Dialog Seri 10: 70
Tilmidzi: “Apakah setelah menaklukkan kota Mekkah, Rasulullah SAW menyeru kaum-kaum kafir musyrik di sekitar kota Mekkah?”
Mudariszi: “Penaklukkan kota Mekkah oleh Rasulullah SAW telah membuat sebagian penduduk Mekkah yang kafir melarikan diri ke negeri-negeri di sekitar kota Mekkah. Di samping itu, setelah menaklukan kota Mekkah, Rasulullah SAW lalu mengatakan kepada para sahabat sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda ketika hendak ke Hunain: “Insya Allah tempat tinggal kita besok di lereng pegunungan Bani Kinanah, dimana orang-orang Quraisy bersumpah setia pada kekafiran.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW akan menyeru penduduk Hunain yang kafir agar masuk agama Islam dan akan memeranginya jika mereka tidak mau masuk Islam dan tidak mau membayar jizyah kepada beliau (sebagai pemimpin umat Islam). Kaum perempuan juga ikut Rasulullah SAW ketika menuju Hunain, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas, sesungguhnya Ummu Sulaim pada pertempuran Hunain terlihat membawa sebatang parang. Ketika Abu Thalhah melihatnya, dia lalu melaporkan hal itu kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, lihat Ummu Sulaim itu. Ia membawa sebatang parang.” Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Ummu Sulaim: “Untuk apa parang ini?” Ummu Sulaim menjawab: “Untuk saya gunakan berperang. Begitu ada salah seorang pasukan musyrik mendekatiku, maka ia akan segera aku tikamkan ke perutnya.” Mendengar jawaban wanita itu Rasulullah SAW tersenyum. Ummu Sulaim lalu berkata: “Wahai Rasulullah, bunuhlah orang-orang Makkah yang sudah pernah sama menyerah pada penaklukan kota Makkah namun sekarang mereka sama melarikan diri dari Anda itu.” Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah berlaku cukup dan berbuat baik.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW memenangi peperangan di Hunain?”
Mudariszi: “Karena penduduk Hunain tidak menerima seruan Rasulullah, maka penduduk itu lalu diperangi oleh Rasulullah SAW. Allah SWT lalu menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah telah menolong kepadamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. (At Taubah 25)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa pasukan Rasulullah mengalami kekalahan di perang Hunain. Hal itu terjadi karena pasukan Rasulullah merasa sombong setelah berhasil menaklukan kota Mekkah dan memiliki jumlah pasukan yang banyak. Mereka lupa kepada Allah SWT yang telah membantu mereka dalam memenangi semua peperangan karena ketakwaan dan kesabaran mereka. Pasukan Rasulullah lupa jika kaum Hawazain (penduduk Hunain) itu merupakan para pemanah yang handal, dan terbukti dengan mereka menjadikan pasukan Rasulullah kucar kacir dimana sebagian terbunuh dan sebagian lagi lari ke belakang. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Barra, seorang laki-laki dari kabilah Qais bertanya kepadanya: “Apakah kamu lari meninggalkan Rasulullah SAW pada peperangan Hunain?” Ia menjawab: “Tetapi Rasulullah SAW tidak lari. Kabilah Hawazin adalah orang-orang ahli memanah. Ketika kami menyerang mereka, maka mereka tercerai berai. Kami sibuk mengurusi rampasan, lalu kami dihadapi dengan anak panah. Dan sesungguhnya saya melihat Rasulullah SAW di atas binatang bighalnya yang berwarna putih, sedang Abu Sufyan yang memegang kendalinya. Beliau bersabda: “Saya adalah seorang Nabi, tiada berdusta, saya adalah putera Abdul Muththalib.” (HR Bukhari)
Dari Barra, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepadanya, lalu ia bertanya: “Wahai Abu Umarah (Barra), apakah engkau lari ke belakang pada peperangan Hunain?” Lalu Barra menjawab: “Adapun saya bersaksi kepada Rasulullah SAW bahwa beliau tidak lari ke belakang, tetapi pasukan garis depan kaum terburu-buru, maka kabilah Hawazin memanah mereka, dan Abu Sufyan bin Harits memegang kepala binatang bighalnya yang berwarna putih. Beliau bersabda: “Saya adalah seorang Nabi, tiada berdusta, saya adalah putera Abdul Muththalib.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT kemudian membantu pasukan Rasulullah dalam memenangi perang Hunain itu?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT kemudian membantu pasukan Rasulullah untuk memenangi perang Hunain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (At Taubah 26)
Kemenangan perang Hunain itu dijelaskan pula sunnah Rasulullah ini:
Dari Katsir bin Abbas bin Abdul Muthalib, dia berkata: “Abbas pernah bercerita sebagai berikut: “Aku ikut terjun dalam perang Hunain bersama-sama Rasulullah SAW. Aku dan Abu Sufyan bin Al Harits bin Abdul Muthalib terus menempel Rasulullah SAW. Kami tidak mau berpisah dengan beliau. Saat itu Rasulullah SAW naik seekor bighal miliknya hadiah dari Furwah bin Nufatsah Al Judzami. Tatkala pasukan Islam dan pasukan kafir sudah saling berhadap-hadapan langsung, maka pasukan Islam sengaja berpaling untuk mengatur serangan. Rasulullah SAW menepuk bighalnya menghadapkan ke arah pasukan kafir. Saat itu, akulah yang memegang kendali bighal Rasulullah SAW tersebut. Aku harus sering menarik kendali itu supaya ia jangan cepat-cepat jalannya. Sementara itu Abu Sufyan lah yang memegangi inja-inja Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abbas! Panggil sahabat-sahabat yang pernah berbai’at di bawah pohon.” Perintah Rasulullah SAW itu memang tepat, sebab aku memang terkenal punya suara yang cukup tinggi. Maka dengan selantang suaraku, aku panggil mereka: “Dimana para sahabat yang pernah berbai’at di bawah pohon?!!!” Demi Allah, begitu mendengar suaraku, bergegas mereka mencari dari mana asal suara tersebut, persis seperti induk ayam yang mendengar suara anak-anaknya yang sedang dicarinya. Serentak mereka menjawab: “Baik, akan kami penuhi panggilanmu. Baik, akan aku penuhi panggilanmu.” Kembali aku serukan kepada mereka: “Ayo! Bertempurlah melawan orang-orang kafir. Dan jangan lupa mintalah bantuan kepada orang-orang Anshar!” Mereka lalu menyeru: “Wahai orang-orang Anshar! Wahai orang-orang Anshar!” Selanjutnya mereka hanya cukup memanggil Bani Al Harits bin Al Khazraj: “Wahai Bani Al Harits bin Al Khazraj! Wahai Bani Al Harits bin Al Khazraj!” Sementara itu Rasulullah SAW tetap berada di atas bighalnya. Sejenak beliau melongok ke medan perang. Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Inilah kalau pertempuran sudah memanas.” Selanjutnya Rasulullah SAW mengambil beberapa butir kerikil lalu beliau lemparkan ke arah wajah orang-orang kafir seraya bersabda: “Kalahkan mereka, demi Tuhannya Muhammad!” Sejenak aku pun ikut memperhatikan keadaan medan perang dan ternyata memang dalam keadaan cukup menegangkan. Demi Allah, aku saksikan Rasulullah SAW terus melemparkan batu-batu kerikil yang ada padanya ke arah orang-orang kafir. Lama kelamaan aku lihat orang-orang kafir keadaannya semakin lemah sebelum akhirnya mereka mundur.” (HR Muslim)
Setelah kemenangan itu, Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:
Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taubah 27)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyeru dan memerangi kaum-kaum kafir lain di sekitar Mekkah setelah kaum Hawazin di Hunain?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW mengutus utusannya ke Authas, hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Musa, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW selesai dari peperangan Hunain, beliau mengutus Abu Amr memimpin pasukan perang ke Authas. Lalu ia bertemu dengan Duraid bin Shimmah, lalu Duraid terbunuh dan Allah mengusir teman-temannya.” Abu Musa berkata: “Dan beliau mengutusku bersama Abu Amr, lalu Abu Amr terkena panah pada lututnya. Ia dilempari anak panah oleh seorang dari kabilah Jusyami, lalu ia menancapkan anak panah itu pada lututnya. Saya menuju kepadanya lalu saya bertanya: “Wahai pamanku, siapakah yang memanahmu?” Lalu ia menunjukkan Abu Musa dan berkata: “Itulah orang yang akan membunuhku dan dialah yang telah memanahku.” Lalu saya menuju kepadanya dan bertemu dengannya. Ketika ia melihatku, maka ia berpaling. Lalu saya mengikutinya dan berkata kepadanya: “Tidakkah kamu malu, tidakkah kamu teguh, maka berhentilah.” Kami membelakangi dengan memukulkan pedang dua kali, lalu saya membunuhnya. Kemudian saya berkata kepada Abu Amr: “Allah telah membunuh temanmu.” Ia berkata: “Cabutlah anak panah ini.” Maka saya mencabutnya, lalu memancarlah air dari padanya. Ia berkata: “Wahai putera saudara lelakiku, ucapkanlah salam kepada Rasulullah SAW dan katakanlah kepada beliau: “Mintakanlah ampunan untukku.” Dan Abu Amr menjadikan saya sebagai penggantinya memimpin orang-orang. Ia diam sejenak, kemudian ia meninggal dunia. Lalu saya kembali dan saya masuk kepada Rasulullah SAW di rumah beliau di atas tempat tidur yang ditenun dengan tali dan di atasnya terdapat hamparan. Tenunan tali pada tempat tidur itu membekas pada punggung dan kedua lambung beliau, lalu saya memberitahukan kepada beliau akan berita kami dan berita Abu Amr. Dan ia berkata: “Katakanlah kepada Rasulullah SAW: “Mintakanlah ampunan untukku.” Beliau minta diambilkan air, lalu beliau berwudhu, kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya dan berdo’a: “Wahai Allah, ampunilah Ubaid Abu Amr.” Dan saya melihat putihnya kedua ketiak beliau. Kemudian beliau berdo’a: “Wahai Allah, jadikanlah ia pada hari Kiamat berada di atas kebanyakan makhluk-Mu, yakni manusia.” Lalu saya berkata: “Dan untukku pula pintakanlah ampunan.” Maka beliau berdo’a: “Wahai Allah, berilah ampunan kepada Abdullah bin Qais akan dosanya dan masukanlah ia ke tempat yang mulia pada hari Kiamat.” (HR Bukhari)
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengutus utusannya ke Nejd, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW mengirim satu pasukan tentara kearah Nejd, sedang saya berada di dalamnya. Lalu bagian (rampasan) kami mencapai dua belas ekor unta, kami mendapat rampasan unta seekor-seekor. Lalu kami kembali dengan membawa tiga belas ekor unta.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW juga mengutus utusannya ke Thaif, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasululah ini:
Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: “Rasulullah SAW mengepung penduduk Thaif. Tetapi beliau tidak mendapatkan apa-apa dari usaha pengepungannya terhadap mereka itu. Selanjutnya beliau bersabda: “Insya Allah kita akan kembali ke Madinah.” Para sahabat sama protes: “Kenapa kita harus kembali? Kita toh belum berhasil menaklukkannya.” Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Pergilah kalian berperang.” Mereka pun mencobanya namun mereka malahan hanya mendapatkan luka-luka. Rasulullah SAW lalu bersabda kepada mereka: “Besok kita akan kembali.” Para sahabat sama heran dengan sabda beliau tersebut. Sementara Rasulullah SAW hanya tersenyum.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW mengepung Thaif, beliau tidak memperoleh sesuatupun dari mereka. Beliau bersabda: “Insya Allah kami akan kembali.” Lalu mereka merasakan keberatan dan mereka berkata: “Kita pergi, namun kita tidak dapat menaklukkannya.” Dan pada kali yang lain beliau bersabda: “Kita kembali.” Lalu beliau bersabda: “Berangkatlah pagi-pagi untuk berperang.” Maka mereka berangkat pagi-pagi dan mereka mendapat luka-luka. Beliau bersabda: “Insya Allah kita akan kembali besok.” Maka hal itu mengherankan mereka lalu Rasulullah SAW tersenyum.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah di antara utusan-utusan Rasulullah ada yang membuat kesalahan ketika memimpin perang?”
Mudariszi: “Di antara utusan-utusan Rasulullah itu ada yang membuat kesalahan ketika memimpin pasukannya, hingga Rasulullah SAW meminta ampun kepada-Nya. Adapun utusan Rasulullah itu sebagai berikut:
Dari Salim dari ayahnya, ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus Khalid bin Walid ke Bani Jadzimah. Ia mengajak mereka masuk Islam, lalu mereka tidak berkenan untuk mengatakan: “Kami masuk Islam.” Mereka berkata: “Kami berganti agama, kami berganti agama.” Lalu Khalid membunuh sebagian di antara mereka dan menawannya, dan ia menyerahkan tawanan kepada setiap orang di antara kami. Sehingga pada suatu hari, Khalid menyuruh setiap orang di antara kami untuk membunuh tawanannya. Maka saya berkata: “Demi Allah, saya tidak akan membunuh tawananku, dan tidak ada seorangpun di antara teman-temanku yang akan membunuh tawanannya. Sehingga kami datang kepada Rasulullah SAW, lalu kami menuturkannya kepada beliau. Kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya dan berdo’a: “Wahai Allah, sesungguhnya aku mohon kebebasan kepadamu dari apa yang diperbuat oleh Khalid.” Dua kali.” (HR Bukhari)
Dari Ali Karramallahu Wajhah, ia berkata: “Rasulullah SAW mengirimkan pasukan, lalu beliau mengangkat seorang laki-laki Anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau menyuruh mereka agar mentaatinya. Lalu lelaki Anshar itu marah dan berkata: “Tidakkah Rasulullah SAW telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?” Mereka menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Maka kumpulkanlah kayu bakar untukku.” Maka mereka mengumpulkannya. Lalu ia berkata: “Nyalakanlah api.” Maka mereka menyalakannya. Lalu ia berkata: “Masuklah ke dalam api itu.” Maka mereka gelisah dan mulailah sebahagian di antara mereka menahan sebahagian yang lain, dan mereka berkata: “Kita lari kepada Rasulullah SAW karena menghindar dari api.” Mereka senantiasa demikian hingga api itu padam, lalu kemarahannya mereda. Kemudian berita tentang hal itu sampai kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: “Seandainya mereka masuk ke dalam api itu, maka mereka tidak akan keluar dari padanya sampai hari Kiamat. Ketaatan hanya dalam kebaikan.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah pasukan Rasulullah memperoleh harta rampasan perang?”
Mudartiszi: “Ya! Contoh, salah satu sahabat menerima harta rampasan dari perang Hunain karena berhasil membunuh orang kafir:
Dari Abi Qatadah, ia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah SAW pada tahun peperangan Hunain. Ketika kami bertemu (musuh), maka terdapat keragu-raguan pada kaum muslimin. Saya melihat seorang lelaki musyrik telah menguasai seorang lelaki muslim, lalu saya memukul lelaki musyrik itu dari belakang dengan pedang pada otot bahunya, lalu saya memotong baju besi(nya). Ia menghadap kepadaku lalu ia memelukku dengan sangat, dari pelukan itu saya menemukan bau kematian, kemudian ia mati dan melepaskan aku. Lalu saya bertemu dengan Umar dan saya bertanya: “Bagaimanakah keadaan orang-orang?” Ia menjawab: “Itu adalah urusan Allah.” Kemudian mereka kembali dan Rasulullah SAW duduk lalu bersabda: “Barangsiapa membunuh seseorang (kafir) dimana ia mempunyai saksi atas terbunuhnya orang itu, maka ia berhak mendapat lucutan pakaian (orang yang dibunuh)nya.” Saya berkata: “Siapakah yang, akan bersaksi untukku?” Kemudian saya duduk.” Abu Qatadah berkata: “Kemudian Rasulullah SAW bersabda seperti di atas. Lalu saya berdiri dan berkata: “Siapakah yang akan bersaksi untukku?” Kemudian saya duduk.” Abu Qatadah berkata: “Kemudian Rasulullah SAW bersabda seperti di atas. Lalu saya berdiri, dan beliau bertanya: “Apakah yang terjadi padamu, wahai Abu Qatadah?” Maka saya memberitahukannya kepada beliau, lalu seorang laki-laki berkata: “Dia benar, dan lucutan pakaian (orang yang dibunuh)nya ada padaku, maka jadikanlah ia merelakannya untukku.” Lalu Abu Bakar berkata: “Tidak, Demi Allah, jika demikian beliau tidak bermaksud kepada seorang (lelaki pemberani bagaikan) singa Allah yang berperang karena untuk Allah dan Rasul-Nya, lalu beliau memberikan lucutan pakaian (orang yang dibunuh)nya kepadamu.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Dia benar, maka berikanlah kepadanya.” Beliau memberikannya kepadaku, lalu dengan lucutan pakaian itu saya membeli kebun kurma di Bani Salimah. Maka itulah harta yang pertama kali saya jadikan modal pokok di dalam masa Islam.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu Rasulullah SAW kembali ke Madinah?”
Mudariszi: “Setelah perang Thaif, Rasulullah SAW memutuskan permintaan orang-orang Hawazin yang meminta kembali harta dan saudara-saudara mereka yang telah dirampas dan ditawan oleh Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
Dari Marwan dan Miswar bin Makhramah, sesungguhnya Rasulullah SAW berdiri di kala sekawanan orang Hawazin datang kepada beliau seraya masuk Islam. Mereka minta kepada beliau untuk mengembalikan harta benda dan tawanan kepada mereka, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Yang ikut bersamaku adalah orang-orang yang kalian lihat, berita yang paling aku sukai ialah berita yang paling benar, maka pilihlah di antara dua hal, tawanan ataukah harta benda. Dan sesungguhnya aku telah menantikanmu.” Rasulullah SAW menantikan mereka selama sepuluh malam lebih di saat beliau kembali dari Thaif. Setelah jelas bagi mereka bahwa Rasulullah SAW tidak mengembalikan kepada mereka melainkan salah satu dari dua hal tersebut, mereka berkata: “Sesungguhnya kami memilih tawanan kami.” Lalu Rasulullah SAW berdiri di antara kaum muslimin, beliau memuji kepada Allah dengan apa yang ia miliki, kemudian beliau bersabda: “Adapun sesudah itu, sesungguhnya teman-temanmu datang kepada kami seraya bertaubat, dan sesungguhnya aku berpendapat untuk mengembalikan tawanan kepada mereka. Barangsiapa ingin menyerahkannya dengan rela hati, maka lakukanlah. Dan barang siapa ingin tetap pada bagiannya, sampai kami memberikan bagian itu kepadanya dari harta rampasan yang pertama kali diberikan oleh Allah kepada kami, maka lakukanlah.” Lalu orang-orang berkata: “Kami menyerahkannya dengan rela hati, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kami tidak tahu siapa saja di antara kalian yang merestui hal tersebut, maka kembalilah sampai para penguasa kalian melaporkan urusan kalian kepada kami.” Maka orang–orang kembali, lalu para penguasa mereka berbicara kepada mereka. Kemudian mereka kembali kepada Rasulullah SAW, lalu mereka memberitahukan kepada beliau bahwa mereka sungguh-sungguh menyerahkan dengan rela hati dan mereka merestui. Inilah berita yang sampai kepadaku tentang tawanan Hawazin.” (HR Bukhari)
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ketika terjadi perang Hunain, maka kabilah Hawazin, Gathafan dan yang lainnya menghadap dengan membawa beberapa hewan ternak dan anak cucu mereka, sedang Rasulullah SAW bersama sepuluh ribu orang serdadu dan beberapa tawanan yang dilepaskan. Lalu mereka berpaling mundur dari beliau, sehingga beliau tertinggal sendirian.” (HR Bukhari)
Setelah itu Rasulullah SAW membagi harta rampasan perang yang diperoleh pasukannya setelah penaklukkan kota Mekkah. Tetapi pembagian beliau itu disalah artikan oleh orang-orang Anshar, sehingga beliau mengatakan sebagai berikut:
Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW membagikan bagian (rampasan) perang Hunain, maka seorang laki-laki Anshar berkata: “Beliau tidak menghendaki keridhaan Allah dengan pembagian itu.” Lalu saya datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukannya kepada beliau, maka berubahlah wajah beliau. Kemudian beliau bersabda: “Semoga Musa mendapat rahmat Allah, sungguh ia disakiti lebih banyak daripada ini, ialu ia bersabar.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata: “Ketika hari perang Hunain, Rasulullah SAW mengutamakan beberapa orang. Beliau memberi Aqra dengan seratus unta, beliau memberi Uyainah sebanyak itu (seratus) juga dan beliau memberi beberapa orang. Maka seorang laki-laki berkata: “Pembagian ini tidak dimaksudkan demi keridhaan Allah.” Lalu saya berkata: “Sungguh saya akan memberitahukan kepada Rasulullah SAW.” Beliau bersabda: “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Musa, sungguh ia telah disakiti lebih banyak dari pada ini, lalu ia bersabar.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW tidak memberikan harta rampasan kepada orang-orang Anshar tetapi kepada orang-orang Quraisy, orang-orang Hawazin dan orang-orang di sekitar Mekkah, karena mereka itu baru masuk Islam. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata: “Ketika Allah memberikan (harta rampasan) kepada Rasul-Nya pada hari perang Hunain, beliau membagikannya kepada orang-orang mu’allaf (yang dibujuk) hatinya. Dan beliau tidak memberikan sedikitpun kepada orang-orang Anshar, maka seolah-olah mereka bersusah hati karena mereka tidak memperoleh apa yang diperoleh orang-orang.” (HR Bukhari)
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ketika Allah memberikan kepada Rasul-Nya harta yang dikembalikan (dirampas) dari kabilah Hawazin, lalu Rasulullah SAW memberikan seratus unta kepada beberapa orang lelaki, maka orang-orang Anshar berkata: “Semoga Allah mengampuni Rasululah SAW, beliau memberikan (rampasan) kepada orang-orang Quraisy, sedangkan beliau membiarkan kami, padahal pedang-pedang kami meneteskan darah mereka.” (HR Bukhari)
Untuk menghilangkan salah pengertian pada orang-orang Anshar, Rasulullah SAW lalu mengumpulkan mereka dan menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Lalu Rasulullah SAW diberitahu akan perkataan mereka, maka beliau mengirim pesuruh kepada orang-orang Anshar. Lalu beliau mengumpulkan mereka di dalam sebuah tenda kulit dan beliau tidak mengundang kepada selain mereka. Ketika mereka berkumpul, maka Rasulullah SAW berdiri dan bertanya: “Cerita apakah yang sampai kepadaku tentang kalian?” Para ahli hukum orang-orang Anshar menjawab: “Wahai Rasulullah, adapun para pemimpin kami, maka mereka tidak mengatakan apapun. Dan adapun sebagian orang di antara kami yang masih berusia muda, maka mereka berkata: “Semoga Allah mengampuni Rasuluhah, beliau memberikan rampasan kepada orang–orang Quraisy, sedangkan beliau membiarkan kami, padahal pedang–pedang kami meneteskan darah mereka.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku memberikan kepada beberapa orang lelaki yang baru saja meninggalkan kekafiran untuk menjinakkan (hati) mereka. Tidakkah kalian ridha orang-orang pergi dengan membawa beberapa harta benda, sedangkan kalian pergi dengan Nabi menuju rumah kalian? Demi Allah, sesungguhnya sesuatu yang kalian membawa kembali ialah lebih baik daripada sesuatu yang mereka bawa kembali.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami ridha.” Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Kalian akan menemui rasa mementingkan diri sendiri (egoisme) yang amat sangat, maka tabahlah hingga kalian bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya aku di atas telaga.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata: “Lalu beliau berpidato kepada mereka dan bersabda: “Wahai golongan Anshar, tidakkah aku menemukan kalian dalam keadaan tersesat (kafir), lalu Allah memberikan petunjuk kepada kalian dengan lantaran aku? Dan kalian bercerai-berai, lalu Allah mempersatukan kalian dengan lantaran aku? Dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah menjadikan kalian kaya dengan lantaran aku?” Setiap kali beliau menyabdakan sesuatu, mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dermawan.” Beliau bertanya: “Apakah yang menghalangi kalian untuk menjawabi Rasulullah SAW?” Abdulah bin Zaid berkata: “Setiap kali beliau menyabdakan sesuatu, maka mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dermawan.” Beliau bersabda: “Jikalau kalian mau, maka kalian berkata: “Engkau datang kepada kami dengan demikian dan demikian”, tidakkah kalian ridha orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pergi dengan Nabi menuju rumah kalian. Kalau bukan karena hijrah, tentu aku menjadi seseorang dari golongan Anshar. Dan seandainya orang-orang menyusuri lembah dan jalan di perbukitan, tentu aku menyusuri lembah dan jalan di perbukitan orang-orang Anshar. Orang-orang Anshar itu bagaikan baju (yang melekat di badan), sedangkan orang-orang bagaikan selimutnya. Sesungguhnya kalian akan menemui rasa mementingkan diri sendiri (egoisme) sesudahku, maka tabahlah hingga kalian bertemu denganku di atas telaga.” (HR Bukhari)
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW mengumpulkan orang-orang Anshar, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya orang–orang Quraisy itu baru saja meninggalkan masa Jahiliyah dan musibah, dan sesungguhnya aku ingin menolong dan menjinakkan hati mereka. Tidakkah kalian ridha orang-orang kembali dengan membawa dunia (harta), sedang kalian kembali dengan Rasulullah ke rumah kalian?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Seandainya orang-orang menyusuri lembah, sedang orang-orang Anshar menyusuri jalan di perbukitan, tentu aku menyusuri lembah atau jalan diperbukitan orang-orang Anshar.” (HR Bukhari)
Setelah itu, Rasulullah SAW dan rombongannya lalu meninggalkan Mekkah kembali ke Madinah.”
Wallahu a’lam.