Dialog Seri 10: 14
Tilmidzi: “Apakah Nabi Yusuf tidak disukai oleh saudara-saudaranya karena syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan tidak menginginkan manusia mengikuti Allah SWT dan agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasul-Nya. Dan syaitan melakukan hal itu dengan menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya dan agama-Nya. Hal itu terjadi dengan saudara-saudara Nabi Yusuf setelah syaitan mengetahui Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf adalah Rasul-Rasul-Nya. Saudara-saudara Nabi Yusuf dihalang-halangi oleh syaitan dari mengikuti Nabi Ya’qub. Syaitan menghalang-halanginya dengan membuat mereka tidak menyukai Nabi Yusuf. Syaitan menghasut mereka agar timbul dugaan (persangkaan) mereka yang buruk, yaitu Nabi Yusuf lebih dicintai oleh Nabi Ya’qub. Dugaan itu menimbulkan permusuhan antara mereka dengan Nabi Yusuf, hingga akhirnya mereka berbuat jahat kepada Nabi Yusuf dan berbohong kepada Nabi Ya’qub. Allah SWT menjelaskan tentang dugaan dan permusuhan dari syaitan tersebut, sebagai berikut:
Dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. (Al Fath 12)
Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. (Al Maa-idah 91)
Tilmidzi: “Apakah keluarga Nabi Ya’qub mengetahui keadaan Nabi Yusuf sejak dimasukkan ke sumur?”
Mudariszi: “Keluarga Nabi Ya’qub tidak mengetahui tentang Nabi Yusuf sejak beliau dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudara Nabi Yusuf. Dan mereka tidak pula mengetahui Nabi Yusuf telah menjadi Bendahara negeri Mesir. Ketika musim kemarau datang (sesuai dengan takbir mimpi Raja), keluarga Nabi Ya’qub terkena pula dengan kekurangan makanan. Karena itu Nabi Ya’qub mengutus anak-anaknya (saudara-saudara Nabi Yusuf) mendatangi Nabi Yusuf (sebagai penguasa Mesir) guna mendapatkan makanan. Nabi Yusuf mengenal mereka sedangkan mereka tidak mengenal beliau. Nabi Yusuf memberikan makanan sebanyak barang penukar mereka. Setelah itu beliau meminta mereka untuk membawa saudaranya (Bunyamin) ketika datang kembali untuk mendapatkan makanan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah padaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan kamu mendekatiku.” Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya.” (Yusuf 58-61)
Kemudian secara diam-diam Nabi Yusuf memasukkan kembali barang penukar saudara-saudaranya ke karung-karungnya agar mereka mau membawa Bunyamin. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: “Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.” (Yusuf 62)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ya’qub mengizinkan Bunyamin dibawa kepada Nabi Yusuf?”
Mudariszi: “Di awalnya Nabi Ya’qub tidak mengizinkan mereka membawa Bunyamin karena beliau teringat kejadian yang menimpa Nabi Yusuf. Tapi beliau lalu mengizinkan mereka membawa Bunyamin dengan perjanjian, yaitu sebagai berikut:
Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi Raja Mesir).” Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).” (Yusuf 65-66)
Nabi Ya’qub mengadakan perjanjian dengan anak-anaknya atas nama Allah SWT, agar mereka takut kepada-Nya sehingga mereka sungguh-sungguh menjaga Bunyamin supaya tidak terjadi seperti Nabi Yusuf.”
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Yusuf setelah bertemu dengan Bunyamin?”
Mudariszi: “Setelah bertemu Bunyamin dan menjelaskan tentang dirinya, Nabi Yusuf lalu ingin menahan Bunyamin untuk tinggal bersamanya. Karena itu beliau lalu mengatur tipu daya dengan memasukkan barang Raja ke karung Bunyamin seolah-olah barang Raja itu dicuri oleh Bunyamin, sehingga Bunyamin harus ditahan untuk menerima hukuman. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.” Mereka menjawab sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: “Barang apakah yang hilang dari kamu?” Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya.” Saudara-saudara Yusuf menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri.” Mereka berkata: “Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta?” Mereka menjawab: “Balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya). Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.” Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala Raja itu dari karung saudaranya. (Yusuf 69-76)
Sebagai Rasul, Nabi Yusuf tidak dibenarkan-Nya untuk menghukum saudaranya dengan mengikuti selain syariat (peraturan) agama-Nya, terlebih lagi beliau melakukan tipu daya dalam menahan Bunyamin (saudaranya). Tapi hal itu dapat terjadi karena Allah SWT menghendakinya. Nabi Yusuf berbuat itu bukan untuk menipu, tapi untuk mendamaikan saudara-saudaranya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan perkara tersebut sebagai berikut:
Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang Raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (Yusuf 76)
Diceritakan oleh Humaid bin Abdurrahman bin Auf, bahwa Ibunya yaitu Ummu Kaltsum binti Uqbah bin Abu Mu’aith, salah seorang wanita yang ikut hijrah pertama dan ikut berbai’at kepada Rasulullah SAW, mengatakan ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah termasuk pendusta orang yang mendamaikan di antara manusia. Dia berkata yang baik dan menyampaikan yang baik pula.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan saudara-saudara Nabi Yusuf setelah mengetahui Bunyamin ditahan?”
Mudariszi: “Saudara-saudara Nabi Yusuf meminta kepada beliau agar dapat melepaskan Bunyamin dan digantikan dengan salah satu dari mereka. Tapi Nabi Yusuf menolaknya karena permintaan itu bertentangan dengan peraturan negeri. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.” Mereka berkata: “Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.” Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim.” (Yusuf 77-79)
Saudara-saudara Nabi Yusuf menjadi gelisah karena janji mereka dengan Nabi Ya’qub. Sebagian dari mereka tidak ingin kembali karena merasa bersalah tidak membawa Bunyamin. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Yusuf 80)
Nabi Yusuf lalu menasehati mereka, sebagai berikut:
Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri; dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” (Yusuf 81-82)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Ya’qub setelah mengetahui Bunyamin tidak kembali?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf 84-87)
Saudara-saudara Nabi Yusuf kemudian menuruti perintah Nabi Ya’qub (seperti firman-Nya di atas). Mereka mencarinya dengan terlebih dahulu mendatangi Nabi Yusuf guna mendapatkan makanan sambil meminta agar Bunyamin dilepaskan. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (Yusuf 88)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Yusuf melepaskan Bunyamin kembali kepada saudara-saudaranya?”
Mudariszi: “Nabi Yusuf lalu menjelaskan kepada saudara-saudaranya tersebut tentang diri beliau dan apa yang mereka telah lakukan sehingga mereka selalu berada dalam kegelisahan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?” (Yusuf 89)
Saudara-saudara Nabi Yusuf terkejut mendengar penjelasan Nabi Yusuf dan mereka lalu mengakui kesalahannya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf 90-91)
Firman-Nya di atas itu sesuai dengan wahyu Allah kepada Nabi Yusuf ketika beliau dimasukkan ke dalam sumur oleh saudaranya, sebagai berikut:
Dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.” (Yusuf 15)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya itu?
Mudariszi: “Ya! Dan Nabi Yusuf lalu menyuruh mereka kembali ke rumahnya untuk membawa Ibu Bapaknya kepada beliau. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.” (Yusuf 92-93)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Ya’qub setelah mendapat berita itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan keadaan Nabi Ya’qub pada waktu itu, sebagai berikut:
Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Yusuf 94)
Keluarga Nabi Ya’qub lalu mengatakan kepada Nabi Ya’qub, sebagai berikut:
Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (Yusuf 95)
Ucapan Nabi Ya’qub itu ternyata benar ketika anak-anaknya kembali, sehingga keluarga Nabi Ya’qub lalu meminta kepada beliau agar berdoa kepada-Nya supaya dosa-dosa mereka diampuni-Nya. Dan Nabi Ya’qub lalu melakukannya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkatalah Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf 96-98)
Tilmidzi: “Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf lalu membawa Ibu Bapaknya kepada Nabi Yusuf?”
Mudariszi: “Ya! Saudara-saudara Nabi Yusuf lalu membawa orang tuanya kepada Nabi Yusuf dan Nabi Yusuf lalu menjelaskan takbir mimpinya terdahulu kepada Nabi Ya’qub di hadapan keluarganya, sebagai berikut:
Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf; Yusuf merangkul Ibu Bapaknya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman.” Dan ia menaikkan kedua Ibu Bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata: “Wahai ayahku, inilah takbir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” (Yusuf 99-100)
Syaitan kembali gagal merusak hubungan keluarga Nabi Ya’qub kecuali beberapa tahun, karena ketakwaan dan kesabaran Bapak dan anak yang keduanya Rasul Allah.”
Wallahu a’lam.