Bagaimana Kisah Nabi Yusuf Dengan Wanita-Wanita Di Kota Mesir?

Dialog Seri 10: 13

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Yusuf juga Rasul Allah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (Rasulpun) sesudahnya. (Al Mu’min 34)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Nabi Yusuf adalah Rasul Alllah yang diberikan ayat-ayat-Nya untuk disampaikan kepada umatnya. Nabi Yusuf tidak berbeda dengan Rasul-Rasul yang diberikan-Nya petunjuk, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf. (Al An’aam 84)

 

Selain diberikan-Nya petunjuk, Nabi Yusuf juga diajarkan-Nya sebagian dari takbir mimpi-mimpi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari takbir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang Bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. (Yusuf 6)

 

Nabi Yusuf adalah putera Nabi Ya’qub, cucu Nabi Ishaq dan cicit Nabi Ibrahim, sehingga beliau dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Orang mulia putra orang mulia putra orang mulia putra orang mulia adalah Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana keadaan Nabi Yusuf ketika dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur?”

 

Mudariszi: “Nabi Yusuf tidak disukai oleh saudara-saudaranya karena beliau lebih dicintai oleh Nabi Ya’qub. Saudara-saudara Nabi Yusuf lalu memisahkan Nabi Yusuf dari Nabi Ya’qub dengan memasukkan beliau ke dalam sumur. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat. (Yusuf 8-10)

 

Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia). (Yusuf 15)

 

Karena masih terlalu muda, Nabi Yusuf merasa takut dalam sumur yang gelap seorang diri, sehingga Allah SWT lalu menenangkannya dengan memberikannya wahyu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (di waktu dia sudah dalam sumur), Kami wahyukan kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini sedang mereka tiada ingat lagi. (Yusuf 15)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Yusuf dapat keluar dari sumur tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Yusuf lalu ditemukan oleh sekelompok musafir. Tetapi karena tidak tertarik dengan Nabi Yusuf, musafir itu menjual beliau dengan harga murah. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: “Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (Yusuf 19-20)

 

Allah SWT menetapkan penguasa di negeri Mesir sebagai pembeli Nabi Yusuf. Selama bersama penguasa itu, Nabi Yusuf lalu diajarkan-Nya hikmah dan ilmu agama-Nya termasuk diajarkan takbir mimpi, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya takbir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 21-22)

 

Tilmidzi: “Bagaimana perkembangan Nabi Yusuf dalam pemeliharaan penguasa negeri Mesir tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Yusuf tumbuh dewasa menurut ketetapan-Nya, yaitu memiliki wajah yang tampan. Wajah beliau itu membuat hati isteri penguasa tergoda hingga tertarik kepada beliau. Syaitan mengetahui itu dan lalu menghasutnya agar timbul keinginannya untuk menundukkan Nabi Yusuf. Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. (Yusuf 23)

 

Nabi Yusuf yang hanya bersama isteri penguasa dalam kamar tertutup, lalu dibujuk rayu oleh isteri penguasa yang telah timbul nafsunya karena syaitan. Nabi Yusuf yang dikuasai oleh isteri penguasa yang bernafsu itu, juga dikuasai (diganggu) pula oleh syaitan yang ada di diri beliau. Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata: Rasulul­lah SAW bersabda: Setiap orang di antara kalian pasti ada penyertanya berupa jin. (HR Muslim)

 

Isteri penguasa yang telah timbul nafsunya tersebut, ketika itu menjadi penolong syaitan dalam menggoda (menghasut) Nabi Yusuf. Nabi Yusuf dalam keadaan yang sulit menghadapi syaitan karena diganggu oleh syaitan dari golongan manusia (isteri penguasa) dan syaitan dari golongan jin (yang ada pada dirinya), terlebih lagi diganggu dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, Nabi Yusuf tergoda hingga timbul keinginannya pula. Allah SWT mengetahui hal itu dan Dia tidak menghendaki beliau melakukan perbuatan itu karena beliau merupakan hamba pilihan-Nya. Allah SWT lalu menghilangkan keinginan (maksud) beliau itu dengan memperlihatkan tanda-tanda-Nya (ayat-ayat-Nya) kepada beliau. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf 24)

 

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. (Al Hajj 52)

 

Demikian itulah Allah SWT melindungi hamba-Nya yang dipilih-Nya atau yang dikehendaki-Nya atau yang ditunjuki-Nya daripada kejahatan syaitan yang terkutuk.”

 

Tilmidzi: “Apakah itu berarti Nabi Yusuf tidak dapat ditundukkan oleh syaitan melalui isteri penguasa?”

 

Mudariszi: “Ya! Teringatnya Nabi Yusuf dengan ayat-ayat-Nya, membuat beliau menyadari bahwa keinginannya itu akan menghaslkan perbuatan yang buruk. Karena itu Nabi Yusuf lalu membatalkannya dengan lari meninggalkan isteri penguasa. Isteri penguasa yang masih dikuasai oleh syaitan (nafsunya) berusaha menangkap beliau hingga bagian belakang baju beliau tersobek. Keributan itu didengar oleh penguasa negeri, sehingga dia mendatangi keduanya. Isteri penguasa tersebut lalu berbohong kepada suaminya ketika diminta penjelasannya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf 25)

 

Penguasa negeri lalu mengadili keduanya dengan seadil-adilnya, hingga diketahui siapa yang bersalah dalam perkara itu. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukan diriku (kepadanya).” Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang, berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar. (Hai) Yusuf, berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah. (Yusuf 26-29)

 

Setelah penguasa negeri memutuskan, keadaan kembali seperti tidak pernah terjadi apapun. Syaitan gagal menyesatkan Nabi Yusuf dan isteri penguasa dan gagal merusak hubungan Nabi Yusuf dengan penguasa negeri dan isterinya.”

 

Tilmidzi: “Apakah syaitan berusaha terus menyesatkan Nabi Yusuf dengan penguasa Negeri dan isterinya?”

 

Mudariszi: “Syaitan lalu menghasut wanita-wanita di kota, sehingga mereka kemudian membicarakan isteri penguasa itu sangat mencintai pembantunya (Nabi Yusuf) dan ingin menundukkannya. Pembicaraan itu sampai ke telinga isteri penguasa, sehingga dia lalu mengundang wanita-wanita itu ke rumahnya agar melihat ketampanan Nabi Yusuf. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya dan mereka melukai (jari) tangannya, dan berkata: “ Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina. (Yusuf 30-32)

 

Wanita-wanita itu terkejut melihat ketampanan Nabi Yusuf, mereka sangat suka melihat beliau, sehingga tanpa terasa mereka telah melukai jari tangannya dengan pisau yang ada di tangan mereka masing-masing.”

 

Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh Nabi Yusuf setelah mengetahui itu?”

 

Mudariszi: “Kejadian itu membuat Nabi Yusuf takut, beliau menyadari wanita-wanita itu menyukainya dan beliau teringat dengan apa yang terjadi dengan isteri penguasa. Karena itu, beliau meminta kepada Allah SWT agar dijauhkan dari mereka. Allah SWT lalu mengabulkan permintaan Nabi Yusuf tersebut, sebagai berikut:

 

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. Makanya Tuhannya memperkenankan do’a Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. (Yusuf 33-34)

 

Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Yusuf dengan Dia membuat wanita-wanita itu meminta kepada penguasa negeri untuk menghukum beliau karena telah mempermalukan mereka. Wanita-wanita itu mencari-cari alasan yang dapat membuat Nabi Yusuf dihukum penjara. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. (Yusuf 35)

 

Syaitan berhasil merusak hubungan Nabi Yusuf dengan penguasa dan isterinya melalui wanita-wanita itu, tapi syaitan tidak mengetahui rencana-Nya terhadap Nabi Yusuf.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Yusuf ketika dalam penjara?”

 

Mudariszi: “Penjara merupakan tempat yang paling tidak disukai oleh penghuninya. Mereka, baik yang bersalah maupun yang tidak merasa bersalah, cenderung akan kembali kepada Allah SWT. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. (Az Zumar 8)

 

Nabi Yusuf sebagai salah satu penghuni penjara mengetahui keadaan penghuni penjara itu, sehingga beliau lalu menjelaskan tentang dirinya, tentang Allah SWT dan agama-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikuti agama Bapak-Bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(-Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf 37-40)

 

Di antara penghuni penjara itu ada dua penghuni yang bermimpi. Keduanya mengetahui Nabi Yusuf dapat mentakbirkan mimpi, sehingga keduanya lalu menjelaskan mimpinya kepada beliau dan meminta beliau untuk menerangkan takbirnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami takbirnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakbirkan mimpi). (Yusuf 36)

 

Nabi Yusuf lalu menjelaskan takbir mimpi kedua penghuni penjara itu sebagai berikut:

 

Yusuf berkata: “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. (Yusuf 37)

 

Hai kedua penghuni penjara, adapun salah seorang di antara kamu berdua akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi, maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku). (Yusuf 41)

 

Tilmidzi: “Apakah benar takbir mimpi yang dijelaskan oleh Nabi Yusuf itu?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan ketika penghuni penjara yang bebas itu meninggalkan penjara, Nabi Yusuf meminta kepadanya agar menceritakan perkara beliau kepada Raja. Tapi setelah bebas, orang itu dibuat lupa oleh syaitan, sehingga dia tidak menceritakan tentang Nabi Yusuf kepada Raja. Dan hal itu membuat Nabi Yusuf menjadi sebagai berikut:

 

Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf 42)

 

Tilmidzi: “Apakah Raja Mesir itu Raja yang adil dan bijaksana?”

 

Mudariszi: “Ya! Suatu waktu Raja bermimpi yang mimpinya itu tidak dapat ditakbirkan oleh siapapun. Orang yang bebas dari penjara itu lalu teringat kepada Nabi Yusuf dan bertanya kepada beliau, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi. Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu mentakbirkan mimpi itu. Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakbirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya). (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya. (Yusuf 43-46)

 

Nabi Yusuf lalu menjelaskan takbir mimpi Raja itu, sebagai berikut:

 

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur. (Yusuf 47-49)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Raja menanggapi takbir mimpi yang dijelaskan oleh Nabi Yusuf itu?”

 

Mudariszi: “Setelah mendengar penjelasan Nabi Yusuf tentang takbir mimpinya, Raja lalu memerintahkan untuk membawa Nabi Yusuf kepadanya. Tapi Nabi Yusuf menolak permintaan Raja sebelum perkaranya dengan wanita-wanita kota diselesaikan dengan benar agar tidak ada lagi fitnah. Raja lalu menyetujui permintaan Nabi Yusuf. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): “Bagaimana keadaanmu ketika menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan daripadanya.” Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. (Yusuf berkata): “Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 50-53)

 

Dalam penjelasan Nabi Yusuf tersebut, beliau mengakui juga kesalahannya, yaitu timbul nafsu beliau ketika itu. Tapi beliau lalu diselamatkan-Nya seperti dijelaskan sebelumnya di atas. Nabi Yusuf mengatakan nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (dalam firman-Nya di atas), karena nafsu itu terjadi (timbul) akibat dari janji-janji (bisikan) manis syaitan yang menginginkan manusia berbuat jahat. Syaitan mengetahui manusia tidak dapat menahan nafsunya, karena itu syaitan lalu membisiki manusia dengan janji-janji manis agar timbul keinginan dan hawa nafsunya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. (Al Baqarah 187)

 

Dari Annas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ketika Allah SWT membentuk Adam di surga, Allah SWT membiarkan apa yang ingin dibiarkanNya. Selanjutnya Iblis mengelilingi sambil terus memandangi. Ketika Iblis melihat ada lubang, maka tahulah dia bahwa manusia itu diciptakan tidak bisa menahan nafsu. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Raja lalu membebaskan Nabi Yusuf?”

 

Mudariszi: “Ya! Setelah itu Raja lalu membebaskan Nabi Yusuf dan mengangkat Nabi Yusuf sebagai Bendahara negeri. Allah SWT telah membebaskan Nabi Yusuf dari penjara dan fitnah serta memberikan beliau kekuasaan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. (Yusuf 54-56)

 

Raja mengangkat Nabi Yusuf sebagai Bendahara negeri bukan tidak mungkin karena dia merasa yakin Nabi Yusuf dapat menyelesaikan perkara kekeringan dari mimpinya yang akan terjadi. Di lain pihak Nabi Yusuf tidak meminta jabatan, tapi Raja yang memintanya dan beliau hanya memilih untuk menjadi Bendahara, yaitu jabatan yang beliau ketahui dan kuasai. Rasulullah SAW menjelaskan tentang jabatan itu sebagai berikut:

 

Dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata: Ra­sulullah SAW bersabda kepadaku: Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Raja Mesir itu mengikuti agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Yusuf?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa Raja Mesir itu memeluk agama-Nya yang dibawa (diajarkan) oleh Nabi Yusuf. Tetapi tidak dijelaskan pula Raja menyekutukan-Nya atau menyembah tuhan (patung-patung) berhala. Dengan demikian, Raja Mesir itu bukan tidak mungkin merupakan orang beriman yang hanya menyembah Dia saja. Allah SWT akan mengadilinya dan memaafkan dosanya di hari kiamat selama Raja itu tidak menyekutukan-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 62)

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi-in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (Al Hajj 17)

 

Selain itu, Raja Mesir tersebut memerintah negerinya dan memimpin rakyatnya dengan adil tanpa sewenang-wenang. Sehingga Raja Mesir itu memimpin sesuai dengan syariat agama-Nya, sebagai berikut:

 

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Asy Syu’araa’ 183)

 

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (Asy Syuura 42)

 

Keadilan Raja Mesir itu terbukti dengan dia mengadili dan memutuskan perkara Nabi Yusuf dengan adil, dan dia mengurus rakyatnya hingga tidak ada yang kelaparan ketika negeri Mesir dilanda musim kemarau yang panjang.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply