Dialog Seri 10: 87
Tilmidzi: “Apakah dengan para sahabat menepati janji setia (Bai’atir Ridhwan) berarti mereka telah membantu Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Allah di bumi?”
Mudariszi: “Para sahabat termasuk Khalifah Rasyidin telah menepati janji setia mereka kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, yaitu meluaskan dan menguatkan agama Islam serta membesarkan Allah SWT dan menyampaikan Al Qur’an kepada manusia (penduduk bumi). Itu menunjukkan Rasulullah SAW dan para sahabat telah menegakkan agama Allah yaitu agama Islam di bumi. Allah SWT telah perintahkan Rasul-Rasul-Nya termasuk Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)
Allah SWT menghendaki agama-Nya tegak di bumi, karena itu berkaitan dengan manusia yang dijadikan-Nya sebagai khalifah di muka bumi, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Allah SWT menghendaki manusia yang dijadikan sebagai khalifah itu menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi dan dengan mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Agama Allah dan syariat agama-Nya itu diberikan kepada utusan-Nya atau Rasul-Rasul-Nya untuk disampaikan dan dijelaskan kepada umat Rasul atau manusia. Demikian pula dengan Allah SWT memberikan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk manusia, dimana Al Qur’an tersebut berisikan penjelasan tentang agama-Nya (yaitu agama Islam) dan syariat agama-Nya. Al Qur’an, agama Islam dan syariat agama Islam tersebut dijelaskan oleh Rasulullah SAW kepada manusia. Itu menunjukkan bahwa Al Qur’an, Rasulullah SAW dan agama Islam tersebut untuk manusia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)
Allah SWT, melalui Rasulullah SAW, lalu mengambil janji para sahabat (Bai’atir Ridhwan) ketika di Hudaibiyah, mereka berjanji setia kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al Fath 8-10)
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. (Al Fath 18)
Para sahabat lalu menepati janjinya tersebut hingga agama-Nya (agama Islam) tegak di bumi dari belahan Timur bumi hingga ke belahan Barat bumi. Penduduk negeri-negeri yang ditundukkan oleh Khalifah Rasyidin dan para sahabat kemudian memeluk agama Islam dan mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat agama Islam.”
Tilmidzi: “Apakah Khalifah dalam kekhalifahan Islam itu merupakan Pemimpin umat Islam?”
Mudariszi: “Khalifah dalam kekhalifahan (pemerintahan) Islam adalah Raja atau Pemimpin umat Islam, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hazim, dia berkata: “Selama lima tahun aku berkawan dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengar dia menceritakan suatu hadits dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Orang-orang Bani Israil itu selalu diatur oleh para Nabi. Seorang Nabi meninggal dunia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lainnya. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi sama sekali sesudahku. Dan kelak akan bermunculan para Khalifah.” Para sahabat bertanya: “Lantas apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Rasulullah SAW menjawab: “Penuhilah pembai’atan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka.” (HR Muslim)
Jika Khalifah-Khalifah seperti Nabi-Nabi Bani Israil (dalam sunnah Rasulullah di atas), maka itu menunjukkan bahwa Khalifah adalah Pemimpin umat Islam.”
Tilmidzi: “Jika Khalifah seperti Nabi Bani Israil, apakah Allah SWT sebelumnya menghendaki Bani Israil menegakkan agama-Nya di bumi melalui Taurat dan Nabi Musa?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kepada anak-anak Nabi Adam atau manusia yang menjalani hidupnya di bumi (di dunia) sebagai berikut:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Allah SWT kemudian mengutus Rasul-Rasul-Nya kepada manusia yang membawa dan menjelaskan ayat-ayat-Nya tentang agama-Nya dan syariat agama-Nya yang wajib diikuti oleh umat Rasul (manusia) ketika menjalani hidupnya di dunia. Tapi di masa Nabi Nuh, manusia tidak mau lagi mengikuti Rasul, ayat-ayat-Nya, agama-Nya kecuali sedikit. Kebanyakan manusia ketika itu telah menjadi kafir dan itu akan membuat orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir karena mengikuti agama orang tuanya. Allah SWT tidak menghendaki itu terjadi, sehingga Dia memusnahkan semua orang kafir kecuali orang-orang beriman. Allah SWT lalu menjadikan orang-orang beriman di masa Nabi Nuh tersebut meneruskan kehidupan manusia di dunia, dan Dia mengutus Rasul-Rasul kepada anak cucu orang-orang beriman itu. Rasul-Rasul menjelaskan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya. Tapi hampir semua umat Rasul-Rasul tidak mau mengikuti Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya, agama-Nya. Karena itu Allah SWT memusnahkan umat Rasul yang kafir dan menyelamatkan orang-orang beriman, agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir. Allah SWT lalu menetapkan Fir’aun dan kaumnya sebagai kaum kafir yang terakhir yang dimusnahkan-Nya. Allah SWT lalu menetapkan Nabi Musa dari Bani Israil sebagai Rasul-Nya yang diberikan Taurat untuk disampaikan kepada manusia. Taurat menjelaskan agama-Nya dan syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa kepada manusia melalui Bani Israil. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat agar mereka ingat. (Al Qashash 43)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur. (Ibrahim 5)
Allah SWT memberikan kekuasaan dan kenabian kepada Bani Israil agar mereka memberikan petunjuk dengan Taurat dan menjalankan keadilan ketika memimpin manusia. Dan Allah SWT melebihkan Bani Israil dari bangsa-bangsa lain ketika itu. Semua itu menunjukkan bahwa Allah SWT menghendaki agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa menjadi tegak di bumi hingga diikuti oleh manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As Sajdah 23-24)
Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (Al A’raaf 159)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Al Jaatsiyah 16)
Tetapi kebanyakan Bani Israil mengingkari Taurat, Nabi Musa dan Nabi-Nabinya karena mereka menyukai kehidupan dunia. Bani Israil lebih menyukai harta dan kesenangan dalam kehidupan dunia. Mereka mengakui ke-Esa-an Allah, tapi mereka tidak mau keinginannya terhambat oleh apapun. Karena itu mereka lalu merubah ayat-ayat Taurat menurut keinginannya. Akibatnya, agama Allah yang dijelaskan oleh Nabi Musa berubah. Allah SWT lalu mengutus Nabi ‘Isa dari Bani Israil kepada mereka dengan diberikan Injil. Tapi Nabi ‘Isa ingin dibunuh oleh Bani Israil karena beliau menyampaikan ayat-ayat-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Mereka lalu merubah ayat-ayat Injil menurut keinginannya. Akibatnya, agama Allah yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa berubah dan mereka menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Mereka menjadi kafir dan orang-orang yang lahir kemudian termasuk anak cucu mereka akan menjadi kafir karena tidak beragama dengan agama-Nya yang benar atau menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti agama-Nya yang benar. Agar keadaan itu tidak terjadi, Allah SWT lalu mengutus Rasulullah SAW dengan diberikan Al Qur’an. Dan itu dijelaskan firman-Nya dan sunnah Rasulullah ini:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)
(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (Al An’aam 156)
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba–Ku dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, kecuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: “Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)
Dengan demikian, Bani Israil sebelum Rasulullah SAW juga dikehendaki oleh Allah SWT untuk menegakkan agama-Nya di bumi bagi manusia yang menjalani hidupnya di dunia, yaitu agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan Taurat dan lalu dilanjutkan dengan agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa dan Injil.”
Tilmidzi: “Apakah perbuatan Bani Israil tersebut menjadi pelajaran bagi para sahabat dan Khalifah-Khalifah dalam menegakkan agama Islam?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW memberikan wasiat kepada Khalifah-Khalifah dan umat Islam (setelah para sahabat) dalam menegakkan agama Islam, sebagai berikut:
Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dan Ibnu Urnar, dia berkata: “Umar berkhutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasulullah SAW di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu agar mengikuti jejak para sahabatku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka.” (HR Tirmidzi)
Dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mempersekutukan umatku (atau bersabda: umat Muhammad) dalam kesesatan. Tangan Allah itu atas jama’ah (persatuan) dan barangsiapa memisahkan dari (jama’ah umat Islam), maka dia memisahkan diri di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)
Dari Ibnu Thawus dari Ayahnya dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tangan Allah beserta jama’ah (ummat Islam yang bersatu).” (HR Tirmidzi)
Sehingga Khalifah-Khalifah (setelah Khalifah Rasyidin) bersatu ketika berjihad di jalan-Nya dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW dan jejak para sahabat dalam meluaskan (menegakkan) agama Islam dan menyampaikan Al Qur’an. Sunnah Rasulullah dan amalan (termasuk jihad) para sahabat tersebut menjadi pendorong bagi Khalifah-Khalifah dan umat Islam dalam menegakkan agama Islam, seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Jabir, dia berkata: “Abu Sa’id Al Khudriy berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang suatu zaman kepada manusia, dimana sebagian mereka akan dikirim sebagai pasukan perang, lalu ada yang mengatakan: “Periksalah apakah di antara kalian terdapat salah seorang sahabat Nabi?” Ternyata memang ada orang yang dimaksudkan itu. Dan karenanya mereka lalu berhasil menaklukan musuh. Kemudian menjelang pengiriman pasukan yang kedua, ada yang mengatakan: “Periksalah apakah di antara kalian ada orang yang pernah melihat sahabat-sahabat Nabi?” Ternyata memang ada, sehingga karenanya mereka berhasil menaklukkan musuh. Menjelang pengiriman pasukan ketiga, dikatakan: “Periksalah apakah di antara mereka itu terdapat orang yang pernah melihat para Tabi’in?” Kemudian menjelang pengiriman pasukan ke empat, lagi-lagi ada yang mengatakan: “Periksalah apakah di antara mereka itu ada seorang yang pernah melihat para pengikut Tabi’in?” Ternyata memang ada. Dan karenanyalah mereka berhasil menaklukan musuh.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Umat Islam manakah yang terbaik dari seluruh umat Islam?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya ummatku ialah dimana aku diutus di tengah-tengah mereka, kemudian orang-orang yang hidup sesudah mereka.” Allah lah yang paling tahu apakah beliau menyebutkan yang ketiga atau tidak.” (HR Muslim)
Umat Islam yang terbaik tersebut berpengaruh kepada kehidupan manusia di kurun itu karena berkaitan dengan agama-Nya (agama Islam) yang menjelaskan akhlak dan amal perbuatan manusia. Karena itu Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali ’Imran 110)
Dari Aisyah, ia berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: “Manusia manakah yang terbaik?” Beliau menjawab: “Yang hidup pada kurun dimana aku berada di dalamnya, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Mengapa umat manusia dapat menjadi lebih buruk dari yang sebelumnya?”
Mudariszi: “Karena hal itu berkaitan dengan keimanan dan persatuan umat Islam dalam menghadapi fitnah dan bid’ah. Fitnah dan bid’ah itu timbul dari syaitan yang tidak ingin umat manusia mengikuti jalan-Nya yang lurus dalam agama Islam yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan As Sunnah. Hal itu berpengaruh kepada umat manusia di dunia (di bumi) karena mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat agama Islam sekalipun di antara mereka tidak beragama Islam. Umat Islam dalam menghadapi fitnah di masa Rasulullah SAW berbeda dengan di masa para sahabat dan di masa setelah para sahabat. Sehingga keimanan dan persatuan umat Islam di masa Rasulullah SAW adalah yang terbaik. Dan Rasulullah SAW lalu memperingatkan umat Islam yang lahir setelah para sahabat agar tetap bersatu dalam persatuan umat Islam ketika menghadapi fitnah dan bid’ah, sebagai berikut:
Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: “Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: “Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi.” Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: “Kalian masih disini?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi.” Rasulullah SAW bersabda: “Bagus dan benar kalian.” Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)
Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dan Ibnu Urnar, dia berkata: “Umar berkhutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasulullah SAW di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu agar mengikuti jejak para sahabatku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka. Kemudian dusta tersebar sehingga seseorang bersumpah sedang dia tidak diminta sumpah dan seorang menjadi saksi sedangkan dia tidak diminta menjadi saksi. Ingatlah, tidaklah seorang laki-laki melakukan khalwah (menyepi) dengan seorang perempuan lain melainkan yang ketiganya adalah syaitan. Tetaplah bersatu dan jauhilah perpecahan karena sesungguhnya syaitan beserta orang satu dan syaitan beserta dua orang itu lebih jauh. Barangsiapa menghendaki tinggal di tengah surga, maka hendaklah ia selalu bersatu. Barangsiapa yang kebaikannya dapat menyenangkannya dan kejelekannya dapat menyedihkannya, maka dia itu seorang mu’min.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT pula telah peringatkan umat Islam sebagai berikut:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran 103)
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali; kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (An Nahl 92)
Tilmidzi: “Apakah setelah adanya kebaikan dalam kehidupan manusia itu akan diikuti dengan keburukan?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Hudzaifah ibn Al-Yaman, dia berkata: “Adalah orang-orang itu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan dan adalah aku bertanya kepada beliau tentang keburukan (fitnah, lemahnya kesatuan Islam, kesesatan yang menguasai dan tersebarnya bid’ah), karena kekhawatiran mengenai diriku. Maka aku berkata kepada Rasulullah SAW: “Sungguh kami dahulu di masa Jahiliyah dan kejahatan, lalu Allah datang kepada kami dengan kebaikan (kerasulan engkau, kekokohan bangunan Islam dan robohnya pilar-pilar kekafiran dan kesesatan) ini. Maka apakah sesudah kebaikan ini terdapat suatu keburukan?” Beliau bersabda: “Ya.” Aku bertanya: “Dan apakah sesudah keburukan itu terdapat suatu kebaikan?” Beliau bersabda: “Ya, dan disana terdapat asap.” Aku bertanya: “Dan apakah asapnya itu?” Beliau bersabda: “Kaum yang menunjukkan tanpa dengan petunjuk, dimana kamu mengenali (kebaikan) dari mereka (maka kamu menerima dan kamu mengenali keburukan) dan kamu mengingkari.” Aku bertanya: “Maka apakah sesudah kebaikan itu terdapat suatu keburukan?” Beliau bersabda: “Ya, para penyeru di pintu-pintu Jahanam. Siapa yang memenuhi (seruan) mereka ke pintu-pintu itu, maka mereka melemparkannya ke dalamnya (neraka).” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka itu kepada kami!” Beliau bersabda: “Mereka itu dari kulit (diri dan keluarga) kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita.” Aku berkata: “Maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku mengalami demikian itu.” Beliau bersabda: “Kamu pegangi jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku mengatakan: “Maka apabila bagi mereka tidak ada jama’ah pula tidak ada imam?” Beliau bersabda: “Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya dan meskipun kamu harus menggigit pada dasar pohon hingga kamu dihampiri kematian sedangkan kamu dalam keadaan (menggigit) demikian.” (HR Bukhari)
Contoh keburukan yang terjadi pada umat manusia setelah datangnya kebaikan kepada mereka (datangnya Islam), yaitu terjadinya fitnah di masa Khalifah Utsman. Fitnah itu menimbulkan kelompok-kelompok dalam umat Islam dan perang saudara di antara dua pasukan muslim di masa Khalifah Ali. Setelah berdamai, kebaikan kembali sekalipun kebaikan itu telah bercampur dengan keburukan dari fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah. Masa kebaikan tersebut lalu tertutup kembali oleh masa keburukan dari fitnah dan bid’ah yang baru. Keadaan itu berakibat kepada umat manusia, dan keadaan itu akan terus berulang kembali dengan jangka waktu yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Allah SWT menetapkan keadaan itu karena Dia hendak mengetahui orang-orang yang beriman, yang munafik, yang kafir, yang bertaubat dan yang mati syahid. Allah SWT berfirman:
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (Ali ‘Imran 140-141)
Tilmidzi: “Apakah kebaikan dan keburukan bagi manusia tersebut juga terjadi di masa Khalifah-Khalifah setelah Khalifah Rasyidin?”
Mudariszi: “Kekhalifahan setelah Khalifah Rasyidin adalah berbentuk kerajaan, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Sa’id bin Jum’han, dia berkata: “Safinah menceritakan kepadaku, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Khalifah dalam umatku tiga puluh tahun, kemudian kerajaan setelah itu.” (HR Tirmidz)
Rasulullah SAW menjelaskan tentang Khalifah-Khalifah, sebagai berikut:
Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: “Aku berangkat menemui Rasulullah SAW bersama dengan Ayahku. Lalu aku dengar beliau bersabda: “Agama (Islam) ini akan senantiasa berjaya dan kuat di tangan dua belas orang Khalifah.” Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak kedengaran oleh orang-orang lain. Aku lalu bertanya kepada Ayahku: “Apa yang telah beliau sabdakan?” Ayahku menjawab: “Bahwa mereka itu berasal dari golongan kaum Quraisy.” (HR Muslim)
Berjaya dan kuatnya agama Islam di bawah dua belas Khalifah dari Quraisy itu termasuk dalam mengatasi persoalan manusia ketika menjalani hidupnya. Hal itu terjadi karena agama Islam dan Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT untuk kebaikan dan keselamatan umat manusia di dunia dan di akhirat. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Persoalan manusia tidak akan berlalu begitu saja selagi dua belas orang tokoh menjadi penguasa mereka.” Kemudian Rasulullah SAW membisikkan suatu ucapan kepada ayahku yang tidak kedengaran olehku. Aku lalu bertanya kepada ayahku: “Apa yang dibisikkan oleh Rasulullah SAW tadi?” Dia menjawab: “Beliau bersabda bahwa kedua belas orang tokoh itu adalah dari golongan kaum Quraisy.” (HR Muslim)
Persoalan manusia dalam sunnah Rasulullah di atas itu berkaitan dengan kebaikan dan keburukan manusia, atau kafir dan berimannya manusia, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Manusia dalam hal kebajikan dan keburukan adalah ikut kepada kaum Quraisy, kemusliman mereka ikut pada kemusliman kaum Quraisy, demikian pula halnya dengan kekufuran mereka.” (HR Muslim)
Dengan demikian, Khalifah-Khalifah yang berasal dari Quraisy (setelah Khalifah Rasyidin) juga mengalami kebaikan dan keburukan bagi umat manusia yang hidup di bumi.”
Tilmidzi: “Kebaikan apakah yang dihasilkan oleh Khalifah-Khalifah tersebut bagi umat manusia?”
Mudariszi: “Contoh kebaikan yang diperoleh Khalifah-Khalifah tersebut, yaitu lahirnya sejumlah ilmuwan Islam yang menemukan ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna untuk kehidupan manusia dengan karunia-Nya di bumi. Para ilmuwan tersebut lahir di masa kekhalifahan Umayyah dan kekhalifahan Abbasyiah antara tahun 100 hingga 600 hijriyah (atau tahun 700 hingga 1200 masehi). Ilmu-ilmu yang ditemukan tersebut berkaitan dengan agama dan masyarakat, misalnya di bidang pemerintahan, pendidikan, hukum, peradilan. Sedangkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan alam dunia, misalnya disiplin ilmu matematik, geometri, bangunan, astronomi, fisika, kimia, kedokteran, rumah sakit, farmasi, biologi, pertanian, perkebunan, peternakan, pengairan, geologi, mesin, pelayaran, industri, perkotaan dan lain-lain. Semua penemuan ilmu-ilmu tersebut lengkap dengan metode ilmiah melalui penelitian dan percobaan. Para ilmuwan itu memperoleh ilmunya dari Al Qur’an dan As Sunnah. Misal ilmuwan penemu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan alam dunia, yaitu Al Hayyan, Al Khawarizmi, Al Kindi, Tsabit bin Qurah, Ar Razi, Al Battani, Al Qasim Az Zahrawi, Al Buzjani, Al Mishri, Ibnul Haitsam, Al Biruni, Ibnu Sina, Umar Al Khayyam. Ilmu-ilmu mereka menjadi dasar bagi lmuwan yang lahir kemudian dalam meneliti secara ilmiah suatu penemuan ilmu baru melalui percobaan-percobaan. Contoh ayat-ayat Al Qur’an yang menjadi dasar mereka dalam menemukan ilmu pengetahuan yang berguna untuk kehidupan manusia tersebut adalah sebagai berikut:
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Adz Dzaariyaat 49)
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap. (Fushshilat 11)
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiyaa’ 30)
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi atau di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 61)
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)
Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan 48)
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al Hajj 5)
Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al Anbiyaa’ 8)
Tilmidzi: “Keburukan apakah yang terjadi setelah kebaikan tersebut?”
Mudariszi: “Para ilmuwan dapat melakukan penelitian dan percobaan di bidang ilmunya masing-masing karena dibantu dana dari Khalifah. Khalifah bertanggung jawab terhadap ilmu-ilmu yang untuk kebaikan manusia, dan Khalifah memerintahkan agar ilmu-ilmu itu diajarkan kepada seluruh umat manusia. Khalifah menjalankan itu karena mengikuti firman-Nya ini:
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa. (Ali ‘Imran 114-115)
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al Mumtahanah 8)
Ilmu-ilmu itu menghasilkan kebaikan, kesejahteraan, kesenangan (dari kehidupan dunia) bagi umat manusia di dunia. Tapi hal itu juga membuat sebagian umat manusia termasuk umat Islam lalai dalam kehidupan dunia tersebut. Keadaan itu lalu menimbulkan fitnah dari orang-orang yang tidak menyukai agama Islam. Umat Islam terpengaruh dengan fitnah-fitnah itu sehingga sebagian dari mereka menjadi munafik atau beragama dengan berkelompok karena mengikuti bid’ah. Selain kelompok Rafidhah dan Khawarij, timbul kelompok Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Batiniyah dan lain-lain. Keimanan sebagian umat Islam melemah dan persatuan umat Islam terpecah. Sementara itu, musuh umat Islam yang tidak menyukai agama Islam, yaitu orang-orang musyrik dan Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar (Yahudi dan Nasrani), menguat. Akibatnya, kekhalifahan Umayyah di Andalusia (Eropa) diambil alih oleh kaum Nasrani dan kekhalifahan Abbasyiah di Irak dikuasai oleh bangsa Mongol. Umat Islam diusir dari Andalusia dan ilmu pengetahuan dikuasai oleh penguasa Nasrani. Sedangkan bangsa Mongol memusnahkan semua buku-buku ilmu pengetahuan di Irak. Bangsa Mongol tidak dapat menguasai seluruh kekuasaan Abbasyiah, dan keturunan penguasa dari bangsa Mongol itu lalu memeluk agama Islam. Kekhalifahan Abbasyiah yang telah lemah itu lalu diambil alih oleh kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Khalifah tetap berjihad di jalan-Nya guna menegakkan agama Islam dan mereka berhasil menaklukkan sebagian kekuasaan Romawi di Eropa termasuk negeri-negeri di Eropa Timur. Keburukan lalu menutupi kejayaan kekhalifahan Utsmaniyah, karena umat Islam semakin lalai dengan kehidupan dunia sehingga sebagian dari mereka lemah ilmu agamanya, bertambah orang-orang munafik dan meningkat orang-orang yang beragama dengan mengikuti kelompok (golongan). Keimanan dan persatuan umat Islam melemah sedangkan kekuatan musuh Islam meningkat. Akhirnya, kekhalifahan Utsmaniyah runtuh di awal tahun 1900 masehi. Penjelasan di atas menunjukkan adanya tiga kekhalifahan Islam setelah Khalifah Rasyidin dalam memimpin manusia di dunia dengan agama Islam dan dengan syariat agama Islam, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sebaik-baiknya manusia ialah kurunku, kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurunku, kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurun mereka.” Aku tidak mengerti dengan yang ketiga dan yang keempat.” (HR Muslim)
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” (HR Bukhari)
Runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah menjadikan agama Allah (Islam) tidak lagi tegak di bumi dan syariat agama-Nya tidak lagi digunakan oleh kebanyakan pemimpin negeri.”
Wallahu a’lam.