Dialog Seri 10: 94
Tilmidzi: “ Apakah Ya’juj dan Ma’juj itu manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al Kahfi 94)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah dua kelompok manusia yang membuat kerusakan di bumi, yaitu kelompok Ya’juj dan kelompok Ma’juj.”
Tilmidzi: “Siapakah Dzulqarnain itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang Dzulqarnain sebagai berikut:
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati disitu segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” (Al Kahfi 83-86)
Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. (Al Kahfi 89-91)
Perjalanan Dzulqarnain dalam firman-Nya di atas dapat dikatakan perjalanan melalui laut karena beliau melihat matahari terbenam dan terbit di laut dari dua tempat. Tempat Dzulqarnain melihat matahari terbenam dan terbit di laut tersebut dapat dikatakan pulau karena sedikit penghuninya. Kemudian Dzulqarnain meneruskan perjalanannya, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. (Al Kahfi 92-93)
Dzulqarnain sampai di antara dua gunung dalam firman-Nya di atas menunjukkan beliau telah berada di daratan yang luas tapi masih di sebelah Timur, yaitu di wilayah matahari terbit. Sehingga kaum yang dijumpai Dzulqarnain, yaitu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan itu berada di Timur. Kaum itu yang meminta kepada Dzulqarnain agar dibangunkan dinding yang memisahkan mereka dengan kelompok Ya’juj dan Ma’juj.”
Tilmidzi: “Apakah Dzulqarnain membangun dinding pemisah itu?”
Mudariszi: “Dzulqarnain membangun dinding pemisah yang diminta oleh kaum tersebut tanpa mau menerima pembayaran. Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan keatas besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. (Al Kahfi 95-97)
Dinding pemisah itu sangat kuat, sehingga tidak dapat dipanjat atau dilubangi oleh kelompok Ya’juj dan Ma’juj. Dinding pemisah itu harusnya panjang karena memisahkan kaum yang meminta kepada Dzulqarnain dengan dua kelompok (Ya’juj dan Ma’juj) yang masing-masing di wilayah yang berbeda. Sehingga, tinggi, panjang dan kuatnya dinding pemisah itu hanya dapat dikerjakan oleh alat-alat dan orang-orang yang banyak, dan itulah yang diminta oleh Dzulqarnain kepada kaum tersebut seperti dalam firman-Nya di atas. Jika kaum tersebut dapat memenuhi permintaan Dzulqarnain, maka itu menunjukkan kaum tersebut berjumlah sangat banyak. Dinding pemisah itu bukan untuk mengurung kelompok Ya’juj dan Ma’juj. Kedua kelompok itu masih dapat bertemu dan membuat kerusakan meskipun harus menempuh perjalanan yang jauh terlebih dulu karena adanya dinding pemisah. Allah SWT lalu membiarkan kelompok Ya’juj berbaur dengan kelompok Ma’juj dan membiarkan kedua kelompok (Ya’juj dan Ma’juj) berbaur dengan kaum yang meminta dinding pemisah tersebut dan berbaur dengan umat manusia lainnya hingga kiamat. Itu berarti dinding pemisah bukan untuk mengurung kelompok Ya’juj dan Ma’juj. Allah SWT berfirman:
Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya. (Al Kahfi 99)
Tilmidzi: “Apakah dinding pemisah tersebut tidak dapat hancur?”
Mudariszi: “Dinding pemisah itu hanya dapat dihancurkan oleh Allah SWT pada waktu yang Dia telah tetapkan. Allah SWT berfirman:
Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (Al Kahfi 98)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan waktu dinding pemisah tersebut hancur?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan waktu hancurnya dinding pemisah tersebut, tapi Dia menjelaskan waktu dinding pemisah itu akan berlubang dan terbuka. Dan ketika dinding pemisah itu telah berlubang terbuka, maka kelompok Ya’juj dan Ma’juj dijelaskan oleh Allah SWT akan berbuat sebagai berikut:
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Al Anbiyaa’ 96-97)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa dinding pemisah berlubang besar atau terbuka itu terjadi pada waktu mendekati kiamat. Turunnya kelompok Ya’juj dan Ma’juj di waktu mendekati kiamat itu lalu menjadikan kedua kelompok tersebut sebagai tanda kiamat yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Hudzaifah bin Usaid Al Ghiffariy, ia berkata: “Ketika kami sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi kami, beliau bertanya: “Apa yang kamu bicarakan?” Mereka berkata: “Kami sedang membicarakan kiamat.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul sepuluh tanda-tandanya.” Kemudian beliau menyebutkan asap, Dajjal, binatang raksasa, terbitnya matahari dari arah Barat, turunnya Nabi Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya tiga keruntuhan: keruntuhan di Timur, Barat dan Jazirah Arab; dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang makhsyar.” (HR Muslim)
Di masa Rasulullah, dinding pemisah itu telah berlubang sebesar ini:
Dari Zainab binti Jahsy, dia berkata: “Rasulullah SAW bangun dari tidur dengan merah mukanya seraya bersabda: “Tiada Tuhan selain Allah (beliau mengulanginya tiga kali), celaka bagi orang-orang Arab karena datangnya kejahatan yang telah dekat. Dibuka hari ini benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini.” Beliau sambil membentuk angka sepuluh (meletakkan ujung telunjuk ke arah kelipatan ibu jari sehingga membentuk lubang yang sangat kecil). Zainab berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah kami binasa sedang di tengah kami ada orang-orang shaleh?” Beliau bersabda: “Ya, apabila kejahatan merajalela.” (HR Tirmidzi)
Sehingga lubang dinding pemisah itu sudah seharusnya akan bertambah besar hingga terbuka setelah dibangun dalam ribuan tahun.”
Tilmidzi: “Mengapa turunnya kelompok Ya’juj dan kelompok Ma’juj itu masuk sebagai tanda kiamat?”
Mudariszi: “Kelompok Ya’juj dan kelompok Ma’juj merupakan dua kelompok yang membuat kerusakan di bumi seperti yang telah dijelaskan dalam firman-Nya di atas. Turunnya kedua kelompok (Ya’juj dan Ma’juj) menjadi tanda kiamat karena jumlah mereka yang sangat banyak sekali. Misalnya, air danau tidak cukup memberikan mereka minum, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj yang dengan cepat turun dari tempat-tempat yang tinggi. Ketika yang terdepan dari mereka melewati danau Thabariyah, mereka minum apa yang ada disitu; dan tatkala yang terakhir lewat, mereka berkata: “Sungguh di tempat ini pernah ada air.” (HR Muslim)
Perbandingan kelompok Ya’juj dan Ma’juj di neraka dengan umat Islam di surga adalah sebagai berikut:
Dari Abu Said, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai Adam!” Adam menyahut: “Aku siap menerima perintah-Mu dan kebaikan ada di tangan-Mu.” Allah berfirman: “Keluarkanlah orang yang dikirimkan ke neraka.” Adam bertanya: “Apakah orang yang dikirim ke neraka itu?” Allah berfirman: “Dari setiap seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.” Itu terjadi, ketika anak-anak beruban, kandungan semua wanita yang hamil gugur dan engkau lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi siksa Allah itulah yang sangat keras.” Penuturan Rasulullah SAW itu membuat para sahabat merasa khawatir. Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah di antara kami lelaki itu (yang seorang di antara seribu)?” Rasulullah SAW bersabda: “Bergembiralah kalian! Karena, dari Ya’juj wa Ma’juj seribu, sedangkan dari kalian seorang.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah kelompok Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang kafir?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya di atas bahwa kelompok Ya’juj dan kelompok Ma’juj membuat kerusakan di bumi. Dan ketika mereka turun, mereka membunuh semua manusia yang dijumpainya dan juga mau membunuh semua makhluk yang ada di langit. Itu menunjukkan mereka adalah orang-orang kafir. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka seperti apa yang difirmankan Allah: “Mereka dari setiap tanah yang tinggi berjalan dengan cepat.” (surat Al Anbiyaa’ ayat 96). Beliau bersabda: “Permulaan rombongan mereka melewati laut kecil Athabariyyah lalu meminum air yang ada di dalamnya, kemudian akhir rombongan melewatinya lalu berkata: “Sungguh di tempat ini pernah ada air.” Lalu mereka berjalan sehingga sampai di gunung Baitul Maqdis lalu berkata: “Sungguh kami telah membunuh orang yang berada di bumi, marilah kita membunuh orang yang ada di langit.” Lalu mereka melemparkan panah mereka ke langit. Kemudian Allah mengembalikan panah mereka kepada mereka dalam keadaan berwarna merah darah.” (HR Tirmidzi)
Telah dijelaskan di atas bahwa kelompok Ya’juj dan kelompok Ma’juj berasal dari Timur. Penduduk negeri-negeri di sebelah Timur adalah orang-orang yang tidak beragama dengan agama Allah. Mereka beragama dengan menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT, mereka menyekutukan-Nya, mereka itu orang-orang musyrik, orang-orang kafir. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan tentang keluarnya tanduk syaitan sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW keluar dari rumahnya Aisyah lalu bersabda: “Pangkal kekufuran itu dari sana, dari tempat munculnya tanduk setan (yakni Timur).” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan kelompok Ya’juj dan kelompok Ma’juj yang kafir itu termasuk tanduk syaitan yang keluar dari Timur, itu seperti Al Masih Dajjal yang keluar dari Timur yaitu dari Khurasan. Timur merupakan wilayah terjadinya fitnah (bencana) di akhir zaman, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Az Zuhri dari As Salim dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar lalu bersabda: “Disana tempat terjadinya fitnah (bencana)” dan beliau memberi isyarat ke Timur dimana kelompok syetan keluar, atau beliau bersabda: “Permulaan sinar matahari.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Bakkar Ash Shiddiq, dia berkata: “Rasulullah SAW menceritakan kepada kami seraya bersabda: “Dajjal itu keluar di suatu negeri di arah Timur yang disebut Khurasan, dia diikuti oleh kaum seolah-olah mereka seperti perisai yang dipalu.” (HR Tirmidzi)
Wallahu a’lam.