Dialog Seri 8: 7
Tilmidzi: “Apakah syaitan menjauhkan manusia dari ayat-ayat Allah dan Rasul-Rasul-Nya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya melalui ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. Ayat-ayat-Nya itu diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Rasul-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al A’raaf 35)
Allah SWT lalu memerintahkan Rasul-Rasul-Nya agar menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya tersebut kepada manusia (umat Rasul). Hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. (Al Maa-idah 67)
Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nuur 54)
Amanat-Nya dalam firman-Nya di atas yaitu ayat-ayat-Nya. Rasul-Rasul menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia termasuk menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)
Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)
Adapun contoh Rasul yang menerima ayat-ayat-Nya dari Allah SWT dan menyampaikan amanat-Nya (ayat-ayat-Nya) kepada umat Rasul yaitu Nabi Nuh, seperti firman-Nya ini:
Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan Semesta Alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raaf 61-62)
Syaitan yang ingin manusia tersesat, lalu menjauhkan mereka dari ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya agar mereka tidak mengetahui agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus.”
Tilmidzi: “Tapi mengapa syaitan sampai harus menjauhkan manusia dari ayat-ayat-Nya, apakah orang yang membaca ayat-ayat-Nya akan langsung memahami (mengetahui) agama-Nya dan jalan-Nya?”
Mudariszi: “Seseorang memang tidak akan memahami agama-Nya dan jalan-Nya jika hanya membaca ayat-ayat-Nya. Tapi jika dia membaca dan memikirkan ayat-ayat-Nya tersebut, maka dia dapat mengetahui (memahami) agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Hal itu terjadi karena Allah SWT mengajarkan manusia tentang semua perkara yang tidak diketahuinya dengan ayat-ayat-Nya tersebut ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. (Al Baqarah 231)
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 3-5)
Kalam dalam firman-Nya di atas adalah ayat-ayat-Nya. Allah SWT mengajarkan manusia dengan ayat-ayat-Nya itu termasuk mengajarkan agama-Nya dan syariat agama-Nya, seperti firman-Nya ini:
Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. (Al Baqarah 242)
Selain Allah SWT mengajarkan manusia dengan ayat-ayat-Nya, Dia juga memberikan petunjuk kepada manusia dengan ayat-ayat-Nya itu, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran 103)
Dengan demikian, ayat-ayat-Nya itu merupakan pengajaran-Nya dan petunjuk-Nya bagi manusia. Contohnya adalah Al Qur’an, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu. (Al Baqarah 185)
Petunjuk Allah kepada manusia dengan ayat-ayat-Nya itu termasuk pula petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus. Contohnya adalah Al Qur’an, seperti djelaskan firman-Nya ini:
Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)
Penjelasan, pengajaran dan petunjuk Allah dalam ayat-ayat-Nya itu dapat dipahami jika dipikirkan, karena itu Allah SWT memerintahkan manusia untuk memikirkan ayat-ayat-Nya itu agar dipahaminya, sebagai berikut:
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al Baqarah 221)
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Al Baqarah 266)
Syaitan mengetahui hal tersebut di atas, sehingga syaitan lalu ingin menjauhkan manusia dari ayat-ayat-Nya agar tidak membacanya sehingga mereka tidak mengetahui agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus dan tidak diberikan-Nya petunjuk.”
Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana syaitan kemudian menjauhkan manusia dari ayat-ayat Allah?”
Mudariszi: “Syaitan menjauhkan manusia dari ayat-ayat-Nya dengan menjadikan mereka menyukai kesenangan (kehidupan) dunia. Syaitan melalaikan mereka dengan kehidupan dunia hingga mereka melupakan (meninggalkan) ayat-ayat-Nya. Syaitan melakukan hal itu terhadap orang-orang yang memeluk agama-Nya dan yang memeluk agama selain agama-Nya. Syaitan melakukan hal itu terhadap orang-orang yang memeluk agama selain agama-Nya, agar mereka tetap dengan agamanya sehingga mereka tidak mengetahui ayat-ayat-Nya dan mudah disesatkan sejauh-jauhnya. Contoh, syaitan membuat mereka menolak mengikuti agama-Nya ketika diajak untuk meninggalkan agamanya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh Bapak-Bapak kami?” (Al A’raaf 70)
Jika mereka dibacakan ayat-ayat-Nya agar meninggalkan agamanya, maka mereka akan mengatakan atau melakukan perbuatan sebagai berikut:
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh Bapak-Bapakmu.” (Saba’ 43)
Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. (Al Jaatsiyah 7-9)
Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat 26)
Allah SWT mengajak mereka kepada agama-Nya dengan ayat-ayat-Nya agar mereka selamat di dunia dan di akhirat, tapi mereka justru menolak karena syaitan. Allah SWT berfirman:
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? (Ash Shaff 7)
Tilmidzi: “Bagaimana syaitan menjauhkan para pemeluk agama Allah dari ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Syaitan juga memberikan janji-janji manis kepada orang-orang yang memeluk agama-Nya tanpa henti-henti agar mereka menyukai kehidupan (kesenangan) dunia. Jika Allah SWT mengetahui mereka menyukai kehidupan (kesenangan) dunia karena berkali-kali melanggar syariat agama-Nya atau berpaling dari ayat-ayat-Nya, misalnya umat Islam berpaling dari Al Qur’an, maka Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruf 36)
Syaitan yang telah menjadi kawannya itu lalu membuat hawa nafsu mereka hanya tertuju kepada kehidupan (kesenangan) dunia, sehingga mereka benar-benar meninggalkan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 7-8)
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(–Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya; tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. (Al A’raaf 146-147)
Dengan mereka meninggalkan ayat-ayat-Nya, mereka tidak akan diberikan-Nya petunjuk sehingga mereka menjadi tersesat ketika menjalani hidupnya di dunia.”
Tilmidzi: “Apakah syaitan juga menjauhkan para pemuka agama Allah dari ayat-ayat-Nya?”
Mudariszi: “Syaitan juga menjauhkan orang-orang yang berilmu pengetahuan agama-Nya dari ayat-ayat-Nya, dan syaitan melakukannya juga dengan membuat mereka menyukai kesenangan (kehidupan) dunia. Syaitan menghasut mereka tanpa henti-henti dengan janji-janji manis agar mereka menyukai kehidupan dunia. Di antara para pemuka agama-Nya yang berhasil disesatkan oleh syaitan hingga mereka mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan ayat-ayat-Nya, yaitu pemuka agama-Nya dari Ahli Kitab, itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’raaf 175-176)
Bahkan syaitan dengan janji-janji manisnya dapat membuat sebagian pemuka agama-Nya itu menjadi sesat sejauh-jauhnya, yaitu dengan membuat mereka menyembunyikan dan mengganti ayat-ayat-Nya hanya untuk memperoleh kesenangan dunia. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah 79)
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikannya”, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. (Ali ‘Imran 187)
Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. (At Taubah 9)
Dengan menyembunyikan dan mengganti sebagian ayat-ayat-Nya, maka kitab-Nya yang berisi ayat-ayat-Nya tersebut menjadi berubah, contoh Taurat dan Injil. Berubahnya Taurat dan Injil menjadikan agama-Nya, syariat agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus yang dijelaskan oleh Rasul-Rasul-Nya menjadi berubah pula. Perubahan agama-Nya itu berakibat kepada mereka sendiri dan orang-orang yang mengikutinya, yaitu mereka menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka. (At Taubah 29)
Karena tidak beragama dengan agama-Nya yang benar, Ahli Kitab itu menjalani hidupnya dengan tidak mengikuti jalan-Nya yang lurus, sehingga mereka akan tersesat jika tidak bertaubat. Anak cucu mereka yang lahir kemudian yang mengikuti agama orang tuanya, juga akan tersesat jika mereka tidak bertaubat dengan mengikuti ayat-ayat-Nya dan agama-Nya yang benar.”
Tilmidzi: “Apakah ada kitab-Nya yang ayat-ayat-Nya tidak dapat dirubah atau disembunyikan oleh manusia?”
Mudariszi: “Ya ada, yaitu Al Qur’an. Ayat-ayat Al Qur’an adalah ayat-ayat-Nya yang tidak dapat dirubah atau disembunyikan oleh siapapun, terbukti ayat-ayat Al Qur’an itu tidak berubah dari sejak diturunkan-Nya kepada Rasulullah SAW. Hal itu terjadi karena Allah SWT yang memelihara Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)
Tilmidzi: “Apakah syaitan juga menjauhkan para pemeluk agama-Nya (umat Islam) dari ayat-ayat Al Qur’an yang tidak dapat dirubah?”
Mudariszi: “Syaitan juga menjauhkan umat Islam dari ayat-ayat Al Qur’an. Tapi karena ayat-ayat Al Qur’an tidak dapat dirubah atau disembunyikan, maka syaitan lalu menjauhkan mereka dari ayat-ayat Al Qur’an dengan membuat mereka menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an menurut hawa nafsunya atau pendapatnya sendiri. Misalnya syaitan menghasut umat Islam yang memiliki pengetahuan agama Islam agar menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat menurut pendapatnya sendiri supaya dia diketahui (dikenal) oleh orang banyak sebagai orang yang ahli agama yang mengetahui tentang Allah SWT, sehingga dia akan memiliki ajaran dan pengikut yang banyak. Padahal ayat-ayat mutasyabihat itu hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Contoh, seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW membaca firman Allah: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (surat Ali Imran ayat 7). Setelah membaca firman tersebut Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah dinamai oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka.” (HR Muslim)
Umat Islam itu menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat menurut pendapatnya (hawa nafsunya) karena hasutan syaitan. Syaitan membuat umat itu merasa (berpendapat) bahwa dia mengetahui tentang Allah SWT adalah dari Dia sendiri, padahal itu dari syaitan. Syaitan membuatnya merasa mencintai Allah SWT karena telah diberikan-Nya pengetahuan tentang Dia. Umat Islam itu ditutup oleh syaitan dari ayat-Nya yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling tahu tentang Dia. Allah SWT telah menjelaskan hal itu serta memerintahkan manusia untuk mengikuti Rasulullah SAW jika mencintai-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia, sebagai berikut:
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dia-lah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (Al Furqaan 59)
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran 31)
Dengan umat Islam itu merasa dia mengetahui tentang Allah SWT, maka dengan sendirinya dia merasa pula yang paling suci. Syaitan menutup umat itu dari mengetahui ayat-Nya yang menjelaskan larangan-Nya mengatakan dirinya seorang yang suci, yaitu firman-Nya berikut ini:
Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An Najm 32)
Penafsiran ayat-ayat mutasyabihat oleh umat Islam itu lalu dipercayai oleh sebagian orang, sehingga terbentuk ajaran baru dalam agama Islam. Tafsiran atau ajaran umat Islam itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam agama Islam. Akibatnya timbul agama Islam baru karena adanya amal ibadah baru yang dikatakannya dari ayat-ayat Al Qur’an; ibadah tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal itu membuat terjadinya agama Islam baru yang berbeda dengan agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pengikut agama Islam baru menjadi tidak beragama dengan agama Islam yang benar, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, sehingga mereka tidak diberikan-Nya petunjuk dan akan tersesat kecuali mereka bertaubat.”
Tilmidzi: “Apakah umat Islam dibenarkan untuk menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an?”
Mudariszi: “Umat Islam dibenarkan untuk menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, tapi dia harus mempunyai ilmu untuk itu. Yang dimaksud ilmu tersebut yaitu ilmu yang diperoleh dari Rasulullah SAW, contoh para sahabat yang pernah bersama beliau dan yang diajarkan oleh beliau. Dengan demikian, umat Islam dapat menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an tetapi harus mengikuti Rasulullah SAW dan sahabat beliau yang menerima pengajaran dari beliau tentang Al Qur’an. Jika ada umat Islam yang menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an tanpa ilmu dan hanya menuruti hawa nafsunya (pendapatnya sendiri), maka Rasulullah SAW menjelaskan tentang umat Islam itu sebagai berikut:
Dari lbnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa mengatakan di dalam Al Qur’an dengan pendapatnya (sendiri), maka sediakanlah tempat duduknya di neraka.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah syaitan menghasut umat Islam agar menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an itu supaya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW menjadi terpecah hingga lalu umat Islam saling berselisih di antara mereka sendiri?”
Mudariszi: “Menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an oleh umat Islam menurut hawa nafsunya (pendapatnya sendiri) karena hasutan syaitan akan menimbulkan perbedaan ajaran (pemahaman) dengan pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pemahaman (ajaran) umat Islam itu akan menimbulkan ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Akibatnya timbul agama Islam baru dengan syariat agamanya yang baru (yang diada-adakan) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Agama Islam baru itu tidak akan benar karena agama Islam yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah SAW adalah agama Islam yang sempurna yang telah diridhai-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Syaitan menghasut banyak umat Islam yang memiliki pengetahuan agama Islam agar menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an menurut pendapatnya (hawa nafsunya) sendiri. Akibat hasutan syaitan dan perbuatan umat Islam itu, lalu timbul agama Islam-agama Islam yang baru atau golongan-golongan dalam agama Islam. Hal itu dengan sendirinya membuat agama Islam terpecah menjadi golongan-golongan, dan umat Islam terpecah pula karena setiap golongan memiliki pengikutnya. Umat Islam dari setiap golongan itu bangga dengan golongannya karena merasa yang paling benar. Bangganya umat Islam dengan golongannya itu menimbulkan iri dan dengki dari umat Islam pada golongan lain. Keadaan itu rentan timbulnya perselisihan dan permusuhan di antara mereka (umat Islam). Semua itu terjadi karena syaitan yang menyuruh (menghasut) mereka untuk menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an menurut pendapatnya sendiri atau hawa nafsunya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. (Al Baqarah 213)
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. (Al Maa-idah 91)
Mereka berselisih dan berdebat tentang agamanya (golongannya) akibat dari menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an menurut hawa nafsunya (pendapatnya) masing-masing, padahal Allah SWT telah memperingatkan itu, sebagai berikut:
Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir. (Al Mu’min 4)
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. (Al Mu’min 56)
Rasulullah SAW pula telah memperingatkan itu, sebagai berikut:
Dari Abu Imran Al Jauni, dia berkata: “Abdullah bin Rabbah Al Anshari berkirim surat kepadaku yang isinya memberitahukan, bahwa Abdullah bin Amer pernah mengatakan: “Suatu pagi aku bersama dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang berselisih mengenai suatu ayat. Rasulullah SAW keluar menemui kami dengan wajah kelihatan murka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadi binasa adalah disebabkan mereka suka berselisih mengenai Al Kitab.” (HR Muslim)
Umat Islam yang mengikuti agama Islam baru (golongan) itu menjadi tidak beragama dengan agama Islam yang benar (yang diajarkan oleh Rasulullah SAW). Anak cucu umat Islam dan orang-orang yang lahir kemudian menjadi tidak mengetahui agama Islam yang benar dan harus mencarinya. Hal itu memudahkan syaitan untuk menghalang-halangi mereka dari agama Islam yang benar dan jalan-Nya yang lurus. Semua itu menunjukkan bahwa syaitan tetap dapat menyesatkan manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, sekalipun ayat-ayat-Nya (ayat-ayat Al Qur’an) tidak dapat dirubah dan disembunyikan oleh siapapun.”
Tilmidzi: “Tapi mengapa Allah SWT membiarkan agama-Nya yaitu agama Islam terpecah dan umat Islam menjadi berselisih sesama mereka?”
Mudariszi: “Allah SWT membiarkan umat Islam yang mengikuti golongan-golongan itu seperti Dia membiarkan umat Rasul-Rasul lainnya yang mengikuti golongan-golongan, dan seperti Dia membiarkan syaitan menggoda manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, agar Dia mengetahui bagaimana mereka semua berbuat di dunia terhadap perkara-perkara tersebut termasuk terhadap agama Islam, yaitu agama-Nya yang benar yang dibawa oleh Rasul-Rasul-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 52-54)
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu ketika mereka berbuat kezaliman, padahal Rasul-Rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus 13-14)
Allah SWT membiarkan mereka berselisih hingga kiamat karena telah adanya ketetapan-Nya terdahulu, sehingga pada hari kiamat saja Dia akan memutuskan perselisihan di antara mereka itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (Yunus 19)
Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (Al Jaatsiyah 17)
Wallahu a’lam.