Dialog Seri 11: 3
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT akan meminta pertanggungan jawaban manusia atas syahadat tauhid (perjanjiannya) ketika hidup di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Ahzab 15)
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al Qiyaamah 36)
Firman-Nya di atas menunjukkan Allah SWT akan meminta pertanggungan jawaban manusia atas syahadat (persaksian atau perjanjian) tauhid. Contoh, Rasulullah SAW dan umat beliau yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadat tauhid dan syahadat Rasul) akan diminta pertanggungan jawabannya oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 44)
Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (Al Hadiid 8)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mengucapkan syahadat tauhid atau yang tidak mengikuti agama-Nya?”
Mudariszi: “Orang-orang yang tidak mengucapkan syahadat tauhid atau tidak mengikuti agama Allah, juga akan dimintakan pertanggungan jawabannya oleh Allah SWT, karena Dia telah mengambil kesaksian (perjanjian) semua manusia sebelum dilahirkan ke dunia, dan Dia telah menjelaskannya kembali kepada semua manusia melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Tilmidzi: “Pertanggungan jawaban manusia apakah yang diminta-Nya?”
Mudariszi: “Pertanggungan jawaban yang diminta oleh Allah SWT yaitu pertanggungan jawaban perbuatan manusia ketika hidup di dunia guna melaksanakan amanah dengan agama-Nya dan karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Al Muddatstsir 38)
Manusia melaksanakan amanah di dunia karena kesediaannya memikul amanah dari Allah SWT seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Dalam melaksanakan amanah tersebut, manusia diberikan oleh Allah SWT semua apa yang ada di bumi termasuk keperluan hidupnya. Allah SWT berfirman:
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 10)
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Manusia lalu diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya ketika melaksanakan amanah (menjalani hidup), karena bumi dan semua yang ada di bumi merupakan kepunyaan-Nya. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan jika manusia menepati janjinya ketika melaksanakan amanah, maka Allah SWT berjanji kepada manusia, sebagai berikut:
Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al Fath 10)
Tilmidzi: “Bagaimana pertanggungan jawaban perbuatan manusia itu, karena manusia dijadikan oleh Allah SWT dengan keadaan dan kemampuan yang berbeda-beda?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia dengan berbeda keadaan dan kemampuan. Tapi keadaan manusia itu tidak membuatnya tidak dapat menjalani hidupnya (atau melaksanakan amanah) dengan agama-Nya dan karunia-Nya di bumi. Allah SWT menetapkan tanggung jawab manusia itu seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggauta keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap mereka. Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta suruhannya, dan dia juga akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan ingat, setiap kamu adalah pemimpin. Setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang kamu pimpin.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT memastikan manusia akan berkata benar (tidak berbohong) ketika diminta pertanggungan jawaban perbuatannya di dunia?”
Mudariszi: “Semua perbuatan manusia ketika menjalani hidup di dunia dengan agama-Nya dan karunia-Nya di bumi itu dicatat oleh malaikat utusan-Nya. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf 17-18)
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Infithaar 10-12)
Malaikat mencatat seluruh perbuatan manusia termasuk ucapannya dalam buku catatan amal perbuatan manusia. Buku catatan itu berisi perbuatan manusia dari yang paling kecil hingga ke yang paling besar; kitab itu diberikan kepada manusia ketika dimintakan pertanggungan jawaban perbuatannya. Allah SWT berfirman:
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al Mujaadilah 6)
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al Qamar 52-53)
Selain itu, pendengaran, penglihatan dan hati manusia akan dimintakan pertanggungan jawabannya, karena ketiga organ itu yang membuat timbulnya perbuatan manusia. ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israa’ 36)
Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)
Keinginan hatinya itu dicapai melalui perbuatannya dengan menggunakan seluruh organ tubuhnya. Pendengaran dengan telinganya mendengar sesuatu, penglihatan dengan matanya melihat sesuatu. Sesuatu itu dipikirkannya hingga menjadi keinginan hatinya. Keinginannya itu lalu dicapainya dan dirasakannya dengan kulitnya. Hal itu menjadikan pendengaran, penglihatan dan kulit akan memberikan kesaksiannya pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (Fushshilat 19-22)
Seluruh organ tubuh lainnya yang digunakan untuk mencapai keinginan hatinya itu juga akan memberikan kesaksiannya, kecuali mulut. Allah SWT berfirman:
Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu). (Al Mursalaat 35)
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yaasiin 65)
Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An Nuur 24)
Adanya buku catatan amal perbuatan manusia dan kesaksian organ-organ tubuh manusia itu akan membuat manusia tidak dapat berkata bohong ketika dimintakan pertanggungan jawaban perbuatannya di dunia.”
Tilmidzi: “Kapan manusia dimintakan pertanggungan jawaban perbuatannya di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT meminta pertanggungan jawaban perbuatan manusia di dunia itu pada hari kiamat. Dan pada waktu itu pula Allah SWT akan membalas manusia dengan balasan yang sesuai dengan janji-Nya kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar, dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorangpun. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. (Al Kahfi 47-48)
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az Zalzalah 6-8)
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya. (Az Zumar 20)
Wallahu a’lam.