Dialog Seri 7: 3
Tilmidzi: “Apakah yang terjadi ketika kiamat datang?”
Mudatriszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (An Naml 87)
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (Az Zumar 68)
Firman-Nya di atas menunjukkan adanya suara keras ketika kiamat. Orang-orang yang mendengar suara itu akan menjadi sebagai berikut:
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. (Yaasiin 49-50)
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. (Al Hajj 2)
Rasulullah SAW menjelaskan keadaan orang-orang ketika mendengar suara sangkakala itu sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki, lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tiada seorangpun yang mendengarnya melainkan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Orang yang pertama kali mendengarnya adalah lelaki yang sedang melepa kolam untanya lalu mati dan manusiapun mati semua.” (HR Muslim)
Dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: “Ini Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kiamat terjadi, sementara seseorang sedang memerah untanya, maka sebelum wadahnya sampai ke mulutnya, kiamat sudah tiba; dua orang sedang mengadakan jual beli pakaian, maka sebelum mereka sempat menyelesaikannya, kiamat sudah terjadi; seseorang akan melepa kolamnya, maka sebelum sempat mulai, kiamat sudah tiba.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah kiamat itu sangat keras (sangat menyakitkan)?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Al Hajj 1)
Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (Al Qamar 46)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan langit ketika kiamat terjadi?”
Mudariszi: “Allah SWT menciptakan makhluk-makhluk di langit dengan ketetapan-Nya bagi setiap makhluk tersebut. Misalnya, setiap makhluk itu ditetapkan-Nya jangka waktu hidupnya dan beredar di orbitnya sendiri ketika menjalani hidupnya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya). (Ibrahim 33)
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (Al Waaqi’ah 73)
Pada waktu jangka waktu bintang-bintang atau makhluk-makhluk di langit itu habis, maka mereka beredar tidak beraturan hingga dapat saling berbenturan. Keadaan itu berpengaruh kepada langit yang menjadi tidak seimbang hingga menjadi terbelah. Allah SWT berfirman:
Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (At Takwiir 1-2)
Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan dan apabila langit telah dibelah. (Al Mursalaat 8-9)
Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (Al Infithaar 1-2)
Keadaan yang kacau di langit tersebut menjadikan langit seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang. (Ath Thuur 9)
Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (Al Haaqqah 16)
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. (Ar Rahmaan 37)
Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. (Al Ma’aarij 8)
Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana. (Al Muzzammil 18)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan bumi ketika kiamat terjadi?”
Mudariszi: “Kekacauan di langit berakibat kepada bumi karena bumi berada dalam ruangan langit. Bintang-bintang yang berjatuhan atau beredar tidak beraturan itu mengena bumi. Gunung-gunung dijadikan oleh Allah SWT dengan tujuan sebagai berikut:
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) guncang bersama mereka. (Al Anbiyaa’ 31)
Gunung-gunung tersebut menjadi hancur binasa karena terbentur makhluk-makhluk di langit yang berjatuhan. Allah SWT berfirman:
Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. (Al Haaqqah 13-15)
Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al Waaqi’ah 4-6)
Akibatnya bumi pula beredar tidak beraturan dan keadaan bumi menjadi kacau, misalnya udara menjadi kacau dengan tekanan udara yang berubah-ubah sangat cepat sehingga angin bertiup sangat kencang dan menjadikan air laut meluap, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan apabila lautan dijadikan meluap. (Al Infithaar 3)
Demikian pula dengan penghuni bumi menjadi berhamburan dan beterbangan, misalnya manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al Qaari’ah 4-5)
Tilmidzi: “Apakah semua yang ada di semesta alam ini akan mati binasa?”
Mudariszi: “Ya! Pada akhirnya, kiamat mematikan semua ciptaan-Nya di semesta alam, yaitu mematikan langit dan bumi dan semua yang ada di langit dan di bumi, termasuk yang nyata dan yang ghaib. Yang tetap hidup hanyalah Allah SWT, yaitu Tuhan mereka semua. Allah SWT berfirman:
Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati. (Al Furqaan 58)
Tilmidzi: “Jika langit dan bumi beserta apa yang ada di langit dan di bumi mati, apakah itu berarti kehidupan dunia (langit dan bumi) selesai?”
Mudariszi: “Ya! Kiamat menyelesaikan (menutup) kehidupan dunia. Setelah itu, pada waktu yang Allah SWT tetapkan, Dia mengulang penciptaan langit dan bumi yang lain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
Hanya Allah SWT yang mengetahui waktu Dia mengulang penciptaan langit dan bumi yang lain.”
Tilmidzi: “Apakah pengulangan penciptaan langit dan bumi yang lain itu merupakan sesuatu yang Allah SWT telah tetapkan?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati). (An Najm 47)
Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali, sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit). (Yunus 4)
Di antara ketetapan-Nya itu, Dia akan membangkitkan kembali manusia dari bumi. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (Al A’raaf 25)
Tilmidzi: “Dimanakah manusia ketika Allah SWT mengulang penciptaan langit dan bumi yang lain?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai firman Allah Ta’ala: “Yaitu pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit.” (surat Ibrahim ayat 48), di manakah manusia ketika itu ya Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda: “Di atas shirath (titian).” (HR Muslim)
Manusia di atas shirath (titian) dalam sunnah Rasulullah di atas yaitu semua jiwa orang-orang mati yang sebelum kiamat Dia tempatkan di bawah langit dan di atas langit sesuai dengan amal perbuatannya di dunia.”
Wallahu a’lam.