Apakah Kaum Kafir Mekkah Memenangi Perang Uhud?

Dialog Seri 10: 58

 

Tilmidzi: “Apakah kaum kafir musyrik Mekkah ingin membalas kekalahannya di perang Badar?”

 

Mudariszi: “Ya! Kaum kafir musyrik Mekkah ingin membalas kekalahan mereka di perang Badar. Mereka lalu bersatu dengan kaum-kaum kafir musyrik lain untuk memerangi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman. Setelah sepakat waktunya, mereka membawa ribuan tentaranya ke Madinah untuk menyerang orang-orang beriman. Rasulullah SAW tidak ingin terjadi perang di kota Madinah, karena itu beliau berusaha menahan pasukan kaum kafir itu di bukit Uhud. Rasulullah SAW menyeru penduduk Madinah untuk ikut berperang melawan pasukan kaum kafir. Mereka lalu keluar menuju ke bukit Uhud sebagai tempat peperangan. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Zaid bin Tsabit, ia bekata: Ketika Rasulullah SAW keluar menuju peperangan Uhud, maka kembalilah sebagian dari orang-orang (munafik) yang keluar bersama beliau.” (HR Bukhari)

 

Tapi di antara penduduk Madinah yang telah keluar itu, ada orang-orang yang beriman tipis atau orang-orang munafik. Mereka takut berperang karena takut mati, sehingga mereka lalu kembali ke Madinah setelah sampai di bukit Uhud dan mengetahui akan berperang. Mereka tidak mengerti jika Allah SWT akan membantu pasukan Rasulullah dan itu termasuk membantu mereka. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mu’min pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. (Ali ’Imran 121-122)

 

Kembalinya orang-orang munafik ke Madinah itu membuat orang-orang beriman marah, sehingga sebagian dari mereka ingin memerangi orang-orang munafik tersebut. Tapi Allah SWT melarang mereka dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Zaid bin Tsabit, ia bekata: Ketika Rasulullah SAW keluar menuju peperangan Uhud, maka kembalilah sebagian dari orang-orang (munafik) yang keluar bersama beliau. Dan sahabat-sahabat beliau ter­pecah menjadi dua kelompok. Yang satu kelompok berpendapat: Kami harus memerangi mereka (orang-orang munafik).” Dan yang satu kelom­pok lagi berpendapat: Kami tidak boleh memerangi mereka.” Maka turunlah ayat: Maka mengapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran disebabkan usaha mereka sendiri. (surat An Nisaa’ ayat 88). Zaid bin Tsabit berkata: Sesung­guhnya (kampung) itu adalah Thaibah (kota Madinah) yang dapat meng­hilangkan perbuatan keji sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran pada perak.” (HR Bukhari)

 

Dan Allah SWT lalu memperingatkan orang-orang beriman sebagai berikut:

 

Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. Sungguh Allah telah menolong kamu dari peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ali ’Imran 122-123)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT meridhai orang-orang beriman untuk berperang melawan kaum kafir yang menuntut balas atas kekalahannya di perang Badar dan Dia meridhai mereka memerangi orang-orang kafir yang tidak menyukai agama-Nya dan ingin melenyapkan agama-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW lakukan terhadap pasukannya ketika telah berada di bukit Uhud?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Barra, ia berkata: Kami bertemu dengan orangorang musyrik pada hari (perang Uhud) itu. Rasulullah SAW menempatkan pasukan pemanah dan beliau mengangkat Abdullah (bin Jubair) sebagai pemimpinnya. Beliau bersabda: Senantiasalah kamu (di tempatmu). Jika kamu melihat kami telah mengalahkan mereka, maka senantiasalah kamu (di tempatmu). Dan apabila kamu melihat mereka mengalahkan kami, maka janganlah kamu membantu kami.” (HR Bukhari)

 

Pasukan Rasulullah di perang Uhud juga dibantu oleh para malaikat dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Pada hari perang Uhud, Rasulullah SAW bersabda: Ini adalah Jibril memegang kepala kudanya dengan membawa peralatan perang.” (HR Bukhari)

 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: Saya pernah me­lihat Rasulullah SAW pada hari perang Uhud bersama dua orang lelaki (Jibril dan Mikail) yang berperang. Kedua orang itu berpakaian putih se­perti orang yang gemar berperang. Saya tidak pernah melihat dua orang itu sebelum dan sesudahnya (perang).” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah pasukan Rasulullah dapat mengalahkan pasukan musuh?”

 

Mudariszi: “Di awal perang, pasukan Rasulullah berhasil mengalahkan pasukan musuh hingga orang-orang kafir lari meninggalkan peralatan perang mereka. Keadaan itu membuat sebagian orang-orang beriman, yaitu para pemanah, tergoda terhadap harta rampasan tersebut. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Barra, ia berkata: Setelah kami bertemu, maka me­reka (orang-orang musyrik) lari sehingga saya melihat para wanita sedang mempercepat jalannya. Mereka menyingsingkan (pakaian) dari betisnya hingga tampak gelang kakinya. Mulailah mereka (orang-orang mumin) berkata: Rampasan, rampasan.” (HR Bukhari)

 

Para pemanah itu lalu meninggalkan tempatnya untuk mengambil harta rampasan. Ketika mereka sedang mengambil harta rampasan, Iblis (syaitan) yang membantu pasukan kaum kafir, membisikkan kaum kafir untuk kembali menyerang dari sebelah belakang. Mereka lalu menyerang dengan tiba-tiba, sehingga pasukan Rasulullah kesulitan menahan serangan mereka karena para pemanah telah meninggalkan tempatnya. Akibatnya tujuh puluh orang-orang beriman gugur. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Pada hari perang Uhud, orangorang musyrik terusir. Lalu Iblis berteriak, semoga ia mendapat laknat Allah: Wahai hamba-hamba Allah, (bantulah) barisan belakangmu.” Maka barisan depan mereka kembali (kepada barisan belakang), lalu me­reka menyerang bersama barisan belakang. Kemudian Hudzaifah melihat, tiba-tiba ia bertemu ayahnya yaitu Al Yaman. Lalu ia memanggil: Wa­hai hamba-hamba Allah: ayahku, ayahku.” Aisyah berkata: Demi Allah, mereka tidak akan terlepas (dari peperangan) sampai mereka mem­bunuhnya.” Lalu Hudzaifah berkata: Semoga Allah memberi ampunan kepada kalian.” Urwah berkata: Demi Allah, selalu tersisa kebaikan pada Hudzaifah hingga ia bertemu di sisi Allah.” (HR Bukhari)

 

Dari Barra, ia berkata: Abdullah berkata: “Rasulullah SAW telah berjanji kepadaku agar senantiasa di tempat, namun mereka enggan.” Pada saat mereka enggan, wajah mereka dipalingkan, maka gugurlah tujuh puluh orang.” (HR Bukhari)

 

Ketika itu Jibril dan para malaikat tidak membantu pasukan Rasulullah karena tidak ada perintah dari Allah SWT seperti perintah-Nya kepada malaikat ketika di perang Badar.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang beriman tetap berperang melawan pasukan kaum kafir sekalipun sebagian dari mereka telah terbunuh?”

 

Mudariszi: “Ya! Orang-orang beriman tetap berperang melawan pasukan kaum kafir itu hingga sebagian dari mereka wafat menjadi syuhada. Contoh sebagian syuhada tersebut dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Pada hari perang Uhud seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: Apakah engkau tahu jika aku gugur, maka dimanakah aku? Beliau menjawab: Di surga.” Maka laki-laki itu melemparkan sejumlah kurma yang ada di tangannya, lalu ia berperang hingga ia terbunuh.” (HR Bukhari)

 

Dari Khabbab bin Arat, ia berkata: Kami pernah berhijrah bersama Rasulullah SAW demi mengharapkan ridha Allah dan menyerahkan pahala kami kepada Allah. Di antara kami ada orang yang telah me­ninggal, ia tidak pernah mendapatkan sedikitpun dari pahalanya. Ter­masuk mereka adalah Mushab bin Umair, ia terbunuh pada hari perang Uhud. Ia tidak meninggalkan apapun selain kain bergaris-garis, jika kami menutupkannya pada kepalanya, maka keluarlah kedua kakinya. Dan ke­tika ditutupkan pada kedua kakinya, maka keluarlah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada kami: Tutupkanlah pada kepalanya dan letakkanlah rumput pada kakinya.” Atau beliau bersabda: Taruhlah sedikit rumput di atas kakinya.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas, ia berkata: Sesungguhnya pamannya tidak hadir pada perang Badar, lalu ia berkata: Saya tidak hadir pada awal peperangan Rasulullah SAW, sungguh seandainya Allah mengikut sertakan diriku bersama Rasulullah SAW, tentu Allah melihat apa yang aku lakukan dengan bersungguh-sungguh.” Lalu ia bertemu pada hari perang Uhud, maka orang-orang lari kacau balau. Ia berkata: Wahai Allah, sesungguhnya aku berdalih ke­pada-Mu dari apa yang mereka (yakni orang-orang Islam) lakukan, dan aku memohon kepada-Mu agar terlepas dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.” Maka ia maju ke depan dengan membawa pedang, ia bertemu Sa’ad bin Muadz, lalu ia bertanya: Dimanakah, wahai Sa’ad, sesungguhnya aku mencium aroma surga di bawah gunung Uhud.” Kemudian ia berlalu, lalu ia terbunuh. Ia (mayatnya) tidak dapat dikenali lagi hingga saudara perempuannya mengenalinya dengan tahi lalat atau dengan jari-jarinya. Pada tubuhnya ada lebih delapan puluh tusukan, pu­kulan pedang dan hantaman anak panah.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Sesungguhnya Rasu­lullah SAW mengumpulkan dua orang laki-laki yang gugur pada pepe­rangan Uhud di dalam satu pakaian.” Kemudian beliau bersabda: Siapa­kah di antara mereka yang lebih banyak menghimpun (menghafal) Al Quran? Ketika beliau ditunjukkan kepada salah seorang (dari keduanya), maka beliau mendahulukannya masuk di liang lahat. Dan beliau bersabda: Saya adalah saksi bagi mereka pada hari kiamat.” Beliau me­nyuruh agar mereka dikuburkan dengan lumuran darah mereka. Mereka tidak di shalati dan tidak dimandikan.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Rasulullah SAW ketika pasukan musuh menyerang kembali?”

 

Mudariszi: “Para pemanah yang meninggalkan tempatnya karena harta rampasan telah melanggar perintah Rasulullah, bahkan Rasulullah SAW ketika itu telah memanggil mereka untuk kembali ke tempatnya. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Barra bin Azib, ia berkata: Pada hari perang Uhud Rasulullah SAW menjadikan Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin atas pasukan infanteri. Mereka datang karena terusir, yaitu di saat Rasul yang berada di antara kawan-kawan yang lain memanggil mereka.” (HR Bukhari)

 

Ketika pasukan kaum kafir kembali menyerang dari sebelah belakang, para pemanah yang meninggalkan tempatnya tidak dapat melawan, sehingga mereka melarikan diri. Mereka lari meninggalkan peperangan sekalipun dipanggil berkali-kali oleh Rasulullah SAW. Keadaan itu membuat Rasulullah SAW menjadi diserang oleh pasukan musuh. Rasulullah SAW terkena serangan musuh sekalipun dilindungi oleh orang-orang beriman. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW pada saat-saat kritis dalam perang Uhud, beliau dilindungi oleh tujuh orang sahabat Anshar dan dua orang Quraisy. Saat musuh kian mendekat, Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang bisa meng­halau mereka dariku, maka dia akan mendapatkan surga atau setidaknya dia akan menjadi kawanku di surga nanti. Maka majulah seorang dari kaum Anshar. Dia dengan berani melawan musuh sampai akhirnya dia terbunuh sendiri. Musuh semakin maju dan mendekat. Rasulullah SAW lalu bersabda: Barangsiapa yang bisa menghalau mereka dariku, maka dia akan mendapatkan surga atau paling tidak dia akan menjadi kawanku di surga nanti.” Maka majulah lagi seorang dari kaum Anshar. Dia lawan musuh dengan penuh semangat, namun akhirnya dia juga ter­bunuh. Begitulah seterusnya sampai ketujuh orang Anshar tersebut meninggal semuanya. Kepada kedua orang sahabatnya yang masih hidup tersebut Rasulullah SAW bersabda: Aku tidak lagi mau memaksa sa­habat-sahabatku. (HR Muslim)

 

Dari Qais, ia berkata: Saya melihat tangan Thalhah lumpuh, Rasulullah SAW menjaganya pada hari perang Uhud.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas, ia berkata: Pada perang Uhud, orang-orang terusir dari Rasulullah SAW, sedangkan Abu Thalhah adalah di hadapan Rasulullah SAW berperisai dengan perisainya. Abu Thalhah seorang pemanah yang sangat kuat hantaman panahnya. Pada hari itu ia mematahkan dua atau tiga busur. Ada seorang laki-laki lewat dengan membawa tempat anak panah. Lalu beliau bersabda: Hamburkanlah tempat anak panah itu kepada Abu Thalhah.” Anas berkata: “Rasulullah SAW berdiri tegak melihat ke­pada kaum, lalu Abu Thalhah berkata: Demi Ayah, engkau dan Ibuku, janganlah engkau melihat dari atas, niscaya terkena salah satu anak panah kaum itu. Bagian atas dadaku, bukan bagian atas dadamu.” Sungguh aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim menyingsingkan kain. Aku melihat gelang betis keduanya, (ketika) mereka berdua memin­dahkan geribah di atas punggung keduanya sambil menuangkannya pada mulut-mulut kaum itu. Kemudian mereka berdua kembali, lalu mengisi­nya. Kemudian keduanya datang, lalu menuangkannya pada mulut-mulut kaum itu. Dan sungguh pedang itu jatuh dari tangan Abu Thalhah, dua atau tiga kali.” (HR Bukhari)

 

Serangan pasukan kaum kafir itu membuat gigi Rasulullah SAW pecah dan kepalanya memar, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdullah, dia berkata: Sesungguhnya aku se­akan-akan melihat Rasulullah SAW tengah mengisahkan sebuah hi­kayat salah seorang Nabi yang dihajar oleh kaumnya sendiri, dan sambil mengusap darah dari wajahnya beliau berdo’a: Ya Tuhanku, berilah ampun pada kaumku karena sesungguhnya mereka memang tidak me­ngetahui.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah sangat murka terhadap kaum yang berlaku kejam kepada Nabi­Nya.” Beliau sambil menunjuk pada rahangnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Sahl bin Sa’ad, ia ditanya tentang luka-luka Rasulullah SAW, lalu ia menjawab: Ketahuilah, Demi Allah, sesungguhnya saya adalah yang lebih mengerti di antara orang-orang yang membasuh, yang mencurahkan air pada luka-luka Rasulullah SAW dan sesuatu yang di­jadikan obat.” Ia berkata: Fathimah binti Rasulullah SAW membasuh (luka) beliau, sedang Ali mencurahkan air dengan perisai. Setelah Fathimah yakin bahwa air hanya akan menambah (keluarnya) darah semakin banyak, maka ia mengambil potongan tikar. Lalu ia membakarnya dan menempelkannya (pada luka), maka berhentilah darahnya. Pada hari (pe­rang Uhud) itu gigi rahang beliau pecah, wajah beliau terluka dan topi baja yang ada di kepalanya pecah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan demikian pasukan kaum kafir musyrik telah mengalahkan pasukan Rasulullah?”

 

Mudariszi: “Banyaknya tentara Rasulullah yang gugur menunjukkan pasukan beliau telah dikalahkan oleh pasukan kaum kafir musyrik, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Barra, ia berkata: Abu Sufyan melihat dari atas, lalu bertanya: Apakah Muhammad berada di antara kaum? Beliau bersabda: Jangan­lah kalian menjawabnya.” Ia bertanya: Apakah Ibnu Abi Quhafah berada di antara kaum? Beliau bersabda: Janganlah kalian menjawabnya.” Ia bertanya: Apakah Ibnul Khaththab berada di antara kaum? Lalu Abu Sufyan berkata: Sesungguhnya mereka telah terbunuh, seandainya me­reka masih hidup, tentu mereka menjawab.” Maka Umar tidak mampu menahan diri, ia berkata: Kamu berdusta wahai musuh Allah, semoga Allah menetapkan apa yang mengecewakanmu.” Abu Sufyan berkata: Berjayalah Hubal.” Rasulullah SAW bersabda: Jawablah dia.” Mereka ber­tanya: Apakah yang akan kami katakan? Beliau bersabda: Katakan­lah, Allah Maha Tinggi dan Maha Agung.” Abu Sufyan berkata: Kami memiliki Tuhan Uzza, sedangkan kamu tidak memilikinya.” Rasulullah SAW ber­sabda: Jawablah dia.” Mereka bertanya: Apakah yang akan kami kata­kan? Beliau bersabda: Allah adalah Tuhan kami, sedangkan kamu tidak memilikinya.” Abu Sufyan berkata: Hari (kekalahan di Uhud) dibalas dengan hari (kemenangan) di Badar. Peperangan adalah bergilir dalam kekalahan dan kemenangan. Kamu sekalian akan menjumpai pembalasan hukuman cincang yang tidak aku perintahkan dan tidak menyusahkanku.” (HR Bukhari)

 

Dari Barra bin Azib, ia berkata: “Rasulullah SAW menjadikan Abdullah bin Jubair memimpin para pemanah pada perang Uhud. Mereka (orang-orang musyrik) menewaskan tujuh puluh orang dari pihak kami. Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah menjatuhkan korban seratus empat puluh orang dari pihak orang-orang musyrik pada perang Badar yaitu tu­juh puluh orang tertawan dan tujuh puluh orang terbunuh.” Abu Sufyan berkata: “Hari kekalahan dibalas dengan kemenangan pada perang Badar. Peperangan adalah bergilir dalam kekalahan dan kemenangan.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Musa dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Ketika su­dah datang kebaikan, maka Allah tidak memberikan kebaikan itu lagi sesudahnya. Pahala kebenaran adalah sesuatu yang telah Dia berikan ke­pada kita sesudah peperangan Badar.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum kafir musyrik terus memerangi Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Setelah merasa menang, pasukan kaum kafir lalu meninggalkan Uhud kembali ke Mekkah. Hal itu diketahui dari utusan Rasulullah yang mengintai mereka, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, tentang ayat “Yaitu orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang ber­takwa ada pahala yang besar.” (surat Ali ‘Imran ayat 172). Ia (Aisyah) berkata kepada Urwah: Wahai putera saudara perempuanku, bahwa orang tuamu adalah termasuk mereka, yakni Zubair (bin Awwam) dan Abu Bakar. Ketika sesuatu telah menimpa Rasulullah SAW pada hari perang Uhud dan orang-orang musyrik telah pulang meninggalkannya, beliau khawatir mereka akan kembali. Beliau bersabda: Siapakah yang akan pergi membuntuti mereka?” Maka tujuh puluh orang laki-laki dari mereka (orang­orang muslim) memperkenankan diri yang antara lain adalah Abu Bakar dan Zubair.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana keadaan orang-orang beriman setelah kalah di Uhud?”

 

Mudariszi: “Orang-orang beriman bertanya-tanya penyebab kekalahan mereka, padahal mereka sebelumnya menang di perang Badar meskipun dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit dari jumlah pasukan musuh. Mereka menduga-duga sendiri kekalahannya hingga mereka menduga buruk terhadap Allah SWT. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” (Ali ‘Imran 154)

 

Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (Ali ’Imran 165)

 

Kesalahan mereka sendiri dalam firman-Nya di atas, yaitu kesalahan mereka melanggar perintah Rasulullah karena menginginkan harta rampasan padahal mereka ketika itu telah menang. Kemudian mereka lari meninggalkan Rasulullah SAW ketika dipanggil oleh beliau akibat dari serangan tiba-tiba pasukan musuh. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. (Ali ‘Imran 152)

 

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu. (Ali ‘Imran 153)

 

Karena itu Allah SWT lalu menghukum mereka semua, yaitu sebagai berikut:

 

Karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 153)

 

Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan sebagian orang beriman itu lebih tertarik kepada harta rampasan daripada perintah Rasulullah hingga meninggalkan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau). (Ali ‘Imran 155)

 

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali ‘Imran 175)

 

Allah SWT memperlihatkan kepada mereka apa yang mereka sukai dalam firman-Nya di atas, yaitu Dia membiarkan mereka melihat harta rampasan setelah memenangi perang; tujuannya adalah untuk menguji iman mereka, yaitu mengikuti perintah Rasulullah atau mengikuti bisikan syaitan yang biasa diikutinya sebelum mereka beriman. Dan karena ujian-Nya itu, Allah SWT lalu tidak memerintahkan Jibril dan malaikat untuk membantu pasukan Rasulullah ketika diserang balik oleh pasukan kaum kafir. Ujian-Nya itu menjadikan mereka mengetahui imannya masih suka tergoda oleh syaitan karena kebiasaan lamanya yang menyukai harta dunia. Meskipun demikian, Allah SWT telah memaafkan mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran 152)

 

Dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Ali ‘Imran 155)

 

Tilmidzi: “Apakah ujian Allah itu juga berlaku untuk orang-orang beriman lainnya yang berperang di jalan-Nya?”

 

Mudariszi: “Ujian Allah itu bukan hanya berlaku bagi orang-orang beriman yang melanggar perintah Rasullah di perang Uhud saja, tapi juga akan berlaku bagi semua orang beriman yang berperang di jalan-Nya melawan pasukan kaum kafir. Ujian Allah di perang Uhud itu menjadikan orang-orang beriman dapat mengetahui adanya orang-orang yang munafik, yang melarikan diri, yang tetap bersama Rasulullah SAW hingga wafat sebagai syuhada. Mereka yang wafat itulah orang-orang beriman yang menepati janjinya kepada Allah SWT, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab 23-24)

 

Mereka itulah orang-orang yang mati syahid, yaitu orang-orang beriman yang berperang dengan sungguh-sungguh (berjihad) di jalan-Nya guna menegakkan agama-Nya yang diperangi oleh pasukan kaum kafir. Mereka berjihad atau berperang dengan sungguh-sungguh karena mereka mempertaruhkan nyawanya demi untuk membela agama-Nya. Mereka itulah orang-orang beriman yang benar yang mendapatkan kemenangan dan surga. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Muhammad 31)

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya. (Ali ‘Imran 142-143)

 

Karena itu orang-orang beriman yang belum wafat sangat merasakan kesedihan akibat dari kekalahan dari kaum kafir hingga Allah SWT lalu menenangkan mereka sebagai berikut:

 

Kemudian setelah kamu berduka cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu. (Ali ‘Imran 154)

 

Dari Abu Thalhah, ia berkata: Saya berada di antara orang-orang yang diliputi rasa kantuk pada hari perang Uhud, sehingga pedangku terjatuh dari kedua tanganku berulang-ulang kali. Pedang itu jatuh dan saya mengambilnya. Dan jatuh lagi, lalu saya mengambilnya.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah perang Uhud dan perang Badar itu dijadikan oleh Allah SWT bagi orang-orang beriman agar mengetahui orang yang bertakwa (mu’min), yang mati syahid, yang munafik, yang kafir?”

 

Mudariszi: “Ya! Perang Uhud dan perang Badar itu dijadikan oleh Allah SWT sebagai pelajaran bagi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman ketika berperang di jalan-Nya melawan orang-orang kafir dalam membela dan menegakkan agama-Nya. Jika pasukan Rasulullah menang di perang Badar, maka pasukan beliau kalah di perang Uhud. Allah SWT telah menetapkan kemenangan dan kekalahan bagi orang-orang beriman yang membela agama-Nya. Kemenangan dan kekalahan itu terjadi karena perbuatan mereka sendiri ketika berperang, yaitu mengikuti atau melanggar perintah Allah dan perintah Rasulullah. Sehingga, tidak selalunya orang-orang beriman yang berperang di jalan-Nya akan dibantu-Nya atau memenangi peperangan, dan itu terjadi karena mereka melanggar perintah-Nya atau perintah Rasulullah. Dan dari kedua pasukan yang berperang itu, akan diketahui adanya orang-orang yang bertakwa (mu’min), yang mati syahid (syuhada), yang melarikan diri (munafik) dan yang kafir. Allah SWT berfirman:

 

Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (Ali ’Imran 139-141)

 

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah akan memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (Ali ‘Imran 179)

 

Tilmidzi: “Apakah para syuhada atau orang-orang yang mati syahid itu merasakan kemenangan yang dijelaskan oleh Allah SWT di atas?”

 

Mudariszi: “Ya! Para syuhada atau orang-orang yang mati syahid itu merasakan kemenangan yang mereka peroleh dengan kematiannya itu. Orang-orang yang mati, termasuk para syuhada, sebenarnya tidak mati, mereka tetap hidup dan merasakan balasan atas perbuatan mereka ketika di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali ‘Imran 169-174)

 

Allah SWT lalu menjelaskan kepada orang-orang beriman sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 7-9)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply