Siapakah Dajjal Dan Al Masih Dajjal Itu?

Dialog Seri 10: 93

 

Tilmidzi: “Siapakah Dajjal itu?”

 

Mudariszi: “Dajjal itu manusia pendusta atau orang yang memiliki sifat suka berdusta, dimana dustanya itu berkaitan dengan agama Allah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sehingga dibangkitkan kurang lebih tiga puluh dajjal pendusta, semuanya mengaku sebagai utusan Allah.” (HR Muslim)

 

Contoh, Ibnu Shayyad yang hidup di masa Rasulullah SAW hingga dia itu dikatakan Dajjal, sebagai berikut:

 

Dari Salim bin Abdullah, ia diberitahu Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Khatthab pernah pergi bersama Rasulullah SAW dalam suatu rombongan menuju ke tempat Ibnu Shayyad dan menemukannya sedang bermain-main dengan anak-anak kecil di dekat gedungnya Bani Maghalah, sedangkan pada waktu itu Ibnu Shayyad sudah hampir balig. Ia tidak merasa kalau ada Rasulullah SAW, sehingga beliau menepuk punggungnya lalu bersabda: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?” Ia memandang beliau lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa anda utusan orang-orang yang ummiy (tidak bisa membaca dan menulis).” Lalu ia balik bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah anda bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Beliau mendorongnya dan bersabda: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya.” Kemudian lanjutnya: “Apa yang kamu lihat?” Ia berkata: “Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Perkara ini telah menjadi kabur bagimu.” Lalu beliau melanjutkan: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Ia berkata: “Ad Dukh.” Beliau bersabda: “Cukup, kau tetap dalam tingkatanmu.” Umar bin Khatthab berkata: “Izinkan saya memancung lehernya, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalau dia Dajjal, kamu tidak akan mampu mengalahkannya; kalau bukan, maka tidak ada gunanya kamu membunuhnya.” (HR Muslim)

 

Dajjal yang dikatakan oleh Rasulullah SWT (dalam sunnah Rasulullah di atas) yaitu Al Masih Dajjal, sehingga Ibnu Shayyad itu bukan Al Masih Dajjal. Rasulullah SAW tidak mengatakan Ibnu Shayyad itu Dajjal, tapi beliau juga tidak mengatakan Ibnu Shayyad bukan Dajjal. Tetapi Rasulullah SAW tidak mengingkari ketika Umar bersumpah jika Ibnu Shayyad itu Dajjal, sebagai berikut:

 

Dari Muhammad Al Munkadir, ia berkata: “Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibnu Shaid itu Dajjal, maka aku bertanya: “Kamu berani bersumpah demi Allah?” Dia berkata: “Aku mendengar Umar bersumpah demikian di hadapan Rasulullah SAW dan beliau tidak mengingkarinya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Ibnu Shayyad mengetahui dia dikatakan Dajjal?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan oleh sahabat Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: “Kami keluar untuk menunaikan ibadah haji (atau umrah) dan Ibnu Shayyad bersama kami. Ketika kami berhenti di suatu tempat, orang-orang berpencar dan tinggallah aku dengan dia, maka aku merasa sangat jijik kepadanya lantaran apa yang dikatakan orang-orang tentang dia. Dia membawa barangnya dan meletakkannya di samping barangku, maka aku berkata: “Hari ini panas sekali, kalau saja kamu mau meletakkan barangmu di bawah pohon itu.” Dia melakukannya, kemudian kami diberi seekor kambing, maka dia pergi lalu kembali dengan membawa gelas besar dan berkata: “Minumlah, hai Abu Sa’id.” Kujawab: “Hari ini panas sekali, sedang air susu juga panas.” Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tidak senang minum dari tangannya (atau, mengambil dari tangannya). Kemudian ia berkata: “Hai Abu Sa’id, ingin sekali aku mengambil tali untuk menggantung diri di pohon lantaran apa yang dikatakan orang-orang terhadapku. Hai Abu Sa’id, haditsnya Rasulullah yang bagi orang-orang masih samar, maka bagimu tidak, hai orang Anshar! Bukankah kamu orang yang paling tahu tentang haditsnya Rasulullah? Bukankah beliau telah bersabda: “Dia (Dajjal) itu kafir?” Padahal aku muslim. Bukankah beliau telah bersabda: “Dia itu mandul, tidak mempunyai anak?” Padahal aku tinggalkan anakku di Madinah. Bukankah beliau bersabda: “Dia tidak bisa masuk Madinah dan Makkah?” Padahal aku datang dari Madinah dan sekarang menuju ke Makkah.” Kata-katanya hampir membuat aku menerima alasannya, kemudian ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya, tahu tempat kelahirannya dan dimana dia sekarang.” Aku berkata kepadanya: “Celakalah kamu selamanya.” (HR Muslim)

 

Penjelasan Ibnu Shayyad kepada sahabat Rasulullah menunjukkan dia mengetahui dikatakan Dajjal. Sahabat Rasulullah yang di awal penjelasan Ibnu Shayyad mempercayainya, tapi di akhir penjelasannya menjadi yakin jika Ibnu Shayyad itu adalah Dajjal.”

 

Tilmidzi: “Apakah Ibnu Shayyad pernah mengatakan yang benar tentang perkara yang ghaib?”

 

Mudariszi: “Ya! Contohnya seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah SAW bertanya kepada Ibnu Shayyad: “Bagaimana sifat debu surga?” Ia menjawab: “Putih seperti tepung dan harum bagaikan misik, ya Abul Qasim.” Beliau bersabda: “Kamu benar.” (HR Muslim)

 

Tapi tidak semua perkara yang ghaib diketahui oleh Ibnu Shayyad, contoh singgasana Iblis di laut tidak diketahui oleh Ibnu Shayyad, dan itu dijelaskan sunnah Rasullah ini:

 

Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bertemu dengan Ibnu Shayyad di suatu jalan di Madinah, maka Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Ia balik bertanya: “Apakah anda bersaksi bahwa saya utusan Allah?” Beliau bersabda: “Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-Kitab-Nya. Apa yang kamu lihat?” Ia menjawab: “Aku melihat singgasana di atas air.” Beliau bersabda: “Kamu melihat singgasana Iblis di atas laut. Apa yang kamu lihat?” Ia menjawab: “Aku melihat orang-orang jujur dan pendusta (atau, pendusta dan orang jujur).” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Perkaranya telah menjadi kabur baginya. Biarkan saja dia.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang singgasana Iblis itu sebagai berikut:

 

Dari Jabir, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya singgasana Iblis itu ada di atas lautan. Lalu dia mengerahkan pasukannya untuk mengganggu manusia. Yang paling hebat di antara mereka menurutnya adalah yang paling hebat fitnah (gangguan)nya.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian Ibnu Shayyad tidak mengetahui semua perkara yang ghaib. Perkara ghaib hanya diketahui oleh Allah SAW dan Rasul yang diridhai-Nya. Allah SWT berfirman:

 

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)

 

Sehingga Ibnu Shayyad itu tidak berbeda dengan tukang sihir atau peramal, yaitu hanya mengetahui perkara ghaib yang tidak utuh dari syaitan. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Az Zuhri dari Yahya bin Urwah, sesungguhnya dia mendengar Urwah pernah mengatakan: “Aisyah berkata: “Beberapa orang manusia bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai para dukun. Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Mereka itu bukan apa-apa.” Mereka menyahut: “Wahai Rasulullah, tetapi kadang-kadang mereka menceritakan sesuatu yang ternyata benar.” Rasulullah SAW bersabda: “Itu adalah kalimat dari jin yang direkam oleh jin lain lalu diperdengarkan ke telinga pembantunya seperti suara ayam jantan. Kemudian mereka mencampurinya dengan lebih dari seratus macam kedustaan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Tapi apakah Ibnu Shayyad diberikan kelebihan oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ibnu Shayyad memiliki kelebihan dari Allah SWT yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Contoh kelebihan itu dijelaskan sahabat Rasulullah sebagai berikut:

 

Ibnu Umar berkata: “Aku pernah bertemu dengan Ibnu Shayyad dua kali. Kami bercakap-cakap lalu aku meninggalkannya. Kemudian aku bertemu dengannya pada ketika yang lain, sedang matanya bengkak, maka aku bertanya: “Kapan terjadi matamu seperti yang aku lihat?” Dia berkata: “Aku tidak tahu.” Aku berkata: “Kamu tidak tahu, padahal ia berada di kepalamu?” Ia berkata: “Kalau Allah menghendaki, Ia akan menciptakannya di tongkatmu ini.” Kemudian ia mendengus sangat keras seperti dengusan keledai yang pernah aku dengar. Maka sebagian kawanku menyangka aku telah memukulnya dengan tongkat yang kubawa sampai patah. Adapun aku, maka demi Allah, aku tidak merasa.” Kemudian Ibnu Umar datang ke rumahnya ummul mu’minin lalu bercerita kepadanya, maka ia (Ummul Mu’minin) berkata: “Apa yang kamu kehendaki darinya? Bukankah kamu tahu bahwa beliau telah bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali membangkitkannya terhadap manusia adalah kemarahan yang melandanya?” (HR Muslim)

 

Dari Nafi, ia berkata: “Ibnu Umar bertemu dengan Ibnu Shayyad di suatu jalan di Madinah, kemudian Ibnu Umar mengatakan suatu ucapan yang membuat Ibnu Shayyad marah, maka Ibnu Shayyad menggembung sampai memenuhi jalan. Kemudian Ibnu Umar ke rumahnya Hafsah yang telah mendengar kejadian tersebut, ia berkata kepada Ibnu Umar: “Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu. Apa yang kamu kehendaki dari Ibnu Shayyad? Bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ia hanya keluar lantaran kemarahan yang melandanya?” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Lalu siapakah Al Masih Dajjal itu?”

 

Mudariszi: “Al Masih Dajjal dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Abdullah bin Umar berkata: “Pada suatu hari, di depan banyak orang Rasulullah SAW menuturkan tentang Al Masih Dajjal. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu tidaklah buta sebelah mata. Ingatlah, bahwa Al Masih Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan, seakan-akan matanya itu buah anggur yang mengapung.” Rasulullah SAW selanjutnya bersabda: “Pada suatu malam ketika aku sedang tidur di dekat Ka’bah, aku bermimpi bertemu seorang lelaki berkulit sawo matang (coklat), sepertinya itulah kecoklatan lelaki paling baik yang pernah engkau lihat. Kegondrongan rambutnya sampai di antara kedua pundaknya dengan tersisir rapi dan kepalanya masih meneteskan air. Dia meletakkan kedua tangannya di atas pundak dua orang lelaki. Di antara mereka berdualah dia melakukan thawaf di Baitullah. Aku bertanya: “Siapakah orang ini?” Orang-orang mengatakan: “Al Masih bin Maryam.” Dan aku melihat di belakangnya seorang lelaki yang berambut sangat keriting, buta mata kanannya, sepertinya sangat mirip dengan ibn Qaththan yang pernah kulihat. Dia meletakkan kedua tangannya pada pundak dua orang, sambil berthawaf di Baitullah. Aku bertanya: “Siapa pula ini?” Orang-orang menjawab: “Ini adalah Al Masih Dajjal.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Masih Dajjal itu manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ali bin Zaid dari Abdur Rahman bin Bakrah dari Ayahnya, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ayah Dajjal dan Ibunya tinggal selama tiga puluh tahun tanpa dikarunia anak. Lalu dikaruniai anak laki-laki yang buta mata sebelah, sesuatu yang paling membahayakan dan sedikit manfaatnya, kedua matanya tidur, tapi kedua hatinya tidak tidur.” Rasulullah SAW menerangkan kepada kami ciri-ciri kedua orang tuanya. Beliau bersabda: “Ayahnya sangat tinggi lagi kurus dagingnya seolah-olah hidupnya seperti paruh dan Ibunya adalah perempuan gemuk serta panjang teteknya.” (HR Tirmidzi)

 

Al Masih Dajjal tersebut beragama Yahudi, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: “Ibnu Shayyad berkata kepadaku yang membuat aku sungkan kepadanya, katanya: “Ini alasanku kepada orang-orang. Kenapa aku dan kenapa pula kalian? Hai sahabat Muhammad, bukankah Nabiyullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya Dajjal itu beragama Yahudi.” Padahal aku masuk Islam. Beliau bersabda: “Ia tidak mempunyai anak.” Sedangkan aku punya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan Makkah kepadanya.” Padahal aku telah menunaikan haji.” Ia berkata terus sehingga hampir membuat aku percaya pada ucapannya.” Kemudian Ibnu Shayyad berkata kepada Abu Sa’id: “Ingat, demi Allah, sesungguhnya aku tahu dimana dia sekarang, dan aku mengenal Ayah Ibunya.” Lalu kepada Ibnu Shayyad ditanyakan: “Apakah kamu gembira andaikata orang itu adalah kamu?” Ia menjawab: “Jika diserahkan kepadaku, aku tidak menolaknya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah semua Nabi yang diutus oleh Allah SWT menjelaskan tentang Dajjal kepada umatnya?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan Dajjal sebagai berikut:

 

Diriwayatkan dari suatu kelompok, di antara mereka adalah Abu Dahmaa dan Abu Qatadah, mereka berkata: “Kami pernah melewati Hisyam bin Amir ketika kami akan menemui lmran bin Hushain, maka pada suatu hari Hisyam berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada satu makhlukpun sejak diciptakannya Nabi Adam sampai hari kiamat yang besarnya (perkaranya) melebihi Dajjal.” (HR Muslim)

 

Karena besarnya perkara Dajjal (seperti sunnah Rasulullah di atas), maka Allah SWT menjelaskan tentang Dajjal kepada semua Nabi yang diutus-Nya agar semua Nabi itu memperingatkan umatnya tentang Dajjal. Tapi Rasulullah SAW menjelaskan kepada umatnya lebih terperinci lagi tentang Dajjal, yaitu Al Masih Dajjal, karena dia akan keluar di masa umat beliau, sebagai berikut:

 

Dari Abdullah ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah SAW berdiri kepada orang-orang, maka beliau memuji kepada Allah dengan pujian yang merupakan hak Allah, kemudian beliau menutur Dajjal, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku memperingatkan kamu pada Dajjal, dan tidak ada seorang Nabipun kecuali dia sungguh memperingatkan kaumnya padanya (Dajjal), dan tetapi aku akan mengatakan kepadamu mengenai Dajjal dengan suatu perkataan yang belum dikatakan oleh seorang Nabipun kepada kaumnya: Sesungguhnya dia buta sebelah dan sesungguhnya Allah tidaklah buta sebelah.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Salamah, ia berkata: “Aku mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kamu aku beritahu tentang Dajjal suatu keterangan yang belum pernah diceritakan oleh seorang Nabi pun kepada kaumnya? Sesungguhnya ia buta sebelah: ia datang dengan membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Maka apa yang dikatakannya surga, ia neraka; dan aku memperingatkan kamu terhadap dia sebagaimana Nabi Nuh memperingatkan kaumnya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap orang mukmin dapat membaca tulisan kafir di antara kedua mata Al Masih Dajjal, yaitu sebagai berikut:

 

Ibnu Syihab berkata: “Aku diberitahu oleh Umar bin Tsabit Al Anshariy, bahwa sebagian sahabat Rasulullah SAW bercerita kepadanya, bahwa pada hari Rasulullah SAW memperingatkan orang-orang tentang Dajjal, beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis “Kafir”, orang yang tidak senang kepadanya bisa membaca tulisan itu (atau, setiap orang mu’min bisa membacanya). Ketahuilah, sesungguh¬nya tidak seorangpun dari kamu yang dapat melihat Tuhannya, Azza wa Jalla, sampai mati.” (HR Muslim)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Matanya Dajjal itu tidak bercahaya dan di antara kedua matanya tertulis: kafir.” Beliau mengejanya: “Kaaf fa’ ra’, setiap orang muslim dapat membacanya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Dimana Al Masih Dajjal?”

 

Mudariszi: “Al Masih Dajjal di masa Rasulullah SAW ditempatkan oleh Allah SWT di suatu pulau. Dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Diceritakan oleh Amir bin Syarahil Asy Sya’’biy, Sya’bu Hamdan bahwa ia bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudaranya Dhahhak bin Qais dan termasuk wanita yang pertama hijrah, katanya: “Ceritakan kepada saya suatu hadits yang anda dengar dari Rasulullah SAW dan tidak anda isnadkan kepada siapapun selain beliau.” Fatimah berkata: “Ketika iddah saya habis, saya mendengar seruan seorang penyeru yaitu penyerunya Rasulullah SAW, ia berseru: “Ash Shalatu Jami’ah.” Maka saya ke masjid shalat bersama Rasulullah SAW. Saya berada di saf wanita yang tepat di belakang kaum lelaki. Setelah Rasulullah SAW menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di mimbar sambil tertawa lalu bersabda: “Hendaklah semua orang tetap di tempatnya. Tahukah kalian mengapa aku kumpulkan?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Demi Allah, aku mengumpulkan kalian tidak untuk suatu kegembiraan atau ketakutan, tetapi aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad Dariy yang dulu seorang Nasrani telah datang untuk berbaiat dan masuk Islam. Ia menceritakan kepadaku suatu cerita yang cocok dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadamu tentang Masihid Dajjal. Ia bercerita bahwa ia pernah naik perahu bersama dengan tiga puluh orang dari Lakhm dan Judzam. Mereka dipermainkan ombak selama sebulan lalu berlindung ke suatu pulau sampai ke tempat matahari terbenam dengan duduk di sekoci dan mendarat di pulau tersebut. Disana mereka bertemu dengan binatang yang berbulu lebat lagi kasar, mereka tidak tahu yang mana bagian depan dan mana bagian belakangnya lantaran lebatnya bulunya. Mereka berkata: “Celaka. Siapa kamu?” Binatang itu menjawab: “Aku mata-mata.” Mereka bertanya lagi: “Apa mata-mata itu?” Ia berkata: “Hai kaum, pergilah menemui lelaki yang ada di biara, ia ingin sekali mendengar berita dari kalian.” Kemudian Tamim melanjutkan ceritanya, katanya: “Ketika ia menyebutkan seseorang, kami khawatir jika ia ternyata setan. Maka kami cepat-cepat pergi. Tatkala kami memasuki biara, disana ada manusia paling besar yang pernah kami lihat terikat sangat kuat, antara lutut sampai mata kakinya dikumpulkan ke lehernya dengan besi. Kami bertanya: “Siapa kamu?” Ia berkata: “Kalian telah tahu tentang beritaku, sekarang beritahu aku siapa kalian?” Mereka berkata: “Kami orang dari tanah Arab. Kami naik perahu lalu berjumpa dengan gelombang besar maka kami dipermainkannya selama sebulan kemudian kami berlindung ke pulaumu ini dengan naik sekoci lantas mendarat. Kami bertemu dengan binatang yang berbulu lebat lagi kasar, tidak diketahui yang mana bagian depannya dan mana bagian belakangnya lantaran lebatnya bulunya. Kami bertanya: “Celaka. Siapa kamu?” Dia berkata: “Aku mata-mata.” Kami bertanya lagi: “Apa mata-mata itu?” Ia berkata: “Pergilah menemui seorang lelaki di biara, ia sangat ingin mendengar berita dari kamu.” Maka dengan cepat kami menemuimu, kami takut terhadapnya dan khawatir jika ternyata dia itu setan. Lelaki itu berkata: “Beritahu aku tentang pohon kurma di Baisan (desa di Syam).” Kami bertanya: “Tentang apanya yang ingin kau ketahui?” Ia berkata: “Tentang pohon kurmanya, apakah berbuah?” Kami jawab: “Ya.” Ia berkata: “Ingat, sebentar lagi tidak berbuah. Beritahu aku tentang Danau Thabariyah (danau di Syam).” Kami berkata: “Tentang apanya yang ingin kau ketahui?” Ia berkata: “Apakah ada airnya?” Mereka berkata: “Airnya banyak.” Ia berkata: “Ingat sebentar lagi kering. Beritahu aku tentang mata air di Zughar.” Mereka bertanya: “Tentang apanya yang ingin kamu ketahui?” Ia berkata: “Apakah ada airnya, dan apakah penduduk disana menggunakannya untuk bercocok tanam?” Kami berkata: “Ya, airnya banyak dan penduduk disana menggunakannya untuk bercocok tanam.” Ia berkata: “Beritahu aku tentang Nabi nya orang-orang ummiy, apa yang dilakukannya?” Mereka berkata: “Beliau keluar dari Makkah dan berdiam di Yatsrib.” Ia bertanya lagi: “Apakah ia dimusuhi orang-¬orang Arab?” Kami jawab: “Ya.” Ia bertanya: “Apa yang dilakukannya terhadap mereka?” Kami ceritakan bahwa Nabi menolong orang-orang Arab yang mengikuti beliau dan mereka taat kepada beliau. Ia berkata: “Benarkah demikian itu?” Kami jawab: “Ya.” Ia berkata: “Sesungguhnya demikian itu lebih baik bagi mereka. Sekarang aku beritahu tentang diriku. Sesungguhnya aku ini Al Masih. Sebentar lagi aku diizinkan keluar, maka aku akan keluar dan melanglang buana. Setiap desa pasti aku diami selama empat puluh malam selain Makkah dan Thaibah, kedua-duanya diharamkan atas diriku, setiap kali aku bermaksud memasuki salah satunya, aku dihadang malaikat dengan pedang terhunus, dan di setiap jalan bukitnya ada malaikat yang menjaganya.” Kemudian Fatimah berkata: “Rasulullah SAW bersabda sambil menusukkan tongkatnya ke mimbar: “Ini Thaibah, ini Thaibah, ini Thaibah (yakni Madinah). Bukankah aku pernah menceritakan hal itu kepada kalian?” Orang-orang berkata: “Ya.” Beliau bersabda lagi: “Aku heran ceritanya Tamim bisa sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadamu tentang Dajjal, Madinah dan Makkah. Sesungguhnya dia di laut Syam atau laut Yaman. Bukan, tetapi dari arah Timur, dari arah Timur, dari arah Timur.” Dan beliau menunjuk ke Timur. Hadits inilah yang aku hafal dari Rasulullah SAW.” (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Al Masih Dajjal di masa Rasulullah SAW berada dalam pemeliharaan Allah SWT hingga ke waktu yang Dia tetapkan.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT memandang Al Masih Dajjal?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Al-Mughirah ibn Syu’bah, dia berkata: “Tidak ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai Dajjal seperti (sebanyak) yang aku tanyakan kepada beliau, dan sungguh beliau bersabda kepadaku: “Tidaklah dia (Dajjal) mudharat terhadap kamu sedikitpun.” Aku berkata: “Karena mereka mengatakan bahwa bersama Dajjal adalah gunung roti dan sungai air.” Beliau bersabda: “Itu, lebih mudah bagi Allah (membuat sesuatu) dari pada demikian.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT menjadikan Al Masih Dajjal dengan diberikan beberapa kelebihan seperti Dia menjadikan Iblis, tapi keduanya kafir kepada-Nya. Perbedaannya, Al Masih Dajjal dari golongan manusia yang dapat dilihat, sedangkan Iblis dari golongan Jin yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Keduanya dijadikan oleh Allah SWT untuk menguji manusia dan amal perbuatannya, yaitu untuk mengetahui manusia menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti Allah SWT, agama-Nya dan jalan-Nya, atau mengikuti Iblis (syaitan) atau mengikuti Al Masih Dajjal (syaitan).”

 

Tilmidzi: “Kapan Al Masih Dajjal itu keluar menjumpai manusia?”

 

Mudariszi: “Al Masih Dajjal keluar menjumpai manusia setelah pasukan Islam menaklukkan Konstantinopel (Rumawi atau Ahli Kitab Nasrani). Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abi Bakrah bin Abi Maryam dari Al Walid bin Sufyan dari Yazid bin Qutaib As Sukuni dari Abi Bahriyyah sahabat Muadz bin Jabbal dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Peperangan yang dahsyat, terbukanya Konstantinopel dan keluarnya Dajjal itu dalam tujuh bulan.” (HR Tirmidzi)

 

Jabir berkata: “Nafi berkata: “Hai Jabir, kita tidak akan melihat Dajjal keluar sebelum Rum ditaklukkan.” (HR Muslim)

 

Al Masih Dajjal keluar ketika Khalifah sedang membagi-bagikan ghanimah setelah pasukan Islam menaklukkan Konstantinopel, sebagai berikut:

 

Dari Yusair bin Jabir, ia berkata: “Waktu di Kufah bertiup angin merah, datang seseorang yang tidak biasa datang, ia berkata: “Hai Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah tiba.” Ibnu Mas’ud yang asalnya bertelekan itu kemudian duduk dan berkata: “Setelah pertempuran selesai, orang-orang saling menghitung, yang asalnya seratus, ternyata hanya tinggal seorang, maka ghanimah manakah yang membuat gembira atau warisan manakah yang akan dibagi? Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba mereka mendengar bencana yang lebih besar daripada itu. Kemudian datang seseorang yang berteriak: “Sesungguhnya Dajal telah menggantikan mereka di dalam anak cucu mereka.” Maka mereka meninggalkan apa yang ada di tangan mereka lalu menghadap, kemudian mereka mengirim sepuluh tentara berkuda sebagai pasukan perintis. Rasulullah SAW bersabda: “Aku mengetahui nama-nama mereka, nama Ayah mereka dan warna kuda-kuda mereka. Mereka adalah penunggang kuda terbaik yang ada di muka bumi pada waktu itu, atau, termasuk penunggang kuda terbaik di muka bumi pada waktu itu.” (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Al Masih Dajjal keluar ketika umat Islam yang beriman sedang di Syam mengikuti perintah Rasulullah untuk memerangi Ahli Kitab yang memimpin negeri-negeri di bumi. Sehingga umat Islam yang tidak ke Syam dapat dikatakan umat Islam yang munafik yang akan mengikuti Al Masih Dajjal. Al Masih Dajjal keluar dari arah Timur yaitu dari Khurasan yang diikuti oleh tujuh puluh ribu orang-orang Yahudi. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Bakkar Ash Shiddiq, dia berkata: “Rasulullah SAW menceritakan kepada kami seraya bersabda: “Dajjal itu keluar di suatu negeri di arah Timur yang disebut Khurasan, dia diikuti oleh kaum seolah-olah mereka seperti perisai yang dipalu.” (HR Tirmidzi)

 

Dari Ishaq bin Abdullah dari pamannya, Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada tujuh puluh ribu orang Yahudi Ashfahan yang mengikuti Dajjal, mereka memakai thailasan (jubah yang biasa dipakai ulama Persia).” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah yang dibawa oleh Al Masih Dajjal ketika keluar?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Hudzaifah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku tahu apa yang dibawa Dajjal. Ia membawa dua sungai yang mengalir. Salah satunya (dapat dilihat dengan jelas) berupa air yang putih, sedang yang lain (juga dapat dilihat jelas) berupa air yang menyala-nyala. Jika salah seorang dari kamu mendapatinya, hendaklah ia mendatangi sungai yang dilihatnya berupa api kemudian menutupinya, setelah itu menundukkan kepalanya dan minum dari sungai tadi, karena sesungguhnya itu air yang dingin. Sesungguhnya matanya Dajjal itu tidak bercahaya, tertutup selembar daging yang tebal. Di antara kedua matanya tertulis: kafir, setiap orang mukmin, yang dapat menulis maupun tidak, bisa membacanya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana umat manusia setelah Al Masih Dajjal keluar?”

 

Mudariszi: “Umat manusia ketika Al Masih Dajjal keluar berada dalam keburukan akhlak yang rendah karena mereka tidak beragama dengan agama Allah yang benar. Mereka tidak mengetahui Al Masih Dajjal dengan benar. Kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir, munafik dan musyrik. Sedangkan umat Islam yang beriman yang tidak ke Syam dan mereka mengetahui tentang Al Masih Dajjal, maka mereka lari ke gunung-gunung. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Diceritakan oleh Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata: “Aku diberitahu Ummu Syarik bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh manusia akan berlari ke gunung-gunung menghindar dari Dajjal.” Ummu Syarik bertanya: “Wahai Rasulullah, dimana orang Arab waktu itu?” Beliau bersabda: “Mereka sedikit.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Al Masih Dajjal setelah bertemu dengan manusia?”

 

Mudariszi: “Al Masih Dajjal dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT lalu membuat orang-orang kafir, munafik dan musyrik itu tunduk dan beriman kepadanya. Mereka menjadi percaya Al Masih Dajjal itu adalah tuhan mereka. Sebagai pendusta besar, itulah yang diinginkan oleh Al Masih Dajjal. Dan itulah puncak dari fitnah-fitnah yang datang kepada manusia sebagai ujian daripada Allah, yaitu fitnah Dajjal. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Al Masih Dajjal meyakini orang-orang jika dia itulah tuhan, sebagai berikut:

 

Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, terkadang beliau memelankan suaranya dan terkadang mengeraskannya sehingga kami menyangka Dajjal ada di kebun kurma. Ketika kami mendatanginya, beliau mengetahui keadaan kami, maka beliau bertanya: “Ada apa kalian?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, anda bercerita tentang Dajjal, terkadang anda memelankan suara dan terkadang mengeraskannya sehingga kami menyangka Dajjal ada di kebun kurma.” Beliau bersabda: “Ketakutan kepada selain Dajjal adalah yang paling aku khawatirkan atas dirimu. Kalau dia keluar dan aku masih berada di tengah kalian, akulah yang berdebat dengannya untuk melindungi kalian; tapi jika dia keluar dan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang berdebat untuk menolong dirinya sendiri, dan Allah adalah penggantiku untuk setiap orang muslim. Dia adalah pemuda yang berambut keriting, matanya menyembul keluar, menurutku seperti Abdul Uzza bin Qathan. Oleh karena itu, siapapun di antara kamu yang bertemu dengannya, hendaklah membacakan permulaan surat Al Kahfi. Sesungguhnya ia keluar dari jalan antara Syam dan Irak kemudian merusak kanan kirinya. Hai hamba-hamba Allah, tabahlah!” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, berapa lamanya ia berdiam di bumi?” Beliau bersabda: “Empat puluh hari; yang sehari seperti setahun, sehari lagi seperti sebulan, sehari lagi seperti seminggu, dan sisa-sisa harinya seperti hari-harimu.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, hari yang seperti setahun tadi, cukupkah bagi kami shalat satu hari saja pada hari itu?” Beliau menjawab: “Tidak. Jadi buatlah perkiraan untuk waktu shalat.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?” Beliau menjawab: “Seperti hujan yang ditiup angin. Maka ia mendatangi suatu kaum lalu mengajak mereka, maka mereka beriman kepadanya dan mau menjawab ajakannya. Setelah itu ia memerintahkan langit (agar menurunkan hujan), maka langitpun menurunkan hujan; memerintahkan bumi (agar menumbuhkan tumbuh-tumbuhan), maka bumipun menumbuhkan tumbuh-tumbuhan; pada waktu sore gembalaan mereka pulang dengan punuk yang panjang, kambing yang berisi dan lambung yang menggelayut. Kemudian Dajjal menolaknya, maka ia meninggalkan mereka. Pada keesokan harinya mereka mengalami paceklik, tiada suatu hartapun yang ada pada mereka. Kemudian Dajjal melewati suatu reruntuhan lalu berkata kepada reruntuhan tersebut: “Keluarkan harta simpananmu.” Maka simpanan tadi mengikutinya bagaikan gerombolan lebah. Setelah itu ia memanggil seorang pemuda lalu dipukulnya dengan pedang dan dipotong menjadi dua bagian yang jarak antara keduanya kira-kira satu lemparan, lantas dipanggilnya, maka pemuda itu menghadap sambil tertawa dan wajahnya bersinar.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Masih Dajjal mendatangi Mekkah dan Madinah?”

 

Mudariszi: “Al Masih Dajjal mendatangi Madinah, tapi dia tidak dapat memasukinya karena Madinah dijaga oleh malaikat. Mekkah juga di jaga oleh malaikat hingga Al Masih Dajjal tidak dapat memasukinya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Madinah itu akan didatangi Dajjal, lalu dia menemukan para Malaikat penjaganya, maka Dajjal itu tidak mendekat padanya (Madinah).” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Bakrah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Dajjal tidak akan bisa masuk Madinah karena ketakutan. Dan pada hari itu untuk Madinah terdapat tujuh pintu dimana setiap pintu terjaga dua malaikat.” (HR Bukhari)

 

Al Masih Dajjal hanya sampai di pinggiran Madinah. Ketika itu Madinah tiba-tiba digoncang gempa sebanyak tiga kali dan mengeluarkan orang-orang kafir, orang-orang munafik dan umat Islam yang tidak beragama dengan agama Islam yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW (umat Islam yang berbuat bid’ah atau beragama mengikuti golongan-golongan). Mereka semua pergi kepada Al Masih Dajjal, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas Ibn Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dajjal akan datang (dari Timur, Khurasan) hingga menempat di pinggir Madinah, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, maka keluarlah kepadanya (Dajjal) setiap orang kafir dan munafik.” (HR Bukhari)

 

Diceritakan oleh Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada satu daerahpun yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah, tiada satu jalan bukit pun di Madinah melainkan disana ada malaikat yang berjajar menjaganya, maka Dajjal berhenti di tanah yang lembab kemudian Madinah digoncang gempa tiga kali, semua orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal.” (HR Muslim)

 

Di antara penduduk Madinah ada seorang pemuda yang beriman dan dia mengetahui tentang Al Masih Dajjal dari sunnah Rasulullah. Karena itu dia mengingkari Al Masih Dajjal walaupun dia telah dianiaya dengan sangat keras. Penganiayaan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Sa’id, Al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Waktu Dajjal keluar, ada seorang mu’min yang menuju ke arahnya. Ia disambut oleh pengawal-pengawal Dajjal yang bersenjata pedang. Mereka bertanya: “Kamu mau kemana?” Ia menjawab: “Aku akan menemui orang yang keluar ini.” Mereka bertanya lagi: “Apa kamu beriman kepada tuhan kami?” Ia menjawab: “Tiada kesamaran sedikitpun pada Tuhan kami.” Mereka berkata: “Bunuh saja dia!” Sebagiannya berkata: “Bukankah tuhan kalian telah melarang kalian membunuh siapapun dalam membelanya?” Maka mereka membawanya kepada Dajjal. Ketika orang mu’min itu melihatnya, ia berkata: “Hai manusia, ini adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah SAW.” Maka Dajjal memerintahkan agar lelaki itu dibelenggu, katanya: “Tangkap dan pecahkan kepalanya!” Akhirnya punggung dan perutnya dipukuli. Setelah itu Dajjal bertanya: “Apakah kamu beriman kepadaku?” Ia berkata: “Kamu adalah Al Masih yang pendusta.” Maka diperintahkan agar ia digergaji dari tengah kepalanya (dibelah) sehingga kedua kakinya terpisahkan lalu Dajjal berjalan di antara kedua bagian tubuh itu lantas berkata: “Berdirilah!” Orang itu berdiri tegak, terus Dajjal bertanya lagi: “Apakah kamu beriman kepadaku?” Ia menjawab: “Aku hanya bertambah mengenal dirimu.” Kemudian ia berkata lagi: “Hai manusia, sesungguhnya ia tidak akan berbuat terhadap seorangpun sesudah aku.” Maka Dajjal menangkapnya untuk disembelih, ia menetakkan tembaga di batang tenggorokan orang tadi, tetapi tidak mampu menyembelihnya, maka Dajjal memegang kedua tangan dan kakinya lalu melemparkannya. Orang-orang gembira bahwa Dajjal melemparkannya ke neraka, padahal ia dilemparkan ke surga.” Setelah itu Rasulullah SAW bersabda lagi: “Ini adalah manusia yang paling hebat kesaksiannya di sisi Tuhan semesta alam.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Kemana Al Masih Dajjal selanjutnya pergi dari Madinah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dajjal datang, jika dia sampai di belakang gunung Uhud, maka para malaikat memalingkan mukanya ke arah Syam dan disana dia binasa.” (HR Tirmidzi)

 

Syam dalam sunnah Rasulullah di atas adalah Palestina, karena Palestina di masa Rasulullah berada di bawah Syam (Suriah).”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply