Dialog Seri 7: 1
Tilmidzi: “Bukankah manusia pasti akan mati?”
Mudariszi: “Ya! Manusia pasti akan mati, karena Allah SWT, Tuhan manusia, Pencipta manusia, menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun. (Al Anbiyaa’ 34)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Al ‘Ankabuut 57)
Tilmidzi: “Apakah mungkin manusia dapat lari dari kematiannya?”
Mudariszi: “Kebanyakan manusia tidak ingin mati karena mereka menyukai kehidupan dunia dan karena ada yang ditakutinya setelah mati. Karena itu kebanyakan manusia berusaha lari atau menghindar dari kematiannya dengan berbagai cara, padahal Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Qaaf 19)
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (Al Jumu’ah 8)
Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (An Nisaa’ 78)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa usaha manusia agar dapat terhindar atau lari dari kematiannya akan sia-sia. Manusia seharusnya lebih baik menyiapkan dirinya menghadapi kematiannya dengan mengikuti perintah-Nya ini:
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 98-99)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mematikan manusia?”
Mudariszi: “Jika telah datang takdir (waktu) ajal seseorang, Allah SWT lalu mengutus malaikat maut kepada orang tersebut untuk mematikannya dengan mencabut nyawanya keluar dari tubuhnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As Sajdah 11)
Nyawa orang yang dimatikan dalam firman-Nya di atas itu adalah jiwa (orang mati) dan roh ciptaan-Nya (yang bersatu dengan jiwa). Sehingga nyawa yang dicabut oleh malaikat keluar dari tubuh manusia adalah jiwa (manusia), dan jiwa itulah yang dikembalikan oleh malaikat kepada Allah SWT. Kedatangan malaikat maut kepada orang yang nyawanya akan dicabut hingga nyawanya keluar dari tubuhnya itu adalah sakratul maut.”
Tilmidzi: “Apakah manusia telah mengetahui akan kedatangan malaikat maut kepadanya?”
Mudariszi: “Manusia tidak mengetahui takdir (waktu) ajalnya, karena itu manusia tidak mengetahui kedatangan malaikat maut kepadanya. Malaikat maut datang kepada orang yang akan dimatikannya itu dengan tiba-tiba. Allah SWT berfirman:
Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat. (Al Hajj 55)
Tilmidzi: “Apakah orang dalam sakratul maut melihat malaikat maut?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Dimana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami”, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (Al A’raaf 37)
Orang dalam sakratul maut melihat malaikat maut mendatanginya dan mencabut nyawanya, dan dia mengetahui itulah waktu akhir hidupnya (kematiannya). Dia tidak dapat berbuat apapun karena ketika itu jiwa (orang tersebut) dikuasai oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan padahal kamu ketika itu melihat dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar? (Al Waaqi’ah 83-87)
Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). (Al Qiyaamah 26-28)
Tilmidzi: “Apakah orang dalam sakratul maut melihat nyawanya dicabut keluar dari tubuhnya oleh malaikat maut?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Al Ala bin Yaqub, ia berkata: “Ayahku menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidakkah kalian melihat manusia ketika mati terkadang terbuka (melotot) matanya?” Para sahabat menjawab: “Ya!” Rasulullah SAW bersabda: “Itu adalah ketika matanya mengikuti nyawanya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana orang dalam sakratul maut dapat melihat nyawanya dicabut oleh malaikat?”
