itu selalu diatur oleh para Nabi. Seorang Nabi mening­gal dunia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lainnya. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi sama sekali sesudahku. Dan kelak akan bermunculan para Khalifah. Para sahabat bertanya: Lantas apa yang Anda perintahkan kepada kami? Rasulullah SAW menjawab: Penuhilah pembaiatan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka. (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW mewajibkan adanya Khalifah atau pemimpin pemerintahan (negara) Islam. Agama Islam tidak berbeda dengan agama yang diajarkan oleh Nabi Musa kepada umatnya, yaitu agama Allah. Perbedaannya, pemimpin umat Nabi Musa sebelum Rasulullah SAW yaitu Nabi-Nabi, sedangkan pemimpin umat Islam adalah Khalifah-Khalifah, karena tidak ada lagi Nabi setelah Rasulullah SAW wafat. Allah SWT berfirman:

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menetapkan Khalifah (pengganti) beliau sebelum beliau wafat?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan kepada seorang wanita yang mendatanginya sebagai berikut:

 

Dari Jubair bin Muth’im, ia berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW, lalu beliau menyuruhnya untuk kembali kepadanya.” Ia bertanya: Bagaimana pendapatmu jika aku datang, lalu tidak me­nemukanmu? Sepertinya yang ia maksudkan adalah kematian. Rasulullah SAW menjawab: Jika engkau tidak menemukanku, maka datanglah ke­pada Abu Bakar.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW telah mengetahui Khalifah (pengganti) beliau adalah Abu Bakar. Rasulullah SAW menjelaskan Abu Bakar itu Khalifah, sebagai berikut:

 

Dari Isa bin Maimun Al-Anshari dari Al-Qasim bin Muhammad dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidak sepatutnya bagi kaum yang di tengah-tengah mereka ada Abu Bakar dipimpin oleh lainnya. (HR Tirmidzi)

 

Dari Aisyah, ia berkata: Sewaktu sakit, Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku: Tolong panggilkan Abu Bakar dan saudaramu laki-laki. Aku ingin menulis sepucuk surat. Sesungguhnya aku merasa khawatir terhadap orang yang ambisius yang mengatakan: Aku adalah orang yang paling berhak, sementara Allah dan orang-orang mukmin merasa enggan kecuali Abu Bakar.” (HR Muslim)

 

Tapi Rasulullah SAW tidak mau menetapkan Abu Bakar sebagai pemimpin atau Khalifah (pengganti) beliau, karena beliau ingin agar sahabat-sahabat berijtihad dan bermusyawarah dalam menetapkan Khalifah tersebut. Dan perkara itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Al-Qasim ibn Muhammad (ibn Abu Bakar), dia berkata: Aisyah mengaduh: Aduh, kepalaku (sakit), maka Rasulullah SAW bersabda: Sebaliknya, akulah, aduh kepalaku (yakni riwayat­lah sakit kepalaku), tidak ada apa-apa pada kamu, karena sungguh kamu akan hidup sesudah aku bermaksud (atau berkehendak) mengirim (utusan) kepada Abu Bakar dan putranya, maka aku berwasiat (kekha­lifahan kepada Abu Bakar) karena (kekhawatiran) akan berbicaralah orang-orang yang membicarakan atau berharaplah orang-orang yang ber­harap (kekhalifahan, maka aku menentukan Khalifah untuk menghentikan perebutan dan harapan. Dan Allah menghendaki beliau tidak berwasiat demikian supaya para shahabat berijtihad). Kemudian aku bersabda: Allah tidak berkenan dan orang-orang mukmin menolak (selain kepada Abu Bakar), atau: Allah menolak dan orang-orang mukmin tidak ber­kenan.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah para sahabat mengetahui jika Rasulullah SAW telah mengutamakan Abu Bakar?”

 

Mudariszi: “Para sahabat mengetahui bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling shaleh di antara mereka karena Rasulullah SAW menjelaskannya sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Siapakah di antara kalian yang pada pagi hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: Aku. Beliau bertanya: Siapakah di an­tara kalian yang pada pagi hari ini mengantarkan jenazah? Abu Bakar menjawab: Aku. Beliau bertanya: Siapakah di antara kalian yang pada pagi hari ini memberi makan kepada orang miskin? Abu Bakar menjawab: Aku. Beliau bertanya: Siapakah di antara kalian yang pada pagi hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar mejawab: Aku. Lebih lanjut beliau bersabda: Mustahil semua itu berkumpul pada sese­orang lalu sampai dia tidak masuk surga.” (HR Muslim)

 

Para sahabat mengetahui bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW, seperti dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Said, sesungguhnya Rasulullah SAW pada satu hari berada di atas mimbar. Beliau bersabda: Sesungguhnya orang yang paling setia kepada baik secara moral maupun secara material adalah Abu Bakar. Kalau saja aku boleh mengambil seorang kekasih, niscaya aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi dia adalah saudaraku di dalam Islam. Sungguh tidak akan diciptakan pada masjid ini sebuah pintu kecil pun kecuali hal itu memang milik Abu Bakar.” (HR Muslim)

 

Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah dari Umar bin Al-Khath­thab, dia berkata: Abu Bakar adalah pemimpin kami dan paling mulia di­ antara kami dan paling dicintai oleh Rasulullah di antara kami. (HR Tirmidzi)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Seandainya aku menjadikan seorang kekasih, maka aku menjadikan Abu Bakar. Tetapi dia adalah saudaraku (seagama) dan sahabatku (di gua).” (HR Bukhari)

 

Sahabat Rasulullah di gua dalam sunnah Rasulullah di atas adalah Abu Bakar ketika keduanya berhijrah ke Madinah. Hal itu dijelaskan pula dalam Al Qur’an, sebagai berikut:

 

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang yang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. (At Taubah 40)

 

Sahabat Rasulullah mengetahui Abu Bakar ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai imam shalat ketika beliau berhalangan, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Sahl ibn Sa’ad Al-Saidi, dia berkata: Terjadi peperangan di antara bani Amr, maka demikian itu sampai kepada Rasulullah SAW, maka beliau shalat Zhuhur kemudian beliau mendatangi mereka (untuk) mendamaikan di antara mereka. Ketika tiba (waktu) shalat Ashar, maka Bilal (menyerukan) adzan dan iqamah, dan beliau memerintahkan Abu Bakar, maka dia maju. Rasulullah SAW datang sedang Abu Bakar di dalam shalat, maka beliau mem­belah (barisan) orang-orang hingga beliau berdiri di belakang Abu Bakar, maka beliau maju pada shaf di sisi Abu Bakar. Sahl berkata: Dan kaum (jamaah) itu bertepuk tangan (memperingatkan Abu Bakar terhadap kehadiran Nabi). Dan adalah Abu Bakar apabila masuk shalat, maka dia tidak menengok sampai selesai. Ketika dia melihat ada tepuk tangan yang tidak dikendali, maka dia menengok, maka dia melihat Rasulullah SAW di belakangnya, lalu Rasulullah SAW berisyarat kepadanya (dengan tangan): Teruskanlah, dan beliau berisyarat dengan tangan beliau demikian (untuk tetap di tempat). Dan Abu Bakar tetap (di tempat) sebentar dengan membaca alhamdulillah atas sabda Rasulullah SAW, kemudian dia berjalan mundur. Maka ketika Rasulullah SAW melihat (tingkah Abu Bakar) demikian, maka beliau maju (ke tempat imam) dan beliau shalat mengimami orang-orang. Ketika beliau telah merampungkan shalat, maka beliau bersabda: Hai Abu Bakar, apakah yang mencegah kamu tidak melangsungkan ketika aku berisyarat kepadamu? Abu Bakar berkata: Tidaklah anak Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) mengimami Rasulullah SAW. Dan beliau bersabda kepada kaum (jamaah) itu: Apabila datang kepada­mu suatu perkara (yang perlu diperingatkan), maka bertasbihlah (mem­baca Subhanallah) orang-orang lelaki dan bertepuk tanganlah orang-orang perempuan.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah para sahabat lalu memilih Abu Bakar sebagai Khalifah setelah Rasulullah SAW wafat?”

 

Mudariszi: “Setelah Rasulullah SAW wafat dan diharuskan ada Khalifah (pemimpin), maka Abu Bakar lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Nadhrah dari Abi Said Al-Khudri, dia berkata: Abu Bakar berkata: Bukankah aku orang yang lebih berhak kepada Khilafah? Bukankah aku orang yang pertama masuk Islam? Bukankah aku menemani demikian? Bukankah aku menemani demikian? (HR Tirmidzi)

 

Tapi sebagian orang-orang Anshar ketika itu ingin agar ada satu pemimpin dari Anshar dan satu dari Muhajirin, sehingga Abu Bakar lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Dan sahabat-sahabat Anshar berkumpul kepada Sa’ad ibnu Ubadah di dalam tenda Bani Saidah, lalu mereka berbicara: Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin pula.” Kemudian berangkatlah Abu Bakar, Umar ibnu Khaththab dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah kepada mereka. Umar berangkat sambil berbicara, lalu Abu Bakar mendiam­kannya. Umar berkata: Demi Allah, aku tidak menghendaki hal itu, hanya sesungguhnya saya telah mempersiapkan suatu pembicaraan yang menakjubkan diriku, yang aku khawatirkan tidak sampai kepada Abu Bakar.” Abu Bakar berbicara dengan pembicaraan yang sangat petah lidah, ia berkata dalam pembicaraannya: Kami adalah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian adalah menteri-menteri.” Lalu Hubbab ibnul Mundzir berkata: Tidak, demi Allah, kami tidak akan melakukan, dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin pula.” Abu Bakar berkata: “Tidak, tetapi kamilah pemimpin pemerintahan sedangkan kalian sebagai menteri-menteri. Mereka (suku Quraisy) adalah bangsa Arab yang paling tengah tempat tinggalnya dan yang paling murni keturunan Arabnya. Maka berjanji setialah kalian kepada Umar atau Abu Ubaidah.” (HR Bukhari)

 

Umar yang ketika itu hadir bersama dengan Abu Ubaidah lalu menjelaskan kepada semua para sahabat tersebut sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, bahwa sesungguhnya dia mendengar khutbah Umar yang terakhir ketika beliau duduk di atas mimbar dan demikian pada esok hari dari hari wafat Rasulullah SAW, maka Umar membaca syahadat sedangkan Abu Bakar diam, tidak berbicara. Ia (Umar) mengata­kan: Sungguh aku berharap bahwa Rasulullah SAW hidup hingga beliau dibelakang kami (yakni bahwa Rasulullah SAW itu wafat paling akhir). Maka beliau Muhammad SAW benar-benar telah meninggal, maka sesung­guhnya Allah Taala telah menjadikan Nur (Al-Qur’an) di hadapan kamu dimana dengan (Nur) itu kamu mendapat petunjuk. Allah telah meng­hidayahkan Muhammad SAW dan sungguh Abu Bakar adalah orang yang menemani Rasulullah SAW, orang kedua dari dua orang (di gua Tsur). Maka sungguh Abu Bakar adalah orang yang paling berhak terhadap urusan kamu di antara kaum muslimin. Maka berdirilah dan berbai’atlah kepada Abu Bakar! Dan adalah sekelompok orang dari mereka te­lah berbaiat kepada Abu Bakar sebelum itu di Saqifah Bani Saidah, dan adalah baiat orang umum di atas mimbar (pada hari yang sama). Az-Zuhri berkata dari Anas bin Malik: Aku mendengar Umar berkata kepada Abu Bakar pada hari itu: Naiklah ke mimbar! Maka Umar terus menerus (menyuruh naik) sehingga Abu Bakar naik mimbar, maka Abu Bakar dibaiat oleh manusia secara menyeluruh.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Umar berkata: Bahkan kami berjanji setia kepadamu. Engkau adalah pemimpin kami, orang terbaik dan tercinta kami setelah Rasulullah SAW. Selanjutnya Umar memegang tangannya dan berjanji setia kepadanya, lalu orang-orang berjanji setia pula kepadanya. Seseorang berkata: Kalian (hampir) membunuh Sa’ad ibnu Ubadah, lalu Umar berkata: Allah yang membunuhnya.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Abu Bakar disepakati sebagai Khalifah (pengganti) Rasulullah SAW yaitu pemimpin pemerintahan (negara) Islam dan pemimpin umat Islam.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Abu Bakar tidak menerima adanya dua Khalifah, yaitu satu dari Muhajirin (Quraisy) dan satu lagi dari Anshar?”

 

Mudariszi: “Karena Rasulullah SAW melarang hal itu, sebagai berikut:

 

Dari Abu Said Al Khudri, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Apabila pembaiatan dilaksanakan kepada dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Mengapa Abu Bakar mengatakan Khalifah atau pemimpin pemerintahan Islam itu dari Quraisy?”

 

Mudariszi: “Karena Rasulullah SAW menjelaskan Khalifah atau pemimpin pemerintahan Islam sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: Aku berangkat menemui Rasulullah SAW bersama dengan ayahku. Lalu aku dengar beliau bersabda: Agama (Islam) ini akan senantiasa berjaya dan kuat di tangan dua belas orang Khalifah. Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak kedengaran oleh orang-orang lain. Aku lalu bertanya ke­pada ayahku: Apa yang telah beliau sabdakan? Ayahku menjawab: Bahwa mereka itu berasal dari golongan kaum Quraisy.” (HR Muslim)

 

Berjaya dan kuatnya agama Islam dibawah dua belas Khalifah dari Quraisy itu termasuk dalam mengatasi persoalan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, karena agama Islam dan Al Qur’an diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW untuk keselamatan umat manusia di dunia dan di akhirat. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Persoalan manusia tidak akan berlalu begitu saja selagi dua belas orang tokoh menjadi penguasa mereka. Kemudian Rasulullah SAW membisikkan suatu ucapan kepada ayahku yang tidak kedengaran olehku. Aku lalu bertanya kepada ayahku: Apa yang dibisikkan oleh Rasulullah SAW tadi? Dia menjawab: Beliau bersab­da bahwa kedua belas orang tokoh itu adalah dari golongan kaum Quraisy. (HR Muslim)

 

Persoalan manusia dalam sunnah Rasulullah di atas itu tentang kebaikan dan keburukan manusia, atau kafir dan Islam (beriman) nya manusia, seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Manusia dalam hal kebajikan dan keburukan adalah ikut ke­pada kaum Quraisy, kemusliman mereka ikut pada kemusliman kaum Quraisy, demikian pula halnya dengan kekufuran mereka. (HR Muslim)

 

Dari Ashim bin Muhammad bin Zaid dari ayahnya, dia berkata: Abdullah mengatakan: Rasulullah SAW pernah bersab­da: Masalah tersebut senantiasa tergantung pada kaum Quraisy, sepan­jang manusia lebih terbagi menjadi dua golongan kafir dan Islam. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Mengapa Umar menunjuk Abu Bakar sebagai Khalifah (pengganti) Rasulullah dan bukan menunjuk dirinya sendiri?”

 

Mudariszi: “Karena Umar mengetahui bahwa Rasulullah SAW lebih mengutamakan Abu Bakar daripada dirinya, contoh dijelaskan berikut ini:

 

Dari Abu Darda, ia berkata: Saya pernah duduk di dekat Rasulullah SAW, tiba-tiba Abu Bakar datang sambil memegang ujung pakaian­nya sehingga tampak lututnya. Rasulullah SAW bersabda: Adapun temanmu benar-benar telah bertengkar.” Lalu ia mengucapkan salam dan berkata: Sesungguhnya antara saya dan Ibnu Khaththab ada sesuatu (masalah). Saya bergegas kepadanya, lalu saya menyesal. Saya minta dia memaafkanku, namun dia enggan, maka saya datang kepadamu.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Allah memberi ampunan kepadamu, wahai Abu Bakar (tiga kali).” Selanjutnya Umarpun menyesal, ia datang ke tempat tinggal Abu Bakar dan bertanya: Apakah Abu Bakar disana? Mereka menjawab: Tidak.” Ia datang kepada Rasulullah SAW, lalu wajah beliau menjadi muram sehingga Abu Bakar merasa kasihan. Ia membungkuk pada kedua lututnya dan berkata: Wahai Rasulullah, sungguh saya yang lebih zhalim.” Rasulullah SAW bersabda: Allah telah mengutusku kepadamu, lalu kamu berkata: Engkau berdusta, namun Abu Bakar berkata: Beliau benar.” Dia telah membantuku dengan jiwa raga dan hartanya, maka apakah kalian meninggalkan temanku karena aku. Sesudah (kejadian) itu, ia tidak pernah disakiti.” (HR Bukhari)

 

Dari Zaid bin Aslam dari Ayahnya, dia berkata: Aku mendengar Umar bin Al-Khaththab ber­kata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami agar bersedekah, dan perintah beliau menepati harta yang padaku, lalu aku berkata: Hari ini aku mendahului Abu Bakar kalau aku mendahuluinya pada suatu hari.” Umar berkata: “Kemudian aku datang dengan membawa separuh hartaku, lalu Rasulullah SAW bersabda: Apa yang kamu tinggalkan bagi keluargamu? Kami menjawab: “Sama dengan harta itu (separuh hartanya).” Dan Abu Bakar datang dengan membawa semua hartanya lalu beliau bersabda: Hai Abu Bakar apa yang kamu tinggalkan bagi keluargamu? Dia menjawab: “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” Aku berkata: “Aku tidak akan bisa mendahuluinya dalam mencapai keutamaan selama-lamanya. (HR Tirmidzi)

 

Dari Amr bin Ash, bahwasanya Rasulullah SAW mengutusnya untuk menghadapi pasukan Dzatis Salasil. Lalu saya datang kepada beliau dan bertanya: Siapakah yang paling engkau cintai? Beliau men­jawab: Aisyah.” Aku bertanya: Yang dari orang lelaki.” Beliau men­jawab: Ayahnya.” Aku bertanya: “Lalu siapakah? Beliau menjawab: Umar bin Khaththab.” Lalu beliau menyebut sejumlah lelaki.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Abu Bakar lakukan setelah menjadi Khalifah?”

 

Mudariszi: “Abu Bakar lalu melanjutkan perintah Rasulullah kepada Usamah sebagai pemimpin utusan kepada satu kaum yang sebelumnya Usamah dikecam oleh beberapa sahabat, sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW telah mengirim satu utusan dan menjadikan Usamah sebagai pemim­pinnya, lantas orang banyak mengecam kepemimpinannya, lantas Ra­sulullah SAW berdiri sambil bekata: Jika kalian mengecam kepemim­pinannya, maka kalian benar-benar telah mengecam kepemimpinan Ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar tercipta sebagai pemimpin, dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai, dan sesungguhnya orang ini benar-benar termasuk orang yang paling aku cintai sesudahnya.” (HR Bukhari)

 

Abu Bakar membesarkan dan meluaskan agama Islam dengan menundukkan pemimpin Bahrain, dan hal itu dijelaskan berikut ini:

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Seandainya harta dari Bahrain datang, tentu aku memberimu demikian dan demikian.” Tiga kali. Harta dari Bahrain itu belum datang sampai Rasulullah SAW wafat. Ketika harta itu datang kepada Abu Bakar, ia menyuruh seorang penyeru lalu berseru: Barangsiapa memiliki hutang atau janji di sisi Rasulullah SAW, maka hendaklah ia datang kepadaku.” Jabir berkata: Saya datang kepada Abu Bakar, lalu memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Seandai­nya harta dari Bahrain datang, maka aku memberimu demikian dan demikian.” Tiga kali. Ia berkata: Lalu dia memberiku.” Jabir berkata: Sesudah itu saya bertemu dengan Abu Bakar lalu saya minta (harta) kepadanya, namun ia tidak memberiku. Kemudian saya datang kepada­nya, namun ia tidak memberiku. Kemudian saya datang kepadanya untuk yang ketiga kalinya, namun ia tidak memberiku. Maka saya berkata kepadanya: Sungguh saya telah datang kepadamu, namun engkau tidak memberiku. Kemudian saya datang kepadamu, namun engkau tidak mem­beriku. Maka adakalanya engkau memberiku, dan adakalanya engkau kikir terhadapku.” Abu Bakar berkata: Apakah kamu mengatakan: Eng­kau kikir terhadapku? Penyakit apakah yang lebih tercela dari pada ki­kir? (Ia mengatakan kalimat itu tiga kali). Saya tidak pernah mencegahmu satu kalipun, melainkan saya hendak memberimu.” Jabir bin Abdillah berkata: Saya datang kepada Abu Bakar, lalu ia berkata kepadaku: Hitunglah.” Maka saya menghitungnya, lalu saya mendapatkan jumlah­nya lima ratus. Lalu Abu Bakar berkata: Ambillah yang setara dengan itu dua kali.” (HR Bukhari)

 

Abu Bakar mengirim utusannya kepada kaum yang murtad, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Bakar (Al-Shiddiq), dia berkata kepada utusan Buzakhah (yang murtad sepeninggal Rasulullah SAW, maka mereka diperangi Khalid bin Al-Walid, lalu mereka bertaubat): Kalian mengikuti ekor unta (di padang pasir) sehingga Allah memperlihatkan satu perkara kepada Kha­lifah (pengganti) Nabi-Nya dan Muhajirin, dimana dengan perkara itu mereka memaafkan kepada kalian.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Abu Bakar menjalankan tugasnya dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah?”

 

Mudariszi: “Dalam menjalankan tugasnya sebagai Khalifah, Abu Bakar mengikuti Al Qur’an dan sunnah Rasulullah. Contoh, Abu Bakar memerangi pemimpin kaum yang tidak mau membayar zakat kepadanya. Zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam setelah shalat dalam pokok agama Islam. Sebagai umat Islam, pemimpin kaum itu membayar zakat kepada Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup, karena itu tidak ada alasan bagi pemimpin tersebut untuk menolak membayar zakat kepada Abu Bakar sebagai Khalifah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Ketika Rasulullah SAW telah wafat, Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah setelah wafatnya beliau. Dan kafirlah sebagian orang Arab yang menjadi kafir. Umar berkata kepada Abu Bakar: Kenapa Anda mesti memerangi manusia itu? Padahal Rasulullah SAW telah bersabda: Aku diperintah untuk memerangi ma­nusia itu sehingga mereka menyatakan: Tiada Tuhan selain Allah.” Maka barangsiapa telah menyatakan: Tiada Tuhan selain Allah, berarti dia telah melindungi harta dan jiwanya dariku, kecuali ada alasannya dan perhitungannya atas Allah.” Abu Bakar berkata:Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat. Sesungguhnya zakat itu adalah haknya harta benda. Demi Allah, bila mereka menolak membayar zakat unta dan kambing yang dulu mereka pernah menyerahkannya kepada Rasulullah SAW, niscaya aku akan memerangi mereka atas dasar penolakannya itu.” Umar berkata: Demi Allah, tidak mungkin hal itu terjadi begitu saja, kecuali aku harus yakin bahwa Allah telah membuka dadanya Abu Bakar untuk sebuah peperangan. Sekarang aku tahu bahwa itu adalah kebenaran.” (HR Bukhari)

 

Keputusan dan penjelasan Abu Bakar itu menjadi petunjuk bagi Umar hingga Umar menyetujuinya. Adapun pemimpin kaum yang tidak mau membayar zakat hingga diperangi oleh Abu Bakar itu adalah Musailimah pemimpin negeri Yamamah dan Al Ansiy pemimpin negeri Shan’a yang keduanya di negeri Yaman. Rasulullah SAW telah menjelaskan tentang kedua pemimpin tersebut ketika beliau masih hidup, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Musailimah Al Kadzdzab tiba (di Madinah) pada masa Rasulullah SAW, dan berkata: Jika Muhammad membuat urusan (kenabian) untukku sesudah dia, maka saya mengikutinya.” Ia datang di Madinah bersama orang banyak dari kaumnya. Lalu Rasulullah SAW datang kepadanya bersama Tsabit bin Qais bin Syammas, sedangkan di tangan Rasulullah SAW terdapat sepotong pelepah kurma, sehingga beliau berdiri di dekat Musailimah bersama teman-temannya. Lalu beliau bersabda: Seandainya kamu minta kepadaku akan potongan (pelepah kurma) ini, niscaya aku tidak memberikannya padamu, dan kamu tidak akan melampaui hukum Allah. Apabila kamu berpaling (tidak mentaatiku), pasti Allah akan membinasakanmu. Sesungguhnya aku meyakini bahwa kamu adalah orang yang diper­lihatkan kepadaku dalam (mimpi). Ini adalah Tsabit akan memberi ja­waban kepadamu tentang diriku.” Kemudian beliau berpaling darinya. Ibnu Abbas berkata: Saya bertanya tentang sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya kamu, aku yakini sebagai orang yang diperlihatkan kepadaku dalam (mimpi).” Lalu Abu Hurairah memberitahukan kepadaku bahwasa­nya Rasulullah SAW bersabda: Di saat aku sedang tidur, aku melihat (dalam mimpi) dua gelang emas di kedua tanganku. Urusan kedua gelang itu menyusahkanku, lalu aku mendapatkan wahyu dalam tidur(ku) agar aku meniup keduanya. Maka aku meniup, lalu kedua gelang itu terbang. Maka aku mentawilkan kedua gelang itu adalah dua orang pendusta yang akan keluar sesudahku, yaitu pembesar negeri Shanaa (Al Ansiy) dan pembesar negeri Yamamah (Musailimah).” (HR Bukhari)

 

Dengan Musailimah tidak diberikan urusan kenabian dalam sunnah Rasulullah di atas, maka dia lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai nabi setelah Rasulullah SAW wafat. Itu menunjukkan bahwa Musailimah dan Al Ansiy telah meninggalkan agama Islam dan memisahkan diri dari jama’ah umat Islam yang dipimpin oleh Abu Bakar. Dengan demikian darah mereka menjadi halal untuk diperangi. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali satu di antara tiga berikut ini: seorang janda yang berzina, sese­orang yang membunuh jiwa orang lain, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jamaah. (HR Muslim)

 

Contoh lain, Abu Bakar mengikuti Al Qur’an dan sunnah Rasulullah dalam menetapkan harta Rasulullah, yaitu dia tidak mengabulkan permintaan Fatimah anak Rasulullah SAW sehingga itu menjadi petunjuk bagi Ali suami Fatimah, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, bahwasanya Fathimah binti Rasulullah SAW mengirim perutusan kepada Abu Bakar, ia meminta kepadanya akan harta pusaka Rasulullah SAW, yaitu harta (rampasan) yang diberikan oleh Allah kepada beliau di Madinah, Fadak dan harta yang tersisa dari seperlima (rampasan) perang Khaibar. Lalu Abu Bakar berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: (Harta) kami tidak dapat diwarisi, apapun yang kami tinggalkan adalah sedekah. Keluarga Muhammad SAW hanya makan dari harta ini.” Dan sesungguhnya saya tidak akan merubah apapun terhadap sedekah Rasulullah SAW dari keadaannya semula pada masa hidup Rasulullah SAW. Sungguh saya akan memperlakukan sedekah itu sebagaimana yang telah diperlakukan Rasulullah SAW. Lalu Abu Bakar enggan menyerahkan sedikitpun dari sedekah itu kepada Fathimah. Maka Fathimah benci terhadap Abu Bakar karena hal itu, lalu dia menjauhinya dan tidak berbicara dengannya hingga dia wafat. Dia hidup sesudah Rasulullah SAW selama enam bulan. Ketika dia wafat, maka Ali suaminya menguburkannya pada malam hari. Ia tidak memintakan izin kepada Abu Bakar, dan ia shalat atas (jenazah)nya. Ali mempunyai muka (kehormatan) di hadapan orang-orang selama hidupnya Fathimah. Lalu ketika Fathimah wafat, Ali kurang mendapat kehormatan di hadapan orangorang. Maka ia menginginkan kebaikan dan bersumpah setia dengan Abu Bakar, namun ia tidak bersumpah setia pada bulan-bulan tersebut (sewaktu hidupnya Fathimah). Kemudian ia mengirim pesuruh kepada Abu Bakar agar (berkata): Datanglah kepada kami dan jangan seseorangpun yang datang bersamamu karena tidak menyukai kehadiran Umar.” Umar berkata: “Tidak, demi Allah, kamu tidak boleh datang kepada mereka sendirian.” Abu Bakar berkata: Apakah kamu mengira mereka akan berbuat sesuatu terhadapku? Demi Allah, saya akan datang kepada mereka.” Abu Bakar datang kepada mereka, lalu Ali mengucapkan syahadat dan berkata: Sesungguhnya kami mengetahui keutamaanmu dan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu, kami tidak mendengkimu akan kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Tetapi engkau berbuat sewenang-wenang terhadap kami akan sesuatu urusan. Dan kami yakin mendapat bagian (warisan) karena hubungan kekerabatan kami dengan Rasulullah.” Sehingga Abu Bakar mencucurkan air mata. Ketika Abu Bakar berbicara, maka ia berkata: Demi Dzat Yang diriku dalam kekuasaanNya, sungguh kerabat Rasulullah SAW lebih saya cintai dari pada saya menyambung kerabatku sendiri. Adapun sesuatu yang menjadikan perselisihan antara saya dan kalian tentang harta ini, maka saya tidak berbuat gegabah terhadap harta itu yang jauh dari kebaikan. Dan saya tidak akan meninggalkan sesuatu urusan yang pernah saya lihat Ra­sulullah SAW melakukannya melainkan saya melakukannya juga.” Lalu Ali berkata kepada Abu Bakar: Waktu perjanjianmu adalah waktu sore untuk bersumpah setia.” Ketika Abu Bakar selesai shalat Zhuhur, ia naik ke atas mimbar lalu mengucapkan syahadat. Ia menuturkan keadaan Ali dan ketertinggalannya dari sumpah setia dan berdalihnya dengan sesuatu yang menghalanginya, kemudian ia minta maaf. Dan Ali mengucapkan syahadat, lalu ia menghormati hak Abu Bakar. Dan ia memberitahukan bahwa ia tidak menganggap apa yang dilakukannya sebagai kedengkian terhadap Abu Bakar, dan ia tidak ingkar terhadap apa yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya. Tetapi kami yakin di dalam urusan ini kami memiliki bagian (warisan), lalu berbuat sewenang-wenang terhadap kami, maka kami mendapati (rasa benci) di dalam hati kami. Kemudian berbahagialah kaum muslimin karena hal ter­sebut dan mereka berkata: Engkau benar.” Dan (rasa cinta) kaum muslimin dekat kepada Ali di saat ia mengulangi kembali untuk menyeru kepada kebajikan. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Abu Bakar yang mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Peperangan di Yamamah telah banyak merenggut nyawa sahabat yang hafal Al Qur’an. Keadaan itu mengkhawatirkan Umar, yaitu ayat-ayat Al Qur’an dapat menjadi lenyap. Umar lalu mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an menurut susunannya. Abu Bakar menyetujuinya dan menetapkan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an yang tertulis di pelepah kurma, lembaran kulit, pecahan genteng, batu-batu dan hafalan para sahabat, termasuk tempat ayat-ayat Al Qur’an menurut susunannya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Zaid ibn Tsabit, dia berkata: Abu Bakar mengutus kepadaku untuk membunuh penduduk Yamamah (di Yaman) dan di hadirat Abu Bakar adalah Umar (ibn Khathab), maka Abu Bakar berkata (kepadaku): Sungguh Umar datang kepadaku, lalu dia berkata: Sesungguhnya pembunuhan telah dahsyat memanas dalam peristiwa Yamamah dengan (wafatnya) para ahli Al-Quran, dan sungguh aku khawatir peperangan itu mengganas terhadap para ahli Al-Quran di negeri-negeri semuanya, maka sirnalah Al-Quran (dalam jumlah bacaan) banyak. Dan sungguh aku melihat (berpendapat) supaya engkau (Abu Bakar) memerintahkan penghimpunan Al-Quran.” Aku (Abu Bakar) berkata (kepada Umar): Bagaimana aku akan melaku­kan sesuatu yang belum dilakukan oleh Rasulullah SAW? Maka Umar berkata: (Penghimpunan) itu, demi Allah, adalah bagus, maka Umar se­lalu mengulang-ulang dalam masalah ini kepadaku sehingga Allah melapangkan dadaku terhadap sesuatu dimana Allah telah melapanglan dada Umar terhadap sesuatu itu, dan aku melihat (berpendapat) dalam masalah demikian pada penglihatan Umar. Zaid berkata: Abu Bakar berkata (kepadaku): Dan sungguh kamu adalah seorang laki-laki muda lagi berakal, tidak kami sangsikan kamu, sedang kamu dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah SAW, maka telitilah Al-Quran itu dan himpunlah.” Zaid berkata: Maka demi Allah, seandainya beliau (Abu Bakar) menuntut aku untuk memindah sebuah gunung dari gunung-gunung, niscaya tidak­lah demikian itu lebih berat bagiku daripada apa yang dituntutkan (Abu Bakar) kepadaku itu.” Aku mengatakan: Bagaimana kamu (berdua: Abu Bakar dan Umar) melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW? Abu Bakar berkata: Itu, demi Allah, adalah bagus.” Lalu Abu Bakar selalu menganjurkan aku untuk berpikir ulang, hingga Allah melapangkan dada­ku kepada sesuatu dimana Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar kepada sesuatu itu, dan aku melihat (berpendapat) padanya itu suatu pendapat. Maka aku meneliti (menelusuri) Al-Quran, dengan menghimpunnya dari pelepah kurma, pagan (atau lembaran kulit atau pecahan genteng), batu-batu pipih dan (dari) dada orang-orang lelaki (yang hafal Al-Quran). Lalu aku menemukan akhir surat At-Taubah: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kaummu sendiri ….. “ (surat At Taubah ayat 128-129). (Aku dapatkan) bersama Khuzaimah (atau Abu Khuzaimah), maka aku menyusulkannya di dalam surat (At-Taubah) itu; dan adalah shahifahshahifah (lembaran-lembaran Al-Quran tersebut) berada di hadirat Abu Bakar semasa hidupnya hingga Allah Azza wa Jalla mewafatkannya. Kemudian (shahifah-shahifah itu berpindah) di hadirat Umar semasa hidupnya hingga Allah mewafatkannya. Kemudian (shahifah itu) di hadirat Hafsah binti Umar.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Abu Bakar memilih penggantinya sebelum wafat?”

 

Mudariszi: “Menjelang wafat, Abu Bakar meminta kepada para sahabat untuk menunjuk Umar sebagai Khalifah (pengganti) dirinya, dengan pertimbangan sebagai berikut:

 

Dari Abil Ahwash, dia berkata: Aku pernah mende­ngar Aisyah ditanya: Siapakah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai pengganti jika kebetulan beliau memerlukan seorang pe­ngganti? Aisyah menjawab: Abu Bakar. Ketika ditanya lagi: Lalu siapa setelah Abu Bakar? Aisyah menjawab: Umar. Dan ketika ditanya lagi: Kemudian siapa setelah Umar?” Aisyah menjawab: Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Itulah urutan terakhir yang disebutkan oleh Aisyah pada saat itu.” (HR Muslim)

 

Dari Zaidah dari Abdul Malik bin Umair dari Ribi bin Hirasy dari Hudzaifah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ikutilah dua orang Khalifah sesudah kami, yaitu Abu Bakar dan Umar. (HR Tirmidzi)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply