Dialog Seri 10: 85
Tilmidzi: “Siapakah yang menjadi Khalifah menggantikan Utsman?”
Mudariszi: “Dibunuhnya Khalifah Utsman dan banyaknya fitnah, membuat para sahabat lalu bermusyawarah untuk memilih Khalifah pengganti Utsman. Para sahabat lalu menyepakati Ali bin Abu Thalib sebagai Khalifah dengan pertimbangan sebagai berikut:
Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku akan menyerahkan bendera besok kepada seorang lelaki yang di atas tangannyalah Allah menaklukkan (Khaibar).” Ia (Sahl) berkata: “Semua orang menginap sambil bertengkar pada malam harinya mengenai siapakah yang akan diberi bendera itu?” Ketika pagi hari orang–orang datang kepada Rasulullah SAW semuanya mengharapkan agar diberi bendera itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Mereka menjawab: “Ia mengeluhkan (sakit) kedua matanya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kirimkanlah utusan kepadanya, lalu datanglah dengannya.” Ketika ia datang, beliau meludahi kedua matanya dan mendo’akannya. Lalu ia sembuh, sehingga seolah-olah tiada sakit (yang baru menimpa)nya. Kemudian Rasulullah SAW menyerahkan bendera kepadanya. Ali bertanya: “(Haruskah) saya memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?” Beliau menjawab: “Lakukanlah secara perlahan-lahan hingga kamu berhenti di (kampung) halaman mereka, lalu ajaklah mereka (masuk) Islam dan beritahukan kepada mereka hak-hak yang wajib bagi mereka, yaitu hak-haknya Allah di dalam Islam. Demi Allah, sesungguhnya Allah menunjukkan seorang laki-laki dengan (perantara) kamu adalah lebih baik dari pada kamu memiliki unta (berwarna) merah.” (HR Bukhari)
Dari Salamah bin Al Akwa, dia berkata: “Pada peristiwa pertempuran Khaibar, Ali bin Abu Thalib berangkat belakangan setelah Rasulullah SAW. Waktu itu dia memang sedang terserang penyakit mata. Dia mengatakan: “Sengaja aku berangkat belakangan sesudah Rasulullah SAW.” Tetapi akhirnya dia bisa menyusul Rasulullah SAW. Pada suatu sore dimana pagi harinya Allah memberikan kemenangan kepada pasukan Islam, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh akan aku berikan atau aku suruh memegang bendera besok seseorang yang dicintai Allah dan Rasul–Nya, dan yang mencintai Allah dan Rasul–Nya. Mudah-mudahan saja Allah memberikan kemenangan atasnya.” Tiba-tiba kami bertemu dengan Ali. Maka praktis hilanglah keinginanku untuk diberi bendera tersebut. Para sahabat sama berkata: “Inilah Ali.” Rasulullah SAW lalu memberikan bendera tersebut kepada Ali. Dan akhirnya Allah memang memberikan kemenangan atasnya.” (HR Muslim)
Dari Suhail bin Abi Shaleh dari Ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata: “Bahwa Rasulullah SAW berada di atas gunung Hira beserta Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah dan Az Zubair, lalu gunung itu bergerak, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Tenanglah karena tidak ada di atasmu melainkan seorang Nabi atau seorang sahabat dekat atau seorang yang mati syahid.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah Ali seperti Khalifah-Khalifah sebelumnya yaitu membesarkan dan meluaskan agama Islam dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah?”
Mudariszi: “Khalifah Ali berpidato pada suatu waktu sebagai berikut:
Dari Yazid bin Syarik, dia berkata: “Berkhutbah kepada kami Ali (bin Abu Thalib), lalu dia berkata: “Tidak kami miliki suatu kitab (dalam hukum syari’at) yang dapat kami baca selain Kitab Allah dan apa yang terdapat dalam shahifah (lembaran) ini.” Lalu dia berkata: “Di dalam shahifah ini terdapat (hukum-hukum) kejahatan melukai dan gigi-gigi unta (berat-ringannya unta diyat). Madinah adalah tanah haram antara gunung Ier sampai sana (gunung Uhud). Maka barangsiapa di Madinah ini memunculkan suatu perkara mungkar atau dia di Madinah ini melindungi orang yang memunculkan suatu perkara mungkar, maka baginya adalah laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya, pula tidaklah diterima darinya ibadah fardhu dan ibadah sunah. Dan barangsiapa menjadikan kekasih kepada orang-orang bukan kekasih-kekasihnya, maka baginya sepadan itu. Dan jaminan (keamanan) kaum muslimin adalah satu. Maka siapa merusak (perjanjian) terhadap seorang muslim, maka baginya adalah sepadan itu.” (HR Bukhari)
Pidato Ali di atas menunjukkan bahwa Ali menjalankan tugasnya sebagai Khalifah dengan mengikuti Al Qur’an As Sunnah. Ali mengikuti jejak Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar bin Kaththab dan Utsman bin Affan, bersama-sama dengan para sahabat yang ditugaskannya untuk berjihad di jalan-Nya guna menegakkan, membesarkan, meluaskan agama Islam. Ali berhasil menaklukan negeri-negeri di Asia Timur, Asia Tenggara, Eropa Timur, Afrika. Akibatnya, kekhalifahan atau pemerintahan (negara) Islam di bawah Ali bertambah luas dan agama Islam bertambah besar hingga banyak dipeluk oleh manusia atau penduduk bumi dari belahan timur bumi hingga ke barat bumi. Firman-Nya berikut ini terbukti menjadi berlaku bagi umat manusia di bumi yang menyembah-Nya:
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. (Al Baqarah 115)
Dan darimana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al Baqarah 150)
Tilmidzi: “Apakah Ali dapat mengatasi fitnah-fitnah yang timbul dari masa Khalifah Utsman?”
Mudariszi: “Ali dalam menjalankan tugasnya lebih banyak mengatasi fitnah-fitnah yang terjadi dari masa Khalifah Utsman. Salah satu permintaan para sahabat ketika memilih Ali sebagai Khalifah adalah menangkap dan menghukum pembunuh Utsman. Tapi tidak mudah bagi Ali untuk mengetahui pembunuh Utsman, karena pembunuh tersebut tidak bertindak sendiri. Fitnah telah menimbulkan sejumlah kelompok (golongan) yang tidak mau tunduk kepada Khalifah, kecuali sesuai dengan keinginan kelompok. Sehingga sulit untuk mengetahui kelompok pembunuh Utsman, apalagi mereka mengatakan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah SAW telah menjelaskan kelompok itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Di tengah-tengah ummatku akan ada dua kelompok. Di antara keduanya muncul kelompok yang menyimpang, yang segera dibunuh oleh kelompok yang paling dekat dengan kebenaran.” (HR Muslim)
Ali bertugas mengatasi perselisihan di antara umat Islam yang berkelompok-kelompok dan berjanji akan menghukum kelompok yang salah, seperti dijelaskan berikut ini:
Dari Ali, ia berkata: “Putuskanlah (hukum) sebagaimana kamu telah memutuskan(nya). Sesungguhnya saya membenci perselisihan, sehingga semua orang menjadi satu kelompok (pendapat) atau saya mati sebagaimana teman-temanku telah mati.” Maka Ibnu Sirin berkeyakinan bahwa kebanyakan sesuatu yang diriwayatkan mengenai Ali (dari golongan Rafidhah) adalah dusta. (HR Bukhari)
Contoh, Ali menghukum orang-orang dari kelompok Rafidhah (Syi’ah) yang telah kufur karena mengutamakan Ali dan mencaci maki sebagian sahabat, sebagai berikut:
Dari Ikrimah, dia berkata: “Dihadirkan kepada orang–orang zindiq (orang-orang yang merahasiakan kekafiran dan menampakkan keislaman, atau orang-orang yang tidak mengikuti suatu agama, atau kelompok dari golongan Rafidhah pengikut Abdullah bin Saba yang mengatakan bahwa Ali adalah Tuhan), maka dia membakar mereka. Lalu demikian ini terdengar oleh Abdullah ibn Abbas, maka dia berkata: “Seumpama itu aku maka tidaklah aku membakar mereka, karena larangan Rasulullah SAW membunuh dengan api: “Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah”, dan pastilah aku membunuh mereka karena sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Ali berhasil menangkap dan menghukum pembunuh Utsman?”
Mudariszi: “Setelah sekian lama menjadi Khalifah, Ali belum juga mengetahui pembunuh Utsman. Selain itu, kelompok-kelompok yang menyimpang juga tidak habis tertumpas. Misalnya orang-orang dari kelompok Rafidhah yang telah dihukum oleh Ali tetap berdiri. Mereka mengatakan bahwa Ali yang seharusnya menjadi Khalifah setelah Rasulullah SAW (bukan Abu Bakar). Aisyah mendengar fitnah itu, lalu mengatakan sebagai berikut:
Dari Al-Aswad, dia mengatakan: “Orang-orang menuturkan di hadapan Aisyah bahwa Ali menerima wasiat (kekhalifahan), maka Aisyah berkata: “Kapan beliau berwasiat kepadanya sedangkan aku adalah orang yang menyandarkan beliau pada dadaku (atau pangkuanku) lalu beliau meminta wadah (dari tembaga), maka sungguh beliau memiringkan badan pada pangkuanku, maka aku tidak merasakan bahwa beliau sungguh telah meninggal. Maka kapan beliau berwasiat kepadanya?” (HR Bukhari)
Belum berhasilnya Ali menangkap pembunuh Utsman dan adanya kelompok Rafidhah yang mengutamakan Ali telah membuat Aisyah dan sahabat Thalhah dan Az Zubair menduga Ali tidak sungguh-sungguh ingin menangkap pembunuh Utsman. Karena itu mereka pergi ke Basrah dengan membawa pasukan guna berbicara dengan Ali, yaitu sebagai berikut:
Dari Abu Maryam (yaitu) Abdullah ibn Ziyad Al-Asadi, dia berkata: “Ketika Thalhah (ibn Ubaidillah), Az-Zubair (ibn Al-‘Awwam) dan Aisyah berangkat ke Basrah.” (HR Bukhari)
Tilmidzsi: “Apakah Ali memerangi pasukan Aisyah, Thalhah, Az Zubair?”
Mudariszi: “Di antara pendukung Ali terdapat pula sejumlah sahabat Rasulullah. Ali yang mengetahui kedatangan Aisyah ke Basrah, lalu meminta para sahabat agar tetap berada di pihaknya. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Maryam (yaitu) Abdullah ibn Ziyad Al-Asadi, dia berkata: “Ketika Thalhah (ibn Ubaidillah), Az-Zubair (ibn Al-‘Awwam) dan Aisyah berangkat ke Basrah, maka Ali mengutus Ammar ibn Yasir dan Hasan ibn Ali (ibn Abi Thalib). Lalu dua orang ini datang kepada kami di Kufah, dan keduanya naik mimbar (di masjid), maka adalah Hasan ibn Ali di atas mimbar paling tinggi dan Ammar berdiri lebih rendah daripada Hasan. Maka kami berkumpul kepada beliau (Hasan), lalu aku mendengar Ammar berkata: “Sesungguhnya Aisyah telah berangkat ke Basrah; dan demi Allah, sungguh dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat, tetapi Allah Tabaraka Wa Ta’ala menguji kalian untuk diketahui olehnya (Ammar): kepadanyakah kalian berpatuh ataukah kepadanya (Aisyah).” (HR Bukhari)
Para sahabat tersebut enggan untuk turut serta dalam berselisih dengan Aisyah yang merupakan isteri Rasulullah. Tapi Ali bukan ingin memerangi Aisyah, Ali hanya ingin agar sahabat itu mendukungnya supaya Aisyah dan semua sahabat tidak salah paham karena belum tertangkapnya pembunuh Utsman. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Wail, dia berkata: “Abu Musa dan Abu Mas’ud masuk (menemui) kepada Ammar (ibn Yasir) ketika ia dikirim oleh Ali ke penduduk Kufah untuk memberangkatkan mereka (ke Basrah menghadapi pasukan Aisyah), maka keduanya berkata (kepada Ammar): “Tidaklah kami melihat kamu melakukan suatu perkara yang lebih dibenci menurut kami daripada sikapmu terhadap perkara (menghadapi pasukan Aisyah) ini, sejak kamu masuk Islam.” Maka Ammar berkata: “Tidaklah aku melihat pada kamu (berdua) sejak kamu masuk Islam, suatu perkara yang lebih dibenci menurut aku daripada kelambatan kamu dalam perkara ini.” Dan Abu Mas’ud memakaikan satu pakaian satu pakaian kepada dua orang, kemudian mereka (bertiga) pergi ke masjid (untuk shalat Jum’at).” (HR Bukhari)
Pada akhirnya tidak terjadi perang (Jamal) antara pasukan Aisyah dengan pasukan Ali. Aisyah meninggalkan Basrah dan kembali ke Madinah. Tetapi Thalhah dan Az Zubair terbunuh dalam perjalanan kembali ke Madinah oleh pasukan Ali, yaitu oleh kelompok yang menyimpang. Salah seorang sahabat mengatakan sebagai berikut:
Dari Abu Bakrah, dia berkata: “Sungguh benar Allah memberi manfaat kepadaku dengan kalimat (yang mengena pada) peristiwa Jamal (peperangan antara Ali ibn Abu Thalib dengan Aisyah yang menunggang unta), yaitu ketika Rasulullah SAW menerima berita bahwa bangsa Parsi mengangkat putri Kisra sebagai Raja, beliau bersabda: “Tidaklah akan beruntung suatu kaum yang menguasakan urusan mereka kepada orang perempuan.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah dengan kembalinya Aisyah ke Madinah maka tidak ada lagi sahabat yang menuntut agar Ali menangkap dan menghukum pembunuh Utsman?”
Mudariszi: “Masih ada sahabat Rasulullah yang tetap menuntut Ali agar menangkap dan menghukum pembunuh Utsman yaitu Mu’awiyah yang merupakan saudara Utsman. Mu’awiyah ketika itu gubernur di Syam yang diangkat oleh Utsman. Mu’awiyah minta sahabat lain agar mendukungnya mencaci maki Ali, seperti dijelaskan sebagai berikut:
Dari Amr bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari Ayahnya, dia berkata: “Mu’awiyah bin Abu Sufyan pernah bertanya kepada Sa’ad: “Kenapa kamu enggan mencaci-maki Abu Turab atau Ali?” Sa’ad menjawab: “Aku ingat pada tiga hal yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW dimana salah satunya lebih aku sukai ketimbang unta sekandang. Itulah makanya aku tidak akan pernah mau mencaci-makinya. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali saat dia ditugasi menjaga kota dan tidak boleh ikut dalam sebuah peperangan. Saat itu Ali merasa keberatan dan berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda membiarkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidakkah kamu rela jika kedudukanmu terhadapku itu seperti kedudukan Harun terhadap Musa? Hanya saja sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sesudahku.” Pada peristiwa perang Khaibar, aku pernah mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya aku akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul–Nya, dan yang dicintai Allah dan Rasul–Nya.” Waktu itu aku sangat berambisi sekali untuk bisa membawa bendera itu. Beliau bersabda: “Panggilkan aku Ali.” Ali pun datang dalam keadaan sedang menderita sakit mata. Setelah meludahi matanya, beliau lalu menyerahkan bendera itu kepadanya. Ternyata Allah memberikan kemenangan dapat menaklukkan Khaibar. Dan ketika turun ayat berikut ini (surat Al Imran ayat 61): “Maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu”, Rasulullah SAW memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain seraya bersabda: “Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku.” (HR Muslim)
Dari Sahel bin Sa’ad, dia berkata: “Seorang laki-laki dari keluarga Marwan diangkat sebagai gubernur di Madinah. Satu hari dia memanggil Sahel bin Sa’ad dan menyuruhnya supaya mau mencaci-maki Ali. Namun Sahel tidak mau. Dia lalu berkata kepada Sahel: “Jika kamu memang tidak mau, katakan saja: “Mudah-mudahan Allah mengutuk Ali.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah semua sahabat Rasulullah terlibat dalam perang itu?”
Mudariszi: “Tidak semua sahabat Rasulullah mau ikut dalam perang saudara itu, contoh sahabat tersebut yaitu sebagai berikut:
Dari Harmalah (maula Usamah ibn Zaid), dia berkata: “Aku diutus oleh Usamah (dari Madinah) kepada Ali (di Kufah, untuk minta harta) dan dia berkata: “Sungguh dia (Ali) akan bertanya kepadamu sekarang, maka dia berkata: “Apakah yang menahan saudaramu (Usamah, hingga tidak membela aku di Jamal dan Shiffin)?” Maka katakanlah kepadanya: “Usamah berkata kepadamu: “Seandainya kamu berada di sisi mulut macan, niscaya aku senang bersama kamu disana (mulut macan), tetapi (peperangan antar kaum muslimin) ini merupakan perkara yang aku tidak berpendapat padanya.” Lalu dia (Usamah) tidak memberi sesuatu kepadaku (Harmalah), maka aku pergi kepada Hasan, Husain dan (Abdullah) ibnu Ja’far, maka mereka memenuhi muatan untukku pada tungganganku.” (HR Bukhari)
Meskipun ada pula sahabat yang ikut dalam perang saudara itu dengan membela salah satu sahabat, contoh sahabat tersebut sebagai berikut:
Dari Al-Hasan (Al-Bashari), dia berkata: “Aku keluar dengan (membawa) senjataku pada hari-hari fitnah (perang Jamal dan perang Shiffin), maka Abu Bakrah menyambutku lalu dia berkata: “Kemana kamu berkehendak?” Aku menjawab: “Aku berkehendak membela putra paman Rasulullah SAW (yakni Ali ibn Abu Thalib).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan perang saudara itu?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang perang saudara itu sebagai berikut:
Dari Zainab ibnti Jahsy (istri Rasulullah), bahwa sesungguhnya ia berkata: “Rasulullah SAW terbangun dari tidur dengan wajah beliau memerah seraya bersabda: “Laaa ilaaha illallaah, celakalah bangsa Arab oleh kejahatan yang telah dekat (yakni perselisihan yang terjadi antara kaum muslimin, berupa peristiwa yang menimpa Utsman dan peristiwa antara Ali dan Mu’awiyah).” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah kiamat tiba hingga dua golongan (pasukan Ali dan pasukan Mu’awiyah bin Abu Sufyan) berperang sedangkan seruan keduanya adalah satu.” (Masing-masing menyatakan sebagai yang benar dan lawannya sebagai yang bathil, menurut ijtihad masing-masing). (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan tentang Ali?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan Ali sebagai berikut:
Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, dia berkata: “Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abu Thalib untuk tidak usah ikut dalam perang Tabuk. Ali berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda biarkan aku hanya disuruh menjaga kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah SAW bersabda: “Tidakkah kamu rela jika kedudukanmu terhadapku adalah seperti kedudukan Harun terhadap Musa? Hanya saja sesudahku nanti tidak ada seorang Nabi pun.” (HR Muslim)
Dari Yazid bin Hayyan, dia berkata: “Aku, Hushain bin Sairah dan Umar bin Muslim pernah menemui Zaid bin Arqam. Saat kami semua sedang bertatap muka dengan Zaid bin Arqam itulah, Hushain berkata: “Wahai Zaid, Anda telah mendapatkan kebajikan yang banyak. Anda telah melihat Rasulullah, mendengar hadits-haditsnya, ikut berperang bersama beliau dan juga sembahyang di belakang beliau. Jadi Anda tentu telah mendapatkan kebajikan yang banyak, wahai Zaid. Karena itu, ceritakan kepadaku sebagian yang pernah anda dengar dari Rasulullah SAW, wahai Zaid.” Zaid berkata: “Wahai putera saudaraku, demi Allah, aku ini sudah tua usiaku sudah lanjut, sehingga aku sudah lupa beberapa hal yang pernah aku dengar dan aku pelihara dari Rasulullah SAW. Jadi apa yang aku ceritakan kepadamu, maka terimalah. Dan yang tidak, maka jangan paksa aku menceritakannya.” Kemudian Zaid bin Arqam bercerita: “Pada suatu hari Rasulullah SAW berpidato di tengah-tengah kami tepatnya di sebuah mata air bernama Humma yang terletak antara Makkah dan Madinah. Setelah memanjatkan puja-puji ke hadirat Allah, memberikan nasehat dan peringatan, kemudian bersabda: “Syahdan. Wahai manusia! Sesungguhnya aku juga seorang manusia. Utusan Tuhanku datang, maka aku pun menyambutnya. Di tengah-tengah kalian aku meninggalkan dua hal yang sangat berat sekali, yang pertama ialah Kitab Allah yang mengandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah Kitab Allah itu dan berpegang teguhlah padanya.” Makanya beliau selalu menganjurkan supaya berpegang teguh pada Kitab Allah dan merasa senang padanya. “Dan yang kedua ialah anggota keluargaku. Aku memperingatkan kalian kepada Allah tentang anggauta keluargaku. Aku memperingatkan kalian kepada Allah tentang anggauta keluargaku. Sekali lagi aku memperingatkan kalian kepada Allah tentang anggauta keluargaku.” Hushain lalu bertanya kepada Zaid: “Siapa anggauta keluarga Rasulullah, wahai Zaid? Bukankah semua isteri Rasulullah SAW berarti termasuk anggauta keluarga beliau?” Zaid menjawab: “Isteri-isteri Rasulullah SAW memang termasuk anggauta keluarga beliau. Tetapi yang dimaksud dengan anggauta keluarga disini ialah Ayahnya dan para ahli waris nya yaitu orang-orang yang haram menerima sedekah sepeninggalan beliau.” Hushain bertanya: “Siapa saja mereka itu?” Zaid menjawab: “Mereka ialah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Hushain bertanya sekali lagi: “Jadi mereka semua itu haram menerima sedekah?” Zaid menjawab: “Benar.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Mu’awiyah memerangi Ali?”
Mudariszi: “Ya! Mu’awiyah membawa pasukan untuk menuntut pembunuh Utsman. Bagi Ali itu merupakan tanda ingin berperang karena Mu’awiyah mengetahui jika pembunuh Utsman belum dapat ditangkap dan dihukum. Ali membawa pasukannya pula sehingga terjadi perang (Shiffin) di antara kedua belah pihak. Ali memenangi peperangan dan lalu diadakan tahkim (mendamaikan perselisihan di antara mereka) karena sesama muslim. Tapi ada kelompok di pasukan Ali yang tidak menyetujui tahkim itu. Kelompok itu mengatakan sebagai berikut:
Dari Ubaidillah bin Abi Rafi, bekas budak Rasulullah SAW, ia berkata: “Ketika golongan Khawarij muncul, pada saat itu Ubaidillah bersama Ali bin Abi Thalib, mereka berkata: “Tak ada hukum (ketetapan, kekuasaan) kecuali bagi Allah.” (HR Muslim)
Ali mengetahui kelompok tersebut yaitu kelompok Khawarij karena Ali mengetahui dari Rasulullah SAW. Ali mengatakan tentang kelompok Khawarij itu sebagai berikut:
Dari Ubaidillah bin Abi Rafi, bekas budak Rasulullah SAW, ia berkata: “Ketika golongan Khawarij muncul, pada saat itu Ubaidillah bersama Ali bin Abi Thalib, mereka berkata: “Tak ada hukum (ketetapan, kekuasaan) kecuali bagi Allah.” Ali menanggapi: “Perkataan benar yang digunakan secara salah. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melukiskan sifat manusia. Aku benar-benar mengenal sifat mereka pada orang-orang itu: “Mereka mengatakan kebenaran dengan lisan mereka yang tidak melewati ini mereka (Rasulullah SAW menunjuk tenggorokan beliau). Di antara makhluk Allah yang dibenci dari mereka adalah seorang hitam yang salah satu tangannya ada seperti mata susu kambing.” (HR Muslim)
Dan kelompok Khawarij yang tidak meyetujui tahkim itu kemudian keluar dari pasukan Ali.”
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menjelaskan kelompok Khawarij?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang kelompok Khawarij tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Salamah dan Atha ibn Yasar, bahwa sesungguhnya keduanya datang kepada Abu Sa’id al-Khudriy, lalu keduanya bertanya kepadanya tentang kaum Hururiyah (kaum di Kufah yang memusuhi dan memerangi Ali bin Abu Thalib): “Adakah kamu mendengar Rasulullah SAW (menutur mereka)?” Abu Sa’id menjawab: “Aku tidak tahu apakah itu Haruriyah. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar dalam umat ini suatu kaum yang kamu menghinakan (menganggap kecil) shalat kamu di hadapan shalat mereka, mereka membaca Al-Qur’an sedangkan Al-Qur’an itu tidak melewati leher atau kerongkongan mereka, dimana mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari sasaran, maka pemanah memandangi pada anak panahnya, pada mata anak panah, pada pembalutnya, maka ia bimbang pada pangkalnya (yang diletakkan pada tali busur), apakah sedikit darah membercak padanya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dia berkata: “Ketika kami di hadirat Rasulullah SAW dan beliau sedang membagikan suatu pembagian, tiba-tiba datang kepada beliau Dzulkhuwaishirah, yaitu laki-laki dari bani Tamim, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, adillah (dalam membagi).” Beliau bersabda: “Celaka kamu. Siapa yang akan adil jika aku tidak adil. Sungguh kau celaka dan kau merugi jika aku tidak adil (karena mengikuti orang yang tidak adil).” Lalu Umar berkata: “Izinkanlah aku padanya, aku penggal lehernya.” Beliau bersabda: “Biarkanlah ia. Sungguh ia mempunyai kawan-kawan; seorang dari kamu mengejek shalatnya yang bersama shalat mereka dan puasanya yang bersama puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an yang tidak melampaui tulang selangka mereka (Allah tidak menerima). Mereka lepas dari agama sebagaimana anak panah lepas (menembus) dari buron; dipandangi pada anak panah itu maka tidaklah didapati padanya sesuatu (bekas; darah atau lainnya), lalu dipandangi pada balut anak panah itu maka tidaklah didapati padanya sesuatu (bekas), lalu dipandangi pada batang anak panah itu maka tidaklah didapati padanya sesuatu (bekas), lalu dipandangi pada bulu anak panah itu maka tidaklah didapati padanya suatu (bekas). Anak panah itu mendahului kotoran dan darah (sehingga tidak berbekas, sebagaimana mereka tidak tersangkut sama sekali pada Islam). Tanda mereka adalah seorang laki-laki hitam (bernama Nafi atau Dzulkhuwaishirah) yang salah satu lengannya seperti tetek (buah dada) perempuan atau seperti sepotong daging yang bergerak-gerak, dan mereka keluar di masa berpecah dari manusia (Ali dan para pengikutnya).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Ali memerangi golongan Khawarij tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Diceritakan oleh Zaid bin Wahb Al Juhaniy, beliau berada dalam pasukan yang bersama Ali bergerak menuju golongan Khawarij. Ali berkata: “Wahai manusia! Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Akan muncul satu kaum di antara ummatku. Mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian dibanding dengan bacaan mereka, bukan apa-apa. Shalat kalian dibanding dengan shalat mereka, bukan apa-apa. Begitu pula puasa kalian dibanding dengan puasa mereka, bukan apa-apa. Mereka membaca Al Qur’an. Mereka mengira Al Qur’an itu akan memberikan pahala bagi mereka, padahal akan menambah siksa atas mereka. Bacaan mereka tidak melampaui tulang selangka mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus binatang buruan.” Seandainya pasukan yang mendapatkan mereka tahu apa yang telah ditetapkan bagi mereka melalui lisan Rasulullah SAW, tentu mereka mengandalkan amal. Sebagai tanda dari hal itu ialah bahwa di antara mereka terdapat seorang lelaki yang mempunyai lengan atas, tetapi tidak ada hastanya. Pada pangkal lengannya ada semacam mata susu dan padanya terdapat bulu-bulu (rambut) putih. Lalu kalian pergi kepada Mu’awiyah serta penduduk Syam, dan kalian biarkan mereka menggantikan kalian mengurusi anak-cucu dan harta-benda kalian. Demi Allah! Sungguh, aku mengharap merekalah kaum tersebut. Sebab, mereka telah banyak menumpahkan darah yang terlarang dan menyergap ternak orang. Berangkatlah kalian atas nama Allah!” Salamah bin Kuhail berkata: “Lalu Zaid bin Wahb menerangkan kedudukan pasukan kepadaku, sampai dia berkata: “Kami melintas di atas jembatan. Dan kamipun bertemu. Ketika itu pada golongan Khawarij terdapat Abdullah bin Wahb Ar Rasibiy. Dia berkata kepada mereka: “Lemparkanlah tombak kalian dan hunuslah pedang-pedang kalian dari sarungnya! Karena aku khawatir mereka akan menyumpah kalian sebagaimana dulu mereka menyumpah kalian pada perang Harura.” Merekapun kembali, lalu melontarkan tombak-tombak mereka, menghunus pedang-pedang mereka, dan orang-orang juga menusukkan tombak kepada mereka. Sebagian mereka terbunuh atas sebagian yang lain. Ketika itu, di antara orang-orang (kaum muslimin) yang terkena hanya dua orang. (HR Muslim)
Setelah mengalahkan kelompok Khawarij, Ali lalu memerintahkan pasukannya sebagai berikut:
Diceritakan oleh Zaid bin Wahb Al Juhaniy, beliau berada dalam pasukan yang bersama Ali bergerak menuju golongan Khawarij. Lalu Ali berkata: “Carilah orang yang cacat di antara mereka!” Orang-orang mencarinya, tapi tidak dapat menemukannya. Kemudian Ali melakukan sendiri hingga ketika sampai di tengah-tengah manusia yang telah terbunuh satu sama lain, beliau berkata: “Tangguhkan mereka!” Ternyata mereka temukan orang dimaksud telah terkapar di tanah. Ali bertakbir, kemudian berkata: “Maha benar Allah dan Rasul–Nya telah menyampaikan!” Lalu Abidah As Salmaniy berdiri dan bertanya: “Ya Amirul Mu’minin! Apakah engkau berani bersumpah demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, bahwa engkau benar-benar mendengar hadis ini dari Rasulullah SAW?” Ali menjawab: “Ya, demi Allah yang tiada tuhan selain Dia!” Abidah meminta Ali untuk bersumpah sampai tiga kali, dan Ali pun bersumpah kepadanya. (HR Muslim)
Dari Ubaidillah bin Abi Rafi, bekas budak Rasulullah SAW, ia berkata: “Ketika golongan Khawarij muncul, pada saat itu Ubaidillah bersama Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib membunuh mereka, dia berkata: “Periksalah!” Orang-orangpun memeriksa, tetapi tidak menemukan apa-apa. Ali berkata lagi: “Kembalilah! Demi Allah, aku tidak berbohong dan tidak dibohongi.” Beliau katakan itu dua atau tiga kali. Kemudian orang-orang menemukan orang yang dicari dalam reruntuhan. Mereka membawanya dan meletakkannya di depan Ali.” (HR Muslim)
Dari Abu Sa’id, dia berkata: “Aku bersaksi bahwa aku mendengar ini dari Rasulullah SAW. Dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan aku ikut bersamanya. Ali memerintahkan untuk mencari lelaki itu. Setelah ketemu, dia dibawa menghadap sehingga aku dapat melihatnya sesuai dengan keadaan yang dilukiskan oleh Rasulullah SAW.” (HR Muslim)
Pasukan Ali akhirnya menemukan orang Khawarij yang dibunuh oleh mereka dan orang itu seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW kepada Ali, yaitu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa Rasulullah SAW menuturkan suatu kaum yang ada pada ummat beliau. Mereka keluar pada perselisihan kaum muslimin. Tanda mereka adalah kepala pelontos. Rasulullah SAW bersabda: “Mereka adalah makhluk (orang) yang paling buruk. Mereka akan dibunuh oleh kelompok yang paling mendekati kebenaran di antara dua kelompok.” Lalu Rasulullah SAW membuat perumpamaan bagi mereka, atau beliau bersabda: “Seseorang memanah binatang buruan (atau: sasaran), lalu dia melihat pada mata anak panahnya, tapi tidak melihat bukti (darah yang menunjukkan panahnya mengenai sasaran). Dia melihat pada batang anak panah, tapi tidak melihat bukti. Dia melihat pada pangkal anak panah, dia juga tidak melihat bukti.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu tidak ada lagi perang di antara muslim?”
Mudariszi: “Setelah tahkim, tidak ada lagi perang di antara sesama muslim. Tapi kelompok Khawarij yang masih hidup berniat membunuh Ali, dan mereka berhasil membunuh Ali di waktu Subuh ketika Ali menuju ke mesjid untuk shalat Subuh. Umat Islam lalu membai’at Hasan bin Ali sebagai Khalifah karena harus ada pemimpin di kekhalifahan atau pemerintahan Islam, seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hazim, dia berkata: “Selama lima tahun aku berkawan dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengar dia menceritakan suatu hadits dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Qrang-orang Bani Israil itu selalu diatur oleh para Nabi. Seorang Nabi meninggal dunia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lainnya. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi sama sekali sesudahku. Dan kelak akan bermunculan para Khalifah.” Para sahabat bertanya: “Lantas apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Rasulullah SAW menjawab: “Penuhilah pembai’atan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.