Apakah Penduduk Mekkah Terima Seruan Rasulullah SAW?

Dialog Seri 20: 61

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW dalam menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan (termasuk menjelaskan) Al Qur’an dan agama-Nya kepada kerabat-kerabat yang terdekat dulu, yaitu sebagai berikut:

 

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan. (Asy Syu’araa’ 214-216)

 

Setelah itu Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah, penduduk di sekitar Mekkah dan penduduk di luar lingkungan Mekkah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. (Asy Syuura 7)

 

Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan sebelumnya) dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang di luar lingkungannya. (Al An’aam 92)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjalankan perintah Allah tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika turun (ayat): Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang ter­dekat. (surat Asy Syuaraa’ ayat 214), maka  Rasulullah SAW beranjak berseru: Hai bani Fihir (bin Malik bin Nadhar), hai bani Adi (bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihir), dari ke­luarga-keluarga Quraisy.” Dalam riwayat lain: Maka Rasulullah SAW beranjak memanggil mereka, kabilah demi kabilah.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ke­tika turun ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (surat Asy Syu’araa’ ayat 214): Hai bani Abdi Manaf, tebuslah dirimu kepada Allah. Hai bani Abdul Muthalib, tebuslah dirimu kepada Allah. Hai Ibunda Zubair bin Awwam (Shafiyah binti Abdul Muthalib), bibi (dari ayah) Rasulullah; hai Fathimah putri Muhammad, tebuslah dirimu ke­pada Allah, aku tidak menguasai sesuatu untuk kamu di hadapan Allah. Mintalah harta kepadaku sekehendak kamu (maka aku memberi).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah mereka mengikuti seruan Rasulullah tersebut di atas?”

 

Mudariszi: “Penduduk Mekkah mempercayai Rasulullah SAW, mereka mengenal beliau sebagai orang yang jujur dan tidak pernah berbohong. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Tatkala turun ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy Syuaraa’ ayat 214), maka Rasulullah SAW keluar sehingga beliau naik ke bukit Shafa, lalu beliau berkata: Wahai waktu pagi.” Mereka menjawab: Siapa ini.” Lalu mereka berkumpul kepada Rasullah SAW. Lantas Rasulullah SAW bertanya: Apa pendapat kalian jika saya memberitahu ke­pada kalian bahwa seekor kuda keluar dari celah gunung ini, apakah kalian membenarkan aku? Mereka menjawab: Kami tidaklah pernah menda­patimu berdusta. (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Ketika turun ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (surat Asy Syu’araa’ ayat 214-215), maka Rasulullah SAW naik di atas gunung (bukit) Shafa, lalu mulailah beliau memanggil: Wahai keturunan Fihir, wahai keturunan ‘Ady, suku-suku Quraisy, sehingga berkumpullah mereka. Maka lelaki yang tidak mampu keluar, dia mengutus seorang utusan untuk melihat apa sebenarnya itu. Maka datanglah Abu Lahab dan suku Quraisy, lalu Rasulullah SAW bertanya: Apa pendapatmu jika saya memberi tahu bahwa ada seekor kuda berada di sebuah lembah ingin menyerang kalian, apakah kamu membenarkanku? Mereka menjawab: Ya, kami tidaklah mengujimu kecuali jujur.” (HR Bukhari)

 

Tapi mereka tidak mau mengikuti seruan Rasulullah. Pemuka-pemuka kaum di Mekkah termasuk paman Rasulullah, yaitu Abu Lahab, tidak mau mengikuti seruan Rasulullah SAW seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Maka sesungguhnya saya memper­ingatkan kepada kalian di depan siksaan yang pedih (hebat). Abu Lahab berkata: Persetan kamu, tidaklah kamu mengumpulkan kami kecuali hanya untuk ini. Kemudian ia (Abu Lahab) berdiri. (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah SAW: Sesungguhnya saya memperingatkanmu di depan siksa yang pedih.” Maka Abu Lahab berkata: Celaka engkau pada harihari berikutnya, apakah karena ini kau mengumpulkan kami?” (HR Bukhari)

 

Perbuatan Abu Lahab di atas menghendaki Allah SWT menetapkan dia dan isterinya di neraka, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya dan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Lalu turunlah surat Al Lahab ayat 1-5. (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Lantas turunlah ayat: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali sabut.” (surat Al Lahab ayat 1-5). (HR Bukhari)

 

Karena para pemuka kaum di Mekkah dan sekitarnya tidak mau mengikuti Rasulullah SAW, maka penduduk Mekkah dan sekitarnya menjadi ikut menolak mengikuti beliau. Penududuk Mekkah pada waktu itu beragama menyembah patung-patung berhala.”

 

Tilmidzi: “Apakah para pemuka kaum di Mekkah dan sekitarnya melarang Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW akan melaku­kan shalat, lalu Abu Jahal datang dan berkata: Bukankah aku mela­rangmu melakukan hal ini? Bukankah aku melarangmu melakukan hal ini? Bukankah aku melarangmu melakukan hal ini? Kemudian beliau pergi, lalu ia mencegah beliau dan Abu Jahal berkata: Sesungguhnya kamu mengerti tidak ada di Makkah kelompok yang lebih banyak dari pada kelompokku.” (HR Tirmidzi)

 

Rasulullah SAW menjelaskan akibat dari larangan Abu Jahal itu, sebagai berikut:

 

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Lalu Allah menurunkan ayat: Maka biarlah dia memanggil golongannya. Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniah.” (surat Al Alaq ayat 17-18). Ibnu Abbas berkata: Demi Allah, seandainya ia memanggil golongan­nya, tentu malaikat Zabaniyah menyiksanya.” (HR Tirmidzi)

 

Abu Jahal juga melarang Rasulullah SAW mengerjakan shalat di Ka’bah (Baitullah), seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ikrimah, katanya: Ibnu Abbas berkata: Abu Jahal berkata: Sungguh jika aku melihat Muhammad melakukan shalat di sisi Kabah tentulah benar-benar aku akan menginjak lehernya.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW mendengar ucapan Abu Jahal itu, lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ikrimah, katanya: Ibnu Abbas berkata: Lantas omongan itu sampai kepada Rasulullah SAW, maka beliau berkata: Andaikata Abu Jahal melakukan apa yang ia omongkan, sungguh malaikat akan mencabutnya (mencabut nyawanya).” (HR Bukhari)

 

Firman Allah Taala: Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. (surat Al Alaq ayat 15-16). (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah pemuka-pemuka kaum di Mekkah itu menyakiti Rasulullah SAW ketika beliau mengerjakan shalat di Ka’bah?”

 

Mudariszi: “Ya! Di antara penduduk Mekkah itu ada yang mengikuti (beriman) kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an, tapi sedikit sekali. Orang-orang beriman itu tidak berani dengan pemuka-pemuka kaum yang menentang Rasulullah SAW. Suatu ketika Abu Jahal melihat Rasulullah SAW shalat di Ka’bah, lalu dia bersama kawannya  melakukan perbuatan jahat terhadap beliau. Allah SWT lalu membantu Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah SAW tengah bersembahyang di dekat Ka’bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya sedang duduk di sekitar situ, dan sehari sebelumnya mereka ramai-ramai menyembelih seekor unta. Berkatalah Abu Jahal: Siapa di antara kamu yang berani ambil ari-ari unta si Bani Polan, lalu meletakkannya pada kedua pundak Muhammad sewaktu dia sedang bersujud? Seorang dari mereka tiba-tiba bangkit berdiri dan mengambil ari-ari tersebut. Ketika Rasulullah SAW tengah sujud, dia lalu meletakkan barang itu di antara kedua pundak beliau. Mereka semua ter­tawa sampai terpingkal-pingkal. Sementara saya hanya bisa tegak berdiri melihat pemandangan itu. Seandainya saya punya kekuatan, niscaya akan aku buang barang itu dari punggung Rasulullah SAW. Saat beliau tengah bersujud, lama sekali beliau tidak mengangkat kepalanya. Sese­orang lalu pergi melapor kepada Fatimah yang waktu itu sudah tumbuh rnenjadi seorang gadis. Tidak lama kemudian datanglah Fatimah. Ia lalu membuang ari-ari tersebut dari tubuh Rasulullah SAW. Kemudian Fati­mah memalingkan mukanya ke arah orang-orang kafir Quraisy itu sera­ya mencaci-maki mereka. Ketika Rasulullah SAW selesai dari sembahyang­nya, beliau mengangkat suaranya keras-keras sembari mendo’akan orang-orang kafir Quraisy tersebut sampai tiga kali: Ya Allah, aku serahkan kepada Engkau orang-orang kafir Quraisy itu seraya mencaci-maki mereka. Ketika mendengar suara Rasulullah SAW itulah, serta merta mereka menghentikan ter­tawanya. Mereka benar-benar takut akan do’a beliau itu. Ke­mudian Rasulullah SAW bersabda lagi: Ya Allah, aku serahkan kepada Engkau: Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu’aith (yang ketujuh aku tidak ingat namanya). Demi Dzat yang meng­utus Muhammad dengan membawa kebenaran, sungguh aku me­lihat orang-orang yang beliau sebut itu terbanting pada waktu perang Badar, kemudian mereka diseret ke dalam sumur Badar. (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply