Dialog Seri 6: 1
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan takdir bagi ciptaan-Nya?”
Mudariszi: “Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT mengadakan ketentuan (ketetapan) takdir bagi segala sesuatu, termasuk ketentuan takdir bagi langit dan bumi dan bagi semua (tiap-tiap) makhluk di langit dan di bumi. Dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Allah telah menentukan suratan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi atau ketika ‘Arsy–Nya masih di atas air.” (HR Muslim)
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Aku masuk kepada Rasulullah SAW dan aku menambatkan untaku pada pintu, lalu beliau bersabda: “Terimalah kabar gembira, wahai penduduk Yaman, apabila Bani Tamim tidak menerimanya.” Mereka berkata: “Sungguh kami menerima(nya), wahai Rasulullah.” Mereka berkata: “Kami datang kepada engkau untuk bertanya kepada engkau tentang masalah (alam) ini.” Beliau bersabda: “Allah ada, sedang selain Dia belumlah ada. ‘Arsy-Nya itu di atas air dan Dia menuliskan (mentakdirkan) sesuatu pada Lauh Mahfuzh, dan Dia ciptakan langit dan bumi.” (HR Bukhari)
Takdir yang telah ditentukan (ditetapkan) oleh Allah SWT bagi setiap makhluk itu lalu ditulis (dicatat) dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah selesai menciptakan makhluk, Dia menulis di dalam Kitab-Nya, Kitab itu di sisi-Nya, di atas ‘Arsy: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR Bukhari)
Allah SWT membenarkan sunnah Rasulullah di atas sebagai berikut:
Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yaasiin 12)
Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (An Naml 75)
Karena itu Allah SWT berfirman:
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al Hajj 70)
Tilmidzi: “Apakah ketentuan yang ditetapkan-Nya bagi segala sesuatu itu termasuk ketentuan ukuran?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Dan di antara ketentuan ukuran itu termasuk ketetapan (takdir) ukuran waktu bagi semua makhluk termasuk bagi langit dan bumi dan bagi semua (tiap-tiap) makhluk yang ada di langit dan di bumi. Allah SWT berfirman:
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (Al Ahqaaf 3)
Takdir bagi setiap makhluk dalam penjelasan di atas termasuk takdir bagi manusia.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menetapkan takdir manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menetapkan takdir manusia (setiap orang) ketika dia dalam rahim Ibunya, yaitu ketika tubuhnya dibentuk, disempurnakan dan ditiupkan roh ciptaan-Nya ke tubuhnya melalui malaikat utusan-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghiffari, dia berkata: “Aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya air mani (nuthfah) itu bersemayam di dalam rahim selama empat puluh malam. Kemudian malaikat lah yang membentuknya. (Menurut versi Zuhair: “Yang menciptakannya). Sang malaikat berkata: “Ya Tuhan, diciptakan laki-laki atau perempuan?” Allah–lah yang lalu menciptakannya laki-laki atau perempuan. Kemudian sang malaikat berkata: “Ya Tuhan, ia diciptakan cacat atau tidak cacat?” Allah–lah yang lalu menciptakannya cacat atau tidak cacat. Kemudian sang malaikat berkata: “Ya Tuhan, bagaimana dengan rizkinya, ajalnya dan akhlaknya (amalnya)?” Kemudian Allah–lah yang menjadikannya sebagai orang yang celaka atau orang yang bahagia.“ (HR Muslim)
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud), dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang dari kamu penciptaannya dikumpulkan dalam perut Ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu empat puluh hari. Kemudian menjadi sepotong daging seperti itu empat puluh hari. Kemudian (sesudah membentuk), Allah mengutus malaikat dan diperintahkan dengan empat kalimat dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalnya, rezkinya, ajalnya dan celaka atau bahagia”, kemudian ditiupkan roh kepadanya.“ (HR Bukhari)
Bentuk laki-laki atau perempuan dalam sunnah Rasulullah di atas termasuk takdir yang Dia tetapkan bagi manusia dalam rahim. Demikian pula dengan organ-organ di tubuhnya yang membentuk manusia menjadi sempurna atau cacat, yaitu termasuk takdir yang Dia tetapkan atas manusia dalam rahim. Allah SWT menetapkan pula takdir keahlian bagi manusia dalam rahim setelah Dia menetapkan bentuknya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Thawus, sesungguhnya dia berkata: “Aku mendapati beberapa orang dari sahabat Rasulullah pernah mengatakan: “Segala sesuatu itu karena takdir.” Aku juga pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda: “Segala sesuatu itu karena takdir, termasuk juga ketidak mampuan dan kecerdikan, atau kecerdikan dan ketidak mampuan.” (HR Muslim)
Setelah semua takdir manusia dalam rahim ditetapkan-Nya, Allah SWT lalu menetapkan takdir amalnya, takdir rezekinya, takdir ajalnya dan takdir celakanya atau bahagianya.”
Tilmidzi: “Apakah takdir keadaan diri dan takdir keahlian manusia itu berakibat kepada takdir amalnya?”
Mudariszi: “Ya! Takdir amal (perbuatan) manusia (setiap orang) itu merupakan akibat dari takdir keadaan (bentuk) dirinya dan keahliannya. Dan perbuatan manusia itu telah dicatat oleh Allah SWT dalam Kitab Induk Lauh Mahfuzh. Allah SWT berfirman:
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi atau di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 61)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah perbuatan manusia itu adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan-Nya?”
Mudariszi: Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ashim bin Ubaidillah berkata: “Aku mendengar Salim bin Abdillah menceritakan dari ayahnya (Abdullah ibnu Umar) berkata: “Umar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang kami perbuat itu sesuatu yang baru atau sesuatu yang pertama atau sesuatu yang Allah selesai menentukan qadarnya?” Beliau bersabda: “Sesuatu yang Dia selesai menentukannya hai Ibnul-Khaththab, dan setiap orang itu dipermudah.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah takdir keadaan diri, takdir keahlian, takdir amal manusia itu berakibat kepada takdir rezekinya?”
Mudariszi: “Takdir rezeki manusia itu merupakan akibat dari takdir amalnya dengan takdir keadaan dirinya dan takdir keahliannya. Perbuatannya yang menuruti keadaan dirinya dan keahliannya akan membuatnya memperoleh rezeki (harta) dari karunia-Nya di bumi. Semua turun naik rezekinya dan perbuatannya dalam memperoleh dan menggunakan rezekinya itu dicatat oleh Allah SWT dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh). Karena itu setiap orang akan memperoleh rezekinya dari karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:
Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Al A’raaf 37)
Tapi karena keadaan diri dan keahlian manusia ditakdirkan-Nya berbeda-beda, maka ada orang-orang yang rezekinya mudah diperolehnya dan ada pula orang-orang yang rezekinya sulit diperolehnya. Allah SWT telah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba’ 36)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan takdir ajal manusia karena Dia menetapkan segala sesuatu dengan ukuran?”
Mudariszi: “Ya! Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya yang ada di bumi, dan manusia diciptakan-Nya menurut ukuran waktu hidupnya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)
Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Faathir 11)
Karena hanya Allah SWT saja yang mengetahui takdir ajal setiap orang, Dia menjelaskan sebagai berikut:
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman 34)
Allah SWT merahasiakan takdir ajal agar manusia menjalani hidupnya dengan tanpa rasa takut kedatangan ajalnya. Jika ajal seseorang telah dekat, maka Allah SWT dan Rasululah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” (Ali ‘Imran 154)
Dari Mathar bin Ukmais, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila Allah memutuskan bagi seseorang hamba agar meninggal dunia di suatu tempat, maka Dia menjadikan orang itu membutuhkan tempat tersebut.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah mungkin manusia lari atau menghindar dari takdirnya?”
Mudariszi: “Manusia (setiap orang) tidak dapat lari atau menghindar dari takdirnya yang Dia telah tetapkan atasnya. Allah SWT berfirman:
Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah.” (Yusuf 67)
Tilmidzi: “Jika demikian, mungkinkah manusia lari dari takdir ajalnya?”
Mudariszi: “Manusia tidak dapat lari dari takdir ajalnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata.” (Al Jumu’ah 8)
Manusia hanya dapat berusaha menghindar dari takdir ajalnya yang tidak diketahuinya itu. Misalnya dia berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat, tapi ketika takdir ajalnya datang, penyakitnya itu tidak akan dapat disembuhkan oleh obat apapun. Allah SWT berfirman:
Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kekerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). (Al Qiyaamah 26-28)
Tilmidzi: “Apakah usaha (perbuatan) menyembuhkan penyakitnya itu merupakan bagian dari takdir amal?”
Mudariszi: “Ya! Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Az Zuhri dari Ibnu Abi Khizaniah dari ayahnya, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata: “Apakah kamu mengerti bahwa azimat yang kami buat azimat dan obat yang kami buat mengobati dan penangkal yang kami buat menangkal, apakah dapat menolak sesuatu dari qadar Allah?” Beliau menjawab: “Ia termasuk qadar Allah.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya nadzar itu tidak mendekatkan manusia kepada sesuatu yang tidak ditakdirkan Allah untuknya, tetapi nadzar itu sesuai dengan takdir.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah penyebab dan bekas-bekas kematian setiap orang itu dicatat oleh Allah SWT dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh)?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (Al Israa’ 58)
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yaasiin 12)
Tilmidzi: “Apakah takdir amal, takdir rezeki, takdir ajal berakibat kepada takdir celaka atau bahagia manusia?”
Mudariszi: “Perbuatan dan rezeki manusia (setiap orang) selama menjalani hidupnya di dunia akan sesuai dengan takdir amal dan takdir rezekinya. Waktu matinya juga sesuai dengan takdir ajalnya. Perbuatannya selama menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi dan peraturan agama-Nya akan membuatnya menjadi orang yang celaka (penghuni neraka) atau bahagia (penghuni surga), dan itu sesuai dengan takdir celakanya atau bahagianya. Tetapi tidak semua orang yang terlihat alim akan menjadi bahagia di akhirat atau yang terlihat jahat akan menjadi celaka di akhirat. Itu tergantung dari takdir celaka atau bahagia yang Allah SWT tetapkan atasnya. Itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Sahel bin Sa’ad As Sa’idi, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seseorang di mata manusia kelihatannya selalu mengerjakan amalannya penghuni surga, padahal sejatinya dia adalah termasuk penghuni neraka. Sebaliknya seseorang di mata manusia kelihatannya selalu mengerjakan amalan penghuni neraka, padahal sejatinya dia adalah termasuk penghuni surga.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana hal tersebut di atas dapat terjadi?”
Mudariszi: “Allah SWT menetapkan takdir orang-orang tersebut di atas karena Dia mengetahui keinginan mereka yang sebenarnya atas apa yang ada dalam kehidupan dunia. Mereka tidak berbeda dengan Iblis yang terlihat taat kepada-Nya (pada awalnya), padahal tidak demikian isi hatinya (keinginannya). Allah SWT lalu memperlihatkan keinginan Iblis yang sebenarnya, yaitu dengan Dia menciptakan Nabi Adam. Allah SWT mengetahui isi hati semua makhluk termasuk keinginan hatinya yang sebenarnya. Allah SWT berfirman:
Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Huud 5)
Sehingga, bagi orang yang terlihat alim atau jahat tapi sebenarnya dia munafik atau baik, Allah SWT lalu mengilhamkan ke hatinya jalan yang membuatnya berbuat kemunafikan atau kebaikan hingga menjadi sesuai dengan takdir celakanya atau takdir bahagianya ketika ajalnya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy Syams 8)
Dari Annas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Dia mempergunakannya.” Lalu ditanya: “Bagaimana caranya Allah mempergunakannya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Dia memberi petunjuk kepadanya untuk berbuat kebaikan sebelum kematiannya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Bagaimana contoh dari orang-orang tersebut di atas?”
Mudariszi: “Contoh orang yang terlihat beramal ke neraka (celaka) tapi di akhir hidupnya beramal ke surga karena takdir bahagianya, dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Di kalangan orang-orang sebelum kalian, ada seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu. Dia ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta). Diapun mendatangi rahib tersebut dan mengatakan bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah dia boleh bertaubat (dan diterima taubatnya)? Rahib itu menjawab: “Tidak!” Mendengar jawaban rahib itu, dia segera membunuhnya, sehingga lengkaplah seratus orang yang telah dia bunuh. Kemudian dia bertanya-tanya lagi tentang penduduk bumi yang paling pintar. Ada yang menunjukkan kepada seorang yang alim (pandai). Dia datangi orang pandai itu dan mengatakan bahwa dirinya telah membunuh seratus orang. Apakah dia masih layak bertaubat? Orang alim itu menjawab: “Ya! Siapa yang bisa menghalangi antara dia dengan taubat? Pergilah ke negeri Anu. Di sana, orang-orang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Dan jangan pulang ke negerimu, karena negerimu itu negeri yang jelek.” Orang itu berangkat, sampai ketika dia sampai di pertengahan jalan, maut menjemputnya. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab (siksa) berbantah mengenainya. Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sementara itu malaikat azab mengatakan: “Dia belum sempat melakukan perbuatan baik sama sekali.” Lalu datanglah seorang malaikat dalam bentuk manusia. Malaikat-malaikat yang sedang berbantah itu menjadikannya sebagai penengah di antara mereka. Malaikat dalam bentuk manusia itupun berkata: “Ukurlah jarak di antara dua negeri. Ke negeri mana dia lebih dekat, maka ke sanalah dia dibangsakan.” Para malaikat itu mengukurnya. Ternyata mereka dapati orang itu lebih dekat ke negeri yang dituju (negeri yang baik, tempat beribadah). Maka malaikat rahmatlah yang berhak mengambilnya.” (HR Muslim)
Dan contoh orang yang terlihat beramal ke surga (bahagia) tapi di akhir hidupnya dia beramal ke neraka karena takdir celakanya, dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Sahl bin Sa’ad Al-Sa’idi, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bertemu dengan kaum musyrikin, maka mereka berperang. Ketika selesai peperangan beliau kembali kepada pasukan mereka. Dan di tengah-tengah sahabat Rasulullah terdapat seorang laki-laki yang tidak membiarkan kaum musyrikin seorangpun yang menyendiri pula seorangpun yang sendirian kecuali membuntutinya dan menghantamnya dengan pedang. Maka Sahl atau orang lain berkata: “Tidak ada seorangpun dari kami, orang yang cukup hebat sebagaimana polan (Quzman) itu cukup hebat.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Ingat, sungguh dia termasuk penduduk neraka.” Lalu seorang (Akhtsam bin Abiljun) dari kaum berkata: “Aku akan menyertai dia untuk membuktikan sabda Rasulullah.” Sahl berkata: “Lalu Akhtsam keluar bersama Quzman. Ketika dia berhenti, maka Akhtsam berhenti bersamanya, dan apabila dia bercepat-cepat, maka Akhtsam bercepat-cepat bersamanya.” Sahl berkata: “Lalu laki-laki (Quzman) itu terluka parah, maka dia menyegerakan mati, diletakkannya pegangan pedangnya pada tanah dan mata pedangnya di antara dua susunya, lalu dia miring menekan pada pedangnya, maka dia bunuh diri. Lalu Akhtsam keluar kepada Rasulullah SAW dan dia mengatakan: “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah.” Beliau bersabda: “Apakah demikian itu?” Akhtsam berkata: “Laki-laki yang engkau tuturkan tadi adalah sungguh dia termasuk penduduk neraka.” Orang-orang terheran-heran dibuatnya, maka aku katakan: “Aku tunjukkan kamu kepadanya.” Lalu aku keluar mencarinya, kemudian dia terluka parah, maka dia menyegerakan mati. Diletakkannya gagang pedangnya pada tanah dan mata pedangnya di antara dua susunya lalu dia menekankan pada pedangnya, maka dia bunuh diri.” Lalu Rasulullah SAW bersabda ketika demikian itu: “Sesungguhnya orang yang selalu beramal dengan amal penduduk surga dalam pandangan yang tampak bagi manusia, sedangkan dia adalah termasuk penduduk neraka. Dan sesungguhnya orang yang selalu beramal dengan amal penduduk neraka dalam pandangan yang tampak bagi manusia, sedangkan dia adalah termasuk penduduk surga.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia untuk beriman kepada takdir?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikitpun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Kata Umar: “Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya.” Kembali orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.” Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat–Nya, kitab-kitab–Nya, para utusan–Nya, hari Akhir, dan kepada takdir, baiknya takdir dan buruknya takdir.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” (HR Muslim)
Dari Ali, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang tidak beriman dengan sempurna sehingga beriman kepada empat perkara, yaitu: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang mengutusku dengan kebenaran, beriman kepada kematian, beriman kepada kebangkitan setelah kematian dan beriman kepada kepada qadar.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT menghendaki manusia beriman kepada takdir agar dia tidak menjadi sombong jika memperoleh kesenangan dan tidak pula menjadi sedih jika memperoleh musibah, Dia menghendaki agar manusia tetap taat mengikuti peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya dengan apapun yang terjadi pada dirinya akibat dari Dia telah menetapkan takdir bagi semua makhluk di semesta alam. Allah SWT berfirman:
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Hadiid 22-24)
Wallahu a’lam.