Dialog Seri 10: 79
Tilmidzi: “Mengapa orang munafik tidak mau berperang padahal telah diperintahkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketika menurunkan perintah-Nya ini:
Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. (Muhammad 20)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang munafik tidak mau berperang sekalipun diperintahkan oleh Allah SWT. Mereka lebih takut kepada mati daripada kepada Allah SWT. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah SWT yang menetapkan kematian seseorang, termasuk kematian mereka. Perang memang dekat dengan kematian manusia, tapi tidak ada seorang pun yang mau mati. Orang-orang beriman juga tidak mau mati, tapi mereka tidak berlebihan dalam menyikapi rasa takut matinya, mereka memilih diam dan menuruti saja perintah Allah. Jika hal itu dilakukan pula oleh orang-orang munafik, maka rasa takut mati mereka, cepat atau lambat, akan lenyap. Allah SWT berfirman:
Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Muhammad 21)
Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang munafik atas Al Qur’an?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik tidak tertarik dengan Al Qur’an, karena itu mereka tidak mau membaca Al Qur’an. Akibatnya, mereka tidak memahami Al Qur’an, Iman dan agama Islam, sehingga Iman tidak masuk ke dalam hatinya kecuali sedikit. Allah SWT berfirman:
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” (At Taubah 124)
Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seseorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (At Taubah 127)
Jika orang-orang munafik itu tidak juga mau berubah atau bertaubat, maka Allah SWT akan menutup hatinya dan tidak menunjukinya kepada jalan yang lurus, sehingga mereka makin tidak dapat memahami Al Qur’an, Iman dan agama Islam. Allah SWT berfirman:
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Muhammad 16)
Dengan Allah SWT tidak menunjuki mereka kepada jalan yang lurus, maka mereka akan menjadi tidak beriman (atau menjadi kafir) karena perbuatan mereka cenderung kepada kemaksiatan dan kejahatan. Al Qur’an yang tidak dipahaminya itu akan menambah kekafiran mereka. Allah SWT berfirman:
Dan adapun orang-orang yang ada di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (At Taubah 125)
Orang-orang munafik itu berbeda dengan orang-orang beriman. Orang-orang beriman membaca Al Qur’an, mendengar penjelasan Rasulullah SAW atas Al Qur’an dan mereka mengikuti As Sunnah ketika berbuat dalam kehidupannya sehari-hari. Ketaatan mereka mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah (sunnah Rasulullah), menghendaki Allah SWT lalu menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Semua petunjuk Allah itu akan menambah Iman mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya. (Muhammad 17)
Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (At Taubah 124)
Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang munafik terhadap Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Huud 5)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu”, mereka membuang muka mereka, dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (Al Munaafiquun 5)
Firman-Nya di atas menunjukkan orang-orang munafik tidak menyukai Rasulullah SAW. Mereka tidak menyukai Rasulullah SAW karena mereka tidak membaca Al Qur’an.”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik menyakiti Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik suka mengejek Rasulullah SAW hingga Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At Taubah 65)
Di antara orang-orang munafik ada yang menyakiti Rasulullah SAW dengan mengatakan sebagai berikut:
Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” At Taubah 61)
Sehingga Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah 61)
Semua perbuatan orang-orang munafik di atas karena ketidak pahaman mereka atas Al Qur’an dan agama Islam dan tidak adanya iman kepada-Nya kecuali sangat tipis.”
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang-orang munafik itu atas ancaman Allah kepada mereka?”
Mudariszi: “Ancaman Allah itu membuat orang-orang munafik bersumpah kepada Rasulullah SAW dengan nama Allah, sebagai berikut:
Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). (At Taubah 74)
Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka mencari keridhaannya, jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (At Taubah 62)
Mereka bersumpah kepada Rasulullah SAW dengan nama Allah untuk mencari keridhaan beliau (dalam firman-Nya di atas), karena mereka terhadap Rasulullah SAW itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya kamu dalam hati mereka (orang-orang munafik) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 13)
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al Munaafiquun 1)
Mereka bersumpah dengan nama Allah hanya untuk menguatkan kebohongan mereka. Ucapannya dengan bersumpah itu berbeda dengan isi hatinya, sehingga ucapannya tersebut telah membuat mereka menjadi sebagai berikut:
Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya. (At Taubah 74)
Allah SWT yang mengetahui isi hati orang-orang munafik yang sebenarnya, lalu menambah ancaman-Nya bagi mereka, yaitu sebagai berikut:
Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib? (At Taubah 78)
Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka; dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah 74)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan orang-orang munafik ketika Allah SWT menurunkan ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan keburukan mereka?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik takut jika diturunkan-Nya ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan rahasia dan keburukan mereka, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takutkan itu. (At Taubah 64)
Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? (Muhammad 29)
Akibatnya Allah SWT tidak memaafkan mereka sekalipun mereka meminta maaf kepada Rasulullah SAW, karena mereka selalu mengulang-ulang perbuatan buruknya tersebut, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (At Taubah 66)
Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang munafik atas zakat?”
Mudariszi: “Zakat merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam yang ditetapkan dalam pokok-pokok syariat agama Islam, yaitu membayar zakat dari hartanya untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya sebagai berikut:
Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 60)
Tapi orang-orang munafik itu sangat kikir seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). (At Taubah 67)
Karena itu Allah SWT kemudian memperingatkan orang-orang munafik dengan firman-Nya ini:
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(-Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (Muhammad 38)
Tilmidzi: “Bagaimana pandangan orang-orang munafik terhadap orang-orang beriman yang bayar zakat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu’min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan untuk mereka azab yang pedih. (At Taubah 79)
Orang-orang munafik mencela orang-orang beriman yang membayar zakat dan yang tidak membayar zakat karena miskin. Mereka mencela keduanya, padahal mereka sendiri kikir dan lebih buruk dari orang-orang yang beriman. Mereka ingin agar selalu sebagai penerima zakat dan bukan sebagai pembayar zakat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (At Taubah 58)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang munafik itu mencela Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan peraturan (syariat) zakat?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. (At Taubah 74)
Orang-orang munafik menjadikan alasan Allah SWT tidak memberikan karunia-Nya kepada mereka untuk menolak membayar zakat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.” (At Taubah 75)
Tapi setelah Allah SWT mengabulkan keinginannya, orang-orang munafik itu lalu berbuat sebagai berikut:
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling; dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). (At Taubah 76)
Padahal Allah SWT telah menjelaskan kepada orang-orang munafik tersebut sebagai berikut:
Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (At Taubah 59)
Akibat dari perbuatan mereka yang selalu berbohong dan melanggar janji, maka Allah SWT menghukum mereka, yaitu sebagai berikut:
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (At Taubah 77)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu menjalankan shalat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An Nisaa’ 142)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang munafik menjalankan shalat bukan untuk menyembah Allah SWT tapi untuk kepentingan dirinya.”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu tidak menyukai agama Islam dan syariat agama Islam?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan orang munafik itu sebagai berikut:
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya.” (Al Anfaal 49)
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Al Ahzab 12)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang munafik tidak menyukai agama Islam dan syariat agama Islam. Di antara mereka ada yang tidak menyukai syariat agama Islam sejak dari beragama Islam dan ada pula yang tidak menyukainya setelah melalui perjalanan hidupnya. Ketidak sukaannya itu karena mereka menyukai kehidupan (kesenangan) dunia. Syariat agama Islam dianggap oleh mereka sebagai penghambat pencapaian keinginannya dalam kesenangan dunia. Perbuatan mereka ketika menjalani hidupnya seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Perbuatan mereka itu menunjukkan bahwa mereka telah menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW, sehingga Dia lalu mengancam mereka sebagai berikut:
Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwa barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. (At Taubah 63)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang munafik itu menjadi kafir dan menjadi penghuni neraka karena perbuatan mereka sendiri?”
Mudariszi: “Ya! Orang-orang munafik menjadi kafir dan menjadi penghuni neraka itu karena perbuatannya sendiri dan bukan karena Allah SWT atau Al Qur’an atau Rasulullah SAW. Allah SWT mengutus Rasulullah SAW kepada manusia (termasuk orang-orang munafik) untuk menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada mereka agar mereka selamat menjalani hidupnya di dunia dan di akhirat. Rasulullah SAW mengetahui apa yang akan terjadi dengan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, karena beliau telah dijelaskan dan diajarkan oleh Allah SWT melalui Al Qur’an. Rasulullah SAW ingin agar pengetahuannya itu diketahui dan dijalankan oleh umat Islam supaya mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (At Taubah 128)
Tapi Rasulullah SAW tidak dapat memaksa atau membuat manusia (termasuk orang-orang munafik) untuk beriman, kecuali mereka mengikuti Al Qur’an dan beliau. Jika di antara umat Islam ada yang berpaling dari keimanan (seperti orang-orang munafik), maka Rasulullah SAW diperintahkan-Nya untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At Taubah 129)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu menghalang-halangi manusia dari agama Islam (agama-Nya) dan dari jalan-Nya yang lurus?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik menginginkan umat Islam seperti mereka, yaitu tidak mengetahui syariat agama Islam agar tidak ada yang menghambatnya dalam mencapai keinginannya di kehidupan dunia. Karena itu mereka lalu menghalang-halangi manusia dari agama Islam atau dari mengikuti syariat agama Islam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Mereka bersumpah dengan nama Allah demi untuk tujuannya agar dipercaya dan diikuti oleh pendengarnya. Allah SWT berfirman:
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 2)
Perbuatan mereka yang menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya itu menghendaki Allah SWT menetapkan mereka sebagai berikut:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munaafiquun 3)
Jika hati mereka telah dikunci oleh Allah SWT (dalam firman-Nya di atas), maka mereka akan selalu berbuat dosa karena mereka tidak ditunjuki-Nya dan dilindungi-Nya lagi dari kejahatan syaitan. Perbuatan dosa mereka itulah yang membuat mereka menjadi penghuni neraka.”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik tidak berbeda dengan Ahli Kitab yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani?”
Mudariszi: “Ya! Orang-orang munafik tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu mereka sama-sama tidak menyukai agama Islam dan menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan jalan-Nya. Karena itu orang-orang munafik lebih memilih bekerja sama dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani daripada dengan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al Maa-idah 52)
Padahal Allah SWT telah peringatkan umat Islam melalui firman-Nya ini:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Maa-idah 51)
Karena itu orang-orang beriman lalu mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut sebagai berikut:
Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 53)
Tilmidzi: “Karena tidak menyukai agama Islam, apakah orang-orang munafik itu akan merubah Al Qur’an seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani merubah Taurat dan Injil?”
Mudariszi: “Orang-orang munafik bukan tidak mungkin ingin merubah Al Qur’an dan mereka mungkin juga bekerja sama dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi mereka tidak akan pernah berhasil merubah Al Qur’an seperti Taurat atau Injil, karena Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)
Tilmidzi: “Jika orang-orang munafik memilih orang-orang Yahudi dan Nasrani, apakah itu berarti mereka bukan dari golongan Rasulullah meskipun mereka beragama Islam?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (At Taubah 56)
Mereka bahkan merupakan musuh orang-orang yang beriman dan hal itu telah diperingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Al Munaafiquun 4)
Wallahu a’lam.