Mengapa Ahli Kitab Dikeluarkan Dari Mekkah Dan Sekitarnya?

Dialog Seri 10: 73

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk Ahli Kitab?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk umat manusia, itu berarti termasuk Ahli Kitab. Dengan demikian Rasulullah SAW wajib menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an tersebut kepada Ahli Kitab. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)

 

Allah SWT menghendaki Ahli Kitab, termasuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, agar mendengarkan penjelasan Al Qur’an dari Rasulullah SAW supaya mereka mengetahui bahwa Dia telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi ‘Isa dan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dia menurunkan Al Kitab kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Qur’an). (Ali ’Imran 3-4)

 

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. (Faathir 31)

 

Taurat dan Injil mengandung penjelasan agama Allah yang wajib dijalankan oleh umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa ketika menjalani hidupnya di dunia agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Tapi kemudian, sebagian ayat-ayat Taurat dan Injil dirubah (diganti) oleh umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa yang kafir. Perubahan Taurat dan Injil itu berakibat kepada berubahnya agama Allah yang dijelaskan oleh Nabi Musa dan oleh Nabi ‘Isa, dan itu membuat Ahli Kitab menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Perubahan itu dijelaskan oleh Allah SWT kepada Ahli Kitab melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW agar mereka memikirkannya dan lalu berkeinginan untuk kembali beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT berfirman:

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)

 

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Maa-idah 19)

 

Selain menghendaki agar Ahli Kitab beragama dengan agama-Nya yang benar, Allah SWT menghendaki pula agar anak cucu Ahli Kitab yang lahir kemudian beragama dengan agama-Nya yang benar hingga mereka tidak tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia dan selamat hidup di akhirat. Karena itu, Allah SWT menghendaki agar Ahli Kitab beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu). (An Nisaa’ 47)

 

(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)

 

Tilmidzi: “Apakah dengan beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, Ahli Kitab itu telah beragama dengan agama-Nya yang benar?”

 

Mudariszi: “Dengan Ahli Kitab beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, mereka berarti telah mengikuti agama-Nya yang benar, karena umat Islam diwajibkan pula oleh Allah SWT untuk beriman kepada kitab-kitab-Nya (termasuk Taurat dan Injil) dan kepada Rasul-Rasul-Nya (termasuk Nabi Musa dan Nabi ‘Isa). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami mendengar dan kami taat. (Al Baqarah 285)

 

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Al Baqarah 136)

 

Tilmidzi: “Jika umat Islam diwajibkan beriman kepada Rasul-Nya dan kitab-Nya, apakah Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW sudah mengetahui Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW sudah mengetahui tentang Rasulullah SAW karena mereka telah diambil janjinya oleh Allah SWT, yaitu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku akan menjadi saksi (pula) bersama kamu. (Ali ‘Imran 81)

 

Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW itu terdapat (dijelaskan) dalam kitab-kitab-Nya yang Dia berikan kepada setiap Rasul, termasuk dalam Taurat dan Injil. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu. (Asy Syu’araa’ 196)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW dijelaskan dalam Taurat dan Injil?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Ku-timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al A’raaf 155-157)

 

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil , sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata. (Ash Shaff 6)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bukankah Ahli Kitab itu sudah mengetahui Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah 146)

 

Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (Al An’aam 20)

 

Jika ada Ahli Kitab yang tidak mengetahui Al Qur’an dan Rasulullah SAW, berarti Ahli Kitab itu membaca Taurat atau Injil yang telah berubah. Karena itulah Allah SWT menjelaskan kepada mereka melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW agar mereka mengetahui yang benar.”

 

Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab itu beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Di antara Ahli Kitab itu ada yang beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (Ali ‘Imran 113-114)

 

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (Al Baqarah 121)

 

Setelah mengetahui kedatangan Rasulullah SAW dan Al Qur’an, Ahli Kitab itu segera beriman kepada keduanya. Allah SWT menjelaskan tentang mereka sebagai berikut:

 

Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, bergembira dengan Kitab yang diturunkan kepadamu. (Ar Ra’d 36)

 

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya, sesungguhnya Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). (Al Qashash 52-53)

 

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri), seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (Al Maa-idah 83-84)

 

Mereka (Ahli Kitab yang beriman) beragama dengan agama-Nya yang benar dan mereka menjalani hidupnya di dunia sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. (Ali ‘Imran 199)

 

Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil. (Al Qashash 54-55)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan Ahli Kitab yang tidak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Selain ada Ahli Kitab yang beriman, maka ada pula Ahli Kitab yang tidak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka bergembira dengan Kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu ada yang mengingkari sebahagiannya. (Ar Ra’d 36)

 

Ahli Kitab yang tidak beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW itulah Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang dijelaskan oleh Nabi Musa atau oleh Nabi ‘Isa. Mereka beragama dengan mengikuti Taurat atau Injil yang telah dirubah (diganti). Mereka dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. (Al An’aam 20-21)

 

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyinah 4-5)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Ahli Kitab yang tidak beriman itu ketika diseru oleh Rasulullah SAW agar beriman kepada Al Qur’an dan kepada beliau?”

 

Mudariszi: “Ahli Kitab yang tidak beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, tidak memahami agama Allah karena mereka membaca Taurat atau Injil yang berubah. Contoh, ketika mereka diseru oleh Rasulullah SAW agar beriman kepada Al Qur’an,  maka mereka mengatakan sebagai berikut:

 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.(Al Maa-idah 18)

 

Mereka menjawab hanya berdasarkan dugaannya (hawa nafsunya) yang tanpa ilmu pengetahuan tentang agama-Nya. Karena itu Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maa-idah 18)

 

Contoh lain ketika mereka diseru oleh Rasulullah SAW agar beriman kepada Al Qur’an supaya mereka selamat ketika menjalani hidupnya di dunia dan selamat pula ketika hidup di akhirat, maka mereka mengatakan berdasarkan dugaannya dan hawa nafsunya, yaitu sebagai berikut:

 

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.(Al Baqarah 111)

 

Ucapan Ahli Kitab tersebut lalu dijelaskan oleh Allah SWT melalui Rasulullah SAW dan firman-Nya ini:

 

Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 111-112)

 

Pahala yang lebih banyak dari dosa itulah yang membuat seseorang dimasukkan-Nya ke surga berdasarkan peraturan (syariat) agama-Nya yang Dia tetapkan untuk manusia melalui kitab-Nya dan Rasul-Nya, dan bukan berdasarkan dugaan Ahli Kitab. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. (An Nisaa’ 123)

 

Semua jawaban Ahli Kitab tersebut di atas menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak mau beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW.  Mereka mengetahui jawaban mereka itu tidak benar dan tidak masuk akal, tapi mereka tetap mengatakan demikian karena tidak mau beriman. Penjelasan Allah terhadap jawaban mereka itupun tidak merubah mereka untuk mau beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Apakah agama Yahudi dan agama Nasrani itu agama Allah yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa kepada Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani)?”

 

Mudariszi: “Agama Yahudi itu bukan agama Allah yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Taurat; demikian pula dengan agama Nasrani, yaitu bukan agama Allah yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa dan Injil. Agama-Nya yang diajarkan oleh kedua Rasul-Nya dan kedua kitab-Nya itu sama dengan agama-Nya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an, yaitu agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Allah SWT tidak menjelaskan bahwa agama-Nya yang diajarkan oleh Taurat dan Nabi Musa dan agama-Nya yang diajarkan oleh Injil dan Nabi ‘Isa itu adalah agama Yahudi dan agama Nasrani. Allah SWT hanya menjelaskan bahwa Dia mengutus Rasul-Rasul kepada umat Rasul agar mereka menyeru sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu. (An Nahl 36)

 

Dengan demikian, agama Yahudi dan agama Nasrani itu bukan agama Allah, tapi agama yang diada-adakan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dengan merubah ayat-ayat Taurat dan ayat-ayat Injil.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Nasrani itu mengikuti dan menyembah Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Nasrani tidak dapat dikatakan menyembah Allah SWT karena mereka bukan mengikuti-Nya. Mereka sebenarnya mengikuti Ahli Kitab yang merubah Taurat dan Injil, sehingga disadari atau tidak disadarinya, mereka sebenarnya menyembah thaghut atau tuhan selain Allah SWT. Mereka sebenarnya telah menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain. Dan karena itulah Allah SWT menjelaskan bahwa mereka telah tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, dan Dia kemudian memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyeru mereka agar memasuki agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imran 20)

 

Dengan Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani) itu memeluk agama Islam, maka mereka telah beragama dengan agama-Nya yang benar dan mereka tidak lagi menyekutukan-Nya dengan tuhan yang lain (thaghut).”

 

Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab itu menerima seruan tersebut?”

 

Mudariszi: “Ahli Kitab itu menolak seruan Rasulullah SAW dan mereka mengatakan sebagai berikut:

 

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk. (Al Baqarah 135)

 

Petunjuk dalam firman-Nya di atas adalah petunjuk dari Allah SWT. Jika agama Yahudi dan agama Nasrani itu bukan agama Allah, maka mustahil Dia memberikan petunjuk kepada pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Nasrani. Jika pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Nasrani mengikuti Taurat dan Injil yang berubah, maka mustahil ada penjelasan tentang petunjuk Allah dalam dua kitab tersebut. Petunjuk yang benar itu hanyalah dari Allah SWT yang Dia jelaskan kepada manusia melalui kitab-Nya dan Rasul-Nya. Karena itu Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada Ahli Kitab tersebut sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya.” Dan Dia-lah Tuhan Yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. (Al An’aam 71-72)

 

Tilmidzi: “Apakah dalam Taurat yang Allah SWT berikan kepada Nabi Musa dan dalam Injil yang Dia berikan kepada Nabi ‘Isa terdapat penjelasan tentang petunjuk Allah bagi umat Nabi Musa dan Nabi ‘Isa?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. (Al An’aam 154)

 

Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Al Maa-idah 46)

 

Demikian pula dengan Al Qur’an yang Allah SWT berikan kepada Rasulullah SAW, yaitu terdapat penjelasan tentang petunjuk Allah, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)

 

Dan karena itulah Allah SWT menghendaki Ahli Kitab agar beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam supaya mereka diberikan-Nya petunjuk dengan Al Qur’an itu. Allah SWT akan memberikan petunjuk-Nya kepada mereka dengan Al Qur’an itu hingga mereka kembali beragama dengan agama-Nya yang benar.”

 

Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani) itu menerima penjelasan Allah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tersebut di atas?”

 

Mudariszi: “Ahli Kitab itu tidak menerima karena mereka lalu mengatakan bahwa Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub dan anak cucunya adalah pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Nasrani. Mereka merasa lebih mengetahui tentang agama Rasul-Rasul itu daripada Allah SWT yang mengutus Rasul-Rasul tersebut. Karena itu Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya? Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah 140)

 

Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (Al Baqarah 139)

 

Allah SWT lalu menjelaskan kepada Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani) itu melalui Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berfikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (Ali ‘Imran 65-67)

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (Ali ‘Imran 64)

 

Allah SWT lalu menjelaskan kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (Kitab-Kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri. (Al ‘Ankabuut 46)

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika Ahli Kitab itu tetap hanya mau mengikuti agama Yahudi atau agama Nasrani?”

 

Mudariszi: “Jika Ahli Kitab itu tetap mau menjadi pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Nasrani, maka Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.(Al Maa-idah 68)

 

Dengan demikian, jika Ahli Kitab itu tetap mengikuti agama Yahudi atau agama Nasrani, maka mereka itulah Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani ingin agar orang-orang beriman mengikuti agama Yahudi dan agama Nasrani?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah 120)

 

Padahal di antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani itu sendiri saling berselisih, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (Al Baqarah 113)

 

Perselisihan itu terjadi akibat dari perubahan Taurat dan Injil yang diada-adakan oleh mereka sendiri.”

 

Tilmidzi: “Mengapa Ahli Kitab ingin agar orang-orang beriman mengikuti agama Yahudi dan agama Nasrani?”

 

Mudariszi: “Karena mereka dengki kepada Rasululah SAW, dan hal tersebut dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. (Al Baqarah 109)

 

Hingga mereka lalu menghalang-halangi manusia dari beriman atau mengikuti agama Islam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya. (An Nisaa’ 55)

 

Karena itu Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada Ahli Kitab, sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)

 

Dan Allah SWT lalu memperingatkan orang-orang beriman sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Ali ‘Imran 100)

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)

 

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)

 

Tilmidzi: “Jika Ahli Kitab itu tidak mau beriman, bagaimana dengan anak cucunya yang lahir kemudian, apakah mereka juga tidak beragama dengan agama-Nya yang benar?”

 

Mudariszi: “Anak cucu dari Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar itu cenderung akan mengikuti agama orang tuanya. Allah SWT menjelaskan pandangan Ahli Kitab dan anak cucu Ahli Kitab yang lahir kemudian terhadap Taurat dan Injil tersebut, sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu. (Asy Syuura 14)

 

Allah SWT juga menjelaskan tentang Al Qur’an bagi Ahli Kitab dan anak cucu Ahli Kitab yang lahir kemudian, sebagai berikut:

 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu. (Al Maa-idah 48)

 

Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang kafir itu. (Al Maa-idah 68)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani) itu tidak berbeda dengan orang-orang kafir musyrik?

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kepada Ahli Kitab melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW termasuk menyeru mereka untuk beriman kepada-Nya dan memeluk agama Islam agar mereka dan anak cucu mereka yang lahir kemudian tidak tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia dan selamat hidup di akhirat. Tapi Allah SWT tidak memaksa mereka untuk beriman kepada-Nya dan untuk memeluk agama Islam, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (Al Kahfi 29)

 

Tapi orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani (Ahli Kitab) itu bukan saja tidak ingin beriman dan memeluk agama Islam, mereka ingin pula agar orang-orang beriman meninggalkan agama Islam dan mengikuti agama mereka. Mereka juga menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama Islam karena mereka tidak menyukai agama Islam dan Rasulullah SAW. Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang Ahli Kitab tersebut sebagai berikut:

 

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Ash Shaff 7)

 

Peringatan-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak berbeda dengan dengan orang-orang kafir musyrik, yaitu tidak menyukai agama Islam dan menghalang-halangi manusia dari agama Islam agar agama Islam itu lenyap (tidak diikuti). Karena itu Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk memerangi Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar agar mereka keluar dari Mekkah dan sekitarnya. Allah SWT berfirman:

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah 29)

 

Allah SWT tidak menghendaki Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar itu menjadi bertambah banyak melalui anak cucunya yang lahir kemudian, lalu mereka menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya, agama Islam dan Baitullah, termasuk mereka memerangi orang-orang beriman.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply