Bagaimana Adab Berhubungan Dengan Umat Manusia?

Dialog Seri 18: 6

 

Tilmidzi: “Bagaimana adab berhubungan dengan manusia ketika menjalani hidup?”

 

Mudariszi: “Umat Islam dikehendaki agar berniat, berbicara, berbuat (beramal) dengan orang lain ketika menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti adab (aturan) dalam agama Islam. Perbuatan manusia itu dapat berupa perbuatan baik (kebajikan) yang berpahala atau perbuatan buruk (kejahatan) yang berdosa. Rasulullah SAW menjelaskan tentang niat, perbuatan baik dan jahat, pahala dan dosa, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Allah azza wajalla berfirman: Apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan baik dan tidak melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh-ratus kali lipat. Dan apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan jelek dan tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatnya. Jika dia jadi mengerjakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu ke­jelekan. (HR Muslim)

 

Dari Nawwas bin Sam’an Al Anshari, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai soal kebajikan dan dosa. Beliau bersabda: “Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang merisaukan hatimu dimana kamu merasa tidak suka apabila hal itu sampai dilihat oleh orang lain.” (HR Muslim)

 

Perbuatan buruk (dosa) itu terjadi karena Iblis (syaitan) yang ingin menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus ketika manusia menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Adab (aturan) dalam agama Islam itu mengikuti Allah SWT melalui Al Quran dan Rasulullah SAW yang menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia, sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran 31-32)

 

Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al Qalam 3-4)

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab 21)

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (At Taubah 128)

 

Karena adab berhubungan dengan manusia itu sangat banyak, maka hanya perkara-perkara yang umumnya sering terjadi atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari saja yang diuraikan.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana contoh kebajikan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang kebajikan itu sebagai berikut:

 

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. (Al Muzzammil 20)

 

Melalui beberapa jalur, diriwayatkan dari Ibnu Abu Syaibah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Setiap kebaikan adalah sedekah. (Artinya: Apapun yang mendatangkan ridha Allah, maka pahalanya se­perti pahala sedekah). (HR Muslim)

 

Dari Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang muslim wajib sedekah.” Sahabat bertanya: “Kalau tidak mampu?” Beliau menjawab: “Bekerja dengan tangannya, lalu bermanfa’at baginya kemudian ia sedekahkan.” Sahabat bertanya: “Kalau tidak kuat (bekerja) atau tidak bekerja?” Beliau menjawab: “Ia bantu orang yang butuh yang susah.” Sahabat bertanya: “Kalau tidak mampu?” Beliau menjawab: “Memerintah kebajikan atau bersabda kebagusan.” Sahabat bertanya: “Kalau tidak mampu?” Beliau menjawab: “Mengekang dirinya dari kejelekan, maka sesungguhnya hal demikian itu sedekah baginya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau ber­sabda: “Tidaklah menjadi berkurang harta yang disedekahkan. Allah akan menambahi kemuliaan kepada seorang hamba yang mau memberi­kan maaf. Dan Allah akan mengangkat derajat orang yang mau rendah hati karena-Nya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan agar bersikap dan berbuat lembut dan tidak kasar kepada manusia, sebagai berikut:

 

Dari Jarir bin Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang terhalang bersikap lembut, maka berarti dia terhalang dari kebajikan.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, sesungguhnya Rasu­lullah SAW bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia suka akan kelembutan. Allah akan memberikan balasan dari kelembutan yang tidak Dia berikan atas sikap keras dan kasar serta sikap-sikap lainnya.” (HR Muslim)

 

Dari Jarir bin Abdullah dari Rasulullah SAW , beliau bersabda: “Barangsiapa tidak belas kasih (pada sesama), maka tidak di belas kasihi (oleh Allah).” (HR Bukhari)

 

Kelembutan timbul dari sifat malu. Memiliki sifat malu itu baik karena akan menimbulkan ketenangan dan kesopanan dalam berhubungan, berucap dan berbuat. Rasulullah SAW menjelaskan tentang malu itu sebagai berikut:

 

Dari Imran bin Hushain, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sifat malu tidak datang kecuali dengan kebajikan.Kemudian Basyir bin Ka’ab berkata: “Di dalam Hikmah tertulis: sesungguhnya dari sifat malu timbul kesopanan, sesungguhnya dari sifat malu timbul ketenangan.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Mas’ud, ia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Sesungguhnya termasuk yang ditemukan manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah ketika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kau ingini.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah berbuat kebajikan atas orang sakit, orang miskin dan makhluk hidup lain mendapat pahala?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan kehendak Allah atas manusia yaitu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman pada hari kiamat nanti: “Wahai anak Adam! Aku sakit, me­ngapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Dia berkata: “Wahai Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa menjenguk-Mu, sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak mau menje­nguk hamba-Ku si polan yang sedang sakit? Ketahuilah, bahwa seandainya kamu menjenguknya, niscaya kamu akan mendapati Aku berada di sisinya. Wahai anak Adam! Aku sudah memberimu makan tetapi kena­pa kamu tidak mau memberi-Ku makan?” Dia berkata: “Wahai Tuhan, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan, sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah berfirman: “Kamu tentu tahu bahwa ada hamba-Ku si polan pernah minta makan kepadamu, namun mengapa kamu tidak memberinya makan? Ketahuilah, bahwa seandainya kamu mau memberinya makan, niscaya kamu akan mendapati hal itu di sisi-Ku. Wahai anak Adam! Aku telah memberimu minum namun mengapa kamu tidak mau memberi-Ku minum?” Dia berkata: “Wahai Tuhan, bagaimana mungkin aku memberi-Mu minum, sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah berfirman: “Hamba-Ku pernah ada yang meminta minum kepadamu, namun kamu tidak memberinya minum. Padahal ketahuilah, seandainya kamu mau memberinya minum, niscaya kamu akan mendapati hal itu di sisi-Ku.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan balasan dari-Nya bagi muslim yang menjenguk orang yang menderita sakit atau yang mendapat musibah, sebagai berikut:

 

Dari Tsauban budak Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka dia berada dalam taman surga.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apa itu maksudnya?” Beliau menjawab: “Dia senang memetik buah yang ada di kebunnya.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap musibah yang menimpa seorang beriman berupa sakit tetap, kelelahan, sakit biasa, kesedihan bahkan sampai pada kebingungan yang tengah dia alami, maka hal itu merupakan penghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan orang yang memelihara anak yatim, janda dan orang-orang miskin sebagai berikut:

 

Dari Shal bin Sa’id dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Aku dan orang yang merawat anak yatim itu begini“, Rasulullah SAW berkata dengan (isyarah) dua jarinya, yakni jari telunjuk dan jari tengah. (HR Bukhari)

 

Dari Safwan bin Sulaim, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang berbuat (untuk kebaikan) para janda dan orang miskin itu bagai orang yang berperang di jalan Allah, atau bagaikan orang yang puasa di siang hari dan tidak tidur di malam harinya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Adalah termasuk dosa besar, seseorang mengutuk terhadap kedua orang tuanya.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah bagaimana mungkin sese­orang mengutuk kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Seseorang mencaci orang tua temannya, kemudian temannya mencaci Ayahnya dan Ibunya.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang perbuatan baik kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan, sebagai berikut:

 

Dari Anas bin malik dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tiada seorang muslim yang menanam tanaman kemudian dimakan oleh orang (lain) atau hewan kecuali (hal tersebut) menjadi sedekah baginya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata:Sesungguhnya Rasulullah SAW ber­sabda: “Ketika seorang lelaki sedang berjalanjalan, tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali. Kemudian ia menemukan sumur, lalu ia masuk ke ­dalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba seekor anjing datang menjulurkan lidahnya, ia menjilati tanah karena sangat haus. Lelaki itu berkata: “Anjing itu sangat haus sebagaimana aku.Kemudian ia masuk sumur (lagi) dan ia penuhi sepatunya, (dengan air) kemudian (ia naik lagi) sambil menggigit sepatunya, dan ia beri minum anjing itu. Kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, adakah kita dapat pahala karena (menolong) hewan?” Rasulullah SAW menjawab: “Di setiap yang mempunyai limpa dan hidup ada pahalanya.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah berbuat baik kepada tetangga dan tamu mendapat pahala?”

 

Mudariszi: “Rasuilullah SAW menjelaskan berbuat baik kepada tetangga sebagai berikut:

 

Dari Abu Dzar, dia berkata: “Sesungguhnya ke­kasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku: “Apabila kamu masak sayur, maka perbanyaklah air (kuah)nya. Kemudian perhatikan tetang­gamu yang sudah berkeluarga. Berilah mereka daripadanya dengan cara yang ma’ruf.” (HR Muslim)

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Aku berkata:Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya dua orang tetangga, maka kepada siapa (dantara mereka berdua) aku memberikan hadiah?” Beliau menjawab: “Ke­pada yang paling dekat pintunya darimu.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW perintahkan agar tidak meremehkan pemberian tetangga dan tidak berperilaku yang membuat tetangga merasa takut, sebagai berikut

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Wahai perempuan muslim, janganlah seorang tetangga me­nganggap remeh terhadap (pemberian) tetangganya meskipun hanya sebuah kaki kambing.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Syuraih dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Demi Allah, tiada beriman, demi Allah, tiada beriman, demi Allah, tiada beriman”, ditanyakan: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari perbuatan jeleknya.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW perintahkan untuk melayani tamu dengan baik, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aby Syuraih Alka’by, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia mulyakan tamu dengan sesuai (haknya) selama sehari semalam. Ber­suguh (menyuguhkan) itu selama tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah. Dan tiada halal baginya (tamu) untuk bermalam di sisi tuan rumah sampai-sampai ia menjadikannya (tuan rumah) berbuat dosa.” (HR Bukhari)

 

Dari Abi Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau ber­sabda: “Barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya; dan barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia mulyakan tamunya; dan barangsiapa beriman pada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendak­lah ia diam.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah suka berprasangka, bergunjing, memfitnah dan mencari-cari kesalahan orang lain itu dilarang agama?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang berprasangka buruk, sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat 12)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah olehmu berburuk sangka, karena berburuk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu mendengar-dengar­kan khabar orang lain. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (HR Muslim)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang muslim bergunjing dan memfitnah, sebagai berikut:

 

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. (Al Qalam 10-13)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu apa itu mempergunjing?” Para sahabat yang ditanya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu.” Beliau bersabda: “Yaitu penuturanmu terhadap saudaramu tentang sesuatu yang tidak dia sukai.” Ditanyakan: “Bagaimana pendapat Anda jika yang aku katakan itu memang benar terjadi pada saudaraku?” Beliau menjawab: “Kalau apa yang kamu katakan itu memang benar, itulah yang namanya mempergunjing. Tetapi kalau apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka berarti kamu telah menfitnahnya.” (HR Muslim)

 

Dari Hudzaifah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada masuk surga orang yang suka memfitnah.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT menutup aib seseorang karena dia menutup aib orang lain, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh ummatku di ampuni, kecuali orang-orang yang suka memper­lihatkan pekerjaannya, dan termasuk memperlihatkan pekerjaan adalah jika semalam seseorang telah melakukan sesuatu, kemudian paginya dan Allah telah menutupinya ia berkata: “Wahai Fulan, semalam aku me­lakukan demikian dan demikian”, padahal semalam Allah telah menutupi (kesalahannya), kemudian pagi-pagi ia buka tutup Allah atas dirinya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Seorang hamba yang aibnya di dunia ditutupi oleh Allah, maka pada hari kiamat kelak Allah juga akan menutupi aibnya.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau ber­sabda: “Seseorang yang mau menutupi aib orang lain di dunia, maka pada hari kiamat nanti Allah akan menutupi aibnya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah berbohong atau berkata dusta itu dibenarkan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang muslim berkata bohong sebagai berikut:

 

Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (Al Hajj 30)

 

Dari Abdullah, dia berkata: “Rasulullah SAW ber­sabda: “Berpegang teguhlah kamu pada kejujuran, karena kejujuran itu membawa pada kebajikan, dan karena kebajikan itu akan membawa ke surga. Seseorang hendaknya berlaku jujur dan selalu jujur supaya di sisi Allah dia dicatat sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu kebohong­an, karena kebohongan itu menyeret kepada perbuatan maksiat, dan ka­rena kemaksiatan itu akan membawa ke neraka. Seseorang yang ber­bohong dan selalu saja berbohong, maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai tukang bohong.” (HR Muslim)

 

Dari Samurah bin Jundub, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku bermimpi melihat dua orang datang kepadaku, mereka berkata: “Orang yang kau lihat disobek sudut mulutnya itu adalah pembohong, ia berbohong dengan kebohongan yang dia bawa sampai ufuk, kemudian ia dibuat demikian sampai hari kiamat.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW menjelaskan manusia yang dianggap tidak berbohong ketika dia dalam keadaan sebagai berikut:

 

Diceritakan oleh Humaid bin Abdurrahman bin Auf, bahwa Ibunya, yaitu Ummu Kaltsum binti Uqbah bin Abu Mu’aith, salah seorang wanita yang ikut hijrah pertama dan ikut berbai’at kepada Rasulullah SAW, ia mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah termasuk pendusta orang yang  mendamaikan di antara manusia. Dia berkata yang baik dan menyampaikan yang baik pula.” Ibnu Syihab mengatakan: “Hanya dalam tiga hal yang menyangkut ucapan manusia yang tidak bisa dianggap sebagai dusta, yaitu dalam pe­perangan, dalam upaya mendamaikan di antara manusia dan dalam pembicaraan seorang suami kepada isterinya atau sebaliknya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW membenarkan memuji seseorang tanpa berlebih-lebihan, tapi melarang memuji berlebih-lebihan dan bermuka dua, sebagai berikut:

 

Dari Abu Dzar, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW: “Bagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang melakukan suatu amal kebajikan, lalu dia memperoleh pu­jian dari manusia?” Beliau menjawab: “Itu adalah kegembiraan seorang mukmin yang baru dibayarkan di dunia.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Musa, ia berkata: “Rasulullah SAW mendengar seorang sedang memuja temannya, lalu orang itu berlebihan (memujanya), ke­mudian Rasulullah SAW bersabda: “Kau rusak atau kau putuskan pung­gungnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata:Rasulullah SAW bersabda: “Eng­kau temui sejelek-jelek manusia di hari kiamat di sisi Allah adalah orang yang bermuka dua. Ia datangi golongan ini dengan satu muka, dan ia datangi golongan lain dengan muka yang lain.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah dibenarkan saling iri, dengki, benci dan mendiamkan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang untuik saling iri, dengki, benci dan mendiamkan, sebagai berikut:

 

Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (Al Falaq 5)

 

Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu saling benci, saling dengki dan saling sinis. Jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang Muslim mendiamkan (menolak) saudaranya lebih dari tiga hari lamanya.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu saling dengki. Janganlah kamu saling menjerumuskan. Janganlah kamu saling benci. Janganlah kamu saling sinis.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah dibenarkan menzalimi, mencaci maki, mengolok-olok dan menyakiti orang lain?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan ketetapan Allah sebagai berikut:

 

Dari Abu Dzar dari Rasulullah SAW tentang sesuatu yang diriwayatkan dari Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi, sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku. Sesungguh Aku mengharamkan kezaliman (penganiayaan) atas diri-Ku, dan Aku jadikan ia di antara sesamamu sebagai sesuatu yang diharamkan. Karena itu janganlah kalian saling berbuat zalim. Wahai hamba-hamba-Ku. Kamu semua adalah sesat, kecuali orang yang memang Aku tunjukkan. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya kalian akan Aku tunjukkan. Wahai hamba-hamba-Ku. Kamu semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku. Kamu semua adalah telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan Aku beri pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya kamu semua selalu berdosa siang dan malam. Tetapi Aku senantiasa mengampuni semua dosa. Maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian ampunan. Wahai hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya kamu semua tidak akan mampu menimpakan bahaya kesulitan kepada-Ku. Dan kamu juga tidak bisa mendatangkan manfaat atau kepentingan kepada-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku. Sekalipun kamu semua baik yang terdahulu maupun yang belakangan, baik manusia atau jin, menjadi sangat bertakwa semua, hal itu tidak akan menambahi kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku. Sekalipun kamu semua, baik yang terdahulu maupun yang belakangan, baik manusia maupun jin, menjadi yang paling brengsek, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku. Sekalipun kamu semua. baik yang terdahulu maupun yang belakangan, baik yang berupa manusia maupun yang berupa jin, sama berhimpun dalam satu wadah memohon kepada-Ku lalu masing-masing Aku pe­nuhi permohonannya, maka hal itu sama sekali tidak akan mengurangi kekayaan yang ada pada-Ku. Itu sama sekali tidak mengurangi milik-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya amal-amalmu akan Aku hitung, kemudian akan Aku penuhi balasannya. Barangsiapa yang mendapati kebajikan, hendaknya dia memuji kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendapati selain itu, maka hendaknya jangan ada yang dicercanya selain dirinya sendiri.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW melarang perbuatan zalim terhadap orang lain, sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Abdullah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Takutlah kamu akan perbuatan zalim, dikarenakan perbuatan zalim itu merupakan kegelapan-kegelapan hari kiamat. Takutlah kamu akan sifat kikir, dikarenakan sifat kikir itulah yang per­nah membinasakan orang-orang sebelum kamu. Sifat kikir itulah yang mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalal­kan hal-hal yang diharamkan terhadap mereka.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Dzarr, ia berkata: “Aku melihat padanya kain selimut, dan pelayannya juga memakai selimut, lalu aku berkata: “Andaikan kau ambil selimut ini dan kau memakainya tentu menjadi jubah besar, dan kau memberinya pakaian yang lain. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya antara aku dan seorang laki-laki ada pertengkaran. Dan Ibunya adalah wanita Ajam, lalu aku sangkut-sangkut dia. Kemudian ia laporkan aku pada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda padaku: “Apakah kau mencaci si fulan?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bertanya: “Apakah kau sangkut-sangkut Ibunya?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau seorang yang masih bodoh.” Aku bertanya: “Pada saat aku sudah tua begini?” Beliau menjawab: “Ya. Mereka adalah sau­daramu. Allah jadikan ia dalam kekuasaanmu. Maka barangsiapa Allah jadikan saudaranya dalam kekuasaannya, maka hendaklah ia beri makan mereka apa yang ia makan, hendaklah ia beri pakaian mereka apa yang ia pakai, janganlah ia membebani mereka pekerjaan yang amat berat, andaikata ia terpaksa membebankan pekerjaan berat hendaklah ia bantu mereka.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sesama muslim bersaudara, karena itu harus saling membantu dan bukan saling menzalimi, sebagai berikuit:

 

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat 10)

 

Dari Salim dari Ayahnya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya. Dia tidak boleh menganiaya dan menyusahkannya. Barangsiapa yang mau memenuhi hajat saudaranya, maka Allah pun akan berkenan memenuhi hajatnya. Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan salah satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat.” (HR Muslim)

 

Dari Jabir, dia berkata: “Dua orang anak muda masing-masing dari kaum Muhajirin dan dari kaum Anshar sedang bertengkar. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: “Panggil orang-orang Muhajirin dan minta tolong kepada mereka!” Seorang dari kaum Anshar juga berteriak: “Panggil orang-orang Anshar dan minta tolong kepada mereka!” Mendengar ribut-ribut itu Rasulullah SAW keluar dan bersabda: “Ada apa dengan panggilan ala Jahilyah ini?” Mereka menjawab: “Tidak ada apa-apa, wahai Rasulullah. Hanya ada dua anak muda sedang bertengkar dimana salah satu dari keduanya berusaha me­mukul bagian-bagian tubuh peka yang lain.” Rasulullah SAW bersabda: “Kamu tidak perlu menutup-nutupi persoalan. Hendaknya seseorang itu mau menolong saudaranya baik yang zalim maupun yang di­zalimi. Terhadap yang zalim, hendaklah dia cegah kezalimannya. Sesungguhnya itu berarti telah menolongnya. Dan terhadap yang dizalimi, hendaknya dia membelanya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW menjelaskan balasan dari-Nya bagi orang-orang zalim di dunia dan di hari kiamat sebagai berikut:

 

Dari Abu Musa, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi begitu Allah menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian beliau membaca firman Allah: “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (surat Huud ayat 102). (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bertanya: “Tahukah kamu, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat sama menjawab: “Orang yang bangkrut ialah orang yang sudah tidak punya uang sama sekali di kalangan kami, dia juga tidak punya barang.” Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang bang­krut dari ummatku ialah yang kelak pada hari kiamat dia datang dengan membawa (pahala) sembahyang, puasa dan zakat. Namun di samping itu dia juga pernah mencaci-maki orang ini, pernah menuduh berbuat zina orang ini, pernah memakan secara tidak sah harta orang ini, pernah menumpahkan darah orang ini, dan pernah memukul orang ini. Sehingga kebajikan-kebajikannya terpaksa harus dibagi-bagikan kepada mereka. Apabila telah habis kebajikan-kebajikannya, sementara dia masih punya tanggungan, maka kesalahan orang-orang yang pernah dirugikan tersebut akan diambil dan ditimpakan kepadanya. Kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang mengolok-olok, mencaci maki dan menyakiti hati orang lain, sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujuraat 11)

 

Dari Abdullah bin Zam’ah, ia berkata: “Rasulullah SAW melarang seseorang menertawakan apa yang terjadi pada orang lain.Dan Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana salah satu di antara kalian memukul isterinya seperti memukul domba. Kemudian merangkulnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dosa yang menimpa kedua orang yang saling mencaci-maki itu menjadi tanggungan yang memulai terlebih dahulu, selagi pihak yang dizalimi tidak berlaku kelewat batas.” (HR Muslim)

 

Tilmidszi: “Apakah dibenarkan berlaku sombong?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang berlaku sombong dan Dia akan menempatkan orang-orang yang sombong itu di neraka, sebagai berikut:

 

Dengan memalingkan lambungnya (menyombongkan diri) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. (Al Hajj 9)

 

Dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah, mereka berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Kemuliaan ada­lah kain-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. Barangsiapa yang menyaingi-Ku, maka Aku akan menyiksanya.” (HR Muslim)

 

Dari Haritsah bin Wahab Al Khuza’i dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tidakkah aku beri tahu kalian tentang ahli surga? Yakni setiap orang lemah yang sangat lemah yang kalau ber­sumpah pada Allah pasti dijalankannya. Tidakkah aku beritahu kalian tentang ahli neraka? Yakni setiap yang kaku kasar, yang penipu, yang sombong.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana berlaku sabar dan tidak berputus asa?”

 

Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang sabar sebagai berikut:

 

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (Fushshilat 35)

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar 10)

 

Dari Abu Musa dari Rasulullah SAW, beliau ber­sabda: “Tidak ada seseorang atau tidak ada sesuatu yang lebih sabar ter­hadap hinaan yang ia dengar dari Allah. Sungguh mereka telah menuduh Allah punya anak, sedang Dia yang memberinya kesehatan dan rezeki.” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah, ia berkata: “Rasulullah SAW sedang membagi (harta) sebagai­mana pembagian yang lain. Kemudian salah seorang sahabat Anshar berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah suatu pembagian yang tidak mencari ridha Allah.” Aku berkata:Ingatlah, aku akan adukan pada Rasuluillah SAW“, lalu aku mendatangi beliau. Pada waktu itu beliau bersama-sama para sahabat, lalu aku berkata pelan-pelan padanya. Ucapan itu terasa berat bagi Rasulullah SAW, dan beliau marah, sampai aku menyesal kalau saja aku tidak mengatakan padanya. Kemudian beliau bersabda: “Sungguh Musa telah dihina lebih dari ini dan ia sabar.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang untuk berputus asa, sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar 53)

 

Dari Jundab, sesungguhnya Rasulullah SAW ber­cerita: “Sesungguhnya ada seseorang berkata: “Allah tidak mau meng­ampuni si polan.” Padahal sesungguhnya Allah Ta’ala pernah berfir­man: “Barangsiapa yang bersumpah kepada-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si polan, maka sebenarnya Aku mengampuni si polan. Dan Aku akan menghapus amalanmu.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah marah itu dibolehkan?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan bahwa marah yang dibolehkan itu yaitu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Seorang lelaki datang pada Rasulullah SAW, ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak ikut shalat pagi karena si Fulan terlalu memanjangkan bacaannya dalam shalat bersama kami.Perawi berkata:Kemudian aku tidak melihat Rasulullah SAW marah dalam mau’idhah seperti hari itu.Perawi berkata:Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang mem­bencikan, maka barangsiapa di antara kalian shalat bersama manusia, maka cepatkanlah, karena di antara mereka ada yang sakit, yang tua, dan punya keperluan.” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW sedang shalat, beliau melihat air ludah (kering) di arah kiblatnya Masjid. Kemudian Rasulullah SAW mengeruknya dengan tangannya sendiri, lalu beliau marah dan bersabda: “Ketika salah satu di antara kalian sedang shalat, sesungguhnya Allah berada di arah depannya, maka janganlah ia meludah di arah depannya ketika dalam shalat.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan untuk tidak marah, menahan amarah dan jalan untuk mengatasi marah itu sebagai berikut:

 

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali ‘Imran 134)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya seorang lelaki berkata pada Rasulullah SAW: “Wasiatilah aku.Beliau bersabda: “Janganlah kamu marah.Ia bertanya berulang-ulang, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu marah.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW ber­sabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang (selalu) membanting orang (dengan kekuatannya), akan tetapi yang kuat adalah orang yang kuat menahan hawa nafsunya ketika ia marah.” (HR Bukhari)

 

Dari Sulaiman bin Shurada, dia berkata: “Dua orang laki-laki saling mencaci-maki di dekat Rasulullah SAW. Salah satu dari keduanya menjadi marah sehingga wajahnya kelihatan memerah. Rasulullah SAW memandangnya lalu bersabda: “Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang kalau diucapkan akan bisa menghilangkan kemarahan itu darinya, yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply