Dialog Seri 7: 4
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT akan menghidupkan (membangkitkan) kembali semua makhluk termasuk manusia yang telah mati?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati). (An Najm 47)
Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali, sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit). (Yunus 4)
Tilmidzi: “Dimana Allah SWT menghidupkan (membangkitkan) manusia yang telah mati tersebut?”
Mudariszi: “Setelah kiamat, Allah SWT akan mengulang penciptaan langit dan bumi yang lain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
Allah SWT membangkitkan (menghidupkan) kembali manusia yang mati itu pada waktunya yaitu di bumi yang baru. Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (Al A’raaf 25)
Tilmidzi: “Kapan Allah SWT membangkitkan (menghidupkan) manusia yang mati itu?”
Muadariszi: “Hanya Allah SWT yang mengetahui tentang perkara tersebut. Allah SWT berfirman:
Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” (Al Ahzab 63)
Tilmidzi: “Apakah ada tanda-tanda ketika manusia akan dibangkitkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tanda-tanda itu sebagai berikut:
(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama yang menggoncangkan alam. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. (An Naazi’aat 6-7)
Tiupan itu adalah sangkakala (suara keras) yang terdengar oleh siapapun. Rasulullah SAW menjelaskan sangkakala itu sebagai berikut:
Dari Abdillah bin Amr bin Al-Ash berkata: “Orang desa datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: “Apakah terompet itu?” Beliau bersabda: “Tanduk yang ditiup.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menghidupkan manusia yang telah mati dan hancur?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Hammam bin Munabbah, ia berkata: “Ini hadits yang diceritakan Abu Hurairah kepadaku yang bersumber dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Dari tulang itu ia dibentuk lagi kelak di hari kiamat.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, tulang apakah itu?” Beliau bersabda: “Tulang ekor.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Semua manusia akan dimakan tanah kecuali tulang ekornya. Dari tulang itu ia dibentuk lagi.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa adanya partikel di organ tulang ekor dari setiap orang yang tidak hancur, dan partikel di tulang ekor itulah yang digunakan oleh Allah SWT untuk membentuk dan menghidupkan kembali orang mati.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT membangkitkan (menghidupkan) orang mati dari tulang ekornya?”
Mudariszi: “Allah SWT membentuk kembali setiap orang mati dari partikel di tulang ekornya pada waktu di antara dua tiupan. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Waktu antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Mereka bertanya: “Hai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Ia menjawab: “Aku tidak mau memastikan.” Mereka bertanya lagi: “Empat puluh bulan?” Jawabnya: “Aku tidak mau memastikan.” Mereka masih bertanya: “Empat puluh tahun?” Ia menjawab: “Aku tidak mau memastikan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi: “Lalu Allah menurunkan hujan, maka mayat-mayatpun bangun seperti tumbuhnya tanam-tanaman. Tiada satupun bagian tubuh manusia yang utuh kecuali tulang ekornya, dan dari tulang itulah kelak di hari kiamat makhluk dibentuk lagi.” (HR Muslim)
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki, lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Setelah itu Allah mengirim (atau, menurunkan) hujan yang seperti air susu, atau, hujan yang turun di permulaan musim hujan (Nu’man ragu), lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia.” (HR Muslim)
Jasad atau tubuh setiap orang yang telah tumbuh dan terbentuk menurut yang Dia tetapkan, lalu Dia pertemukan dengan jiwanya yang termasuk roh ciptaan-Nya, pendengarannya, penglihatannya dan hatinya. Allah SWT berfirman:
Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). (At Takwiir 7)
Allah SWT memasukkan jiwa dan roh ciptaan-Nya (melalui malaikat utusan-Nya) ke tubuh setiap orang yang telah Dia bentuk, seperti Dia mencabut nyawa (jiwa dan roh ciptaan-Nya) keluar dari tubuh orang itu ketika di dunia. Waktu membangkitkan (menghidupkan) kembali manusia itu yang selama empat puluh seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW di atas, tapi tidak diketahui makna dari empat puluh itu. Karena itu Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. (Ar Ruum 27)
Tilmidzi: “Setelah dibangkitkan (dihidupkan) kembali menjadi manusia, lalu apakah yang terjadi dengan manusia itu?”
Mudariszi: “Setelah mendengar suara (tiupan) sangkakala yang kedua, seluruh makhluk lalu keluar dari kuburnya masing-masing, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua). (‘Abasa 33)
Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan yang sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. (Qaaf 41-44)
Seluruh makhluk yang bangkit (hidup) dan keluar dari kuburnya itu termasuk manusia. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki, lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Kemudian sangkakala ditiup lagi, maka mereka berdiri, menunggu.” (HR Muslim)
Sehingga Allah SWT lalu menjelaskan kebangkitan seluruh makhluk termasuk manusia, sebagai berikut:
Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An Naazi’aat 13-14)
Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. (Luqman 28)
Dan setelah tiupan sangkakala dan bangkitnya (hidupnya) manusia kembali, lalu Allah SWT berfirman:
Dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. (Al An’aam 73)
Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)
Jiwa yang kembali bertubuh menjadi manusia itu adalah manusia yang hidup dalam kehidupan akhirat.”
Tilmidzi: “Siapa yang pertama kali hidup ketika Allah SWT membangkitkan manusia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pertama kali orang yang mengangkat kepalanya sesudah ditiupnya sangkakala yang terakhir. Tiba-tiba saya bertemu dengan Musa bergantung di ‘Arasy sehingga saya tidak tahu apakah yang demikian itu sebelum atau sesudah ditiupnya sangkakala.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan manusia ketika dibangkitkan dan hidup kembali?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketika manusia bangkit dari kuburnya setelah tiupan sangkakala kedua melalui firman-Nya ini:
Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. (Ash Shaaffaat 19)
Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” (Yaasiin 52)
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam. (Az Zalzalah 6)
Rasulullah SAW menjelaskan keadaan manusia ketika dibangkitkan oleh Allah SWT dan keluar dari kuburnya, sebagai berikut:
Dari Jabir, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap hamba dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika ia mati.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Hamzah bin Abdullah bin Umar memberitahu aku, bahwa Abdullah bin Umar berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila Allah menghendaki menyiksa suatu kaum, ia akan menjatuhkan siksa terhadap orang yang ada di tengah-tengah mereka, kemudian mereka dibangkitkan sesuai dengan amal mereka.” (HR Muslim)
Ketika itu setiap orang tidak ada lagi hubungan kekeluargaan dan persahabatan seperti ketika di dunia. Setiap orang ketika itu sibuk dengan urusannya sendiri tanpa perdulikan yang lain. Allah SWT berfirman:
Dan apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari Ibu dan Bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (’Abasa 33-37)
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al Mu’minuun 101)
Dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya. (Al Ma’aarij 10)
Dan Allah SWT telah memperingatkan manusia tentang perkara tersebut di atas ketika di dunia dengan ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang Bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong Bapaknya sedikitpun. (Luqman 33)
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. (Al Baqarah 254)
Tilmidzi: “Kemana manusia setelah hidup (bangkit) kembali?”
Mudariszi: “Semua orang yang dibangkitkan oleh Allah SWT akan dikumpulkan kepada-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al Mulk 15)
Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. (Yaasiin 53)
Karena itu setiap orang pergi menuju kepada-Nya setelah bangkit dari kuburnya. Keadaan mereka ketika itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. (Yaasiin 51)
Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. (Ibrahim 43)
Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (An Naml 87)
Rasulullah SAW menjelaskan keadaan manusia ketika menuju kepada Allah SWT sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Sesungguhnya kamu akan menemui Allah dengan berjalan kaki, tidak beralas kaki, telanjang dan belum berkhitan.” (HR Muslim)
Dari Aisyah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum berkhitan.” Aku bertanya: “Hai Rasulullah, lelaki dan perempuan dikumpulkan semua, apakah sebagiannya memandang kepada sebagian yang lain?” Beliau bersabda: “Hai Aisyah, keadaan saat itu lebih penting dari pada sebagian memandang kepada sebagian yang lain.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah setiap orang datang kepada-Nya dengan sendiri-sendiri?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam 93-95)
Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat beserta pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah). (Al An’aam 94)
Tilmidzi: “Apakah mereka tidak saling bicara ketika menuju kepada-Nya?”
Mudariszi: “Mereka berbicara dengan berbisik-bisik. Allah SWT berfirman:
Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. (Thaahaa 108)
Mereka saling berbisik membicarakan perkara berikut ini:
(Yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkalala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram; mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari).” Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja.” (Thaahaa 102-104)
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. (Yunus 45)
Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa: “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja).” (Ar Ruum 55)
Tilmidzi: “Apakah ada tempat untuk berlari jika ada seseorang yang tidak ingin menghadap-Nya?”
Mudarisizi: “Ketika itu tiada tempat untuk berlari dan tiada siapapun yang dapat lari daripada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Pada hari itu manusia berkata: “Kemana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (Al Qiyaamah 10-12)
Wallahu a’lam.