Apakah Kaum Kafir Musyrik Memenangi Perang Khandaq (Perang Ahzab)?

Dialog Seri 10: 61

 

Tilmidzi: “Apakah kaum kafir musyrik Mekkah masih memerangi Rasulullah SAW setelah perang Uhud?”

 

Mudariszi: “Kaum kafir musyrik Mekkah tetap memerangi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman meskipun mereka telah memperoleh kemenangan di perang Uhud. Itu disebabkan mereka tidak menyukai agama Islam (agama-Nya) dan mereka sulit menerima agama-Nya tersebut karena mereka pengikut Iblis (syaitan). Sedangkan Rasulullah SWT berkewajiban untuk tetap menegakkan agama-Nya seperti Rasul-Rasul sebelumnya. Allah SWT berfirman:

 

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)

 

Karena itu kaum kafir musyrik Mekkah lalu bersatu dengan kaum-kaum kafir musyrik lain mendatangi Madinah dengan jumlah tentara yang sangat besar untuk memerangi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman agar tidak ada lagi orang beriman atau agar semua orang beriman meninggalkan agama Islam. Rasulullah SAW mengetahui hal itu dan beliau tidak ingin perang terjadi di kota Madinah agar orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak, kaum wanita, orang-orang tua, tidak ikut terbunuh. Karena itu Rasulullah SAW lalu menahan pasukan kaum kafir musyrik itu di luar kota Madinah dengan memerintahkan pasukannya untuk menggali parit yang dalam, lebar dan panjang. Keadaan itu membuat perang tersebut disebut perang Khandaq atau perang Ahzab. Itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Jabir, ia berkata: Sesungguhnya kami pada hari peperangan Khandaq menggali parit, lalu terhalang oleh tanah yang keras sekali. Maka mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Tanah keras ini melintang di parit.” Rasulullah SAW menjawab: Aku turun.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah semua penduduk Madinah mengikuti seruan Rasulullah SAW untuk berperang melawan pasukan kaum kafir musyrik?”

 

Mudariszi: “Tidak semua penduduk Madinah mengikuti seruan Rasulullah SAW meskipun mereka ketika itu telah sampai di tempat peperangan. Mereka yang tidak mau ikut berperang karena takut mati itu adalah orang-orang munafik. Mereka minta izin kepada Rasulullah SAW untuk kembali ke Madinah dengan berbagai alasan sambil mempengaruhi penduduk Madinah yang lainnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.” Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (Al Ahzab 13)

 

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami.Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (Al Ahzab 18)

 

Padahal mereka sebelumnya telah berjanji kepada Allah SWT, yaitu janji seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur).Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Ahzab 15)

 

Tilmidzi: “Bagaimana penggalian parit dikerjakan oleh pasukan Rasulullah?”

 

Mudariszi: “Pasukan Rasulullah menggali parit mengikuti perintah Rasulullah. Rasulullah SAW pula ikut menggali parit dan hal itu dlsaksikan oleh pasukannya, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Barra, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mengangkut tanah pada hari peperangan Khandaq, sehingga perutnya tertutup debu. Beliau bersabda: Demi Allah, jikalau tiada Allah, maka kami tiada men­dapat petunjuk, tiada bersedekah dan tiada menunaikan shalat. Maka turunkanlah ketenteraman kepada kami, dan teguhkanlah telapak kaki kami di kala kami bertemu (dengan musuh). Sesungguhnya mereka menganiaya kami. Ketika mereka menghendaki kesesatan (fitnah), maka kami enggan.” Dan beliau mengeraskan suaranya: Kami enggan, kami enggan.” (HR Bukhari)

 

Dari Barra, ia berkata: “Pada hari peperangan Ahzab, Rasu­lullah SAW menggali parit. Saya melihat beliau mengangkut tanah galian parit, sehingga tanah itu menutupi kulit perutnya dari (pandangan)ku, se­dang perut beliau banyak bulunya. Lalu saya mendengar beliau bernyanyi Rajaz dengan kalimat-kalimat (syair)nya Ibnu Rawahah di saat beliau mengangkut tanah. Beliau bersabda: Wahai Allah, jikalau tiada Engkau, maka kami tiada mendapat petunjuk, tiada bersedekah dan tiada me­nunaikan shalat. Maka turunkanlah ketenteraman kepada kami, dan te­guhkanlah telapak kaki kami di kala kami bertemu (dengan musuh). Sesungguhnya mereka menganiaya kami. Ketika mereka menghendaki kesesatan (fitnah), maka kami enggan.” Barra berkata: Kemudian beliau mengeraskan suaranya dengan akhir kalimat itu.” (HR Bukhari)

 

Pasukan Rasulullah mengerjakannya dengan sungguh-sungguh sekalipun mendapati batu-batu yang keras dan pekerjaan sangat panjang. Mereka bekerja dalam keadaan yang letih dan lapar. Karena itu Rasulullah SAW lalu berdoa kepada Allah SWT hingga Dia menolongnya dengan memberikan mereka makanan, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah SAW pada peperangan Khandaq. Mereka menggali dan kami mengangkut tanah di atas punggung kami, lalu Rasulullah SAW berdoa: Wahai Allah, tiada kehidupan melainkan kehidupan akhirat, maka ampunilah orang-orang Muhajir dan Anshar.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas, ia berkata: Rasulullah SAW keluar menuju pe­perangan Khandaq, tiba-tiba orang-orang Muhajirin dan Anshar sedang menggali (tanah) di pagi hari yang dingin. Mereka tidak memiliki budakbudak yang dapat mengerjakannya untuk mereka. Setelah Rasulullah SAW me­lihat kelelahan dan rasa lapar yang menimpa mereka, maka beliau ber­do’a: Wahai Allah, sesungguhnya kehidupan (haqiqi) adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.” Lalu mereka menjawabnya: Kami adalah orang-orang yang bersumpah setia kepada Muhammad untuk berjihad selama hayat ditanggung badan selamalamanya.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir, ia berkata: Sesungguhnya kami pada hari peperangan Khandaq menggali parit, lalu terhalang oleh tanah yang keras sekali. Maka mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: Tanah keras ini melintang di parit.” Beliau menjawab: Aku turun.” Kemudian beliau berdiri, sedang perutnya diganjal dengan batu. Kami ting­gal selama tiga hari tidak mencicipi apapun. Rasulullah SAW mengambil cang­kul, beliau memukulkannya pada tanah keras itu, lalu kembali menjadi pasir yang tertimbun. Saya berkata: Wahai Rasulullah, izinkanlah saya kembali ke rumah.” Lalu aku bertanya kepada isteriku: Aku telah me­lihat sesuatu yang tidak menyabarkan pada Rasulullah SAW, apakah kamu mempunyai sesuatu? Ia menjawab: Aku mempunyai gandum dan anak kambing betina.” Maka aku menyembelih anak kambing itu, sedang ia menggiling gandum, sehingga kami menaruh daging di dalam kuali. Kemudian aku datang kepada Rasulullah SAW di saat adonan benar-benar lunak dan kuali di atas tungku batu hampir matang. Aku berkata: (Ini) adalah makanan sederhana untukku, maka bangunlah wahai Rasu­lullah beserta seorang atau dua orang laki-laki.” Beliau bertanya: Bera­pakah semuanya? Aku menuturkannya kepada beliau, lalu bersabda: Banyak lagi bagus (bergizi).” Beliau bersabda: Katakanlah kepada isterimu agar jangan menurunkan kuali dan roti dari dapurnya sampai aku datang.” Beliau bersabda: Bangkitlah kalian.” Maka orang-orang Mu­hajir dan Anshar bangkit. Ketika Jabir masuk kepada isterinya, ia ber­kata: Kasihan kamu, Rasuilullah SAW datang dengan orang-orang Muhajir dan Anshar dan orang-orang yang menyertai mereka.” Isterinya bertanya: Apa­kah beliau minta kepadamu? Jabir menjawab: Ya.” Kemudian beliau bersabda: Masuklah kalian semua dan janganlah berdesak-desakan.” Lalu beliau memotong roti dan meletakkan daging di atasnya. Beliau menutup kuali dan dapurnya di saat beliau mengambil dari situ. Beliau menyuguhkan kepada sahabat-sahabatnya, kemudian beliau mengambil (daging dari kuali). Maka beliau senantiasa memotong roti dan men­cedok, sehingga mereka merasa kenyang. Dan masih ada yang tersisa, beliau bersabda: Makanlah ini dan sedekahkanlah, karena sesungguhnya orang-orang terlanda kelaparan.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan pasukan kaum kafir musyrik setelah mereka tiba di lokasi Khandaq tersebut?”

 

Mudariszi: “Tiba di lokasi Khandaq, pasukan kaum kafir musyrik tidak dapat meneruskan perjalanannya, mereka tidak dapat memerangi pasukan Rasulullah karena terhalang oleh parit yang dalam, lebar dan panjang. Jika mereka melompati parit, mareka akan jatuh ke dalam parit dan itu akan memudahkan pasukan Rasulullah untuk menyerang mereka. Tidak ada jalan lain bagi pasukan kaum kafir musyrik selain menunggu di seberang parit atau di atas pasukan Rasulullah. Berhari-hari kedua pasukan itu di tempatnya masing-masing hingga Rasulullah SAW kemudian dikejutkan oleh berita kaum Yahudi membantu pasukan kaum kafir musyrik. Perbuatan kaum Yahudi itu menunjukkan mereka telah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah SAW. Kaum Yahudi memang tidak berbeda dengan kaum kafir musyrik, yaitu keduanya tidak menyukai agama-Nya (Islam) yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (syaitan), dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. (An Nisaa’ 51-52)

 

Kaum munafik yang di Madinah (yang tidak ikut berperang) juga tidak menyukai agama-Nya (agama Islam) dan mereka lebih suka dengan syariat (hukum-hukum) yang diada-adakan oleh siapapun (manusia) yang menguntungkannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. (Al Ahzab 12)

 

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya. (Al Anfaal 49)

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 60)

 

Dan kaum munafik itu lebih dekat kepada kaum Yahudi daripada kepada orang-orang beriman. Pengkhianatan kaum Yahudi itu dapat membuatnya bersekutu dengan kaum munafik untuk memerangi pasukan Rasulullah dari sebelah belakang. Dan hal itu merisaukan hati Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW lalu mengutus utusannya kepada kaum Yahudi itu untuk menghukum mereka karena telah mengkhianati perjanjian. Utusan Rasulullah tersebut lalu mencapai kemenangan, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Said al Khudriy, ia berkata: Penduduk Qurai­dhah datang untuk mendapat keputusan hukum dari Sa’ad bin Muadz, maka Rasulullah SAW mengirim perutusan kepada Sa’ad. Lalu ia datang dengan menunggang keledai. Ketika ia dekat dengan masjid, Rasulullah SAW bersabda kepada orang-orang Anshar: Berdirilah kamu sekalian untuk (meng­hormat) pimpinanmu (atau orang terbaik di antara kamu).” Lalu beliau bersabda: Mereka datang untuk mendapat keputusan hukummu.” Maka Sa’ad berkata: Engkau membunuh pasukan perang mereka dan engkau menawan anak isteri mereka.” Beliau bersabda: Engkau telah mengadili dengan hukum Allah.” Dan terkadang beliau bersabda: Dengan hukum Yang Maha Diraja.” (HR Bukhari)

 

Keputusan utusan Rasulullah itu membuat kaum Yahudi tidak berani untuk memerangi pasukan Rasulullah di Khandaq, sehingga tidak mungkin pula kaum munafik akan memerangi pasukan Rasulullah. Hal itu membuat hati Rasulullah SAW dan pasukannya menjadi sedikit tenang karena masih harus menghadapi pasukan kaum kafir musyrik yang ribuan jumlahnya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana keadaan pasukan Rasulullah pada waktu itu?”

 

Mudariszi: “Pasukan Rasulullah ketika itu dalam keadaan yang mencekam, karena pasukan kaum kafir musyrik di atas mereka sedangkan kaum Yahudi di belakang mereka yang dapat menyerang mereka sewaktu-waktu. Bahan makanan pula terbatas dan cuaca di malam hari sangat dingin. Mereka telah di Khandaq berhari-hari dan mereka tidak mengetahui sampai kapan harus bertahan di tempat tersebut. Contoh keadaan pasukan Rasulullah tersebut dijelaskan oleh salah satu pasukan Rasulullah yang ketika itu mendapat tugas untuk mengintai pasukan kaum kafir musyrik, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Ibrahim At Taimi dari ayahnya, dia berkata: Satu hari ketika aku sedang berada di samping Hudzaifah, mendadak muncul seorang lelaki dan berkata: Seandainya aku mendapati Rasu­lullah SAW, niscaya aku akan ikut berperang dan membela beliau mati-­matian. Mendengar ucapan lelaki itu Hudzaifah berkata: Kamu akan sanggup melakukan itu? Pada malam pertempuran Al Ahzab kami ber­sama-sama dengan Rasulullah SAW. Malam itu angin bertiup sangat kencang dan dingin sekali. Rasulullah SAW bersabda: Ingat, sese­orang yang dapat membawakan berita musuh kepadaku, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menjadikan dia bersamaku. Mendengar itu kami semua diam. Tidak ada seorangpun dari kami yang berbicara. Kemudian Rasulullah SAW kembali bersabda: Ingat, seseorang yang dapat membawakan berita musuh kepadaku, maka Allah akan menjadi­kannya bersamaku pada hari kiamat kelak. Kami semua diam. Tak se­orangpun di antara kami yang bicara. Lagi-lagi Rasulullah SAW bersabda: Ingat, seseorang yang dapat membawakan beritanya musuh ke­padaku, maka Allah akan menjadikannya bersamaku pada hari kiamat kelak. Namun lagi-lagi kami semua terdiam. Tidak ada seorangpun berbicara. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda: Hai Hudzaifah! Cari­kan aku beritanya musuh. Ketika namaku dipanggilnya itulah maka mau tidak mau aku harus laksanakan perintah tersebut. Beliau ber­sabda: Ayo cepat pergi cari beritanya musuh. Jangan sekali-kali bikin mereka kaget. Ketika beranjak dari sisi beliau itulah aku sepertinya sedang berjalan di atas air yang sangat panas sekali. Tidak lama kemu­dian akupun sudah sampai pada tempat musuh. Pertama-tama yang aku lihat dengan jelas ialah sosok Abu Sufyan yang tengah asyik memanasi punggungnya dengan api unggun. Diam-diam aku mulai memasang anak panah ke busur. Aku sudah ingin sekali untuk membidiknya. Namun tiba-tiba aku ingat akan pesan Rasulullah SAW yang tidak boleh membikin mereka kaget. Padahal kalau aku jadi membidiknya pasti akan mengenai sasarannya. Aku lalu kembali dan seperti ketika be­rangkat aku seakan-akan sedang berjalan di atas air yang sangat panas sekali. Selesai melaporkan berita musuh kepada Rasulullah SAW, tubuh­ku terasa menggigil sekali. Melihat itu, Rasulullah SAW lalu mengenakan mentel yang biasa beliau pakai untuk sembahyang kepadaku. Sete­lah itu aku bisa tidur pulas sekali. Pagi-pagi aku mendengar Rasulullah SAW membangunkan aku: Bangun hai si tukang tidur!” (HR Muslim)

 

Dari Jabir, ia berkata: Pada hari peperangan Ahzab, Rasulullah SAW bersabda: Siapakah yang dapat membawa berita tentang suatu kaum kepada kami? Zubair menjawab: Saya.” Kemudian beliau bersabda: Siapakah yang dapat membawa berita tentang suatu kaum kepada ka­mi? Zubair menjawab: Saya.” Kemudian beliau bersabda: Siapakah yang dapat membawa berita suatu kaum kepada kami? Zubair men­jawab: Saya.” Selanjutnya beliau bersabda: Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai seorang penolong, sedangkan penolongku ialah Zubair.” (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa pasukan Rasulullah ketika itu berada dalam keadaan yang sangat tegang dan mencekam karena tidak ada siapapun yang mau disuruh oleh Rasulullah SAW kecuali satu atau dua orang. Di samping itu, mereka mendapat kesulitan dalam melakukan shalat sesuai waktunya sehingga Rasulullah SAW berdoa sebagai berikut:

 

Dari Ali, bahwasanya pada hari peperangan Khandaq, Rasulullah SAW bersabda: Semoga Allah memenuhi rumah dan pekuburan mereka dengan api, sebagaimana mereka membuat kami lalai dari shalat Ashar hingga matahari terbenam.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Sesungguhnya Umar bin Khaththab pada hari peperangan Khandaq datang sesudah matahari terbenam, ia mencerca orang-orang kafir Quraisy. Ia berkata: Wahai Rasulullah, ham­pir saja saya tidak menunaikan shalat hingga matahari hampir terbenam.” Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, aku belum shalat (Ashar).” Maka kami bersama Rasulullah SAW singgah di Buthan, kemudian beliau berwudlu untuk melakukan shalat, lalu kami berwudhu. Kemudian beliau menunaikan shalat Ashar sesudah matahari terbenam, lalu sesudah itu menunaikan shalat Maghrib.” (HR Bukhari)

 

Perasaan orang-orang beriman atau pasukan Rasulullah ketika itu memang sudah sangat tergoncang, dan hal itu dijelaskan pula oleh Allah SWT melalui firman-Nya berikut ini:

 

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokkan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (Al Ahzab 10-11)

 

Dari Aisyah, tentang ayat: Yaitu ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik rnenyesak sampai ke tenggorokan…..) (surat Al Ahzab ayat l0). Ia (Aisyah) berkata: Hal tersebut adalah hari peperangan Khandaq.” (HR Bukhari)

 

Sehingga Rasulullah SAW lalu berdoa kepada Allah SWT sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Rasulullah SAW pernah mendoakan keburukan atas golongan-golongan (kafir), beliau ber­sabda: Wahai Allah yang menurunkan Al Kitab lagi cepat dalam meng­hisab, usirlah golongan-golongan (kafir). Wahai Allah, usirlah dan kacau­ balaukanlah mereka.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Rasulullah SAW tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Setelah Allah SWT mengetahui ketaatan dan kesabaran orang-orang beriman (pasukan Rasulullah) kepada-Nya dan kepada Rasulullah SAW,  Dia lalu mengabulkan permintaan Rasulullah SAW. Pasukan Rasulullah lalu melihat kedatangan kaum-kaum beriman yang akan membantu mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al Ahzab 22)

 

Tapi bantuan itu tidak membuat pasukan kaum kafir musyrik mundur karena banyaknya jumlah pasukan mereka. Bantuan itu hanya cukup untuk menahan serangan dari kaum Yahudi jika mereka menyerang. Allah SWT lalu menghancurkan pasukan kaum kafir musyrik dengan mengirim para malaikat dan angin topan kepada mereka. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Al Ahzab 9)

 

Angin topan itu membuat pasukan kaum kafir musyrik bercerai berai hingga mereka lalu pergi meninggalkan tempatnya dan kembali ke Mekkah. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Ahzab 25)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tiada Tuhan melainkan Allah saja. Dia kokohkan tentara-Nya, Dia menolong hamba-Nya dan Dia kalahkan sendiri golongan (kafir), maka tiada sesuatu (yang abadi) sesudah-Nya.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan demikian pasukan Rasulullah memenangi perang Khandaq (perang Ahzab)?”

 

Mudariszi: “Ya! Dengan mundurnya pasukan kaum kafir musyrik kembali ke Mekkah tanpa memperoleh apapun, maka itu menunjukkan mereka mengalami kekalahan. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata: Saya pernah men­dengar Rasulullah SAW bersabda di saat beberapa golongan (kafir) terusir: Saat ini kami memerangi mereka, sedang mereka tidak dapat memerangi kami, kami pergi berperang kepada mereka.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Saya diberi kemenangan dengan angin timur, sedangkan kaum ‘Aad dibinasakan dengan angin barat.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT membantu Rasulullah SAW dan orang-orang beriman dengan memenangkan perang tanpa berperang, yaitu dengan mengirimkan angin topan. Allah SWT mengetahui pasukan Rasulullah akan kalah jika berperang karena jumlah dan kondisi mereka. Allah SWT kemudian menjelaskan tentang pasukan Rasulullah yang merupakan orang-orang beriman dan orang-orang munafik yang meninggalkan perang karena takut mati, sebagai berikut:

 

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab 23-24)

 

Dengan demikian, perang Khandaq itu tidak lain hanyalah ujian dari Allah SWT bagi orang-orang beriman dalam berperang melawan orang-orang kafir yang tidak menyukai agama-Nya (agama Islam) dengan tujuan agar Dia mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman dan yang munafik.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik setelah mengetahui pasukan Rasulullah memperoleh kemenangan dengan tanpa berperang?”

 

Mudariszi: “Orang-orang munafik tidak pernah memikirkan hal itu karena mereka tidak menyukai perang. Mereka tetap merasa ketakutan sekalipun pasukan kaum kafir musyrik telah kembali ke Mekkah. Jika orang-orang kafir musyrik yang telah kembali ke Mekkah itu tiba-tiba datang lagi ke Madinah, maka Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang munafik itu sebagai berikut:

 

Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang melainkan sebentar saja. (Al Ahzab 20)

 

Atau orang-orang munafik itu akan melakukan perbuatan sebagai berikut:

 

Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya, dan mereka tidak akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. (Al Ahzab 14)

 

Orang-orang munafik yang takut mati itu tidak mengerti agama Islam (agama-Nya) karena mereka tidak menyukai agama-Nya tersebut dan tidak mau mempelajarinya. Jika mereka mengerti agama Islam, maka mereka tidak akan melanggar janji mereka kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, karena kematian seseorang yang tidak diketahuinya itu telah Dia tetapkan (takdirkan) termasuk tempat kematiannya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan perkara takdir itu sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (Al Ahzab 17)

 

Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. (Ali ‘Imran 154)

 

Dari Mathar bin Ukmais, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila Allah memutuskan bagi seseorang hamba agar meninggal dunia di suatu tempat, maka Dia menjadikan orang itu membutuhkan tempat tersebut.” (HR Tirmidzi)

 

Karena itu, dengan larinya orang-orang munafik tersebut, Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan dan jika (kamu terhindar dari kematian), kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja. (Al Ahzab 16)

 

Tapi jika rasa takut mati mereka lenyap karena tidak ada lagi perang, Allah SWT menjelaskan orang-orang munafik itu sebagai berikut:

 

Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al Ahzab 19)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply