Dialog Seri 2: 6
Tilmidzi: “Mengapa perbuatan manusia di dunia harus dihisab (diadili atau diperhitungkan) oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Karena manusia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama di dunia akibat dari kesediannya memikul amanah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman::
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Bersedia memikul amanah dari Allah SWT berarti mengadakan perjanjian dengan Allah SWT. Perjanjian itu akan dimintakan pertanggungan jawabannya oleh Allah SWT. Karena itu, langit, bumi dan gunung-gunung enggan memikul amanah tersebut karena mereka khawatir akan mengkhianatinya seperti dalam firman-Nya di atas. Pertanggungan jawaban kepada Allah SWT atas perjanjian merupakan ketetapan-Nya dalam peraturan (syariat) agama-Nya bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Karena itu, manusia yang bersedia memikul amanah dari Allah SWT akan dimintakan pula pertanggungan jawabannya. Allah SWT berfirman:
Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.(Al Ahzab 15)
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al Qiyaamah 36)
Dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 44)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT meminta pertanggungan jawaban manusia atas amanah tersebut?”
Mudariszi: “Pertanggungan jawaban manusia itu akan terjadi pada hari kiamat. Pada waktu itu Allah SWT akan menanyakan kepada manusia atas perbuatannya di dunia ketika melaksanakan amanah. Allah SWT berfirman:
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (Al Anbiyaa’ 23)
Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (An Nahl 93)
Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat.” (Saba’ 25)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia sampai bersedia memikul amanah itu?”
Mudariszi: “Kesediaan manusia memikul amanah itu ketika manusia belum hidup ke dunia. Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (Maryam 93)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia telah ada atau telah diciptakan-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi. Manusia ketika itu dalam keadaan mati, tapi tidak mati bagi Allah SWT. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui bentuk manusia ketika itu. Sehingga pada waktu itulah terjadinya perjanjian amanah tersebut. Allah SWT berfirman:
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (Maryam 67)
Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam 9)
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. (Al Baqarah 28)
Tilmidzi: “Apakah perkara itu tetap menjadi tanggung jawab manusia padahal manusia tidak mengetahuinya karena belum hidup?”
Mudariszi: “Allah SWT mengetahui manusia yang lahir ke dunia tidak mengetahui jika dia mempunyai tanggung jawab terhadap Allah SWT. Karena itu, agar manusia mengetahuinya, Allah SWT lalu menurunkan ayat-ayat-Nya (termasuk Al Qur’an) untuk manusia yang menjelaskan tentang perkara-perkara yang tidak diketahuinya termasuk perkara amanah itu. Allah SWT lalu memerintahkan manusia agar membaca ayat-ayat-Nya ketika menjalani hidupnya supaya diajarkan-Nya hingga mereka mengetahui perkara-perkara yang tidak diketahuinya. Allah SWT berfirman:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT hanya bertanya kepada langit, bumi, gunung-gunung dan manusia saja dalam perkara amanah itu?”
Mudariszi: “Allah SWT bertanya kepada langit, bumi, gunung-gunung dan manusia itu menunjukkan bahwa amanah yang diberikan oleh Allah SWT itu berlangsung di bumi. Karena tidak mungkin amanah itu berlangsung di langit yang sangat luas, terlebih lagi gunung-gunung dan manusia berada di bumi atau bukan makhluk-makhluk di langit. Karena itu bumi menjadi termasuk yang ditanyakan oleh Allah SWT. Sedangkan langit ditanyakan oleh Allah SWT karena bumi berada dalam ruang langit. Gunung-gunung juga ditanyakan oleh Allah SWT karena gunung-gunung mengokohkan bumi agar tidak menggoncangkan penghuni-penghuni bumi. Dan manusia ditanyakan oleh Allah SWT karena manusia merupakan penghuni bumi dan makhluk yang dilebihkan-Nya di antara kebanyakan makhluk lain, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al Israa’ 70)
Tilmidzi: ”Amanah apakah yang dipikul oleh manusia itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. (Huud 61)
Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa manusia dijadikan-Nya sebagai pengganti Allah SWT dalam memimpin untuk memelihara dan memakmurkan bumi termasuk penghuni-penghuni bumi. Sebagai khalifah, manusia diberikan oleh Allah SWT kuasa untuk memimpin dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya yang Dia tetapkan. Selain itu, manusia diberikan oleh Allah SWT kekuasaan atas semua apa yang ada di langit dan di bumi, yaitu dengan ditundukkan-Nya semua itu untuk manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Manusia sebagai khalifah yang memimpin memakmurkan bumi dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya itu merupakan perbuatan manusia dalam melaksanakan amanah. Atau manusia menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti peraturan agama-Nya merupakan perbuatan manusia dalam melaksanakan amanah.”
Tilmidzi: “Sebagai khalifah, mengapa manusia harus memimpin dengan mengikuti peraturan agama Allah?”
Mudariszi: “Karena bumi yang dimakmurkan oleh manusia itu merupakan kepunyaan-Nya. Semua kepunyaan-Nya di semesta alam (termasuk bumi), dipelihara oleh Allah SWT dengan peraturan agama-Nya. Allah SWT berfirman:
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az Zumar 62)
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. (Al A’raaf 54)
Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Al An’aam 57)
Dengan Allah SWT menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi yang memakmurkan bumi kepunyaan-Nya, maka manusia wajib memakmurkan atau memelihara bumi dengan mengikuti peraturan agama-Nya yang Dia tetapkan. Memakmurkan bumi dengan mengikuti peraturan agama-Nya merupakan amanah dari Allah SWT. Dengan demikian, manusia menjalani hidupnya dengan mengikuti peraturan agama-Nya itu menjadi bagian dari amanah.”
Tilmidzi: “Bagaimana manusia dapat mengetahui peraturan agama-Nya?”
Mudariszi: “Manusia dapat mengetahui peraturan agama-Nya dari ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) yang Allah SWT turunkan untuk manusia melalui Nabi-Nabi utusan-Nya. Nabi-Nabi itu menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia termasuk penjelasan tentang semua perkara yang tidak diketahui oleh manusia dan tentang peraturan agama-Nya. Allah SWT lalu melarang manusia mengingkari ayat-ayat-Nya ketika menjalani hidupnya (melaksanakan amanah), karena perbuatan itu akan berakibat buruk bagi dirinya, bagi makhluk-makhluk lain dan bagi bumi. Karena itu Allah SWT menetapkan dalam peraturan agama-Nya bahwa mengingkari (mendustakan) ayat-ayat-Nya merupakan perbuatan yang berdosa. Allah SWT berfirman:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Al Qur’an merupakan salah satu dari kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) untuk manusia dan juga merupakan kitab-Nya yang terakhir. Dalam Al Qur’an dijelaskan pula tentang peraturan agama-Nya untuk manusia yang wajib diikutinya ketika menjalani hidupnya di dunia atau melaksanakan amanah sebagai khalifah. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)
Tilmidzi: “Mengapa orang-orang yang menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya dan yang mendustakan ayat-ayat-Nya itu menjadi penghuni neraka?”
Mudariszi: “Orang-orang yang menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya adalah orang-orang yang menyombongkan dirinya terhadap Allah SWT atau mendustakan (mengingkari) Allah SWT, karena ayat-ayat-Nya itu dari Allah SWT. Mereka itu tidak beriman kepada Allah SWT, mereka itulah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al Baqarah 6)
Karena kesombongannya dan keingkarannya kepada Allah SWT dengan mengingkari ayat-ayat-Nya, orang-orang kafir menjalani hidupnya (melaksanakan amanah) dengan mengikuti peraturan selain peraturan agama-Nya. Peraturan orang-orang kafir itu pasti salah karena mereka tidak mengetahui kehidupan makhluk-makhluk. Allah SWT berfirman:
Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka. (Muhammad 3)
Perbuatan orang-orang kafir yang mengikuti peraturannya sendiri itu akan merusak dirinya, merusak makhluk-makhluk lain dan merusak bumi. Orang-orang kafir itu bukannya memakmurkan bumi tapi merusak bumi, sehingga mereka secara nyata telah mengkhianati amanah. Dan hal itu membuat Allah SWT menjadi murka kepada orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Faathir 39)
Sebagai balasan terhadap perbuatan orang-orang kafir itu, Allah SWT lalu membalasnya dengan balasan menempatkan mereka di neraka setelah perbuatannya dihisab di hari kiamat.”
Tilmidzi: “Bagaimana manusia dapat mengetahui jika semua makhluk di langit dan di bumi itu mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya?”
Mudariszi: “Semua itu dijelaskan dalam ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan untuk manusia. Contoh, Allah SWT menjelaskan dalam kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) bahwa semua makhluk di langit dan di bumi bersujud dan bertasbih kepada-Nya mengikuti peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. (Ar Ra’d 15)
Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. (An Nuur 41)
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)
Dengan demikian, semua makhluk di semesta alam menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya. Karena itu Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. (Ali ‘Imran 83)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mencatat semua perbuatan manusia di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al Qamar 52-53)
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yaasiin 12)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah penciptaan semesta alam itu terkait erat dengan penciptaan manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq. (Ad Dukhaan 38-39)
Dalam penciptaan semesta alam atau penciptaan langit dan bumi beserta semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan-Nya, dan setelah itu akan terjadi kiamat. Rasulullah SAW merupakan Nabi terakhir yang diutus-Nya, sehingga Al Qur’an yang diturunkan-Nya kepada beliau itu menjadi kitab-Nya (ayat-ayat-Nya) yang terakhir untuk manusia, dan setelah itu akan terjadi kiamat. Allah SWT berfirman:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)
Penjelasan di atas menunjukkan tujuan penciptaan semesta alam itu terkait erat dengan penciptaan manusia yang memikul amanah dari Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi. Bahkan manusia tidak dapat menjalani hidupnya di dunia jika tanpa makhluk-makhluk di langit dan di bumi. Hanya orang-orang kafir yang beranggapan tidak ada kaitan antara manusia dengan apa yang ada di langit dan di bumi, karena kesombongannya dan keingkarannya terhadap ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shaad 27)
Kesombongannya dan keingkaran orang-orang kafir terhadap ayat-ayat-Nya menjadikan mereka tidak mengetahui tentang hari kiamat, tentang penghisaban atas perbuatannya di dunia pada hari kiamat, tentang surga dan neraka dalam kehidupan akhirat. Mereka beranggapan bahwa adanya langit dan bumi beserta semua yang ada di langit dan di bumi itu tidak memiliki tujuan apapun, tapi mereka mengetahui jika semua makhluk yang hidup itu pasti akan mati. Allah SWT berfirman:
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al Ahqaaf 3)
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Ar Ruum 8)
Tilmidzi: “Apakah penciptaan semesta alam dan penciptaan manusia itu juga terkait erat dengan surga dan neraka?”
Mudariszi: “Pertanggungan jawaban manusia atas amanah yang dipikulnya di bumi itu terjadi pada hari kiamat dihadapan Allah SWT, yaitu dengan Dia menghisab (memperhitungkan) perbuatan manusia selama di dunia. Setelah penghisaban, Allah SWT akan membalas manusia dengan balasan di tempatkan di surga atau di neraka. Allah SWT berfirman:
Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al Mu’minuun 115)
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu). (At Taghaabun 3)
Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan. (Al Jaatsiyah 22)
(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, maka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 81-82)
Setelah penghisaban, ada manusia yang menjadi penghuni surga dan ada pula yang menjadi penghuni nereka. Mereka semua hidup kekal ditempatnya masing-masing. Hidup kekalnya manusia di akhirat itu membuat orang-orang kafir menjadi sebagai berikut:
Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. (Al Haaqqah 27)
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). (Al Haaqqah 50)
Surga dan neraka yang telah diciptakan-Nya sebelum Dia menciptakan semesta alam, menjadi terisi oleh manusia. Dengan demikian, kehidupan dunia yang dijadikan oleh Allah SWT melalui penciptaan semesta alam, hanyalah tempat bagi manusia untuk menuju ke tempatnya yang kekal dalam kehidupan akhirat, yaitu surga atau neraka.”
Wallahu a’lam.