Dialog Seri 11: 1
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengucapkan syahadat tauhid (tidak ada Tuhan selain Allah SWT)?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT hendak mengingatkan manusia atas perjanjiannya dengan Dia yang telah diucapkannya sebelum dilahirkan ke dunia. Adapun perjanjian manusia tersebut adalah sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menciptakan manusia sebelum dilahirkan ke dunia?”
Mudariszi: “Ya! Jiwa yang diambil kesaksiannya oleh Allah SWT (dalam firman-Nya di atas) adalah manusia. Ketika itu, jiwa atau manusia tersebut belum berbentuk apapun dan dalam keadaan mati. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (Maryam 67)
Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam 9)
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. (Al Baqarah 28)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT harus mengambil kesaksian manusia itu?”
Mudariszi: “Karena manusia telah bersedia memikul amanah dari Allah SWT sebagai khalifah memakmurkan bumi-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir 39)
Karena bumi merupakan kepunyaan-Nya, maka Allah SWT memerintahkan manusia agar melaksanakan amanah dengan mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya, dan melarangnya membuat kerusakan di bumi. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al A’raaf 56)
Allah SWT menjelaskan agama-Nya dan peraturan agama-Nya itu melalui ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya dan Dia memerintahkan manusia untuk mengikuti ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya ketika melaksanakan amanah agar selamat di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Dalam ayat-ayat-Nya itu pula Allah SWT mengingatkan manusia tentang perjanjiannya dengan Dia sebelum dilahirkan ke dunia. Dalam ayat-ayat-Nya itu pula Allah SWT menjelaskan tujuan Dia mengambil perjanjian manusia, yaitu sebagai berikut:
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esa–an Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Al A’raaf 172-173)
Dengan demikian, Allah SWT menghendaki agar manusia mengetahui perjanjiannya itu dan mengetahui Tuhannya yang wajib disembahnya. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al A’raaf 173)
Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia untuk berjanji kembali dengan syahadat tauhid (janji tidak ada Tuhan selain Allah SWT) ketika manusia melaksanakan amanah (menjalani hidupnya) di dunia.”
Tilmidzi: “Apakah agama Allah itu agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia agar tidak mempersekutukan-Nya ketika melaksanakan amanah (menjalani hidupnya) di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (An Nisaa’ 36)
Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. (Al Mu’min 62)
Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. (Al Mu’minuun 116)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al Baqarah 255)
Karena itu, kalimat tauhid, yaitu tidak ada Tuhan selain Allah SWT yang diperintahkan-Nya untuk diucapkan (diikrarkan), merupakan janji hanya menyembah (mengikuti) Dia saja tanpa mengikuti (menyembah) tuhan-tuhan selain Dia ketika melaksanakan amanah. Jika mengikuti tuhan-tuhan selain Dia, maka itu berarti manusia menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya dengan tuhan itu.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya ketika melaksanakan amanah (menjalani hidupnya)?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. (Al Mu’min 65)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (Al Bayyinah 5)
Allah SWT memperingatkan manusia agar tidak mengikuti agama selain agama-Nya ketika melaksanakan amanah. Mengikuti agama selain agama-Nya berarti mengikuti atau menyembah tuhan selain Dia, dan itu berarti menyekutukan-Nya dengan tuhan itu. Allah SWT berfirman:
Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? (Al Qalam 37-38)
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Wallahu a’lam.