Dialog Seri 10: 90
Tilmidzi: “Bagaimana dengan negeri-negeri di bumi setelah kekhalifahan (Islam) Utsmaniyah runtuh?”
Mudariszi: “Ahli Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) yang meruntuhkan kekhalifahan Utsmaniyah tidak menyukai agama Islam yang merupakan agama Allah. Mereka terhadap agama Allah seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Ahli Kitab tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya (dalam firman-Nya di atas) itu menunjukkan mereka tidak menyukai agama Allah dan syariat agama-Nya. Allah SWT telah menetapkan agama-Nya dan syariat agama-Nya bagi Ahli Kitab yang dijelaskan oleh Rasul-Nya dan kitab-Nya untuk dijalankan dan diikuti oleh Ahli Kitab ketika menjalani hidupnya di dunia, yaitu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al Maa-idah 44)
Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al Maa-idah 46-47)
Karena tidak menyukai agama Allah dan syariat agama-Nya, pemimpin Ahli Kitab setelah meruntuhkan kekhalifahan Utsmaniyah kemudian menetapkan peraturan (syariat) yang dibuatnya sendiri dalam memimpin umat manusia. Mereka meminta dan menekan pemimpin negeri-negeri di bumi untuk mengikuti peraturannya. Umat Islam yang lemah membuat pemimpin negeri-negeri Islam lalu mengikuti peraturan Ahli Kitab itu.”
Tilmidzi: “Bagaimana pemimpin Ahli Kitab membuat negeri-negeri di bumi mengikuti peraturannya tersebut?”
Mudariszi: “Setelah meruntuhkan kehalifahan Umayyah di Andalusia, pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab lalu menguasai negeri-negeri umat Islam di Asia, Afrika, Amerika. Mereka kemudian meruntuhkan kekhalifahan Utsmaniyah dengan hartanya, ilmu pengetahuan, angkatan perangnya. Mereka lalu memecah negeri-negeri Islam menjadi negeri yang berdiri sendiri. Tujuannya agar pemimpin negeri-negeri Islam tidak bersatu di bawah Khalifah (pemimpin umat Islam). Terpecahnya negeri-negeri Islam memudahkan pemimpin Ahli Kitab menguasai pemimpin negeri-negeri Islam. Negeri-negeri Ahli Kitab pula tidak bersatu karena kaum Yahudi dan Nasrani tidak dapat bersatu, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (Al Baqarah 113)
Tapi karena Ahli Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) tidak menyukai agama Islam, maka mereka bersatu untuk menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari jalan-Nya yang lurus dengan memecah negeri-negeri Islam tersebut. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)
Mereka bekerja sama dengan orang-orang musyrik yang tidak menyukai agama Islam. Mereka menetapkan peraturan-peraturan dan jalan-jalan dalam memimpin negeri, dan mereka membujuk dan menekan pemimpin negeri-negeri untuk mengikuti peraturan dan jalan mereka. Semua itu dilakukannya karena mereka memiliki harta, ilmu pengetahuan dan keperluan hidup yang dibutuhkan dan disukai oleh manusia. Mereka menguasai barang-barang keperluan hidup manusia dan membuat manusia (termasuk umat Islam) membutuhkannya melalui peraturan dagang dan pinjaman yang mereka tetapkan. Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)
Dalam menaklukkan umat Islam, mereka bekerja sama dengan umat Islam yang beragama mengikuti golongan (yang berbuat bid’ah) termasuk orang-orang munafik, yaitu umat Islam yang tidak beragama dengan agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW (atau yang tidak mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah). Mereka menjadikan umat Islam itu sebagai pemimpin negeri dengan tujuan agar orang-orang yang beriman tidak bangkit dan syariat Islam tidak diterapkan. Umat Islam yang beragama mengikuti golongan mau bekerja sama dengan Ahli Kitab, karena mereka sama-sama menyukai kehidupan dunia dan tidak menyukai syariat agama Islam tapi menyukai syariat agama yang ditetapkan oleh golongannya. Rasulullah SAW telah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki sebuah liang biawak tentu kalian pun tetap mengikutinya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari)
Selain itu, sebagian barang-barang keperluan hidup yang dihasilkan oleh Ahli Kitab dapat merusak akhlak manusia dan dapat membuat manusia menjadi sesat. Tapi hal itu diabaikan oleh Ahli Kitab karena barang-barang itu menghasilkan harta yang banyak bagi mereka. Harta itu lalu mereka gunakan untuk membujuk pemimpin negeri-negeri Islam agar mau dan tetap bekerja sama dengan mereka. Syaitan telah menguasai mereka dan hal itu telah dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Syabib bin Gharqadah dari Sulaiman bin Amr bin Al-Ahwash dari Ayahnya, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan orang banyak dalam melakukan haji Wada. Beliau bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya syaitan benar-benar putus asa untuk disembah di negerimu ini selama-lamanya, tetapi dia akan ditaati dalam amal perbuatanmu yang menjadikan kamu hina dina lalu dia senang karenanya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT dan Rasulullah SAW peringatkan umat Islam ketika mereka dipimpin oleh Ahli Kitab dengan peraturannya?”
Mudariszi: “Keberhasilan pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab dalam menghasilkan keperluan hidup manusia telah membuat mereka menjadi sombong. Umat Islam lalu diperingatkan-Nya sebagai berikut:
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Ali ‘Imran 186)
Allah SWT juga memperingatkan umat Islam yang menyukai barang keperluan dan kesenangan hidup yang dihasilkan oleh Ahli Kitab itu dengan firman-Nya berikut ini:
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaahaa 131)
Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (Al Hijr 88)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al Kahfi 28)
Rasulullah SAW pula peringatkan umat Islam yang menyukai ilmu pengetahuan dari Ahli Kitab yang maju tersebut, sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa belajar ilmu karena selain Allah atau menghendaki dengan ilmu itu selain Allah, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Ibnu Ka’ab bin Malik dari Ayahnya berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mencari ilmu agar diperlakukan sebagai seorang yang pandai atau untuk berbantah dengan orang-orang yang bodoh atau menarik perhatian manusia kepadanya, niscaya kelak Allah memasukkannya ke neraka.” (HR Tirmidzi)
Pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab membuat pemimpin negeri-negeri khususnya pemimpin negeri-negeri Islam menjadi bergantung kepada peraturan dan jalan mereka, karena itu Allah SWT lalu memerintahkan umat Islam sebagai berikut:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Al A’raaf 3)
Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu). (An Nisaa’ 45)
Tilmidzi: “Bagaimana pemimpin negeri Islam memimpin rakyatnya?”
Mudariszi: “Umat Islam dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Kalian akan mendapati manusia seperti tambang, dan sebaik-baiknya mereka pada zaman Jahiliyah adalah sebaik-baiknya mereka dalam Islam asalkan mereka pandai dalam soal agama. Di dalam Islam kalian akan mendapati sebaik-baiknya manusia adalah yang semula paling membenci Islam sebelum dia masuk ke dalam agama tersebut. Dan kalian juga akan mendapati di antara manusia yang jahat ada orang yang berwajah dua, dimana dia datang kepada mereka dengan satu wajah dan datang kepada yang lain dengan wajah yang satunya lagi.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW lalu menjelaskan pemimpin negeri itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan tirai. Dia dimusuhi dari belakangnya dan ditakuti. Apabila dia menyuruh untuk bertakwa kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan berlaku adil, maka dengan begitu dia beroleh pahala. Tetapi apabila menyuruh pada yang lainnya, maka tentu dia akan menerima akibatnya.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW lalu memerintahkan umat Islam terhadap pemimpinnya sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti dia durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin, maka berarti dia taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin, maka berarti dia durhaka kepadaku.” (HR Muslim)
Dari Yahya bin Hushain, dia berkata: “Aku mendengar nenekku (yaitu Ibunya Hushain) bercerita, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah SAW pernah berkhutbah dalam waktu haji Wada. Beliau bersabda: “Sekalipun seorang hamba yang ditugaskan mengurus kalian namun dia menuntun kalian berdasarkan Kitab Allah, maka kalian harus tetap tunduk dan taat kepadanya.” (HR Muslim)
Jika umat Islam tidak menyukai pemimpinnya, maka Rasulullah SAW memerintahkannya sebagai berikut:
Dari Abdullah, dia mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Sepeninggalanku nanti akan muncul pemimpin-pemimpin yang tidak kamu sukai.” Para sahabat sama bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang Anda perintahkan sekiranya hal itu benar-benar terjadi pada kami?” Rasulullah SAW menjawab: “Penuhilah kewajiban yang dibebankan kepadamu, dan mohonlah kepada Allah atas hakmu.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana jika pemimpin negeri itu zalim kepada rakyatnya?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Kewajiban seorang muslim untuk mendengar dan taat terhadap apa yang dia sukai maupun yang tidak dia sukai, kecuali kalau dia diperintah melakukan maksiat. Apabila dia diperintah berbuat maksiat, maka tidak ada alasan sama sekali untuk patuh dan taat.” (HR Muslim)
Dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata: “Satu hari kami menjenguk Ubadah bin Shamit yang sedang jatuh sakit. Kami katakan padanya: “Ceritakan kepada kami suatu hadits yang anda dengar dari Rasulullah SAW. Mudah-mudahan saja Allah memberinya manfaat dan memberikan kebajikan kepada anda.” Ubadah lalu bercerita: “Rasulullah SAW memanggil kami. Kami lalu membai’at beliau. Di antara yang beliau tekankan kepada kami ialah, supaya kami bersumpah setia untuk selalu tunduk dan taat dalam suka maupun duka kami, dalam kesulitan dan kemudahan kami, bahkan dalam sesuatu yang harus mengalahkan kepentingan kami sekalipun. Di samping itu aku juga ditekankan supaya tidak perlu mempersoalkan suatu perkara yang sudah berada di tangan ahlinya. Selanjutnya beliau bersabda: “Kecuali kalau kamu melihat kekufuran yang terang-terangan berada di sampingmu dan mengabaikan kepentingan Allah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah boleh memerangi pemimpin negeri yang bermaksiat kepada Allah SWT (berbuat kufur)?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Bakal muncul para pemimpin yang tidak kamu sukai dan kamu ingkari. Barangsiapa yang tidak menyukainya, maka dia akan terbebas dari dosanya, dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka dia akan selamat. Kecuali orang yang ridha dan mengikutinya.” Para sahabat bertanya: “Apakah kami boleh membunuh mereka?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak, selama mereka melakukan sembahyang.” (HR Muslim)
Dari Auf bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Pemimpin-pemimpinmu yang baik ialah mereka yang kamu cintai, merekapun mencintai kamu, yang dekat dengan kamu dan kamu pun dekat dengan mereka. Sedang pemimpin-pemimpin kamu yang jahat ialah mereka yang kamu benci dan mereka pun membenci kamu, yang kamu kutuk dan mereka pun mengutuk kamu.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh melawan mereka dengan pedang?” Rasulullah SAW menjawab: “Jangan, selagi mereka masih melakukan sembahyang di tengah-tengah kamu. Apabila kamu melihat sesuatu yang tidak kamu sukai pada para pemimpin kamu, maka kamu boleh membenci amal perbuatannya saja, tetapi janganlah kamu melepaskan tangan dari ketaatan.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW menjelaskan perkara di atas karena beliau tidak ingin terjadi perpecahan di antara umat Islam, seperti dijelaskan berikut ini:
Dari Arjafah, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang datang kepadamu dengan maksud akan mematahkan tongkat persatuanmu atau akan memecah belah kesatuanmu, sedangkan kamu semua sudah sepakat dan bersatu memilih seorang pemimpin, maka bunuhlah dia.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW menyeru umat Islam ketika dipimpin oleh pemimpin yang tidak disukainya atau yang berbuat kekufuran, sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya pada pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena sesungguhnya orang yang memisahkan diri dari jama’ah barang sejengkal saja lalu dia mati, maka kematiannya adalah seperti kematian orang-orang Jahiliyah.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Siapa yang membenci penguasanya terhadap sesuatu (urusan agama), maka bersabarlah karena sesungguhnya orang yang keluar dari (kepatuhan kepada) penguasa barang sejengkal, maka dia pasti meninggal sebagai meninggal ala Jahiliyah (dalam kesesatan, perpecahan dan kekosongan imam yang dipatuhi).” (HR Bukhari)
Tetapi jika ada umat Islam yang tetap memerangi pemimpin negeri yang kufur tersebut, maka Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari taat dan memisahkan diri dari jama’ah lalu dia mati, maka matinya adalah mati secara Jahiliyah. Barangsiapa yang berperang secara membabi buta dan dengan emosi karena membela atau mempertahankan marganya lalu dia terbunuh, maka dia terbunuh secara Jahiliyah. Dan barangsiapa yang memusuhi ummatku sehingga dia pukul mereka semua tanpa mempedulikan orang-orang yang seharusnya dijamin keamanan mereka dan juga tanpa mengabaikan janji yang telah dia buat sendiri, maka dia bukan termasuk golongan aku dan akupun bukan termasuk daripadanya.” (HR Muslim)
Dari Jundab bin Abdullah Al Bajali, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mati terbunuh di bawah panji buta, menyeru marga, atau demi membela marga, maka kematiannya adalah seperti kematian orang-orang Jahiliyah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah pemimpin negeri Islam yang zalim itu pemimpin yang beragama mengikuti golongan?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang pemimpin negeri-negeri Islam sebagai berikut:
Dari Usaid bin Hudhair, sesungguhnya seorang lelaki dari kaum Anshar seorang diri menemui Rasulullah SAW dan bertanya: “Apakah Anda tidak menugaskan aku seperti Anda menugaskan si polan?” Rasulullah SAW bersabda: “Sepeninggalanku nanti kamu akan mendapati para pemimpin yang egois. Bersabarlah kamu sampai kita ketemu di telaga kelak.” (HR Muslim)
Dari Usaid ibn Hudhair, bahwa sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, engkau mengangkat polan (Amr ibn al-Ash) itu sebagai amir dan engkau tidak mengangkat aku sebagai amir?” Beliau bersabda (menjawab): “Sungguh kalian akan melihat suatu pemprioritasan (orang lain atas kalian) sesudah (wafat)ku, maka bersabarlah hingga kalian bertemu aku.” (HR Bukhari)
Dari Anas bin Malik, ia mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat Anshar: “Sesungguhnya kalian akan menjumpai pengutamaan sesudahku, maka bersabarlah sehingga kalian menjumpaiku, sedangkan tempat perjanjian kalian ialah telaga.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan kebanyakan pemimpin negeri-negeri Islam berasal dari umat Islam yang beragama mengikuti golongan, yaitu di masa tidak tegaknya agama Allah (Islam). Hal itu dapat diketahui ketika pemimpin negeri tersebut memimpin dengan mengutamakan golongannya. Pemimpin itu berbuat bid’ah karena menetapkan peraturan negeri dengan tidak mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah kecuali hukum-hukum yang menguntungkan golongannya. Pemimpin negeri itulah yang disukai oleh pemimpin Ahli Kitab karena pemimpin negeri itu tidak akan menerapkan syariat Islam. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umat Islam terpecah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR Tirmidzi)
Dari tujuh puluh tiga golongan umat Islam itu, hanya satu golongan yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu golongan seperti para sahabat. Sehingga tujuh puluh dua golongan beragama dengan berbuat bid’ah atau tidak beragama dengan agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Hal itu akan diketahui ketika di akhirat, yaitu ketika mereka tidak diterima oleh Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata: “Asma (binti Abu Bakar) berkata dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Aku di atas telagaku menunggu orang yang hendak datang kepadaku (untuk minum). Lalu orang–orang di dekatku diambil, maka aku berseru: “Umatku!” Lalu Dia (Allah) berfirman: “Kamu tidak tahu (hai Muhammad), mereka berjalan dengan berbalik (ke belakang, yakni mereka telah berbalik murtad).” Ibnu Abi Mulaikah berkata (berdoa): “Wahai Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari berbalik ke belakang (yakni berbalik murtad) atau (dari) terkena fitnah.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku adalah pendahulu kamu di atas telaga (haudh, untuk mempersiapkan). Dan pastilah diangkat kepadaku orang-orang lelaki dari kamu (supaya aku melihat mereka), sehingga ketika aku mengulurkan (tangan) hendak menjangkau mereka, maka mereka ditarik dari hadiratku, maka aku berseru: “Wahai Tuhan(ku), umatku!” Maka Dia berfirman: “Kamu tidak tahu kemurtadan yang mereka lakukan (sebagai perilaku baru) sesudah kamu.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hazim, dia berkata: “Aku mendengar Sahl ibn Sa’ad berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Aku adalah pendahulu kamu di atas telaga. Siapa yang datang pada telaga itu, maka dia pasti minum darinya, dan siapa yang minum dari (telaga) itu, maka dia tidak haus sesudahnya selama-lamanya. Pastilah datang kepadaku kaum-kaum yang aku mengenal mereka dan mereka mengenal aku, kemudian dihalang-halangi antara aku dan mereka.” Abu Hazim berkata: “Lalu al-Nu’man ibn Abi Iyasy mendengar dari aku menyampaikan (meriwayatkan) hadits ini kepada mereka, lalu dia (al-Nu’man) bertanya: “Demikian itulah kamu mendengar dari Sahl (ibn Sa’ad)?” Maka aku menjawab: “Ya.” Al-Nu’man mengatakan: “Dan aku bersaksi kepada Abu Sa’ad, sungguh aku mendengar dia menambahkan dalam hadits itu: “Sungguh kamu tidak mengetahui apa yang mereka ganti sesudah kamu (meninggal).” Lalu aku mengatakan: “Dijauhkan, dijauhkan (oleh Allah) bagi orang yang mengganti (agamanya) sesudah aku.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam harus mentaati pemimpin negeri yang mengutamakan golongannya?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdullah (ibn Mas’ud), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepada kami: “Sungguh kamu akan melihat prioritas (melebihkan orang lain atas kamu) sesudah aku dan (akan melihat) perkara-perkara yang kamu mengingkarinya.” Mereka (para sahabat) berkata: “Maka apakah yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Penuhilah hak mereka kepada mereka dan mohonlah hak kamu kepada Allah.” (HR Bukhari)
Dari Alqamah bin Wa-il Al Hadrami dari Ayahnya, dia mengatakan: “Salamah bin Yazid Al Ju’fi bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Nabi Allah, bagaimana pendapat Anda jika ada di tengah-tengah kami para pemimpin yang suka menuntut haknya kepada kami, akan tetapi enggan memberikan hak kami yang ada pada mereka, apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Ternyata Rasulullah SAW berpaling darinya. Bahkan ketika pertanyaan tersebut sampai ketiga kalinya, beliau masih tetap diam saja. Setelah didesak oleh Al Asy’ats bin Qais akhirnya beliau mau menjawab juga: “Tunduk dan taatlah. Sesungguhnya mereka akan menanggung perbuatannya sendiri, dan kamu pun akan menanggung perbuatanmu sendiri.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana contoh pemimpin negeri Islam yang zalim kepada rakyatnya?”
Mudariszi: “Salah satu contoh pemimpin negeri yang zalim kepada rakyatnya dijelaskan sebagai berikut:
Dari Al Hasan, dia berkata: “Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qil bin Yasar pada waktu sakit yang sampai membawanya meninggal dunia. Kata Ma’qil bin Yasar Al Muzani: “Sesungguhnya aku ingin menceritakan kepadamu sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah SAW. Kalau saja aku sudah tidak akan meninggal dunia, aku tidak akan menceritakannya kepadamu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap orang yang oleh Allah diberi kekuasaan memimpin rakyat, namun pada waktu meninggal dunia dia adalah orang yang menipu rakyatnya, maka Allah akan mengharamkannya masuk ke dalam surga.” (HR Muslim)
Dari Abu Al Malih, sesungguhnya Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qil bin Yasar yang sedang sakit. Ma’qil berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku ingin menceritakan kepadamu suatu hadits yang seandainya aku tidak merasa sebentar lagi akan meninggal dunia, maka tidak akan aku ceritakan kepadamu. Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap pemimpin yang menguasai urusan kaum muslimin namun dia tidak mau memberikan nasehat dan tidak mau pula bekerja keras atau bersusah payah untuk mereka, maka dia tidak akan bisa masuk surga bersama mereka.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW menyebut-nyebut tentang nasib buruk orang-orang yang menipu atau korupsi di akhirat kelak dengan serius sekali.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bolehkah umat Islam minta jabatan kepada pemimpin negeri?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut di atas karena Allah SWT tidak melahirkan semua orang menjadi pemimpin negeri, contoh salah satu sahabat berikut ini:
Dari Abu Dzar, dia berkata: “Pernah aku berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mau menugaskan aku?” Sambil menepuk pundakku beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu ini lemah sekali. Sedangkan tugas yang ingin kau minta itu merupakan amanat. Pada hari kiamat kelak, ia merupakan sesuatu yang bakal mendatangkan kenistaan dan penyesalan. Kecuali bagi orang yang mau mengembannya dengan benar dan memenuhi semua kewajiban yang dibebankan padanya.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzar, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzar, aku lihat kamu ini orang yang lemah. Dan aku sangat menyayangimu. Janganlah kamu memberikan kepemimpinan kepada dua orang sekaligus, dan janganlah pula kamu membiarkan harta anak yatim dikuasai orang yang tidak bertanggung jawab.” (HR Muslim)
Dan Rasulullah SAW melarang untuk memberikan jabatan kepada umat Islam yang sangat menginginkannya, melalui sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Musa, dia berkata: “Aku menemui Rasulullah SAW ditemani oleh dua orang lelaki dari keponakanku. Salah seorang keponakan itu berkata: “Wahai Rasulullah, jadikan aku pemimpin atas sebagian apa yang telah dikuasakan oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung kepada Anda.” Yang satunya lagi juga mengatakan hal yang sama. Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang pun yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba padanya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas dapat membuat umat Islam berhati-hati ketika meminta jabatan pimpinan kepada pemimpin negeri di masa tidak tegaknya agama Allah (Islam) atau tidak diterapkannya syariat agama Islam karena mudah membawanya kepada perbuatan berdosa ketika menjalankan tugas.”
Tilmidzi: “Apakah ada umat Islam yang menegakkan agama Islam ketika tidak tegaknya agama Allah?”
Mudariszi: “Meskipun tidak ada lagi kekhalifahan Islam di masa itu, tapi akan ada sekelompok umat Islam di negeri-negeri Islam yang selalu membela dan menegakkan agama Allah (Islam). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Adapun aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang selalu siap berperang membela agama Allah. Mereka akan berlaku keras terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang yang menyalahi mereka. Dan sampai kiamat kelak sekalipun mereka tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Sehingga, sekalipun agama Allah tidak tegak di bumi, tapi agama Allah (agama Islam) tetap tegak di negeri-negeri Islam. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Jabir bin Samurah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Agama ini akan senantiasa tegak, mengingat ada sekelompok kaum muslimin yang membelanya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)
Dari Al Mughirah bin Syubah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sekelompok dari umatku akan selalu menang sampai urusan Allah (kiamat) datang kepada mereka; dan mereka adalah yang menang.” (HR Bukhari)
Dari Tsauban, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku takut atas umatku kepada para pemimpin yang menyesatkan.” Tsauban berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Golongan dari umatku senantiasa menang (teguh) atas kebenaran, tidak membahayakan kepada mereka orang yang menelantarkan mereka sehingga datang hari kiamat.” (HR Tirmidzi)
Wallahu a’lam.