Mudariszi: “Manusia adalah jiwa yang bertubuh. Pada tubuh jiwa (manusia) terdapat organ-organ tubuh yang dapat dilihat. Selain itu, pada manusia atau jiwa yang bertubuh tersebut juga terdapat roh ciptaan-Nya, pendengaran, penglihatan, hati, tapi semua itu tidak dapat dilihat. Roh ciptaan-Nya pada jiwa yang bertubuh (manusia) itu yang membuat tubuh dan semua organ tubuh menjadi hidup dan bekerja. Ketika malaikat maut mencabut nyawa manusia, yaitu mencabut jiwa, roh ciptaan-Nya, pendengaran, penglihatan dan hati keluar dari tubuhnya, maka yang tinggal pada tubuh jiwa (manusia) hanyalah semua organ tubuh. Karena roh ciptaan-Nya mengikuti jiwa keluar dari tubuhnya, maka tubuh dan semua organ tubuh menjadi tidak bergerak (bekerja) lagi atau mati. Ketika malaikat mencabut nyawa, penglihatan yang ikut jiwa melihat malaikat itu. Jiwa melihat malaikat dengan organ mata, karena ketika itu nyawanya belum keluar dari tubuhnya sehingga mata masih bekerja, dan jiwa melihat (mengikuti) malaikat yang mencabut nyawanya dengan mata yang terbuka (melotot). Tapi jiwa tidak dapat berbuat apapun ketika itu, karena jiwa dikuasai oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya. (Az Zumar 42)
Tilmidzi: “Bagaimana malaikat maut mencabut nyawa manusia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut. (An Naazi’aat 1-2)
Contoh nyawa manusia dicabut dengan keras oleh malaikat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu.” (Al An’aam 93)
Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). (Al Anfaal 50)
Adapun orang yang nyawanya dicabut oleh malaikat dengan lemah lembut adalah orang beriman (bertakwa). Orang beriman tetap takut dan gelisah ketika nyawanya dicabut oleh malaikat. Tapi karena dia selalu ingat kepada-Nya, Allah SWT membantu dia dengan memudahkan pencabutan nyawanya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Anas, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW menjenguk seorang pemuda yang hampir mati, beliau bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab: “Demi Allah hai Rasulullah, saya mengharap rahmat Allah dan saya takut akan dosaku.” Beliau bersabda: “Tidak kumpul di hati seorang hamba dua perkara (mengharap rahmat dan takut dosa) di waktu seperti ini, kecuali Allah memberi kepadanya apa yang diharap dan Allah mengamankannya dari apa yang ia takuti.” (HR Tirmidzi)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (Al Fajr 27-28)
Tilmidzi: “Apakah terasa sakit ketika nyawa dicabut oleh malaikat maut?”
Mudariszi: “Isteri Rasulullah menjelaskan keadaan Rasulullah SAW menjelang wafatnya sebagai berikut:
Dari Aisyah, sesungguhnya dia berkata: “Saya melihat Rasulullah SAW ketika menjelang wafatnya, di sampingnya ada gelas berisi air dan beliau memasukkan tangannya ke gelas itu dan mengusap mukanya dengan air, kemudian beliau berdoa: “Ya Allah! Tolonglah saya atas kesengsaraan mati dan payahnya mati.” (HR Tirmidzi)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan adanya rasa sakit ketika nyawa dicabut keluar dari tubuh. Rasa sakit itu timbul karena matinya sel-sel dan organ-organ dalam tubuh akibat dari roh ciptaan-Nya ikut jiwa keluar dari tubuh. Yang merasakan sakit ketika itu adalah jiwa, karena hati ikut bersama jiwa keluar dari tubuh. Sedangkan tubuh (orang dalam sakratul maut) tidak merasakan apapun dan hanya terlihat tidak bergerak. Makin banyak sel-sel dan organ-organ yang mati, jiwa makin merasakan sakit; dan makin terdesak nyawa (jiwa) ke kerongkongan untuk keluar dari tubuh, jiwa makin sulit bernafas. Allah SWT berfirman:
Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. (Al Qiyaamah 26)
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. (Al Waaqi’ah 83)
Bersamaan dengan semua sel dan organ mati dan berhenti bekerja serta nafas berhenti, nyawa (jiwa) telah keluar dari tubuhnya. Nyawa itulah jiwa (orang mati) yang bersatu dengan roh ciptaan-Nya, pendengarannya, penglihatannya, hatinya. Malaikat lalu mengembalikan jiwa (orang mati) itu kepada Allah SWT. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Apabila roh orang mukmin keluar, dua malaikat menjemputnya dan membawanya naik. Dan penghuni langit berkata: “Ini adalah roh yang baik yang datang dari bumi. Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu dan kepada jasad yang engkau tempati.” Lalu roh itu dibawa ke hadapan Tuhannya Azza wa Jalla, lantas Dia berfirman: “Bawalah ia ke batas yang terakhir (sidratul muntaha).” Dan apabila roh orang kafir keluar (Hammad berkata: “Abu Hurairah menyebutkan busuknya bau roh itu dan ia dilaknati.”), kemudian penghuni langit berkata: “Ini adalah roh yang jelek yang datang dari bumi.” Kemudian difirmankan: “Bawalah ia ke tempat terakhir (neraka sijjin).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah tubuh jiwa (orang mati) yang tidak bergerak itu yang harus dikubur dalam tanah karena manusia berasal dari tanah?”
Mudaridzi: “Ya! Karena manusia diciptakan-Nya dari tanah seperti firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (Al Mu’minuun 12)
Maka tubuh jiwa yang tidak lagi bergerak (mati) tersebut lalu diperintahkan-Nya untuk dikubur ke dalam tanah. Allah SWT berfirman:
Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. (‘Abasa 21)
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. (Al Maa-idah 31)
Tilmidzi: “Apakah jiwa (orang mati) dapat melihat, mendengar, berbicara, berfikir, merasakan atas apa yang terjadi pada dirinya sebelum dikuburkan ke dalam tanah?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang mengangkatnya di atas pundak mereka, jika jenazah itu baik, maka ia berkata: “Ajukan saya.” Jika jenazah itu tidak baik, maka ia berkata: “Wahai celakanya, kemanakah kalian pergi dengan membawa jenazah?” Segala sesuatu mendengarnya kecuali manusia. Seandainya ia mendengarnya niscaya ia pingsan.” (HR Bukhari)
Hal itu terjadi karena pada jiwa (orang mati) terdapat pendengarannya, penglihatannya, hatinya yang semuanya dapat bekerja karena adanya roh ciptaan-Nya pada jiwa. Tapi jiwa (orang mati) tidak dapat mengeluarkan suara karena dia tidak memiliki tubuh. Di lain pihak, orang-orang yang hidup tidak dapat membuat jiwa (orang mati) itu mendengar. Allah SWT berfirman:
Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar. (Ar Ruum 52)
Perbedaan jiwa orang mati dengan jiwa orang hidup itu di tubuhnya, yaitu jiwa orang mati tidak bertubuh tapi jiwa orang hidup memiliki tubuh (bertubuh). Tapi bagi jiwa itu sendiri tidak berbeda, karena jiwa yang bertubuh itu tidak merasakan berat tubuhnya yang memiliki bobot (berat). Sehingga tidak berbeda bagi jiwa jika bertubuh atau tanpa tubuh. Dengan demikian, jiwa orang mati tidak berbeda dengan jiwa orang hidup.”
Tilmidzi: “Apakah jiwa (orang mati) dapat melihat, mendengar, berbicara, berfikir, merasakan ketika dia telah berada dalam tanah (telah dikubur)?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Anas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apabila manusia diletakkan dalam kuburnya, setelah teman-temannya berpaling dan pergi sehingga ia mendengar ketukan sandal mereka, lalu datanglah kedua malaikat mendudukkannya dan bertanya kepadanya: “Apakah yang kamu ucapkan dahulu (ketika di dunia) tentang Muhammad SAW?” Lalu ia menjawab: “Sesungguhnya dia adalah hamba dan utusan Allah”, maka diucapkannya kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya tempat duduk di surga.” Rasulullah SAW bersabda: “Ia melihat keduanya. Adapun orang kafir atau munafik akan menjawab: “Saya tidak tahu, saya dulu mengatakan apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang.” Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak tahu dan tidak membaca.” Kemudian ia dipukul dengan palu dan besi di antara kedua telinganya, lalu ia berteriak sekeras-kerasnya yang didengar oleh apa yang di dekatnya selain jin dan manusia.” (HR Bukhari)
Tetapi orang-orang yang hidup tidak dapat membuat jiwa (orang mati) dalam kubur mendengar suara mereka. Allah SWT berfirman:
Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. (Faathir 22)
Karena itu orang-orang yang hidup tidak dapat membantu jiwa (orang mati) dalam kubur. Hanya Allah SWT yang dapat membantu jiwa (orang mati) dalam kubur, contoh Dia membantu jiwa (orang mati) ketika ditanya oleh malaikat, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Bara bin Azib dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Apabila seorang mu’min didudukkan dalam kuburnya, maka ia didatangi, ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Itu firman Allah (yang artinya): “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (surat Ibrahim ayat 27). (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang mati itu sebenarnya dia tidak mati?”
Mudariszi: “Manusia (orang) adalah jiwa yang bertubuh dalam kehidupan dunia. Ketika manusia mati, tubuhnya tertinggal di bumi, sedangkan jiwa tetap hidup di alam barzakh (kubur). Sehingga, orang mati itu tetap hidup, yaitu jiwanya. Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al Baqarah 154)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. (Ali ‘Imran 169-170)
Jika orang yang gugur di jalan-Nya tetap hidup, maka orang kafir yang mati juga tetap hidup karena keduanya sama-sama manusia. Jiwa (orang mati) yang beriman ditempatkan-Nya di atas langit pertama, contoh para Nabi seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Jibril membawaku naik ke langit, lalu dibukakan bagi kami, aku bertemu dengan Adam. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua, pintupun dibukakan bagi kami, aku bertemu dengan ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria. Aku dibawa naik langit ketiga, pintu dibukakan untuk kami, aku bertemu Yusuf. Aku dibawa naik ke langit keempat, kamipun dibukakan, ternyata disana ada Idris. Aku dibawa naik ke langit kelima, kami dibukakan, disana aku bertemu Harun. Aku dibawa naik ke langit keenam, kami dibukakan, disana ada Musa. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh, kami dibukakan, disana aku menemukan Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya pada Al Baitul-ma’mur.” (HR Muslim)
Sedangkan jiwa (orang mati) yang kafir ditempatkan-Nya di bawah langit pertama. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke dalam lubang jarum. (Al A’raaf 40)
Tilmidzi: “Sampai kapan jiwa orang-orang mati itu di alam barzakh?”
Mudariszi: “Sampai hari kebangkitan atau sampai mereka semua dibangkitkan pada hari kiamat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mu’minuun 99-100)
Jika orang-orang kafir dalam firman-Nya di atas dibangkitkan pada hari kebangkitan (hari kiamat), orang-orang yang beriman juga demikian.”
Tilmidzi: “Apakah yang dilakukan oleh jiwa (orang mati) di alam barzakh?”
Mudariszi: “Jika jiwa (orang mati) yang beriman mendapat rezeki (seperti dijelaskan sebelumnya di atas) atau mendapat nikmat kubur, maka jiwa (orang mati) yang kafir mendapat siksa kubur. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Aisyah, bahwasanya ada seorang Yahudi perempuan masuk di tempat Aisyah, lalu menyebutkan siksa kubur, kemudian berkata kepada Aisyah: “Semoga engkau dilindungi oleh Allah dari siksa kubur.” Kemudian Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siksa kubur, lalu beliau bersabda: “Memang benar, siksa kubur itu benar-benar ada.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang mati, tiap pagi dan sore akan diperlihatkan kepadanya tempatnya kelak; jika termasuk ahli surga, akan diperlihatkan surga; kalau termasuk ahli neraka, akan diperlihatkan neraka, lalu dikatakan: “Ini tempatmu jika Allah membangkitkanmu di hari kiamat.” (HR Muslm)
Jiwa di alam barzakh merasakan nikmat atau siksa kubur seperti dia merasakan mimpi bagus atau buruk ketika tidur di dunia. Karena pada dua keadaan tersebut, jiwa dikuasai oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. (Az Zumar 42)
Tilmidzi: “Apakah jiwa (orang mati) dapat menerima pahala atau dosa?”
Mudariszi: “Orang mati itu berarti dia tidak lagi hidup di dunia, sehingga dia tidak dapat lagi beramal (berbuat) guna memperoleh pahala atau dosa baginya. Rasulullah SAW lalu menjelaskan tentang orang mati tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa jiwa (orang mati) yang beriman masih dapat memperoleh pahala jika dia meninggalkan salah satu dari tiga amalan dalam sunnah Rasulullah di atas. Sehingga dia akan menerima pahala yang tidak putus-putus sekalipun dia telah mati dan tidak lagi dapat beramal. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. (Fushshilat 8)
Dengan demikian, jiwa (orang mati) yang kafir juga menerima dosa yang tidak putus-putus jika dia meninggalkan amalan yang menyimpang dari agama-Nya dan amalannya itu diikuti oleh orang-orang yang hidup di dunia. Karena Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang orang-orang yang tetap menerima pahala atau dosa sekalipun mereka telah mati akibat dari ucapannya dan perbuatannya, sebagai berikut:
(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (An Nahl 25)
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengajak pada petunjuk, maka baginya adalah pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya, tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka baginya menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti ajakannya itu, tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka itu.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Kapan hari kebangkitan atau manusia dibangkitkan-Nya?”
Mudariszi: “Waktu kiamat dan kebangkitan itu hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman 34)
Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” (Al Ahzab 63
Ketika dibangkitkan (dihidupkan) oleh Allah SWT, jiwa lalu diberikan-Nya tubuh yang baru sehingga kembali menjadi manusia yaitu jiwa yang bertubuh. Allah SWT berfirman:
Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). (At Takwiir 7)
Jiwa yang bertubuh atau manusia itu hidup dalam kehidupan akhirat.”
Wallahu a’lam.