Dialog Seri 10: 88
Tilmidzi: “Apakah runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah membuat agama Allah tidak tegak di bumi?”
Mudariszi: “Kekhalifahan Islam yang keempat atau ketiga setelah Khalifah Rasyidin, yaitu kekhalifahan Utsmaniyah, runtuh di awal tahun 1900 (masehi). Rasulullah SAW menjelaskan tentang kekhalifahan Islam tersebut sebagai berikut:
Dari Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sebaik-baiknya manusia ialah kurunku, kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurunku, kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurun mereka.” Aku tidak mengerti dengan yang ketiga dan yang keempat. Selanjutnya beliau bersabda: “Kemudian sesudah mereka akan datang suatu kaum secara silih berganti, dimana kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR Muslim)
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Umatku yang terbaik ialah generasiku, generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW menyebutkan sesudah generasinya dua generasi lagi atau tiga.” Kemudian sesudah kalian terdapat kaum yang berhak menjadi saksi, tapi tidak dimintai kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai seorang saksi). Mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Mereka bernazar dan tidak dapat menunaikannya dan tampak pada mereka orang-orang gemuk.” (HR Bukhari)
Kaum-kaum yang tidak dapat dipercaya, suka berkhianat dan suka dengan harta dunia (dalam sunnah Rasulullah di atas) itu generasi umat Islam setelah generasi keempat atau setelah kekhalifahan Utsmaniyah. Perbuatan kaum-kaum itu dapat diartikan mereka menjalani hidupnya tanpa mengikuti syariat agama Islam karena tidak diterapkan di negeri-negeri Islam. Itu menunjukkan bahwa setelah runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah, agama Allah (agama Islam) tidak lagi tegak di bumi.”
Tilmidzi: “Mengapa negeri-negeri tidak mengikuti syariat agama-Nya?”
Mudariszi: “Pemimpin negeri-negeri yang meruntuhkan kekhalifahan Islam adalah Ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Taurat serta oleh Nabi ‘Isa dan Injil. Allah SWT berfirman:
Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Ahli Kitab dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa mereka tidak menyukai agama-Nya dan syariat agama-Nya. Jika Ahli Kitab itu beragama dengan agama-Nya yang benar dan menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat agama-Nya, maka mereka akan menempuh jalan-Nya yang lurus. Mereka menjadi seperti umat Islam yang beriman yang menegakkan agama-Nya (agama Islam) ketika menjalani hidupnya yaitu menyuruh manusia kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Allah SWT berfirman:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali ‘Imran 110)
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan yang keji, kemungkaran dan permusuhan. (An Nahl 90)
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al Hajj 40-41)
Dengan Ahli Kitab meninggalkan syariat agama-Nya ketika memimpin negeri-negeri, maka mereka berarti tidak mengikuti jalan-Nya yang lurus. Mereka mengikuti peraturan (jalan) atau syariat yang dibuatnya sendiri ketika memimpin rakyatnya. Mereka menekan pemimpin negeri-negeri lain untuk mengikuti peraturan mereka tersebut. Itu menunjukkan mereka menghalang-halangi manusia dari agama Allah dan dari jalan Allah yang lurus, dan mereka juga menghalang-halangi orang-orang beriman dari jalan Allah yang lurus. Dan Allah SWT telah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok, padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 99)
Mereka tidak ingin manusia mengikuti Allah SWT atau agama-Nya (Islam), mereka ingin manusia mengikuti agama mereka atau tuhan mereka, yaitu tuhan selain Dia.”
Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab diwajibkan oleh Allah SWT untuk mengikuti syariat agama-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al Maa-idah 44)
Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al Maa-idah 46-47)
Allah SWT mewajibkan Ahli Kitab untuk mengikuti syariat agama-Nya seperti juga Dia mewajibkan umat Islam mengikuti syariat agama Islam ketika mereka menjalani hidup di dunia, yaitu sebagai berikut:
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (Al Maa-idah 48)
Dan Allah SWT melarang umat Islam memutuskan perkara Ahli Kitab dengan syariat Islam, tapi dengan syariat agama-Nya dalam Taurat dan Injil. Allah SWT berfirman:
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al Maa-idah 49)
Adapun tujuan Allah SWT memberikan syariat agama-Nya yang berbeda-beda kepada umat Rasul-Rasul, yaitu sebagai berikut:
Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlumba-lumbalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Al Maa-idah 48)
Tilmidzi: “Mengapa Ahli Kitab tidak menyukai agama Allah tersebut?”
Mudariszi: “Karena kebanyakan dari Ahli Kitab menyukai kehidupan dunia. Mereka tidak mau ada hambatan dalam mencapai keinginannya atas kehidupan dunia. Sedangkan dalam syariat agama Allah terdapat larangan-larangan bagi manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Padahal Allah SWT menjelaskan kehidupan dunia tersebut dalam Kitab-Kitab-Nya, sebagai berikut:
Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Ar Ra’d 26)
Karena itu Ahli Kitab yang menyukai kehidupan dunia tersebut tidak menyuruh manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari keburukan ketika menjalani hidupnya di dunia, kecuali kebaikan dan keburukan yang menguntungkan mereka. Akibatnya mereka mempunyai sifat-sifat yang buruk dan mereka tidak percaya kepada kehidupan akhirat, yaitu kehidupan setelah mati. Allah SWT berfirman:
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nahl 60)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Ahli Kitab itu sesat dan menjadi kafir?”
Mudariszi: “Dengan Ahli Kitab tidak menggunakan syariat agama-Nya ketika memimpin dan menjalani hidupnya di dunia karena kecintaannya kepada kehidupan dunia, maka mereka telah mengingkari perintah-Nya dan menjadi kafir. Allah SWT berfirman:
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al A’laa 16-17)
Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)
Mereka memimpin manusia (penduduk negeri-negeri) dengan menggunakan peraturan dan jalan-jalan yang dibuatnya sendiri. Mereka menekan pemimpin dan penduduk negeri-negeri agar menjalani hidup dengan mengikuti peraturan dan jalan mereka. Akibatnya syariat agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus menjadi bengkok, sehingga orang-orang menjadi sesat atau kafir seperti mereka. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat. (Al A’raaf 45)
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Al Baqarah 217)
Memerangi kamu dalam firman-Nya di atas bukan saja dengan senjata tapi juga dengan ucapan-ucapannya yang sebagiannya berupa fitnah-fitnah. Allah SWT berfirman:
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)
Dengan Ahli Kitab menggunakan peraturan dan jalan-jalan yang dibuatnya sendiri ketika memimpin negeri-negeri di bumi, maka bumi dan makhluk-makhluk yang hidup di bumi bersama dengan manusia akan menjadi rusak, karena makhluk-makhluk itu menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat agama-Nya, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali ‘Imran 83)
Kehidupan makhluk-makhluk itu akan menjadi rusak karena Ahli Kitab tidak mengetahui ketetapan-Nya atas makhluk-makhluk tersebut ketika menjalani hidupnya di bumi. Dan kerusakan itu akan berakibat kepada manusia karena di antara makhluk-makhluk itu ada yang menjadi kebutuhan hidup manusia. Karena itu Allah SWT berfirman:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al Baqarah 251)
Dengan demikian, Ahli Kitab yang memimpin penduduk negeri-negeri di bumi itu bukan saja membuat manusia (termasuk orang-orang yang lahir kemudian) menjadi sesat dan kafir seperti mereka, tapi juga membuat kerusakan di bumi termasuk kerusakan pada makhluk-makhluk yang hidup di bumi bersama manusia dan yang sebagiannya menjadi kebutuhan hidup manusia.”
Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab bekerja sama dengan orang-orang musyrik dalam memimpin negeri-negeri?”
Mudariszi: “Orang-orang musyrik tidak menyukai agama Allah dan menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Karena itu, orang-orang musyrik mau bekerja sama dengan Ahli Kitab dalam memimpin negeri-negeri. Allah SWT berfirman:
Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. (Asy Syuura 13)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. (Al Anfaal 36)
Agama yang kamu seru dalam firman-Nya di atas adalah agama yang Rasulullah SAW seru yaitu agama Islam (agama Allah).”
Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu musuh orang-orang beriman?”
Mudariszi: “Ahi Kitab dan orang-orang musyrik itu merupakan musuh orang-orang beriman, karena mereka beragama dengan menyembah tuhan selain Allah SWT. Ahli Kitab tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, itu menunjukkan mereka mengikuti (menyembah) tuhan selain Dia. Orang-orang musyrik mengikuti (menyembah) tuhan-tuhan selain Allah SWT (menyekutukan-Nya). Sehingga, orang-orang beriman yang mengikuti (menyembah) Allah SWT menjadi tidak disukai dan dimusuhi oleh Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Allah SWT berfirman:
Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 136-137)
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu). (An Nisaa’ 44-45)
Allah SWT menjelaskan permusuhan antara Ahli Kitab dan orang-orang musyrik dengan orang-orang beriman, sebagai berikut:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Al Maa-idah 82)
Tilmidzi: “Jika Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus, apakah itu berarti mereka mengikuti Iblis (syaitan)?”
Mudariszi: “Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tersebut tidak berbeda dengan Iblis, yaitu kafir kepada Allah SWT karena mengingkari perintah-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Al Kahfi 50)
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku–sempurnakan kejadiaannya dan Ku–tiupkan kepadanya roh (ciptaan)–Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad 71-74)
Iblis telah berjanji akan menyesatkan manusia hingga kiamat, dan Iblis menyesatkan manusia dengan cara menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Iblis (syaitan) dalam menyesatkan manusia lalu menipu Ahli Kitab dan orang-orang musyrik dengan kehidupan dunia agar disukai oleh mereka. Dengan mereka menyukai kehidupan dunia, mereka menjadi tidak menyukai agama-Nya dan syariat agama-Nya hingga tidak mau menyembah Allah SWT lagi. Mereka cenderung akan berbuat buruk (jahat) agar keinginan duniawinya tercapai, karena itu mereka tidak mencegah manusia dari keburukan dan tidak menyuruh manusia kepada kebaikan. Syaitan lalu membuat mereka memandang baik perbuatan buruknya itu agar mereka selalu melakukannya. Perbuatan mereka itulah perbuatan yang menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)
Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar Ra’d 33)
Dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 43)
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Akibatnya, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu menjadi penolong Iblis (syaitan) dalam menyesatkan manusia dan menjadi pengikut Iblis dalam menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Tipu daya syaitan tersebut membuat mereka berkuasa dan berharta di bumi. Syaitan lalu membuat mereka beranggapan bahwa keberhasilan mereka itu karena kepandaiannya dan karena petunjuk dari Tuhan, padahal itu karena syaitan yang diikuti oleh mereka tapi tidak disadarinya. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 39)
Mereka tidak mengetahui telah ditipu oleh Iblis (syaitan) karena mereka mengingkari ayat-ayat-Nya sehingga tidak membaca peringatan-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Tilmidzi: “Siapakah pemimpin dari ketiga golongan (Yahudi, Nasrani, Musyrik) yang tidak menyukai agama-Nya dan menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus?”
Mudariszi: “Pemimpin dari ketiga golongan Yahudi, Nasrani, Musyrik itu dapat dikatakan dari golongan Yahudi. Allah SWT menjelaskan orang-orang Yahudi sebagai berikut:
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. (Al Baqarah 96)
Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. (Ali ‘Imran 75)
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (Al A’raaf 169)
Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? (Al Maa-idah 62-63)
Di samping itu, Allah SWT telah menjelaskan tentang Bani Israil (yang termasuk orang-orang Yahudi) dalam Taurat, sebagai berikut:
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab (Taurat) itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri; dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(-Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al Israa’ 4-8)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa golongan Yahudi (setelah kekhalifahan Islam runtuh) memiliki harta yang lebih banyak daripada golongan Nasrani dan Musyrik, sehingga dengan hartanya itu mereka dapat lebih berkuasa dalam memimpin negeri-negeri di bumi.”
Tilmidzi: “Bagaimana pemimpin Ahli Kitab tersebut dapat meruntuhkan kekhalifahan Islam?”
Mudariszi: “Penemuan ilmu-ilmu pengetahuan oleh para ilmuwan Islam telah membuat semua umat manusia berilmu, karena Khalifah memerintahkan untuk mengajarkan ilmu-ilmu itu kepada umat manusia. Kebanyakan ilmuwan Islam ketika itu bertempat tinggal di Andalusia Eropa dan kebanyakan penduduk Eropa adalah Ahli Kitab. Ahli Kitab lalu mengembangkan ilmu-ilmu tersebut selama beratus-ratus tahun hingga mereka lalu berharta dan menjadi kuat. Ketika merasa telah sangat kuat, Ahli Kitab berhasil meruntuhkan kekhalifahan Umayyah di Andalusia. Mereka menguasai seluruh ilmu pengetahuan, data-data tentang dunia dan harta kekhalifahan. Harta rampasan itu digunakan oleh pemimpin Ahli Kitab untuk mengusir umat Islam dari Andalusia dan menguasai negeri-negeri di bawah kekhalifahan, yaitu negeri-negeri di Amerika Selatan, Asia Barat, Asia Tenggara, Afrika Barat dan Afrika Selatan. Mereka menguasai negeri-negeri yang memiliki hasil bumi yang baik. Pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab dapat menguasai negeri-negeri Islam tersebut hingga beratus-ratus tahun karena dibantu juga oleh umat Islam yang terpecah, yaitu orang-orang munafik. Orang-orang munafik lebih suka bekerja sama dengan Ahli Kitab daripada dengan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad 26)
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” (Al Maa-idah 52)
Harta yang diperoleh dari negeri-negeri Islam itu lalu digunakan oleh pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab untuk membangun peralatan perang mereka. Itu membuat pasukan perang mereka menjadi sangat kuat hingga mereka dapat menguasai lagi negeri-negeri Islam yang lainnya.”
Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik itu dapat bekerja sama dengan Ahli Kitab?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik tidak berbeda dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik, yaitu mereka menyukai kehidupan dunia dan tidak menyukai agama-Nya dan syariat agama-Nya. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya.” (Al Anfaal 49)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Mereka menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 1-2)
Mereka tidak menyuruh manusia kepada kebaikan dan tidak mencegah manusia dari kejahatan (keburukan). Allah SWT berfirman:
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Dan karena itu, orang-orang munafik tersebut merupakan musuh orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. (Al Munaafiquun 4)
Dan karena musuh-musuh orang beriman itu tidak berbeda, maka Allah SWT mengancam orang-orang munafik, orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik dengan ancaman sebagai berikut:
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (At Taubah 68)
Wallahu a’lam.