Mengapa Wajib Ucapkan Dua Kalimat Syahadat?

Dialog Seri 11: 2

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengucapkan syahadat Rasul setelah syahadat tauhid?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya melalui ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)

 

Allah SWT memerintahkan Rasul-Rasul-Nya untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya termasuk menjelaskan agama-Nya dan peraturan agama-Nya kepada umat Rasul masing-masing. Allah SWT berfirman:

 

Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)

 

Dan Allah SWT memerintahkan manusia (umat Rasul) untuk mengikuti Rasul, karena dengan mengikuti Rasul berarti mengikuti-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. (An Nisaa’ 64)

 

Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (An Nisaa’ 80)

 

Karena itu, umat manusia yang mengikuti agama-Nya yang dibawa (dijelaskan) oleh Rasul, maka umat Rasul wajib mengucapkan syahadat tauhid dan syahadat Rasul.”

 

Tilmidzi: “Apakah agama-Nya dan peraturan agama-Nya yang dijelaskan oleh setiap Rasul itu tidak berbeda?”

 

Mudariszi: “Setiap Rasul diberikan ayat-ayat-Nya untuk dijelaskan kepada umat Rasul agar mengetahui agama-Nya dan peraturan agama-Nya. Umat Rasul diwajibkan mengikuti ayat-ayat-Nya termasuk mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya (melaksanakan amanah) di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al Hadiid 25)

 

Agama Allah yang dijelaskan (disampaikan) oleh setiap Rasul kepada umat Rasul tidak berbeda, yaitu agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja tanpa menyekutukan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (Al Anbiyaa’ 25)

 

Ketika Rasul-Rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah. (Fushshilat 14)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu. (An Nahl 36)

 

Tapi peraturan (syariat) agama-Nya yang ditetapkan oleh Allah SAW bagi setiap Rasul dan umatnya itu berbeda-beda. Allah SWT berfirman:

 

Tiap-tiap umat mempunyai Rasul. (Yunus 47)

 

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan. (Al Hajj 67)

 

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)

 

Dengan demikian, agama yang dibawa (disampaikan) oleh Rasul-Rasul itu sama, yaitu agama-Nya yang tauhid, tapi dengan peraturan (syariat) agama-Nya yang berbeda.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan umat Rasul untuk mengikuti peraturan agama-Nya yang ditetapkan oleh-Nya dan oleh Rasul ketika menjalani hidupnya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an yang diberikan-Nya kepada Rasulullah SAW itu menjelaskan tentang agama-Nya dan peraturan agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW itu untuk manusia dan Rasulullah SAW pula diutus-Nya kepada manusia. Allah SWT berfirman:

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Al Qur’an mengandung penjelasan tentang agama-Nya dan peraturan agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)

 

Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW agar menjelaskan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya kepada manusia dan menyeru manusia agar mengikuti agama-Nya itu ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Tilmidzi: “Apakah agama Islam yang dijelaskan (dibawa) oleh Rasulullah SAW itu adalah agama Allah?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)

 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan agama-Nya tersebut kepada manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an termasuk menjelaskan agama-Nya dan peraturan agama-Nya kepada manusia. Allah SWT berfirman:

 

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat. (Ar Ra’d 30)

 

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman, dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus 104-106)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku. Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku. (Az Zumar 11-14)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengikuti Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengucapkan syahadat Rasul setelah syahadat tauhid?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Saya diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu, maka terpeliharalah dari padaku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka atas Allah.” (HR Bukhari)

 

Ucapan (kesaksian) dua kalimat syahadat (syahadat tauhid dan syahadat Rasul) dari umat Rasulullah tersebut disaksikan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Al Israa’ 96)

 

Dan seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia lalu menjadi muslim atau umat Islam, dan dia wajib menjalani hidupnya dengan mengikuti peraturan (syariat) agama Islam (agama-Nya) yang ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW dalam as sunnah.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply