Dialog Seri 10: 59
Tilmidzi: “Apakah kekalahan pasukan Rasulullah di perang Uhud adalah karena ulah orang-orang munafik?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. (Ali ’Imran 166-167)
Bertemunya dua pasukan dalam firman-Nya di atas yaitu bertemunya pasukan Rasulullah dan pasukan kaum kafir Mekkah di Uhud. Ketika itu orang-orang munafik meninggalkan Rasulullah SAW dan orang-orang beriman karena takut mati. Hal itu membuat orang-orang beriman ingin memerangi mereka, tapi dilarang-Nya. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Dari Zaid bin Tsabit, ia bekata: “Ketika Rasulullah SAW keluar menuju peperangan Uhud, maka kembalilah sebagian dari orang-orang (munafik) yang keluar bersama beliau.” (HR Bukhari)
Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mu’min pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. (Ali ’Imran 121-122)
Tilmidzi: ” Mengapa Allah SWT membiarkan orang-orang munafik meninggalkan pasukan Rasulullah?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). (Ali ‘Imran 179)
Firman-Nya di atas menunjukkan Allah SWT ingin agar orang-orang beriman tidak terganggu oleh orang-orang munafik ketika mereka berjihad di jalan-Nya guna menegakkan (membela) agama-Nya. Bersamaan dengan itu, Allah SWT juga ingin mengajarkan orang-orang beriman bahwa di antara umat Rasulullah (umat Islam) itu ada orang-orang yang sebenarnya tidak beriman atau beriman tipis. Mereka itu adalah orang-orang munafik dan mereka suka merugikan perjuangan orang-orang beriman, contohnya mereka meninggalkan perang. Perbuatan mereka itu dapat mempengaruhi orang-orang beriman dalam beribadah atau berbuat ketika menjalani hidupnya atau berjihad di jalan-Nya. Karena itu Allah SWT melarang orang-orang beriman memerangi mereka agar mengetahui orang-orang munafik dan menyisihkan orang-orang munafik itu dari orang-orang beriman agar tidak mempengaruhi perjuangan (perbuatan) orang-orang beriman.”
Tilmidzi: “Apakah tanggapan orang-orang munafik dengan sebagian orang beriman yang gugur di perang Uhud?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” (Ali ‘Imran 168)
Orang-orang munafik mengatakan seperti firman-Nya di atas itu untuk membenarkan perbuatan dan pendapat mereka yang tidak mau ikut berperang karena takut mati. Mereka menolak untuk memikirkan orang-orang beriman yang kembali ke Madinah (yang tidak gugur) padahal mereka mengetahuinya. Tapi jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman yang kembali itu, mereka akan mengatakan sebagai berikut:
Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu.” (Ali ‘Imran 167)
Dan Allah SWT lalu menjelaskan tentang orang-orang munafik itu melalui firman-Nya ini:
Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Muhammad 20-21)
Padahal Allah SWT menetapkan perintah perang bagi orang-orang beriman itu bertujuan sebagai berikut:
Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji kamu apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Ali ‘Imran 154)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu memahami agama Allah?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik tidak memahami agama Allah dan mereka tidak ada keinginan untuk memahaminya. Mereka memutuskan sesuatu menurut anggapannya dan nafsunya. Contoh, ketika orang-orang munafik mengatakan kepada orang-orang mu’min dengan mudahnya, yaitu akan berperang jika mereka mengetahuinya (dalam firman-Nya di atas), maka Allah SWT menjelaskan bahwa ucapannya itu dapat membuat mereka sebagai berikut:
Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Ali ‘Imran 167)
Contoh lain, tentang tanggapan mereka atas orang-orang yang gugur di perang Uhud dan yang masih hidup. Mereka tidak mengetahui bahwa kematian seseorang itu terjadi karena Allah SWT atau karena takdir yang Dia tetapkan. Allah SWT telah menetapkan waktu ajal seseorang dan tempat ajalnya, itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Faathir 11)
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman 34)
Sehingga, orang-orang munafik itu selamat (atau tidak mati) bukan karena mereka tidak ikut berperang, tapi karena takdir waktu ajalnya belum datang. Jika takdir waktu ajalnya sudah datang dan takdir tempat ajalnya di Uhud (tempat perang), maka mereka pasti akan ikut berperang hingga nyawanya dicabut oleh malaikat di Uhud. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan perkara tersebut sebagai berikut:
Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali ‘Imran 168)
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” (Ali ‘Imran 154)
Dari Mathar bin Ukmais, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila Allah memutuskan bagi seseorang hamba agar meninggal dunia di suatu tempat, maka Dia menjadikan orang itu membutuhkan tempat tersebut.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Bagaimanakah orang-orang munafik itu sebenarnya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang munafik itu pembohong, melalui firman-Nya ini:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al Munaafiquun 1)
Orang-orang munafik tidak menyukai agama Allah dan mereka itu sombong dan pendengki. Allah SWT berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu”, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (Al Munaafiquun 5)
Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? (Muhammad 29)
Orang-orang munafik tidak takut kepada Allah SWT dan lebih takut kepada manusia termasuk kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya kamu dalam hati mereka (orang-orang munafik) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 13)
Allah SWT menjelaskan ucapan dan pembawaan orang-orang munafik tersebut melalui firman-Nya ini:
Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (Muhammad 30)
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al Munaafiquun 4)
Rasulullah SAW menjelaskan orang-orang munafik itu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ada empat pekerti yang barangsiapa ketempatan empat pekerti itu, maka dia adalah orang munafik yang murni (sangat dekat sifatnya dengan orang munafik). Dan barangsiapa padanya terdapat salah satu tabiat di antara empat itu, berarti padanya ada satu tabiat di antara kemunafikan sampai dia mau meninggalkannya, yaitu: apabila berbicara, berbohong; apabila melakukan persetujuan, berkhianat; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila bertikai, menyimpang.” (HR Muslim)
Dengan penjelasan Allah dan Rasulullah di atas, Dia peringatkan orang-orang beriman agar berhati-hati terhadap orang-orang munafik melalui firman-Nya ini:
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Al Munaafiquun 4)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu telah menjadi kafir?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik dapat menjadi kafir jika mereka melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT, misalnya mereka menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya. Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munaafiquun 2-3)
Dan jika mereka sudah kembali kepada kekafiran, maka Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Muhammad 25)
Allah SWT menjelaskan bujukan orang-orang munafik setelah mereka menjadi kafir, sebagai berikut:
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu. karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” Maka adalah kesudahan keduanya bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim. (Al Hasyr 16-17)
Orang-orang munafik yang telah menjadi kafir itu tidak akan diampuni oleh Allah SWT sekalipun diminta oleh Rasulullah SAW dan oleh orang-orang beriman. Allah SWT beriman:
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Al Munaafiquun 6)
Dan jika orang-orang munafik itu tidak juga bertaubat, maka ketika nyawanya dicabut oleh malaikat, mereka akan akan tersiksa sebagai berikut:
Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? (Muhammad 27)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik sudah ada sejak Rasulullah hijrah ke Madinah?”
Mudariszi: “Ya! Contoh beberapa orang munafik yang menentang Rasulullah SAW, dan itu terjadi sebelum perang Badar, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Urwah, sesungguhnya Usamah bin Zaid bercerita kepadanya, bahwasanya satu hari Rasulullah SAW menaiki seekor keledai yang berpelana dan di bawahnya ada kain selimut yang sudah agak butut buatan Fadakiyah. Sementara Usamah mengikuti di belakang beliau, yang akan menjenguk Sa’ad bin Ubadah di kalangan Bani Al Harits bin Al Khazraj. Peristiwa itu terjadi sebelum pertempuran Badar. Di tengah jalan beliau melewati suatu majlis yang terdiri dari campuran antara kaum muslimin, orang-orang musyrikin penyembah berhala dan orang-orang Yahudi, dan di antara mereka terdapat orang yang bernama Abdullah bin Ubai dan juga Abdullah bin Rawahah. Ketika majlis tertutup oleh debu bekas tapak binatang, Abdullah bin Ubai menutupi hidungnya dengan kain sorbannya agar tidak kemasukan debu tersebut. Kemudian karena tidak kuat menahan, Abdullah bin Ubai kemudian berkata: “Jangan taburkan debu padaku.” Setelah terlebih dahulu menyalami mereka, Rasulullah SAW kemudian berhenti dan turun dari keledainya. Selanjutnya beliau mengajak mereka kepada Allah dan juga membacakan Al Qur’an terhadap mereka. Mendengar itu Abdullah bin Ubai mengatakan: “Hai orang, saya kira kamu lebih baik duduk di rumah saja. Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka janganlah kamu menyakiti kami di majlis kami sendiri. Pulanglah saja kamu ke rumahmu. Siapapun di antara kami yang datang kepadamu, maka ceritakanlah padanya.” Selanjutnya Abdullah bin Rawahah yang ganti berkata: “Kacaukanlah majlis kami ini. Sesungguhnya kami lebih menyukai hal itu.” Orang-orang Islam sendiri, orang-orang musyrik dan juga orang-orang Yahudi yang hadir dalam majlis tersebut semuanya mencaci maki Rasulullah SAW. Ingin rasanya mereka mau menerkam beliau. Namun Rasulullah SAW masih tetap tenang-tenang saja atas sikap mereka itu. Dan tanpa bicara beliau langsung menaiki keledainya. Begitu sampai di tempat Sa’ad bin Ubadah, Rasulullah SAW bersabda: “Waduh Sa’ad, apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Hubab alias Abdullah bin Ubai begini dan begini?” Sa’ad bin Ubadah mencoba menghibur dengan mengatakan: “Maafkanlah dia, wahai Rasulullah. Sekali lagi maafkanlah. Demi Allah, Tuhan Anda itu tentu telah memberikan apa yang memang hendak Dia berikan kepada Anda. Sesungguhnya penduduk Madinah ini sudah banyak yang bergabung dan mendukung Anda. Kalau sampai Allah menarik kembali hal itu dengan kebenaran yang telah Dia berikan kepada Anda, itu artinya ada yang tidak beres.” Ternyata Rasulullah SAW bisa memahami ucapan Sa’ad itu, dan akhirnya beliau mau memaafkan perbuatan Abdullah bin Ubai.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana perilaku orang-orang munafik terhadap orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik tidak menyukai orang-orang Muhajirin, yaitu orang-orang beriman Mekkah yang hijrah ke Madinah bersama Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. (Al Munaafiquun 7)
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (Al Munaafiquun 8)
Tetapi mereka tidak ada keberanian untuk memerangi orang-orang beriman karena mereka takut mati dan mereka tidak bersatu. Mereka hanya berani memerangi orang-orang beriman yang lemah dan secara diam-diam. Allah SWT berfirman:
Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 14)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik lebih dekat kepada Ahli Kitab daripada orang-orang beriman?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik lebih dekat kepada Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang dijelaskan oleh Nabi Musa atau Nabi ‘Isa. Bahkan mereka mengadakan kerjasama. Hal itu terjadi karena keduanya (orang-orang munafik dan Ahli Kitab) tidak berbeda, yaitu sama-sama tidak menyukai agama Allah termasuk agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an, dan sama-sama di bawah penguasaan (perlindungan) syaitan. Allah SWT berfirman:
(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Al Hasyr 15)
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad 26)
Meskipun orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi bekerja sama, orang-orang munafik itu tidak akan menepati janjinya kepada orang-orang Yahudi karena mereka pembohong. Allah SWT berfirman:
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kamipun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. (Al Hasyr 11-12)
Wallahu a’lam.