Apakah Allah SWT Utus Nabi Musa & Nabi Harun Ke Fir’aun?

Dialog Seri 20: 25

 

Tilmidzi: “Apakah yang Nabi Musa lakukan dengan meninggalkan Bapak mertuanya?”

 

Mudariszi: “Setelah menyelesaikan kewajibannya berdasarkan perjanjian dengan Bapak mertuanya, Nabi Musa lalu berangkat bersama keluarganya. Dalam perjalanan, beliau melihat ada api di atas bukit. Api itu berguna untuk menghangatkan tubuhnya dan keluarganya dari udara malam yang dingin, sehingga beliau pergi untuk mengambilnya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (disini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api agar kamu dapat menghangatkan badan. (Al Qashash 29)

 

Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (disini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. (Thaahaa 10)

 

Ketika Nabi Musa sampai di tempat tersebut, beliau mendengar ada seruan kepadanya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (Al Qashash 30)

 

Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (An Naml 8)

 

Tilmidzi: “Suara siapakah itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut di atas sebagai berikut:

 

Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya yang menyebabkan kamu jadi binasa. (Thaahaa 11-16)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa seruan yang didengar oleh Nabi Musa tersebut adalah suara dari Allah SWT. Sedangkan api yang dilihat oleh Nabi Musa di atas bukit Thuwa itu merupakan petunjuk-Nya bagi beliau untuk mendatangi tempat tersebut. Dengan Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Musa (dalam firman-Nya di atas) yang berupa perintah-Nya, maka sejak itu beliau menjadi Nabi dan Rasul-Nya.”

 

Tilmidzi: “Wahyu apa sajakah yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Musa?”

 

Mudariszi: “Selain wahyu-Nya (perintah-Nya) dalam firman-Nya di atas, Allah SWT juga memberikan dua mu’jizat-Nya (wahyu-Nya) kepada Nabi Musa. Adapun mu’jizat-Nya yang pertama yaitu sebagai berikut:

 

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? (Thaahaa 17)

 

Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.(Thaahaa 18)

 

Allah SWT lalu perintahkan Nabi Musa sebagai berikut:

 

(Allah berfirman): “Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan lemparkanlah tongkatmu.(An Naml 9-10)

 

Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” (Thaahaa 19)

 

Nabi Musa mengikuti perintah-Nya. Tapi beliau terkejut karena tongkatnya itu berubah menjadi ular, sehingga beliau lari meninggalkannya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. (Thaahaa 20)

 

Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (An Naml 10)

 

Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Al Qashash 31)

 

Allah SWT lalu menjelaskan kepada Nabi Musa tentang perkara itu sebagai berikut:

 

(Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.” (Al Qashash 31)

 

Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula.” (Thaahaa 21)

 

“Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan Rasul tidak takut di hadapan-Ku. Tetapi orang yang berlaku zalim kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan, (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Naml 10-11)

 

Adapun mu’jizat-Nya yang kedua yaitu sebagai berikut:

 

Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (An Naml 12)

 

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan.” (Al Qashash 32)

 

Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat sebagai mu’jizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar. (Thaahaa 22-23)

 

Dengan demikian, Allah SWT memberikan dua mu’jizat-Nya kepada Nabi Musa.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Musa yang hanya manusia biasa dapat melakukan kedua mu’jizat-Nya tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa dapat melakukan mu’jizat-Nya tersebut karena beliau dibantu dan dikuatkan oleh malaikat Jibril. Jibril membantu Nabi Musa dalam melaksanakan mu’jizat-Nya karena perintah Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan tentang Jibril di masa Nabi Musa tersebut sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, dia berkata: “Lalu Rasulullah SAW kembali (dari gua Hira) kepada Khadijah dengan gemetar hatinya. Lalu Khadijah membawa beliau kepada Waraqah bin Naufal, laki-laki yang (di masa Jahiliyah) masuk Nasrani dan membacakan Injil dengan bahasa Arab. Lalu Waraqah bertanya: “Apakah yang kamu lihat?” Beliau memberitakan (apa yang dialaminya di goa Hira) kepada Waraqah, lalu Waraqah berkata: “Itu Namus (Jibril) yang dahulu diturunkan Allah kepada Musa. Dan bila aku mengalami hari (peristiwa)mu, niscaya aku membelamu dengan pembelaan yang kuat.” Makna Namus: Pemegang rahasia yang membukakan kepada orang lain apa yang tertutup. (HR Bukhari)

 

Jibril membantu (menguatkan) Nabi Musa melaksanakan mu’jizat-Nya itu seperti ketika Jibril membantu (menguatkan) Nabi ‘Isa melaksanakan mu’jizat-Nya, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. (Al Baqarah 87)

 

Ruhul Qudus dalam firman-Nya di atas adalah Jibril, yaitu Ruhul Qudus (Jibril) yang juga menurunkan dan mengajarkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar. (An Nahl 102)

 

Allah SWT menjelaskan tentang Jibril (Ruhul Qudus) yang membantu dan menguatkan Nabi Musa dan Nabi ‘Isa ketika melaksanakan mu’jizat-mu’jizat-Nya serta yang menurunkan dan mengajarkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)

 

Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 4-6)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memberikan dua mu’jizat-Nya kepada Nabi Musa?”

 

Mudariszi: “Allah SWT memberikan dua mu’jizat-Nya kepada Nabi Musa yaitu agar beliau memperlihatkan kepada Fir’aun dan kaumnya yang fasik dan zalim supaya mereka mengetahui keberadaan-Nya dan kekuasaan-Nya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

“Maka yang demikian itu adalah dua mu’jizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al Qashash 32)

 

Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. (Thaahaa 24)

 

Allah SWT menghendaki dengan Nabi Musa menunjukkan dua mu’jizat-Nya itu kepada Fir’aun dan kaumnya supaya mereka bertaubat kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya tanpa berkeinginan mengambil kekuasaan Fir’aun di Mesir. Allah SWT berfirman:

 

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa: “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (An Naazi’aat 16-19)

 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir’aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?” (Asy Syu’araa’ 10-11)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Musa lalu menjalankan perintah Allah tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Musa wajib menjalankan perintah Allah itu, tapi karena beliau merasa mempunyai kelemahan, beliau lalu meminta kepada-Nya sebagai berikut:

 

Musa berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku. (Al Qashash 33-34)

 

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku. Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami. (Thaahaa 25-35)

 

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku, maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. (Asy Syu’araa’ 12-14)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa itu, yaitu sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa. (Thaahaa 36)

 

Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya Harun menjadi seorang Nabi. (Maryam 52-53)

 

Dengan demikian, Nabi Harun saudara Nabi Musa, sejak itu menjadi Nabi dan Rasul-Nya pula. Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menemui Fir’aun dan kaumnya guna menyeru (mengajak) mereka agar bertaubat kepada-Nya dan mengikuti-Nya (mengikuti agama-Nya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya: “Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. (Al Furqaan 35-36)

 

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaahaa 42-44)

 

Tilmidzi: “Apakah kedua Rasul itu melaksanakan perintah Allah tersebut?”

 

Mudariszi: “Kedua Rasul itu masih ada rasa takut kepada Fir’aun. Allah SWT berfirman:

 

Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. (Thaahaa 45)

 

Ungkapan rasa takut dari kedua Rasul itu karena mereka telah mengetahui kekejaman Fir’aun, tapi mereka belum mengetahui kekuatan Allah. Mereka belum mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Karena itu Allah SWT menjelaskan kepada mereka tentang kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya agar mereka meyakininya dan tidak ragu-ragu lagi dalam menjalankan tugasnya. Allah SWT berfirman:

 

Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. (Thaahaa 46)

 

Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mu’jizat-mu’jizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan).” (Asy Syu’araa’ 15)

 

Allah berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu’jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang. (Al Qashash 35)

 

Dan untuk menambah keyakinan Nabi Musa, Allah SWT lalu menjelaskan tentang diri beliau yang tidak diketahuinya, yaitu dari sejak beliau dilahirkan hingga tinggal bersama Fir’aun dan membunuh manusia serta beliau kemudian lari ke Mad-yan dan berkeluarga, tinggal dan bekerja di Mad-yan untuk hamba-Nya yang shaleh sampai beliau dipilih-Nya menjadi Rasul-Nya yang menerima perintah-Nya (wahyu-Nya) untuk disampaikan kepada Fir’aun dan kaumnya. Allah SWT menghendaki dengan penjelasan-Nya itu agar hati (iman) Nabi Musa menjadi teguh dan tidak ragu-ragu lagi dalam menjalankan perintah-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada Ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi supaya diambil oleh (Fir’aun), musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku, (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada Ibumu agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Mad-yan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku. (Thaahaa 37-41)

 

Setelah itu, kedua Rasul tersebut (Nabi Musa dan Nabi Harun) lalu pergi menuju ke negeri Mesir menjumpai Fir’aun.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply