Dialog Seri 10: 1
Tilmidzi: “Apakah Nabi Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shaad 71)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 30)
Allah SWT lalu menamakan manusia dari tanah itu sebagai berikut:
Allah menciptakan Adam dari tanah. (Ali ‘Imran 59)
Dengan demikian, manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT dari tanah adalah Nabi Adam, dan itu juga ditegaskan dalam firman-Nya ini:
Yang demikian itu ialah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (Sajdah 6-7)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menciptakan Nabi Adam dari tanah?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al Hijr 28)
Tanah itu dijadikan oleh Allah SWT berbentuk manusia, dan itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan–Nya.” (HR Muslim)
Tanah yang berbentuk manusia itu bukan tidak mungkin seperti patung. Setelah Allah SWT membiarkan tanah berbentuk manusia itu sekian lamanya, Dia lalu menyempurnakan bentuknya, ukurannya, sifat-sifatnya, menurut yang Dia tetapkan. Kemudian Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh manusia dari tanah itu hingga bernyawa atau hidup. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku–sempurnakan kejadiaannya dan Ku–tiupkan kepadanya roh (ciptaan)–Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya. (Shaad 71-73)
Perintah Allah kepada para malaikat dalam firman-Nya di atas merupakan perintah sujud kepada manusia yang hidup (bernyawa). Allah SWT melarang semua makhluk bersujud kepada benda mati (tidak bernyawa), dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. (An Nahl 20-21)
Tilmidzi: “Kapan Allah SWT menciptakan manusia (Nabi Adam)?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan tahun penciptaan Nabi Adam, tapi Dia menjelaskan hari dan waktu penciptaan beliau. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW memegang tanganku, lalu bersabda: “Allah Azza wa Jalla menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung di dalamnya pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan hal–hal yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan berbagai binatang di bumi pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jum’at sesudah ashar di akhir penciptaan, di penghujung waktu Jum’at, yakni antara waktu ashar sampai malam.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan Nabi Adam sebagai manusia yang hidup?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam tingginya 60 hasta.” (HR Bukhari)
Tanah asal penciptaan manusia itu dijadikan oleh Allah SWT berada dalam tubuh Nabi Adam sebagai saripati, dan saripati tanah itu lalu dijadikan-Nya sebagai air mani. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani. (Al Mu’minuun 12-13)
Air mani yang dijadikan oleh Allah SWT dalam tubuh Nabi Adam itu mencakup seluruh air mani anak cucu Nabi Adam hingga kiamat. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tatkala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggung Adam, maka rontoklah dari punggung Adam setiap manusia yang Allah Penciptanya dari keturunan Adam sampai hari kiamat dan Allah menciptakan antara kedua mata setiap manusia di antara mereka kilatan cahaya, kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam, Adam berkata: “Hai Tuhanku, siapa mereka ini?” Allah berfirman: “Mereka ini adalah keturunanmu.” (HR Tirmidzi)
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath Thaariq 5-7)
Nabi Adam lalu dapat berfikir dan berilmu setelah diajarkan oleh Allah SWT, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. (Al Baqarah 31)
Selama dalam pengajaran Allah, Nabi Adam menjalani hidupnya bersama-sama dengan para malaikat. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah berfirman: “Pergilah dan berilah salam kepada malaikat-malaikat itu dan dengarkanlah apa yang mereka hormatkan kepadamu. Itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu.” Adam mengucapkan: “Assalaamu’alaikum.” Para malaikat menjawab: “Assalaamu’alaika wa rahmatullah.” (Semoga keselamatan tetap atasmu dan demikian juga rahmat Allah). Mereka menambah wa rahmatullah.” (HR Bukhari)
Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” (Al Baqarah 31-33)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Adam tetap menjalani hidupnya dengan para malaikat setelah pengajaran Allah?”
Mudariszi: “Allah SWT tidak menjadikan Nabi Adam hidup seorang diri. Pada waktunya, Allah SWT lalu menciptakan manusia kedua berupa perempuan. Allah SWT menciptakan orang perempuan itu dari diri (tulang rusuk) Nabi Adam dengan tujuan agar Nabi Adam menyenanginya. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. (Al A’raaf 189)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Wasiatilah wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.” (HR Muslim)
Nabi Adam yang menyenangi perempuan itu, lalu dijadikan oleh Allah SWT sebagai isterinya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya. (Az Zumar 6)
Tilmidzi: “Bagaimana sepasang suami isteri itu menjalani kehidupannya?”
Mudariszi: “Kedua suami isteri itu menjalani hidupnya dengan mengikuti perintah Allah, yaitu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (Al A’raaf 19)
Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (Thaahaa 117-119)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Adam dan isterinya untuk menjalani hidupnya di surga dengan taat mengikuti perintah dan larangan (agama-Nya) yang Dia telah tetapkan itu. Allah SWT juga menjelaskan kepada mereka tentang Iblis (syaitan) yang selalu ingin menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.”
Tilmidzi: “Apakah Iblis menggoda Nabi Adam dan isterinya agar tersesat?”
Mudariszi: “Iblis telah bersumpah akan menyesatkan manusia, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad 82-83)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf 16-17)
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Al Hijr 39-40)
Nabi Adam dan isterinya adalah manusia juga, sehingga keduanya termasuk yang akan disesatkan oleh Iblis (syaitan) dengan digodanya.”
Tilmidzi: “Bagaimana Iblis (syaitan) menggoda Nabi Adam dan isterinya?”
Mudariszi: “Iblis menggoda Nabi Adam dan isterinya agar mereka melanggar perintah-Nya yang melarang keduanya memakan buah dari pohon terlarang. Iblis menggoda keduanya dengan jalan seperti yang dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Syaitan itu memberi janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An Nisaa’ 120)
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)
Iblis (syaitan) memberikan janji-janji manis kepada manusia dengan tujuan agar timbul hawa nafsunya. Iblis mengetahui bahwa manusia tidak dapat menahan nafsunya yang telah timbul, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkan–Nya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu.” (HR Muslim)
Karena itu Iblis kemudian membujuk Nabi adam dan isterinya dengan memberikan janji-janji manis. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya. (Al A’raaf 20)
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. (Al A’raaf 22)
Iblis membujuk keduanya untuk mengetahui pohon terlarang itu dengan janji-janji manis yang penuh tipu daya. Allah SWT menjelaskan bujuk rayu Iblis itu sebagai berikut:
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaahaa 120)
Setelah mengetahui pohon terlarang tersebut, Iblis lalu menggodanya lagi dengan bujuk rayu dan janji-janji manis lainnya, yaitu sebagai berikut:
Dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (Al A’raaf 20)
Iblis membisikkan seperti firman-Nya di atas karena Nabi Adam mengetahui bahwa para malaikat dijadikan-Nya dengan tugas yang tetap. Iblis yang membisikkan Nabi Adam dan isterinya agar memakan buah terlarang supaya keduanya tidak menjadi malaikat (seperti firman-Nya di atas), hanyalah tipu daya Iblis saja. Selain itu, hasutan Iblis tersebut juga bertujuan untuk membangkitkan rasa ingin di hati Nabi Adam dan di hati isterinya, yaitu rasa ingin memakan buah terlarang itu. Jika rasa ingin untuk memakannya timbul, Iblis akan terus menggoda mereka agar timbul hawa nafsunya untuk memakan buah terlarang itu. Untuk membulatkan hati mereka, Iblis lalu membisikkan keduanya dengan janji-janji sebagai berikut:
Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (Al A’raaf 21)
Tilmidzi: “Apakah Iblis berhasil sesatkan Nabi Adam dan isterinya?”
Mudariszi: “Syaitan (Iblis) menggoda manusia melalui bisikan-bisikan jahatnya itu tanpa henti-hentinya. Demikian pula dengan Nabi Adam dan isterinya yang digoda oleh Iblis tanpa henti-hentinya dalam waktu yang mungkin sangat lama. Pada akhirnya Iblis berhasil menyesatkan Nabi Adam dan isterinya, yaitu keduanya memakan buah terlarang. Perbuatan mereka itu membuat mereka menjadi durhaka kepada Allah SWT karena melanggar perintah-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (Thaahaa 121)
Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al A’raaf 22)
Tilmidzi: “Apakah yang membuat Nabi Adam dan isterinya lebih mendengar bisikan Iblis daripada perintah Allah?”
Mudarisizi: “Bujuk rayu dan janji-janji manis Iblis (syaitan) itu terasa indah (bagus) di hati Nabi Adam dan di hati isterinya. Bujuk rayu Iblis yang terus menerus tanpa henti-hentinya dapat menimbulkan hawa nafsu keduanya, yaitu hawa nafsu ingin merasakan (memakan) buah dari pohon terlarang. Hawa nafsu isteri Nabi Adam boleh jadi timbul pertama kali; setelah itu isteri Nabi Adam lalu membujuk Nabi Adam agar bersama-sama memakan buah tersebut. Bujuk rayu isteri Nabi Adam itu lalu membulatkan hawa nafsu Nabi Adam, sehingga beliau menerima ajakan isterinya. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Andaikata Hawa tidak (merayu Adam untuk makan buah di surga), niscaya perempuan tidaklah berkhianat kepada suaminya.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa isteri Nabi Adam lebih dulu terhasut oleh bujuk rayu Iblis. Isteri Nabi Adam yang kemudian membujuk Nabi Adam, disadari atau tidak disadarinya, menjadi penolong Iblis dalam menggoda Nabi Adam agar mau memakan buah dari pohon terlarang. Dan karena hawa nafsu itu terjadi karena syaitan (Iblis), sehingga, jika keduanya telah dikuasai oleh hawa nafsunya masing-masing, maka mereka berarti telah dikuasai oleh syaitan (Iblis). Dan jika keduanya sudah dikuasai oleh syaitan, maka keduanya akan melupakan Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al Mujaadilah 19)
Dengan keduanya melupakan Allah SWT, berarti keduanya melupakan perintah-Nya. Itu menunjukkan mereka tidak sungguh-sungguh dalam memelihara (menjaga) ayat-ayat-Nya atau perintah-Nya. Jika mereka sungguh-sungguh memelihara perintah-Nya, maka janji-janji manis atau bujuk rayu apapun yang berkaitan dengan pohon terlarang akan ditinggalkannya atau tidak dipikirkannya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Thaahaa 115)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT tidak membantu Nabi Adam dan isterinya ketika keduanya digoda oleh Iblis?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT telah menjelaskan dan memperingatkan Nabi Adam sebelumnya. Di lain pihak, Nabi Adam pula tidak pernah memohon kepada-Nya ketika digoda oleh Iblis. Nabi Adam lebih memikirkan bisikan Iblis dengan janji-janjinya daripada mengingat Allah SWT. Meskipun demikian Allah SWT lalu memaafkan keduanya setelah mereka mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf 23)
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. (Al Baqarah 37)
Tetapi Allah SWT tetap menghukum keduanya karena mereka telah mendurhakai-Nya atau mendurhakai perintah-Nya. Keduanya dihukum oleh Allah SWT dengan diturunkan ke bumi, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (Al A’raaf 24)
Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (Al A’raaf 25)
Wallahu a’lam.