Dialog Seri 10: 97
Tilmidzi: “Apakah yang Nabi ‘Isa dan Khalifah Islam lakukan setelah membunuh Al Masih Dajjal dan mengalahkan pasukan Yahudi?”
Mudariszi: “Setelah Nabi ‘Isa membunuh Al Masih Dajjal, beliau kemudian diperintahkan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Kemudian beliau (Isa) mencari Dajjal dan menemukannya di Babu Ludd (daerah dekat Baitul Muqqadas) lalu membunuhnya. Setelah itu beliau didatangi kaum yang telah dijaga Allah dari kejahatan Dajjal, beliau mengusap wajah mereka lalu menceritakan derajat mereka di surga. Ketika beliau dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah memberikan wahyu: “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku, tiada seorangpun yang mampu membunuhnya, maka jaga dan kumpulkanlah hamba-hamba-Ku di gunung Thur.” (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Lalu beliau (Isa) mencari Dajjal sehingga menjumpainya di pintu Ludd (daerah Baitul Maqdis) kemudian beliau membunuhnya.” Beliau bersabda: “Lalu beliau (Isa) tinggal dalam keadaan seperti itu menurut kehendak Allah.” Beliau bersabda: “Kemudian Allah memerintahkan kepadanya: “Singkirkan hamba-hamba-Ku ke gunung karena sesungguhnya Aku tempatkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada seorangpun mampu memerangi mereka.” (HR Tirmidzi)
Sunnah Rasulullah SAW di atas menunjukkan bahwa Nabi ‘Isa diperintahkan-Nya untuk membawa hamba-hamba-Nya ke gunung Thur karena mereka akan diperangi.”
Tilmidzi: “Apakah gunung Thur itu di Palestina (Israel sekarang)?”
Mudariszi: “Gunung Thur itu gunung tempat Nabi Musa bermunajat kepada Allah SWT ketika menerima kitab Taurat. Allah SWT berfirman:
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan Nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). (Maryam 51-52)
Gunung Thur itu bukan di Palestina (Israel) karena Nabi Musa memasuki Palestina setelah beliau menerima Taurat dan setelah beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk membawa kaumnya (Bani Israil) ke Palestina, yaitu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-Nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun; (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Maa-idah 20-26)
Dengan Nabi Musa memerintahkan kaumnya (Bani Israil) memasuki Palestina (dalam firman-Nya di atas), itu menunjukkan bahwa Nabi Musa ketika itu di luar Palestina (Israel) yaitu setelah menerima Taurat di gunung Thur. Sehingga gunung Thur itu bukan di Palestina (Israel).”
Tilmidzi: “Siapakah yang akan memerangi hamba-hamba-Nya itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Kemudian Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj yang dengan cepat turun dari tempat-tempat yang tinggi. (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka seperti apa yang difirmankan Allah: “Mereka dari setiap tanah yang tinggi berjalan dengan cepat.” (surat Al Anbiyaa’ ayat 96). (HR Tirmidzi)
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Al Anbiyaa’ 96)
Kaum Ya’juj dan Ma’juj tersebut adalah kaum yang suka membuat kerusakan di bumi, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al Kahfi 94)
Ketika Nabi ‘Isa dan pasukan umat Islam memerangi Al Masih Dajjal dan pasukan Yahudi, bukan tidak mungkin kaum Ya’juj dan Ma’juj membantu pasukan Yahudi karena mereka tunduk kepada Al Masih Dajjal. Dan setelah mengetahui kematian Al Masih Dajjal dan kekalahan pasukan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka lalu turun dengan cepat dari tempat-tempat yang tinggi menuju ke Palestina untuk memerangi Nabi ‘Isa dan pasukan umat Islam. Jumlah pasukan Ya’juj dan Ma’juj tersebut sangat banyak dan itu diketahui dari tidak cukupnya air danau Thabariyah di Palestina sebagai minuman bagi mereka semua. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Kemudian Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj yang dengan cepat turun dari tempat-tempat yang tinggi. Ketika yang terdepan dari mereka melewati danau Thabariyah, mereka minum apa yang ada disitu; dan tatkala yang terakhir lewat, mereka berkata: “Sungguh di tempat ini pernah ada air.” (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Permulaan rombongan mereka melewati laut kecil Athabariyyah lalu meminum air yang ada di dalamnya, kemudian akhir rombongan melewatinya lalu berkata: “Sungguh di tempat ini pernah ada air.” (HR Tirmidzi)
Dengan demikian, Allah SWT memerintahkan Nabi ‘Isa untuk membawa hamba-hamba-Nya ke gunung Thur dan menjaganya, yaitu agar mereka selamat dari pasukan Ya’juj dan Ma’juj yang sangat banyak dan ingin membunuh mereka.”
Tilmidzi: “Apakah kaum Ya’juj dan Ma’juj itu membunuh semua yang dianggap sebagai musuhnya?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Lalu mereka berjalan sehingga sampai di gunung Baitul Maqdis lalu berkata: “Sungguh kami telah membunuh orang yang berada di bumi, marilah kita membunuh orang yang ada di langit.” Lalu mereka melemparkan panah mereka ke langit. Kemudian Allah mengembalikan panah mereka kepada mereka dalam keadaan berwarna merah darah.” (HR Tirmidzi)
Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dan Walid bin Muslim, Ibnu Hujr berkata: “Sesudah kata-kata “Sungguh di tempat ini pernah ada air”, mereka berjalan terus sehingga sampai di Gunung Khumar, yaitu gunung di Baitul Muqaddas, kemudian mereka berkata: “Kita telah membunuh orang-orang yang ada di bumi, mari kita bunuh yang ada di langit”, maka mereka melepaskan panahnya ke langit, tetapi Allah mengembalikannya kepada mereka dengan bernoda darah.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa agar selamat dari kaum Ya’juj dan Ma’juj tersebut?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Dan Nabiyullah Isa dan sahabat-sahabatnya dikepung sehingga kepala seekor lembu bagi salah seorang dari mereka lebih baik dari pada seratus dinar bagi salah seorang dari kamu pada hari ini; kemudian Nabiyullah Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah.” (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Isa bin Maryam dan teman-temannya dikepung sehingga kepala sapi pada hari itu lebih baik bagi mereka daripada seratus dinar bagi seseorang di antara kamu pada hari ini.” Beliau bersabda: “Lalu Isa bin Maryam dan sahabatnya memohon kepada Allah agar membinasakan mereka.” (HR Tirmidzi)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Nabi ‘Isa dan hamba-hamba-Nya lalu berdoa (meminta) kepada Allah SWT agar mematikan kaum Ya’juj dan Ma’juj.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan mereka?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Maka Allah mengirim ulat ke tengkuk mereka (Ya’juj) dan (Ma’juj) sehingga mereka semua mati seperti matinya satu jiwa. (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Allah mengirimkan atas mereka (Ya’juj dan Ma’juj) ulat pada leher mereka, lalu pagi-pagi mereka menjadi mangsa binatang buas serta mati seperti matinya satu orang.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah Nabi ‘Isa dan hamba-hamba-Nya kemudian turun ke daratan (dari gunung Thur)?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Setelah itu Nabiyullah Isa dan sahabat-sahahatnya turun ke bumi. Mereka tidak menemukan sejengkal pun tempat di bumi kecuali telah dipenuhi lemaknya Ya’juj dan Ma’juj yang berbau busuk. Maka Nabiyullah Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah. (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Isa dan sahabat-sahabatnya turun tapi tidak menjumpai sejengkal tempat melainkan dipenuhi lemak, bau busuk dan darah mereka.” Beliau bersabda: “Lalu Isa dan sahabat-sahabatnya memohon kepada Allah.” (HR Tirmidzi)
Keadaan di daratan yang buruk karena matinya semua kaum Ya’juj dan Ma’juj, lalu membuat Nabi ‘Isa dan hamba-hamba-Nya meminta kembali kepada Allah SWT.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan mereka?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawwas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajjal, beliau bersabda: “Maka Allah mengirim burung seperti unta yang kemudian membawa mereka (Ya’juj dan Ma’juj) dan melemparkannya di tempat yang dikehendaki Allah; kemudian Allah mengirim hujan yang tidak dapat dihalangi oleh rumah dari tanah maupun dari bulu, maka hujan tadi mencuci bumi sampai bersih seperti kaca. (HR Muslim)
Dari An Nawas bin Sam’an Al-Kilabi, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Allah mengirimkan atas mereka burung-burung yang lehernya seperti leher unta, lalu membawa mereka (mayat-mayat tersebut) dan melemparkan mereka ke tebing. Dan orang-orang muslim menyalakan api dengan anak panah, panah dan tempat panah mereka selama tujuh tahun dan Allah menurunkan atas mereka hujan yang karenanya rumah yang terbuat dari bulu (rumah kota) maupun rumah yang terbuat dari tanah keras (rumah badui) tidak tertutup apapun.” Beliau bersabda: “Lalu hujan itu mencuci bumi kemudian membiarkannya seperti cermin.” (HR Tirmidzi)
Setelah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi ‘Isa dan hamba-hamba-Nya dengan menurunkan hujan, bumi kembali menjadi bersih dari keburukan dan ditinggali dengan baik oleh hamba-hamba-Nya yang meneruskan perjalanan hidupnya.”
Wallahu a’lam.