Apakah Nabi ‘Isa Turun Ke Bumi Untuk Bunuh Al Masih Dajjal?

Dialog Seri 10: 96

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa diturunkan oleh Allah SWT ke bumi?”

 

Mudariszi: “Ya! Setelah pasukan umat Islam mengalahkan pasukan Ahli Kitab dengan menaklukan Konstantinopel dan ketika mereka sedang membagikan ghanimah (harta rampasan perang), mereka dikejutkan dengan keluarnya Al Masih Dajjal. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ketika mereka sedang membagi barang jarahan, mendadak datang seseorang yang berteriak: “Sesungguhnya Dajjal telah keluar.” Maka mereka meninggalkan apa saja lalu kembali.” (HR Muslim)

 

Mereka lalu berhenti membagikan ghanimah dan Khalifah beserta pasukannya bersiap-siap untuk memerangi Al Masih Dajjal guna membantu saudara-saudara mereka. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Nabi ‘Isa turun kepada mereka karena diutus oleh Allah SWT. Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Ketika ia dalam keadaan demikian, mendadak Allah mengutus Al Masih putera Maryam. Beliau turun di menara putih, sebelah timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelup za’faran, dan meletakkan telapak tangannya pada sayapnya dua malaikat; apabila beliau menundukkan kepala airpun menetes, dan jika mengangkat kepala, berluncuranlah air tadi bagaikan mutiara; orang kafir yang mencium bau nafas beliau pasti mati, sedangkan nafas beliau itu dapat mencapai sejauh pandangan mata beliau.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian ketika mereka sedang membagi-bagi ghanimah sambil menggantungkan pedang pada pohon Zaitun, tiba-tiba setan berteriak di tengah-tengah mereka: “Sesungguhnya Al Masih telah menggantikan kalian dalam keluarga kalian.” Maka mereka keluar, padahal demikian itu tidak benar. Tatkala mereka mendatangi Syam, setan keluar. Kemudian pada waktu menyusun barisan dan bersiap-siap untuk berperang, mendadak shalat diiqamati lalu Nabi Isa bin Maryam turun dan mengimami mereka.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi ‘Isa dapat diutus oleh Allah SWT, bukankah beliau telah wafat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus (menurunkan) Nabi ‘Isa kepada pasukan umat Islam di bumi justru karena beliau ketika itu belum wafat. Di masa Nabi ‘Isa, yaitu ketika Bani Israil ingin membunuh beliau dengan disalib, beliau telah diselamatkan oleh Allah SWT dengan diangkat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan karena kekafiran mereka (terhadap ’Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. (An Nisaa’ 156-157)

 

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.” (Ali ‘Imran 54-55)

 

Di lain pihak, Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya bagi makhluk-makhluk-Nya yang berjiwa dan bernyawa, sebagai berikut:

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Al ‘Ankabuut 57)

 

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (Ali ‘Imran 145)

 

Karena itulah Allah SWT mengutus Nabi ‘Isa kepada pasukan umat Islam di Syam yang Dia lalu akan mewafatkan beliau pada waktunya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan tugas kepada Nabi ‘Isa dengan Dia mengutus beliau kepada pasukan umat Islam di Syam?”

 

Mudariszi: “Salah satu tugas Nabi ‘Isa yang diberikan oleh Allah SWT adalah membunuh Al Masih Dajjal. Karena tidak ada seorangpun kecuali Nabi yang dapat mengalahkan dan membunuh Al Masih Dajjal. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Salim bin Abdullah, ia diberitahu Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Khatthab pernah pergi bersama Rasulullah SAW dalam suatu rombongan menuju ke tempat Ibnu Shayyad dan beliau bersabda: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?” Ia memandang beliau lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa anda utusan orang-orang yang ummiy (tidak bisa membaca dan menulis).” Lalu ia balik bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah anda bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Beliau mendorongnya dan bersabda: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya.” Kemudian lanjutnya: “Apa yang kamu lihat?” Ia berkata: “Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Perkara ini telah menjadi kabur bagimu.” Lalu beliau melanjutkan: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Ia berkata: “Ad Dukh.” Beliau bersabda: “Cukup, kau tetap dalam tingkatanmu.” Umar bin Khatthab berkata: “Izinkan saya memancung lehernya ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalau dia Dajjal, kamu tidak akan mampu mengalahkannya; kalau bukan, maka tidak ada gunanya kamu membunuhnya.” (HR Muslim)

 

Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Ketakutan kepada selain Dajjal adalah yang paling aku khawatirkan atas dirimu. Kalau dia keluar dan aku masih berada di tengah kalian, akulah yang berdebat dengannya untuk melindungi kalian; tapi jika dia keluar dan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang berdebat untuk menolong dirinya sendiri, dan Allah adalah penggantiku untuk setiap orang muslim.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa membantu pasukan umat Islam membunuh Al Masih Dajjal dengan menggunakan syariat agama Islam?”

 

Mudariszi: “Nabi ‘Isa adalah Rasul Allah dari Bani Israil; beliau tidak berbeda dengan Nabi Musa dari Bani Israil yang Rasul Allah dan dengan Rasulullah SAW. Ketiga Rasul itu menyampaikan agama Allah dengan syariat agama-Nya yang dijelaskan dalam kitab-Nya yang berbeda, yaitu Injil, Taurat, Al Qur’an. Perbedaan tiga kitab Allah tersebut membuat syariat agama-Nya bagi umat Rasul menjadi berbeda. Allah SWT berfirman:

 

(Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. (An Nisaa’ 24)

 

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan. (Al Hajj 67)

 

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)

 

Dengan demikian, ketiga Rasul itu menyampaikan agama Allah yang sama kepada umatnya (umat Rasul), tetapi berbeda syariat agama-Nya. Sehingga ketika Nabi ‘Isa diutus oleh Allah SWT kepada pasukan umat Islam di Syam, beliau harus mengikuti syariat agama Islam ketika menjalankan tugasnya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah kalian, apabila putra Maryam turun padamu, sedang imammu (dalam shalat) dari kalangan kamu?” (HR Bukhari)

 

Jabir bin Abdullah berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak henti-hentinya sekelompok dari ummatku berkelahi berebut benar yang tampaknya sampai hari kiamat. Lalu Isa bin Maryam turun, maka berkatalah pemimpin mereka: “Marilah, do’akanlah kami.” Isa menjawab: “Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap ummat ini.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah kalian bila Ibnu Maryam turun pada kalian lalu menjadi imam kalian dari kalian?” Aku (Al Walid bin Muslim, perawi hadis) berkata kepada Ibnu Abu Dzi’bi (yang menceritakan): “Al Auza’iy menceritakan kepadaku melalui jalur Az Zuhri dari Nafi dari Abu Hurairah: “Dan imam kalian di antara kalian.” Ibnu Dzi’bi bertanya: “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan menjadi imam kalian dari kalian?” Aku berkata: “Beritahukanlah kepadaku.” Ibnu Abu Dzi’bi berkata: “Dia (Isa) menjadi imam kalian dengan menggunakan Kitab Tuhan kalian Tabaraka wa Ta’ala (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi kalian Muhammad SAW.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh Al Masih Dajjal sejak dia keluar?”

 

Mudariszi: “Nabi ‘Isa sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Al Masih Dajjal setelah dia keluar menjumpai manusia, karena hal itu telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abdullah ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW berdiri kepada orang-orang, maka beliau memuji kepada Allah dengan pujian yang merupakan hak Allah, kemudian beliau menutur Dajjal, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku memperingatkan kamu pada Dajjal, dan tidak ada seorang Nabipun kecuali dia sungguh memperingatkan kaumnya padanya (Dajjal), dan tetapi aku akan mengatakan kepadamu mengenai Dajjal dengan suatu perkataan yang belum dikatakan oleh seorang Nabipun kepada kaumnya: Sesungguhnya dia buta sebelah dan sesungguhnya Allah tidaklah buta sebelah.” (HR Bukhari)

 

Ketika Al Masih Dajjal keluar menemui manusia, manusia sedang dilanda kekurangan makanan. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Al Masih Dajjal untuk meyakinkan manusia bahwa dia adalah tuhan manusia. Adapun yang dilakukan oleh Al Masih Dajjal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Sesungguhnya ia (Dajjal) keluar dari jalan antara Syam dan Irak kemudian merusak kanan kirinya. Hai hamba-hamba Allah, tabahlah!” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, berapa lamanya ia berdiam di bumi?” Beliau bersabda: “Empat puluh hari; yang sehari seperti setahun, sehari lagi seperti sebulan, sehari lagi seperti seminggu, dan sisa-sisa harinya seperti hari-harimu.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, hari yang seperti setahun tadi, cukupkah bagi kami shalat satu hari saja pada hari itu?” Beliau menjawab: “Tidak. Jadi buatlah perkiraan untuk waktu shalat.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?” Beliau menjawab: “Seperti hujan yang ditiup angin. Maka ia mendatangi suatu kaum lalu mengajak mereka, maka mereka beriman kepadanya dan mau menjawab ajakannya. Setelah itu ia memerintahkan langit (agar menurunkan hujan), maka langitpun menurunkan hujan; memerintahkan bumi (agar menumbuhkan tumbuh-tumbuhan), maka bumipun menumbuhkan tumbuh-tumbuhan; pada waktu sore gembalaan mereka pulang dengan punuk yang panjang, kambing yang berisi dan lambung yang menggelayut. Kemudian Dajjal menolaknya, maka ia meninggalkan mereka. Pada keesokan harinya mereka mengalami paceklik, tiada suatu hartapun yang ada pada mereka. Kemudian Dajjal melewati suatu reruntuhan lalu berkata kepada reruntuhan tersebut: “Keluarkan harta simpananmu.” Maka simpanan tadi mengikutinya bagaikan gerombolan lebah. Setelah itu ia memanggil seorang pemuda lalu dipukulnya dengan pedang dan dipotong menjadi dua bagian yang jarak antara keduanya kira-kira satu lemparan, lantas dipanggilnya, maka pemuda itu menghadap sambil tertawa dan wajahnya bersinar.” (HR Muslim)

 

Perbuatan Al Masih Dajjal di atas jelas membuat kerusakan pada bumi dan keburukan bagi manusia, karena itu Al Masih Dajjal harus dibunuh.”

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa, Khalifah dan pasukan umat Islam kemudian memerangi Al Masih Dajjal?”

 

Mudariszi: “Nabi ‘Isa, Khalifah dan pasukan umat Islam lalu memerangi Al Masih Dajjal dengan pergi menuju ke Palestina. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Al Masih Dajjal menuju ke Syam Palestina setelah dari Madinah, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dajjal datang, jika dia sampai di belakang gunung Uhud, maka para malaikat memalingkan mukanya ke arah Syam.” (HR Tirmidzi)

 

Ketika memerangi pasukan Yahudi, pasukan umat Islam bukan tidak mungkin juga memerangi sekutu-sekutu pasukan Yahudi, yaitu orang-orang yang tunduk kepada Al Masih Dajjal yang terdiri dari orang-orang Nasrani, orang-orang Islam yang munafik dan orang-orang musyrik termasuk kaum Ya’juj dan Ma’juj. Jika demikian, maka perang antara pasukan umat Islam dengan pasukan Yahudi tidak berbeda dengan ketika berperang melawan pasukan Nasrani di Syam, yaitu perang besar dan sangat dahsyat. Tapi semua itu tidak dijelaskan oleh Rasulullah SAW termasuk tidak dijelaskan pula lamanya perang itu. Allah SWT hanya menjelaskan bahwa pasukan umat Islam pada akhirnya berhasil menghancurkan pasukan Yahudi, melalui firman-Nya ini:

 

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab (Taurat) itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Al Israa’ 4-7)

 

Kami datangkan orang-orang lain untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid dalam firman-Nya di atas itu adalah umat Islam atau pasukan umat Islam. Apa saja yang orang-orang Yahudi kuasai dibinasakan oleh pasukan umat Islam yang dibantu oleh batu atau pohon, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Diriwayatkan oleh Salim bin Abdullah, bahwa Abdullah bin Umar bercerita kepadanya, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang Yahudi akan memerangi kamu, namun kamu dapat mengalahkan mereka sampai ada batu yang berkata: “Hai muslim, ini ada orang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia!” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum kaum muslimin berperang dengan Yahudi, maka kaum muslimin dapat mengalahkan mereka sampai ada orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon lalu batu atau pohon tadi berkata: “Hai muslim, hai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad (sejenis pohon berduri), karena ia pohonnya orang Yahudi.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi ‘Isa, apakah beliau berhasil membunuh Al Masih Dajjal?”

 

Mudariszi: “Nabi ‘Isa adalah seorang Bani Israil yang lahir di Palestina dan beliau menjalani hidupnya di Palestina. Hal itu menjadikan beliau mengetahui tentang Palestina. Beliau mengetahui Al Masih Dajjal seorang Yahudi (keturunan Bani Israil) yang ketika itu berada di Palestina. Karena itu Nabi ‘Isa lalu mencari Al Masih Dajjal. Nabi ‘Isa akhirnya menemukan Al Masih Dajjal di kota Ludd dan lalu membunuhnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu ia berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Dajjal akan keluar kepada umatku dan berdiam selama empat puluh (aku tidak tahu, apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun), kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam seakan-akan ia Urwah bin Mas’ud. Maka ia mencari Dajjal lalu membinasakannya. (HR Muslim)

 

Dari Bani Amr bin Auf, dia berkata: “Aku mendengar pamanku yaitu Mujamma bin Jariyah Al-Anshari berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ibnu Maryam membunuh Dajjal di pintu Ludd.” (HR Tirmidzi)

 

Nabi ‘Isa kemudian memperlihatkan darah Al Masih Dajjal kepada pasukan umat Islam setelah dibunuhnya dengan tombaknya, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ketika musuh Allah melihatnya, ia mencair seperti garam mencair di dalam air sampai binasa, tetapi Allah membunuhnya dengan perantaraan tangan Nabi Isa, lalu kepada mereka Nabi Isa memperlihatkan darah musuh yang menempel pada tombaknya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa setelah berhasil membunuh Al Masih Dajjal?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Kemudian beliau (Isa) mencari Dajjal dan menemukannya di Babu Ludd (daerah dekat Baitul Muqqadas) lalu membunuhnya. Setelah itu beliau didatangi kaum yang telah dijaga Allah dari kejahatan Dajjal, beliau mengusap wajah mereka lalu menceritakan derajat mereka di surga. Ketika beliau dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah memberikan wahyu: “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku, tiada seorangpun yang mampu membunuhnya, maka jaga dan kumpulkanlah hamba-hamba-Ku di gunung Thur.” (HR Muslim)

 

Allah SWT perintahkan Nabi ‘Isa (dalam sunnah Rasulullah di atas) untuk membawa hamba-hamba-Nya yang selamat dari Al Masih Dajjal itu ke gunung Thur dan menjaganya.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply