Bagaimana Berdoa Kepada Allah SWT Agar Dikabulkan?

Dialog Seri 12: 9

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghendaki manusia agar meminta (berdoa) hanya kepada-Nya saja?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT adalah Tuhan manusia, Pencipta manusia dan Dia menghendaki agar manusia hanya menyembah-Nya dan hanya berdoa (meminta) kepada-Nya saja. Allah SWT berfirman:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. (Al Faatihah 5)

 

Berdoa hanya kepada Allah SWT saja merupakan bukti penyembahan hanya kepada-Nya saja. Menyembah Allah SWT dan berdoa kepada-Nya adalah dua ibadah (perbuatan) yang terkait dan tidak terpisahkan dalam meyakini (beriman) atau mengakui ke-Esa-an Allah SWT (syahadat tauhid). Jika menyembah Allah SWT tapi berdoa kepada tuhan selain Dia (thaghut), atau berdoa kepada-Nya tapi menyembah juga tuhan selain Dia (thaghut), maka kedua itu merupakan perbuatan mempersekutukan-Nya dengan tuhan lain (atau berbuat syirik). Karena Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (An Nisaa’ 36)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu. (An Nahl 36)

 

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (Al Mu’min 60)

 

Tilmidzi: “Mengapa sampai ada orang-orang yang meminta kepada Tuhan selain Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Karena lemahnya pengetahuan agama mereka tentang agama-Nya yang benar akibat dari hasutan syaitan. Syaitan selalu menghasut manusia tentang Tuhannya yang benar agar mereka tersesat. Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)

 

Di lain pihak, manusia tidak lepas dari Tuhannya karena dia (jiwanya) telah bersaksi kepada Allah SWT sebelum dilahirkan ke dunia. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan). (Al A’raaf 172)

 

Sehingga manusia cenderung akan meminta kepada Tuhannya tersebut yang dianggapnya benar menurut pemikirannya dan pemahamannya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika tidak ada seorangpun yang meminta kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Ayyub, ia berkata menjelang wafatnya: Dulu aku telah menyembunyikan kepada kalian sesuatu yang pernah kudengar dari Rasulullah SAW. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Andaikata kalian tidak pernah berdosa, tentu Allah menciptakan orang-orang yang berbuat dosa agar Dia bisa memberi ampun mereka. (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Demi Dzat yang menguasai diriku! Seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah membawa pergi kalian dan Dia men­datangkan kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun (istighfar) kepada Allah, kemudian Dia mengampuni mereka.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Jika Allah SWT menghendaki agar manusia hanya berdoa kepada-Nya saja, apakah Dia akan mengabulkan doanya?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Al Baqarah 186)

 

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf 16)

 

Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (Ibrahim 39)

 

Tapi Allah SWT mengabulkan doa orang itu jika dia berbuat seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al Baqarah 186)

 

Dan Dia memperkenankan (do’a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. (Asy Syuura 26)

 

Dengan demikian ada ketentuan agar doa seseorang itu dikabulkan-Nya. Jika orang itu berdoa kepada-Nya tapi perbuatannya tidak mengikuti syariat (peraturan) agama-Nya (Islam), maka doanya tidak akan terkabul. Bagaimana mungkin Allah SWT mengabulkan doa orang yang mengikuti peraturan agama selain agama-Nya? Perbuatannya itu menunjukkan dia mengikuti atau menyembah tuhan selain Dia (thaghut) atau mempersekutukan-Nya dengan tuhan lain, sehingga dia telah melakukan kekafiran (kesyirikan). Dan Allah SWT tidak mengabulkan doa orang kafir atau yang melakukan kekafiran kepada-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadat) orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (Ar Ra’d 14)

 

Tilmidzi: “Apakah berdoa kepada Allah SWT yang paling baik itu adalah melalui shalat?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena pada waktu shalat itu adalah waktu bermunajat langsung kepada Allah SWT, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW ini:

 

Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang di antara kalian mendirikan shalatnya, maka dia adalah bermunajat pada Tuhannya.” (HR Bukhari)

 

Sehingga dengan berdoa kepada Allah SWT ketika shalat (bermunajat), berarti umat itu sedang meminta langsung kepada-Nya tanpa perantara. Allah SWT tidak menghendaki manusia berdoa (meminta) kepada-Nya melalui perantara, sekalipun melalui orang alim atau shaleh. Orang shaleh (bertakwa) itu sendiri cenderung akan menolak permintaan mendoakan seseorang, karena dia mengetahui Allah SWT menghendaki setiap orang meminta langsung kepada-Nya. Dan dengan berdoa langsung kepada-Nya ketika bermunajat (shalat), maka Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. (Al A’raaf 55)

 

Rasululah SAW pula menjelaskan hal tersebut di atas sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, tentang ayat: Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (surat Al Israa’ ayat 110). Ia berkata: Ayat tersebut diturunkan mengenai doa. (HR Bukhari)

 

Karena itu jika berdoa kepada-Nya dalam keadaan apapun, maka hendaknya berdoa dengan suara pelan dan lemah lembut, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Musa, dia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah SAW di suatu bepergian. Ketika kami sedang mendaki, kami membaca takbir. Maka beliau bersabda: Berdoalah untuk kalian dengan suara pe­lan. Sebab sesungguhnya kalian tidak memanggil kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang absen. Bahkan kalian memanggil kepada Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, lagi pula Maha Dekat.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada ketentuan lain ketika berdoa kepada-Nya agar dikabulkan-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). (Al A’raaf 56)

 

