Bagaimana Allah SWT Tetapkan Pahala Dan Dosa Bagi Manusia?

Dialog Seri 5: 11

 

Tilmidzi: “Apakah jalan yang lurus?”

 

Mudariszi: “Jalan yang lurus itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa jalan yang lurus itu bukan jalan orang-orang yang sesat dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai-Nya. Jalan yang lurus itu jalan Allah bagi manusia ketika menjalani hidupnya (melaksanakan amanah) di dunia, yaitu jalan yang mengikuti agama-Nya dan mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT di atas jalan yang lurus dan Dia memberikan petunjuk kepada jalan-Nya itu bagi orang-orang yang mengikuti-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Huud 56)

 

Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)

 

Tilmidzi: “Apakah jalan orang-orang yang dimurkai-Nya dan yang sesat?”

 

Mudariszi: “Jalan orang-orang yang dimurkai-Nya dan jalan orang-orang yang sesat adalah jalan-jalan yang bengkok, yaitu jalan-jalan yang diada-adakan oleh Iblis dan syaitan-syaitan pengikut Iblis. Jalan-jalan yang bengkok itu merupakan jalan-jalan Iblis dalam menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya agar manusia tersesat dan berdosa seperti Iblis. Allah SWT berfirman:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Allah SWT tidak memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus bagi orang-orang yang mengikuti Iblis. Meskipun demikian, Allah SWT tetap menjelaskan jalan-Nya yang lurus dan jalan-jalan yang bengkok kepada manusia agar diketahuinya dan tidak tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. (Al An’aam 126)

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semua (kepada jalan yang benar). (An Nahl 9)

 

Allah SWT menjelaskan kedua jalan itu dengan ayat-ayat-Nya (kitab-Nya). Setelah penjelasan-Nya itu, Allah SWT lalu memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus bagi orang-orang dikehendaki-Nya, yaitu orang-orang yang mengikuti-Nya. Allah SWT tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti Iblis setelah Dia menjelaskan jalan-Nya melalui ayat-ayat-Nya, karena itu berarti mereka sendiri yang tidak mau mengikuti-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (An Nuur 46)

 

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al Insaan 3)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjelaskan jalan yang lurus itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan jalan-Nya itu dengan menerangkan dua jalan, yaitu sebagai berikut:

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Jalan kebajikan (kebaikan) itu dari Allah SWT, yaitu jalan-Nya yang lurus:

 

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan. (An Nahl 30)

 

Jalan kebajikan itu jalan yang lurus yang mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya untuk kebaikan manusia ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan yang keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl 90)

 

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al A’raaf 33)

 

Sedangkan jalan kejahatan adalah jalan-jalan yang bengkok yang diada-adakan oleh Iblis dan syaitan. Jalan kejahatan melanggar (mendurhakai) agama-Nya dan peraturan agama-Nya karena bertujuan membuat manusia menjadi jahat agar tersesat. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah 268)

 

Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia dengan firman-Nya ini:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. (An Nuur 21)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan jalan menuju kebajikan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. (Ali ‘Imran 26)

 

Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)

 

Mengambil jalan kepada Tuhannya (dalam firman-Nya di atas) yaitu mempelajari ayat-ayat-Nya yang menjelaskan jalan-Nya. Kesungguhan seseorang mempelajari ayat-ayat-Nya karena ingin menempuh jalan kebajikan, akan dibuktikannya dengan perbuatannya yang taat mengikuti peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Kesungguhannya itu membuatnya menjadi orang yang dikehendaki-Nya untuk ditunjuki kepada kebajikan. Dan jika Allah SWT telah menunjukinya, maka Dia menjelaskan sebagai berikut:

 

Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. (Yunus 107)

 

Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya. (An Naml 92)

 

Tilmidzi: “Apakah kebajikan atau kejahatan seseorang itu hanya untuk dirinya sendiri?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. (Al Israa’ 7)

 

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (Al Jaatsiyah 15)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membalas orang yang berbuat baik?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. (Az Zumar 10)

 

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. (An Nahl 30)

 

Balasan atas kebaikan seseorang itu dalam agama-Nya adalah pahala. Allah SWT berfirman:

 

Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. (Al Baqarah 110)

 

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. (Al Muzzammil 20)

 

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran 148)

 

Contoh balasan Allah di dunia bagi orang-orang yang berbuat baik adalah sebagai berikut:

 

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. (Asy Syuura 23)

 

Karena itu Allah SWT menyeru manusia ketika menjalani hidupnya, sebagai berikut:

 

Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. (Al Baqarah 148)

 

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maa-idah 2)

 

Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. (Al Mujaadilah 9)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT membalas orang yang berbuat jahat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. (Fushshilat 34)

 

Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. (Al ‘Ankabuut 4)

 

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al Jaatsiyah 21)

 

Firman Allah di atas menunjukkan bahwa orang yang berbuat jahat juga mendapatkan balasan dari-Nya. Jika balasan atas kebaikan itu pahala, maka balasan atas kejahatan adalah dosa. Orang itu berdosa karena dia menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti jalan-Nya yang lurus atau tidak mengikuti peraturan agama-Nya, tapi mengikuti jalan yang bengkok yang diada-adakan oleh Iblis dan syaitan. Perbuatannya itu mengingkari ayat-ayat-Nya atau dia mendurhakai Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (As Sajdah 22)

 

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Muhammad 25)

 

Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (Ar Ra’d 25)

 

Tilmidzi: “Apakah setiap orang yang berbuat kebaikan atau kejahatan ketika menjalani hidupnya akan mendapatkan balasan pahala atau dosa bagi dirinya sendiri?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Al Baqarah 286)

 

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. (Fushshilat 46)

 

Tilmidzi: “Apakah seseorang dapat memikul pahala atau dosa orang lain?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Faathir 18)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa dosa seseorang tidak dapat dipikul (diambil) oleh orang lain. Sehingga pahala seseorang juga tidak dapat diambil oleh orang lain.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menetapkan besarnya pahala atau dosa bagi manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menetapkan hal itu sebagai berikut:

 

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’aam 160)

 

Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al Qashash 84)

 

Ketetapan Allah atas pahala bagi manusia itu tidak terbatas hanya kepada sepuluh kali lipat, tapi dapat berlipat-lipat yang hanya diketahui oleh-Nya saja. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (An Nisaa’ 40)

 

Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Al Hadiid 7)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan pahala dan dosa atas keinginan manusia?”

 

Mudariszi: “Perbuatan manusia terjadi karena adanya keinginan atas sesuatu di hatinya yang ingin dicapainya. Keinginannya itu dapat dicapainya dengan perbuatannya dan dapat juga dibatalkannya sehingga dia tidak berbuat. Allah SWT berfirman:

 

Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)

 

Karena perbuatan manusia terkait dengan keinginannya (niatnya), maka keinginan manusia itu tidak berbeda dengan perbuatannya, yaitu akan mendapatkan balasan pahala dan dosa, dan akan diperhitungkan oleh Allah SWT di hari kiamat. Adapun pahala dan dosa atas keinginan dan perbuatan manusia itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Allah azza wajalla berfirman: Apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan baik dan tidak melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh-ratus kali lipat. Dan apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan jelek dan tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatnya. Jika dia jadi mengerjakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu ke­jelekan. (HR Muslim)

 

Seseorang yang merencanakan kejahatan akan ikut berdosa meskipun dia tidak ikut dalam perbuatan jahatnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab yang keras. (Faathir 10)

 

Dengan demikian, Allah SWT membalas hati manusia karena rencananya atau niatnya atau doanya atau sumpahnya terhadap orang lain. Allah SWT berfirman:

 

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. (Al Baqarah 225)

 

Tilmidzi: “Apakah manusia berdosa jika berbuat jahat tanpa disengajanya (tanpa keinginannya) atau terlupa?”

 

Mudariszi: “Jika manusia berbuat kejahatan tanpa disengajanya, maka Dia berfirman:

 

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. (Al Ahzab 5)

 

Jika yang terlupa itu kewajiban ibadah kepada-Nya, maka Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Apabila salah seorang kamu tertidur atau lupa se­hingga meninggalkan sembahyang, maka hendaklah segera dia lakukan sembahyang itu begitu dia ingat, karena sesungguhnya Allah berfirman: Dirikanlah sembahyang karena ingat Aku.” (surat Thaahaa ayat 14). (HR Muslim)

 

Tapi jika seseorang berbuat jahat bukan karena keinginannya melainkan karena terpaksa atau ketidak mampuannya melawan pemimpinnya, maka Dia berfirman:

 

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (An Nahl 106)

 

Tilmidzi: “Apakah seseorang dapat memperoleh pahala atau dosa karena keinginan atau perbuatan orang lain?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang mengajak pada petunjuk, maka baginya adalah pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka baginya menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti ajakannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka itu. (HR Muslim)

 

Contoh penjelasan Rasulullah di atas itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (Al ‘Ankabuut 12-13)

 

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (An Nahl 25)

 

Ucapan dalam firman-Nya di atas merupakan ungkapan isi hatinya, dengan demikian ucapan manusia yang mengakibatkan pendengarnya berbuat baik atau jahat, menjadi diperhitungkan-Nya pula dengan balasan pahala dan dosa.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang menganjurkan kebaikan atau kejahatan akan tetap memperoleh pahala atau dosa sekalipun mereka telah wafat?”

 

Mudariszi: “Orang-orang yang telah wafat yang menganjurkan kebaikan atau kejahatan ketika di dunia akan tetap memperoleh pahala atau dosa dari orang-orang di dunia yang menjalankan anjurannya. Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: se­dekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoa­kannya. (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang wafat yang berbuat tiga kebaikan di dunia itu tetap memperoleh pahala dari orang-orang yang hidup yang menjalankan kebaikannya (anjurannya) tersebut. Dengan demikian, mereka yang wafat itu akan tetap memperoleh pahala yang tidak putus-putus. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. (Fushshilat 8)

 

Sehingga ajaran (anjuran) yang sesat (jahat) dari orang kafir yang mati dan diikuti (dikerjakan) oleh orang-orang yang hidup di dunia, orang kafir yang mati itu akan memperoleh dosa yang tidak putus-putus pula.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghapus pahala dan dosa manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT akan menghapus pahala seseorang jika dia berbuat seperti firman-Nya ini:

 

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)

 

Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 32)

 

Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 5)

 

Di lain pihak, Allah SWT akan menghapus semua dosa orang kafir jika dia bertaubat kepada-Nya dan memperbaiki dirinya dengan meninggalkan kejahatannya serta berbuat baik dengan taat mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Az Zumar 53)

 

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. (Al Furqaan 70)

 

Tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya). (An Naml 11)

 

Tapi Allah SWT tidak menerima taubat orang yang sudah dalam keadaan ini:

 

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (An Nisaa’ 18)

 

Dengan Allah SWT tidak menerima taubat orang-orang dalam keadaan seperti firman-Nya di atas, dosa-dosa mereka tidak dapat dihapus.”

 

Tilmidzi: “Apakah ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan dosa itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT membalas manusia di akhirat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. (Al Anbiyaa’ 47)

 

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az Zalzalah 7-8)

 

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (Al A’raaf 8-9)

 

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Al Mu’minuun 102-103)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply