Dialog Seri 0: 1
Tilmidzi dirisaukan oleh pengetahuan agamanya di usianya yang memasuki empat puluh tahun. Kitab-kitab agama yang dibacanya tidak juga dipahaminya. Al Qur’an sulit dipahaminya karena susunan ayat-ayat Al Qur’an menurutnya tidak beraturan. Pusat-pusat pengajian yang didatanginya juga tidak membuatnya puas. Sehingga, dia terus membaca kitab-kitab agama dengan harapan dapat memahaminya walaupun dalam waktu yang lama.
Tilmidzi membaca buku di tempat-tempat umum yang terbuka. Tanpa diduga, di satu tempat dia bertemu dengan Mudariszi, seorang tua. Setelah beberapa kali pertemuan, Mudariszi mengetahui tujuan Tilmidzi, sehingga dia lalu mengatakan kepada Tilmidzi bahwa dia memiliki pengetahuan agama yang ingin diajarkan kepada siapapun yang mau belajar agama, karena mengajarkan agama merupakan kewajiban bagi orang yang mengetahuinya.
Mudariszi tidak mengajarkan agama kepada orang banyak karena dia tidak ada kemampuan untuk menjelaskan di hadapan orang banyak dan khawatir ada pendengar yang tidak memahami penjelasannya atau salah memahami. Mudariszi merasa bersalah dan takut jika ada pendengarnya salah memahami penjelasannya (ucapannya) tentang agama.
Tilmidzi tertarik, dia meminta Mudariszi agar mau mengajarkannya dan menjawab semua rasa ingin tahunya. Mudariszi menyetujuinya dan meminta Tilmidzi untuk membawa Al Qur’an dan kitab hadis shahih serta mencatat semua tanya jawab di antara mereka, agar dapat dibaca ulang di rumah dan bertanya kembali jika ada yang belum dipahami. Mudariszi lalu mengatakan kepada Tilmidzi sunnah (hadis) Rasulullah ini:
Dari Utsman bin Affan, katanya: “Rasullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Mengapa ingin menjelaskan dan mengajarkan agama Islam?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka, akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa. (Al An’aam 69)
Mengingatkan dalam firman-Nya di atas termasuk menjelaskan dan mengajarkan agama Islam kepada umat Islam yang belum mengetahuinya atau terbatas pengetahuannya. Umat yang memahami agama Islam akan memudahkan iman masuk ke hatinya atau bertambah keimanannya, sehingga lebih mudah mengajaknya (mengingatkannya) untuk bertakwa. Bertakwa yaitu taat mengikuti syariat agama Allah (agama Islam) ketika umat Islam menjalani hidupnya di dunia. Syariat agama-Nya (Islam) itu berupa perintah dan larangan yang ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an dan ditetapkan oleh Rasulullah SAW dalam As Sunnah.”
Tilmidzi: “Bukankah orang Islam itu berarti orang beriman?”
Mudariszi: “Orang Islam itu bukan berarti dia telah beriman, tapi dia hanya tunduk kepada agama Islam. Iman sebagai pemeluk agama Islam belum masuk ke dalam hatinya. Iman telah masuk ke dalam hatinya itu dapat diketahui dari perbuatannya, yaitu perbuatan yang taat mengikuti syariat agama Islam ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu.” (Al Hujuraat 14)
Dengan menjelaskan dan mengajarkan umat Islam tentang agama-Nya (Islam) dengan Al Qur’an dan As Sunnah, maka umat Islam yang lalu memahaminya, dapat bertaubat dan memperbaiki dirinya dengan bertakwa semampunya, hingga Allah SWT memperbaiki amal perbuatannya dan mengampuni dosa-dosanya. Allah SWT berfirman:
Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nahl 119)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah. (At Taghaabun 16)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mantaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al Ahzab 70-71)
Tilmidzi: “Jika penjelasan ini untuk umat Islam agar dapat mengetahuinya, apakah umat non Islam juga dapat mengetahuinya?”
Mudariszi: “Agama Islam adalah agama Allah, agama Tuhan Semesta Alam, yaitu agama yang diridhai-Nya (diterima-Nya). Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)
Agama Islam itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk manusia. Allah SWT berfirman:
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)
Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an tersebut ditugaskan oleh Allah SWT dengan tugas sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)
Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim 1)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Al Qur’an dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang agama-Nya (Islam) kepada manusia. Sehingga agama Islam itu bukan hanya untuk umat Islam saja, tapi juga untuk Ahli Kitab dan umat musyrik, karena mereka semua adalah manusia. Bahkan ketika Rasulullah SAW menerima ayat-ayat Al Qur’an pertama kalinya, beliau tidak mengetahui Al Qur’an, agama Islam dan iman. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)
Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW di awalnya itu justru untuk Ahli Kitab dan umat musyrik, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba–Ku dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka (terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW dijadikan Rasul), baik bangsa Arab maupun lainnya, kecuali yang masih tersisa dari Ahli Kitab (orang-orang yang masih berpegang dengan agama yang hak). Allah berfirman: “Aku mengutusmu hanyalah untuk menguji kamu dan menguji (manusia) dengan kamu, dan Aku turunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) yang tidak dapat dibasuh dengan air (terjaga di dalam dada) yang kamu baca dalam keadaan tidur atau jaga.” (HR Muslim)
Dan Allah SWT menjelaskan tentang Al Qur’an tersebut sebagai berikut:
Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. (Al An’aam 90)
Dengan demikian, penjelasan ini dapat menjadi pengetahuan bagi umat non Islam tentang agama Allah yaitu agama Islam. Dan penjelasan ini pula mengikuti perintah-Nya ini:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)
Tilmidzi: “Bagaimana jika umat Islam dan umat non Islam itu tidak mau mengikuti agama-Nya (Islam) atau tidak mau membaca Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an dan mengutus Rasulullah SAW yang menjelaskan agama-Nya agar manusia mengikuti agama-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia supaya mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Tapi Allah SWT tidak memaksa manusia untuk memeluk agama-Nya (Islam), dan Allah SWT tidak pula memaksa manusia untuk mengikuti agama-Nya (Islam) hingga menjadi beriman kepada-Nya atau mengingkari agama-Nya hingga menjadi kafir kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)
Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Kahfi 29)
Tetapi Allah SWT tidak menghendaki orang-orang kafir itu menyalahkan-Nya, ketika ajal mereka datang dan mereka dikembalikan kepada-Nya, karena tidak menjelaskan agama-Nya melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kepada mereka. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Al ‘Ankabuut 57)
Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Qur’an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (Thaahaa 134)
Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min.” (Al Qashash 47)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan manusia setelah kematiannya?”
Mudariszi: “Setiap orang yang mati dan masuk ke dalam kubur akan mengetahui dia itu termasuk orang beriman atau orang kafir. Orang munafik adalah orang yang mengikuti agama-Nya (Islam) tapi tidak mau beriman karena dengan sengaja mengingkari syariat agama-Nya atau mengingkari Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sehingga orang munafik itu tidak berbeda dengan orang kafir, yaitu orang-orang yang mengingkari atau mendurhakai Allah SWT. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apabila manusia diletakkan dalam kuburnya, setelah teman-temannya berpaling dan pergi sehingga ia mendengar ketukan sandal mereka, lalu datanglah kedua malaikat mendudukkannya dan bertanya kepadanya: “Apakah yang kamu ucapkan dahulu (ketika di dunia) tentang Muhammad SAW?” Lalu ia menjawab: “Sesungguhnya dia adalah hamba dan utusan Allah”, maka diucapkannya kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya tempat duduk di surga.” Rasulullah SAW bersabda: “Ia melihat keduanya. Adapun orang kafir atau munafik akan menjawab: “Saya tidak tahu, saya dulu mengatakan apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang.” Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak tahu dan tidak membaca.” Kemudian ia dipukul dengan palu dan besi di antara kedua telinganya, lalu ia berteriak sekeras-kerasnya yang didengar oleh apa yang di dekatnya selain jin dan manusia.” (HR Bukhari)
Di alam kubur (barzakh) bermula azab bagi orang-orang kafir setelah kehidupan dunia. Ketika itu permintaan mereka tidak akan dikabulkan-Nya, karena mereka waktu di dunia telah dijelaskan dan diperingatkan oleh-Nya melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mu’minuun 99-100)
Demikian pula pada waktu manusia dibangkitkan oleh Allah SWT di hari kiamat dan lalu dihisab (diadili) amal perbuatannya selama di dunia, maka permintaan orang-orang kafir ketika itu tidak akan dikabulkan-Nya karena mereka waktu di dunia telah dijelaskan dan diperingatkan oleh Allah SWT melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba sedang kamu tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” Atau supaya jangan ada yang berkata: “Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab: “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (Bukan demikian), sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (Az Zumar 53-59)
Sehingga Al Qur’an dan agama Islam bagi orang-orang kafir ketika di akhirat seperti firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). (Al Haaqqah 50)
Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al Hijr 2)
Padahal Allah SWT telah memperingatkan orang-orang kafir tentang Al Qur’an itu ketika mereka di dunia. Allah SWT berfirman:
Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini, kamu (mengganti) rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah)? (Al Waaqi’ah 81-82)
Wassalamu’alaikum.