Agar doa dikabulkan-Nya, Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW Nabi pernah bersabda: Janganlah salah seorang kamu mengatakan: Ya Allah, am­punilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau. Tetapi hendaklah dia bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam berdoa, karena Allah tidak segan-segan akan berbuat apa yang dikehendakiNya. (HR Muslim)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Perhatikanlah kalimat sajak dari doa, maka hindarilah itu. Sesungguhnya saya mengetahui Ra­sulullah SAW dan sahabat-sahabatnya tidak pernah melakukan kecuali yang demikian itu, yakni mereka tidak pernah melakukan kecuali menghindari (kalimat sajak) itu.” (HR Bukhari)

 

Selain itu, Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang umat berdoa untuk kejahatan dan melarang terburu-buru atau putus asa dalam berdoa, seperti dijelaskan berikut ini:

 

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al Israa’ 11)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan sepan­jang dia tidak berdoa untuk dosa atau memutus hubungan kekeluarga­an, dan sepanjang dia tidak buru-buru. Ditanyakan: Wahai Rasulul­lah, apa yang dimaksud dengan buru-buru itu? Beliau menjawab: Yaitu kalau orang mengatakan: Aku sudah berdoa, aku sudah ber­doa, akan tetapi aku kira Allah tidak mengabulkanku. Sehingga karena merasa menyesal waktu itu, maka dia tidak mau lagi berdoa.” (HR Muslim)

 

Berdoa dengan mengikuti Allah SWT dan Rasulullah SAW pasti akan dikabulkan-Nya. Jika doanya itu tidak diperolehnya di dunia, maka dia akan memperolehnya di akhirat. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seseorang berdoa dengan suatu doa melain­kan pasti dikabulkan. Adakalanya diberikan segera kepadanya di dunia dan ada kalanya disimpan baginya untuk diberikan di akhirat dan ada kalanya dosa-dosanya dihapus sesuai dengan kadar doanya, selama dia tidak berdoa tentang perbuatan dosa atau putus tali hubungan famili atau selama tidak tergesa-gesa.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dia tergesa-gesa? Beliau bersabda: Dia berkata: “Kami ber­doa kepada Tuhan kami tapi Dia tidak mengabulkan doa kami.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah ada shalat yang mempercepat doa dikabulkan-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Yaitu shalat tahajud atau shalat malam. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Allah akan turun ke langit dunia setiap malam, yaitu ketika sepertiga malam yang pertama berlalu. Allah berfirman: Aku adalah Raja. Aku adalah Raja. Barangsiapa yang berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan doanya. Barangsiapa yang memohon kepadaKu, maka akan Aku penuhi permohonannya. Dan barangsiapa yang me­mohon ampunan kepadaKu, maka Aku akan mengampuninya. Hal itu akan terus berlangsung sampai tiba waktu fajar. (HR Muslim)

 

Dari Jabir, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya pada waktu malam itu ada saat ter­tentu, di mana apabila seorang muslim kebetulan mendapatinya seraya memohon kebajikan urusan dunia dan akhirat kepada Allah, maka Allah tentu akan memberinya, dan itu ada pada setiap malam.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ada waktu yang baik dalam shalat ketika berdoa kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Waktu yang paling baik dalam shalat ketika berdoa kepada-Nya, yaitu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bers­abda: Paling dekatnya jarak antara hamba dan Tuhannya adalah ke­tika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah doa. (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ingat! Sesungguhnya aku dilarang membaca Al Quran pada waktu rukuk atau sujud. Tentang rukuk, maka agungkanlah Tuhan pada waktu itu; dan mengenai sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, dengan demikian wajarlah jika doamu dikabulkan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah zikir (berdoa) setelah shalat dapat menghilangkan dosa?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Tsauban, dia mengatakan: Rasulullah SAW apabila selesai dari sembahyangnya, beliau memohon ampunan (mem­baca istighfar) sebanyak tiga kali. Lalu beliau berdoa: Ya Allah, Engkau-lah yang memiliki keselamatan, dari Engkau-lah datangnya ke­selamatan, Maha Memberkahi Engkau, wahai Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia. (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW: Barangsiapa yang membaca tasbih (mensucikan) Allah sebanyak tiga puluh tiga kali di setiap selesai sembahyang, memuji Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, mengagungkan Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, yang berarti sembilan puluh sembilan kali dan genap seratusnya ialah ucapan: Tidak ada Tuhan selain Allah semata yang tiada sekutu bagiNya, kpunyaanNya-lah kekuasaan dan kepunyaanNya-lah segala puji, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka akan diampuni dosa-dosanya se­kalipun sudah sebanyak buih di lautan. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan doa orang yang takut karena berhadapan dengan keadaan yang menakutkannya?”

 

Mudariszi: “Ya! Boleh jadi Allah SWT mengabulkan doa orang yang dalam ketakutan dengan menyelamatkannya. Manusia tidak dapat lepas dari Allah SWT, Tuhannya (seperti yang dijelaskan di atas sebelumnya), sehingga ketika seseorang dalam keadaan yang dirasakannya mengancam keselamatan dirinya, disadarinya atau tidak disadarinya dia langsung lari kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya agar diselamatkan. Ketika itu, dia berdoa kepada-Nya dengan sangat ikhlas karena rasa takutnya; dan karena doanya yang ikhlas itulah Dia lalu mengabulkannya dengan menyelamatkannya. Keadaan itu terjadi dan berlaku bagi semua orang termasuk bagi orang-orang kafir; dan tujuan Allah menyelamatkan orang-orang kafir tersebut yaitu agar mereka bertaubat kepada-Nya. Tapi kebanyakan manusia, setelah diselamatkan-Nya, dia lalu kembali kepada kekafirannya karena cintanya kepada kehidupan dunia. Karena itu Allah SWT lalu membiarkan orang-orang kafir tersebut dengan kesesatannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 12)

 

Dia-lah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; datanglah angin badai dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Yunus 22-23)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply