Dialog Seri 10: 56
Tilmidzi: “Bagaimana sikap kaum kafir musyrik Mekkah terhadap orang-orang Madinah yang menerima dan melindungi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman?”
Mudariszi: “Kaum kafir musyrik Mekkah tidak menyukai hal tersebut, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Sa’ad bin Mu’adz berangkat untuk berumrah. Lalu (sesudah masuk Makah), dia singgah kepada Umayah bin Khalaf, yaitu Abu Sufyan. Dan adalah Umayah apabila pergi ke Syam (untuk berdagang), maka dia lewat Madinah (lalulintas ke Syam), dia singgah kepada Sa’ad. Lalu Umayah berkata kepada Sa’ad (sesudah Sa’ad minta waktu sepi untuk memungkinkan thawaf): “Tunggulah, hingga di tengah siang hari dan orang-orang telah lalai (sepi).” Aku (Sa’ad, bersama Umayah) berangkat dan thawaf (ketika keadaan telah lengang). Ketika Sa’ad thawaf ternyata Abu Jahal (hadir disana). Abu Jahal berkata: “Siapakah ini yang thawaf di Ka’bah?” Sa’ad berkata: “Aku, Sa’ad.” Abu Jahal berkata: “Kamu thawaf di Ka’bah dengan aman, sedangkan kalian melindungi Muhammad dan para sahabatnya. (Seandainya tidak bersama Abu Sufyan, niscaya kamu tidak kembali kepada keluargamu dengan selamat).” Sa’ad berkata: “Ya (kami melindungi mereka).” Maka terjadilah perdebatan antara keduanya. Lalu Umayah berkata kepada Sa’ad: “Janganlah kamu bersuara keras kepada Abul Hakam (Abu Jahal). Sesungguhnya dia pemimpin negeri lembah (Makah) ini.” Kemudian Sa’ad berkata (kepada Abu Jahal): “Demi Allah, jika kamu melarang aku thawaf di Bait(ullah) ini, sungguh aku putuskan lalu–lintasmu berdagang ke Syam.” Maka Umayah berusaha berkata kepada Sa’ad: “Janganlah kamu bersuara keras (kepada Abu Jahal)”, seraya mengendalikan Sa’ad, maka Sa’ad marah (kepada Umayah) dan berkata: “Biarkanlah kami dari (perlindungan)mu. Sesungguhnya aku mendengar Muhammad SAW menyatakan bahwa beliau adalah pembunuh kamu (Umayah).” Umayah berkata: “(Kepada) aku?” Sa’ad berkata: “Ya (kamu).” Berkata Umayah: “Demi Allah, tidaklah Muhammad berdusta dalam ucapannya.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa pemuka kaum kafir Mekkah tidak menyukai orang-orang Madinah yang menerima dan melindungi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Di lain pihak, sunnah Rasulullah di atas juga menunjukkan kecintaan orang-orang Madinah kepada Rasulullah SAW yang tanpa takut tetap membela beliau.”
Tilmidzi: “Apakah kaum kafir Mekkah membenci orang-orang beriman?”
Mudariszi: “Kaum kafir Mekkah yang menyembah tuhan (patung) berhala merupakan pengikut Iblis (syaitan). Iblis tidak ingin manusia menyembah Allah SWT dan mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, tujuannya agar manusia menjadi sesat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad 82-83)
Dalam menyesatkan manusia, syaitan menjadikan pengikutnya, yaitu orang-orang kafir (termasuk kaum kafir Mekkah) sebagai pembantunya yang saling melindungi di antara mereka. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. (Al Anfaal 73)
Syaitan lalu membuat pembantunya (orang-orang kafir) itu melalui bisikan jahatnya agar mereka tidak menyukai agama-Nya dan membenci (memusuhi) orang-orang beriman. Syaitan membisikkan kejahatannya ke dalam hati orang-orang kafir agar mereka menggunakan kekuasaannya, hartanya dan ucapannya untuk menyusahkan, menakut-nakuti, menzalimi orang-orang beriman. Tujuannya agar orang-orang beriman tertekan dan takut dan kemudian meninggalkan agama-Nya hingga tidak ada lagi manusia yang mengikuti agama-Nya dan agama-Nya itu akan menjadi lenyap. Allah SWT berfirman:
Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 2)
Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. (Asy Syuura 13)
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. (Ash Shaff 8)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 167)
Tilmidzi: “Apakah kebencian orang-orang kafir terhadap agama-Nya dan orang-orang beriman itu terjadi pula di masa Rasul-Rasul terdahulu?”
Mudariszi: “Ya! Karena itu kaum-kaum kafir terdahulu dimusnahkan oleh Allah SWT agar orang-orang yang lahir setelah mereka tidak menjadi kafir seperti mereka. Tapi sejak Allah SWT menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, Dia lalu menetapkan tidak lagi memusnahkan kaum-kaum kafir, sekalipun mereka menghancurkan rumah-rumah ibadah orang-orang beriman yang hanya karena kebenciannya terhadap agama-Nya dan orang-orang beriman. Sejak itu Allah SWT hanya membantu orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (Al Hajj 40)
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Al Buruuj 8)
Perbuatan (kejahatan) orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman itu bukan saja menimbulkan kekacauan dan kerusakan pada manusia umumnya dan orang-orang beriman khususnya, tapi juga pada makhluk-makhluk lain; dan itu menunjukkan orang-orang kafir juga membuat kerusakan pada bumi (penghuni bumi). Allah SWT tidak menghendaki bumi menjadi rusak seperti Dia tidak menghendaki agama-Nya lenyap dan orang-orang beriman dianiaya (dizalimi). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al Baqarah 251)\
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Huud 116)
Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang kafir tersebut sebagai berikut:
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? (Ash Shaff 7)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT membantu orang-orang beriman dari kejahatan orang-orang kafir itu?”
Mudariszi: “Karena orang-orang beriman itu telah dizalimi, disiksa, diusir, diperangi hanya karena mereka beriman kepada-Nya atau mengikuti agama-Nya, maka Allah SWT lalu perintahkan mereka sebagai berikut:
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” (Al Hajj 39-40)
Dan jika orang-orang beriman tidak melaksanakan perintah-Nya itu, maka Dia menjelaskan sebagai berikut:
Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal 73)
Dan Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang beriman itu dalam mengalahkan orang-orang kafir tersebut. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hajj 40)
Dengan orang-orang beriman memerangi orang-orang kafir, maka mereka berarti menolong agama-Nya tetap tegak dan menahan orang-orang kafir dari membuat kerusakan di bumi. Contoh orang-orang beriman yang menolong agama-Nya, yaitu para pengikut Nabi ‘Isa yang memerangi orang-orang kafir yang tidak menyukai agama-Nya (yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa dan Injil) hingga mereka ingin membunuh Nabi ‘Isa. Allah SWT lalu menolong para pengikut Nabi ‘Isa hingga meraih kemenangan dan agama-Nya tetap tegak. Karena itu Allah SWT menyeru orang-orang beriman sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff 14)
Tilmidzi: “Siapakah orang-orang beriman yang diseru oleh Allah SWT dalam firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Orang-orang beriman dalam firman-Nya di atas berlaku untuk semua orang beriman, tapi pada waktu firman-Nya tersebut diturunkan, orang-orang beriman yang diseru-Nya itu adalah orang-orang Muhajirin dan Anshar. Allah SWT menyeru mereka, karena Ahli Kitab yang mengikuti agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa pada waktu itu tinggal sedikit sehingga agama-Nya terancam lenyap. Allah SWT lalu menyelamatkan agama-Nya dengan mengutus Rasulullah SAW dan menurunkan Al Qur’an untuk manusia yang menjelaskan agama-Nya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba–Ku dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, kecuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: “Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)
Tapi setelah tiga belas tahun Rasulullah SAW menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya, sebagian besar mereka tidak mau beriman kepada Allah SWT atau mengikuti agama-Nya, bahkan mereka tidak menyukai (membenci) agama-Nya. Kebencian orang-orang kafir terhadap agama-Nya itu membuat Rasulullah SAW dan orang-orang beriman dimusuhi, diusir, dianiaya dan diperangi, hingga Allah SWT memberikan tempat bagi mereka di Madinah. Di samping itu, Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)
Tidak ada lagi Nabi setelah Rasulullah SAW (dalam firman-Nya di atas) itu menunjukkan bahwa agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah dan Al Qur’an menjadi agama-Nya yang terakhir bagi manusia hingga kiamat. Allah SWT menurunkan agama-Nya melalui Rasul-Rasul itu bertujuan untuk keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Karena itu, pengalaman orang-orang kafir terdahulu dan perbuatan orang-orang kafir Mekkah terhadap agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an, menghendaki Allah SWT menetapkan keputusan-Nya sebagai berikut:
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. (Ash Shaff 9)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menegakkan agama-Nya tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. (Al Anfaal 30)
Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Al Anfaal 26)
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak, yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (An Nisaa’ 75)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. (Al Anfaal 60)
Tujuan Allah SWT menghendaki Rasulullah SAW dan orang-orang beriman memerangi orang-orang kafir Mekkah, yaitu sebagai berikut:
Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (Al Anfaal 7-8)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang beriman akan memperoleh balasan dari Allah SWT dengan memerangi orang-orang kafir Mekkah?”
Mudariszi: “Dengan orang-orang beriman memerangi orang-orang kafir Mekkah, maka mereka menolong Rasulullah SAW dalam menegakkan agama-Nya. Itu berarti mereka menolong agama-Nya dan mereka menjadi seperti para pengikut Nabi ‘Isa yang menolong agama-Nya atau menolong Nabi ‘Isa dalam menegakkan agama-Nya. Untuk itu, Allah SWT akan menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Ash Shaff 10-12)
Selain itu, dengan orang-orang beriman menolong agama-Nya, mereka berarti membuat bumi terhindar dari kerusakan karena kejahatan orang-orang kafir, sehingga Allah SWT akan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat bagi mereka di dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Ash Shaff 13)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW dan orang-orang beriman menjalankan perintah Allah tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW dan orang-orang beriman yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar, menjalankan perintah Allah itu, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Saya pernah menyaksikan Miqdad bin Aswad. Sesungguhnya lebih saya sukai menjadi temannya daripada diperbandingkan dengan apa yang ada pada dia. Ia datang kepada Rasulullah SAW di kala beliau mendoakan (keburukan) terhadap orang–orang musyrik. Ia berkata: “Kami tidak berkata sebagaimana kaum Musa berkata: “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua.” (surat Al Maaidah ayat 24). Akan tetapi kami akan berperang di sebelah kanan, kiri, depan dan belakangmu.” Lalu saya melihat wajah Rasulullah SAW berseri-seri dan (ucapan) itu menggembirakan beliau.” (HR Bukhari)
Sahabat Rasulullah (dalam sunnah Rasulullah di atas) pada waktu itu telah mengetahui penjelasan Al Qur’an tentang Bani Israil yang tidak mau berperang dengan musuhnya ketika Allah SWT dan Nabi Musa perintahkan mereka untuk memasuki kota Palestina. Sahabat Rasulullah mengatakan demikian, karena ada sebagian orang-orang beriman yang mengkhawatirkan kekuatan mereka. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). (Al Anfaal 5-6)
Tilmidzi: “Apakah yang ikut berperang atau menjalankan perintah Allah itu hanya orang-orang beriman saja?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Aisyah istri Rasulullah SAW, ia berkata: “Saat menjelang pertempuran Badar, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Tiba di daerah Harrah Al Wabarah beliau bertemu dengan seorang lelaki yang disebut-sebut sangat pemberani dan kuat. Para sahabat Rasulullah SAW merasa sangat gembira sekali ketika mereka melihat lelaki itu, apalagi kemudian dia menyatakan kepada Rasulullah SAW: “Aku datang untuk mengikuti Anda. Aku ingin menderita bersama dengan Anda.” Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Kamu sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Lelaki tersebut menjawab: “Belum.” Rasulullah SAW menjawab: “Kalau begitu pulanglah. Aku tidak akan meminta bantuan kepada seorang musyrik.” Kata Aisyah: “Kemudian lelaki itupun berlalu. Ketika kami sampai di dekat sebuah pohon, Rasulullah SAW bertemu dengan lelaki itu lagi. Dia ingin sekali membantu pasukan Islam, akan tetapi Rasulullah SAW masih menolaknya lantaran dia belum beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lelaki itupun kembali berlalu. Namun ketika kami sampai di daerah Baida, lagi-lagi kami ketemu dia. Dan dia masih tetap ngotot ingin bersama pasukan Islam. Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Kamu sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Dia menjawab: “Sudah.” Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Kalau begitu bergabunglah dengan mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana kekuatan orang-orang beriman pada waktu itu?”
Mudariszi: “Adapun jumlah pasukan orang-orang beriman pada waktu itu adalah sebagai berikut:
Dari Barra, ia berkata: “Saya dan Ibnu Umar tergolong masih kecil pada hari perang Badar. (Jumlah) orang-orang Muhajir pada hari perang Badar adalah enam puluh lebih. Dan orang-orang Anshar adalah dua ratus empat puluh lebih.” (HR Bukhari)
Dari Barra, ia berkata: “Sahabat-sahabat Muhammad SAW yang pernah ikut dalam perang Badar berceritera kepadaku, bahwasanya jumlah mereka adalah sama dengan jumlah sahabat-sahabat Raja Thalut yang menyeberangi sungai bersamanya, yaitu tiga ratus sepuluh lebih.” Barra berkata: “Tidak, Demi Allah, tidak ada yang dapat menyeberangi sungai bersama Thalut melainkan orang yang beriman.” (HR Bukhari)
Sahabat Rasulullah (dalam sunnah Rasulullah di atas) pada waktu itu telah mengetahui penjelasan Al Qur’an tentang tentara Thalut termasuk Nabi Daud yang memerangi Jalut yang kafir hingga mereka memenanginya dengan Nabi Daud membunuh Jalut. Sedangkan jumlah pasukan orang-orang kafir musyrik sebagai berikut:
Dari Umar bin Al Khaththab, dia berkata: “Pada hari peristiwa pertempuran Badar, Rasulullah SAW memandangi kepada pasukan musyrik yang berjumlah seribu personil. Sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang. (HR Muslim)
Jumlah kekuatan kedua pasukan itu diketahui orang-orang beriman setelah perang; sebelumnya mereka hanya mengira-ngira saja jumlah pasukan musuh yang jauh lebih besar daripada pasukan mereka. Perkiraan mereka itu yang membuat sebagian orang-orang beriman meragukan kemenangan dalam perang tersebut.”
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan orang-orang beriman ketika mereka sampai di Badar tempat pertempuran?”
Mudariszi: “Pasukan Rasulullah berangkat ke tempat pertempuran setelah diperintahkan oleh Rasulullah SAW dan tiba di Badar (tempat pertempuran), sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW mengutus Busaisah sebagai mata-mata untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh kafilah Abu Sufyan yang membawa makanan dan sebagainya. Ketika Busaisah datang, di rumah hanya ada aku dan Rasulullah SAW. Setelah melaporkan hasilnya, Rasulullah SAW lalu keluar dan bersabda kepada para sahabatnya: “Sesungguhnya ada sesuatu yang akan aku cari. Barangsiapa yang hewan kendaraannya telah siap, marilah segera berangkat bersamaku.” Beberapa orang sahabat meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk mengambil hewan kendaraannya di ketinggian Madinah. Namun Rasulullah SAW bersabda: “Tidak usah, kecuali bagi orang yang hewan kendaraannya memang telah siap.” Maka berangkatlah Rasulullah SAW dan beberapa orang sahabatnya menuju ke Badar mendahului orang-orang musyrik.” (HR Muslim)
Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah SAW meminta pertimbangan kepada para sahabatnya saat beliau menerima berita tentang telah tibanya rombongan kafilah Abu Sufyan. Pertama-tama Abu Bakar yang berbicara mengajukan usulan, namun Rasulullah SAW tidak mau menerimanya. Lalu Umar menyusul berbicara mengajukan usul, namun Rasulullah SAW juga enggan menerimanya. Lantas Sa’ad bin Ubadah berdiri dan berkata: “Anda inginkan aku, wahai Rasulullah? Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan–Nya. Sekalipun Anda suruh aku memacu kuda di dalam lautan tentu akan aku lakukan. Dan sekalipun Anda suruh aku menepuk hatinya ke pantai Barki Al Ghimad tentu akan aku laksanakan.” Rasulullah SAW kemudian menyeru untuk segera bergerak. Dan mereka pun berangkat sampai akhirnya mereka beristirahat di telaga Badar. Mereka mengambil air untuk perbekalan. Di antara mereka ada budaknya Bani Al Hajjaj yang berkulit hitam. Mereka lalu menanyakan kepada Rasulullah SAW mengenai Abu Sufyan dan kawan-kawannya. Rasulullah SAW menjawab: “Aku tidak tahu mengenai Abu Sufyan. Tetapi ini ada Abu Jahal, Utbah, Syaibah dan Umayyah bin Khalaf.” Saat Rasulullah SAW bersabda demikian itulah para sahabat sama memukuli Abu Sufyan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Baiklah, aku beritahukan kepada kalian, ini adalah Abu Sufyan.” Mereka lalu ramai-ramai sama memukuli orang yang jadi anteknya Abu Jahal, Utbah, Syaibah dan Umayyah bin Khalaf tersebut.” Rasulullah SAW lalu meninggalkan mereka untuk melakukan sembahyang. Di tengah-tengah sembahyang itulah beliau tahu para sahabatnya masih belum puas untuk menghajar Abu Sufyan. Melihat hal itu buru-buru beliau salam, lalu bersabda: “Sesungguhnya demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tangan–Nya, kamu hajar kalau dia jujur kepadamu dan sebaliknya kamu biarkan saja kalau dia berdusta kepadamu.” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda: “Disinilah tempat pergumulannya si polan” sambil meletakkan tangannya pada tanah di depannya: “Disini, ya disini.” Dan ada salah seorang sahabat yang tidak mau menjauh dari tempat dimana tadi tangan Rasulullah SAW diletakkan.” (HR Muslim)
Orang-orang beriman memerangi kafilah pemuka kaum kafir Mekkah dengan memukulinya (dalam sunnah Rasululah di atas), karena mereka memang ingin berperang dengan kaum kafir yang lemah.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah ketika itu sebagian orang beriman masih mengkhawatirkan kekuatan mereka?”
Mudariszi: “Ya! Dan itu diketahui oleh Allah SWT, sehingga Dia menegur orang-orang beriman sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu. (Al Anfaal 7)
Dan Allah SWT tetap mempertemukan kedua pasukan (orang-orang beriman dan orang-orang kafir) itu, karena Dia hendak melaksanakan urusan (keputusan) yang Dia telah tetapkan. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Anfaal 42)
Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar seraya menghendaki kafilah orang–orang Quraisy, sehingga Allah mempertemukan antara mereka (orang–orang mukmin) dengan musuh mereka tanpa perjanjian.” (HR Bukhari)
Dan agar tidak ada lagi orang-orang beriman yang khawatir dalam memerangi pasukan musuh, Allah SWT lalu menjelaskan kepada Rasulullah SAW dan orang-orang beriman melalui firman-Nya ini:
Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran 146)
Wallahu a’lam.