Mengapa Kekhalifahan Islam Di Bumi Dapat Menjadi Runtuh?

Dialog Seri 10: 89

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah memperingatkan runtuhnya kekhalifahan Islam atau tidak tegaknya agama Islam di bumi?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Imran bin Hushain, dia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, ke­mudian generasi berikutnya.” Imran berkata: Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” Kemudian sesudah kalian terdapat kaum yang berhak menjadi saksi, tapi tidak dimintai kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai seorang saksi). Mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Mereka bernazar dan tidak dapat menunaikannya dan tampak pada mereka orang-orang gemuk.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas dapat berarti bahwa kekhalifahan (pemerintahan) Islam tidak akan ada lagi setelah kekhalifahan keempat (termasuk Khalifah Rasyidin). Karena kaum-kaum yang suka berkhianat dan yang gemuk (yang menyukai kehidupan dunia) dalam sunnah Rasulullah di atas tidak dapat dikatakan di bawah pimpinan kekhalifahan Islam. Mereka itu lebih tepat dikatakan di bawah pimpinan negeri-negeri yang tidak menerapkan syariat agama Islam. Karena itu, agama Islam (agama Allah) dapat dikatakan tidak lagi tegak di bumi setelah kekhalifahan Utsmaniyah.”

 

Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan kekhalifahan Islam itu runtuh?”

 

Mudariszi: “Penyebabnya yaitu tidak bersatunya umat Islam. Ketika itu umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan hingga membuat mereka menjadi lemah dan hal itu menguntungkan musuh-musuhnya. Padahal Allah SWT telah peringatkan mereka melalui firman-Nya ini:

 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Ali ‘Imran 103)

 

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali; kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (An Nahl 92)

 

Rasulullah SAW pula telah peringatkan mereka sebagai berikut:

 

Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dan Ibnu Urnar, dia berkata: Umar ber­khutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: Wahai manusia, se­sungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasu­lullah SAW di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: Ingatlah, tidaklah seorang laki-laki melakukan khalwah (menyepi) dengan seorang perempuan lain melainkan yang ketiganya adalah syai­tan. Tetaplah bersatu dan jauhilah perpecahan karena sesungguhnya syaitan beserta orang satu dan syaitan beserta dua orang itu lebih jauh. Barangsiapa menghendaki tinggal di tengah surga, maka hendaklah ia selalu bersatu. Barangsiapa yang kebaikannya dapat menyenangkannya dan kejelekannya dapat menyedihkannya maka dia itu seorang mu’­min.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Ibnu Thawus dari Ayahnya dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulul­lah SAW bersabda: Tangan Allah beserta jama’ah (ummat Islam yang bersatu).” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Bagaimana umat Islam yang bersatu di masa Rasulullah dan sahabat tapi lalu menjadi terpecah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang fitnah kepada umat beliau sebagai berikut:

 

Dari Anas, dia berkata: Mereka (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah SAW hingga mereka mendesak beliau dengan pertanyaan itu. Maka pada suatu hari Rasulullah SAW naik mimbar, maka beliau bersabda: Janganlah kamu bertanya kepadaku tentang suatu (ghaib) kecuali aku menerangkan kepadamu.” Anas berkata: Maka aku memandangi (sahabat) ke kanan dan ke kiri, ternyata setiap orang laki-laki (yang hadir) kepalanya (masuk) ke dalam pakaiannya seraya menangis. Lalu seorang laki-laki, yang dinasabkan kepada selain Ayahnya ketika berbantah, angkat bicara, maka dia berkata: Wahai Nabi Allah, siapakah Ayahku itu? Beliau bersabda: Ayahmu (bernama) Hudzafah.” Kemudian Umar (ibn Khathab, ketika melihat wajah Nabi marah, maka) angkat bicara, maka dia berkata: Kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai utusan. Kami berlindung kepada Muhammad sebagai utusan. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan fitnah-fitnah.” Maka Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah aku pernah melihat pada kebaikan dan keburukan seperti pada hari ini sama sekali. Sesungguhnya surga dan neraka dirupakan kepadaku hingga aku melihat keduanya di dekat satir (mihrab beliau).” Qatadah berkata: Hadits ini diturunkan pada (turunnya) ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. (surat Al Maaidah ayat 101). Dan Anas berkata: Setiap orang laki-laki (tersebut) membungkus (menyelusupkan) kepalanya ke dalam pakaiannya seraya menangis (prihatin terhadap siksa Allah, karena banyak bertanya kepada Nabi) dan mengucapkan (ucapan) dengan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan fitnah-fitnah atau dia mengucapkan: Aku berlindung kepada Allah dari keburukan fitnah-fitnah.” (HR Bukhari)

 

Pertanyaan sahabat dalam sunnah Rasulullah di atas merupakan contoh fitnah hingga ditegur oleh Allah SWT melalui firman-Nya (surat Al Maa-idah ayat 101). Fitnah itu ditimbulkan oleh syaitan karena pertanyaan itu berkaitan dengan perkara yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Pertanyaan itu hanya berguna untuk sahabat yang bertanya. Sahabat itu akan didebati atau ditentang atau dimusuhi oleh sahabat lain karena tidak memperoleh manfaat apapun dari pertanyaannya tersebut. Semua itu merupakan keburukan dan bukan perbuatan di jalan-Nya yang lurus. Tapi itulah tujuan syaitan dengan fitnah yang ditimbulkannya, karena mengikuti Iblis. Allah SWT berfirman:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Karena itu para sahabat kemudian meminta perlindungan kepada Allah SWT dari fitnah (syaitan).”

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT membiarkan fitnah dari syaitan tersebut padahal Dia telah menurunkan agama Islam kepada Rasulullah SAW untuk manusia?”

 

Mudariszi: “Karena Allah SWT hendak menguji manusia melalui amal perbuatannya ketika menjalani hidupnya di dunia dengan syariat agama-Nya (agama Islam) dan dengan karunia-Nya di bumi yang sebagiannya merupakan kebutuhan hidup manusia. Allah SWT berfirman:

 

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk 2)

 

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)

 

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)

 

Allah SWT menguji amal perbuatan manusia itu dengan keburukan dan kebaikan yang dirasakannya dengan sebenar-benarnya yang berupa ketakutan, kesenangan, kesakitan, kenikmatan, kehancuran dan kejayaan. Allah SWT berfirman:

 

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al Anbiyaa’ 35)

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. (Al Baqarah 155)

 

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (Ali ‘Imran 140-141)

 

Allah SWT membiarkan keburukan (fitnah) itu terjadi setelah adanya kebaikan (agama Islam) karena Dia ingin melihat ketaatan manusia dalam mengikuti syariat agama Islam ketika berhadapan dengan keburukan-keburukan itu selama perjalanan hidupnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Hudzaifah ibn Al-Yaman, dia berkata: Adalah orangorang itu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan dan adalah aku bertanya kepada beliau tentang keburukan (fitnah, lemahnya kesatu­an Islam, kesesatan yang menguasai dan tersebarnya bidah), karena kekhawatiran mengenai diriku. Maka aku berkata kepada Rasulullah SAW: Sungguh kami dahulu di masa Jahiliyah dan kejahatan, lalu Allah datang kepada kami dengan kebaikan (kerasulan engkau, ke­kokohan bangunan Islam dan robohnya pilar-pilar kekafiran dan kese­satan) ini. Maka apakah sesudah kebaikan ini terdapat suatu keburukan? Beliau bersabda: Ya.” Aku bertanya: Dan apakah sesudah keburukan itu terdapat suatu ke­baikan?Beliau bersabda: Ya, dan disana terdapat asap.” Aku bertanya: Dan apakah asapnya itu? Beliau bersabda: Kaum yang menunjukkan tanpa dengan petunjuk, dimana kamu mengenali (kebaikan) dari mereka (maka kamu menerima dan kamu mengenali keburukan) dan kamu mengingkari.” Aku bertanya: Maka apakah sesudah kebaikan itu terdapat suatu ke­burukan?Beliau bersabda: Ya, para penyeru di pintu-pintu Jahanam. Siapa yang memenuhi (seruan) mereka ke pintu-pintu itu, maka mereka melempar­kannya ke dalamnya (neraka).” Aku berkata: Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka itu kepada kami! Beliau bersabda: Mereka itu dari kulit (diri dan keluarga) kita dan me­reka berbicara dengan bahasa kita.” Aku berkata: Maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku mengalami demikian itu.” Beliau bersabda: Kamu pegangi jamaah kaum muslimin dan imam me­reka.” Aku mengatakan: “Maka apabila bagi mereka tidak ada jamaah pula ti­dak ada imam? Beliau bersabda: Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya dan meskipun kamu harus menggigit pada dasar pohon hingga kamu di­hampiri kematian sedangkan kamu dalam keadaan (menggigit) demi­kian.” (HR Bukhari)

 

Maksud dari asap dalam sunnah Rasulullah di atas, yaitu noda yang terjadi pada agama Islam akibat dari fitnah; sedangkan kaum yang menunjukkan tanpa dengan petunjuk, yaitu kaum yang mensunnahkan selain sunnah Rasulullah dan yang memberikan petunjuk selain petunjuk Rasulullah. Kaum yang menodai agama Islam itulah yang terkena fitnah (syaitan).”

 

Tilmidzi: “Apakah kaum yang menodai agama Islam itu umat Islam yang tidak beragama dengan agama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW (atau yang melakukan bid’ah)?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan tentang agama-Nya (agama Islam) sebagai berikut:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali. (Al Anbiyaa 92-93)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa agama Islam yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW  akan dikurangi (dipotong) atau ditambah oleh umat Islam sendiri. Umat Islam yang tidak beragama dengan agama Islam yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW (As Sunnah) itulah umat yang berbuat bid’ah. Umat Islam itu dan pengikutnya akan menjadi sesat karena amalan mereka (yang menambah atau memotong agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW) tidak diterima-Nya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami tanpa ada dasarnya, maka sesuatu itu tertolak.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agamaku, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah SAW ketika berkhutbah, merah kedua matanya, tinggi suaranya dan keras kemarahannya, sehingga tampak seolah-olah beliau sedang memberi peringatan kepada sepasukan tentara dengan berkata: Boleh jadi musuh datang kepada kalian di waktu pagi, dan boleh jadi mereka datang kepada kalian di waktu sore! Kala itu beliau bersabda: Masa aku diutus dan hari kiamat itu ha­nyalah seperti kedua jari ini! Beliau menjajarkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Selanjutnya beliau bersabda: Sesudah apa yang tersebut, maka keta­huilah bahwa ucapan paling baik adalah Kitab Allah, petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad. Urusan agama yang paling buruk adalah cara melaksanakan agama yang diperbaharui (yang di­sebut bidah). Dan setiap bidah pasti sesat.” (HR Muslim)

 

Contoh kelompok umat Islam yang berbuat bid’ah karena fitnah, yaitu kelompok Rafidhah dan kelompok Khawarij. Mereka timbul di masa Khalifah Utsman dan Khalifah Ali. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ikrimah, dia berkata: Dihadirkan kepada orangorang zindiq (orang-orang yang merahasiakan kekafiran dan menampak­kan keislaman, atau orang-orang yang tidak mengikuti suatu agama, atau kelompok dari golongan Rafidhah pengikut Abdullah bin Saba yang mengatakan bahwa Ali adalah Tuhan), maka dia membakar mereka. Lalu demikian ini terdengar oleh Abdullah ibn Abbas, maka dia berkata: Seumpama itu aku maka tidaklah aku membakar mereka, ka­rena larangan Rasulullah SAW membunuh dengan api: Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah”, dan pastilah aku membunuh mereka karena sabda Rasulullah SAW: Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari)

 

Dari Ubaidillah bin Abi Rafi, bekas budak Rasu­lullah SAW, ia berkata: Ketika golongan Khawarij muncul, pada saat itu Ubaidil­lah bersama Ali bin Abi Thalib, mereka berkata: Tak ada hukum (ketetapan, kekuasaan) kecuali bagi Allah. Ali menanggapi: Perkataan benar yang digunakan secara salah. Se­sungguhnya Rasulullah SAW telah melukiskan sifat manusia. Aku benar-­benar mengenal sifat mereka pada orang-orang itu: Mereka mengata­kan kebenaran dengan lisan mereka yang tidak melewati ini mereka (Ra­sulullah SAW menunjuk tenggorokan beliau). Di antara makhluk Allah yang dibenci dari mereka adalah seorang hitam yang salah satu tangan­nya ada seperti mata susu kambing.” (HR Muslim)

 

Kelompok Rafidhah dan Khawarij dalam sunnah Rasulullah di atas itu tidak beragama dengan agama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, mereka tidak beragama seperti para sahabat beragama yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah.”

 

Tilmidzi: “Apakah ada keburukan lain selain timbul kelompok umat Islam yang berbuat bid’ah karena fitnah?”

 

Mudariszi: “Keburukan lain yaitu timbul orang-orang munafik. Misal, pimpinan kelompok Rafidhah atau Khawarij itu juga menginginkan kekuasaan dalam kekhalifahan Islam. Sehingga itu menunjukkan mereka tidak taat mengikuti syariat agama Islam yang mewajibkan mereka untuk taat kepada Ulil Amri (termasuk Khalifah dan ulama yang lebih mengetahui tentang agama Islam). Allah SWT berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’ 59)

 

Dengan demikian, pimpinan Rafidhah dan Khawarij itu telah berbuat kemunafikan selain bid’ah. Dan hal itu dijelaskan pula oleh sahabat Rasulullah, sebagai berikut:

 

Dari Hudzaifah ibn Al-Yaman, dia berkata: “Orang-orang munafik pada masa sekarang lebih jahat daripada mereka di masa Rasulullah SAW, dimana mereka pada waktu itu merahasiakan (kekafiran, tidak menyatakan kejahatannya), sedangkan pada masa sekarang mereka berterang-terang (menyatakan perlawanan kepada imam dan menebarkan ke­jahatan di antara golongan-golongan).” (HR Bukhari)

 

Timbulnya orang-orang munafik itu tidak harus melalui golongan (kelompok). Dan mereka dapat diketahui yaitu dari perbuatannya yang buruk dan tidak mau berbuat baik. Mereka menyukai kehidupan dunia dan tidak menyukai syariat agama Islam. Mereka menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Itu menjadikan mereka sesat karena berbuat seperti syaitan (Iblis). Allah SWT berfirman:

 

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)

 

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)

 

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)

 

Timbulnya orang-orang munafik di masa Khalifah Utsman dan Khalifah Ali karena harta kekhalifahan telah membuat umat Islam berharta dan sejahtera. Allah SWT menguji umat Islam dengan harta, karena Dia dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang harta tersebut sebagai berikut:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)

 

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. (Al Anfaal 28)

 

Dari Ka’ab bin Iyadh, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap umat ada cobaan dan cobaan umatku adalah harta.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah ada Khalifah yang membuat syaitan tidak berhasil dengan fitnah-fitnahnya?”

 

Mudariszi: “Ada, yaitu Khalifah Umar. Syaitan selalu gagal dengan fitnah-fitnahnya di masa Khalifah Umar karena Rasulullah SAW menjelaskan tentang Umar sebagai berikut:

 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqas dari Ayahnya, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Berhentilah berbicara, wahai Ibnu Khaththab. Demi Tuhan yang menguasai diriku, setan tidak pernah menemuimu sama sekali di saat engkau melalui jalan yang luas, kecuali ia melalui jalanan luas selain jalanmu.” (HR Bukhari)

 

Dari Hudzaifah, ia berkata: Umar berkata: Bukan itu yang kumaksud, tapi masalah fitnah (cobaan) yang menyebabkan timbulnya kegoncangan bagaikan gelombang besar di lautan. Hudzaifah berkata: Aku berkata kepada Umar: Tidak ada fitnah bagimu, wahai Amirul Muminin, karena antara eng­kau dan fitnah bagaikan pintu yang tertutup. Umar berkata: Apakah kiranya pintu itu tidak dapat dirusak atau dibuka? Hudzaifah berkata: Pintu itu dapat dirusak. Umar berkata: Jika pintu itu dapat dirusak tentu tidak mungkin untuk ditutup selama-lamanya. Hudzaifah berkata: Aku memberitahukan bahwa memang demikian keadaannya (yakni jika sudah dirusak dan terbuka, tentu tidak dapat ditutup lagi). Abu Wail berkata: Kita semua yang pada saat itu dekat dengan Umar, mereka takut menanyakan kepada Hudzaifah, lalu siapakah yang menjadi pintunya (yakni siapakah yang sebenarnya yang memulai menimbulkan fitnah). Kami lalu berkata kepada Masruq: Bertanyalah kepada Hudzaifah! Kemudian Masruq bertanya kepada Hudzaifah tentang siapa yang menjadi pintunya, lalu Hudzaifah berkata: Umar.” (HR Bukhari)

 

Khalifah Umar dapat melakukan itu karena dia menjalankan tugasnya dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW dan Al Qur’an, yaitu dia hanya melihat perbuatan manusia dan tidak melihat keinginannya (niatnya), karena niat itu masalah ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Az-Zuhri yang mendapatkan cerita dan Humaid bin Ab­durrahman bin Auf. Sesungguhnya Abdullah bin Utbah berkata: Aku pernah mendengar Umar bin Al Kaththab mengatakan: Sesung­guhnya manusia pada zaman Rasulullah SAW dituntut berdasarkan wahyu. Tetapi sekarang wahyu itu telah terputus. Maka kami akan me­nuntut kalian berdasarkan amalan-amalan yang kalian perlihatkan ke­pada kami. Barangsiapa yang memperlihatkan kepada kami kebajikan, maka kami akan melindungi dan mendekatinya. Adapun mengenai niat, kami tidak punya wewenang sedikitpun, biar Allah nanti yang akan menghisabnya sendiri. Sebaliknya barangsiapa yang memperlihatkan keburukan kepada kami, maka kami tidak melindungi dan membenar­kannya, sekalipun dia mengaku bahwa niatnya baik.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah datang kebaikan setelah ada keburukan dan apakah kebaikan itu diikuti keburukan lagi?”

 

Mudariszi: “Fitnah bertambah-tambah karena banyaknya umat manusia yang memeluk agama Islam dan banyaknya harta kekhalifahan. Khalifah-Khalifah (setelah Khalifah Rasyidin) berusaha mengatasi keburukan-keburukan yang terjadi karena fitnah. Tapi ada Khalifah yang terpengaruh dengan fitnah sehingga keburukan tidak dapat lenyap. Hal itu membuat noda pada agama Islam bertambah besar. Karena fitnah itu hanya ujian dari Allah SWT, maka pada waktunya Dia mendatangkan kebaikan untuk manusia, yaitu lahirnya ilmuwan-ilmuwan Islam yang menemukan sejumlah ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tapi setelah kebaikan itu, timbul fitnah lagi hingga bertambah umat Islam yang munafik dan yang berbuat bid’ah (beragama mengikuti golongan). Keburukan itu meningkat dari satu Khalifah ke Khalifah berikutnya, sehingga jumlah golongan dalam umat Islam menjadi sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga go­longan.” (HR Tirmidzi)

 

Dari tujuh puluh tiga golongan umat Islam itu, hanya satu golongan yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, atau yang berbuat (beramal) seperti yang dilakukan oleh para sahabat. Sehingga tujuh puluh dua golongan itu beragama dengan berbuat bid’ah atau tidak beragama dengan agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Mereka menjadi tidak berbeda dengan Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Taurat serta oleh Nabi ‘Isa dan Injil. Allah SWT berfirman:

 

Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Mereka dinasehati oleh golongan yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah agar bersatu dan kembali mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah seperti amal perbuatan para sahabat yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah ketika mereka memimpin dan merupakan wasiat Rasulullah:

 

Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dan Ibnu Urnar, dia berkata: Umar ber­khutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: Wahai manusia, se­sungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasu­lullah SAW di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: Aku berwasiat kepadamu agar mengikuti jejak para sahabatku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mempersekutukan umatku (atau bersabda: umat Muhammad) dalam kesesatan. Tangan Allah itu atas jamaah (persatuan) dan barangsiapa memisahkan dari (jamaah umat Islam), maka dia memisahkan diri di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)

 

Tapi mereka tetap memilih beragama dengan mengikuti golongannya. Sehingga mereka telah membuat agama Allah (agama Islam) dan umat Islam menjadi terpecah. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)

 

Tilmidzi: “Apakah perpecahan umat Islam itu yang menyebabkan runtuh kekhalifahan Islam satu per satu?”

 

Mudariszi: “Ya! Kekuasaan, harta, ilmu pengetahuan telah membuat sebagian Khalifah di kekhalifahan Umayyah lalai dalam kehidupan dunia; Khalifah mengabaikan peringatan dari ulama dan Khalifah lebih mendengarkan pimpinan golongan. Akhirnya kekuasaan diambil alih oleh kekhalifahan Abbasyiah. Kekhalifahan Umayyah hanya berkuasa di Andalusia Eropa. Ahli Kitab di Eropa banyak memperoleh ilmu pengetahuan dari Khalifah dan mereka sebagai rakyat Andalusia ikut membantu Khalifah membangun negeri dan rakyat. Tapi Ahli Kitab tetap tidak menyukai agama Islam, dan hal itu telah diperingatkan oleh ulama kepada Khalifah dengan menjelaskan peringatan-Nya berikut ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu. (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (Ali ‘Imran 118)

 

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali ‘Imran 119)

 

Bahkan Allah SWT melarang orang-orang beriman untuk mengambil Ahli Kitab sebagai pemimpin mereka, melalui firman-Nya ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Maa-idah 51)

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). (Al Maa-idah 57)

 

Peringatan ulama diabaikan oleh Khalifah. Kaum Nasrani lalu menjadi kuat dalam harta dan persatuan, sehingga mereka kemudian menyerang dan menduduki istana Khalifah serta mengusir Khalifah dan semua umat Islam dari Eropa. Mereka menguasai semua harta dan dokumen kekhalifahan Umayyah termasuk kitab-kitab ilmu pengetahuan. Mereka menggunakan kapal-kapal kekhalifahan untuk menaklukkan negeri-negeri umat Islam di Amerika Selatan, Asia Tenggara, Afrika Barat, Afrika Selatan. Mereka kemudian menyerang kekhalifahan Abbasyiah di Asia Tengah dan Asia Barat, tapi tidak dapat menaklukkannya. Istana kekhalifahan Abbasyiah juga diserang oleh bangsa Mongol dan dapat dikuasainya. Tapi bangsa Mongol tidak dapat menguasai kekhalifahan Abbasiyiah seluruhnya. Mereka membakar semua kitab-kitab ilmu pengetahuan. Khalifah mudah dijatuhkan oleh bangsa Mongol karena harta dan ilmu pengetahuan telah membuat Khalifah dan umat Islam beragama dengan mengikuti golongan-golongan dan menyukai kehidupan dunia. Mereka dinasehati oleh ulama yang lurus agar bersatu dan beragama mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, tapi mereka tentang. Padahal Allah SWT berfirman:

 

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa yang berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali ’Imran 28)

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? (An Nisaa’ 144)

 

Khalifah dan para pembantunya lebih mendengar pimpinan golongan karena mereka mempunyai pengikut. Setelah dikuasai oleh bangsa Mongol, kekhalifahan Abbasyiah makin melemah hingga akhirnya kekhalifahan diambil alih oleh kekhalifahan Utsmaniyah.” 

 

Tilmidzi: “Apakah kekhalifahan Utsmaniyah menguatkan kekhalifahan Islam di bumi?”

 

Mudariszi: “Kekhalifahan Utsmaniyah berjihad di jalan-Nya menegakkan agama Islam. Khalifah berhasil menaklukkan negeri-negeri di bawah kerajaan Romawi di Eropa Timur dan Eropa Selatan hingga penduduknya memeluk agama Islam. Kaum Nasrani kemudian bekerja sama dengan kaum Yahudi dalam memerangi kekhalifahan Islam. Dengan harta mereka, Ahli Kitab mengembangkan pendidikan, industri-industri yang menghasilkan kebutuhan hidup manusia dan membuat peralatan perang. Dengan itu Ahli Kitab makin berharta dan kuat, sehingga mereka kemudian memerangi dan menguasai negeri-negeri umat Islam di Asia dan di Afrika. Allah SWT berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)

 

Kekhalifahan Utsmaniyah yang kerap berperang di jalan-Nya menegakkan agama Islam dan membantu umat Islam yang diperangi oleh Ahli Kitab, telah menjadikan keuangan mereka berkurang hingga tidak lagi mampu membiayai untuk berperang. Di lain pihak, kemajuan yang dibuat oleh Ahli Kitab telah menarik hati umat Islam hingga mereka tidak lagi mengutamakan agama Islam, menyukai kehidupan dunia dan menjadi munafik. Mereka lebih suka belajar dan bekerja dengan Ahli Kitab daripada dengan umat Islam. Ulama telah memperingatkan mereka dengan menjelaskan firman-Nya ini:

 

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. (Al Baqarah 109)

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Ali ‘Imran 100)

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (Ali ’Imran 149-150)

 

Peringatan Allah yang disampaikan oleh ulama itu diabaikan oleh umat Islam. Umat Islam menjadi lemah dalam pengetahuan agama dan terpecah menjadi beberapa golongan. Keadaan itu membuat kekhalifahan Utsmaniyah melemah hingga runtuh di awal tahun seribu sembilan ratus (1900) masehi. Kekhalifahan Islam yang memimpin penduduk bumi dengan syariat agama Islam selama seribu tiga ratus (1300) tahun lebih, telah berakhir. Agama Allah tidak tegak lagi di bumi sejak awal tahun seribu sembilan ratus (1900) masehi.”

 

Tilmidzi: “Apakah runtuhnya kekhalifahan Islam tersebut karena kesalahan umat Islam sendiri?

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Tsauban, ia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Sesungguhnya Allah mengumpulkan bumi untukku, maka aku dapat melihat belahan bagian Timur dan bagian Barat, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang dikumpulkan untukku. Dan aku diberi dua simpanan, yaitu merah dan putih (emas dan perak). Aku memohon kepada Tuhan untuk umatku agar Dia tidak menghancurkan umatku dengan paceklik yang merata, dan tidak menguasakan musuh terhadap mereka selain diri mereka sehingga musuh tadi akan merampas kemuliaan mereka. Kemudian Tuhan berfirman: “Hai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak dapat ditolak. Sesungguhnya Aku memberikan kepadamu untuk umat­mu bahwa Aku tidak menghancurkan mereka dengan paceklik yang merata dan tidak menguasakan musuh terhadap mereka yang akan me­rampas kemuliaan mereka selain diri mereka sendiri, meskipun dikepung orang-orang di sekitar mereka sampai sebagian mereka membinasakan dan menawan sebagiannya.” (HR Muslim)

 

Dari Amir bin Sa’ad dari Ayahnya, bahwa suatu hari Rasulullah SAW datang dari Al Aliyah. Ketika sampai di masjid Bani Muawiyah, beliau masuk lalu shalat dua rakaat dan kami pun ikut shalat. Setelah itu beliau berdoa lama sekali kemudian berbalik meng­hadap ke arah kami. Beliau bersabda: Aku memohon kepada Tuhan tiga perkara, maka Dia memberi aku yang dua dan menolak yang satu. Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, Dia mengabulkan; aku mohon agar umatku tidak dibinasa­kan dengan banjir, Dia mengabulkan; aku mohon agar tidak mencipta­kan bencana di antara mereka, Dia menolak.” (HR Muslim)

 

Allah SWT menolak permintaan Rasulullah SAW agar tidak terjadi bencana di antara umat Islam hingga saling membinasakan (dalam sunnah Rasulullah di atas) itu bukan karena kehendak-Nya, tapi karena umat Islam sendiri. Allah SWT dan Rasulullah SAW telah peringatkan mereka sebelumnya, yaitu agar mereka tetap bersatu dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah seperti perbuatan para sahabat yang bersatu dan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah ketika memimpin umat Islam dan umat manusia di dunia.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply