Dialog Seri 10: 99
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan bumi setelah Ahli Kitab dikalahkan, Al Masih Dajjal dibunuh dan kaum Ya’juj dan Ma’juj dibinasakan?”
Mudariszi: “Setelah pasukan Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) dikalahkan oleh pasukan umat Islam, Al Masih Dajjal dibunuh oleh Nabi ‘Isa dan kaum Ya’juj dan Ma’juj dibinasakan oleh Allah SWT, maka Allah SWT lalu membersihkan bumi. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Maka Allah mengirim burung seperti unta yang kemudian membawa mereka (Ya’juj dan Ma’juj) dan melemparkannya di tempat yang dikehendaki Allah; kemudian Allah mengirim hujan yang tidak dapat dihalangi oleh rumah dari tanah maupun dari bulu, maka hujan tadi mencuci bumi sampai bersih seperti kaca.” (HR Muslim)
Dan Allah SWT telah menetapkan bumi tersebut sebagai berikut:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 105)
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa setelah itu?”
Mudariszi: “Nabi ‘Isa mengajak semua orang pada waktu itu yang terdiri dari orang-orang munafik, Yahudi, Nasrani, musyrik termasuk Ya’juj dan Majuj untuk memeluk agama Allah yaitu agama Islam. Nabi ‘Isa memimpin umat manusia ketika itu dengan agama Islam dan mengikuti syariat agama Islam. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Jabir bin Abdullah berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak henti-hentinya sekelompok dari ummatku berkelahi berebut benar yang tampaknya sampai hari kiamat. Lalu Isa bin Maryam turun, maka berkatalah pemimpin mereka: “Marilah, do’akanlah kami.” Isa menjawab: “Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap ummat ini.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah kalian bila Ibnu Maryam turun pada kalian lalu menjadi imam kalian dari kalian?” Aku (Al Walid bin Muslim, perawi hadis) berkata kepada Ibnu Abu Dzi’bi (yang menceritakan): “Al Auza’iy menceritakan kepadaku melalui jalur Az Zuhri dari Nafi dari Abu Hurairah: “Dan imam kalian di antara kalian.” Ibnu Dzi’bi bertanya: “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan menjadi imam kalian dari kalian?” Aku berkata: “Beritahukanlah kepadaku.” Ibnu Abu Dzi’bi berkata: “Dia (Isa) menjadi imam kalian dengan menggunakan Kitab Tuhan kalian Tabaraka wa Ta’ala (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi kalian Muhammad SAW.” (HR Muslim)
Sahabat Rasulullah lalu menjelaskan perkara di atas sebagai berikut:
Dari Ibnul Musayyab, sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah berkata: “Jika kalian suka, bacalah ayat 159 surat An Nisaa: “Tak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah itu berarti Nabi ‘Isa menegakkan kembali agama Allah yaitu agama Islam di bumi?”
Mudariszi: “Ya! Nabi ‘Isa memusnahkan perkara yang diada-adakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani dan mengembalikan semua perkara kepada syariat agama Allah yang benar. Nabi ‘Isa adalah Rasul dari Bani Israil yang diberikan-Nya Injil yang membenarkan Taurat dan ditugaskan-Nya untuk memperbaiki umat Nabi Musa yang tidak lagi beragama dengan agama Allah yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa karena Taurat dirubah. Tapi Injil pula lalu dirubah oleh Bani Israil sehingga umat Nabi ‘Isa tidak beragama dengan agama Allah yang benar yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa. Pada waktu itulah Nabi ‘Isa menjelaskan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Nabi ‘Isa lalu memperbaikinya dan di antaranya dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnul Musayyab, sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku! Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun pada kalian. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan tidak menerima upeti.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah! Ibnu Maryam (Isa) benar-benar akan turun. Dia akan memecahkan salib, membunuh babi dan meletakkan upeti.” (HR Muslim)
Agama Islam tidak berbeda dengan agama Allah yang diajarkan oleh Nabi Musa kepada umatnya (orang-orang Yahudi) dan yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa kepada umatnya (orang-orang Nasrani) yaitu agama dari Allah SWT yang satu (agama tauhid). Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu.” (An Nahl 36)
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini. (Al Hajj 78)
Di samping itu, semua Nabi termasuk Nabi ‘Isa telah berjanji kepada Allah SWT, sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku akan menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali ‘Imran 81)
Seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu dalam firman-Nya di atas adalah Rasulullah SAW yang telah membenarkan semua Nabi-Nabi dan apa yang ada pada Nabi-Nabi tersebut. Karena itu, ketika Nabi ‘Isa diturunkan ke bumi, maka beliau wajib membantu Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya yaitu agama Islam dengan mengajak semua orang termasuk orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang musyrik untuk memeluk dan mengikuti agama Islam. Nabi ‘Isa kemudian memutuskan setiap perkara dengan adil mengikuti syariat agama Islam, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnul Musayyab, sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku! Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun pada kalian untuk menjadi hakim yang adil.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah! Ibnu Maryam (Isa) benar-benar akan turun sebagai hakim yang adil.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana kehidupan manusia pada waktu itu?”
Mudariszi: “Manusia menjalani hidupnya dengan tanpa permusuhan dan setiap orang memiliki banyak harta. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Ibnul Musayyab, sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku! Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun pada kalian. Dan harta akan melimpah, sehingga tak seorangpun mau menerimanya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah! Ibnu Maryam (Isa) benar-benar akan turun. Unta muda (menurut orang Arab, merupakan harta paling berharga) akan ditinggalkan, tidak lagi diidamkan. Permusuhan, saling benci dan saling iri akan hilang. Harta disodorkan tetapi tak seorangpun mau menerimanya.” (HR Muslim)
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Tiada rasa permusuhan di antara dua orang.” (HR Muslim)
Sulit bagi manusia di masa itu beramal saleh dengan bersedekah karena tidak ada seorangpun yang mau menerima harta, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Dan sehingga harta melimpah pada kamu, maka harta itu membanjir hingga menyusahkan pemilik harta itu, siapakah yang akan menerima shadakahnya, dan sehingga ia menawarkan hartanya itu, maka orang yang ditawari mengatakan: “Aku tidak membutuhkan harta itu.” (HR Bukhari)
Dari Haritsah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bershadakahlah kamu, maka akan datang suatu masa terhadap manusia dimana orang laki-laki berjalan dengan (membawa) shadakahnya, maka dia tidak menemukan orang yang mau menerimanya.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang ternak yang menjadi makanan (kebutuhan hidup) manusia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Kemudian Allah mengirim hujan yang tidak dapat dihalangi oleh rumah dari tanah maupun dari bulu, maka hujan tadi mencuci bumi sampai bersih seperti kaca, lalu dikatakan kepada bumi: “Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikan berkahmu.” Maka pada hari itu serombongan orang memakan buah delima dan berteduh dengan kelopaknya; air susu pun diberkati sehingga air susu seekor unta yang hampir beranak cukup untuk serombongan orang, air susu seekor sapi cukup untuk satu kabilah, air susu seekor kambing cukup untuk satu keluarga.” (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Lalu hujan itu mencuci bumi kemudian membiarkannya seperti cermin.” Beliau bersabda: “Kemudian dikatakan kepada bumi keluarkanlah buah-buahan dan kembalikanlah berkahmu.” Pada hari itu satu rombongan makan buah delima dan mereka bernaung dengan kulitnya, dan Allah memberi berkah pada susu sehingga rombongan banyak cukup dengan seekor unta yang baru melahirkan. Sesungguhnya satu kabilah cukup dengan sapi yang baru melahirkan dan satu keluarga cukup dengan satu kambing yang baru melahirkan.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah ketika itu manusia dapat berbicara dengan binatang?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Al-Qasim bin Al Fadhl, Abu Nadhrah Al-Abdi memberitahukan kepada kami dari Abi Sa’id Al-Khudriy, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang diriku dalam tangan-Nya (kekuasaan-Nya), hari kiamat tidak datang sehingga binatang buas berbicara kepada manusia dan sehingga ujung cemetinya, tali sepatunya berbicara kepada seseorang dan pahanya memberitahukan kepadanya mengenai apa yang diperbuat keluarganya sepeninggalnya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Berapa lama orang-orang beriman menikmati kehidupan itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dan orang-orang muslim menyalakan api dengan anak panah, panah dan tempat panah mereka selama tujuh tahun.” (HR Tirmidzi)
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Setelah itu manusia tinggal di bumi selama tujuh tahun, tiada rasa permusuhan di antara dua orang. Kemudian Allah mengirim angin yang dingin dari arah Syam, maka tiada seorang pun yang di hatinya terdapat sebiji sawi kebaikan atau iman yang tinggal di bumi melainkan pasti mati, sehingga andai salah seorang di antara kamu masuk ke dalam perut gunung, angin tadi akan masuk pula dan mencabut nyawanya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengirimkan angin dari arah Yaman yang lebih lembut daripada sutera. Angin itu tidak meninggalkan seorangpun yang di hatinya terdapat (kata Abu Alqamah: seberat biji, sedangkan menurut Abdul Aziz: seberat dzarrah) iman, kecuali angin itu mengambilinya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa orang-orang beriman menikmati kehidupan yang baik tersebut selama tujuh tahun.”
Tilmidzi: “Apakah sunnah Rasulullah di atas itu berarti yang tinggal setelah tujuh tahun di bumi hanya orang-orang yang akan menjadi kafir karena tidak ada iman di hatinya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengetahui orang-orang yang beriman, yang mau bertaubat, orang-orang yang kafir dan orang-orang yang tidak mau bertaubat atau tetap menjadi kafir. Karena itu, setelah tujuh tahun, yang tinggal di bumi hanya orang-orang kafir atau yang akan menjadi kafir. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Siang dan malam aku terus ada sampai berhala Lata dan Uzza disembah lagi.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, waktu Allah menurunkan: “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (surat At Taubah ayat 33 atau surat Ash Shaff ayat 9), saya menyangka hal itu sudah sempurna.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya apa yang dikehendaki Allah dari hal itu akan terjadi, kemudian Allah mengirim angin yang harum lalu angin tersebut mematikan semua orang yang di hatinya ada iman seberat biji sawi, maka yang tertinggal adalah orang yang tidak ada kebaikannya sama sekali sehingga mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka.” (HR Muslim)
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Ketika mereka dalam keadaan demikian, Allah mengirim angin yang harum yang bertiup di bawah ketiak mereka lalu mencabut nyawa setiap orang mu’min dan muslim, dan yang tersisa adalah orang-orang jahat yang melakukan persetubuhan seperti keledai (bersetubuh di depan umum tanpa rasa malu), maka pada masa mereka itulah kiamat terjadi.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.