Bagaimana Manusia Menjalani Hidupnya Tanpa Agama Allah?

Dialog Seri 10: 91

 

Tilmidzi: “Apakah umat Islam akan menjalani hidupnya di dunia dalam keadaan yang lebih buruk karena tidak tegaknya agama Allah atau tidak ada kekhalifahan Islam?”

 

Mudariszi: “Sekalipun kekhalifahan Islam menerapkan syariat agama Islam, keburukan tetap terjadi pada umat Islam. Terpecahnya umat Islam dan runtuhnya kekhalifahan Islam merupakan bukti terjadi keburukan pada umat Islam. Tapi keburukan akan bertambah lagi bagi umat Islam setelah keruntuhan kekhalifahan Islam karena tidak diterapkannya syariat agama Islam. Keburukan yang terjadi karena fitnah hingga umat Islam terpecah dan runtuhnya kekhalifahan Islam itu telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Burdah dari Ayahnya, dia berkata: “Selesai sembahyang Maghrib bersama dengan Rasulullah SAW, kami berkata: “Kita duduk disini saja menunggu supaya kita bisa bersembahyang Isya bersama dengan beliau lagi.” Kami pun duduk. Tak lama kemudian keluarlah Rasulullah SAW bergabung dengan kami. Beliau bertanya: “Kalian masih disini?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tadi ikut sembahyang Maghrib bersama Anda. Kami duduk menunggu disini supaya bisa bersembahyang Isya sekalian bersama Anda lagi.” Rasulullah SAW bersabda: “Bagus dan benar kalian.” Selanjutnya beliau mengangkat kepalanya ke atas langit lama sekali. Lalu beliau bersabda: “Bintang-bintang adalah jaminan bagi keberadaan langit. Apabila bintang-bintang itu sudah tidak ada, maka kiamatlah yang terjadi. Aku adalah jaminan keamanan bagi sahabat-sahabatku. Apabila aku sudah tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka. Dan para sahabatku adalah jaminan keamanan bagi ummatku. Apabila para sahabatku tidak ada, maka akan datanglah kepada mereka berbagai fitnah dan bid’ah yang mengancam persatuan mereka.” (HR Muslim)

 

Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dan Ibnu Umar, dia berkata: “Umar berkhutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasulullah SAW di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu agar mengikuti jejak para sahabatku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka. Kemudian dusta tersebar sehingga seseorang bersumpah sedang dia tidak diminta sumpah dan seorang menjadi saksi sedangkan dia tidak diminta menjadi saksi. Ingatlah, tidaklah seorang laki-laki melakukan khalwah (menyepi) dengan seorang perempuan lain melainkan yang ketiganya adalah syaitan. Tetaplah bersatu dan jauhilah perpecahan karena sesungguhnya syaitan beserta orang satu dan syaitan beserta dua orang itu lebih jauh. Barangsiapa menghendaki tinggal di tengah surga, maka hendaklah ia selalu bersatu. Barangsiapa yang kebaikannya dapat menyenangkannya dan kejelekannya dapat menyedihkannya, maka dia itu seorang mu’min.” (HR Tirmidzi)

 

Fitnah itu dari Iblis (syaitan) yang tidak ingin umat Islam mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia agar mereka menjadi sesat. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)

 

Syaitan dengan fitnahnya membuat umat Islam melakukan bid’ah, yaitu menambah atau mengurangi ibadah dalam agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW supaya mereka menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti agama Islam yang benar atau tidak di jalan-Nya yang lurus. Akibatnya terjadi keburukan pada umat Islam. Padahal Rasulullah SAW telah peringatkan itu sebagai berikut:

 

Dari Bahir bin Said dari Khalid bin Ma’dan dari Abdur Rahman bin Amr As Sulami dari Al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata: “Rasulullah SAW menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh, suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu), karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid’ah) itu sesat. Barangsiapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah umat selain umat Islam juga mengalami keburukan dengan tidak diterapkannya syariat agama Allah oleh Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Selain umat Islam, yaitu orang-orang musyrik dan Ahli Kitab sudah lebih dulu mengalami keburukan dalam menjalani hidupnya. Orang-orang musyrik berbuat buruk dengan agama mereka yang menyekutukan Allah SWT. Peraturan agama mereka yang dibuat oleh manusia tidak menjelaskan dengan benar perbuatan yang baik dan yang buruk. Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) sudah lebih dulu mengalami keburukan karena mereka tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa, mereka menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti syariat agama-Nya dalam Taurat dan Injil. Perbuatan mereka banyak yang menyimpang dari syariat agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)

 

Syaitan dengan fitnahnya telah lebih dulu membuat umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dimana setiap golongan tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Taurat serta oleh Nabi ‘Isa dan Injil. Mereka tidak berbeda dengan umat Islam yang melakukan bid’ah (menambah atau memotong agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an). Ketiga umat Rasul itu terpecah menjadi beberapa golongan, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ummat Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan atau tujuh puluh dua golongan, dan ummat Nashara terpecah belah seperti ummat Yahudi, dan ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR Tirmidzi)

 

Syaitan dengan fitnahnya telah membuat umat (pengikut) Rasul memecah agama-Nya (yang dijelaskan oleh Rasul-Nya dan Kitab-Nya) menjadi beberapa golongan dan syaitan membuat mereka bangga dengan golongannya masing-masing. Mereka tidak menyadari jika kebanggaannya (terhadap golongannya) itu telah membuat mereka tersesat karena mereka berarti lebih mencintai golongannya daripada Dia atau agama-Nya. Itu merupakan keburukan yang dapat meluas pada umat Rasul yang lahir kemudian. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)

 

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. (Al Baqarah 165)

 

Tidak ada golongan ke tujuh puluh tiga pada umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa karena Taurat dan Injil telah berubah. Golongan ke tujuh puluh tiga pada umat Rasulullah SAW adalah golongan yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, atau golongan yang tidak berbuat bid’ah. Golongan itu tetap mengikuti Al Qur’an yang tidak pernah berubah karena Al Qur’an dipelihara oleh Allah SWT, itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)

 

Tujuh puluh dua golongan umat Islam itu tidak berbeda dengan tujuh puluh dua golongan umat Nabi Musa (termasuk Yahudi) dan tujuh puluh dua golongan umat Nabi ‘Isa (termasuk Nasrani) yaitu sama-sama tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Rasul-Nya masing-masing.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah umat manusia akan lebih banyak lagi yang terkena keburukan karena tidak diterapkannya syariat agama Allah?”

 

Mudariszi: “Ya! Jika pemimpin negeri-negeri tidak menerapkan syariat agama Allah, maka rakyatnya cenderung akan menjalani hidupnya tidak di jalan Allah yang lurus. Sehingga bertambah banyak umat manusia yang akan mengalami keburukan (perbuatan buruk) ketika menjalani hidupnya. Padahal perbuatan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia itu diuji oleh Allah SWT, yaitu apakah mereka mengikuti atau melanggar (mengingkari) syariat agama Allah, agar mereka kemudian ditempatkan-Nya di surga atau di neraka. Allah SWT berfirman:

 

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (Ali ‘Imran 140)

 

Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (An Nahl 92)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang manusia yang hidup di negeri yang menerapkan atau tidak menerapkan syariat agama Allah sebagai berikut:

 

Dari Abi Sa’id Al-Khudriy, ia berkata: “Rasulullah melakukan shalat pada suatu hari di waktu siang. Kemudian beliau berdiri untuk berkhutbah lalu tidak meninggalkan urusan apapun yang terjadi sampai datangnya hari kiamat melainkan beliau memberitahukannya kepada kami, menghafalnya orang yang menghafalnya dan melupakannya orang yang melupakannya. Di antara apa yang beliau sabdakan: “Sesungguhnya dunia itu adalah hijau serta manis dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai Khalifah padanya, lalu Dia memandang bagaimana kamu berbuat. Ingatlah, takutlah kepada (tipu daya) dunia dan takutlah kepada (tipu daya) wanita.” Termasuk apa yang beliau sabdakan: “Ingatlah, janganlah kewibawaan manusia mencegah seseorang untuk berkata tentang kebenaran jika mengetahuinya.” Perawi berkata: “Lalu Abu Sa’id menangis kemudian dia berkata: “Sungguh demi Allah, kami mengerti beberapa hal lalu kami takut mengatakannya. Di antara apa yang beliau sabdakan: “Ingatlah, sesungguhnya ditegakkan bendera bagi setiap pengkhianat di hari kiamat sesuai dengan khianatnya dan tidak ada khianat yang lebih berat dari pada khianat seorang pemimpin yang mengurusi kemashlahatan umum, ditancapkan benderanya pada pantatnya.” Di antara apa yang kami hafal pada waktu itu: “Ingatlah, sesungguhnya anak Adam diciptakan dengan tingkatan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada orang yang dilahirkan dalam keadaan mu’min, hidup dalam keadaan mu’min, dan mati dalam keadaan mu’min. Di antara mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup dalam keadaan kafir, dan mati dalam keadaan kafir. Di antara mereka ada yang dilahirkan mu’min, hidup dalam keadaan mu’min dan mati dalam keadaan kafir. Di antara mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup dalam keadaan kafir dan mati dalam keadaan mu’min. Ingatlah, di antara mereka ada orang yang lambat marah tapi cepat kembali, dan di antara mereka ada yang cepat marah lambat kembali. Ingatlah, sebaik-baik mereka adalah orang yang lambat marah, cepat kembali, dan sejelek-jelek mereka adalah orang yang cepat marah lambat kembali. Ingatlah, sesungguhnya di antara mereka ada orang yang baik pembayaran hutangnya baik penagihannya, dan di antara mereka ada orang yang jelek pembayaran hutangnya baik penagihannya, dan di antara mereka ada orang yang baik pembayaran hutangnya jelek penagihannya, maka orang itu sama dengan orang ini. Ingatlah, di antara mereka ada orang yang jelek pembayaran hutangnya jelek penagihannya. Ingatlah, sebaik-baik mereka adalah orang yang baik pembayaran hutangnya baik penagihannya. Ingatlah, sejelek-jelek mereka adalah orang yang jelek pembayaran hutangnya jelek penagihannya. Ingatlah, sesungguhnya marah itu seperti bara api di hati anak Adam, apakah kamu tidak melihat kepada kemerahan kedua matanya dan menggembungnya otot-otot lehernya. Barangsiapa merasakan timbulnya sesuatu tadi, maka hendaklah dia menempelkan dirinya di bumi.” Dia berkata: “Lalu kami memperhatikan matahari, apakah ada sesuatu yang tertinggal daripadanya? Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya tidak tersisa dari hari-hari dunia terhadap hari-hari yang telah lewat melainkan sebagaimana waktu yang tersisa dari harimu ini terhadap waktu yang telah lewat.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Bahwa Rasulullah SAW berdiri di hadapan manusia yang duduk lalu bersabda: “Maukah aku memberitahukan kepadamu tentang sebaik-baikmu dari sejahat-jahatmu?” Beliau bersabda demikian tiga kali. Lalu seseorang berkata: “Ya, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang sebaik-baik kami dari sejahat-jahat kami.” Beliau bersabda: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang bisa diharapkan perbuatan baiknya dan dianggap aman perbuatan jahatnya. Sejelek-jelek kamu adalah orang yang tidak bisa diharap perbuatan baiknya dan tidak bisa dianggap aman perbuatan jahatnya.” (HR Tirmidzi)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa baik buruknya seseorang bukan karena diterapkan syariat agama Allah di negerinya, tapi karena dia sendiri yang menjalani hidupnya mengikuti atau melanggar syariat agama Allah. Syariat agama Allah itu untuk setiap orang dan dia wajib mengikuti syariat agama Allah itu ketika menjalani hidupnya agar selamat di dunia dan di akhirat. Negeri tempat tinggalnya dapat mempengaruhi dirinya dan amal perbuatannya, sehingga akan lebih baik baginya jika menjalani hidupnya di negeri yang menerapkan syariat agama Allah, karena dia dapat lebih mengetahui kesalahannya dalam beragama dan lalu memperbaiki dirinya dan amal perbuatannya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana pemimpin negeri yang baik kepada rakyatnya?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Umar bin Khaththab dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Maukah aku memberitahukan kepadamu tentang sebaik-baik pemimpinmu dan sejelek-jelek mereka? Sebaik-baik pemimpinmu adalah orang-orang yang kamu mencintai mereka dan mereka mencintaimu dan mereka mendo’akan baik kepadamu dan kamu mendo’akan baik kepada mereka. Adapun sejelek-jelek pemimpinmu adalah orang-orang yang kamu membenci mereka dan mereka membenci kamu dan kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila para pemimpinmu adalah sebaik-baik kamu dan orang-orang kaya dari kamu adalah orang-orang yang dermawan dan urusan-urusanmu dimusyawarahkan di antara kamu, maka di atas bumi (hidup) itu lebih baik bagimu daripada di dalamnya (mati). Dan apabila para pemimpinmu adalah sejelek-jelek kamu dan orang-orang kaya dari kamu adalah orang-orang kikir dan urusanmu diserahkan kepada wanita, maka dalam bumi (mati) baik bagimu daripada atasnya (hidup).” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah yang umat Islam harus lakukan terhadap pemimpin negeri yang zalim dan tidak adil?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ka’ab bin Ujrah, dia berkata: “Rasulullah SAW keluar menghadap kami dan kami sembilan orang yaitu lima orang dan empat orang salah satu dari bilangan itu dari bangsa Arab dan bilangan lainnya dari bangsa Ajam, lalu beliau bersabda: “Dengarkanlah, apakah kamu telah mendengar bahwa sepeninggalku ada Amir-Amir (Raja). Barangsiapa masuk kepada mereka lalu membenarkan mereka dengan perbuatan dusta mereka dan membantu mereka atas perbuatan aniaya mereka, maka dia tidak termasuk golonganku dan aku tidak termasuk golongannya dan dia tidak datang kepadaku di telaga (Kautsar). Barangsiapa tidak masuk atas mereka dan tidak membantu mereka atas perbuatan aniaya mereka dan tidak membenarkan mereka dengan perbuatan dusta mereka, maka dia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya dan dia datang kepadaku di telaga (Kautsar).” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah pemimpin negeri Islam yang tidak adil itu termasuk mengambil hak rakyatnya?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh pemimpin negeri itu menetapkan pajak atas rakyatnya selain zakat yang ditetapkan oleh syariat agama Islam. Penetapan pajak itu merupakan pengambilan harta rakyatnya. Contoh lain, pemimpin negeri membiarkan korupsi terjadi, dimana hasil korupsi itu sebenarnya adalah hak rakyatnya. Mengambil harta yang bukan haknya itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Humaid As Sa’idi, dia berkata: “Rasulullah SAW menugaskan seorang lelaki dari suku Al Asad untuk mengurus sedekahnya Bani Sulaim. Lelaki itu biasa dipanggil Ibnu Lutbiyah. Begitu tiba dari melaksanakan tugasnya, dia langsung mengadakan perhitungan hasilnya. Dia mengatakan: “Ini harta Anda, dan ini merupakan hadiah.” Rasulullah SAW lalu bersabda: “Kenapa kamu tidak duduk-duduk saja di rumah Ayah dan Ibumu sampai datang kepadamu hadiahmu, apabila kamu orang yang jujur?” Kemudian beliau berpidato di hadapan kami. Setelah memanjatkan puja-puji kepada Allah, selanjutnya beliau bersabda: “Syahdan. Sesungguhnya aku menugaskan seorang di antara kamu untuk melakukan suatu pekerjaan yang dikuasakan oleh Allah kepadaku. Kembali dari tugasnya, orang itu berkata: “Ini harta Anda dan ini hadiah yang diberikan untukku.” Lalu aku katakan, apakah tidak sebaiknya dia duduk-duduk saja di rumah Ayah dan Ibunya sampai datang hadiah kepadanya, jika dia memang orang yang benar? Demi Allah, siapapun di antara kamu yang mengambil sesuatu daripadanya yang bukan haknya, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menemuinya dengan menanggung beban yang cukup berat. Sungguh aku akan mendapati salah seorang kamu bertemu dengan Allah sambil membawa seekor unta atau seekor lembu yang melenguh atau seekor kambing yang mengembik.” (HR Muslim)

 

Dari Ady bin Amirah Al Kindi, dia berkata: “Aku pernah mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa di antara kamu yang aku tugaskan melakukan suatu pekerjaan lalu dia menyembunyikan sebatang jarum atau yang lebih, maka pada hari kiamat nanti dia akan datang sebagai seorang yang korupsi.” Seorang lelaki berkulit hitam dari kaum Anshar tiba-tiba berdiri mendekati Rasulullah SAW dan hal itu sempat aku perhatikan terus. Laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, tarik kembali tugas yang pernah Anda bebankan kepadaku.” Rasulullah SAW bertanya: “Ada apa denganmu?” Laki-laki itu menjawab: “Aku mendengar Anda bersabda begini-begini.” Rasulullah SAW bersabda: “Sekarang aku nyatakan hal itu. Barangsiapa di antara kamu yang aku tugaskan melakukan suatu pekerjaan, maka hendaklah dia lakukan sepenuhnya dengan jujur. Apa yang memang diberikan untuknya dia boleh mengambil, tetapi apa yang dilarang darinya dia harus menahan diri.” (HR Muslim)

 

Dari Khaulah Al-Anshariyah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ada orang-orang yang menasarufkan harta Allah tidak dengan (pembagian) benar, maka bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat.” (HR Bukhari)

 

Jika pemimpin sudah mengambil harta rakyatnya, maka rakyatnya cenderung akan meniru dan mengikuti pemimpinnya mengambil harta orang lain. Itu membuat rakyat menjadi seperti pemimpinnya yaitu tidak jujur dan tidak amanah ketika mencari nafkah (harta). Pemimpin dan rakyat yang tidak amanah dalam pekerjaannya (ketika mencari nafkah) akan berakibat buruk bagi anak cucunya yang lahir kemudian.”

 

Tilmidzi: “Apakah umat Islam dibenarkan untuk memerangi pemimpin negeri tersebut?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW melarang umat Islam memerangi pemimpin negeri yang zalim dan tidak adil, hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ummi Salamah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya akan ada atas kamu para imam (pemimpin) yang mengerti dan mengingkari, barangsiapa ingkar maka dia bebas dari sifat munafiq dan barangsiapa benci maka dia selamat, dan barangsiapa senang dan mengikuti maka dia tidak bebas dari sifat munafiq dan tidak selamat.” Lalu dikatakan: “Wahai Rasulullah! Apakah kami memerangi mereka?” Beliau bersabda: “Jangan, semua mereka melakukan shalat.” (HR Tirmidzi)

 

Jika umat Islam memerangi pemimpin negeri yang zalim dimana dia masih shalat, maka Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abdullah ibn Umar, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata terhadap kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Musa (Al-Asy’ari) dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa membawa senjata terhadap kami (untuk memerangi kami, kaum muslimin, tanpa hak) maka dia bukan golongan kami.” (HR Bukhari)

 

Jika umat Islam itu tetap memerangi pemimpin tersebut hingga keduanya mati terbunuh, maka Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Bakrah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apabila ada dua muslim, salah satunya membawa senjata untuk membunuh saudaranya, maka mereka berada di pinggir Jahanam; dan jika salah satunya membunuh saudaranya, mereka masuk neraka semua.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW melarang memerangi pemimpin negeri yang zalim dan tidak adil agar umat Islam tidak makin berkurang dan terpecah. Rasulullah SAW perintahkan umat Islam yang dipimpin oleh pemimpin yang zalim, agar menjalani hidupnya sebagai berikut:

 

Dari Simak bin Harb dari Al-Qamah bin Wail bin Hujr dari Ayahnya, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW sedangkan seseorang bertanya kepada beliau, dia berkata: “Beritahukanlah kami kalau kami mempunyai pemimpin yang mencegah hak kami dan mereka meminta hak mereka kepada kami.” Rasulullah SAW bersabda: “Dengarkanlah dan taatilah karena sesungguhnya wajib atas mereka melaksanakan apa yang menjadi tugas mereka dan wajib atas kamu melaksanakan apa yang menjadi tugasmu.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya pada pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena sesungguhnya orang yang memisahkan diri dari jama’ah barang sejengkal saja lalu dia mati, maka kematiannya adalah seperti kematian orang-orang Jahiliyah.” (HR Muslim)

 

Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Siapa yang membenci penguasanya terhadap sesuatu (urusan agama), maka bersabarlah karena sesungguhnya orang yang keluar dari (kepatuhan kepada) penguasa barang sejengkal, maka dia pasti meninggal sebagai meninggal ala Jahiliyah (dalam kesesatan, perpecahan dan kekosongan imam yang dipatuhi).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada perintah Rasulullah yang lain bagi umat Islam selain dari bersabar ketika dipimpin oleh pemimpin negeri yang zalim?”

 

Mudariszi: “Pemimpin negeri yang tidak menerapkan syariat agama Islam, maka dia cenderung akan berlaku zalim dan tidak adil terhadap rakyatnya karena dia lebih mengutamakan golongannya daripada agama Allah (Islam). Rakyat (umat Islam) ketika menghadapi pemimpin negeri itu diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Abi Bakar Ash Shiddiq bahwa dia berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kamu membaca ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang sesat itu memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (surat Al-Maaidah ayat 105). Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang yang menganiaya lalu tidak memegang kedua tangannya, maka hampir saja Allah menurunkan siksa kepada mereka secara merata.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh hendaklah kamu mengajak berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran dan sungguh hampir saja Allah menurunkan siksa atasmu lalu kamu berdoa kepada-Nya, tapi Dia tidak mengabulkan do’amu.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab, dia berkata: “Abu Sa’id berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengingkarinya dengan tangannya. Barangsiapa tidak mampu, maka dengan mulutnya. Barangsiapa tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan demikian itu (mengingkari dengan hati) adalah selemah-lemah iman.” (HR Tirmidzi)

 

Amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan oleh setiap muslim atau bersama-sama. Menyeru dan mengajak rakyat dan pemimpin negeri untuk berbuat yang baik dan menolak (mencegah) perbuatan yang buruk (jahat), berarti telah membantu orang-orang yang teraniaya dan dapat menyadarkan orang-orang yang menganiaya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tolonglah saudaramu yang menganiaya maupun yang teraniaya.” Dikatakan: “Wahai Rasulullah, aku menolong yang teraniaya lalu bagaimana aku menolong yang menganiaya?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya dari perbuatan aniaya, demikian itulah pertolonganmu kepadanya.” (HR Tirmidzi)

 

Orang-orang beriman tidak seharusnya ragu-ragu untuk menegur atau menasehati pemimpin yang zalim dan tidak adil. Mereka dapat melakukannya misalnya dengan membuktikan melalui perbuatannya yang baik atau tidak berbuat maksiat dan jahat karena semua itu memang dibenarkan dan dilarang oleh agama Islam. Rasulullah SAW menjelaskan muslim yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebagai berikut:

 

Dari Ali bin Zaid dari Al-Hasan dari Jundub dari Hudzaifah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak diperbolehkan seorang mu’min merendahkan dirinya.” Para sahabat berkata: “Bagaimana seorang mu’min merendahkan dirinya?” Beliau bersabda: “Dia menghadapi bencana yang dia tidak mampu menghadapinya.” (HR Tirmidzi)

 

Dan Rasulullah SAW menyeru orang-orang beriman agar tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebatas ilmunya, ketakwaannya dan kemampuannya, dan tidak mengikuti pemimpin negeri yang zalim dan tidak adil, sebagai berikut:

 

Dari Abu Musa dari Wahb bin Munabbih dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa tinggal di desa niscaya keras hatinya, barangsiapa terus menerus berburu niscaya lalai (kepada ibadah), barangsiapa mendatangi pintu pemerintahan (tanpa ada suatu kebutuhan) niscaya terkena fitnah.” (HR Tirmidzi)

 

Jika orang-orang beriman tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar setelah melihat adanya kezaliman dan ketidak adilan di negerinya, maka Rasulullah SAW menjelaskan akibat dari mendiamkan keadaan buruk tersebut sebagai berikut:

 

Dari Al-A’masy dari Asy Sya’biy dari An Nu’man bin Basyir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang menjalankan ajaran-ajaran Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti kaum yang naik perahu dalam laut. Sebagian mereka memperoleh tempat di atas, dan sebagian yang lain memperoleh tempat di bawah. Orang-orang yang berada di bawah naik ke atas untuk mengambil air lalu menuangi orang yang berada di atas. Kemudian orang-orang berada di atas berkata: “Kami tidak membiarkan kamu naik turun menyakiti kami.” Lalu orang yang berada di bawah berkata: “Sesungguhnya kami melubangi perahu di tempat yang bawah lalu mengambil air.” Kalau mereka menahan tangan mereka dan mencegah mereka, maka mereka selamat semuanya, dan kalau mereka membiarkan mereka, maka mereka tenggelam semuanya.” (HR Tirmidzi)

 

Jika semua umat Islam wafat karena tiada siapapun yang membantunya atau memperbaikinya (berdasarkan sunnah Rasulullah di atas), maka akan lenyap pula agama Allah yaitu agama Islam di muka bumi.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Rasulullah SAW menyuruh melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan bukan berperang agar agama Allah kembali tegak?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW dan para sahabat menegakkan agama Islam dengan berperang (berjihad) di jalan-Nya karena mereka diperangi oleh orang-orang kafir musyrik dan Ahli Kitab yang tidak ingin agama Islam tegak. Jika sekarang umat Islam berperang dengan orang-orang kafir, maka dapat dipastikan mereka akan kalah, hingga bukan tidak mungkin setelah itu tidak ada lagi umat Islam dan agama Islam. Tapi dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka umat Islam telah membela agama Islam dan membantu orang-orang yang teraniaya dan yang menganiaya akibat dari tidak diterapkannya syariat agama Allah. Perbuatan itu juga merupakan berjihad di jalan-Nya yang lurus, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abi Sa’id Al-Khudriy bahwa Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya seagung-agung jihad adalah perkataan adil yang diucapkan di hadapan pemerintahan yang aniaya.” (HR Tirmidzi)

 

Tidak diterapkannya syariat agama Allah oleh pemimpin negeri-negeri akan berakibat buruk kepada makhluk-makhluk lain yang hidup di bumi. Semua makhluk itu menjalani hidupnya di bumi dengan mengikuti syariat agama Allah, tapi manusia tidak mengetahui syariat agama-Nya yang Dia tetapkan bagi makhluk-makhluk itu. Allah SWT berfirman:

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali ‘Imran 83)

 

Keburukan yang terjadi pada makhluk-makhluk tersebut akan berakibat kepada manusia karena sebagian dari makhluk-makhluk itu merupakan kebutuhan hidup manusia. Sehingga, dengan tidak diterapkannya syariat agama Allah oleh pemimpin negeri-negeri, cepat atau lambat akan terjadi kerusakan pada bumi termasuk kerusakan pada penghuni bumi. Karena itu Allah SWT menyeru umat Islam sebagai berikut:

 

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)

 

Adapun perintah-Nya kepada umat Islam adalah sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan yang keji, kemungkaran dan permusuhan. (An Nahl 90)

 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali ‘Imran 110)

 

Ahli Kitab yang memimpin negeri-negeri di bumi seharusnya juga melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tapi kebanyakan dari Ahli Kitab meragukan keaslian Taurat dan Injil, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu. (Asy Syuura 14)

 

Sementara itu Allah SWT telah mewariskan Al Qur’an kepada umat Islam dimana Al Qur’an itu untuk manusia dan dengan Al Qur’an itulah umat Islam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Allah SWT berfirman:

 

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Faathir 31-32)

 

Kerusakan di bumi yang terjadi karena tidak diterapkannya syariat agama Allah oleh pemimpin negeri-negeri, akan dirasakan oleh semua manusia. Tidak semua orang kafir, orang munafik dan orang musyrik menyukai kerusakan bumi tersebut, karena itu akan berakibat kepada kehidupan mereka. Mereka sadari itu setelah mendengar penjelasan dari umat Islam yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Akibatnya akan ada umat Islam yang bertaubat atau Ahli Kitab dan orang-orang musyrik yang memeluk agama Islam. Perbuatan (taubat) mereka itu dapat mengurangkan kerusakan bumi. Itu berarti umat Islam yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar telah menolong agama Allah (Islam), seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)

 

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. (Al Hajj 40)

 

Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. (Al Hadiid 25)

 

Umat Islam itu berarti telah berjihad di jalan-Nya yang lurus dengan Al Qur’an, sesuai dengan firman-Nya ini:

 

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar. (Al Furqaan 52)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply