Dialog Seri 10: 45
Tilmidzi: “Apakah Iblis (syaitan) ingin menyesatkan manusia itu adalah syaitan ingin menyesatkan setiap orang yang hidup di dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang Iblis yang ingin menyesatkan manusia itu sebagai berikut:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad 82-83)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa syaitan akan menyesatkan manusia, yaitu menyesatkan setiap orang yang hidup di dunia, hingga kiamat. Sebagian kecil dari manusia, yaitu hamba-hamba-Nya yang mukhlis (seperti dalam firman-Nya di atas), juga termasuk orang-orang yang disesatkan oleh syaitan. Tapi orang-orang mukhlis itu tidak dapat disesatkan oleh syaitan karena mereka mengikuti Allah SWT, yaitu mereka beriman kepada-Nya dengan mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, sehingga mereka dilindungi-Nya dari syaitan. Dan Allah SWT telah berjanji kepada mereka atas hal itu melalui firman-Nya ini:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka; dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga. (Al Israa’ 65)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Rasulullah SAW juga termasuk yang akan disesatkan oleh syaitan?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. (Al Hajj 52)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW juga termasuk yang akan digoda oleh syaitan ketika beliau mempunyai suatu keinginan dengan tujuan untuk menyesatkan beliau. Syaitan menggoda Rasulullah SAW karena beliau ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyampaikan Al Qur’an kepada manusia yang menjelaskan agama-Nya dan menyeru manusia untuk mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. (Al Maa-idah 67)
Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)
Adapun Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada manusia berisikan keterangan sebagai berikut:
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Keterangan Al Qur’an itu tidak disukai oleh Iblis (syaitan) karena mereka ingin menyesatkan manusia dengan jalan (cara) sebagai berikut:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf 16-17)
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Al Hijr 39)
Karena itu syaitan sudah pasti akan menggoda Rasulullah SAW agar beliau tersesat hingga tidak menyampaikan dan menjelaskan lagi Al Qur’an dan agama-Nya kepada manusia agar manusia tetap dalam kesesatan.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT membiarkan Rasulullah SAW digoda oleh syaitan ketika beliau menyampaikan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW termasuk Nabi yang digoda oleh syaitan dari golongan jin dan golongan manusia. Dan itu berarti Allah SWT membiarkan Rasulullah SAW diganggu oleh syaitan. Pembiaran itu bertujuan agar Rasulullah SAW merasakan godaan syaitan itu hingga beliau mengetahui (memahami) tentang syaitan yang tidak terlihat dengan bisikan jahatnya, dan itu akan memudahkan beliau dalam menjelaskan kepada manusia tentang syaitan yang diterangkan dalam Al Qur’an. Keluhan Rasulullah SAW dalam firman-Nya di bawah ini contoh beliau merasakan godaan syaitan akibat dari Dia membiarkan beliau digoda oleh syaitan ketika menyampaikan Al Qur’an:
Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh bagi orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al Furqaan 30-31)
Tilmidzi: “Tapi bukankah Rasulullah SAW itu ma’shum atau hamba-Nya yang dilindungi oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW termasuk hamba-Nya yang ma’shum, dan ma’shum itu adalah sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dan Al Ma’shum adalah orang yang dilindungi Allah.” (HR Bukhari)
Pada setiap orang ada dua pengiringnya yang berada di sebelah kanan dan kirinya, dimana setiap pengiring bertugas sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang yang diangkat menjadi khalifah, tentu ia mempunyai dua orang pengiring. Seorang pengiring memerintahkan dan menganjurkan kebajikan kepadanya, dan seorang pengiring lagi memerintahkan dan menganjurkan kejahatan kepadanya.” (HR Bukhari)
Pengiring di sebelah kanan manusia yang memerintahkan dan menganjurkan manusia agar berbuat kebajikan adalah malaikat, sedangkan pengiring yang disebelah kirinya adalah jin. Jin yang memerintahkan dan menganjurkan kejahatan kepada manusia adalah jin kafir atau syaitan. Rasulullah SAW termasuk hamba-Nya yang ma’shum yaitu hamba-Nya yang dilindungi-Nya dari kejahatan syaitan, karena itu jin yang mengiringi beliau tidak menyuruh kepada kejahatan, tapi menyuruh beliau untuk berbuat kebajikan. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Mas’’ud, dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang di antara kalian pasti ada penyertanya berupa jin.” Para sahabat bertanya: ”Engkau juga, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Aku juga. Hanya saja Allah menolongku sehingga aku selamat (dari kejahatan dan gangguannya). Dia hanya menyuruhku berbuat kebaikan.” (HR Muslim)
Walaupun demikian, syaitan-syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia tetap menggoda Rasulullah SAW dari depan dan dari belakang beliau. Tapi syaitan-syaitan itu tidak dibantu oleh jin yang mengiringi Rasulullah SAW di sebelah kiri beliau.”
Tilmidzi: “Bagaimana contoh syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia menggoda Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Contoh syaitan dari golongan jin yang menggoda Rasulullah SAW tapi beliau lalu ditolong-Nya karena beliau dilindungi-Nya (ma’shum), sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, bahwa beliau melakukan suatu shalat, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya setan menggoda kepadaku, maka berat terhadapku untuk memotong shalatku, lalu Allah memampukan aku dari (godaan)nya.” (HR Bukhari)
Contoh syaitan dari golongan manusia yang menggoda Rasulullah SAW dan ingin membunuh beliau tapi beliau ditolong-Nya karena beliau dilindungi-Nya (ma’shum), sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: “Aku pernah berperang bersama Rasulullah SAW di kawasan Najed. Rasulullah SAW mendapati aku berada di sebuah lembah yang lebat dengan pepohonan berduri. Rasulullah SAW lalu istirahat di bawah pohon. Beliau menggantungkan pedangnya pada salah satu cabang pohon itu. Para sahabat berpencar di sekitar lembah untuk berteduh di bawah pohon. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pernah seorang lelaki yang datang kepadaku ketika aku sedang tidur. Lelaki tersebut sudah memegang pedangnya. Ketika aku bangun dia telah berdiri di dekat kepalaku, aku belum sadar ternyata pedang itu sudah terhunus. Dia bertanya kepadaku: “Siapakah yang akan bisa mencegah kamu dariku?” Aku jawab: “Allah.” Kemudian untuk yang kedua kali dia bertanya: “Siapakah yang akan bisa mencegah kamu dariku?” Aku jawab: “Allah.” Dia lalu menyarungkan pedang tersebut lalu terduduk.” Kemudian lelaki tersebut dibiarkan oleh Rasulullah SAW.” (HR Muslim)
Dari Anas, bahwa ada seorang perempuan Yahudi datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa hidangan daging kambing yang diracuni. Rasulullah SAW pun memakan hidangan itu. Lalu perempuan itu dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Dan ketika ditanya tentang perbuatannya tersebut, dia menjawab: “Aku memang bermaksud hendak membunuhmu.” Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan memberikan kekuasaan kepadamu untuk melakukan hal itu.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah ada contoh Rasulullah SAW digoda oleh syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia yang bekerja sama?”
Mudariszi: “Contoh syaitan dari golongan jin dan golongan manusia yang bekerja sama menggoda Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Seorang Yahudi Bani Zuraiq yang bernama Labied bin Al A’sham, pernah menyihir Rasulullah SAW sehingga beliau membayangkan seolah-olah melakukan sesuatu, padahal tidak. Sampai pada suatu hari atau pada suatu malam, Rasulullah SAW berdo’a dan terus berdo’a, kemudian bersabda: “Hai Aisyah, apakah engkau merasa bahwa Allah memberiku petunjuk mengenai apa yang aku tanyakan kepada–Nya? Dua malaikat telah datang kepadaku. Salah satu di antara keduanya duduk di samping kepalaku, sedangkan yang lain di dekat kakiku. Malaikat yang berada di samping kepalaku berkata kepada malaikat yang berada di dekat kakiku, atau sebaliknya: “Apa sakit orang ini?” Yang ditanya menjawab: “Tersihir.” Yang satu bertanya lagi: “Siapakah yang menyihirnya?” Yang lain menjawab: “Labied bin Al A’sham.” Yang satunya bertanya: “Dimana sihir itu ditempatkan?” Yang lain menjawab: “Pada sisir dan rambut rontok yang berada di sisir itu, serta kantong mayang kurma jantan.” Yang satu bertanya: “Dimana itu diletakkan?” Yang lain menjawab: “Di dalam sumur Dzu Arwan.” Aisyah melanjutkan: “Lalu Rasulullah SAW datang ke sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau. Kemudian beliau bersabda: “”Hai Aisyah, demi Allah, seakan-akan air sumur itu perasan inai (yakni berwarna kuning kemerah-merahan), sedangkan pohon kurma yang ada disitu bagaikan kepala-kepala setan.” Aku (Aisyah) bertanya: “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak membakar saja benda itu?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak. Mengenai diriku, Allah telah berkenan menyembuhkanku. Dan aku tidak suka membuat khalayak menjadi resah. Karena itu, aku menyuruh memendam (menanam)nya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa syaitan dari golongan jin bekerja sama dengan syaitan dari golongan manusia dalam menggoda Rasulullah SAW, yaitu dengan menyihir beliau. Tapi Allah SWT lalu menolong beliau dengan menghilangkan sihir itu melalui malaikat utusan-Nya. Manusia dapat melakukan sihir karena diajarkan oleh syaitan dari golongan jin. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia. (Al Baqarah 102)
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin 6)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah terpengaruh oleh godaan syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia ketika beliau menyampaikan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Syaitan-syaitan dari golongan jin dan dari golongan manusia itu menyesatkan manusia yaitu sebagai berikut:
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Syaitan melakukan kejahatannya itu tanpa henti-hentinya walaupun memakan waktu yang lama. Rasulullah SAW termasuk yang digoda oleh syaitan dengan bisikannya dan beliau pernah hampir terpengaruh jika tidak dibantu oleh Allah SWT. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” (Al Qalam 51)
Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu, tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (Al Israa’ 73-74)
Tapi syaitan tidak pernah putus asa dalam menyesatkan manusia termasuk Rasulullah SAW, syaitan melakukannya dengan berbagai cara. Dan salah satunya syaitan berhasil membuat Rasulullah SAW melanggar perintah-Nya karena beliau ingin menyenangkan hati isterinya, hingga beliau lalu ditegur oleh Allah SWT. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Tahriim 1)
Demikian pula ketika Rasulullah SAW menunda-nunda perintah-Nya dengan menahan ayat-ayat-Nya, karena beliau takut dengan manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Bahwa surat Al Ahzab ayat 37 turun dalam urusan Zainab binti Jahsy dan Zaid bin Haritsah.” (HR Bukhari)
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (Al Ahzab 37)
Rasulullah SAW sebagai manusia merasa malu kepada sahabat beliau karena perintah-Nya agar beliau menceraikan Zaid (anak angkat beliau) dari isterinya (Zainab), yang kemudian beliau harus mengawini Zainab. Tujuan perintah-Nya itu untuk menetapkan salah satu hukum perkawinan dalam syariat agama-Nya. Rasa malu dan takut beliau itu yang membuat beliau menunda-nunda melaksanakan perintah-Nya tersebut, hingga Allah SWT lalu menurunkan firman-Nya di atas. Rasa malu dan takut beliau kepada manusia (sahabat beliau) itu terjadi karena bisikan syaitan. Kejadian karena syaitan itu menjadi pelajaran bagi Rasulullah SAW, dan Allah SWT menambah pelajaran lagi bagi beliau dengan menurunkan firman-Nya ini:
Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada Nabi-Nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (Al Ahzab 38-39)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT membiarkan Rasululah SAW digoda oleh syaitan itu merupakan pengajaran dari-Nya bagi beliau?”
Mudariszi: “Ya! Dengan Allah SWT membiarkan syaitan menggoda Rasululah SAW, maka beliau akan merasakan godaan syaitan itu di hati beliau. Bisikan syaitan itu dapat mempengaruhi iman beliau yang di hatinya. Jika beliau tidak dilindungi-Nya, maka beliau cenderung akan mengikuti bisikan syaitan tersebut. Jika beliau mengikuti bisikan syaitan, itu berarti beliau tidak mentaati-Nya dan itu menurunkan iman beliau kepada-Nya. Semua itu menjadi pelajaran bagi Rasulullah SAW dan memudahkan beliau dalam mengajarkannya kepada manusia. Rasulullah SAW mengetahui Allah SWT membiarkan syaitan menggoda manusia guna menguji iman (di hati) manusia dan beliau mengetahui syaitan selalu menggoda manusia melalui bisikan jahatnya ke hati manusia agar manusia tersesat. Rasulullah SAW mengetahui hanya Allah SWT yang dapat menghilangkan godaan syaitan. Karena itu Rasulullah SAW lalu mengajarkan manusia agar imannya tidak turun ketika digoda oleh syaitan, dengan berdoa kepada-Nya sebagai berikut:
Dari Abu Hani, bahwa dia mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuliy, bahwa dia mendengar Abdullah bin Amer bin Al Ash, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya hati seluruh manusia itu berada dalam genggaman jemari Allah Yang Maha Pengasih seperti songgok hati saja. Dia mampu membolak-balikannya menurut mau–Nya.” Kemudian Rasulullah SAW berdo’a: “Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada–Mu.” (HR Muslim)
Semua penjelasan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbeda dengan manusia lain. Yang membedakan Rasulullah SAW dengan manusia lain, yaitu beliau sebagai Rasul-Nya dilindungi oleh Allah SWT dan beliau menerima wahyu-wahyu-Nya (Al Qur’an) untuk disampaikan kepada manusia.”
Wallahu a’lam.