Dialog Seri 2: 4
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan penciptaan langit dan bumi dalam Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya berikut ini:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiyaa’ 30)
Allah SWT memisahkan langit dan bumi (dalam firman-Nya di atas) yang keduanya ketika itu masih berupa asap. Allah SWT berfirman:
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat 11)
Bumi dipisahkan dari langit yang keduanya bersatu padu dan merupakan asap (dalam firman-Nya di atas), yaitu asap bumi diasingkan (dijadikan tersendiri) tanpa keluar dari ruang asap langit, agar penciptaan bumi terpisah dengan penciptaan langit dan penciptaan makhluk-makhluk di langit. Asap (yang tanpa asap bumi) itu lalu dijadikan oleh Allah SWT sebagai langit dengan dibangunnya, diluaskannya, ditinggikannya dan disempurnakannya. Hal itu dijelaskan dalam firman-Nya ini:
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz Dzaariyaat 47)
Dan Allah telah meninggikan langit. (Ar Rahmaan 7)
Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. (An Naazi’aat 27-28)
Allah SWT lalu membuat langit itu menjadi tujuh langit, yaitu tujuh lapis langit atau tujuh tingkatan langit, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. (Al Baqarah 29)
Yang telah menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. (Al Mulk 3)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (Nuh 15)
Allah SWT menciptakan dan membangun langit dengan tanpa tiang hingga menjadi tujuh lapis langit yang kokoh, seimbang dan tanpa ada yang retak. Allah SWT berfirman:
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya. (Luqman 10)
Dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh. (An Naba’ 12)
Dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. (Qaaf 6)
Yang telah menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. (Al Mulk 3)
Adapun jangka waktu Allah SWT menciptakan dan membangun langit tujuh lapis, yaitu sebagai berikut:
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. (Fushshilat 12)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menciptakan langit dengan tujuh lapis itu dari asap?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di langit dan di bumi dengan ukuran dan perhitungan. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)
Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al Jin 28)
Dengan demikian, Allah SWT tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di langit dan di bumi itu terjadi dengan sendirinya, sekalipun Dia mampu berbuat itu jika Dia berkehendak. Karena langit yang di awalnya merupakan asap, maka dengan asap itulah Allah SWT menjadikan langit dengan tujuh lapis langit. Asap itu dijadikan oleh Allah SWT mengandung sejumlah partikel-partikel kecil dengan jenis-jenisnya dan turunan-turunannya. Dengan partikel-partikel asap itu Allah SWT menjadikan langit dengan tujuh lapis langit, yaitu dengan menetapkan partikel-partikel asap pada setiap lapis langit menurut ukuran dan perhitungan yang Dia tetapkan.”
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menetapkan partikel-partikel asap pada setiap lapis langit”
Mudariszi: “Karena Allah SWT hendak menetapkan urusan pada setiap lapis langit. Allah SWT berfirman:
Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. (Fushshilat 12)
Urusan pada setiap lapis langit itu adalah menciptakan makhluk-makhluk pada setiap lapis langit dan menetapkan urusan dari setiap makhluk itu. Makhluk-makhluk itu diciptakan oleh Allah SWT dari partikel-partikel asap yang ada pada setiap lapis langit. Contoh gugusan-gugusan bintang, matahari, bulan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. (Al Buruuj 1)
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (Al Furqaan 61)
Bintang-bintang, matahari, bulan yang berada pada lapis langit tertentu itu terjadi dari partikel-partikel asap. Demikian pula dengan cahaya bintang-bintang, matahari, bulan itu terjadi dari partikel-partikel asap yang ada pada lapis langit tersebut. Makhluk malaikat di langit diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya (partikel cahaya) dari partikel-partikel asap pada lapis langit. Rasulullah SAW menjelaskan asal penciptaan malaikat sebagai berikut:
Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Para malaikat diciptakan dari cahaya.” (HR Muslim)
Makhluk-makhluk hidup di langit dijadikan oleh Allah SWT dari air (partikel air) yang juga dari partikel-partikel asap. Allah SWT berfirman:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)
Demikian itulah Allah SWT menciptakan makhluk-makhluk pada setiap lapis langit dan menetapkan urusan setiap makhluk dari partikel-partikel asap pada lapis langit tersebut.”
Tilmidzi: “Apakah semua makhluk di langit diciptakan oleh Allah SWT dengan fitrahnya dan sifatnya masing-masing?”
Mudariszi: “Bintang, matahari, bulan diciptakan oleh Allah SWT dengan fitrahnya dan sifatnya (perilakunya) masing-masing dalam menjalani hidupnya. Misalnya, bentuk dan sifat yang berbeda-beda, berada di lapis langit yang berbeda-beda dan selalu beredar di orbitnya masing-masing. Allah SWT berfirman:
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (Al Waaqi’ah 75)
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya). (Ibrahim 33)
Tilmidzi: “Berapa luas langit atau luas tujuh lapis langit tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan luas langit dalam Al Qur’an, tapi penjelasan Rasulullah berikut ini mungkin dapat untuk diperkirakan luasnya:
Syaiban memberitahukan kepada kami dari Abdur Rahman dari Qatadah berkata: “Al-Hasan menceritakan dari Abu Hurairah yang berkata: “Ketika Rasulullah SAW duduk beserta para sahabat beliau, tiba-tiba awan datang kepada mereka, lalu Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu mengerti apa ini?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih mengerti.” Beliau bersabda: “Ini adalah awan dan awan ini adalah pembawa air bagi bumi dimana Allah menggiringnya kepada kaum yang tidak mensyukuri–Nya dan tidak menyembah–Nya.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu mengerti apa yang di atasmu?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih mengerti.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya di atasmu adalah langit dan langit adalah atap yang terjaga dan gelombang laut yang tidak bisa terlepas.” Beliau bersabda: “Apakah kamu mengerti berapa jarak antara kamu dan langit?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul–Nya lebih mengerti.” Beliau bersabda: “Jarak antara kamu dan langit adalah perjalanan lima ratus tahun.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu mengerti apa yang di atas langit itu?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya di atas langit ada dua langit, jarak antara keduanya perjalanan lima ratus tahun”, sehingga beliau menghitung tujuh langit jarak antara setiap langit satu dengan langit yang lain adalah perjalanan antara langit dan bumi.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Bagaimana partikel-partikel asap yang kecil itu dapat menjadikan langit yang sangat luas dan dapat menjadikan makhluk-makhluk besar pada tujuh lapis langit?”
Mudariszi: “Partikel-partikel asap berukuran sangat kecil hingga tidak terlihat, dan setiap jenis partikel pada asap itu memiliki partikel-partikel turunannya. Di antara partikel-partikel turunan itu, partikel yang terkecil adalah zarrah. Allah SWT mengetahui semua partikel pada asap itu termasuk zarrah. Allah SWT berfirman:
Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Saba’ 3)
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah di bumi atau di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 61)
Allah SWT mempertemukan partikel-partikel asap itu menurut ketetapan-Nya dalam penciptaan langit dan penciptaan makhluk-makhluk di langit termasuk penciptaan bumi karena bumi berada dalam ruang langit. Penciptaan langit dengan semua makhluk di langit dan bumi yang dari partikel-partikel asap yang kecil itu, tidak berbeda dengan penciptaan manusia yang dari saripati (partikel) tanah yang kecil. Saripati (partikel) tanah dalam rahim itu dipertemukan oleh Allah SWT dengan partikel-partikel yang ada pada rahim atau pada tubuh perempuan sehingga air mani (saripati tanah) dalam rahim tumbuh membesar membentuk manusia dalam rahim yang terus membesar sampai ke bentuk dan ukuran yang Dia tetapkan, hingga manusia itu lalu lahir ke dunia. Allah SWT berfirman:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. (Al Hajj 5)
Penciptaan manusia dari saripati (partikel) tanah hingga menjadi manusia itu mengambil waktu menurut yang Dia tetapkan, misalnya dari puluhan tahun hingga ratusan tahun. Demikian pula dengan penciptaan langit dan semua makhluk di langit dari partikel-partikel asap, yaitu mengambil waktu menurut yang Dia tetapkan, misalnya dari ribuan tahun hingga jutaan tahun. Allah SWT menciptakan semua itu dari partikel-partikel yang kecil hingga tumbuh menjadi besar, tinggi, luas, kokoh, seimbang, berdasarkan ilmu-Nya. Allah SWT berfirman:
Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. (An Naazi’aat 27-29)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan bumi?”
Mudariszi: “Tidak berbeda dengan langit, bumi diciptakan oleh Allah SWT dari partikel-partikel asap, karena bumi itu di awalnya juga merupakan asap. Allah SWT lalu menjadikan bumi dengan tujuh lapis dalam dua masa seperti Dia menjadikan langit. Allah SWT berfirman:
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. (Ath Thalaaq 12)
Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa?” (Fushshilat 9)
Allah SWT lalu menetapkan partikel-partikel asap di bumi, di atas bumi dan di dalam bumi menurut ukuran dan perhitungan yang Dia tetapkan. Dengan partikel-partikel asap itu, Allah SWT lalu menciptakan semua makhluk di bumi. Allah SWT lalu menjadikan makanan bagi semua makhluk di bumi dari partikel-partikel asap dan menetapkan kadar makanan bagi semua makhluk di bumi itu dalam empat masa. Allah SWT berfirman:
Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Fushshilat 10)
Sehingga Allah SWT menciptakan langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi yaitu selama enam masa. Allah SWT berfirman:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)
Tilmidzi: “Mengapa masa penciptaan bumi dan langit itu sama, yaitu dua masa, padahal bumi jauh lebih kecil dari langit?”
Mudariszi: “Langit diciptakan oleh Allah SWT sebagai ruangan bagi bumi dan makhluk-makhluk di langit. Ruang langit dijadikan luas karena fitrah dan sifat makhluk-makhluk dalam ruang langit memerlukan jarak yang jauh antara satu makhluk dengan makhluk lainnya. Bumi diciptakan-Nya berada dalam ruang langit dengan bentuk yang tidak berbeda jauh dengan makhluk-makhluk di langit. Selain itu, bumi dijadikan-Nya sebagai tempat bagi makhluk-makhluk hidup di daratan bumi, di atas bumi dan di dalam bumi (dalam tanah dan air). Semua makhluk di bumi itu hidup saling berdekatan antara satu dengan lainnya. Fitrah dan sifat makhluk-makhluk di bumi berbeda dengan fitrah dan sifat makhluk-makhluk di langit. Faktor-faktor itulah yang menjadikan luas bumi jauh lebih kecil daripada luas langit. Walaupun demikian, waktu tempuh pada tujuh lapis bumi tidak berbeda dengan waktu tempuh pada tujuh lapis langit, karena padat dan dalamnya bumi. Dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Syaiban memberitahukan kepada kami dari Abdur Rahman dari Qatadah berkata: “Al-Hasan menceritakan dari Abu Hurairah yang berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu mengerti apa yang ada di bawahmu?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya di bawahmu adalah bumi.” Kemudian beliau bersabda: “Apakah kamu mengerti apa yang ada setelah bumi itu?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih mengerti.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya di bawah bumi itu adalah bumi lain jarak antara keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun”, sehingga beliau menghitung tujuh bumi jarak antara bumi yang satu dengan bumi yang lain perjalanan lima ratus tahun.” (HR Tirmidzi)
Fitrah dan sifat bumi dan makhluk-makhluk di bumi itulah yang membuat masa penciptaan bumi sama dengan masa penciptaan langit. Selain itu, penciptaan langit dan penciptaan bumi tersebut bukan tidak mungkin diciptakan-Nya secara bersamaan, atau bumi tidak diciptakan-Nya setelah Dia menciptakan langit.”
Tilmidzi: “Jika bumi berada dalam ruang langit, apakah bumi itu berbentuk bulat seperti matahari atau bulan dan apakah bumi itu juga beredar di orbitnya sendiri?”
Mudariszi: “Matahari dan bulan berbentuk bulat karena terlihat dari cahayanya. Tapi cahaya bulan adakalanya berbentuk bulat dan berbentuk sabit, seperti firman-Nya ini:
Dan dengan bulan apabila jadi purnama. (Al Insyiqaaq 18)
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. (Al Baqarah 189)
Cahaya bulan itu merupakan pantulan sinar matahari ketika matahari menyinari bulan. Matahari dijadikan oleh Allah SWT menyinari bumi dan bulan. Allah SWT menjadikan bulan beredar mengitari bumi dan bumi beredar mengitari matahari. Terlihatnya cahaya bulan dari bentuk sabit ke bentuk bulat dan kembali ke bentuk sabit itu karena sinar matahari ke bulan terhalang oleh bumi ketika bulan beredar mengitari bumi. Cahaya bulan yang berbentuk sabit itu menunjukkan bumi berbentuk bulat. Allah SWT kemudian menjelaskan melalui firman-Nhya ini:
Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur.” (Al Baqarah 258)
Di belahan bumi manapun manusia berada, matahari akan selalu terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Hal itu terjadi karena Allah SWT berfirman:
Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. (Ar Rahmaan 17)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa bumi beredar di orbitnya sendiri seperti juga matahari, bulan dan bintang-bintang. Karena bumi ditetapkan oleh Allah SWT beredar di orbitnya, maka bintang-bintang, matahari dan bulan akan selalu terlihat timbul dan tenggelam di bumi pada waktu yang tetap. Di lain pihak, jika bumi tidak beredar di orbitnya, maka bumi pada suatu waktu akan hancur terbentur oleh makhluk-makhluk di langit yang selalu beredar. Terbenturnya bumi yang tidak beredar itu karena posisi bumi berada di sekitar pusat dari langit (tujuh lapis langit). Di belahan bumi manapun manusia berada, maka di atas mereka adalah tujuh lapis langit.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan makhluk-makhluk (penghuni) bumi?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW memegang tanganku, lalu bersabda: “Allah Azza wa Jalla menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung di dalamnya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan hal–hal yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan berbagai binatang di bumi pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jum’at sesudah Asar di akhir penciptaan, di penghujung waktu Jum’at, yakni antara waktu asar sampai malam.” (HR Muslim)
Tidak berbeda dengan penciptaan semua makhluk di langit, Allah SWT menciptakan semua makhluk di bumi dari partikel-partikel asap menurut ukuran dan perhitungan yang Dia tetapkan dan Dia menciptakan semua makhluk di bumi dengan fitrahnya dan sifatnya (perilakunya) masing-masing.”
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menciptakan gunung-gunung di bumi?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya berikut ini:
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. (Fushshilat 10)
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? (An Naba’ 6-7)
Dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu. (Luqman 10)
Selain menjadikan gunung-gunung, Allah SWT juga menjadikan sungai-sungai dan laut-laut di bumi. Allah SWT berfirman:
Dan Dia-lah Tuhan Yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. (Ar Ra’d 3)
Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml 61)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT lalu menciptakan tumbuh-tumbuhan?”
Mudariszi: “Adanya gunung-gunung, sungai-sungai dan laut-laut di bumi, menjadikan bumi memiliki air. Air diperlukan oleh semua makhluk hidup di bumi ketika menjalani hidupnya. Allah SWT lalu menjadikan sejumlah mata air di bumi. Allah SWT berfirman:
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al Qamar 12)
Allah SWT lalu menjadikan makhluk hidup yaitu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari tanah dan menyerap air di bumi sebagai kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman:
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (An Naazi’aat 30-31)
Supaya kamu tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. (An Naba’ 15)
Tilmidzi: “Apakah maksud dari Allah SWT menciptakan hal-hal yang tidak disukai dan menciptakan cahaya seperti dalam sunnah Rasulullah di atas?”
Mudariszi: “Hal-hal yang tidak disukai itu adalah perkara-perkara buruk yang menimpa makhluk-makhluk di bumi akibat dari penciptaan makhluk-makhluk di langit dan di bumi. Contoh bencana gempa atau badai yang merusak bumi dan makhluk-makhluk di bumi. Allah SWT menjadikan perkara-perkara yang tidak disukai itu dari partikel-partikel asap dengan ukuran yang Dia tetapkan dalam kitab Lauh Mahfuzh. Allah SWT berfirman:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al Hadiid 22)
Partikel-partikel asap yang ditetapkan oleh Allah SWT di atas bumi juga dijadikan-Nya dapat menahan makhluk-makhluk di langit yang masuk ke bumi ketika terjadi bencana akibat daripada penciptaan makhluk-makhluk di langit. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi melainkan dengan izin-Nya. (Al Hajj 65)
Sedangkan cahaya di bumi dijadikan oleh Allah SWT dari partikel-partikel asap, seperti Dia menjadikan cahaya di langit dari partikel-partikel asap. Partikel-partikel asap di bumi tidak berbeda dengan partikel-partikel asap di langit karena keduanya di awalnya bersatu padu yang merupakan asap. Perbedaannya hanya pada jumlah jenis partikel-partikel asap tersebut. Demikian pula dengan suara, tenaga (listrik), udara dan semua apa yang ada di bumi, yaitu dijadikan oleh Allah SWT dari partikel-partikel asap yang ada di bumi.”
Tilmidzi: “Apakah setelah itu Allah SWT lalu menciptakan binatang-binatang?”
Mudariszi: “Setelah di bumi terdapat air, tumbuh-tumbuhan, cahaya, suara, tenaga, udara dan lain-lain yang berkaitan dengan makhluk hidup, Allah SWT lalu menciptakan makhluk hidup yang dapat melihat, berjalan, bersuara, memakan tumbuh-tumbuhan, meminum air, yaitu binatang-binatang yang hidup di darat, di laut, di udara dan di dalam tanah. Allah SWT berfirman:
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 45)
Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. (Al Mulk 19)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu Allah SWT menciptakan manusia?”
Mudariszi: “Adanya air, tumbuh-tumbuhan, hewan, cahaya, suara, tenaga, udara dan lain-lain yang untuk makhluk hidup, maka Allah SWT lalu menciptakan manusia. Semua makhluk yang diciptakan sebelum manusia itu merupakan makhluk-makhluk yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani hidupnya. Contohnya seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. (Yaasiin 33-35)
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (An Naazi’aat 30-33)
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 73)
Allah SWT menjelaskan penciptaan manusia dari saripati (partikel) tanah dari partikel-partikel asap, tapi Dia tidak menjelaskan asal penciptaan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Walaupun demikian, pada tumbuh-tumbuhan dan hewan terdapat partikel tanah dan partikel air, karena keduanya dapat dimakan oleh manusia.”
Tilmidzi: “Apakah semua makhluk di langit dan di bumi tidak akan berbenturan ketika menjalani hidupnya karena mereka berbuat (menjalani hidup) mengikuti fitrahnya dan sifatnya masing-masing?”
Mudariszi: “Allah SWT menciptakan langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi dari asap yang mengandung partikel-partikel. Itu menunjukkan semua makhluk di langit dan di bumi mengandung persamaan partikel meskipun jenis dan ukuran jumlah partikel pada setiap makhluk berbeda-beda. Selain menetapkan ukuran, Allah SWT menghitung jumlah setiap makhluk dan menetapkan urusan bagi semua makhluk dengan peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (An Nisaa’ 86)
Sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Al Qamar 3)
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3)
Ketetapan Allah di atas akan mencegah terjadinya benturan di antara makhluk-makhluk di langit dan di bumi ketika mereka berbuat (menjalani hidup) dengan fitrahnya dan sifatnya (perilakunya) masing-masing. Kehidupan semua makhluk di dunia tidak akan menjadi rusak selama setiap makhluk berbuat (menjalaninya) dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya.”
Wallahu a’lam.