Apakah Rasulullah SAW Pemberi Peringatan Bagi Umat Jin?

Dialog Seri 20: 60

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menciptakan jin dan manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Tilmidzi: “Jika demikian lalu bagaimana dengan Iblis yang bertujuan mau menyesatkan manusia dan jin sebagai pengikut-pengikutnya?”

 

Mudariszi: “Iblis telah mendurhakai Allah SWT (perintah-Nya) yaitu tidak mau bersujud kepada Nabi Adam (manusia). Sehingga jika ada jin dan manusia yang mengikuti Iblis, maka jin dan manusia itu menjadi termasuk mendurhakai Allah SWT, karena mereka tidak menyembah-Nya (atau tidak mengikuti agama-Nya) ketika menjalani hidupnya.  Untuk itu Allah SWT lalu memperingatkan jin dan manusia melalui firman-Nya ini:

 

Dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. (Al Kahfi 51)

 

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. (Ar Rahmaan 31)

 

Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 119)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjalankan perintah-Nya yaitu memberikan peringatan kepada umat jin dengan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Al­qamah, apakah Ibnu Masud bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Masud, demikian: “Apakah ada seseorang dari kamu yang bersama Rasulullah SAW pada malam jin itu? Ia (Ibnu Mas’ud) menjawab: Tidak ada. Tetapi pada suatu malam kami pernah bersama Rasulullah SAW, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan jalan-jalan setapak. Akhirnya kami berpendapat beliau telah dibawa terbang oleh jin atau telah dibunuh secara mendadak. Kami bermalam dengan seburuk­-buruknya malam yang pernah dialami oleh kaum. Ketika kami bangun pada keesokan harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira. Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami telah men­cari tetapi kami tidak menemukan anda, maka kami bermalam dengan seburuk-buruknya malam yang pernah dialami oleh kaum. Beliau bersabda: Aku didatangi jin yang mengajakku pergi, maka aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan Al Quran kepada me­reka. Lalu beliau berangkat bersama kami. Beliau memperlihatkan ke­pada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dapat mengetahui beliau didatangi oleh umat jin (dalam sunnah Rasulullah di atas) padahal beliau tidak dapat melihat jin?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Man, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku pernah bertanya kepada Masruq, siapakah yang mem­beritahu Rasulullah SAW tentang kedatangan jin pada malam mereka men­dengarkan Al Quran? Ia berkata: Ayahmu (yakni Ibnu Masud) bercerita kepadaku, bahwa yang memberitahu beliau adalah sebuah pohon.” (HR Muslim)

 

Pohon memberitahukan kedatangan jin yang ghaib kepada Rasulullah SAW dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan ketundukan pohon itu kepada beliau. Selain itu, Rasulullah SAW adalah Rasul yang diridhai-Nya, sehingga beliau diizinkan-Nya untuk dapat melihat jin yang ghaib. Allah SWT berfirman:

 

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)

 

Tilmidzi: “Apakah di antara jin itu ada umat jin yang beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW berangkat bersama sebagian sahabatnya dengan tujuan pasar Ukazh. Dan benar-benar antara syaitan dan khabar langit terhalang dan mereka (syaitan) karena dilempari oleh bintang-bintang meteor, sehingga syaitan-syaitan itu kembali pulang. Sebagian mereka bertanya: Mengapa kalian pulang? Mereka menjawab: Kami terhalang dari khabar langit dan kami dihantam oleh beberapa bintang meteor. Di antara mereka ada yang berkata: Tidaklah ada yang menghalangimu dari khabar langit kecuali ada sesuatu yang menghalangi. Oleh sebab itu pergilah ke bagian timur bumi dan bagian barat lalu lihatlah apa sesuatu yang telah terjadi ini. Maka mereka (syaitan dari golongan jin) pergi melanglang ke bumi bagian timur dan bumi bagian barat melihat apa sebenarnya perkara yang sedang terjadi ini yang menyebab­kan mereka terhalang untuk mengintip khabar dari langit. Berangkatlah mereka yang ditugaskan menjelajah ke arah Tihamah tepatnya di Nakhlah dimana beliau hendak menuju ke pasar Ukazh. Rasulullah SAW sedang melakukan shalat bersama sahabat-sahabatnya shalat Shubuh (Fajar). Ke­tika mereka mendengar Al Quran, maka mereka saling memperhatikan pendengarannya kepada Rasul. Mereka berkata: Ini rupanya perkara yang menghalangi kalian dari pendengaran langit. Maka dari sanalah me­reka kembali kepada kaumnya, lalu berkata: Wahai kaumku, sesungguh­nya kami telah mendengarkan Al Quran yang mengagumkan dimana ia menunjukkan kepada kebenaran, oleh sebab itu kami beriman kepadanya dan tidak bakal menyekutukan Tuhan kami dengan seorangpun.” Dan Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat-Nya kepada Rasulullah SAW: Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar Al Quran yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.” (surat Al Jin ayat 1-2). Sesungguhnya yang diwahyukan kepada beliau adalah ucapan jin.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin yang beriman itu shalat menyembah Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW ketika beliau mengerjakan shalat menyembah-Nya, melalui firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. (Al Jin 18-20)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah di antara jin itu ada yang beriman kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Dengan jin-jin itu beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka jin-jin itu berarti beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 2-3)

 

Jin-jin yang beriman itu takut kepada Allah SWT karena mereka mengetahui kekuasaan-Nya. Dan hal itu dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

 

Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari. (Al Jin 12)

 

Jin-jin yang beriman mengetahui bahwa mereka hanya diuji dengan kehidupan dunia. Mereka mengetahui bahwa Dia menghendaki jin-jin mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidup di dunia. Mereka mengetahui bahwa perbuatannya di dunia akan menentukan tempat mereka di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Al Jin 16)

 

Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al Jin 17)

 

Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Al Jin 15)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan jin-jin itu beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW. lalu mereka berarti memeluk agama Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Mas’ud tentang ayat: “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)” (surat Al Israa’ ayat 57), ia berkata: “Ada sekelompok jin yang masuk Islam, sedang sebelum itu mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, sementara mereka (jin) sendiri telah masuk Islam.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian, jin tidak berbeda dengan manusia, yaitu sama-sama menerima ayat-ayat-Nya dari Rasul-Nya yang menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya, dan mereka wajib mengikutinya ketika menjalani hidupnya di dunia. Sehingga, di antara jin itu terdapat jin-jin yang beriman dan jin-jin yang kafir kepada Allah SWT, dan itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (Al Jin 14)

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al Jin 11)

 

Tilmidzi: “Apakah jin-jin yang beriman itu juga menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada umat jin yang lain?”

 

Mudariszi: “Ya! Jin-jin yang beriman itu juga menyeru kepada umat jin yang lain agar beriman seperti mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahqaaf 29-32)

 

Tilmidzi: “Apakah kebanyakan umat jin itu kafir kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Bukan tidak mungkin kebanyakan umat jin kafir kepada Allah SWT. Kafirnya umat jin tersebut karena Iblis, yaitu karena Iblis ingin agar dibantu oleh mereka dalam menyesatkan manusia dan juga agar bersama-sama Iblis di neraka. Contoh umat jin yang kafir itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (Al Jin 4)

 

Umat jin yang kafir tidak berbeda dengan umat manusia yang kafir sekalipun keduanya telah diperingatkan oleh Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya). Itu dapat diketahui ketika keduanya di neraka karena kekafirannya melalui peringatan-Nya (firman-Nya) ini:

 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 179)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply