Dialog Seri 9: 3
Tilmidzi: “Apakah orang-orang beriman yang selamat dari banjir besar itu penerus keturunan manusia sebagai khalifah di bumi?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)
Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera. (Al Haaqqah 11)
Dan Allah SWT lalu memperingatkan orang-orang beriman itu agar memperhatikan (mendidik) anak cucunya yang lahir kemudian, karena Dia akan memberikan ujian kepada mereka yang berupa kesenangan hidup, yaitu sebagai berikut:
Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (Huud 48)
Tilmidzi: “Apakah anak cucu keturunan Nabi Nuh dan orang-orang beriman yang bersama beliau tetap mengikuti ayat-ayat-Nya (agama-Nya) menyembah Allah SWT?”
Mudariszi: “Setelah berlalu masa yang panjang dari banjir besar, sebagian keturunan orang-orang beriman yang selamat dari banjir besar, sudah mulai banyak yang meninggalkan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya. Mereka tidak lagi menyembah Allah SWT, tapi menyembah tuhan patung berhala, contoh kaum ‘Aad. Allah SWT lalu mengutus Nabi Huud kepada mereka (kaum ‘Aad), dan beliau diberikan ayat-ayat-Nya untuk disampaikan kepada kaumnya agar diikuti dan dijalankannya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Al A’raaf 65)
Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). (Al A’raaf 69)
Tapi kebanyakan kaum ‘Aad tidak mau beriman kepada Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya; mereka tidak mau mengikuti agama-Nya; mereka tidak mau meninggalkan agamanya yang menyembah patung berhala. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Kaum ‘Aad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (Huud 53)
Setelah Nabi Huud menyeru kaum ‘Aad dalam jangka waktu yang lama, kaum ‘Aad tidak juga mau beriman kepada Allah SWT, bahkan orang-orang yang menjadi kafir makin bertambah. Karena itu Allah SWT lalu membinasakan (memusnahkan) kaum ‘Aad yang kafir, agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir pula. Allah SWT berfirman:
Adapun kaum ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (Fushshilat 15-16)
Maka mereka mendustakan Huud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (Asy Syu’araa’ 139)
Tilmidzi: “Apakah ada pula anak cucu keturunan orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh yang juga tidak lagi menyembah Allah SWT?”
Mudariszi: “Setelah kaum ‘Aad dibinasakan, Allah SWT lalu menjadikan kaum Tsamud, yaitu anak cucu orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh, sebagai salah satu penguasa di bumi. Tapi dengan berjalannya waktu, sebagian besar kaum Tsamud meninggalkan ayat-ayat-Nya (agama-Nya), mereka tidak lagi menyembah Allah SWT. Allah SWT lalu mengutus Nabi Shaleh dengan diberikan ayat-ayat-Nya untuk disampaikan kepada kaumnya agar mereka menyembah Dia dan mengikuti agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. (Al A’raaf 74)
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (Al A’raaf 73)
Tapi kebanyakan dari kaum Tsamud juga tidak ingin mengikuti Nabi Shaleh dan ayat-ayat-Nya, mereka hanya mau menyembah tuhan-tuhan berhala dan mengikuti agama orang tuanya (nenek moyangnya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh Bapak-Bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Huud 62)
Kaum Tsamud tidak berbeda dengan kaum ‘Aad, yaitu orang-orang yang bertubuh kuat dan besar serta berakal cerdas, mereka dapat membelah gunung-gunung yang kemudian dijadikannya benteng-benteng dan bangunan-bangunan tinggi sebagai tempat tinggal. Allah SWT berfirman:
Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. (Asy Syu’araa’ 128-130)
Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. (Al Fajr 9)
Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)
Tapi akal dan keahlian yang dari Allah SWT itu digunakan oleh mereka hanya untuk menuruti hawa nafsunya. Mereka berbuat (beramal), yaitu mengusahakan dan memanfaatkan karunia-Nya di bumi dengan menuruti hawa nafsunya (peraturannya sendiri). Akibatnya terjadi kerusakan pada makhluk-makhluk di bumi (termasuk manusia). Syaitan membuat mereka memandang baik (benar) perbuatan mereka yang buruk. Karena itu Allah SWT lalu membinasakan kaum Tsamud yang kafir, agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir pula. Allah SWT berfirman:
Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)
Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Fushshilat 17)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT masih mengutus Rasul-Rasul dengan membawa ayat-ayat-Nya kepada kaum yang tidak menyembah Dia?”
Mudariszi: “Allah SWT mengganti kaum Tsamud dengan kaum lain sebagai penguasa di bumi, salah satunya kaum Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim diutus oleh Allah SWT kepada kaum yang ketika itu menyembah tuhan berhala. Mereka beragama hanya mengikuti nenek moyangnya tanpa memikirkan kebenaran tuhannya itu. Allah SWT berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti Bapak-Bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Luqman 21)
Nabi Ibrahim menyampaikan ayat-ayat-Nya sambil mengajak mereka untuk berfikir tentang kebenaran agama kaumnya yang menyembah tuhan berhala atau tuhan selain Allah SWT. Nabi Ibrahim ingin agar kaumnya memikirkan agamanya dan tuhannya supaya mereka tidak menyesal setelah kematiannya dan di hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati Bapak-Bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya.” (Al Anbiyaa’ 52-56)
Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (Al ‘Ankabuut 25)
Demikian pula dengan Nabi Luth yang merupakan saudara Nabi Ibrahim, beliau diutus kepada kaum yang akhlaknya telah dirusak oleh syaitan. Syaitan telah membuat hawa nafsu kaum Nabi Luth selalu menyuruh untuk melakukan perbuatan menyukai sesama jenis. Perbuatan mereka itu tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Allah SWT berfirman:
Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Asy Syu’araa’ 161-163)
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (homosexual) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (Al A’raaf 80-82)
Karena sudah dikuasai oleh syaitan, kaum Nabi Luth menolak seruan Nabi Luth, mereka tetap melakukan perbuatan keji yang merusak orang-orang lain. Mereka sudah melampaui batas dengan melanggar ketetapan Allah (sunnatullah), yaitu Allah SWT tidak menjadikan manusia melakukan perkawinan sesama jenis. Karena itu, agar tidak diikuti oleh orang-orang yang lahir kemudian, Dia lalu membinasakan kaum Luth yang kafir dan menyelamatkan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (Huud 82)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT masih mengutus Rasul-Rasul kepada kaum-kaum yang kafir setelah Dia memusnahkan kaum Nabi Luth?”
Mudariszi: “Allah SWT lalu mengutus Nabi Syuaib kepada kaumnya (Madyan) dengan diberikan ayat-ayat-Nya guna disampaikan kepada kaumnya yang berbuat tidak adil dan sewenang-wenang dalam mengusahakan dan menggunakan karunia-Nya di bumi. Kaum Madyan melakukan perbuatan itu karena mereka telah meninggalkan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya; mereka tidak lagi menyembah Allah SWT, tapi menyembah tuhan selain Dia. Nabi Syuaib lalu menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada mereka agar kaum Madyan kembali menyembah Allah SWT dan mengikuti ayat-ayat-Nya (agama-Nya). Allah SWT berfirman:
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (Al A’raaf 85)
Tapi sebagian besar kaum Madyan tidak mau beriman kepada Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Kaum-kaum yang kafir sebelum kaum Madyan yang telah dimusnahkan oleh Allah SWT tidak membuat mereka takut. Mereka hanya mau menyembah tuhannya yang berupa patung dan hanya mau menjalani hidupnya dengan mengikuti agamanya dan peraturannya sendiri. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh Bapak-Bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (Huud 87)
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Huud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. (Huud 89)
Karena itu, pada waktu yang Dia tetapkan, Allah SWT lalu membinasakan kaum Madyan yang kafir, agar orang-orang yang lahir kemudian tidak menjadi kafir pula. Allah SWT berfirman:
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh suatu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad–yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa. (Huud 94-95)
Tilmidzi: “Apakah masih ada juga kaum-kaum yang kafir dan apakah Allah SWT tetap mengutus Rasul-Rasul kepada kaum-kaum tersebut?”
Mudariszi: “Anak cucu keturunan orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh telah berjumlah banyak dan tersebar di berbagai belahan bumi. Sebagian besar dari mereka telah tidak menyembah Allah SWT atau tidak mengikuti agama-Nya. Karena itu Allah SWT banyak mengutus Nabi-Nabi (Rasul-Rasul) kepada kaum-kaum yang kafir tersebut agar mereka kembali bertaubat mengikuti ayat-ayat-Nya (agama-Nya) dan menyembah Dia saja. Tapi Allah SWT tidak menjelaskan semua Nabi (Rasul) tersebut dalam kitab-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (Al Mu’min 78)
Sehingga, tidak diketahui jumlah kaum yang kafir yang telah dimusnahkan (dibinasakan) oleh Allah SWT karena mereka mendustakan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Salah satu kaum yang tidak juga menyembah Allah SWT, yaitu kaum Fir’aun. Allah SWT mengutus Nabi Musa dengan diberikan ayat-ayat-Nya kepada Fir’aun dan kaumnya; beliau menyeru mereka agar menyembah Dia saja dan mengikuti agama-Nya. Fir’aun adalah penguasa yang kejam dan memerintah negerinya (rakyatnya) dengan sewenang-wenang, sehingga merusak makhluk-makhluk di bumi termasuk manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kemudian Kami utus Musa sesudah Rasul-Rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. (Al A’raaf 103)
Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak) yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. (Al Fajr 10-12)
Tilmidzi: “Bagaimana sewenang-wenangnya Fir’aun dalam berkuasa?”
Mudariszi: “Fir’aun sewenang-wenang ketika berkuasa, contohnya, dia membunuh anak-anak laki-laki dari Bani Israil, kaum Nabi Musa, dan membiarkan anak-anak perempuannya hidup. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 4)
Fir’aun dan kaumnya tidak mau mengikuti Nabi Musa dan ayat-ayat-Nya, meskipun Nabi Musa telah memperlihatkan mereka sembilan mu’jizat-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu’jizat yang nyata. (Al Israa’ 101)
Kemudian sesudah Rasul-Rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan (membawa) tanda-tanda (mu’jizat-mu’jizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Yunus 75)
Fir’aun mengaku dirinya sebagai tuhan sekalipun telah dijelaskan dan diperlihatkan mu’jizat-mu’jizat-Nya kepada Fir’aun. Allah SWT berfirman:
Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (An Naazi’aat 20-24)
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (Al Qashash 38)
Fir’aun telah disesatkan oleh syaitan sejauh-jauhnya karena dia mengatakan dirinya itu tuhan yang harus disembah. Syaitan berhasil membuat Fir’aun di neraka Jahannam bersama dengan Iblis dan syaitan ketika di hari kiamat, karena Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. (Al Anbiyaa’ 29)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT membinasakan Fir’aun?”
Mudariszi: “Karena Fir’aun telah mendurhakai Allah SWT, ayat-ayat-Nya (mu’jizat-Nya), Rasul-Rasul-Nya (Nabi Musa dan Nabi Harun), Allah SWT lalu membinasakan Fir’aun dan kaumnya di laut agar tidak diikuti oleh orang-orang yang lahir kemudian. Dan Allah SWT lalu menyelamatkan Nabi Musa dan orang-orang beriman. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya. (Al Israa’ 103)
Semua yang ditinggalkan oleh Fir’aun dan kaumnya itu lalu diwariskan oleh Allah SWT kepada kaum Nabi Musa yaitu Bani Israil. Allah SWT berfirman:
Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. (Asy Syu’araa’ 59)
Demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. (Ad Dukhaan 28)
Dengan demikian, Allah SWT telah memberikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia (atau anak cucu keturunan orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh) melalui Rasul-Rasul-Nya, tapi mereka sendiri yang tidak mau mengikuti ayat-ayat-Nya. Mereka justru mengingkari ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya, sehingga Allah SWT lalu membinasakan mereka agar anak-anak mereka yang lahir kemudian tidak menjadi kafir seperti mereka. Mereka melakukan semua itu karena mengikuti syaitan, sehingga perbuatan mereka itu memudahkan syaitan untuk menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (An Nahl 63)
Wallahu a’lam.