Dialog Seri 10: 100
Tilmidzi: “Berapa lama orang-orang beriman menikmati kehidupan yang baik setelah orang-orang kafir dan Dajjal dimusnahkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Setelah Allah SWT memusnahkan orang-orang kafir yang terdiri dari Al Masih Dajjal, Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrik termasuk Ya’juj dan Ma’juj, melalui Nabi ‘Isa dan pasukan umat Islam, maka Dia lalu membersihkan bumi hingga manusia menjalani hidupnya dengan rezeki yang banyak dan dengan kebaikan tanpa ada permusuhan di antara mereka selama tujuh tahun, sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Setelah itu manusia tinggal di bumi selama tujuh tahun, tiada rasa permusuhan di antara dua orang. (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dan orang-orang muslim menyalakan api dengan anak panah, panah dan tempat panah mereka selama tujuh tahun.” (HR Tirmidzi)
Setelah tujuh tahun, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa semua orang-orang beriman dicabut nyawanya oleh Allah SWT, sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Kemudian Allah mengirim angin yang dingin dari arah Syam, maka tiada seorang pun yang di hatinya terdapat sebiji sawi kebaikan atau iman yang tinggal di bumi melainkan pasti mati, sehingga andai salah seorang di antara kamu masuk ke dalam perut gunung, angin tadi akan masuk pula dan mencabut nyawanya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah yang tinggal hidup di bumi ketika itu hanya orang-orang kafir saja?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Siang dan malam aku terus ada sampai berhala Lata dan Uzza disembah lagi.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, waktu Allah menurunkan: “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (surat At Taubah ayat 33), saya menyangka hal itu sudah sempurna.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya apa yang dikehendaki Allah dari hal itu akan terjadi, kemudian Allah mengirim angin yang harum lalu angin tersebut mematikan semua orang yang di hatinya ada iman seberat biji sawi, maka yang tertinggal adalah orang yang tidak ada kebaikannya sama sekali sehingga mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Berapa lama orang-orang kafir itu hidup di bumi?”
Mudariszi: “Orang-orang kafir itu hidup di bumi hingga terjadinya kiamat tanpa dijelaskan jangka waktunya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Pada saat mereka dalam keadaan demikian itu tiba-tiba Allah mengirimkan angin, lalu mencabut nyawa setiap mu’min dan tinggal manusia yang tidak beriman, dimana mereka bersetubuh dengan terang-terangan sebagaimana keledai bersetubuh dengan terang-terangan. Maka atas merekalah datang hari kiamat.” (HR Tirmidzi)
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri, dia berkata: “Suatu hari aku sedang bersama dengan Maslamah bin Mukhallad, sedang di sampingnya duduk Abdullah bin Amr bin Al Ash Abdullah. Ketika itulah tiba-tiba muncul Uqbah bin Amir. Maslamah langsung berkata kepada Uqbah: “Wahai Uqbah, dengarlah apa yang dikatakan oleh Abdullah.” Uqbah berkata: “Dia tentunya lebih tahu. Adapun aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang selalu siap berperang membela agama Allah. Mereka akan berlaku keras terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang yang menyalahi mereka. Dan sampai kiamat kelak sekalipun, mereka tetap bersikap begitu.” Kata Abdullah: “Memang benar. Kemudian Allah mengirimkan angin yang membawa bau seperti baunya minyak kasturi dan lembutnya selembut sutera. Seringan apapun iman yang ada dalam hati seseorang ia pasti menerimanya. Kemudian yang tinggal hanyalah orang-orang yang jahat, dan pada saat itulah terjadi kiamat.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang kafir tersebut yang menyaksikan terjadinya kiamat?”
Mudariszi: “Ya! Orang-orang kafir yang hidup di bumi itulah yang menyaksikan terjadinya kiamat. Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri, dia berkata: “Suatu hari aku sedang bersama dengan Maslamah bin Mukhallad, sedang di sampingnya duduk Abdullah bin Amr bin Al Ash Abdullah mengatakan: “Kiamat tidak akan tiba kecuali pada makhluk yang jahat-jahat. Mereka itu bahkan lebih jahat daripada orang-orang Jahiliyah dahulu. Setiap kali mereka berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, maka Allah pasti menampik do’a mereka tersebut.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang kiamat datang kepada mereka sedangkan mereka masih hidup.” (HR Bukhari)
Dari Amr Abi Amr dari Abdillah bin Abdur Rahman Al Anshari Al-Asyhali dari Hudzifah bin Al Yaman, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak datang sehingga orang yang paling bahagia di dunia orang jahat anak orang jahat.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu setelah semua orang-orang beriman diwafatkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Orang-orang kafir tersebut disesatkan oleh syaitan sehingga mereka lalu menyembah patung berhala, padahal kehidupan mereka pada waktu itu sangat baik dengan rezeki yang terjamin. Mereka bukan bersyukur kepada Allah SWT tapi justru mengikuti syaitan dengan menyembah patung berhala. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu berkata: “Hadits apa yang kamu ceritakan? Kamu katakan, hari kiamat itu terjadi demikian.” Abdullah berkata: “Aku mendengar pula dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Maka tinggallah manusia-manusia jahat (yang hidup) dalam kesigapan burung dan akal binatang buas, mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Maka setan menjelma (sebagai manusia) di hadapan mereka lalu bertanya: “Tidakkah kalian mau memerintahkan mereka agar menyembah berhala”, sedang pada waktu itu rezeki mereka berlimpah dan kehidupan mereka terjamin.” (HR Muslim)
Salah satu berhala yang disembah oleh orang-orang kafir tersebut adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai pinggung wanita-wanita suku Daus bergoyang di sekitar Dzul Khalashah.” Dzul Khalashah adalah berhala yang pada jaman Jahiliyah disembah suku Daus di Tabalah (suatu tempat di Yaman). (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan agama Islam pada waktu itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada waktu itu Ka’bah (Baitullah) dirubuhkan dan dihancurkan, yaitu sebagai berikut:
Dari Sa’id, ia mendengar Abu Hurairah berkata dari Rasulullah SAW: “Ka’bah akan dirubuhkan oleh orang-orang yang berbetis kecil dari Habasyah (Ethiopia).” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang berbetis kecil dari Habasyah akan menghancurkan Baitullah Azza wa Jalla.” (HR Muslim)
Pada waktu itu pula manusia tidak lagi bertasbih kepada Allah SWT. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak bakal terjadi sampai tidak dikatakan lagi di bumi: “Allah, Allah.” (HR Muslim)
Dari Humaid dari Anas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak datang sehingga tidak diucapkan Allah, Allah, di bumi.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah di antara orang-orang kafir tersebut tidak ada yang bertaubat pada waktu itu?”
Mudariszi: “Jika di antara orang-orang kafir itu ada yang bertaubat dan beriman tapi tidak mengamalkan imannya hingga dia melihat matahari terbit di Barat, maka imannya tidak diterima oleh Allah SWT. Demikian pula jika ada yang bertaubat dan beriman setelah melihat matahari terbit di Barat, maka imannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Dan sehingga matahari muncul dari Barat. Maka apabila matahari muncul (dari Barat) dan orang-orang melihatnya, maka mereka beriman semuanya, maka itulah masa tidaklah bermanfaat iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai matahari terbit dari arah Baratnya. Apabila matahari telah terbit dari Barat, maka manusia seluruhnya akan beriman. Tetapi, pada saat itu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelumnya, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa ketika angin dingin mewafatkan semua orang yang beriman (seperti dijelaskan di awal), maka orang-orang Islam yang tidak diwafatkan-Nya itu adalah orang-orang munafik. Orang-orang munafik itu tidak berbeda dengan orang-orang kafir. Allah SWT mengetahui orang-orang yang beriman, yang munafik dan yang kafir. Sunnah Rasulullah di atas itu berdasarkan firman-Nya ini:
Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebahagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya kamipun menunggu (pula).” (Al An’aam 158)
Tanda-tanda Tuhanmu dalam firman-Nya di atas yaitu tanda-tanda kiamat yang paling dekat dengan terjadinya kiamat. Tanda-tanda kiamat yang menjelaskan tidak diterimanya iman manusia setelah melihat matahari terbit di Barat itu adalah seperti manusia dalam sakratul maut yaitu ketika nyawanya sedang dicabut oleh malaikat maut (seperti dijelaskan dalam firman-Nya di atas).”
Tilmidzi: “Apakah ada tanda-tanda kiamat sebelum kiamat terjadi?”
Mudariszi: “Ya! Adapun tanda-tanda kiamat tersebut dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Aku menghafal satu hadis dari Rasulullah SAW yang belum pernah aku lupakan. Aku mendengar beliau bersabda: “Tanda-tanda kiamat yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari Barat dan keluarnya binatang darat kepada manusia pada waktu Dhuha. Mana saja yang muncul lebih dulu, maka yang lain akan menyusul dalam waktu dekat.” (HR Muslim)
Jika tanda kiamat terbitnya matahari di Barat dijelaskan firman-Nya di atas, tanda kiamat keluarnya binatang darat kepada manusia itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Dan apabila perkatan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (An Naml 82)
Tilmidzi: “Bagaimana matahari dapat terbit di Barat pada waktu itu?”
Mudariszi: “Tingkat kerusakan bumi yang tinggi karena perbuatan Ahli Kitab berakibat kepada pergerakan (perputaran) bumi yang beredar di orbitnya. Bumi yang dihuni oleh partikel-partikel dan makhluk-makhluk (yang mengandung partikel-partikel) yang hidup di tanah (daratan dan lautan), di dalam tanah dan di atas tanah, telah ditetapkan ukurannya, jumlahnya dan ketentuan dalam menjalani hidupnya oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)
Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Kerusakan bumi tersebut telah membuat berkurangnya partikel-partikel dan makhluk-makhluk di tanah, di dalam tanah dan di atas tanah, seperti logam-logam, pohon-pohon, gunung-gunung. Padahal semua itu dijadikan oleh Allah SWT juga untuk menguatkan bumi ketika berputar (bergerak) dan beredar di orbitnya, misalnya gunung-gunung seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml 61)
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. (Fushshilat 10)
Selain itu, partikel-partikel di udara (di atas tanah) yang berkurang jumlah dan ukurannya berakibat kepada perputaran bumi yang beredar di orbitnya. Matahari yang menyinari bumi dengan teratur setiap harinya tersebut berdampak kepada partikel-partikel di udara dan kepada perputaran bumi yang beredar di orbitnya. Sehingga matahari yang berputar dan beredar di orbitnya dengan menyinari bumi secara teratur dan terbit di Timur bumi, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Yaasiin 38)
Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat”, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Baqarah 258)
Pada suatu waktu akan membuat matahari menjadi terbit di Barat bumi, karena bumi berputar dan beredar di orbitnya dengan tidak teratur lagi. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Dzarr, bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari bersabda: “Tahukah kalian kemana matahari ini pergi?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda: “Matahari ini berjalan hingga berakhir sampai ke tempat menetapnya di bawah Arasy, lalu menjatuhkan diri bersujud. Dia (matahari) terus dalam keadaan begitu, sampai difirmankan kepadanya: “Naiklah! Kembalilah dari mana engkau datang.” Mataharipun kembali, sehingga di waktu pagi terbit lagi dari tempat terbitnya. Kemudian berjalan hingga berakhir pada tempat menetapnya di bawah Arasy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan begitu sampai difirmankan kepadanya: “Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang.” Matahari kembali, sehingga di waktu pagi muncul dari tempat terbitnya. Kemudian dia kembali berjalan tanpa sedikitpun manusia menyadarinya, hingga berakhir pada tempat menetapnya itu di bawah Arasy, lalu difirmankan kepadanya: “Naiklah, jadilah engkau terbit dari Barat!” Maka pagi berikutnya, matahari terbit dari sebelah Barat.” Rasulullah SAW melanjutkan: “Tahukah kalian kapan itu terjadi? Itu adalah ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelumnya, atau belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzarr, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah (surat Yaasiin ayat 38): “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” Rasulullah SAW bersabda: “Tempat peredarannya adalah di bawah Arasy.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kiamat itu terjadi karena bumi berputar dan beredar di orbitnya dengan tidak teratur lagi?”
Mudariszi: “Kerusakan bumi hingga menjadikan bumi berputar dan beredar di orbitnya dengan tidak teratur lagi itu dapat membuat bumi berputar dan beredar di luar orbitnya pada suatu waktu. Jika itu terjadi, bumi akan terbentur dengan benda-benda di angkasa (di luar bumi) yang beredar di orbitnya masing-masing. Allah SWT berfirman:
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Ibrahim 33)
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (Al Waaqi’ah 75)
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. (Al Ma’aarij 40)
Benturan bumi dengan benda-benda di angkasa itu menimbulkan suara yang sangat keras yang mematikan manusia. Allah SWT berfirman:
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka. (Yaasiin 49)
Benturan bumi itu menimbulkan pula pecahan batu-batu besar di angkasa yang berakibat kepada terjadinya benturan-benturan berikutnya antara sesama benda-benda di angkasa. Benturan-benturan itulah yang membuat terjadinya kiamat. Keadaan langit ketika kiamat terjadi dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang. (Ath Thuur 9)
Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (Al Haaqqah 16)
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. (Ar Rahmaan 37)
Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. (Al Ma’aarij 8)
Sedangkan keadaan bumi ketika kiamat terjadi dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. (Al Haaqqah 13-15)
Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al Waaqi’ah 4-6)
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al Qaari’ah 4-5)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan orang-orang kafir ketika kiamat terjadi?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki lalu berkata: “Hadits apa yang kamu ceritakan? Kamu katakan, hari kiamat itu terjadi demikian.” Abdullah berkata: “Aku mendengar pula dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tiada seorangpun yang mendengarnya melainkan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Orang yang pertama kali mendengarnya adalah lelaki yang sedang melepa kolam untanya lalu mati dan manusia pun mati semua.” (HR Muslim)
Dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: “Ini Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kiamat terjadi, sementara seseorang sedang memerah untanya, maka sebelum wadahnya sampai ke mulutnya, kiamat sudah tiba; dua orang sedang mengadakan jual beli pakaian, maka sebelum mereka sempat menyelesaikannya, kiamat sudah terjadi; seseorang akan melepah kolamnya, maka sebelum sempat mulai, kiamat sudah tiba.” (HR Muslim)
Sehingga, orang-orang kafir itu bukan saja menyaksikan terjadinya kiamat tapi juga merasakan azab karena mendengar suara keras. Allah SWT menjelaskan keadaan manusia ketika mendengar suara keras yang menjadikan kiamat sebagai berikut:
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. (Yaasiin 49-50)
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. (Al Hajj 2)
Wallahu a’lam.