Dialog Seri 10: 84
Tilmidzi: “Apakah Utsman bin Affan sebagai Khalifah seperti Abu Bakar dan Umar bin Kaththab yaitu meluaskan agama Islam dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah?”
Mudariszi: “Sebagai Khalifah atau Amirul Mu’minin, Utsman bin Affan berpidato di mimbar Rasulullah dan memakai cincin pemimpin umat Islam yang dipakai oleh Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, seperti dijelaskan sebagai berikut:
Dari Sa’ib bin Yazid, dia pemah mendengar Utsman bin Affan berpidato di atas mimbar Rasulullah SAW. (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW membuat sebuah cincin terbuat dari perak. Cincin yang semula berada di tangan beliau itu lalu berpindah pada tangan Abu Bakar, berpindah lagi pada tangan Umar, lalu berpindah lagi pada tangan Utsman, dan akhirnya cincin itu jatuh ke dalam sumur Aris. Cincin itu sendiri bertuliskan: “Muhammad utusan Allah.” (HR Bukhari)
Utsman tidak berbeda dengan Abu Bakar dan Umar yaitu memimpin dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, meluaskan agama Islam serta ditaati oleh para sahabat. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Kami melebih utamakan seseorang (dari pada yang lain) di antara manusia pada masa Rasulullah SAW. Lalu kami melebih utamakan Abu Bakar, Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin Affan.” (HR Bukhari)
Utsman, Umar dan Abu Bakar adalah para Khalifah yang dijamin masuk surga, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW mendaki gunung Uhud, Abu Bakar, Umar dan Utsman bersama beliau, lalu gunung tersebut mengguncang mereka. Kemudian beliau menjejaknya dengan kaki dan bersabda: “Tetaplah wahai Uhud, tidak satupun yang ada di atasmu kecuali seorang Nabi, seorang yang sangat benar dan dua orang yang mati syahid.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana Utsman meluaskan agama Islam?”
Mudariszi: “Utsman membesarkan dan meluaskan agama Islam dengan melanjutkan apa yang telah dicapai oleh Khalifah Umar. Utsman dan pasukan Islam berjihad di jalan-Nya menegakkan agama Islam hingga ke Asia Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, Eropa Selatan, Afrika Utara dan Afrika Barat. Agama Islam tersebar di bumi dan dipeluk oleh penduduk bumi di belahan timur hingga ke belahan barat bumi. Itu menjadikan penduduk di timur bumi hingga ke barat bumi membesarkan Allah SWT dengan shalat menyembah-Nya, bertasbih dan berzikir kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. (Al Baqarah 115)
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah 177)
Dan darimana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al Baqarah 150)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Al Qur’an sampai ke penduduk itu?”
Mudariszi: “Al Qur’an juga sampai kepada penduduk negeri-negeri di berbagai belahan bumi tersebut, meskipun belum semua penduduk membaca Al Qur’an. Mereka menerima dan membaca Al Qur’an dari sahabat Rasulullah yang mengajarkan kepada mereka. Karena para sahabat Rasulullah membaca Al Qur’an berbeda-beda, maka terjadi perbedaan bacaan dalam membaca Al Qur’an di antara penduduk bumi (umat Islam) tersebut. Setiap umat di setiap negeri merasa telah benar membaca Al Qur’an karena belajar dari guru yang merupakan sahabat Rasulullah. Perbedaan bacaan Al Qur’an itu dapat menimbulkan perpecahan di antara umat Islam. Salah seorang sahabat Rasulullah lalu melaporkan keadaan itu kepada Khalifah Utsman, sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia bercerita: “Bahwa Hudzaifah bin Al Yaman datang kepada Utsman dimana beliau sedang memerangi penduduk Syam dalam merebut Armenia dan Azerbaijan bersama penduduk Iraq. Lantas Hudzaifah dikejutkan oleh perbedaan pendapat mereka dalam hal bacaan Al Qur’an. Hudzaifah berkata kepada Utsman: “Wahai Amirul Mu’minin, temukanlah (pemecahan bagi) ummat ini sebelum mereka berbeda pendapat tentang Al Kitab (Al Qur’an) seperti perbedaan pendapatnya orang-orang Yahudi dan bangsa Nasrani.” (HR Bukhari)
Utsman lalu memutuskan perkara tersebut sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia bercerita: “Lantas Utsman berkirim surat kepada Hafshah agar dia mengirimkan kepada kami beberapa shahifah yang kami salin dalam beberapa mush–haf kemudian kami mengembalikannya kepadamu. Lalu Hafshah mengirimkan mush-haf itu kepada Utsman, lalu dia perintah kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al Ash, Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam, dan lalu mereka menyalinnya dalam (menjadi) beberapa mush–haf. Utsman berkata kepada rombongan orang-orang Quraisy yang tiga ini: “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit tentang sesuatu dari Al Qur’an, maka tuliskanlah dengan bahasa Quraisy, karena sesungguhnya ia (Al Qur’an) turun dengan menggunakan bahasa mereka.” Lantas mereka melakukannya, sehingga apabila mereka menyalin beberapa lembar dalam mush–haf, maka Utsman mengembalikan beberapa lembaran itu kepada Hafshah, dan beliau mengirimkan (salinannya) kepada setiap antero (penjuru) dengan mush–haf yang telah mereka salin. Dan beliau perintah agar seluruh lembaran atau mush–haf selain mush–haf salinan itu dibakar.” (HR Bukhari)
Utsman memutuskan untuk menghapus sejumlah mush-haf dengan bacaannya masing-masing agar hanya ada satu mush-haf (kitab) Al Qur’an dengan satu bacaan bahasa, yaitu bacaan dengan bahasa Arab Quraisy, sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, katanya: “Utsman perintah kepada Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Al Ash, Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam agar mereka menghapusnya di dalam beberapa mush–haf, dan dia berkata kepada mereka: “Apabila kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit dalam bahasa Arab dari bahasa Arabnya Al Qur’an, maka tulislah ia dengan bahasanya orang Quraisy, sebab sesungguhnya Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka (Quraisy)”, lalu mereka melaksanakannya.” (HR Bukhari)
Tujuan Utsman yaitu agar umat Islam di seluruh dunia memegang satu kitab Al Qur’an yang berpatokan pada satu bacaan bahasa, yaitu bacaan dengan bahasa Arab Quraisy. Dengan ada patokan bahasa dalam membaca kitab Al Qur’an, maka umat Islam yang ingin membaca Al Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab Quraisy itu tetap dibenarkan, karena Al Qur’an diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW dengan selain bahasa Arab Quraisy atau dengan bahasa sampai tujuh huruf. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Umar bin Khaththab, katanya: “Saya mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surat Al Furqan dalam masa Rasulullah SAW hidup, lalu saya mendengarkan bacaannya. Tiba-tiba ia membaca atas beberapa huruf yang banyak yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku, hingga hampir saja saya menyergapnya dalam shalat, lalu saya menyabar–nyabarkan hingga ia salam. Saya lalu mencengkeram lehemya dengan selendangnya, lalu saya tanyakan: “Siapa yang membacakanmu surat ini yang telah saya dengar engkau membacanya?” Ia berkata: “Yang telah membacakannya adalah Rasulullah SAW.” Saya berkata: “Engkau bohong karena sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan kepadaku surat itu yang jelas tidak sama dengan apa yang kamu baca.” Saya lalu berangkat dengannya dimana saya menuntunnya kepada Rasulullah SAW. Lalu saya berkata: “Sesungguhnya saya mendengar orang ini membaca Surat Al Furqan atas beberapa huruf yang engkau tidak membacakannya kepadaku.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Lepaskan ia! Bacalah hai Hisyam”, lalu ia membaca bacaannya yang telah saya dengarkan bacaannya tadi. Lantas Rasululah SAW bersabda: “Seperti demikian itulah Surat tersebut diturunkan.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah hai Umar.” Lalu saya membaca bacaan yang telah Rasulullah SAW bacakan kepadaku. Rasulullah SAW bersabda: “Demikian itulah Allah menurunkan Surat, sesungguhnya Al Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, oleh sebab itu bacalah apa yang mudah.” (HR Bukhari)
Setelah itu Utsman lalu mengirim beberapa mush-haf (kitab) Al Qur’an yang telah disalin ke beberapa negeri, seperti dijelaskan berikut ini:
Dari Anas, ia berkata: “Khalifah Utsman menulis beberapa mush–haf atau Al Qur’an lalu mengirimkannya ke berbagai pelosok daerah. Abdullah bin Umar, Yahya bin Sa’id serta Malik berpendapat bahwa hal yang sebagaimana tersebut di atas itu hukumnya adalah jawaz (yakni boleh saja). Dan beberapa orang Hijaz mendukung pendapat itu berdasarkan hadits Rasulullah, yaitu beliau mengirimkan surat dengan perantaraan komandan pasukan dan beliau menyatakan agar tidak dibaca dulu sehingga sampai di tempat itu atau itu. Ketika komandan itu sampai di tempat tersebut, dia membaca apa-apa yang tertulis di muka orang banyak dan memberitahukan kepada mereka apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)
Dengan Utsman telah menyusun ayat-ayat Al Qur’an ke dalam kitab (mush-haf), maka Utsman telah melaksanakan perintah Rasulullah yang berwasiat sebagai berikut:
Dari Thalhah, katanya: “Saya bertanya kepada Abdulah bin Abi Aufa: “Apakah Rasulullah SAW berwasiat?” Dia menjawab: “Tidak.” Lalu saya bertanya: “Bagaimana orang-orang disuruh berwasiat yakni mereka diperintah dengannya tapi beliau sendiri tidak berwasiat?” Ia menjawab: “Beliau berwasiat dengan Kitab Allah.” (HR Bukhari)
Jika ayat-ayat Al Qur’an masih tercatat di pelepah kurma, tulang-tulang, batu-batu dan dada manusia, maka wasiat Rasulullah tersebut akan sulit dijalankan oleh manusia.”
Tilmidzi: “Apakah Utsman membangun mesjid Rasulullah?”
Mudariszi: “Kekhalifahan (pemerintahan) di bawah Khalifah Utsman mendatangkan banyak harta karena banyaknya negeri-negeri di bumi yang tunduk dan membayar zakat atau jizyah (pajak) kepada kekhalifahan Utsman. Sebagian harta kemudian digunakan oleh Utsman untuk membangun mesjid Rasulullah karena jumlah umat Islam yang shalat di mesjid Rasulullah bertambah banyak. Berbeda dengan Abu Bakar dan Umar, Utsman membangun dan meluaskan mesjid Rasulullah dengan memperindahnya pula, seperti dijelaskan berikut ini:
Dari Abdullah, ia berkata: “Sesungguhnya masjid pada zaman Rasulullah dibangun dengan bata, atapnya dengan pelepah kurma dan tiangnya dengan pohon kurma. Abu Bakar tidak menambahnya sedikitpun. Umar menambahnya dan membangun atas bangunan di masa Rasulullah dengan bata dan pelepah kurma dan mengganti tiangnya dengan kayu. Kemudian Utsman merubahnya dan banyak ditambahnya. Ia membangun dindingnya dengan batu yang diukir dan dilepoh. Ia menjadikan tiangnya dari batu yang diukir dan atapnya dari kayu jati.” (HR Bukhari)
Sebagian umat Islam tidak menyukai perbuatan Utsman tersebut karena tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah dan tidak pula dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar. Mereka mengatakan Utsman telah mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah), padahal Utsman melakukan itu mengikuti sunnah Rasulullah ini:
Dari Utsman bin Affan ketika mendengar perkataan manusia di kala ia membangun masjid Rasulullah: “Sesungguhnya kamu menambah-nambah.” Utsman menjawab: “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya yang seperti itu di surga.” (HR Bukhari)
Ungkapan orang-orang yang tidak menyukai perbuatan Utsman tersebut kemudian menjadi fitnah.”
Tilmidzi: “Apakah fitnah tersebut lalu menimbulkan fitnah-fitnah lain?”
Mudariszi: “Banyaknya umat Islam di Madinah (penduduk Madinah) membuat Utsman menambah azan. Tujuan Utsman tidak lain hanya untuk memastikan penduduk Medinah yang bertambah banyak itu mendengar panggilan shalat (azan), dan itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Zuhri, ia berkata: “Aku mendengar Saib bin Yazid berkata: “Sesungguhnya adzan pada hari Jum’at pada permulaan kalinya ialah ketika imam duduk di atas mimbar sebelum berkhutbah, yaitu di zaman Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Dan kaum muslimin sudah semakin banyak, lalu Utsman memerintahkan pada hari Jum’at untuk menyerukan adzan yang ketiga. Kemudian dilakukanlah adzan lagi di Zaura. Untuk selanjutnya keadaan itu tetap seperti apa yang ada di zaman Khalifah Utsman tersebut.” (HR Bukhari)
Keputusan Utsman itu menjadi fitnah bagi orang-orang yang tidak menyukai Utsman. Mereka kembali mengatakan Utsman mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar.”
Tilmidzi: “Apakah fitnah-fitnah terhadap Utsman tersebut lalu meluas ke berbagai negeri lain?”
Mudariszi: “Ya! Utsman lalu difitnah suka menetapkan keputusan yang tidak benar akibat dari mengangkat beberapa pemimpin (gubernur) dari kerabatnya, contoh sebagai berikut:
Dari Zaid bin Wahab, ia berkata: “Saya berjalan-jalan melalui suatu desa bernama Rabdzah, tiba-tiba saya bertemu dengan Abu Dzar. Saya lalu bertanya kepadanya: “Apakah yang menyebabkan engkau berdiam di rumah kediamanmu sekarang ini?” Ia (Abu Dzar) berkata: “Dahulu saya berada di Syam, pada suatu saat saya berselisih dengan Mu’awiyah dalam persoalan ayat yang berbunyi: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah.” (surat At Taubah ayat 34). Mu’awiyah berkata bahwa ayat tersebut diturunkan untuk Ahli Kitab (yakni golongan kaum Yahudi dan Nasrani), tetapi saya sendiri berpendapat bahwa ayat itu turun untuk golongan kita kaum muslimin dan juga untuk Ahli Kitab. Akhirnya terjadilah suatu yang tidak menggembirakan antara saya dan Mu’awiyah sebab adanya penafsiran yang berbeda tadi. Kemudian Mu’awiyah menulis surat kepada Utsman mengadukan pendapatku. Lalu Utsman kirim surat kepadaku, saya datang di Madinah. Banyak sekali orang yang mengelilingi saya, ini sebelum waktu itu. Segala peristiwa itu saya sampaikan kepada Utsman, lalu Utsman berkata: “Jika engkau suka, sebaiknya engkau menyingkir sajalah dari kota Madinah ini.” Itulah yang menyebabkan saya berdiam di tempat kediamanku sekarang ini. Dan seandainya yang memerintah kepadaku itu orang Habsyi tentu akan kudengarkan dan kuta’ati perintahnya.” (HR Bukhari)
Utsman difitnah mengangkat pemimpin negeri dari kerabatnya sehingga pemimpin itu diingkari oleh penduduk negeri tersebut, contoh seperti dijelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Wa’il (saudara sekandung Salamah), dia berkata: “Dikatakan kepada Usamah (ibn Zaid): “Hendaklah kamu mengadakan pembicaraan kepada orang ini (yakni kepada Khalifah Utsman mengenai keingkaran orang-orang terhadap pengangkatan kerabat-kerabatnya dan lain-lain hal yang tidak disenangi).” (HR Bukhari)
Sebagai Khalifah, Utsman berhak untuk menetapkan pemimpin negeri, baik pemimpin itu dari kerabatnya atau bukan, selama pemimpin itu dapat menjalankan tugasnya.”
Tilmidzi: “Apakah tidak ada sahabat yang menasehati Utsman?”
Mudariszi: “Sebagian sahabat menasehati Utsman dan membantunya dalam mengatasi fitnah-fitnah, contoh sebagai berikut:
Dari Abu Wa’il (saudara sekandung Salamah), dia berkata: “Dikatakan kepada Usamah (ibn Zaid): “Hendaklah kamu mengadakan pembicaraan kepada orang ini (yakni kepada Khalifah Utsman mengenai keingkaran orang-orang terhadap pengangkatan kerabat-kerabatnya dan lain-lain hal yang tidak disenangi).” Ia (Usamah) berkata: “Sungguh aku telah mengadakan pembicaraan kepada beliau (Utsman, secara rahasia) tanpa aku membuka pintu (pengingkaran kepada beliau) dimana aku adalah orang pertama yang membukanya (mengadakan pembicaraan atas dasar kemaslahatan dan adab), dan tidaklah aku adalah orang yang mengatakan kepada seorang laki-laki (Utsman) yang menjadi pemimpin sesudah dua orang laki-laki (Abu Bakar dan Umar): “Engkau adalah orang yang paling baik”, sesudah aku mendengar dari Rasulullah SAW yang bersabda: “Akan didatangkan orang laki-laki, maka ia dilemparkan ke dalam neraka, lalu ia di neraka itu menggiling (berputar-putar) seperti keledai menggiling dengan (memutar) gilingan, lalu penduduk neraka mengelilinginya dan mereka berkata: “Hai Polan, tidakkah kamu dahulu memerintahkan hal kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang terhadap kemungkaran (nahi mungkar)?” Maka ia menjawab: “Sungguh dahulu (di dunia) aku memerintahkan kebaikan sedang aku tidak melaksanakannya, dan aku melarang terhadap kemungkaran sedang aku melakukannya.” (HR Bukhari)
Utsman menerima nasehat dari sahabat Rasulullah dan juga memperbaiki kesalahannya. Itu menunjukkan bahwa Utsman tidak memimpin dengan sewenang-wenang. Fitnah keburukan Utsman itu bukan karena Utsman tidak benar, tapi karena sebagian umat Islam yang tidak menyukai Utsman. Contoh seperti yang dijelaskan berikut ini:
Dari Ubaidillah bin Adiy bin Al-Khiyar, ia berkata: “Sesungguhnya Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Aswad bertanya kepadanya: “Apakah yang menghalangimu untuk berbicara kepada Utsman tentang saudara lelakinya, yaitu Walid bin Uqbah. Sungguh semua orang sering (membicarakan) apa yang diperbuatnya.” Ubaidillah berkata: “Lalu saya bermaksud menuju Utsman. Ketika ia keluar untuk shalat, maka saya berkata kepadanya: “Sungguh saya mempunyai kehendak padamu, yaitu nasehat (untukmu).” Dia berkata: “Wahai seorang lelaki, aku mohon perlindungan kepada Allah dari (godaan)mu.” Kemudian saya berpaling. Ketika saya telah merampungkan shalat, maka saya duduk dengan Miswar dan Ibnu Aswad bin Abdi Yaghuts, lalu saya berceritera kepada keduanya tentang apa yang saya katakan pada Utsman dan yang dia katakan padaku. Mereka berdua berkata: “Engkau sudah menyelesaikan kewajibanmu.” Ketika saya duduk bersama keduanya, tiba-tiba datang utusan Utsman kepadaku. Lalu keduanya berkata: “Allah memberi ujian padamu.” Saya berangkat, hingga masuk kepada Ustman, lalu ia bertanya: “Apakah nasehatmu yang telah engkau sebutkan tadi?” Ubaidillah berkata: “Lalu saya mengucapkan syahadat”, kemudian berkata: “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad SAW dan menurunkan Al Kitab kepada beliau. Dan engkau termasuk orang yang dapat memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, engkau beriman kepada-Nya, engkau berhijrah dua kali yang pertama, engkau pernah bersahabat dengan Rasulullah SAW dan melihat perjalanan hidup beliau, namun semua orang sering membicarakan keadaan Walid bin Uqbah. Maka adalah wajib bagi dirimu untuk menegakkan hukuman had atas dia.” Utsman bertanya padaku: “Wahai keponakanku, apakah engkau pernah menjumpai Rasulullah SAW?” Ubaid berkata: “Aku menjawab: “Tidak, namun ilmu beliau sampai kepadaku sebagaimana ia sampai kepada gadis di dalam pingitannya.” Ia berkata: “Utsman mengucapkan syahadat”, lalu berkata: “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad SAW dengan membawa kebenaran dan Dia menurunkan Al Kitab kepadanya. Saya termasuk orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Saya percaya pada sesuatu yang Muhammad SAW diutus menyampaikannya. Saya berhijrah dua kali yang pertama seperti yang kamu katakan. Saya pernah bersahabat dengan Rasulullah SAW dan berjanji setia kepadanya. Demi Allah, aku tidak mendurhakai dan memperdayakannya, hingga beliau dipanggil di sisi Allah. Kemudian Allah menjadikan Abu Bakar berkuasa, maka demi Allah saya tidak mendurhakai dan memperdayakannya. Lalu Umar berkuasa, maka demi Allah saya tidak mendurhakai dan memperdayakannya. Selanjutnya saya berkuasa, apakah bagiku tiada hak atas kalian sebagaimana mereka memiliki hak atas diriku?” Ia menjawab: “Ya.” Utsman bertanya: “Maka apakah (maksud) berita-berita yang sampai kepadaku dari kalian? Adapun sesuatu yang engkau sebutkan, yaitu tentang ulah Walid bin Uqbah, maka kami akan menindaknya dengan benar jika Allah menghendaki.” Ubaidillah berkata: “Lalu Utsman menghukum jilid Walid empat puluh kali jilid, dan ia menyuruh Ali menghukum jilid akan dia, lalu ia menghukum jilid akan dia.” (HR Bukhari)
Dari Muhammad, ia berkata: “Jundub berkata: “Aku datang pada hari Jara’ah, yaitu hari dimana penduduk Kufah keluar untuk menjemput gubernur baru yang ditugaskan oleh Utsman, tetapi mereka menolaknya dan meminta kepada Utsman agar menugaskan Abu Musa Al Asy’ari, maka Utsman pun menuruti mereka. Dan aku mendapati seorang lelaki sedang duduk, maka aku berkata: “Sungguh pada hari ini akan ada darah yang mengalir disini.” Orang itu berkata: “Tidak, demi Allah.” Aku berkata: “Ya, demi Allah.” Ia berkata: “Tidak, demi Allah.” Aku berkata: “Ya, demi Allah.” Ia berkata: “Tidak, demi Allah, karena ada hadisnya Rasulullah SAW yang diceritakannya kepadaku.” Aku berkata: “Sejelek-jeleknya teman berbincang sejak hari ini adalah kamu. Kamu mendengar aku selalu menyelisihi kamu, padahal kamu telah mendengar hadits dari Rasulullah SAW. Mengapa kamu tidak mencegah aku? Apa arti kemarahan ini?” Kemudian aku memandangnya dan bertanya, ternyata dia Hudzaifah.” (HR Muslim)
Huzaifah (di atas) itu merupakan sahabat Rasulullah yang mengetahui fitnah yang akan menimpa Utsman hingga Utsman dibunuh, dan itu diketahuinya dari Rasulullah SAW.”
Tilmidzi: “Apakah ada contoh fitnah terhadap Utsman yang berasal dari umat yang tidak menyukainya?”
Mudariszi: “Ya! Contoh fitnah tentang Utsman yang lari di perang Uhud, Utsman tidak ikut dalam perang Badar dan Utsman tidak hadir dalam Bai’atir Ridhwan, sebagai berikut:
Dari Utsman, yakni Ibnu Mauhab, ia berkata: “Seorang lelaki penduduk Mesir datang untuk berhaji di Baitullah, lalu melihat sekawanan orang sedang duduk. Dia bertanya: “Siapakah sekawanan orang itu?” Mereka menjawab: “Mereka adalah orang-orang Quraisy.” Dia bertanya: “Lalu siapakah pembesar mereka?” Mereka menjawab: “Abdullah bin Umar.” Dia berkata: “Wahai Ibnu Umar, sungguh saya hendak bertanya padamu tentang sesuatu, maka ceriterakanlah kepadaku: “Apakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Utsman lari pada hari perang Uhud?” Ia menjawab: “Ya.” Dia bertanya: “Apakah kamu mengetahui bahwa ia tidak hadir pada perang Badar?” Ia menjawab: “Ya.” Lelaki tersebut berkata: “Apakah kamu mengetahui, ia pergi tidak menghadiri Bai’atir Ridhwan?” Ia menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Allah Maha Besar.” Ibnu Umar berkata: “Kemarilah, maka saya jelaskan padamu. Adapun larinya (Utsman) pada hari perang Uhud, maka aku bersaksi sesungguhnya Allah telah memaafkan dan memberi ampunan kepadanya. (Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka.” surat Ali ‘Imran ayat 155). Adapun kepergiannya dari perang Badar, maka karena ia bertanggung–jawab atas puteri Rasulullah (Ruqayyah) yang sedang sakit, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Bagimu pahala seorang lelaki yang menghadiri perang Badar dan bagiannya.” Adapun kepergiannya dari Bai’atir Ridhwan, maka seandainya ada seseorang yang lebih mulya daripada Utsman di lembah Makkah, tentu beliau mengutusnya (menggantikan) kedudukannya. Bai’atir Ridhwan terjadi setelah Utsman pergi ke Makkah, lalu Rasulullah SAW bersabda dengan isyarat tangan kanan beliau: “Ini adalah tangan Utsman.” Kemudian beliau menepukkan pada tangannya dan bersabda: “(Bai’at) ini adalah bagi Utsman.” Selanjutnya Ibnu Umar berkata kepada laki-laki tersebut: “Pergilah dengan (membawa) kisah yang sekarang bersamamu.” (HR Bukhari)
Sehingga penjelasan dari sahabat Rasulullah tentang fitnah terhadap Utsman tersebut dapat dijelaskan kepada umat Islam lainnya supaya tidak ada lagi fitnah-fitnah itu.”
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan tentang Utsman dan fitnah yang akan menimpanya?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Musa Al Asy’ari, dia berkata: “Tatkala Rasulullah SAW berada di sebuah kebun atau taman di Madinah dan sedang bertelekan dengan menancapkan tongkatnya di atas tanah yang berair, tiba-tiba datang seseorang yang ingin menemui Rasulullah SAW. Beliau bersabda kepada pelayan: “Bukakanlah pintu dan sampaikan kepadanya khabar gembira tentang surga.” Orang tersebut ternyata adalah Abu Bakar. Aku pun mempersilahkannya dan menyampaikan pesan Rasulullah SAW tersebut. Tak lama kemudian datang lagi seseorang minta dibukakan. Rasulullah SAW bersabda: “Bukakanlah pintu dan sampaikan khabar gembira kepadanya mengenai surga.” Aku beranjak dan ternyata orang tersebut adalah Umar. Aku pun mempersilahkannya dan menyampaikan pesan Rasulullah SAW tersebut. Kemudian datang lagi seseorang yang juga ingin dibukakan. Kali ini tiba-tiba Rasulullah SAW duduk dan bersabda: “Bukakanlah pintu dan sampaikanlah khabar gembira tentang surga atas musibah yang akan menimpa.” Aku pun pergi menemui orang itu, ternyata dia adalah Utsman bin Affan. Aku bukakan pintu untuknya dan tak lupa aku sampaikan pesan Rasulullah SAW tersebut. Utsman lalu berkata: “Ya Allah, berilah aku kesabaran. Allah lah yang dimohon pertolongan–Nya.” (HR Muslim)
Dari Abi Qilabah dari Abil Asy-ats Ash Shan’ani bahwa para khatib berdiri di negeri Syam dan di antara mereka terdapat beberapa orang dari sahabat Rasulullah, lalu paling akhir dari mereka berdiri yaitu seseorang disebut Murrah bin Ka’ab lalu berkata: “Seandainya tidak ada hadits yang aku dengar dari Rasulullah SAW niscaya aku tidak berdiri, dan beliau menyebutkan fitnah dan mendekatkan terjadinya. Lalu seseorang yang tertutup dalam pakaian lewat, kemudian beliau bersabda: “Orang ini pada hari itu adalah mengikuti kebenaran.” Lalu kami datang kepadanya, tiba-tiba dia adalah Utsman bin Affan, kemudian kami datang menghadap beliau dengan memegang muka Utsman lalu kami berkata: “Ini?” Beliau bersabda: “Ya.” (HR Tirmidzi)
Dan Rasulullah SAW menjelaskan kepada Utsman dalam menghadapi fitnah-fitnah itu sebagai berikut:
Al Laits bin Sa’ad dari Mu’awiyah bin Shaleh dari Rabi’ah bin Yazid dari Abdillah bin Amir dari An Nu’man bin Basyir dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hai Utsman, sesungguhnya mudah-mudahan Allah memakaikan pakaian kepadamu, kalau mereka menghendaki kamu agar melepasnya, maka janganlah kamu mencopotnya karena mereka.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Bagaimana Utsman dijelaskan oleh Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang Utsman sebagai berikut:
Dari Atha dan Sulaiman (keduanya putera Yasar) serta Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa Aisyah berkata: “Satu ketika Rasulullah SAW sedang tiduran di rumahku. Kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Tiba-tiba Abu Bakar minta permisi masuk dan beliau pun mempersilahkannya. Beliau tetap saja membiarkan keadaannya seperti semula. Ketika Abu Bakar selesai berbicara, datang Umar meminta permisi masuk dan beliau pun mempersilahkannya. Beliau tetap membiarkan keadannya itu. Dan ketika Umar selesai berbicara, datanglah Utsman juga minta permisi masuk. Saat itu Rasulullah SAW bergegas duduk sembari membetulkan letak pakaiannya. (Menurut Muhammad, hal itu tidak terjadi dalam satu hari). Utsman pun masuk dan berbicara dengan beliau. Setelah Utsman keluar, Aisyah berkata: “Abu Bakar masuk tetapi Anda tidak begitu memperhatikan bahkan tidak memperdulikannya. Begitu pula sikap Anda terhadap Umar. Namun giliran Utsman yang masuk, ternyata Anda duduk dan segera membetulkan letak pakaian Anda.” Rasulullah SAW bersabda: “Layakkah aku tidak merasa malu kepada seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya.” (HR Muslim)
Dari Syaikh dari keturunan Zuhrah dari Al-Harits bin Abdur Rahman bin Abi Dzubab dari Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap Nabi memiliki teman dan temanku di surga adalah Utsman.” (HR Tirmidzi)
Sifat-sifat Utsman yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW di atas menunjukkan mustahil Utsman memimpin kekhalifahan dengan sewenang-wenang dan tidak benar.”
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh umat yang tidak suka Utsman?”
Mudariszi: “Umat Islam yang tidak menyukai Utsman kemudian mendatangi Madinah, menguasai mesjid Rasulullah dan mengepung rumah Utsman. Mereka meminta Utsman untuk mengundurkan diri sebagai Khalifah dan akan dibunuh jika tidak mengundurkan diri. Utsman lalu mengatakan sebagai berikut:
Hammad bin Zaid memberitahukan kepada kami dari Zaid dari Yahya bin Said dari Abi Umamah bin Sahl bin Hunaif bahwa Utsman bin Affan nampak di atas pada hari pengepungan rumahnya lalu berkata: “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu tidak mengerti bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak dihalalkan darah seorang muslim selain karena salah satu dari tiga perkara: melakukan perbuatan zina setelah ihshan (kawin secara sah), murtad setelah masuk Islam, atau membunuh jiwa tanpa alasan yang benar, maka dia dibunuh karenanya? Demi Allah, aku tidak pernah melakukan zina pada waktu Jahiliyyah maupun sesudah Islam dan aku tidak murtad semenjak melakukan baiat kepada Rasulullah SAW dan aku tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah. Dengan alasan apa kamu membunuhku?” (HR Tirmidzi)
Utsman lalu menyeru penduduk Madinah agar tetap melaksanakan shalat sekalipun diimami oleh musuh Khalifah, yaitu sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Ubaidillah bin Adiy bin Khiyar bahwasanya dia datang kepada Utsman bin Affan sewaktu dia dikepung, dan berkata kepadanya: “Engkau adalah pemimpin seluruh kaum muslimin dan engkau telah melihat apa yang menimpamu. Kita shalat diimami oleh seorang imam yang memperoleh fitnah (yakni penyebar fitnah di kalangan umat) dan kita khawatir dosa kalau mengikutinya.” Utsman berkata: “Shalat adalah amal terbaik dari segala amal, maka pada waktu orang-orang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka lakukanlah yang sama dengan mereka, dan pada waktu mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka hindarilah perbuatan-perbuatan itu.” (HR Bukhari)
Dan Utsman menolak untuk mengundurkan diri dari Khalifah sekalipun diancam akan dibunuh oleh mereka, karena Utsman mengikuti wasiat Rasulullah ini:
Dari Ismail bin Abi Khalid dari Qais, Abu Sahlah menceriterakan kepada kami, dia berkata: “Utsman berkata kepadaku pada hari rumahnya dikepung bahwa: “Rasulullah SAW telah berwasiat kepadaku dengan suatu wasiat (agar tidak melepas pakaian yang telah dipakaikan Allah), maka aku bersabar untuk memegang wasiat itu.” (HR Tirmidzi)
Utsman lalu mempersilahkan pemimpin mereka untuk masuk ke dalam rumahnya guna membicarakan persoalan mereka. Dalam pertemuan itu Utsman menjelaskan tentang dirinya terhadap Rasulullah SAW dan tentang dirinya berjihad di jalan-Nya menegakkan agama Islam bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Tujuannya agar mereka berfikir dengan benar dan tidak mengikuti hawa nafsunya karena mempercayai fitnah. Hal itu dijelaskan berikut ini:
Dari Yahya bin Al-Hajjaj Al-Minqari dari Abi Mas’ud Al-Jurairi dari Tsumamah bin Hazm Al-Qusyairi, dia berkata: “Aku menyaksikan rumah Utsman (dikepung) ketika Utsman menghadapi mereka, lalu dia berkata: “Datangkan menghadapku dua orang temanmu yang mengajak kamu sekalian untuk menghadapku!” Tsumamah berkata: “Kemudian mereka dihadapkan seolah-olah mereka seperti dua unta atau dua keledai.” Tsumamah berkata: “Lalu Utsman menghadapi mereka kemudian berkata: “Aku minta kepadamu dengan nama Allah dan Islam, apakah kamu mengerti bahwa Rasulullah SAW ketika datang di Madinah sedangkan di Medinah tidak ada air yang dianggap tawar selain sumur Ruumah lalu Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membeli sumur Ruumah lalu menjadikan timbanya beserta timba kaum muslimin (mewaqafkannya untuk kaum muslimin) dengan sesuatu yang lebih baik baginya dari padanya di surga?” Lalu aku membelinya dengan murni uangku. Kemudian kamu hari ini mencegahku air dari padanya sehingga aku minum air laut.” Mereka berkata: “Wahai Allah, ya.” Utsman berkata: “Aku minta kepadamu dengan nama Allah dan Islam, apakah kamu mengerti bahwa masjid telah sesak bagi penghuninya. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membeli tanah keluarga si Fulan lalu menambahkannya untuk masjid (mewaqafkannya) dengan sesuatu yang lebih baik baginya dari padanya di surga?“ Lalu aku membelinya dari murni uangku dan kamu hari ini mencegahku melakukan shalat di masjid tersebut dua raka’at?” Mereka berkata: “Wahai Allah, ya.” Utsman berkata: “Aku minta kepadamu demi Allah dan demi Islam, apakah kamu mengerti sesungguhnya aku menyiapkan tentara Al-Usrah (waktu sakit) dari uangku?” Mereka berkata: “Wahai Allah, ya.” Utsman berkata: “Aku minta kepadamu dengan nama Allah dan Islam, apakah kamu mengerti bahwa Rasulullah SAW di atas gunung Tsabir disertai Abu Bakar, Umar dan aku, lalu gunung tersebut bergerak sehingga batunya berjatuhan di tanah yang rata?” Tsumamah berkata: “Lalu beliau memukuli dengan kaki beliau dan bersabda: “Tenanglah hai gunung Tsabir karena sesungguhnya di atasmu adalah seorang Nabi, teman dekat dan dua orang yang syahid?” Mereka berkata: “Wahai Allah, ya.” Utsman berkata: “Allah Maha Besar, mereka menjadi saksi bagi diriku dan demi Tuhan Ka’bah, sesungguhnya aku orang yang disaksikan tiga kali.” (HR Tirmidzi)
Tapi penjelasan Utsman tersebut tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka telah dikuasai oleh hawa nafsu syaitan. Mereka lalu membunuh Utsman dengan keji, dan itu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Sinan bin Harun dari Kulaib bin Wail dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW menyebutkan fitnah lalu bersabda: “Orang ini (kepada Utsman bin Affan) dibunuh pada hari terjadinya fitnah secara teraniaya.“ (HR Tirmidzi)
Wallahu a’lam.