Dialog Seri 10: 95
Tilmidzi: “Berapa lama manusia harus menghadapi fitnah-fitnah yang membawanya kepada keburukan?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak menjelaskan jangka waktu fitnah-fitnah datang menimpa umat manusia sejak kekhalifahan Islam (Utsmaniyah) runtuh di awal tahun seribu sembilan ratus masehi. Fitnah-fitnah tersebut bukan saja mengakibatkan keburukan bagi manusia, tapi juga menimbulkan kerusakan pada bumi dan makhluk-makhluk di bumi. Itu terjadi karena pemimpin Ahli Kitab memimpin negeri-negeri di bumi dengan tidak mengikuti syariat agama Allah. Ahli Kitab menerapkan peraturannya dan jalannya sendiri, padahal kehidupan bumi dan semua makhluk di bumi diatur oleh Allah SWT melalui syariat agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali ‘Imran 83)
Terjadinya kerusakan pada bumi dan makhluk-makhluk di bumi (termasuk manusia) itu lalu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tanda pertama dari tanda-tanda (datangnya) kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat.” (HR Bukhari)
Api yang mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat sebagai tanda pertama dari tanda-tanda datangnya kiamat dalam sunnah Rasulullah di atas itu diharapkan sebagai tanda akan berakhirnya fitnah-fitnah.”
Tilmidzi: “Bagaimana kerusakan bumi itu hingga dapat menimbulkan api yang kemudian mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan bumi sebagai tempat bagi manusia dan makhluk lain menjalani hidupnya dengan peraturan (syariat) yang Dia tetapkan. Allah SWT berfirman:
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap. (Az Zukhruf 10)
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Allah SWT menjadikan bumi terdiri dari tiga bagian yaitu bagian tanah (daratan dan lautan), bagian dalam tanah, bagian atas tanah. Di setiap bagian bumi tersebut terdapat partikel-partikel yang sebagiannya membentuk dan menumbuhkan makhluk-makhluk. Itu berarti setiap makhluk membutuhkan partikel-partikel yang sebagiannya berupa makhluk-makhluk ketika mereka menjalani hidupnya. Allah SWT lalu menetapkan ukuran, jumlah dan ketentuan bagi setiap partikel dan makhluk ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)
Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Contoh perjalanan hidup partikel-partikel dan makhluk-makhluk tersebut di tanah (daratan dan lautan), di bawah tanah dan di atas tanah, dijelaskan firman-Nya ini:
Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Az Zumar 21)
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air dilembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar Ra’d 17)
Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hadiid 25)
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah 19-20)
Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Al Hajj 65)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa kehidupan partikel-partikel dan makhluk-makhluk di bumi itu saling berkaitan dan bergantungan. Itu terjadi karena adanya ketentuan (syariat) Allah terhadap mereka. Allah SWT lalu memperingatkan manusia sebagai berikut:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shaad 27)
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al A’raaf 56)
Dengan demikian, jika Ahli Kitab mengambil partikel-partikel di tanah, di dalam tanah atau di atas tanah sesukanya karena ingin menguasai dunia dan harta dunia, maka itu akan berakibat buruk kepada bumi. Pengambilan dan pengolahan partikel-partikel tanpa henti-hentinya selama puluhan atau ratusan tahun akan merusak ukuran dan jumlah partikel-partikel dan akan berakibat kepada pembentukan (pertumbuhan) makhluk-makhluk. Akibat lain yaitu kehidupan partikel-partikel dan makhluk-makhluk di tanah, di dalam tanah dan di atas tanah menjadi tidak beraturan, dan itu akan menimbulkan kerusakan pada bumi. Kerusakan bumi itu dapat diketahui dari tingkat seringnya terjadi gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, keluarnya gas ke udara, angin topan, gelombang air laut, masuknya benda-benda angkasa ke bumi. Semua kejadian itu menjadi bencana bagi manusia, makhluk-makhluk lain dan bagi bumi sendiri, yaitu bumi menjadi berubah karena lenyapnya sebagian daratan dan pulau-pulau. Bencana-bencana itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai tanda-tanda kiamat, sebagai berikut:
Dari Al Mustalim bin Said dari Rumaih Al-Judzam dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila harta rampasan bergilir antara golongan dengan golongan lain, amanat menjadi harta rampasan, zakat dianggap denda, dipelajari ilmu selain agama, seorang laki-laki taat kepada isterinya, mendurhakai Ibunya, mendekati semua karibnya, menjauhi Ayahnya, suara-suara diteriakkannya keras-keras di masjid, orang jahat di antara golongan orang yang memimpin mereka, pemimpin kaum adalah orang yang paling rendah akhlaknya, seseorang ditakuti karena takut kejahatannya, wanita penyanyi dan musik merajalela, arak-arak diminum, akhir umat ini mengutuk umat yang terdahulu, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu angin merah, gempa bumi, kebinasaan bumi, berubah bentuknya, dilempar batu dari langit dan tanda-tanda lain yang berurutan, seperti kalung mutiara yang rapuh yang putus benangnya lalu berturutan lepasnya.” (HR Tirmidzi)
Dari Al A’masy dari Hilal bin Yasaf dari Imran bin Husain: “Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Di dalam umat ini terjadi peristiwa masuk ditelan bumi, berubah bentuknya dan dilempar batu.” Seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata: “Wahai Rasulullah, kapan terjadi peristiwa itu?” Beliau bersabda: “Apabila wanita penyanyi dan pemusik digelar terang-terangan dan arak-arak diminum.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Siapakah di antara Ahli Kitab itu yang dapat dikatakan telah membuat kerusakan bumi?”
Mudariszi: “Di antara Ahli Kitab yang dapat dikatakan telah membuat kerusakan bumi yaitu orang-orang Yahudi. Allah SWT menjelaskan tentang mereka sebagai berikut:
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab (Taurat) itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Al Israa’ 4)
Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (Al Maa-idah 62)
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah 96)
Orang-orang Yahudi, selain bekerja sama dengan orang-orang Nasrani untuk mencapai tujuannya, juga bekerja sama dengan umat Islam yang munafik, orang-orang musyrik termasuk kaum Ya’juj dan Ma’juj yang suka berbuat kerusakan. Kaum Ya’juj dan Ma’juj dapat bekerja sama dengan Ahli Kitab karena mereka telah bercampur baur dengan umat manusia lainnya sejak dibangunnya dinding pemisah oleh Dzulqarnain. Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik itulah yang paling memusuhi orang-orang beriman yang selalu membela agama Allah (Islam), dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Al Maa-idah 82)
Tilmidzi: “Lalu apakah yang harus dilakukan oleh umat Islam dengan keluarnya api yang mengumpulkan manusia dari Timur ke Barat?”
Mudariszi: “Salah satu akibat dari kerusakan bumi yaitu terjadinya kekurangan makanan bagi manusia karena perubahan partikel-partikel di tanah, di dalam tanah dan di atas tanah (udara). Dan Rasulullah SAW pula menjelaskan tanda-tanda kiamat yang berkaitan dengan keadaan bumi itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Syihab, bahwa Idris Al Khaulaniy berkata: “Hudzaifah bin Al Yaman berkata: “Rasulullah SAW bercerita tentang fitnah dan beliau menghitungnya, sabdanya: “Di antara fitnah-fitnah tersebut ada tiga yang hampir-hampir tidak meninggalkan apa-apa, ada yang seperti angin musim kemarau, ada yang kecil, ada yang besar.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Paceklik itu bukan berarti hujan tidak turun, tetapi hujan tetap turun namun bumi tidak menumbuhkan apapun.” (HR Muslim)
Kekurangan makanan terjadi pula di negeri-negeri Islam di wilayah Barat. Keadaan di negeri-negeri Islam itu lalu membuat pemimpin Ahli Kitab ingin menguasai wilayah tersebut guna memudahkan kedatangan Al Masih Dajjal. Dengan dipimpin oleh pasukan Nasrani, mereka lalu memerangi umat Islam di Syam (negeri Suriah). Itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Yusair bin Jabir, ia berkata: “Waktu di Kufah bertiup angin merah, datang seseorang yang tidak biasa datang, ia berkata: “Hai Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah tiba.” Ibnu Mas’ud yang asalnya bertelekan itu kemudian duduk dan berkata: “Kiamat tidak terjadi sampai harta warisan tidak dibagi dan ghanimah tidak membuat gembira.” Kemudian ia memberikan isyarat dengan tangannya, demikian (mengarahkannya ke Syam) sambil berkata: “Disana ada musuh yang menghimpun kekuatan untuk menyerang umat Islam dan umat Islam pun mengerahkan kekuatan untuk melawan mereka.” Aku bertanya: “Apakah Rum yang kamu maksudkan?” Ia berkata: “Ya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan kami mendapatkan orang-orang yang telah menawan teman-teman kami, kami akan membunuhnya.” Pasukan muslim menjawab: “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan membiarkan kalian membunuh saudara-saudara kami.” Akhirnya terjadi pertempuran di antara mereka. (HR Muslim)
Rum dalam penjelasan sahabat Rasulullah di atas yaitu Rumawi (orang-orang Nasrani). Umat Islam yang beriman di Syam dan di negeri-negeri sekitar Syam lalu bersatu memerangi pasukan Nasrani. Mereka bersatu juga karena mengikuti perintah Allah dan Rasulullah ini:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)
Dari Mu’awiyah bin Qurrah dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila penduduk Syam binasa, maka tidak ada kebaikannya bagimu, golongan dari ummatku selalu menang, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka sehingga datang hari kiamat.” (HR Tirmidzi)
Rasulullah SAW ingin agar umat Islam di setiap negeri Islam membantu umat Islam di Syam yang diperangi oleh pasukan Nasrani supaya terjadi kebaikan bagi umat Islam dan bagi umat manusia. Karena itu Rasulullah SAW kemudian memerintahkan mereka agar pergi ke Syam, sebagai berikut:
Dari Salim bin Abdillah dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Api akan keluar dari Hadramaut atau akan keluar dari arah laut Hadramaut sebelum datang hari kiamat untuk menggiring manusia.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Ambillah jalan menuju ke Syam.” (HR Tirmidzi)
Bahz bin Hakim memberitahukan kepada kami, dari Ayahnya dari kakeknya, dia berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, dimana engkau memerintahkan kepadaku?” Beliau bersabda: “Disana.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah Syam.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Siapakah yang memimpin pasukan umat Islam di perang itu?”
Mudariszi: “Sejak kekhalifahan Islam (Utsmaniyah) runtuh, maka tidak ada Khalifah (Pemimpin) umat Islam. Umat Islam di setiap negeri Islam telah terpecah menjadi beberapa golongan, sehingga hanya sedikit umat Islam yang beriman yaitu yang taat mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah seperti yang dilakukan oleh para sahabat. Untuk menyatukan kembali umat Islam di bawah satu Pemimpin (Khalifah), Rasulullah SAW lalu menjelaskan kepada umat Islam di setiap negeri, sebagai berikut:
Dari Ashim dari Zirr dari Abdillah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Seorang dari keluargaku akan berkuasa yang namanya cocok dengan namaku.” Ashim berkata: “Abu Shaleh menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah, dia berkata: “Seandainya dunia tidak tersisa selain satu hari, pasti Allah memanjangkan hari itu sehingga dia berkuasa.” (HR Tirmidzi)
Syu’bah memberitahukan kepada kami, dia berkata: “Aku mendengar Zaid Al Ami berkata: “Aku mendengar Abush Shiddiq menceritakan kepada Abu Sa’id Al-Khudriy, berkata: “Kami khawatir sepeninggal Nabi kami terjadi suatu kejadian, lalu kami bertanya kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya di dalam umatku ada Al Mahdi yang keluar serta hidup lima atau tujuh atau sembilan (Zaid yang ragu-ragu).” Abu Sa’id berkata: “Kami berkata: “Apa itu?” Beliau bersabda: “Tahun.” Beliau bersabda: “Lalu seseorang datang kepadanya lalu berkata: “Hai Mahdi, berilah aku, berilah aku.” Beliau bersabda: “Kemudian beliau memberikan kepadanya dalam pakaiannya sebanyak dia mampu membawanya.” (HR Tirmidzi)
Sunnah Rasulullah di atas itu lalu menjadi perintah Rasulullah kepada umat Islam dalam menyatukan umat Islam di semua negeri. Umat Islam yang beriman, yang taat mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, akan mentaati perintah Rasulullah tersebut. Mereka menuju ke Syam, membai’at Imam Mahdi yang namanya seperti nama Rasulullah SAW dan nama Bapaknya seperti nama Bapak Rasulullah SAW. Mereka lalu mentaati Imam Mahdi sebagai Khalifah umat Islam. Itu menunjukkan bahwa sejak kekhalifahan Islam (Utsmaniyah) runtuh hingga dibai’atnya Imam Mahdi sebagai Khalifah, tidak ada kekhalifahan Islam atau tidak tegak agama Allah (agama Islam) di bumi, dan itu merupakan takdir Allah SWT. Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan pula bahwa Khalifah dan pasukannya ke Syam setelah umat Islam di Syam diperangi oleh pasukan Nasrani lebih dahulu.”
Tilmidzi: “Apakah perintah Rasulullah di atas dijalankan oleh umat Islam?”
Mudariszi: “Umat Islam yang beriman di setiap negeri Islam akan mengikuti perintah Rasulullah itu. Salah satu umat Islam yang beriman tersebut mendatangi Syam yaitu umat Islam dari Khurasan, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Yunus dari Ibnu Sihab dari Az-Zuhri dari Qabishah bin Dzuaib dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bendera-bendera hitam keluar dari Khurasan, maka tidak ada suatu apapun yang dapat menolaknya sehingga ditancapkannya di Iliya.” (HR Tilmidzi)
Pasukan umat Islam yang bersatu dipimpin oleh Khalifah kemudian memerangi pasukan Nasrani dan sekutu-sekutunya, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kamu memerangi kaum yang wajahnya bagaikan tameng yang ditempa dengan palu; dan kiamat tidak akan tiba sampai kamu memerangi kaum yang sandalnya dari bulu.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah yang mengisnadkan haditsnya sampai kepada Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sampai kamu memerangi kaum yang matanya kecil dan hidungnya pesek.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Mendekati hari kiamat, kalian akan memerangi kaum yang sandalnya dari bulu, wajahnya seperti tameng yang ditempa dengan palu, kemerah-merahan dan matanya kecil.” (HR Muslim)
Kaum yang diperangi oleh pasukan umat Islam dalam sunnah Rasulullah di atas boleh jadi kaum Ya’juj dan Ma’juj yang datang dari Asia Timur, Asia Tengah, Eropah Timur, yang membantu atau menjadi sekutu pasukan Nasrani. Di antara sekutu-sekutu pasukan Nasrani yang diperangi oleh pasukan umat Islam itu ada yang dari Turki dan Kurdi dan Parsi dimana mereka memiliki bentuk wajah yang serupa dengan wajah kaum Ya’juj dan Ma’juj, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sampai kaum muslimin memerangi Turki, yaitu kaum yang wajahnya seperti tameng yang ditempa dengan palu, memakai pakaian bulu dan berjalan di dalam bulu.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidaklah terjadi sehingga kalian memerangi bangsa Khuza dan Kirman yaitu orang-orang ajam (bukan Arab) yang merah mukanya, pesek hidungnya dan sipit matanya, seolah-olah muka mereka adalah perisai yang ditempa (rangkap) dan sandal mereka adalah rambut.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Aku akrab dengan Rasulullah SAW selama tiga tahun, dimana aku tidaklah lebih antusias menjaga hadits daripada dalam masa (tiga tahun) itu. Aku mendengar beliau bersabda: (Abu Hurairah berkata: “Demikian” dengan isyarat tangannya) “Di hadapan (menjelang) hari kiamat, kalian memerangi kaum yang bersandal rambut, dan mereka adalah bangsa yang tampak itu (mungkin bangsa Parsi atau bangsa Kurdi, para penghuni sahara).” Suatu kali Sufyan (bin Uyainah) mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang bazar (pasar, bahasa ajam dan Turki).” (HR Bukhari)
Umat Islam yang termasuk dalam pasukan dari Turki, Kurdi atau Parsi yang membantu pasukan Nasrani hingga diperangi oleh pasukan umat Islam (dalam sunnah Rasulullah di atas) itu adalah umat Islam yang munafik atau yang beragama mengikuti golongan (umat Islam yang terpecah mengikuti golongan).”
Tilmidzi: “Apakah ada negeri Ahli Kitab yang membantu umat Islam?”
Mudariszi: “Tidak ada negeri Ahli Kitab yang membantu pasukan umat Islam, tapi ada sejumlah orang-orang dari Ahli Kitab yang membantu pasukan umat Islam dalam memerangi pasukan Ahli Kitab, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu pernah mendengar tentang suatu kota yang satu sisinya di laut dan sisi yang lain berada di darat?” Mereka berkata: “Ya, hai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kota tersebut diserang tujuh puluh ribu orang dari keturunan Nabi Ishaq.” (HR Muslim)
Keturunan Nabi Ishaq dalam sunnah Rasulullah di atas adalah para Ahli Kitab yang telah memeluk agama Islam. Mereka itu orang-orang Nasrani dan bukan orang-orang Yahudi, yaitu anak cucu keturunan anak Nabi Ishaq yang merupakan saudara kandung Nabi Ya’qub. Mereka merupakan penduduk dari negeri-negeri Ahli Kitab.”
Tilmidzi: “Bagaimana perang antara pasukan umat Islam dan pasukan Ahli Kitab dan sekutunya itu?”
Mudariszi: “Peperangan tersebut berlangsung agak lama dan sangat dahsyat. Di awal peperangan, pasukan umat Islam menderita kekalahan, tapi kemudian memenangkannya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan kami mendapatkan orang-orang yang telah menawan teman-teman kami, kami akan membunuhnya.” Pasukan muslim menjawab: “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan membiarkan kalian membunuh saudara-saudara kami.” Akhirnya terjadi pertempuran di antara mereka. Sepertiga dari pasukan muslim melarikan diri, Allah tidak akan menerima taubat mereka selamanya; sepertiga lagi terbunuh, mereka adalah syuhada yang paling utama di sisi Allah; dan yang sepertiga lagi menang, tidak difitnah selamanya, maka mereka menguasai Konstantinopel. (HR Muslim)
Dari Yusair bin Jabir, ia berkata: “Waktu di Kufah bertiup angin merah, datang seseorang yang tidak biasa datang, ia berkata: “Hai Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah tiba.” Ibnu Mas’ud yang asalnya bertelekan itu kemudian duduk dan berkata: “Kiamat tidak terjadi sampai harta warisan tidak dibagi dan ghanimah tidak membuat gembira.” Kemudian ia memberikan isyarat dengan tangannya, demikian (mengarahkannya ke Syam) sambil berkata: “Disana ada musuh yang menghimpun kekuatan untuk menyerang umat Islam dan umat Islam pun mengerahkan kekuatan untuk melawan mereka.” Aku bertanya: “Apakah Rum yang kamu maksudkan?” Ia berkata: “Ya, dan di dalam pertempuran tersebut terjadi benturan yang keras, maka umat Islam membentuk pasukan pelopor yang berani mati yang tidak akan kembali kecuali dengan membawa kemenangan. Maka mereka (umat Islam dan Rum) berperang sampai malam menghalangi di antara mereka, pasukan Islam pulang dan tentara Rum pun pulang, masing-masing tidak ada yang menang, tetapi pasukan pelopor telah hancur. Kemudian tentara Islam membentuk lagi pasukan pelopor yang berani mati yang tidak akan kembali kecuali dengan membawa kemenangan. Maka mereka berperang lagi sampai malam memisahkan mereka, pasukan Islam mundur dan tentara Rum pun kembali, masing-masing tidak ada yang menang, namun pasukan pelopor binasa. Kemudian umat Islam membentuk lagi pasukan pelopor yang berani mati dan tidak akan kembali kecuali dengan membawa kemenangan. Mereka berperang sampai sore, pasukan Islam kembali pulang, begitu pula tentara Rum, masing-masing tidak ada yang unggul, tapi pasukan pelopor hancur. Pada hari yang keempat, sisa-sisa pasukan Islam maju semua lalu Allah menjadikan kekalahan di pihak Rum; mereka berperang dengan sangat hebat, belum pernah dilihat peperangan yang seperti itu, sehingga andaikata ada burung yang terbang di sisi mereka, ia tidak bisa lewat terus, tetapi tersungkur mati. Setelah pertempuran selesai, orang-orang saling menghitung, yang asalnya seratus, ternyata hanya tinggal seorang, maka ghanimah manakah yang membuat gembira atau warisan manakah yang akan dibagi?” (HR Muslim)
Kemenangan pasukan umat Islam tersebut karena pertolongan Allah, dimana mereka memenangkannya dengan cara seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu pernah mendengar tentang suatu kota yang satu sisinya di laut dan sisi yang lain berada di darat?” Mereka berkata: “Ya, hai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kota tersebut diserang tujuh puluh ribu orang dari keturunan Nabi Ishaq. Setelah sampai, mereka menyerbu. Mereka tidak menyerang dengan pedang atau panah, mereka membaca: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah salah satu sisinya.” Tsaur berkata: “Aku hanya tahu beliau bersabda: “Yang ada di laut. Kemudian mereka membaca untuk yang kedua kalinya: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah sisi yang lain. Lalu mereka membaca lagi: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka mereka menang. Lantas mereka memasukinya dan memperoleh barang jarahan.” (HR Muslim)
Terjadinya pertolongan Allah itu misalnya dengan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati pasukan Ahli Kitab seperti Dia memasukkan rasa takut kepada Ahli Kitab di masa Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (Al Hasyr 2)
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (Al Ahzab 26-27)
Tilmidzi: “Apakah Khalifah lalu membagikan ghanimah tersebut?”
Mudariszi: “Khalifah kemudian membagikan ghanimah (harta rampasan perang) tanpa menghitung-hitungnya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Salah seorang dari Khalifah-Khalifahmu ada yang membagi-bagikan harta tanpa menghitungnya.” (HR Muslim)
Dari Abu Nadlrah, ia,berkata: “Kami berada di tempat Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Pada akhir masa umatku akan ada seorang Khalifah yang membagi-bagikan harta tanpa menghitungnya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah umat Islam senang dengan kemenangan tersebut?”
Mudariszi: “Umat Islam senang dengan kemenangan tersebut dan juga memperoleh harta rampasan perang yang sangat banyak. Tetapi ketika mereka sedang membagikan harta rampasan, mereka mendengar berita keluarnya Al Masih Dajjal, yaitu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ketika mereka sedang membagi barang jarahan, mendadak datang seseorang yang berteriak: “Sesungguhnya Dajjal telah keluar.” Maka mereka meninggalkan apa saja lalu kembali.” (HR Muslim)
Dari Yusair bin Jabir, ia berkata: “Waktu di Kufah bertiup angin merah, datang seseorang yang tidak biasa datang, ia berkata: “Hai Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah tiba.” Ibnu Mas’ud yang asalnya bertelekan itu kemudian duduk dan berkata: “Ketika mereka dalam keadaan demikian tiba-tiba mereka mendengar bencana yang lebih besar daripada itu. Kemudian datang seseorang yang berteriak: “Sesungguhnya Dajal telah menggantikan mereka di dalam anak cucu mereka.” Maka mereka meninggalkan apa yang ada di tangan mereka lalu menghadap, kemudian mereka mengirim sepuluh tentara berkuda sebagai pasukan perintis. Rasulullah SAW bersabda: “Aku mengetahui nama-nama mereka, nama Ayah mereka dan warna kuda-kuda mereka. Mereka adalah penunggang kuda terbaik yang ada di muka bumi pada waktu itu, atau, termasuk penunggang kuda terbaik di muka bumi pada waktu itu.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan mereka berhenti membagikan harta rampasan karena mau menyelamatkan saudara-saudaranya dari Al Masih Dajjal. Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan pula bahwa Al Masih Dajjal keluar setelah pasukan umat Islam mengalahkan pasukan Ahli Kitab, dan hal itu dijelaskan pula sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Abi Bakrah bin Abi Maryam dari Al Walid bin Sufyan dari Yazid bin Qutaib As Sukuni dari Abi Bahriyyah sahabat Muadz bin Jabbal dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Peperangan yang dahsyat, terbukanya Konstantinopel dan keluarnya Dajjal itu dalam tujuh bulan.” (HR Tirmidzi)
Dari Syu’bah dari Yahya bin Said dari Anas bin Malik, dia berkata: “Terbukanya Konstantinopel itu beserta dekatnya hari kiamat.” Kontantinopel adalah sebuah kota Romawi yang dibuka pada waktu keluarnya Dajjal. Konstantinopel telah dibuka pada masa sebagian sahabat Rasulullah. (HR Tirmidzi)
Jabir berkata: “Nafi berkata: “Hai Jabir, kita tidak akan melihat Dajjal keluar sebelum Rum ditaklukkan.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Khalifah (Imam Mahdi) memerangi Al Masih Dajjal?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Ketika ia dalam keadaan demikian, mendadak Allah mengutus Al Masih putera Maryam. Beliau turun di menara putih, sebelah timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelup za’faran, dan meletakkan telapak tangannya pada sayapnya dua malaikat; apabila beliau menundukkan kepala airpun menetes, dan jika mengangkat kepala, berluncuranlah air tadi bagaikan mutiara; orang kafir yang mencium bau nafas beliau pasti mati, sedangkan nafas beliau itu dapat mencapai sejauh pandangan mata beliau.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.