Dialog Seri 10: 62
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah pasukan kaum kafir kembali ke Mekkah?”
Mudariszi: “Ketika Rasulullah SAW bersiap-siap untuk kembali ke Madinah setelah pasukan kaum kafir musyrik kembali ke Mekkah, Rasulullah ditegur oleh Jibril untuk tidak kembali ke Madinah, tapi agar memerangi kaum Yahudi yang telah mengkhianati beliau. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Aisyah, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW kembali dari peperangan Khandaq, beliau meletakkan senjata dan mandi, maka Jibril datang kepadanya lalu berkata: “Engkau telah meletakkan senjata. Demi Allah, kami tidak meletakkannya, maka pergilah kepada mereka.” Beliau bertanya: “Kemanakah?” Jibril menjawab: “Disini.” Ia menunjuk ke Quraidhah, maka Rasulullah SAW pergi kepada mereka.” (HR Bukhari)
Dari Anas, ia berkata: “Sepertinya aku melihat debu membumbung tinggi di jalanan sempit Bani Ghanmi, yaitu tempat Jibril mengiring di saat Rasulullah pergi ke Bani Quraidhah.” (HR Bukhari)
Karena itu Rasulullah SAW lalu memerintahkan pasukannya untuk segera ke salah satu kaum Yahudi yaitu Bani Quraidhah, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Pada hari peperangan Ahzab, Rasulullah SAW bersabda: “Jangan seseorangpun menunaikan shalat Ashar, kecuali (sesudah sampai) di Bani Quraidhah.” Kemudian sebagian dari mereka menjumpai waktu Ashar di perjalanan, maka yang sebagian berkata: “Kami tidak akan shalat hingga kami sampai kepada Bani Quraidhah.” Dan yang sebagian lagi berkata: “Bahkan kami akan shalat, beliau tidak menghendaki yang demikian itu dari kami.” Lalu hal tersebut dituturkan kepada Rasulullah SAW, maka beliau tidak menegur salah seorang di antara mereka.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah kaum Yahudi sebelumnya juga pernah mengkhianati Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, salah satu pemuka kaum Yahudi yang menyakiti Rasulullah SAW hingga beliau memerintahkan sahabatnya untuk membunuh pemuka Yahudi itu, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Barra bin Azib, ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus sejumlah orang laki-laki kepada Abu Rafi, yaitu seorang Yahudi. Beliau menjadikan Abdullah bin Atik sebagai pemimpin mereka. Abu Rafi menyakiti Rasulullah SAW dan memberi bantuan untuk melawan beliau, ia berada di benteng miliknya di daerah Hijaz. Ketika sekawanan perutusan itu telah dekat dengannya, pada saat matahari terbenam dan orang-orang pulang dengan hewan ternaknya, maka Abdullah berkata kepada teman–temannya: “Duduklah kamu pada tempatmu, saya hendak pergi dan bersikap sopan kepada penjaga pintu, barangkali saya dapat masuk.” Lalu ia pergi, sehingga ia mendekati pintu. Kemudian ia berkerudung dengan pakaiannya, seolah-olah ia sedang menunaikan hajatnya. Orang-orang telah masuk, lalu penjaga pintu itu memanggilnya: “Wahai Abdullah, apabila kamu ingin masuk, maka masuklah karena aku hendak menutup pintu itu.” Saya masuk dan bersembunyi. Ketika orang-orang telah masuk, penjaga itu menutup pintu, kemudian menggantungkan kunci- kuncinya pada tiang. Abdullah berkata: “Maka aku bangkit menuju tempat kunci itu dan mengambilnya. Lalu aku membuka pintu, sedangkan (orang-orang) bercakap-cakap malam hari di dekat Abu Rafi dan ia berada di sejumlah kamarnya. Ketika orang-orang yang bercakap-cakap malam itu pergi, maka aku naik kepadanya. Kemudian ketika aku membuka pintu, aku menguncinya dari dalam. Aku berkata: “Seandainya orang-orang mengetahuiku, tentu mereka tidak dapat sampai kepadaku, hingga aku membunuhnya (Abu Rafi).” Kemudian aku sampai kepadanya, ternyata ia berada di dalam kamar yang gelap di tengah-tengah keluarganya. Aku tidak tahu di kamar yang manakah dia. Aku berkata: “Wahai Abu Rafi.” Ia bertanya: “Siapakah ini?” Aku menuju ke arah suara itu, lalu aku memukulnya dengan pedang sekali. Aku tercengang, karena aku tidak mengenai sedikitpun. Ia berteriak, maka aku keluar dari kamar itu dan berhenti tidak jauh. Selanjutnya aku masuk kepadanya dan bertanya: “Suara apakah ini, wahai abu Rafi?” Ia menjawab: “Ibumu celaka, sungguh ada seseorang di dalam kamar sebelum itu memukulku dengan pedang.” Abdullah berkata: “Aku memukulnya dengan sekali pukulan (pedang) yang menjadikan ia terluka, namun tidak mematikannya. Kemudian aku meletakkan mata pedang di perutnya, hingga tembus di punggungnya, maka saya yakin bahwa saya telah membunuhnya. Lalu aku membuka pintu demi pintu, hingga aku sampai di tangga. Aku meletakkan kaki dan menduga bahwa aku telah sampai di tanah. Lalu aku terjatuh pada malam terang bulan hingga betisku terluka, maka aku membalutnya dengan sorban. Kemudian aku pergi sehingga aku duduk di pintu itu dan berkata: “Saya tidak akan keluar malam ini sebelum saya yakin apakah saya telah membunuhnya.” Ketika ayam jantan berkokok, maka bangunlah orang yang memberitahukan kematian di antara pagar. Ia berkata: “Saya memberitahukan kematian Abu Rafi, seorang saudagar penduduk Hijaz.” Lalu aku pergi menemui teman-temanku, aku berkata: “Cepatlah, sungguh Allah telah membunuh Abu Rafi.” Lalu aku sampai kepada Rasulullah SAW dan menceriterakannya. Beliau bersabda kepadaku: “Julurkanlah kakimu.” Maka aku menjulurkannya, lalu beliau mengusapnya, maka aku tidak mengadu (kesakitan) sedikitpun.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah pasukan Rasulullah mengalahkan Yahudi Quraidhah itu?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT memasukkan rasa takut ke dalam hati kaum Yahudi itu seperti Dia masukkan rasa takut kepada kaum Yahudi yang pertama yang dikalahkan oleh pasukan Rasulullah, sehingga mereka tidak dapat mengalahkan pasukan Rasulullah dan lalu meninggalkan kampungnya. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (Al Ahzab 26-27)
Rasulullah SAW memerangi kaum Yahudi itu hingga sebagian mereka terbunuh dan sebagian lagi memeluk agama Islam. Yang tidak mau memeluk agama Islam tetap dilindungi oleh Rasulullah SAW dengan perjanjian, dan sebagian lagi meninggalkan kampungnya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Barra, ia berkata: “Pada hari peperangan Quraidhah, Rasulullah SAW bersabda kepada Hassan: “Berontaklah mereka, sedangkan Jibril bersamamu.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Sesungguhnya kaum Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidhah sama memusuhi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW lalu mengusir Bani Nadhir dan membiarkan Bani Quraidhah. Namun ketika yang dari Bani Quraidhah juga telah berani memerangi Rasulullah SAW secara serius, maka beliau pun membunuh tokoh-tokoh mereka. Bahkan wanita-wanita, anak-anak dan harta benda mereka, beliau bagi-bagikan di antara kaum muslimin. Kecuali sebagian mereka yang menyerah kepada Rasulullah SAW. Maka beliaupun melindungi mereka. Rasulullah SAW juga mengusir orang-orang Yahudi Madinah seluruhnya, yaitu Bani Qunaiqa (kaumnya Abdullah bin Salam), Yahudi Bani Haritsah dan setiap orang Yahudi yang berada di Madinah.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Quraidhah dan Nadhir telah menyerang Rasulullah SAW maka beliau mengusir Bani Nadhir dan menetapkan Bani Quraidhah. Beliau melindungi mereka sehingga Quraidhah memberontak, lalu beliau membunuh sejumlah laki-laki mereka. Beliau membagikan sejumlah wanita, anak-anak dan harta benda mereka kepada kaum muslimin. Kecuali sebagian dari mereka yang menyusul Rasulullah SAW, maka beliau memberikan keamanannya dan mereka masuk Islam. Dan beliau mengusir orang-orang Yahudi Madinah seluruhnya, yakni Bani Qainuqa, mereka adalah sanak kerabat Abdullah bin Salam. Dan (mengusir) orang-orang Yahudi Bani Haritsah dan semua orang Yahudi Madinah.” (HR Bukhari)
Abdullah bin Salam dari Bani Qainuqa yang diusir oleh Rasulullah SAW dalam sunnah Rasulullah di atas adalah ulama Yahudi (Bani Israil) yang masuk agama Islam karena mengakui kebenaran Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Hal itu dijelaskan pula oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy Syu’araa’ 197)
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil (Abdullah bin Salam) mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Ahqaaf 10)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW memerangi kaum Yahudi lainnya?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW lalu memerangi kaum-kaum Yahudi lainnya di Khaibar. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Salamah bin Al Akwa dia berkata: “Kami keluar bersama-sama dengan Rasulullah SAW menuju ke Khaibar. Salah seorang dari kaum bertanya kepada Amir bin Al Akwa yang terkenal sebagai seorang penyair: “Apakah kamu mau memperdengarkan senandung sya’ir-sya’irmu kepada kami?” Amir bin Al Akwa lalu memenuhi permintaan itu. Dia mulai bersenandung untuk memberikan semangat kepada unta-unta mereka supaya cepat jalannya: “ Ya Allah, sekiranya tidak ada Engkau, maka kami tidak akan beroleh petunjuk, kami tidak bisa bersedekah, kami tidak sembahyang. Sebagai tebusan untuk Engkau, maafkanlah apa yang telah kami usahakan, mantapkanlah langkah saat kami ketemu musuh dan berilah kami rasa ketenangan. Manakala ditabuh genderang perang, kami pun segera meradang dan bantulah kami dalam peperangan itu.” Mendengar senandung itu Rasulullah SAW bertanya: “Siapa orang yang bersenandung itu?” Para sahabat sama menjawab: “Amir.” Rasulullah SAW bersabda: “Mudah-mudahan Allah merahmatinya.” Seorang lelaki dari mereka tiba-tiba mengatakan: “Dia akan mati syahid, wahai Rasulullah, bila Anda memberinya kesempatan.” Kami semua lalu menyerbu Khaibar dan mengepung penduduknya sampai kami merasakan kehausan yang cukup berat. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menundukkan Khaibar di tangan kalian semua.” (HR Muslim)
Dari Sahel bin Sa’ad, sesungguhnya menjelang peristiwa pertempuran Khaibar, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh akan aku berikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang pada tangannya Allah akan memberi kemenangan, yang mencintai Allah dan Rasul–Nya, yang juga dicintai Allah dan Rasul–Nya.” Semalaman orang-orang sama sibuk dan ramai membicarakan mengenai siapakah orang yang akan diberikan bendera oleh Rasulullah SAW itu. Pagi-pagi sekali mereka sama berbondong-bondong menghadap Rasulullah SAW. Mereka semua berharap agar diberi bendera tersebut. Rasulullah SAW bertanya: “Dimana Ali bin Abu Thalib?” Mereka menjawab: “Dia mengeluh matanya sedang sakit, wahai Rasulullah.” Tetapi mereka kemudian menjemput Ali dan membawanya menghadap Rasulullah SAW. Setelah diludahi dan dido’akan oleh Rasulullah SAW, seketika mata Ali sembuh dan seakan-akan sebelumnya tidak sakit. Selanjutnya Rasulullah SAW memberikan bendera itu kepada Ali. Ali mengatakan: “Wahai Rasulullah, akan aku perangi mereka sampai mereka seperti aku.” Rasulullah SAW bersabda: “Laksanakanlah dengan tidak usah terburu-buru. Tenanglah saat kamu berhenti di wilayah mereka. Ajaklah mereka masuk pada agama Islam. Beritahukan kepada mereka tentang hak Allah yang wajib mereka penuhi yang ada dalam ajaran Islam. Demi Allah, Allah memberikan petunjuk seseorang lantaran kamu adalah lebih baik bagimu daripada memiliki unta sebanyak satu jurang penuh.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah pasukan Rasulullah dapat menaklukkan Khaibar?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Anas, dia berkata: “Pada peperangan Khaibar aku membonceng Thalhah. Tanpa sengaja kedua telapak kakiku menyenggol telapak kaki Rasulullah SAW. Kami memang mendatangi mereka ketika matahari telah terbit. Melihat kedatangan kami itu, mereka sama mengeluarkan ternak, kapak, keranjang, jala dan barang-barang mereka yang lainnya. Mereka mengatakan: “Itu Muhammad dan pasukannya.” Rasulullah SAW bersabda: “Runtuhlah Khaibar. Sesungguhnya setiap kali kami berhenti di pelataran suatu kaum, maka tersingsinglah paginya orang-orang yang mau menerima peringatan.” Akhirnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berkenan memberikan pertolongan mengalahkan mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW lakukan setelah Khaibar takluk?”
Mudariszi: “Setelah Rasulullah SAW menaklukkan Khaibar, beliau diberikan makanan yang berisi racun, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Ketika Khaibar telah ditaklukkan, Rasulullah SAW diberi hadiah (daging) kambing yang diracun.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW lalu mengusir semua orang-orang Yahudi yang mengkhianatinya dan tidak mau memeluk agama Islam dan tidak pula mau membayar jizyah (pajak) kepada beliau (sebagai pemimpin umat Islam). Rasulullah SAW menetapkan pembayaran jizyah oleh orang-orang Yahudi itu karena mengikuti perintah Allah yaitu sebagai berikut:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah 29)
Orang-orang Yahudi merupakan keturunan Bani Israil yang telah diajarkan agama-Nya melalui Nabi Musa dan Taurat yaitu wajib membayar zakat. Dan jizyah yang dikenakan oleh Rasulullah SAW kepada mereka itu adalah zakat juga. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)
Orang-orang Yahudi ketika itu tidak lagi membayar zakat karena sebagian ayat-ayat Taurat telah disembunyikan oleh Bani Israil terdahulu yang kafir. Karena itulah Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT kepada manusia termasuk kepada kaum Yahudi (Ahli Kitab), yaitu agar mereka mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Bani Israil terdahulu yang kafir yang membuat agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa menjadi tidak benar, dan dapat berakibat anak cucunya yang lahir kemudian menjadi tersesat. Allah SWT berfirman:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Maa-idah 19)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Maa-idah 77)
Dengan penjelasan Rasulullah SAW dan Al Qur’an itu diharapkan Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan Nasrani) mau memperbaiki dirinya dengan memeluk agama Islam jika mereka tidak dapat lagi mengetahui Taurat dan Injil yang benar, seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Salam”
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan orang-orang Yahudi yang memeluk agama Islam dan yang tidak mau memeluk agama Islam tapi tetap ingin menetap di Khaibar?”
Mudariszi: “Orang-orang Yahudi yang memeluk agama Islam ataupun yang tidak memeluk agama Islam tapi tidak memiliki tanah, maka Rasulullah SAW mempekerjakan mereka di tanah rampasan tersebut dengan pembagian bagi hasil. Sehingga dengan penghasilan mereka itulah mereka lalu dapat membayar zakat atau jizyah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW menyerahkan Khaibar kepada orang-orang Yahudi agar mereka mengolah dan menanaminya, sedang mereka mendapat bagian separuh dari hasil yang dikeluarkan (dipanen).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW lakukan dengan tanah rampasan dari orang-orang Yahudi tersebut?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW lalu membagikan harta (tanah) rampasan Khaibar yang ditinggal oleh orang-orang Yahudi itu dengan mengikuti syariat agama Islam. Orang-orang Muhajirin yang mendapat harta rampasan tersebut lalu menggunakan sebagian hartanya itu untuk mengembalikan kepada orang-orang Anshar atas pemberian mereka kepada orang-orang Muhajirin ketika hijrah ke Madinah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Ketika orang-orang Muhajirin datang di Madinah dari Makkah, mereka tidak memiliki apa-apa. Sementara itu orang-orang Anshar punya banyak tanah dan pekarangan. Orang-orang Anshar kemudian membagikan tanah atau pekarangan kepada saudara-saudaranya itu dan mereka memperoleh imbalannya sebanyak separuh setiap tahunnya. Pekerjaan dan biaya penggarapannya juga sudah mereka cukupi. Ibunya Anas bin Malik atau yang biasa dipanggil Ummu Sulaim, dan Ibunya Abdullah bin Abu Thalhah adalah saudara Anas seibu. Ibunya anas bin Malik tersebut pernah memberikan pohon kurmanya kepada Rasulullah SAW. Dan oleh Rasulullah SAW pohon kurma tersebut kemudian diberikannya kepada Ummu Aiman, budak perempuannya, yaitu Ibunya Usamah bin Zaid.” Ibnu Syihab mengatakan: “Aku pernah mendapat cerita dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW ketika selesai melakukan pertempuran dengan penduduk Khaibar lalu kembali ke Madinah, beliau melihat orang-orang Muhajirin sama mengembalikan pemberian-pemberian yang pernah mereka terima dari saudaranya kaum Anshar. Demikian pula apa yang pernah diberikan oleh Ibunya Anas pada Rasulullah juga dikembalikan lagi. Ummu Aiman yaitu Ibunya Usamah bin Zaid, adalah budaknya Abdullah bin Abdul Muthalib ayah Rasulullah SAW. Ummu Aiman adalah wanita berkebangsaan Habasyah (Ethiopia). Ketika Aminah melahirkan Rasulullah SAW setelah beliau ditinggal wafat oleh ayahnya, maka Ummu Aiman lah yang mengasuh beliau sampai besar. Setelah dimerdekakan, Rasulullah SAW kemudian menikahkan wanita yang pernah mengasuhnya tersebut dengan Zaid bin Haritsah. Lima bulan setelah Rasulullah SAW wafat, wanita itu pun menyusulnya.” (HR Muslim)
Setelah itu Rasulullah SAW mengangkat pemimpin di Khaibar, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus saudara laki-laki Bani Adiy dari golongan Anshar menuju Khaibar, lalu beliau mengangkat dia sebagai Emir atas Khaibar. (HR Bukhari)
Wallahu a’lam.