Dialog Seri 10: 75
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menyeru umat Nabi ‘Isa agar beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kepada Ahli Kitab sebagai berikut:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Ahli Kitab dalam firman-Nya di atas adalah umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa, dimana Nabi Musa dan Nabi ‘Isa diutus kepada umatnya masing-masing sebelum Rasulullah SAW. Kemudian Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)
Ahli Kitab dalam firman-Nya di atas termasuk pula umat Nabi ‘Isa. Dengan demikian, umat Nabi ‘Isa diseru juga oleh Allah SWT agar mereka beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW.”
Tilmidzi: “Apakah seruan Allah kepada umat Nabi ‘Isa itu karena mereka seperti umat Nabi Musa yang tidak lagi beragama dengan agama-Nya yang benar?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Al Kitab dalam firman-Nya di atas yaitu kitab Taurat yang diberikan-Nya kepada Nabi Musa dan kitab Injil yang diberikan-Nya kepada Nabi ‘Isa, dimana dalam kedua kitab-Nya itu terdapat penjelasan tentang agama Allah. Tapi Injil menjadi tidak berbeda dengan Taurat, yaitu sebagian ayat-ayatnya disembunyikan dan dirubah oleh umat Nabi ‘Isa yang kafir. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya”, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali ‘Imran 187)
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. (Al Baqarah 79)
Orang-orang yang diberi Kitab atau yang menulis Al Kitab dalam firman-Nya di atas adalah umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa. Akibatnya, agama Allah yang dijelaskan dalam Injil tidak lagi seperti yang dijelaskan oleh Nabi ‘Isa, dan umat Nabi ‘Isa menjadi berselisih. Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya berikut ini kepada Ahli Kitab:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Maa-idah 77)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Ahli Kitab di masa Rasulullah SAW sudah tidak lagi beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Dengan demikian, umat Nabi ‘Isa tidak berbeda dengan umat Nabi Musa di masa Rasulullah SAW, yaitu sama-sama tidak lagi beragama dengan agama-Nya benar.”
Tilmidzi: “Bagaimana umat Nabi ‘Isa tersebut beragama?”
Mudariszi: “Umat Nabi ‘Isa, yaitu orang-orang Nasrani, beragama dengan mengatakan (mempercayai) Nabi ‘Isa itu sebagai berikut:
Dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” (At Taubah 30)
Orang-orang Nasrani mengatakan Nabi ‘Isa itu anak Allah SWT (Tuhan), padahal Allah SWT menjelaskan tentang Dia sebagai berikut:
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlash 2-4)
Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. (Al An’aam 101)
Jika Allah SWT mengangkat anak atau membuat keluarga, maka hanya Dia sajalah yang paling berhak untuk menetapkannya, dan bukan manusia yang hanya makhluk ciptaan-Nya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. (Az Zumar 4)
Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (Al Anbiyaa’ 17)
Dengan demikian, orang-orang Nasrani sendiri yang menetapkan Nabi ‘Isa itu anak Tuhan. Ketetapan itu lalu menjadi bagian daripada agamanya yang harus diimaninya.”
Tilmidzi: “Apakah selain menetapkan Nabi ‘Isa anak Tuhan, orang-orang Nasrani menetapkan pula Nabi ‘Isa itu tuhan yang harus disembah?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam. (At Taubah 31)
Orang-orang Nasrani berarti telah menetapkan Nabi ‘Isa yang hanya makhluk (manusia) ciptaan-Nya itu menjadi bagian daripada Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. (Az Zukhruf 15)
Tilmidzi: “Berdasarkan apakah orang-orang Nasrani menetapkan Nabi ‘Isa itu tuhan dan anak Tuhan?”
Mudariszi: “Orang-orang Nasrani menetapkan Nabi ‘Isa itu tuhan dan anak Tuhan bukan tidak mungkin karena Nabi ‘Isa dilahirkan oleh Allah SWT tanpa Bapak. Hal itu membuat mereka menduga Allah SWT itulah Bapak Nabi ‘Isa. Dan karena Allah SWT adalah Tuhan, maka Nabi ‘Isa sebagai anak Tuhan adalah tuhan juga menurut dugaan mereka. Dengan demikian, ketetapan orang-orang Nasrani itu hanya berdasarkan dugaan (persangkaan) mereka saja, bukan berdasarkan bukti-bukti yang jelas. Allah SWT berfirman:
Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui? (Yunus 68)
Dan Allah SWT menjelaskan tentang dugaan atau persangkaan manusia tersebut sebagai berikut:
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)
Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. (Yunus 36)
Berdasarkan firman-Nya di atas, maka dugaan (persangkaan) orang-orang Nasrani bahwa Nabi ‘Isa itu tuhan dan anak Tuhan adalah tidak benar. Kebenaran tentang Allah SWT itu hanya dapat diketahui dari Dia sendiri, yaitu dari kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah 147)
Allah SWT menjelaskan tentang Dia dalam kitab-Nya, sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. (An Nisaa’ 171)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. (Thaahaa 14)
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nisaa’ 171)
Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)
Orang-orang Nasrani yang menetapkan Nabi ‘Isa itu tuhan dan anak Tuhan tersebut dijelaskan oleh Allah SWT adalah sebagai berikut:
Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (ke-Esa–an) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman 20)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al Hajj 8)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan penciptaan Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan penciptaan Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak tersebut sebagai berikut:
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan (Rasul) Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An Nisaa’ 171)
Nabi ‘Isa diciptakan-Nya dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dalam firman-Nya di atas adalah sebagai berikut:
Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (Ali ‘Imran 47)
Allah SWT lalu menjelaskan bahwa Dia menciptakan Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak dan dengan kalimat-Nya itu seperti Dia menciptakan Nabi Adam yang tanpa orang tua dan juga dengan kalimat-Nya yaitu “Jadilah”. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah ia. (Ali ‘Imran 59)
Dengan demikian tidak benar orang-orang Nasrani yang mengatakan Nabi ‘Isa itu anak Tuhan, karena Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (Maryam 35)
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan Nabi ‘Isa dengan tiupan roh-Nya (seperti dijelaskan firman-Nya di atas). Hal itu tidak berbeda dengan Nabi Adam yang diciptakan-Nya juga dengan tiupan roh-Nya. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku–sempurnakan kejadiaannya dan Ku–tiupkan kepadanya roh (ciptaan)–Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Shaad 71-72)
Dengan demikian, Allah SWT menciptakan Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak itu serupa dengan Dia menciptakan Nabi Adam yang tanpa Ibu dan tanpa Bapak. Allah SWT melahirkan Nabi ‘Isa ke dunia tanpa Bapak itu hanya untuk menunjukkan kekuasaan-Nya bagi Bani Israil karena Nabi ‘Isa dari Bani Israil. Hal tersebut dijelaskan firman-Nya ini:
Dan telah Kami jadikan (‘Isa) putera Maryam beserta Ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). (Al Mu’minuun 50)
‘Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. (Az Zukhruf 59)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Nabi ‘Isa dan Maryam itu tidak berbeda dengan manusia lainnya?”
Mudariszi: “Ya! Kelahiran Nabi ‘Isa yang tanpa Bapak itu tidak menjadikan Nabi ‘Isa dan Maryam berbeda dengan manusia lainnya. Keduanya tetap manusia biasa yang makan makanan, minum, berjalan-jalan dan berbuat lain-lain seperti manusia lakukan sehari-harinya. Perbedaan Nabi ‘Isa dengan manusia lain, yaitu beliau itu Rasul-Nya yang diberikan-Nya Injil. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Al Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan Ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. (Al Maa-idah 75)
Dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (Al Mu’minuun 50)
Tapi orang-orang Nasrani memahami penciptaan Nabi ‘Isa itu menurut anggapannya sendiri tanpa ilmu pengetahuan. Mereka mengada-ada dengan anggapannya hingga mereka menetapkan sendiri, yaitu Nabi ‘Isa itu tuhan dan anak Tuhan. Cara berfikir orang-orang Nasrani yang tanpa ilmu telah membuat mereka menjadi sesat. Allah SWT berfirman:
Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Al Maa-idah 75)
Tilmidzi: “Apakah mungkin Nabi ‘Isa sendiri yang meminta umatnya agar menjadikan beliau sebagai tuhan?”
Mudariszi: “Sungguh ganjil jika ada Nabi yang diutus dan diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyuruh umatnya agar menyembah Dia saja, tapi Nabi itu lalu menyuruh umatnya supaya menyembah dirinya. Sungguh ganjil pula jika ada Nabi yang menyuruh umatnya agar menjadikan dirinya atau keluarganya atau orang lain atau malaikat sebagai tuhan. Hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” (Al ‘Imran 79)
Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam? (Al ‘Imran 80)
Nabi ‘Isa tidak berani menyuruh umatnya agar menjadikan beliau sebagai tuhan, karena Allah SWT menjelaskan tentang beliau ketika menjadi Rasul, sebagai berikut:
Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (An Nisaa’ 172)
Allah SWT menjelaskan apa yang Nabi ‘Isa lakukan dan serukan kepada umatnya, sebagai berikut:
Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” (Al Maa-idah 72)
Nabi ‘Isa tidak berbeda dengan Rasul-Rasul lain yang diutus oleh Allah SWT kepada umatnya, yaitu menyeru umatnya sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu.” (An Nahl 36)
Ketika Rasul-Rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah.” (Fushshilat 14)
Dengan demikian, tidak mungkin Nabi ‘Isa menyuruh umatnya agar menjadikannya sebagai tuhan.”
Tilmidzi: “Apakah ada perkara agama lain yang diada-adakan oleh orang-orang Nasrani yang tidak diajarkan oleh Nabi ‘Isa dan Injil?”
Mudariszi: “Ya! Contoh ibadah lain yang diada-adakan oleh orang-orang Nasrani yang tidak ada dalam agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi ‘Isa dan Injil, sebagai berikut:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah 31)
Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-Rasul Kami dan kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rabbaniyyah (tidak kawin dan mengurung diri dalam biara), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (Al Hadiid 27)
Tilmidzi: “Bukankah dengan orang-orang Nasrani menjadikan Nabi ‘Isa sebagai tuhan berarti mereka beragama seperti orang-orang musyrik yang menyekutukan-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Dengan orang-orang Nasrani menjadikan Nabi ‘Isa sebagai tuhan dan anak Tuhan, maka mereka telah beragama seperti orang-orang kafir musyrik beragama, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. (At Taubah 30)
Mereka telah menjadikan Nabi ‘Isa sebagai tuhan selain Allah SWT, dan itu berarti mereka tidak berbeda dengan orang-orang kafir musyrik yang menjadikan patung berhala sebagai tuhannya. Itu berarti mereka telah menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain. Orang-orang musyrik di Mekkah sendiri mengetahui jika Nabi ‘Isa dijadikan tuhan oleh orang-orang Nasrani, dan hal itu diketahui ketika Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an kepada mereka, sebagai berikut:
Maka tatkala putera Maryam (‘Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (‘Isa)?” (Az Zukhruf 57-58)
Pertanyaan orang-orang kafir musyrik Mekkah kepada Rasulullah SAW dalam firman-Nya di atas itu menunjukkan mereka mengetahui bahwa Nabi ‘Isa itu tuhan orang-orang Nasrani. Sehingga itu berarti, orang-orang Nasrani tidak berbeda dengan orang-orang musyrik dalam beragama, yaitu menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain.”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang Nasrani berdosa dan menjadi kafir karena menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain yaitu Nabi ‘Isa?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah 30)
Dengan Allah SWT melaknat orang-orang Nasrani (dalam firman-Nya di atas) karena menjadikan Nabi ‘Isa sebagai anak Allah SWT (Tuhan), maka mereka berarti telah berdosa dan kafir kepada-Nya. Selain itu, di antara orang-orang Nasrani ada pula yang mengatakan bahwa Allah SWT (Tuhan) itu adalah Nabi ‘Isa. Perkataan dan kepercayaan mereka itu membuatnya menjadi kafir, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam.” Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta Ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” (Al Maa-idah 17)
Di antara orang-orang Nasrani ada pula yang mengatakan Allah SWT itu salah satu dari tiga (tuhan). Ucapan dan kepercayaannya itu membuat mereka menjadi kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maa-idah 73)
Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya, sehingga hal itu akan membuat mereka kekal tinggal di neraka ketika di akhirat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al Maa-idah 72)
Tilmidzi: “Apakah karena itu Allah SWT menghendaki agar orang-orang Nasrani beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT tidak menghendaki mereka dan anak cucu mereka yang lahir kemudian menjadi kafir dan sesat. Dengan mereka beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka mereka dapat mengetahui kesalahan dalam agama mereka sehingga mereka dapat bertaubat dan memperbaiki dirinya. Penjelasan di atas merupakan sebagian dari penjelasan Allah untuk mereka agar mereka tidak lagi menyekutukan-Nya. Allah SWT menyeru mereka sebagai berikut:
Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Maa-idah 74)
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara. (An Nisaa’ 171)
Dan Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at?” (Al Maa-idah 76)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kepada kaum Nasrani dengan penjelasan yang lebih mudah dimengerti agar mereka kembali kepada agama-Nya yang benar?”
Mudariszi: “Agar orang-orang Nasrani mau berfikir dengan jujur dan benar, Allah SWT lalu menjelaskan kepada mereka melalui Rasulullah SAW dan Al Qur’an, yaitu apa yang akan terjadi di akhirat ketika Dia bertanya kepada Nabi ‘Isa, yaitu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ’Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan Ibuku dua orang tuhan selain Allah?” (Al Maa-idah 116)
Nabi ‘Isa lalu menjelaskan kepada Allah SWT, sebagai berikut:
‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Maa-idah 116-118)
Selain itu, Allah SWT menjelaskan pula bahwa Dia memerintahkan Rasulullah SAW untuk bermubahalah dengan pemuka agama Nasrani, yaitu pertemuan antara dua pihak dimana setiap pihak meminta kepada Allah SWT agar dilaknati-Nya bagi pihak (orang-orang) yang berdusta. Tujuannya agar orang-orang Nasrani berfikir dengan benar sehingga mereka mau beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an dan tidak lagi menyekutukan-Nya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali ‘Imran 61)
Dari Amir bin Sa’ad dari Ayahnya, ia berkata: “Tatkala turun ayat ini: “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri–istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (surat Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku.” (HR Tirmidzi)
Tapi pemuka agama Nasrani itu menolak ajakan Rasulullah SAW dengan meninggalkan beliau, sehingga Allah SWT kemudian menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. (Ali ‘Imran 62-63)
Dengan meninggalkan Rasulullah SAW, pemuka agama Nasrani itu berarti lebih mengutamakan kaumnya dan agamanya yang menyekutukan Allah SWT daripada mengutamakan Allah SWT Tuhannya yang menghendaki mereka dan anak cucu mereka yang lahir kemudian menjadi selamat dan bahagia hidup di dunia dan di akhirat.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang Nasrani itu tidak mau beriman kepada Al Qur’an dan kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Kebanyakan orang-orang Nasrani tidak mau beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, karena mereka menyukai agamanya yang menyekutukan Allah SWT. Mereka tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi, yaitu tidak menyukai agama Islam dan Rasulullah SAW. Mereka ingin agar orang-orang beriman meninggalkan agama Islam dan mengikuti agama mereka. Mereka menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama Islam dan jalan-Nya yang lurus yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” (Al Baqarah 120)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya bengkok padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imran 98-99)
Contoh, seorang Nasrani memeluk agama Islam di masa Rasulullah SAW, dan dia sempat menjadi penulis bagi Rasulullah SAW. Tapi dia lalu murtad karena pengaruh kaumnya, sehingga Allah SWT menyiksanya ketika dia mati. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Ada seorang laki-laki Nasrani masuk Islam, ia membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran, dan menulis untuk Rasulullah SAW, lalu ia kembali Nasrani dan ia berkata: “Muhammad tidak tahu kecuali apa yang saya tulis untuknya.” Lalu Allah mematikannya dan mereka (orang-orang Nasrani) menguburnya. Lalu di pagi harinya ia telah dilemparkan oleh bumi. Mereka mengatakan: “Ini adalah perbuatan Muhammad dan kawan-kawannya, ketika ia lari dari mereka, maka mereka menggali teman kita, lalu mereka melemparkan (mengeluarkan)nya.” Maka mereka menggali untuknya dan mereka memperdalam (kuburnya). Di pagi harinya ia telah dilemparkan oleh bumi. Mereka mengatakan: “Ini adalah perbuatan Muhammad dan kawankawannya, mereka menggali teman kita ketika ia lari dari mereka. Maka mereka melemparkannya ke luar kubur.” Maka mereka menggali untuknya dan mereka memperdalam (kuburnya) dalam tanah semampunya. Lalu di pagi harinya ia telah dilemparkan oleh bumi. Maka mereka tahu bahwa hal itu bukan dari (perbuatan) manusia, maka mereka melemparkannya (mayat murtad itu).” (HR Bukhari)
Karena itu Allah SWT kemudian memperingatkan orang-orang beriman agar berhati-hati terhadap orang-orang Nasrani yang tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi melalui firman-Nya berikut ini:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At Taubah 34)
Karena orang-orang Nasrani tidak mau beriman dan menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan jalan-Nya yang lurus, Allah SWT lalu memutuskan ketetapan-Nya bagi mereka dan bagi anak cucu mereka hingga kiamat, sebagai berikut:
Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (Al Maa-idah 14)
Meskipun demikian, di antara orang-orang Nasrani itu ada yang berfikir dengan benar tentang Allah SWT dan Nabi ‘Isa, sehingga mereka lalu beriman, bertaubat dan mengikuti agama-Nya yang benar atau memeluk agama Islam. Tapi di antara mereka yang beriman itu ada yang menyembunyikan keimanannya, karena rasa takut kepada kaumnya atau keluarganya. Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang Nasrani yang beriman, yang mengikuti agama-Nya yang benar atau yang memeluk agama Islam itu, melalui firman-Nya berikut ini:
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (An Nisaa’ 159)
Beriman kepada Nabi ‘Isa dalam firman-Nya di atas, yaitu beriman kepada Allah SWT saja tanpa menyekutukan-Nya dengan Nabi ‘Isa (tuhan), dan beriman kepada Nabi ‘Isa yang merupakan Rasul-Nya.”
Wallahu a’lam.