Dialog Seri 10: 92
Tilmidzi: “Bagaimana pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab memimpin rakyatnya dengan peraturannya?”
Mudariszi: “Pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab memimpin rakyatnya dengan peraturan dan jalan-jalan yang dibuatnya sendiri. Mereka tidak adil dalam memimpin rakyatnya meskipun mereka tidak zalim. Mereka menjalani hidup di negerinya dalam kemunafikan. Mereka mengetahui ada keburukan dalam kehidupan di negerinya, misal ada kesenangan yang merusak akhlak (moral) manusia, tapi mereka tidak dapat menghilangkannya atau mencegahnya karena mereka ikut menikmati kesenangan tersebut. Allah SWT telah berfirman:
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (Al Maa-idah 63)
Mereka ingin bertaubat tapi mereka meragukan Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Allah SWT sudah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu. (Asy Syuura 14)
Akibatnya banyak penduduk di negeri-negeri Ahli Kitab mengalami keburukan akhlak meskipun mereka memiliki ilmu pengetahuan yang maju (bagus). Sebagian Ahli Kitab yang tidak menyukai keburukan di negerinya itu lalu memeluk agama Islam setelah mereka bertemu dengan muslim yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.”
Tilmidzi: “Apakah peraturan dan jalan-jalan dari Ahli Kitab yang merusak akhlak manusia itu masuk ke negeri-negeri Islam?”
Mudariszi: “Pemimpin Ahli Kitab yang memimpin negeri-negeri di bumi memerintahkan pemimpin negeri-negeri Ahli Kitab agar menyampaikan peraturan dan jalan-jalan mereka kepada semua negeri termasuk negeri-negeri Islam. Mereka melakukan itu melalui harta, ilmu pengetahuan dan barang-barang kebutuhan hidup manusia yang mereka kuasai. Mereka menetapkan peraturan usaha bagi semua negeri termasuk usaha-usaha yang merusak akhlak, misalnya usaha hiburan, media, pinjaman, keuangan, pendidikan. Padahal Allah SWT telah menjelaskan bahwa pemimpin Ahli Kitab tersebut sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)
Pemimpin negeri-negeri Islam yang mencintai kehidupan dunia menyukai usaha-usaha dari Ahli Kitab itu karena mereka dapat memperoleh harta yang banyak daripadanya. Mereka menutup mata atas akhlak rakyatnya yang dapat menjadi rusak hingga menjadi sesat, karena mereka beragama mengikuti golongan (berbuat bid’ah) atau tidak beragama dengan agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kehidupan umat manusia pada waktu itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai tanda-tanda kiamat, yaitu sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadinya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kambing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan.” (HR Muslim)
Dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa dia berkata: “Aku menceritakan kepadamu sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah SAW yang tidak seorangpun menceritakan kepadamu sepeninggalku bahwa dia mendengar dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebagian dari tanda-tanda hari kiamat adalah ilmu diangkat, zina dilakukan terang-terangan, arak diminum, wanita semakin banyak dan laki-laki sedikit sehingga limapuluh wanita memiliki seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas mereka.” (HR Tirmidzi)
Jika keburukan akhlak atas manusia itu meluas termasuk atas orang-orang yang lahir kemudian, maka Rasulullah SAW memperingatkan umat manusia akan datangnya bencana bagi mereka di waktu yang tidak diketahuinya, sebagai berikut:
Dari Al A’masy dari Hilal bin Yasaf dari Imran bin Husain: “Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Di dalam umat ini terjadi peristiwa masuk ditelan bumi, berubah bentuknya dan dilempar batu.” Seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata: “Wahai Rasulullah, kapan terjadi peristiwa itu?” Beliau bersabda: “Apabila wanita penyanyi dan pemusik digelar terang-terangan dan arak-arak diminum.” (HR Tirmidzi)
Dari Yahya bin Said dari Muhammad bin Umar bin Ali dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila umatku telah melakukan limabelas macam, niscaya mereka tertimpa bencana.” Ditanyakan: “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Apabila harta rampasan perang itu bergilir antara golongan satu dengan golongan lain, amanat itu menjadi barang jarahan, zakat dianggap denda, seorang laki-laki taat kepada isterinya, mendurhakai Ibunya, baik kepada teman dekatnya, bengis kepada Ayahnya, suara-suara manusia keras-keras di dalam masjid, seseorang dihormati karena takut kejahatannya, arak-arak diminum, kain-kain sutera dipakai, wanita penyanyi dan pemusik digelar dan umat yang akhir mengutuk umat yang terdahulu. Ketika itu hendaklah mereka menunggu angin merah atau mereka dibinasakan atau dirubah bentuknya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah memiliki harta yang banyak dapat membawa umat Islam kepada bencana (keburukan)?”
Mudariszi: “Ya! Pemimpin negeri-negeri Islam yang mengikuti peraturan dan jalan-jalan Ahli Kitab telah membuat golongannya dan pengikutnya menjadi kaya (berharta). Kecintaannya dengan kesenangan dunia telah membuat mereka melupakan peringatan Rasulullah ini:
Dari Ka’ab bin Iyadh, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap umat ada cobaan dan cobaan umatku adalah harta.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Aku mendengar Khaulah binti Qais dan ia di bawah kekuasaan Hamzah bin Abdul Muththalib, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya harta ini adalah indah dan manis. Barangsiapa memperolehnya dengan melakukan kewajibannya, maka diberi keberkatan baginya; dan banyak orang menyelami harta benda Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti kehendak hawa nafsunya, maka tidak ada baginya kelak di hari kiamat kecuali neraka.” (HR Tirmidzi)
Setelah puluhan tahun mengikuti jalan-jalan Ahli Kitab dalam mengusahakan karunia-Nya di bumi guna mencari nafkah (harta), umat Islam menjadi terbiasa berusaha dengan jalan-jalan yang tidak jujur termasuk melakukan korupsi. Mereka mengatakan terpaksa menempuh jalan yang melanggar syariat agama Islam demi untuk kelangsungan hidup. Sebagian lagi mengatakan jalan-jalan (dari Ahli Kitab) itu tidak berdosa, padahal mereka mengetahui jika pemimpin Ahli Kitab tidak menerapkan syariat agama Allah dalam memimpin. Akibatnya akhlak umat Islam menjadi buruk karena mereka tidak jujur dan tidak amanah. Ketika itu sulit menjumpai muslim yang jujur dan dapat dipercaya untuk bekerja sama. Keburukan akhlak umat Islam itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Hudzaifah (ibn Al-Yaman), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Orang laki-laki tidur sebentar lalu amanah itu dicabut dari hatinya, maka jadilah bekas amanah itu bagaikan bekas sesuatu (yang hitam warnanya). Kemudian ia tidur sebentar lalu amanah itu dicabut, maka padanya membekas bekasnya bagaikan kapal kulit (tangan, misalnya, karena sering bekerja), seperti bara yang kamu gelindingkan pada kakimu maka kakimu melepuh, maka kamu melihat kakimu melembung sedang padanya tidak ada sesuatu. Dan orang-orang di pagi hari berjual-beli. Maka hampir tidak ada seorangpun yang melaksanakan amanah, lalu dikatakan: “Sesungguhnya di tengah bani Polan terdapat seorang laki-laki yang terpercaya (memegangi amanah), dan kepada laki-laki ini dikatakan: “Alangkah cerdasnya dia, alangkah mulianya dia dan alangkah kuatnya dia”, sedang di dalam hatinya tidak ada iman sebobot biji sawipun. Dan sungguh zaman (dimana amanah masih ada pada orang-orang) telah datang kepadaku sedang aku tidak peduli kepada siapakah di antara kamu, aku berjual-beli. Sungguh apabila dia adalah muslim, maka keislamannya mengembalikannya kepadaku (maka dia tidak mengkhianati aku bahkan keislamannya membawa dia untuk melaksanakan amanah), dan apabila dia adalah Nasrani (atau Yahudi), maka orang yang berusaha padanya mengembalikannya kepadaku. Dan adapun hari ini, maka tidaklah aku berjuai-beli kecuali kepada Polan dan Polan (satu-satunya orang).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan para ulama di masa tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang ulama, sebagai berikut:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Faathir 28)
Dari Qais bin Katsir, ia berkata: “Seseorang dari Madinah datang kepada Abud Darda sedangkan dia berada di Damasqus, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi.“ (HR Tirmidzi)
Dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Satu orang yang pandai agama itu lebih berat bagi syaitan daripada seribu orang ahli ibadah.” (HR Tirmidzi)
Ulama menjalani hidupnya dengan taat mengikuti syariat agama Islam termasuk menyuruh umat manusia berbuat kebaikan dan mencegah berbuat jahat (buruk). Ketika negeri-negeri dipimpin oleh Ahli Kitab, pemimpin negeri-negeri Islam membungkam ulama tersebut dan menggantinya dengan ulama dari golongan-golongan. Setelah puluhan atau ratusan tahun, ulama berkurang karena wafat hingga tidak ada lagi ulama. Akibatnya timbul fitnah-fitnah yang membawa umat manusia kepada keburukan. Keburukan telah terjadi lebih dulu di negeri-negeri Ahli Kitab karena mereka tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Sehingga, fitnah-fitnah yang membawa keburukan kepada umat manusia itu terjadi di setiap negeri. Rasulullah SAW telah menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Usamah ibn Zaid, dia berkata: “Rasulullah SAW memperhatikan dari atas benteng dari benteng-benteng Madinah lalu beliau bersabda: “Apakah kamu melihat apa yang aku lihat?” Mereka menjawab: “Tidak (wahai Rasulullah).“ Beliau bersabda: “Maka sesungguhnya aku melihat fitnah berjatuhan dicelah rumah-rumah kamu bagaikan jatuhnya hujan.” (Mengisyaratkan terbunuhnya Utsman di Madinah dan tersebarnya fitnah-fitnah di negeri-negeri lain). (HR Bukhari)
Dari Usamah, bahwa Rasulullah SAW naik ke salah satu bangunan yang tinggi dari bangunan-bangunan di Madinah, kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu melihat apa yang kulihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat jatuhnya fitnah di sela-sela rumahmu bagaikan tempat jatuhnya air hujan.” (HR Muslim)
Fitnah-fitnah yang membawa keburukan kepada umat manusia dari sejak runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah atau dari sejak tidak tegaknya agama Allah itu tidak diketahui waktu berakhirnya. Mungkin tanduk syaitan yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW akan keluar dari Timur itu adalah akhir dari fitnah-fitnah. Tapi Rasulullah SAW tidak menjelaskan waktu tanduk syaitan itu keluar, sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW keluar dari rumahnya Aisyah lalu bersabda: “Pangkal kekufuran itu dari sana, dari tempat munculnya tanduk setan (yakni Timur).” (HR Muslim)
Dari Az Zuhri dari As Salim dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar lalu bersabda: “Disana tempat terjadinya fitnah (bencana)” dan beliau memberi isyarat ke Timur dimana kelompok syetan keluar, atau beliau bersabda: “Permulaan sinar matahari.” (HR Tirmidzi)
Sehingga tetap tidak diketahui waktu berakhirnya fitnah-fitnah itu atau waktu datangnya kebaikan. Hanya Allah SWT yang mengetahui hal itu.”
Tilmidzi: “Keburukan apakah yang menimpa umat manusia khususnya umat Islam dengan fitnah-fitnah itu?”
Mudariszi: “Tidak adanya ulama menimbulkan fitnah yang membuat umat Islam menjadi bodoh, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), (berkata Abu Wail: “Dan aku menyangka dia memarfu’kan hadits”), dia berkata: “Antara dua tangan kiamat adalah hari-hari kekacauan, ilmu menghilang dan pada hari-hari itu muncul kebodohan (karena kepergian ulama dan kesibukan fitnah–fitnah).” (HR Bukhari)
Contoh kebodohan tersebut yaitu timbul pendakwah muda yang tidak berilmu. Mereka itu umat Islam yang mengikuti golongan-golongan. Mereka disukai oleh pemimpin negeri karena mereka tidak berbicara tentang syariat agama Islam. Mereka berfatwa menurut anggapannya (nafsunya), sehingga menimbulkan fitnah-fitnah yang lain lagi. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Urwah, dia berkata: “Abdullah bin Amr pernah memberi hujah padaku. Aku lalu mendengar dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja setelah Allah memberikannya kepada kalian. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dari mereka adalah dengan cara mencabut ulama dan ilmunya sekaligus. Yang tinggal adalah orang-orang bodoh. Saat diminta fatwanya, mereka berfatwa berdasarkan pendapatnya. Mereka menyesatkan dan mereka juga tersesat.” (HR Bukhari)
Dari Suwaid bin Ghaflah, ia berkata: “Ali berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Al Qur’an yang tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak-panah menembus binatang buruan.” (HR Muslim)
Akibat tidak adanya ulama serta bertambahnya umat Islam yang menjadi bodoh dan menyukai kesenangan dunia, maka banyak umat Islam yang menjadi munafik. Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bergegaslah kalian mengerjakan amal-amal baik, sebelum muncul berbagai fitnah yang bagaikan penggalan-penggalan malam yang gelap; dimana pada waktu pagi seseorang masih beriman, tapi pada waktu sore menjadi kafir, atau pada waktu sore masih beriman dan pada waktu pagi menjadi kafir; dia menjual agamanya dengan harta-benda dunia.” (HR Muslim)
Dari Yazid bin Abi Habib dari Sa’ad bin Sinan dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Terjadi fitnah di hadapan tanda-tanda datangnya hari kiamat seperti bagian dari malam yang gelap gulita, dimana pagi-pagi seseorang itu mu’min dan sore-sore menjadi orang kafir, sore-sore dia seorang mu’min dan pagi-pagi menjadi orang kafir, suatu kaum menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR Tirmidzi)
Dengan banyaknya umat Islam yang menjadi munafik, maka timbul banyak pembohong (penipu). Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya menjelang kiamat nanti akan banyak pendusta.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sehingga dibangkitkan kurang lebih tiga puluh dajjal pendusta, semuanya mengaku sebagai utusan Allah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah terjadi kekacauan di setiap negeri?”
Mudariszi: “Ya! Kekacauan terjadi di setiap negeri, dan itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Masa (kiamat) mendekat, amal berkurang, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati manusia), fitnah-fitnah bermunculan dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: “Apakah (kekacauan) itu?” Beliau bersabda: “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR Bukhari)
Dari Syaqiq, dia berkata: “Adalah aku bersama Abdullah (ibnu Mas’ud) dan Abu Musa (Al–Asyari), maka keduanya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara dua tangan (yakni di hadapan) kiamat terdapat beberapa hari dimana pada hari-hari itu ilmu diangkat (dengan kematian ulama), kebodohan turun pada hari-hari itu dan pada hari-hari itu banyak kekacauan (kekacauan itu adalah pembunuhan).” (HR Bukhari)
Mereka saling berbunuhan tapi tidak mengerti tujuan mereka membunuh atau dibunuh. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan–Nya, dunia tidak akan binasa sampai datang suatu zaman dimana orang yang membunuh tidak tahu untuk apa ia membunuh, dan orang yang dibunuh tidak mengerti mengapa ia dibunuh.” Maka ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana keadaan waktu itu?” Beliau bersabda: “Kacau. Yang membunuh dan yang dibunuh semua di neraka.” (HR Muslim)
Dari Hudzaifah bin Al Yaman bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan–Nya, hari kiamat tidak datang sehingga kamu membunuh pemimpinmu dan kamu membunuh di antara kamu dengan pedangmu dan mewarisi urusan duniamu orang-orang jahat di antara kamu.” (HR Tirmidzi)
Kekacauan dan pembunuhan di setiap negeri itu tergantung dari fitnah yang timbul di negerinya dan tidak terjadi dalam waktu yang sama dengan yang terjadi di negeri lain. Fitnah yang menimbulkan terjadinya pembunuhan itu salah satunya karena berebut harta. Rasulullah SAW menjelaskan harta dan pemburunya itu sebagai berikut:
Dari Ayahnya dari Abi Hazim dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bumi akan memuntahkan potongan-potongan dari perutnya seperti tiang dari emas dan perak.” Beliau bersabda: “Lalu pencuri datang kemudian berkata: “Karena mencuri ini dipotong tanganku.” Pembunuh datang kemudian berkata: “Karena mencuri ini aku dibunuh.” Pemutus tali persaudaraan datang lalu berkata: “Karena mencuri ini aku memutuskan tali persaudaraanku.” Kemudian mereka meninggalkan dan tidak mengambil sedikitpun daripadanya.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungai Furat sudah hampir kering dan memunculkan gunung emas. Maka siapapun yang ada disitu, janganlah mengambil apa-apa darinya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum sungai Furat kering dan memunculkan gunung emas, orang-orang saling membunuh untuk mendapatkannya. Maka dari setiap seratus orang, ada sembilan puluh sembilan yang terbunuh, dan setiap orang berkata: “Barangkali akulah yang selamat.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Harits bin Naufal, ia berkata: “Aku pernah berdiri bersama Ubaiy bin Ka’ab, tiba-tiba ia berkata: “Dalam mencari duniawi, manusia selalu berbeda-beda kelompoknya.” Aku berkata: “Memang.” Ia berkata lagi: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungai Furat hampir kering dan memunculkan gunung emas. Apabila orang-orang mendengar, mereka akan menuju kesana, kemudian orang yang di sampingnya akan berkata: “Kalau kita biarkan orang-orang mengambilnya, pasti akan dibawa semuanya.” Maka mereka saling membunuh, dan setiap seratus orang, ada sembilan puluh sembilan yang terbunuh.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah kekacauan dan pembunuhan itu menimpa orang-orang yang saleh dan beriman?”
Mudariszi: “Pemimpin Ahli Kitab yang memimpin negeri-negeri di bumi dengan tidak menerapkan syariat agama Allah telah membuat kerusakan pada bumi dan penghuni bumi. Setelah ratusan tahun sejak dari runtuhnya kekhalifahan Islam (Utsmaniyah), berbagai keburukan telah menimpa umat manusia di seluruh negeri ketika mereka menjalani hidupnya. Itu menunjukkan pemimpin Ahli Kitab telah membuat kerusakan pada manusia. Selain itu, juga telah membuat kerusakan pada bumi dan makhluk-makhluk yang hidup di bumi. Karena di masa banyaknya fitnah-fitnah itu, timbul banyak gempa dan angin topan di bumi yang menimpa semua umat manusia termasuk orang-orang yang beriman dan shaleh. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Al Mustalim bin Said dari Rumaih Al-Judzam dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila harta rampasan bergilir antara golongan dengan golongan lain, amanat menjadi harta rampasan, zakat dianggap denda, dipelajari ilmu selain agama, seorang laki-laki taat kepada isterinya, mendurhakai Ibunya, mendekati semua karibnya, menjauhi Ayahnya, suara-suara diteriakkannya keras-keras di masjid, orang jahat di antara golongan orang yang memimpin mereka, pemimpin kaum adalah orang yang paling rendah akhlaknya, seseorang ditakuti karena takut kejahatannya, wanita penyanyi dan musik merajalela, arak-arak diminum, akhir umat ini mengutuk umat yang terdahulu, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu angin merah, gempa bumi, kebinasaan bumi, berubah bentuknya, dilempar batu dari langit dan tanda-tanda lain yang berurutan, seperti kalung mutiara yang rapuh yang putus benangnya lalu berturutan lepasnya.” (HR Tirmidzi)
Dari Aisyah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Di akhir umat ini terjadi gerhana, perubahan rupa dan pelemparan batu.” Dia berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah kami binasa sedang di tengah kami ada orang-orang shaleh?” Beliau bersabda: “Ya, apabila kejahatan merajalela.” (HR Tirmidzi)
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila Allah menurunkan siksa kepada suatu kaum (sebagai saksi atas kejahatan mereka), maka siksa itu (juga) menimpa orang-orang yang berada pada mereka, kemudian mereka dibangkitkan menurut perbuatan mereka.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan umat Islam yang membela agama Allah (agama Islam) dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan umat Islam yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar tersebut, sebagai berikut:
Dari Jabir bin Samurah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Agama ini akan senantiasa tegak, mengingat ada sekelompok kaum muslimin yang membelanya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)
Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, sesungguhnya Umair bin Hani bercerita kepadanya, dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Mu’awiyah berkata di atas mimbar: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang senantiasa setia menegakkan agama Allah. Mereka tidak gentar terhadap orang-orang yang menyalahi atau menentang mereka. Sampai hari kiamat kelakpun mereka akan senantiasa sudi membela manusia.” (HR Muslim)
Tapi karena jumlah mereka sedikit dan kuatnya orang-orang yang tidak menyukai agama Allah (Islam), maka kemenangan mereka tidak terlihat. Mereka berhasil membuat sebagian umat Islam bertaubat dan membuat sebagian Ahli Kitab dan orang-orang musyrik memeluk agama Islam. Jika negeri mereka diperangi, mereka akan memerangi para pemimpin negeri-negeri kafir itu tanpa ada rasa takut. Rasulullah SAW menjelaskan tentang mereka sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Adapun aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang selalu siap berperang membela agama Allah. Mereka akan berlaku keras terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang yang menyalahi mereka. Dan sampai kiamat kelak sekalipun mereka tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Dari Al Mughirah bin Syubah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sekelompok dari umatku akan selalu menang sampai urusan Allah (kiamat) datang kepada mereka; dan mereka adalah yang menang.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah yang harus dilakukan oleh umat Islam ketika menghadapi fitnah-fitnah tersebut?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang fitnah-fitnah yang banyak itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Syihab, bahwa Idris Al Khaulaniy berkata: “Hudzaifah bin Al Yaman berkata: “Rasulullah SAW bercerita tentang fitnah dan beliau menghitungnya, sabdanya: “Di antara fitnah-fitnah tersebut ada tiga yang hampir-hampir tidak meninggalkan apa-apa, ada yang seperti angin musim kemarau, ada yang kecil, ada yang besar.” (HR Muslim)
Dari Laits dari Thawus dari Ziyad bin Simin Kusa dari Abdillah bin Amr, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Fitnah itu membinasakan bangsa Arab, orang-orang yang terbunuh di dalam fitnah masuk neraka, mulut pada waktu fitnah lebih dahsyat dari pada pedang.” (HR Tirmidzi)
Rasulullah SAW lalu perintahkan umat Islam sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Akan terjadi fitnah-fitnah dimana padanya adalah orang yang duduk (mengamati, tidak turut berperang) lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri (terlibat) lebih baik daripada orang yang berjalan, orang yang berjalan (mempertahankan penyebab) lebih baik daripada orang yang lari (pengobar api fitnah) dan siapa yang menerjuni padanya, maka (fitnah) itu membinasakannya. Maka siapa menemukan suatu tempat perlindungan, atau tempat pengasingan, maka hendaklah ia berlindung dengan tempat itu (untuk keselamatan dari fitnah).” (HR Bukhari)
Sesungguhnya Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bakal terjadi fitnah, di saat itu orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri; orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan; orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Orang yang coba-coba mendekatinya, akan dibantingnya. Jadi, siapapun yang mendapatkan tempat berlindung darinya, hendaklah berlindung.” (HR Muslim)
Di masa itu umat Islam sebaiknya menjalani hidupnya dengan memelihara agama Islam dan hartanya yang ada, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdurrahman bin Tsarwan dari Huzail bin Syurahbil dari Abi Musa dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda pada hari-hari terjadinya fitnah: “Pecahlah busur-busurmu, putuslah tali panah-tali panahmu, tinggallah di rumah-rumahmu dan jadilah seperti anak Adam (Habil).” (HR Tirmidzi)
Dari Thawus dari Ummi Malik Al-Bahziyyah, dia berkata: “Rasulullah SAW menyebutkan fitnah lalu mendekatkan waktu tibanya.” Dia berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapa orang yang terbaik dalam fitnah itu?” Beliau menjawab: “Seseorang yang berada pada hewan ternaknya, dia menunaikan kewajiban hewan ternak tersebut dan menyembah Tuhannya dan seseorang yang memegang kepala kudanya menakut-nakuti musuh.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Sa’id Al-Kudri, bahwa sesungguhnya dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Hampir terjadi sebaik-baik harta orang Islam adalah kambing yang diikutinya di puncak gunung dan di tempat-tempat turun hujan (untuk menggembala dan mencari air), dimana dia lari dengan (membawa) agamanya dari fitnah-fitnah.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana dengan agama Islam dan umat Islam ketika fitnah-fitnah tersebut terus berdatangan dan berlangsung?”
Mudariszi: “Setelah ratusan tahun dari sejak runtuhnya kekhalifahan Islam (Utsmaniyah) umat manusia menjalani hidupnya dengan berbagai fitnah yang membawa mereka kepada keburukan akibat tidak diterapkannya syariat agama Allah. Keadaan kehidupan tersebut telah membuat agama Islam di masa itu menjadi seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali sebagaimana dia mulai, menjadi asing. Karena itu, berbahagialah orang-orang asing.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Islam itu mulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana semula. Islam itu berlindung di antara dua mesjid, seperti halnya ular berlindung di liang sarangnya.” (HR Muslim)
Umat Islam yang beriman menjalankan kewajiban ibadah agama menjadi seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang suatu masa atas manusia dimana orang yang sabar dalam menjalankan agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (HR Tirmidzi)
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah dalam suasana kacau itu seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim)
Dari Al-Mualla bin Ziyad, dia meriwayatkan secara marfu kepada Mu’awiyah bin Qurrah, dia meriwayatkannya secara marfu kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Melakukan ibadah pada waktu fitnah adalah seperti hijrah kepadaku.” (HR Tirmidzi)
Demikian beratnya umat Islam menjalani hidupnya ketika menghadapi fitnah-fitnah tersebut, maka amal perbuatan mereka di masa itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW menjadi sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu di masa orang yang meninggalkan sepersepuluh apa yang diperintahkannya, niscaya ia celaka. Kemudian akan datang suatu masa dimana orang yang berbuat sepersepuluh apa yang diperintahkannya, niscaya ia selamat.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan–Nya, dunia tidak akan hancur sehingga ada seseorang melewati kubur orang lain, maka dia berhenti lalu berkata: “Alangkah senangnya jika aku yang menjadi penghuni kubur ini.” Dan demikian itu bukan ajaran agama, tapi hanya karena beratnya cobaan di dunia.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, bukankah keadaan di bumi bagi umat manusia di masa itu menjadi lebih buruk daripada keadaan sebelumnya karena tidak tegaknya agama Allah?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW telah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Az-Zubair ibn Ady, dia berkata: “Kami datang kepada Anas ibn Malik lalu kami mengadukan kepadanya apa yang kami alami dari Al-Hajaj (ibn Yusuf yang terkenal kezhalimannya). Maka dia (Anas) berkata: “Bersabarlah, karena sesungguhnya tidaklah datang kepadamu suatu zaman kecuali zaman sesudahnya adalah lebih buruk dari padanya hingga kamu bertemu Tuhanmu. Aku mendengar demikian dari Nabimu SAW.” (HR Bukhari)
Dari Sufyan Ats Tsauri dari Az Zubair bin Adi, dia berkata: “Aku masuk menjumpai Anas bin Malik.” Az Zubair berkata: “Kami mengadukan kepadanya apa yang kami ketahui dari tindakan Hajjaj.” Kemudian Anas bin Malik berkata: “Tidak ada suatu tahun melainkan tahun sesudahnya adalah lebih jelek daripadanya sehingga kamu menjumpai Tuhanmu. Aku mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah fitnah-fitnah itu merupakan tanda menuju kiamat?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang waktu kiamat tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hazim bahwa ia mendengar Sahlan berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah: “Dekatnya waktu aku diutus dengan kiamat itu begini.” (HR Muslim)
Diceritakan oleh Syu’bah, ia berkata: “Aku mendengar Qatadah dan Abu Tayyah bercerita bahwa mereka mendengar Anas bercerita bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jarak antara waktu aku diutus dan terjadinya kiamat itu seperti ini.” Syu’bah menggambarkannya dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah. (HR Muslim)
Karena Rasulullah SAW telah wafat seribu empat ratus tahun yang lalu, maka sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa waktu kiamat semakin dekat bagi umat manusia yang hidup di masa tidak tegaknya agama Allah. Dan fitnah-fitnah yang timbul di masa itu dapat dikatakan sebagai tanda-tanda kiamat.”
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tanda kiamat yang lainnya?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tanda kiamat yang lainnya itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Paceklik itu bukan berarti hujan tidak turun, tetapi hujan tetap turun namun bumi tidak menumbuhkan apapun.” (HR Muslim)
Dari Hudzaifah, ia berkata: “Rasulullah SAW memberitahu aku apa yang akan terjadi sampai hari kiamat, maka semuanya aku tanyakan, hanya saja aku tidak menanyakan apa yang menyebabkan penduduk Madinah dikeluarkan dari Madinah.” (HR Muslim)
Dari Yahya bin Abi Katsir dari Abi Qilabah dari Salim bin Abdillah dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Api akan keluar dari Hadramaut atau akan keluar dari arah laut Hadramaut sebelum datang hari kiamat untuk menggiring manusia.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Ambillah jalan menuju ke Syam.” (HR Tirmidzi)
Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tanda pertama dari tanda-tanda (datangnya) kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum ada api keluar dari tanah Hijaz yang dapat menerangi leher unta-unta di Bushra (kota di Syam).” (HR Muslim)
Dari Musa bin Ali dari Ayahnya, ia berkata: “Di hadapan Amr bin Ash, Al Mustaurid Al Qurasyi berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tiba, sedangkan orang yang terbanyak adalah Bangsa Rum.” Maka Amr berkata kepadanya: “Pikirkan dulu apa yang kamu ucapkan.” Al Mustaurid berkata: “Aku mengatakan apa yang aku dengar dari Rasulullah SAW.” Amr berkata: “Kalau kamu berkata demikian, maka sesungguhnya pada mereka terdapat empat tabiat: paling bijaksana waktu terjadi fitnah, paling cepat sadar setelah tertimpa musibah, paling sigap berbalik sesudah berlari, dan paling baik sikapnya terhadap orang miskin, anak yatim dan orang lemah. Dan tabiat kelima yang baik adalah, mereka paling menolak kezaliman Raja.” (HR Muslim)
Dari Hudzaifah bin Usaid Al Ghiffariy, ia berkata: “Ketika kami sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi kami, beliau bertanya: “Apa yang kamu bicarakan?” Mereka berkata: “Kami sedang membicarakan kiamat.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul sepuluh tanda-tandanya.” Kemudian beliau menyebutkan asap, Dajjal, binatang raksasa, terbitnya matahari dari arah Barat, turunnya Nabi Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya tiga keruntuhan: keruntuhan di Timur, Barat dan Jazirah Arab; dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang makhsyar.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.