Apakah Asap Salah Satu Tanda Kiamat Itu Adalah Dukhaan?

Dialog Seri 10: 98

 

Tilmidzi: “Bukankah salah satu tanda-tanda kiamat adalah asap?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikui:

 

Dari Hudzaifah bin Usaid Al Ghiffariy, ia berkata: “Ketika kami sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi kami, beliau bertanya: “Apa yang kamu bicarakan?” Mereka berkata: “Kami sedang membicarakan kiamat.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul sepuluh tanda-tandanya.” Kemudian beliau menyebutkan asap, Dajjal, binatang raksasa, terbitnya matahari dari arah Barat, turunnya Nabi Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya tiga keruntuhan: keruntuhan di Timur, Barat dan Jazirah Arab; dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang makhsyar.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah asap itu dukhaan (kabut) yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Ad Dukhaan?”

 

Mudariszi: “Asap dalam sunnah Rasulullah di atas tidak dijelaskan terkait dengan surat Ad Dukhaan dalam Al Qur’an. Jika asap itu terkait dengan firman-Nya dalam surat Ad Dukhaan, maka asap dalam sunnah Rasulullah itu sudah terjadi karena ada penjelasan atas firman-Nya tersebut. Adapun firman-Nya dalam surat Ad Dukhaan yang berarti asap atau kabut yaitu sebagai berikut:

 

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (Ad Dukhaan 10-11)

 

Jika asap dalam sunnah Rasulullah itu dianggap belum terjadi tapi lalu dikaitkan dengan asap (kabut) dalam surat Ad Dukhaan, maka pengkaitan itu dapat dikatakan hanya sebagai peringatan bagi umat Islam agar lebih berhati-hati dalam beramal (berbuat) ketika menjalani hidupnya karena telah dekatnya waktu kiamat. Ulama Tabi’in pernah mengkaitkan salah satu sunnah Rasulullah dengan firman-Nya (dukhaan) tersebut di atas, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah, ia berkata: “Kami pernah berjalan bersama Rasulullah SAW kemudian berpapasan dengan Ibnu Shayyad, maka beliau bersabda kepadanya: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Ia berkata: “Dukh.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Cukup, kamu tidak akan dapat melampaui tingkatanmu itu!” Umar berkata: “Ya Rasulullah, izinkan saya memancung lehernya.” Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan dia. Kalau dia itu yang kamu khawatirkan, maka kamu tidak akan mampu membunuhnya.” Dukh: Sebagian ulama mengatakan bahwa yang disembunyikan Rasulullah SAW adalah ayat Ad Dukhaan, yaitu ayat yang artinya: “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.” (surat Ad Dukhaan ayat 10). Ibnu Shayyad menebak apa yang disembunyikan beliau, tetapi sebagaimana kebiasaan para peramal, ia tidak bisa menyebutkan dengan lengkap, karena memang hanya sepenggal itulah yang dibisikkan setan kepadanya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW mengatakan bahwa tingkatan Ibnu Shayyad hanya sampai pada tingkatan peramal. (HR Muslim)

 

Dengan demikian tidak ada masalah mengkaitkan asap tanda kiamat dalam sunnah Rasulullah dengan firman-Nya dalam Al Qur’an karena Al Qur’an adalah kitab penjelasan dan peringatan untuk manusia hingga kiamat. Allah SWT berfirman:

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (Shaad 87)

 

Tilmidzi: “Apakah makna (tafsir) kabut (asap) dari firman-Nya dalam surat Ad Dukhaan tersebut?”

 

Mudariszi: “Sahabat Rasulullah yang menyaksikan turunnya ayat-ayat Al Qur’an (firman-Nya), menjelaskan makna (tafsir) dari firman-Nya tersebut sebagai berikut:

 

Dari Masruq, katanya: “Abdullah berkata: “Sesungguhnya hal ini terjadi karena suku Quraisy ketika durhaka kepada Rasulullah SAW, maka beliau mendo’akan jelek kepada mereka dengan beberapa tahun seperti tahun-tahunnya Yusuf. Akhirnya mereka tertimpa paceklik dan kelaparan sehingga mereka makan tulang. Maka jadilah seorang lelaki memandang ke langit lalu ia melihat ada asap yang terdapat antara dirinya dan langit karena saking payahnya. Lantas Allah Ta’ala menurunkan: “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami lenyapkanlah dari kami adzab ini.” (surat Ad Dukhaan ayat 10-12). Maka Rasulullah SAW didatangi, maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, mintalah minum kepada Allah untuk Mudhar karena sesungguhnya mereka benar-benar rusak.” Rasulullah SAW bertanya: “Kepada Mudhar? Sesungguhnya kamu sangatlah berani.” Lantas Rasulullah SAW memintakan minum (hujan), maka mereka diberi hujan. Lalu turun: “Sesungguhnya kamu kembali (kepada kekafiranmu).” (surat Ad Dukhaan ayat 15). Maka tatkala mereka mengalami hidup yang lapang, maka mereka kembali kepada keadaan semula. Kemudian Allah Azza Wa Jalla menurunkan: “(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghancurkan mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.” (surat Ad Dukhaan ayat 16). Dia berkata: “Yaitu hari Perang Badar.” (HR Bukhari)

 

Dari Masruq, katanya: “Saya masuk kepada Abdullah, katanya: “Sesungguhnya tandanya memiliki ilmu, jika kamu berkata tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui: “Allah-lah yang lebih tahu.” Sesungguhnya Allah telah berkata kepada Nabi-Nya SAW: “(Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas da’wahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-ada.” (surat Shaad ayat 86). Sesungguhnya orang-orang Quraisy ketika menang kepada Rasulullah SAW dan mereka durhaka kepada beliau, maka beliau berdo’a: “Ya Allah, tolonglah kami untuk mengalahkan mereka dengan (siksaan) tujuh tahun seperti tahun-tahunnya Yusuf.” Lalu mereka tertimpa adzab satu tahun dimana mereka makan tulang dan bangkai dalam satu tahun itu karena saking payahnya. Sehingga salah seorang dari mereka melihat sesuatu yang terdapat antara dirinya dan langit seperti halnya kabut karena lapar.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, hilangkanlah dari kami adzab itu sesungguhnya kami akan beriman.” Maka dikatakan kepadanya: “Jika kami telah menghilangkan adzab dari mereka, lantas mereka kembali kafir.” Maka Nabi berdo’a kepada Tuhannya, sehingga Allah menghilangkan adzab dari mereka lalu mereka kembali kafir. Lantas Allah menurunkan adzabnya kepada mereka pada hari Perang Badar, maka itulah yang disampaikan dalam firman Allah Ta’ala: “Surat Ad Dukhaan ayat 10-15.” (HR Bukhari)

 

Makna asap (kabut) dalam firman-Nya tersebut yang dijelaskan oleh sahabat Rasulullah di atas menunjukkan bahwa asap (kabut) itu merupakan azab bagi orang-orang kafir Mekkah. Dengan demikian azab yang terjadi karena timbulnya asap itu hanya menimpa orang-orang kafir saja. Karena, sekalipun asap itu meliputi manusia atau orang-orang di sekitar Mekkah, tapi orang-orang yang beriman tidak merasakan azab dari asap tersebut. Beratnya azab Allah itu lalu membuat orang-orang kafir berdoa kepada-Nya agar azab tersebut dihilangkan-Nya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman.” (Ad Dukhaan 12)

 

Tapi setelah azab itu dihilangkan-Nya, mereka kembali mengingkari-Nya karena mereka mengingkari Rasulullah SAW. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang Rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila.” Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit, sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (Ad Dukhaan 13-15)

 

Karena itu Allah SWT mengazab mereka kembali di perang Badar dengan membuat mereka terbunuh dan kalah, padahal jumlah pasukan mereka tiga kali lebih banyak daripada jumlah pasukan Rasulullah. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan. (Ad Dukhaan 16)

 

Tilmidzi: “Apakah pasukan orang-orang kafir Mekkah itu melihat asap (kabut) ketika di perang Badar?”

 

Mudariszi: “Pasukan Rasulullah dapat mengalahkan pasukan orang-orang kafir Mekkah karena mereka dibantu oleh para malaikat. Para malaikat banyak membunuh orang-orang kafir Mekkah, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (Al Anfaal 12)

 

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. (Al Anfaal 17-18)

 

Allah yang membunuh mereka atau Allah yang melempar dalam firman-Nya di atas yaitu Dia membunuh dan melempar melalui malaikat-malaikat yang diutus-Nya untuk membantu pasukan Rasulullah. Datangnya para malaikat membantu pasukan Rasulullah itu diketahui dari gelapnya langit. Itu dijelaskan oleh sahabat Rasulullah sebagai berikut:

 

Dari Umar bin Khattab dari Abu Zumail mengatakan: “Ibnu Abbas pernah bercerita kepadaku: “Saat itu, seorang pasukan muslim mengejar seorang pasukan musyrik yang berada di depannya. Tiba-tiba saja terdengar suara lecutan cemeti dan suara derap kaki kuda yang sedang berlari kencang tanpa terlihat rupanya. Sebentar saja pasukan Islam tersebut melihat musuh yang tengah dikejarnya terjungkal. Ketika didekati ternyata pada bagian hidung dan wajahnya terdapat bekas kena cambuk. Dan pada saat itu mendadak langit menjadi gelap sekali. Ketika pengalaman tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Benar. Itu adalah bala bantuan dari langit yang ketiga.” (HR Muslim)

 

Jika sahabat Rasulullah melihat gelapnya langit, maka orang-orang kafir Mekkah juga melihatnya. Tapi orang-orang kafir melihat awan gelap itu sebagai azab karena mereka banyak yang terbunuh dan kalah.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana kaitannya asap sebagai tanda kiamat itu menjadi azab Allah bagi orang-orang kafir ketika asap itu datang?”

 

Mudariszi: “Perkiraan yang mungkin paling mendekati timbulnya asap (kabut) sebagai tanda kiamat, yaitu terjadinya kelaparan (kekurangan makanan) yang berkepanjangan yang menimpa manusia di dunia atau orang-orang di berbagai belahan bumi, karena musim kemarau atau musim hujan yang panjang yang merusak tanam-tanaman, atau karena serangan serangga yang banyak dan berterusan yang menyerang tanam-tanaman, atau karena terjadi wabah penyakit menular yang mematikan orang-orang di berbagai belahan bumi. Kelaparan (kekurangan makanan) atau azab-Nya yang meliputi manusia (semua orang) di dunia itu membuat orang-orang kafir seolah-olah melihat asap atau kabut (dukhaan) di langit karena sulitnya menjalani hidup. Orang-orang beriman juga terkena, tetapi mereka dilindungi-Nya dengan rezeki yang seadanya. Orang-orang kafir lalu meminta kepada Allah SWT agar menghilangkan azab tersebut dan mereka berjanji akan beriman. Allah SWT lalu menghilangkan azab-Nya itu. Tapi setelah berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun, orang-orang kafir itu mengingkari janjinya dan kembali kepada kekafirannya. Allah SWT lalu membalas (menghukum) orang-orang kafir itu dengan perang antara pasukan umat Islam dengan pasukan orang-orang kafir, yang di awali perang antara pasukan umat Islam dengan pasukan Nasrani di Syam, lalu dengan pasukan Yahudi (Dajjal) dan dengan pasukan Ya’juj dan Ma’juj. Kelaparan (kekurangan makanan) itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Syihab, bahwa Idris Al Khaulaniy berkata: “Hudzaifah bin Al Yaman berkata: “Rasulullah SAW bercerita tentang fitnah dan beliau menghitungnya, sabdanya: “Di antara fitnah-fitnah tersebut ada tiga yang hampir-hampir tidak meninggalkan apa-apa, ada yang seperti angin musim kemarau, ada yang kecil, ada yang besar.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Paceklik itu bukan berarti hujan tidak turun, tetapi hujan tetap turun namun bumi tidak menumbuhkan apapun.” (HR Muslim)

 

Perang antara pasukan umat Islam dengan pasukan Nasrani ditandai dengan keluarnya api dari arah Yaman, dan Rasulullah SAW lalu memerintahkan umat Islam untuk segera pergi ke Barat yaitu ke Syam (Suriah), sebagai berikut:

 

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tanda pertama dari tanda-tanda (datangnya) kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat.” (HR Bukhari)

 

Dari Yahya bin Abi Katsir dari Abi Qilabah dari Salim bin Abdillah dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Api akan keluar dari Hadramaut atau akan keluar dari arah laut Hadramaut sebelum datang hari kiamat untuk menggiring manusia.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Ambillah jalan menuju ke Syam.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana asap itu menjadi azab bagi pasukan Nasrani, Yahudi (Dajjal), Ya’juj dan Ma’juj yang memerangi pasukan umat Islam?”

 

Mudariszi: “Jumlah pasukan umat Islam yang jauh lebih sedikit daripada jumlah pasukan Nasrani dan sekutu-sekutunya, menjadikan pasukan umat Islam mustahil dapat mengalahkan pasukan Nasrani. Tapi kenyataannya pasukan umat Islam mengalahkan pasukan Nasrani, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan kami mendapatkan orang-orang yang telah menawan teman-teman kami, kami akan membunuhnya.” Pasukan muslim menjawab: “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan membiarkan kalian membunuh saudara-saudara kami.” Akhirnya terjadi pertempuran di antara mereka. Sepertiga dari pasukan muslim melarikan diri, Allah tidak akan menerima taubat mereka selamanya; sepertiga lagi terbunuh, mereka adalah syuhada yang paling utama di sisi Allah; dan yang sepertiga lagi menang, tidak difitnah selamanya, maka mereka menguasai Konstantinopel. (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu pernah mendengar tentang suatu kota yang satu sisinya di laut dan sisi yang lain berada di darat?” Mereka berkata: “Ya, hai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kota tersebut diserang tujuh puluh ribu orang dari keturunan Nabi Ishaq. Setelah sampai, mereka menyerbu. Mereka tidak menyerang dengan pedang atau panah, mereka membaca: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah salah satu sisinya.” Tsaur berkata: “Aku hanya tahu beliau bersabda: “Yang ada di laut. Kemudian mereka membaca untuk yang kedua kalinya: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah sisi yang lain. Lalu mereka membaca lagi: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka mereka menang. Lantas mereka memasukinya dan memperoleh barang jarahan.” (HR Muslim)

 

Kemenangan pasukan umat Islam itu terjadi karena pertolongan Allah. Ucapan tahlil dan takbir membuat pasukan Nasrani menjadi kalah. Itu menunjukkan bahwa Allah SWT menolong pasukan umat Islam dengan menurunkan para malaikat yang dilihat oleh pasukan Nasrani di langit sebagai asap (kabut) tebal sehingga menjadikan mereka takut dan lari hingga Konstaninopel lalu ditaklukkan. Demikian pula dengan pasukan Yahudi (Dajjal) yang diperangi oleh pasukan umat Islam. Bantuan dari batu atau pohon telah membuat pasukan Yahudi menjadi takut dan tersiksa. Jika ketika itu mereka melihat ke langit, mereka akan melihat asap (kabut). Dan itu merupakan pertolongan dari Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan batu atau pohon itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum kaum muslimin berperang dengan Yahudi, maka kaum muslimin dapat mengalahkan mereka sampai ada orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon lalu batu atau pohon tadi berkata: “Hai muslim, hai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad (sejenis pohon berduri), karena ia pohonnya orang Yahudi.” (HR Muslim)

 

Juga pasukan Ya’juj dan Ma’juj yang diazab oleh Allah SWT, dimana ulat-ulat mendatangi mereka tanpa mereka ketahui dan lalu menggigit tengkuk (leher) mereka hingga mati. Mereka ketika itu tidak dapat berbuat apapun kecuali merasakan azab-Nya dengan wajah ke langit melihat asap (kabut) yang gelap. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Maka Allah mengirim ulat ke tengkuk mereka (Ya’juj dan Ma’juj) sehingga mereka semua mati seperti matinya satu jiwa. (HR Muslim)

 

Orang-orang beriman juga melihat asap tersebut karena asap itu meliputi manusia, tapi mereka tidak merasakan azab. Dengan demikian, terkaitnya asap tanda kiamat dengan firman-Nya dalam surat Ad Dukhaan itu bukan menjadi azab bagi orang-orang beriman karena asap atau dukhaan hanya mendatangkan azab bagi orang-orang kafir saja. Dan jika asap tanda kiamat itu tidak terkait dengan firman-Nya dalam surat Ad Dukhaan, maka asap itu tetap akan terjadi seperti terjadinya api yang mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat atau api yang keluar dari arah Yaman yang membawa manusia ke Syam (yang dijelaskan sunnah Rasulullah di atas). Bahkan api (yang terjadi karena kerusakan bumi di bawah tanah) tersebut mungkin penyebab timbulnya asap, sehingga asap itu tidak berbeda dengan api tersebut yaitu sama-sama hanya tanda-tanda kiamat.” 

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply