Apakah Para Sahabat Menepati Janji Meluaskan Agama Islam?

Dialog Seri 10: 86

 

Tilmidzi: “Bagaimana Hasan sebagai Khalifah menjalankan tugasnya?”

 

Mudariszi: “Ketika terjadi tahkim (perdamaian) antara Ali dengan Mu’awiyah, Ali masih sebagai Amirul Mu’minin (Khalifah). Ketika Ali terbunuh, sahabat lalu mengangkat Hasan bin Ali sebagai Khalifah. Hasan tidak menghendaki jabatan Khalifah tersebut. Hasan lalu melanjutkan tahkim tersebut dengan menyerahkan jabatan Khalifah kepada Mu’awiyah, melalui pertemuan sebagai berikut:

 

Dari Sufyan ibn Uyainah, dia berkata: Israil (yaitu) Abu Musa (Al-Basir) berkata: Al-Hasan (Al-Bashri) meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ketika Hasan ibn Ali berangkat kepada Muawiyah (ibn Abi Sufyan) dengan beberapa pasukan, Amr ibn Al-Ash berkata kepada Muawiyah: “Aku melihat (berpendapat bahwa) satu pasukan tidak berpaling (mundur) sehingga pasukan sepadan (dari pihak lawan atau pasukan yang akhir di belakang dari pihaknya) berbalik.” Muawiyah berkata: Siapakah yang (akan mengurus) kepada anak-anak kaum muslimin (bila Ayah mereka terbunuh)? Maka dia berkata: Aku (yang akan menanggung mereka).” Maka Abdulah ibn Amir dan Abd Al-Rahman ibn Samurah berkata: Kami bertemu dengan dia (Muawiyah), maka kami membicarakan perdamaian kepadanya.Al-Hasan (Al-Bashri) berkata: Dan sungguh aku mendengar Abu Bakrah mengatakan: Ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah, datanglah Hasan (ibn Ali), maka Rasulullah SAW bersabda: Putraku ini adalah pemimpin, dan semoga Allah mendamaikan antara dua golongan dari kaum muslimin dengan perantara dia.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Bakrah, dia berkata: “Rasulullah SAW pada suatu hari mengeluarkan Hasan (bin Ali bin Abu Thalib), lalu beliau naik ke mim­bar dengan membawa Hasan, lalu beliau bersabda: Anakku ini adalah pemimpin. Semoga dengan dia Allah mendamaikan antara dua golongan (golongan Muawiyah bin Abu Sufyan dan golongan Hasan bin Ali) dari kaum muslimin.” (HR Bukhari)

 

Dengan Hasan menyerahkan jabatan Khalifah kepada Mu’awiyah, maka dua pihak umat Islam tersebut tidak lagi berselisih (bermusuhan) dan Mu’awiyah menjadi Khalifah.”

 

Tilmidzi: “Apakah dengan Mu’awiyah menjadi Khalifah berarti Ali penutup Khalifah dari sahabat Rasulullah?”

 

Mudariszi: “Mu’awiyah adalah putera Abu Sufyan yang merupakan sahabat Rasulullah. Mu’awiyah pernah tinggal bersama Rasulullah, sehingga Mu’awiyah menjadi termasuk sahabat generasi putera sahabat. Dengan demikian, kekhalifahan yang dipimpin oleh sahabat Rasulullah itu terdiri dari empat Khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar bin Kaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Mereka dikatakan Khalifah Rasyidin dengan memimpin kekhalifahan selama tiga puluh tahun, dan hal itu sesuai sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Said bin Jumhan, dia berkata: Safinah men­ceritakan kepadaku dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Khalifah dalam umatku tiga puluh tahun, kemudian kerajaan setelah itu.” Kemu­dian Safinah berkata kepadaku: Hitunglah dengan jari-jarimu masa Khalifah Abu Bakar. Kemudian dia berkata: “Dan masa Khalifah Umar dan masa Khalifah Utsman. Kemudian berkata: Hitunglah masa Kha­lifah Ali.” Maka kami jumpainya tiga puluh tahun.” (HR Tirmidzi)

 

Kekhalifahan atau pemerintahan (negara) Islam di bawah Khalifah Rasyidin itu bukan kerajaan, tapi tidak salah jika kekhalifahan tersebut dikatakan sebagai Dinasti Rasulullah, karena dua Khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar bin Kaththab adalah mertua Rasulullah SAW, dan dua Khalifah terakhir yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib adalah menantu Rasulullah SAW. Dinasti Rasulullah itu terjadi karena Allah SWT, yaitu Dia meninggikan Rasulullah SAW melalui Khalifah Rasyidin tanpa diketahui oleh beliau dan oleh para sahabat beliau.”

 

Tilmidzi: “Mengapa keempat Khalifah itu dikatakan sebagai Khalifah Rasyidin?”

 

Mudariszi: “Karena keempat Khalifah tersebut mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam memimpin kekhalifahan atau pemerintahan Islam bersama-sama dengan para sahabat lain yang menjadi pemimpin perang dan pemimpin negeri (gubernur) dalam membesarkan, meluaskan dan menguatkan agama Islam. Pengalaman bersama Rasulullah SAW ketika beliau menyampaikan Al Qur’an dan menegakkan agama Islam dengan menaklukan negeri-negeri di Jazirah Arab, menjadi pelajaran bagi para sahabat dalam menguatkan agama Islam dan membesarkan Allah SWT. Mereka menaklukan negeri-negeri di belahan timur bumi hingga ke belahan barat bumi, sehingga agama Islam meluas dan menguat di benua Asia, Eropah dan Afrika. Kebanyakan penduduk di negeri-negeri itu memeluk agama Islam. Nama Allah SWT membesar di belahan bumi itu karena senantiasa diucapkan oleh penduduk bumi tersebut ketika shalat, bertasbih dan berzikir. Allah SWT berfirman:

 

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. (Al Baqarah 115)

 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah 177)

 

Dan darimana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al Baqarah 150)

 

Khalifah Rasyidin bersama-sama dengan para sahabat lain telah membantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan Al Qur’an kepada manusia, menegakkan agama Islam di bumi, membesarkan Allah SWT.”

 

Tilmidzi: “Apakah Khalifah Rasyidin menguatkan agama Islam dan membesarkan Allah SWT karena Dia dan Rasulullah SAW perintahkan?”

 

Mudariszi: “Khalifah Rasyidin menguat agama Islam dan membesarkan Allah SWT itu karena perintah-Nya, yaitu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Fath 8)

 

Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Fath 9)

 

Para sahabat Rasulullah (termasuk Khalifah Rasyidin) lalu berjanji setia kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW di bawah pohon (Bai’atir Ridhwan) ketika di Hudaibiyah hingga mereka kemudian diridhai-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al Fath 10)

 

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. (Al Fath 18)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabat jika mereka menepati janji setia mereka itu, sebagai berikut:

 

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya), dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min, dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Fath 20-21)

 

Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 22-23)

 

Dari Abdullah bin Maslud menceritakan dari ayahnya berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian menang atas musuh-musuh, memperoleh harta rampasan serta dibukakan negara-negara bagimu. Barangsiapa memperoleh hal itu, maka hendaklah ia takut kepada Allah, hendaklah memerintahkan kepada kebaikan, hendaklah mencegah perbuatan munkar dan barangsiapa berbuat dusta atasku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Kisra (gelar Raja Persi) telah mati, maka tidak ada Kisra lagi sesudahnya; dan apabila Kaisar (gelar Raja Rum) sudah binasa, maka ti­dak ada Kaisar lagi sesudahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, kekayaan mereka berdua akan diinfakkan untuk sa­bilillah. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bukankah itu berarti agama Islam diluaskan di muka bumi dengan berperang?’

 

Mudariszi: “Agama Islam diluaskan bukan dengan berperang sekalipun kenyataannya demikian. Allah SWT menghendaki manusia menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti agama Islam, yaitu agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an agar mereka selamat di dunia dan di akhirat. Dalam agama Islam yang untuk manusia itu, Allah SWT menjelaskan jalan-Nya yaitu jalan yang lurus, sebagai berikut:

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (An Nahl 9)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Allah SWT kemudian memerintahkan manusia sebagai berikut:

 

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)

 

Meskipun demikian, Allah SWT tidak memaksa manusia untuk memeluk agama Islam dan Dia tidak pula menghalang-halangi orang-orang yang ingin menjadi kafir (tidak mau beriman kepada-Nya). Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (Al Kahfi 29)

 

Karena firman-Nya di atas, Allah SWT kemudian melarang umat Islam untuk memerangi orang-orang yang beragama selain agama Islam termasuk orang-orang kafir, yaitu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Mumtahanah 8-9)

 

Tapi orang-orang kafir yaitu orang-orang musyrik yang beragama menyekutukan Allah SWT (atau menyembah tuhan patung berhala) dan Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa, tidak menyukai agama Islam. Mereka menghalang-halangi manusia melalui ucapannya yang buruk (yang batil) agar agama Islam tidak diikuti hingga lenyap, atau agar jalan-Nya yang lurus menjadi bengkok. Allah SWT berfirman:

 

Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-Rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (Al Kahfi 56)

 

Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat. (Al A’raaf 44-45)

 

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)

 

Jika cara di atas tidak berhasil, maka mereka menganiaya dan memerangi orang-orang beriman. Contoh orang-orang beriman yang dianiaya dan diperangi ketika Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam dari sejak beliau di Mekkah hingga di Madinah. Karena itu Allah SWT lalu mengizinkan orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang kafir tersebut; Allah SWT tidak menghendaki agama Islam menjadi lenyap dan jalan-Nya menjadi bengkok. Allah SWT berfirman:

 

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.(Al Hajj 39-40)

 

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)

 

Khalifah Rasyidin dan para sahabat yang berjanji setia di bawah pohon (Bai’atir Ridhwan) itu ikut membantu Rasulullah SAW ketika beliau menyampaikan Al Qur’an kepada umat manusia dan menegakkan agama Islam di Jazirah Arab. Ketika itu Rasulullah SAW selalu membawa pasukan untuk berjaga-jaga jika diperangi oleh orang-orang kafir. Pengalaman mengikuti jejak Rasulullah SAW itulah yang membuat Khalifah Rasyidin dan para sahabat lalu membawa pasukan ketika menguatkan dan meluaskan agama Islam. Dengan demikian, takluknya negeri-negeri di berbagai belahan bumi di bawah Khalifah Rasyidin hingga agama Islam dipeluk oleh penduduk bumi itu bukan berarti agama Islam diluaskan dengan berperang. Perang itu terjadi karena adanya perlawanan dari orang-orang kafir yang tidak menyukai agama Islam yang diseru kepada mereka. Karena itu Allah SWT berfirman:

 

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? (Ash Shaff 7)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana Khalifah Rasyidin dan para sahabat dapat menguasai negeri-negeri di belahan timur hingga barat bumi?”

 

Mudariszi: “Khalifah Rasyidin dan para sahabat yang berjanji setia di bawah pohon (Bai’atir Ridhwan) melaksanakan janjinya dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW, contohnya sebagai berikut:

 

Dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya, dia berkata: Ketika Rasulullah SAW mengangkat seorang komandan pasukan, secara khusus beliau menyampaikan pesan atau wasiat kepad­anya supaya dia selalu bertakwa kepada Allah dan supaya dia selalu berbuat baik terhadap orang-orang Islam yang ikut bersamanya. Lebih lanjut Rasulullah SAW berpesan: Berperang di jalan Allah dengan senantiasa menyebut namaNya. Perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah dan jangan berkhianat dalam urusan harta rampasan atau ghanimah. Janganlah mengkhianati janji. Janganlah membunuh dengan cara yang sadis. Dan janganlah membunuh anak-anak kecil. Apabila kamu bertemu dengan musuhmu dari orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal. Dan apabila mereka mau me­nerima salah satu daripadanya, maka terimalah mereka dan bertakwalah selalu untuk memeranginya. Ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Apabila mereka mau menerima ajakanmu tersebut, maka terimalah mereka dan bertakwalah selalu di dalam memeranginya. Lalu ajaklah mereka berpindah dari kampung halamannya ke kampung halamannya para sahabat Muhajirin. Apabila mereka mau memenuhi ajakan tersebut, maka beritahukanlah bahwa mereka mempunyai hak dan ke­wajiban yang sama seperti sahabat-sahabat Muhajirin. Apabila mereka enggan berpindah dari kampung halamannya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka sama dengan orang-orang Arab lainnya yang tidak beroleh bagian sedikit pun dari harta rampasan perang, kecuali jika mereka ikut berjihad bersama orang Islam lainnya. Jika mereka menolak, maka mintalah upeti kepada mereka. Apabila ternyata mereka mau memberikan upeti tersebut, maka terimalah dan batal­kanlah untuk memeranginya. Tapi apabila mereka tidak mau memenuhinya, maka mohonlah pertolongan kepada Allah untuk memerangi mereka. Jika kamu mengepung sebuah benteng perlindungan, lalu orang-orang yang berada di dalam sama meminta keamanan atau ja­minan Allah dan RasulNya, maka janganlah kamu penuhi permintaannya itu. Tapi buatlah keamanan untuk mereka, sebab resikonya lebih ringan jika kamu harus merusak keamananmu sendiri ketimbang merusak keamanan Allah dan RasulNya. Apabila mereka menghendaki agar mereka ditempatkan pada hukum Allah, maka janganlah kamu lakukan. Lebih baik kamu berlakukan hukumanmu sendiri sebab kami tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya.” (HR Muslim)

 

Upeti dalam sunnah Rasulullah di atas yaitu jizyah atau pajak seperti yang diperintahkan-Nya kepada Ahli Kitab dan kepada orang-orang musyrik, yaitu sebagai berikut:

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah 29)

 

Dari Amr bin Dinar dari Bajalah bin Abdah, dimana ia berkata: Saya adalah penulis bagi Jaz bin Mu’awiyah di Manadzir, kemudian surat Umar datang kepada kami (yang berisi): “Perintahkanlah orang Majusi yang berada di hadapanmu, pungutlah pajak dari mereka, karena sesungguhnya Abdur Rahman bin Auf memberitahukan kepadaku bahwasanya Rasulullah SAW memungut pajak dari Majusi Hajar.” (HR Tirmidzi)

 

Contoh salah satu sahabat yang menjadi pemimpin perang ketika mengajak Raja Persia memeluk agama Islam, sebagai berikut:

 

Qutaibah menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceri­takan kepada kami dari Atha bin As-Saib dari Abul Bakhtari, dia berkata: “Bahwasanya sekelompok dari pasukan-pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Salman Al Farisi mengepung salah satu dari istana-istana Persia, kemudian mereka berkata: Wahai Abu Abdullah (tidak ada jalan lain) melainkan kita menyerang kepada mereka.” Ia berkata kepada me­reka: Biarkanlah aku mengajak mereka sebagaimana saya mendengar Rasulullah SAW mengajak mereka. Maka Salman datang kepada mereka den berkata: Sesungguhnya aku adalah salah seorang di antara kamu sekalian (yakni) orang Persia. Kamu melihat bangsa Arab taat kepadaku. Apabila kamu masuk Islam, maka kamu akan mendapatkan seperti apa yang ada pada kami, dan kamu dibebani seperti apa yang dibebankan kepada kami. Apabila kamu enggan melainkan (tetap) pada agamamu, maka kami akan meninggalkan kamu atas hal yang demikian itu, dan kamu harus membayar pajak kepada kami dengan patuh sedangkan kamu dalam keadaan tunduk.” Ia berkata: Dan ia (Salman) berbicara kepada mereka dengan bahasa Persia: Kamu bukanlah orang yang terpuji. Apabila kamu enggan, maka kami akan melemparkan kamu sama sekali.” Orang-orang Persia berkata: Kami tidak mau membayar pajak akan tetapi akan memerangi kamu. Kaum muslimin berkata: Wahai Abu Abdullah, bukankah (lebih baik) kita menyerang kepada mereka? Salman menjawab: Tidak.” Ia berkata: “Ia (Salman) mengajak kepada mereka dengan (ajakan) seperti itu selama tiga hari, kemudian Salman berkata: Seranglah mereka.” Ia berkata: “Kami lantas menyerang kepada mereka kemudian dengan serangan itu kami menaklukkan istana.” (HR Tirmidzi)

 

Contoh lain, Rasulullah SAW memimpin pasukan perang ketika mengajak Ahli Kitab untuk memeluk agama Islam, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Ketika kami sedang berada di masjid, tiba-tiba Rasulullah SAW keluar seraya bersabda: Berang­katlah menemui orang-orang Yahudi.” Kami lalu berangkat bersama beliau sampai tiba di sebuah rumah tempat dibaca Al-Quran. Rasulullah SAW berdiri memanggil mereka seraya bersabda: Wahai kelompok orangorang Yahudi, masuklah agama Islam tentu kalian akan selamat.” Mereka mengatakan: Anda benar-benar telah menyampaikan, wahai Abul Qa­sim.” Rasulullah SAW menyatakan kepada mereka: Itulah yang aku ke­hendaki, masuklah agama Islam tentu kalian akan selamat.” Mereka me­ngatakan: Anda benar-benar telah menyampaikan, wahai Abul Qasim.” Rasulullah SAW menyatakan kepada mereka: Itulah yang aku kehen­daki.” Beliau mengatakan pernyataan itu untuk yang ketiga seraya ber­sabda: Ketahuilah sesungguhnya bumi ini hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya. Dan sesungguhnya aku hendak mengusir kalian dari bumi ini. Barangsiapa di antara kalian yang bisa mendapatkan sesuatu dengan hartanya, maka hendaknya dia menjualnya. Jika tidak, ketahuilah bahwa bumi ini hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari)

 

Bumi ini hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya dalam sunnah Rasulullah di atas, yaitu langit dan bumi termasuk bumi dari belahan timur hingga ke barat itu milik Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. (Al Hajj 64)

 

Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. (Al Baqarah 142)

 

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)

 

Allah SWT menjadikan bumi kepunyaan-Nya itu sebagai tempat tinggal bagi manusia ketika mereka menjalani hidup di dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)

 

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)

 

Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Al A’raaf 10)

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)

 

Dan Allah SWT itulah Tuhan yang menyeru manusia (termasuk orang-orang kafir) untuk memeluk agama Islam melalui Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim 1)

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir tidak menyukai agama Allah (agama Islam) tersebut karena mereka menyukai kehidupan dunia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa kehidupan yang sebenarnya dan yang kekal bagi manusia adalah sebagai berikut:

 

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)

 

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)

 

Tapi orang-orang kafir menyukai kehidupan dunia. Mereka tidak mengetahui kehidupan akhirat karena tidak diajarkan (tidak diketahui) oleh agama mereka. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al A’laa 16-17)

 

Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insaan 27)

 

Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)

 

Tilmidzi: “Apakah setelah keempat Khalifah Rasyidin wafat lalu tidak ada lagi perluasan agama Islam?”

 

Mudariszi: “Sekalipun keempat Khalifah Rasyidin telah wafat, kekhalifahan Umayyah yang menggantikannya tetap menguatkan agama Islam dan membesarkan Allah SWT ke belahan bumi lainnya, yaitu hingga ke benua Amerika, di samping terus meluaskan di benua Asia, Eropah dan Afrika. Khalifah Mu’awiyah adalah Khalifah pertama dari kekhalifahan Umayyah dan dia termasuk sahabat Rasulullah yang ikut janji setia kepada Allah SWT di bawah pohon (Bai’atir Ridhwan) di Hudaibiyah. Di masa kekhalifahan Umayyah masih banyak sahabat pohon yang belum wafat. Semua sahabat wafat setelah seratus tahun dari Rasulullah SAW masih hidup, seperti dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Salim bin Abdullah dan Abu Bakar bin Sulaiman, sesungguhnya Abdullah bin Umar berkata: Untuk terakhir kalinya dalam hidupnya, Rasulullah SAW bersembahyang Isya’ bersama kami. Setelah salam, beliau berdiri dan bersabda: Tahukah kalian apa arti malam ini? Sesungguhnya dalam kurun waktu seratus tahun yang akan datang, sudah tidak ada lagi seorangpun yang masih tersisa di muka bumi ini. Kata Ibnu Umar: Rupanya orang-orang salah mengartikan mengenai sabda Rasulullah tersebut. Mereka ramai membicarakan mengenai sabda beliau tersebut, terutama mengenai kalimat seratus tahun. Padahal Rasulullah SAW hanya ingin bersabda: Bahwa tidak seorangpun dari manusia yang hidup sekarang ini akan tersisa pada kurun waktu seratus tahun yang akan datang. Dengan kata lain kurun waktu itu sudah berlalu. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang para sahabat beliau?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang Rasulullah SAW dan para sahabat beliau sebagai berikut:

 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Fath 29)

 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 100)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang para sahabat yang berjanji setia kepada Allah SWT dan kepada beliau di bawah pohon (Bai’atir Ridhwan) dan mereka melaksanakan janjinya tersebut, sebagai berikut:

 

Dari Ummu Mubasysyir, sesungguhnya ia men­dengar Rasulullah SAW bersabda di samping Hafshah: Insya Allah di an­tara sahabat-sahabat pohon, tidak seorang pun yang masuk neraka. Me­reka itulah yang pernah melakukan pembaiatan di bawah pohon. Hafshah berkata: Tentu, wahai Rasulullah. Saat hendak meninggalkan­nya, Hafshah berkata: Bukankah Allah berfirman: Dan tidak ada se­orangpun daripadamu melainkan mendatangi neraka itu?” (surat Maryam ayat 71). Rasulullah SAW bersabda: Tetapi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung juga berfirman: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (surat Maryam ayat 72). (HR Muslim)

 

Dan Rasulullah SAW kemudian memperingatkan umat Islam yang lahir kemudian terhadap para sahabat beliau, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku. Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sekalipun salah seorang kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, maka hal itu tidak mencapai satu atau setengah mud salah seorang mereka (para sahabat). (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply